Arung Samudera dan Manusia Aceh

ARUNG SAMUDERA DAN MANUSIA ACEH

Oleh: T.A. Sakti

 

SEBUAH kapal laut, yakni KRI “Arung Samudera” sudah bertolak mengelilingi dunia pada awal April 1996 yang lalu. Kapal yang penumpang serta awaknya terdiri dari para “taruna” angkatan laut Republik Indonesia; sambil mengelilingi dunia selama setahun, juga akan mengikuti berbagai lomba tingkat internasional di mancanegara.

Peristiwa tersebut sangatlah penting. Terutama dalam upaya memupuk kembali rasa cinta bahari (laut) bagi putra-putri Indonesia. Saya sebutkan “memupuk kembali”, karena pada zaman dahulu rakyat Indonesia adalah insan-insan pecinta samudera.

Malah dalam buku-buku sastra Indonesia lama, sebutan untuk “zaman lampau pun” dikatakan dengan “istilah “zaman bahari”. Lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, benar-benar mencerminkan kepiawaian bangsa Indonesia dalam mengharungi lautan luas pada zaman kapal layar.

Nah, dalam rangka membangkitkan kembali “semangat kelautan” itulah, maka pemerintah Republik Indonesia mencanangkan Tahun 1996 adalah Tahun Bahari, sekaligus pula sebagai Tahun Dirgantara. Penerapan Tahun Bahari ditandai dengan pelepasan KR1 “Arung Samudera” mengelilingi dunia, sedangkan penggelaran Tahun Dirgantara 1996 dicetuskan dengan “Pameran pesawat terbang” yang dilangsungkan di Jakarta baru-baru ini.

“Tajak u Makkah jeumeurang laot, bek takot-takot barang peue bahya. Nyangna Ion takot Allah ngon Nabi, laen beurangri hana lon taba!” (artinya: Pergi ke Mekkah seberangi laut, tak usah takut segala bahaya. Cuma Allah dan Nabi saya takuti, yang lain lagi nihil belaka alias cuek saja!). Syair Aceh di atas menyiratkan, bahwa masyarakat Aceh pada “zaman bahari” tidak asing lagi terhadap laut.

Mereka sudah mengetahui, bahwa perjalanan melintasi laut memang cukup banyak bahaya. Hantaman badai, hempasan ombak, habis perbekalan, gangguan ikan paus, dirampok para lanun dan sebagainya sudah dianggap “garam kehidupan” bagi rakyat Aceh masa itu. Kesemua bahaya tersebut sudah diperhitungkan sebelum berlayar.

Malah sanking kenalnya orang Aceh tentang kelautan, telah menelorkan sebuah sindiran sinis atau cap kolot kepada orang-orang yang letak kampungnya jauh dari tepi laut. Ungkapan sindiran/ejekan ialah: “Awak “polan” tak riyeuek!” (artinya: orang-orang kampung “polan” menebas riak!). Maksudnya, karena tak pernah melihat air laut yang beriak gelombang, maka “orang.-orang gunung” itu pun mencencangnya dengan parang sewaktu pertamakali turun ke laut. Kini, ejekan kepada penduduk pedalaman seperti itu telah pupus. Namun, munculnya sindiran tersebut menunjukkan, seolah-olah usaha mengenali laut bagi orang Aceh tempo dulu merupakan suatu kewajiban.

 

FAKTA SEJARAH

Keberanian manusia Aceh (orang Aceh) mengharungi laut bukanlah sekedar dalam syair-syair pelipur lara saja. Kegagahan itu juga dibuktikan oleh berbagai bukti sejarah

Pada tahun 1602 Sultan ‘Alaudin Riayat Syah mengirim sebuah perutusan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Belanda yang baru merdeka dari jajahan-Spanyol. Rombongan utusan Kerajaan Aceh ini dipimpin oleh Abdul Hamid. Mereka berangkat ke Belanda dengan berlayar mengharungi (asal katanya arung) laut selama berbulan-bulan. Sebelum sempat berangkat pulang ke Aceh; “pada 19 Agustus 1602 Abdul Hamid meninggal dunia di negeri Belanda dan dimakamkan di Middelburg, Nederland (baca: Harian-Kompas, Minggu, 19 Juni 1983 halaman VIII yang berjudul: “Orang-orang Indonesia pertama ke London tahun 1682”; tentang perutusan kerajaan Bantam atau Banten Jawa Barat ke Inggris).

