Manusia Aceh

MANUSIA ACEH

Oleh: T.A. Sakti

MENGAMATI “ciri khas” manusia Aceh, sungguh terlalu sukar. Sebab, tulisan-tulisan yang mengupas-tuntas tentang masalah ini masih amat jarang disentuh para penulis kita. Akibatnya, buku-buku yang membahas perilaku manusia Aceh (Orang Aceh), setahu penulis belum pernah diterbitkan sejak negara kita merdeka, 17 Agustus 1945.

Padahal buku-buku sejenis itu, baik yang berjudul Manusia Jawa, Manusia Sunda, ataupun Manusia Bugis; mudah diperoleh di pasaran buku terutama di Jawa. Sebagai bukti-nya, penulis sendiri memiliki beberapa buku semisal itu; seperti “Manusia Jawa”, karya Drs Marbangun Hardjowirogo, terbitan Yayasan Idayu-Jakarta 1983. Kedua, “Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional” oleh Niels Mulder, penerbit Gadjah Mada University Press bekerjasama dengan Penerbitan Sinar Harapan, 1981. Ketiga, “Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa”, tulisan Dr. S. De Jong, Penerbitan Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1976. Keempat, “Manusia Sunda”, karya Ajip Rosidi, terbitan Inti Idayu Press-Jakarta 1984. Kelima, “Manusia Indonesia” (Sebuah Pertanggung Jawaban) buah pena Mocthar Lubis, dkk, diterbitkan Yayasan Idayu-Jakarta 1981. Keenam, “aneka Budaya dan, Komunitas di Indonesia”, karya Hildred Geertz (terjemahan), diterbit­kan untuk Yayasan ilmu-ilmu Sosial dan FIS-UI, 1981. Itu hanya yang saya miliki;  kalau di pasaran buku pasti bisa didapati puluhan judul lagi buku-buku sejenis itu.

Bagaimana dengan buku tentang “Manusia Aceh”? Saya sendiri belum pernah melihatnya; apalagi membeli atau membacanya?. Entah saya yang ketinggalan kereta api, sehingga tidak sanggup menemukan sebuah buku pun mengenai “Manusia Aceh”, setelah bersusah-payah ‘menyelidikinya’ di sejumlah toko buku, mulai dari kota Banda Aceh, Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Solo; hom hai hom? (tidak mengertilah ?)

Manusia Aceh, bertempat tinggal (yang menetap) di Propinsi Daerah Istimewah Aceh, yang populer pula dengan sebutan Tanah Rencong atau Bumi Serambi Mekkah (?). Hampir keseluruhan wilayahnya tersentuh pesisir atau perbatasan laut, yang menyebabkan asal-usul penduduk daerah ini berasal dari manca negara.

Melihat pada postur tubuh, raut muka dan rambut-mata; manusia Aceh banyak kemiripannya dengan orang Arab, India, Kamboja-Vietnam, dan Eropa. Mungkinkah asal-usul manusia Aceh dari sana ?. Kalau memang benar, maka tidak berlebihan bila ada orang yang berpendapat, bahwa manusia Aceh berasal dari “ejaan namanya” sendiri: ACEH, yaitu Arab, Cina (terutama Komboja-Vietnam), Eropa dan Hindia (India). Mengenai manusia Aceh yang asal-usul diduga dari Eropa tampak lebih sering menarik minat pihak media-massa mengeksposenya, Misalnya, “Mencari Si Mata Biru di Lamno” (Hr. Kompas, Sabtu, 15-2-1986 him IX). Menurut berita koran, sebagian penduduk desa di Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Barat; adalah keturunan Portugis.

Timbul pertanyaan, yang manakah manusia Aceh yang asli pribumi setempat ? Sebagai jawaban sementara, mungkin hanya orang Mante dan suku Aneuk Co. Itu pun, jika kedua makhluk berjalan tegak dangan dua kaki ini, bisa kita sepakati termasuk kelompok manusia ! Kedua makhluk ini menurut cerita para nenek adalah hidup di pedalaman, hutan-rimba. Tentang keberadaan suku Aneuk Co, hampir tak pernah kita dengar lagi berita atau kisahnya yang baru. Tetapi mengenai orang Mante kita memperoreh informasi tentang mereka belum beberapa lama(Hr. Kompas, 18 Desember 1987 him I). Menurt suratkabar itu, seorang pawang hutan yang bernama Gusnar Effendy pernah berkali-kali bertemu para orang Mante, seperti di belantara pedalaman Lokop, Aceh Timur. Begitu pula di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rakit Gaib, Aceh Tengah. Sementara di Wilayah Aceh Tenggara, Gusnar Effendy pernah berjumpa orang-orang Mante ini; di Gua Baye, Jambur Atang, Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang. Benarkah, ke semua kisah sang pawang hutan ini ? Hanya Allah saja yang Maha tahu; sedang penelitian secara khusus setahu saya belum pernah dilakukan ! Mungkinkah di masa mendatang, para mahasiswa pencita alam dan pendaki gunung, akan menambah program kegiatan untuk menyelidiki keberadaan orang Mante dan Aneuk Co ini nanti ??? Entahlah!

 

Bahasa

Saya sangat yakin, bahwa belum banyak orang-orang di luar daerah Aceh yang mengetahui daerah ini sangat “kaya bahasa”. Alasan saya antara lain seperti yangdisebutkan di muka, yaitu perihal manusia Aceh belum menarik perhatian para penulis serta media-massa di Indonesia untuk dijadikan “program kerja” serius mereka. Hingga kini, hanya secuil  kekayaan budaya Aceh yang telah dimunculkan ke tingkat nasional; sehingga dikenal khalayak umum rakyat Indonesia tercinta, Hanya baru itulah hasil kerja “sambil lalu” yang sudah bertaraf nasional !

Sewaktu masih kuliah di Yogyakarta, kebanyakan teman yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia memberitahukan saya, bahwa bahasa “Ibu” manusia Aceh hanyalah satu bahasa saja, yakni bahasa Aceh. Anggapan mereka itu tentu sangat keliru-salah. Tapi yang paling aneh lagi sebagian mereka berpengertian bahwa bahasa Aceh adalah bahasa Melayu juga, yang berdialek/logat Aceh.

Mereka belum mengetahui, bahwa dari jumlah penduduk daerah Aceh yang tiga juta lebih; mereka berbicara dalam bahasa “setempat” yang beraneka ragam; walaupun sebagian besar berbicara atau mengerti pula bahasa Aceh sebagai bahasa daerah yang dominan.

Setahu penulis, bahasa-bahasa “Ibu” yang masih tetap dipakai manusia Aceh setempat; dalam percakapan sehari-hari di antara sesama mereka ialah: Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Bahasa Tamiang, Bahasa Alas, Bahasa Singkil, Bahasa Kluet, Bahasa “Sinabang” atau Simeulue dan Bahasa “Jamei/Tamu alias Bahasa Minang/Padang. Jika orang Mante dan Aneuk Co juga dikelompokkan sebagai manusia, maka jumlah bahasa daerah setempat di Aceh menjadi 10 bahasa “Ibu”.

Di dalam bahasa yang sepuluh macam itu, terbagi lagi kepada berpuluh-puluh logat atau dialek menurut gampong (kampung) atau dusun setempat pula. Ke semua bahasa “Ibu” dan kebudayaan daerah setempat di Indonesia, diakui sah secara resmi oleh Undang-undang Dasar 1945 (lihat pasal 18). Akibat demikian beragamnya bahasa “Ibu/setempat” di Propinsi Daerah Istimewah Aceh, maka bagi Manusia Aceh pasti perlu menggunakan bahasa nasional, yakni bahasa In­donesia dalam pergaulan sehari-hari dengan Manusia Aceh yang berlainan bahasa “Ibu” masing-masing; walaupun mereka bertempat tinggal dipelosok-pelosok desa. Jadi, pemakaian. bahasa Indooesia bukan hanya dikota-kota, tetapi juga digunakan di desa pedalaman. Kenyataan ini, mungkin terhitung suatu ‘keistimewaan’ pula dari kehidupan manusia Aceh.

 

Kebudayaan

Melihat pada jumlah bahasa saja yang berjumlah delapan, maka dapatlah disimpulkan bahwa budaya manusia Aceh memang cukup kaya. Sebagian besar dari kebudayaan Aceh itu sudah ditelan zaman karena sudah tidak berfungsi lagi dalam kehidupan manusia Aceh.

Sifat hakiki (kecenderungan besar) manusia Aceh, memanglah sangat gandrung/suka hidup praktis. Kurang setuju dengan kegiatan yang berbelit-belit. Hanya yang berguna langsung pada jalan hidup yang tengah dihadapi saja yang diikutsertakan  dalam kehidupannya sehari-hari. Soe jak ek meuwot lam bruek ruhung (siapa mau masak bubur dalam tempurung berlobang !).

Itulah tangkisan “keramat”, terhadap setiap ajakan untuk melakukan sesuatu kegiatan, yang dianggap kurang ada sangkut-pautnya dengan kehidupan praktis yang nampak nyata dihadapan mata manusia Aceh sehari-hari. Akibatnya, banyak sekali unsur dan jenis budaya Aceh yang hilang tidak meninggalkan bekasnya pada masa sekarang. la telah “dikebumikan” bersama generasi-generasi manusia Aceh, yang telah meninggal dunia tempo doeloe.

Apakah perlu disesalkan sikap dan tindakan nenek moyang manusia Aceh yang ‘enggan’ melestarikan kebudayaannya?. Sama sekali tidak perlu disalahkan mereka, karena sikap dan tindakan mereka adalah sesuai dengan naluri serta prinsip hidup manusia Aceh yang selalu ingin hidup praktis, bebas dari jerat tetek-bengek yang kurang berguna, Perhatikan saja, bahwa naluri hidup praktis tersebut juga diwarisi/dipraktekkan manusia Aceh yang hidup dewasa ini.  Bukankah demikian???

Memang, di saat sekarang ketika secara internasional, banyak negara (termasuk negara kita Indonesia) sangat giat mempromosikan budaya, peninggalan nenek moyang mereka sebagai obyek wisata; mungkin manusia Aceh sedikit kaget karena “kemiskinan” warisan budaya!. Namun, kekagetan itu tidak perlu sampai nekat mengadakan “demonstrasi unjuk rasa kecewa”, terhadap nenek-moyang yang sudah berpulang ke alam baka. Sebab, masih cukup banyak macam budaya Aceh yang juga peninggalan Endatu (nenek moyang) kita yang tetap lestari sampai kini. Tinggal kesediaan kita sajalah mau menghidup-hidupkan warisan budaya tersebut. Apalagi ketika daerah Aceh saat sekarang sudah ditetapkan manjadi salah satu daerah tujuan wisata di Indonesi. Bukankah dalam hal mencari keuntungan “duit” atau urusan bisnis; manusia Aceh terkenal lihai ?.

 

Haus Pujian

Manusia Aceh memberi nilai kepada dirinya teramat tinggi; alias jual mahal ! Walaupun demikian, bagi pihak yang sanggup menempatkan harga diri manusia Aceh sesuai dengan naluri-jiwa manusia Aceh sendiri; besar harapan Indonesia, Aceh akan ‘mengabdi’ dengan ikhlas kepada pihak yang mau menghargainya. Jadi, harga diri tidak boleh ditawar-tawar lagi! Sebab, dalam diri manusia Aceh terpendam pula rasa keangkuhan semu yang besar pula, terutama terhadap masa-masa suksesnya; baik dahulu (yang telah berlalu) apalagi yang sedang dinikmatinya. Mereka sangat haus pujian!.

Itulah salah satu “konsep” merangkul manusia Aceh yang paling murah dan gampang. Strategi inilah yang pantas dipakai para “tamu” dari luar Aceh. Hanya perlu diinsafi, pendekatan tersebut harus dilakukan dengan sikap hati-hati, cermat dan waspada. Sebab,. bila gegabah mempraktekkannya sehingga nampak ‘belang’ Anda, keakraban yang sedang tumbuh-terbina boleh jadi segera sirna. Sebagai akibat pantulannya, anda tidak akan dipercaya lagi sampai kiamat dunia ! Pendekatan ini jelas manusiawi!

 

uBoh lam on”

Harga diri atau memelihara gengsi yang terlalu tinggi, menyebabkan manusia Aceh senang “kesendirian” dalam usaha memperjuangkan kemajuan hidupnya, Biarpun sendirian, manusia Aceh jarang dihinggapi kesepian yang membosankan, karena ditopang oleh semangat hidup yang kuat pula. Sikap hidup yang kurang ‘menggantungkan diri’ kepada orang lain; sesungguhnya banyak merugikan manusia Aceh sendiri!.

Pertama, dalam usaha mencapai sesuatu tujuan, ia terpaksa menguras segenap tenaganya sendiri. Dalam keadaan demikian, sekiranya ia hanya memiiiki persediaan ‘modal hidup’ atau kemampuan yang pas-pasan, maka besar kemungkinan perjuangannya akan gagal di tengah jalan; tidak sampai ketujuan. Sebab, bagi manusia Aceh yang hanya berkemampuan pas-pasan itu, sekali jatuh tergelincir, maka segala modal energinya sudah habis terkuras. Akibatnya, jadilah manusia Aceh tersebut sebagai insan yang dirundang malang; gagal meraih cita-cita ! Melihat pada upaya mencapai sukses tidaklah gampang, maka dapat diperkirakan persentase yang gagal sangat besar berbanding mereka yang mencapai kesuksesan. Berarti lebih banyakyang bernasib malang, kecewa, dibandingkan yang bernasib baik; gembira-ria

Terhadap orang yang gagal menempuh kehidupan yang penuh tantangan; baik gagal segi kekayaan harta-benda, pangkat-jabatan, segi pengetahuan atau gagal menjadi tokoh panutan masyarakat; sebuah hikayat Aceh pernah menyindirnya melalui keindahan sastranya. Sekedar menampilkan sedikit segi-segi sosial-budaya Aceh, penulis sengaja megutip beberapa bait syair dari Hikayat Nasruwan Ade yang sesuai dengan pembahasan, yakni perihal gagal menempuh kehidupan; sebagai benkut:

meutan areuta hanle makmu

Hanle soe eu hansoe teuka

Saleh hansoe le kheun Tengku

Han ek bri bu hansoe teuka

 

Kupang busok meung ek tabri

Karong wali pihle teuka

Gadoh gaseh teuka beunci

Meung tan peue bri keu syeedara

 

Beuthat aneuk Raja di Rom

Beuthat kawom Kureh bangsa

Meung tan peue bri beuna muphom

Hanle kawom hanle raja

 

Aneuk gadoh murid gadoh

Mereumpok hanle soe sapa

Gadoh laku hanle sigak

Rancak lagak ka seureupha

Terjemahan bebas dalam bahasa Indo­nesia :

 

Bila harta sirna kemakmuan pergi

Sanak-famili kawan pun tak hendak jumpa

Gelar kehormatan tak pantas lagi

Hidup pun sepi yang datang tiada

 

Uang melimpah dan murah hati

Kanan-kiri didaulat saudara

Ketika miskin orang membenci

Tak sanggup beri apa diminta

 

Biarpun anak Sultan Turki/Rumi

Atau turunan Nabi ber-Qurais bangsa

Bila tak mampu membagi rejeki

Hilang famili dan kawan setia

 

Anak minggat murid pergi

 Berjumpa tak mau disapa

Wibawa leyap martabat mini

Harga diri hancur dah sirna

 

Kedua, manusia Aceh yang menderita kalah dalam perjuangan hidup, kadangkala memendam rasa sesal yang dalam. Penyesalan diri itu, kadang-kadang terpentul dalam bentuk iri, dengki (ku’eh) terhadap manusia Aceh lainnya yang sedang berkiprah mengejar cita-cita. Tindakan ku’eh (dengki) inilah yang dalam istilah bahasa Aceh disebut meusyot-syot gateh (menghadang langkah-maju). Ini, mungkin sisa-sisa kolonial Belanda di Aceh.

Oleh karena dalam perjuangan hidup, mereka yang gagal selalu lebih banyak. Maka orang  berperilaku dengki (ku’eh) pun tentu berkeliaran di mana-mana. Bagi manusia Aceh yang tengah berada di “medan juang”, pasti mereka perlu lihai menerobos ‘pagar betis’ dari kaum gagal dan ku’eh tadi. Satu hadangan yang sulit dihindari, bila yang dipakai sebagai perangkap berupa “jerat terselubung”. Bila sudah demikian, hanya nasib mujur sajalah yang menyelamatkan sang pengejar cita-cita.

Saya katakan sebagai ”jerat terselubung”, karena nampak secara lahir dia ikut memberi nasehat, tetapi petuah-petuahnya lebih cenderung bisa melemahkan semangat-juang si pendamba cita-cita tersebut. Akibatnya, hanya mereka-mereka yang ‘tersembunyi’ dari intipan si pendengki (si deungki-ku’ eh) itu sajalah yang sempat meraih cita-cita. Berkat nasib baiknya yang termasuk suratan dari-Nya (Allah SWT); dia lancar bebas melaju cergas; serta luput dari sergapan pengkhianat yang mengintainya.

Mereka itulah yang sering diumpamakan sebagai buah-buahan ranum yang diselubungi daun (boh lam on). Begitulah gambaran sekilas tentang manusia Aceh. Apa yang telah diungkapkan belumlah lengkap dan bukan tanpa cacat. Kenyataan demikian sangat wajar, karena tulisan ini bukanlah laporan hasil penelitian ilmiah. Para pakar kita himbau agar sudi menulis sebuah buku tentang “Manusia Aceh”; semoga ada yang tergugah hendaknya !!!

*Sumber: Buletin PANCA, nomor 25 Tahun V, halaman 23 s/d 25, Kanwil Transmigrasi Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh.

Iklan

2 pemikiran pada “Manusia Aceh

  1. maju mi ko kutacane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s