Meriam “Lada Sicupak”, amat terkenal dalam sejarah daerah Aceh. Senjata canggih abad ke 17 ini adalah hadiah Sultan Turki. Sultan Iskandarmuda (1607-1636) telah mengirim perutusan yang dipimpin panglima Nyak Dum untuk menjalin persahabatan diplomatik dengan kesultanan Turki!

Dalam perjalanan, kapal-kapal yang ditumpangi rombongan “duta Aceh” mengalami musibah. Terpaan badai telah menyebabkan kapal-kapal mereka nyaris tenggelam. Akibatnya, hampir semua biji lada yang hendak dipersembahkan kepada Sultan Turki sebagai oleh-oleh atau hadiah dari Sultan Iskandarmuda jatuh terhambur ke laut. Bahkan, mungkin pula sengaja dibuang ke dalam laut, agar kapal tidak tenggelam.

Ketika para perutusan Aceh menghadap Sultan Turki, maka yang dipersembahkan adalah sebungkus kecil lada yang masih tersisa. Sekarung cilik lada yang dibungkus dengan kain kuning inilah yang diistilahkan sebagai “Lada Sicupak” (lada secupak, kira-kira setengah kilogram lebih). Sebagai hadiah balasan dari Sultan Turki adalah sejumlah senjata meriam. Sebab itulah persenjataan tersebut dinamakan “Meriam Lada Sicupak”. (Sumber: H.M. Zainuddin; “Tarich Atjeh dan Nusantara”. Penerbit Pustaka Iskandar Muda, Medan, 1961 halaman 272-279).

 

CARI BANTUAN

Beberapa perjalanan lain yang mengharungi lautan luas, juga tercatat dalam sejarah. Misalnya, pengiriman duta-duta kerajaan Aceh ke Inggris dan Perancis pada abad ke 17 dan 18 (baca: H.M. Nur El Ibrahimny “Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, Penerbit PT. Grasindo, 1993).

Ketika kerajaan Aceh sedang mengalami kemunduran, upaya menggalang persahabatan dengan dunia luar juga tetap berjalan. Misalnya, menjelang kerajaan Aceh diserang penjajah Belanda pada tahun 1873 atau abad ke 19. Saat itu sebuah perutusan yang dipimpin Habib Abdurrahman Azzahir berangkat berlayar ke Turki untuk meminta bantuan.

Masih .dengan tujuan yang sama, sebuah perutusan lainnya yang diketuai Panglima Tibang Muhammad berlayar ke Singapura untuk meminta bantuan Amerika Serikat yang memiliki konsulnya di sana: sekaligus berunding dengan Residen Belanda di Tanjung Pinang, Riau.

Selain itu; di Pulau Pinang (sekarang bagian negara Malaysia) juga sudah dibentuk “Dewan Delapan” yang bertujuan memikirkan cara-cara untuk mempertahankan kerajaan Aceh dari; ancaman Belanda. Dewan ini terdiri dari delapan orang-orang terkemuka asal Aceh (baca: Serambi Indonesia, 29 Januari 1994, berjudul “Sekitar Draf Perjanjian Aceh-Amerika Serikat).

SI MATA BIRU

Sastrawan Mochtar Lubis juga pernah menceritakan kelihaian seorang saudagar Aceh sekitar abad ke 17-18 yang bernama Usman. la berlayar ke India untuk memesan kain tenunan menurut pola kesukaan orang ramai. Karena itu kainnya begitu laku dan diserbu pembeli di pasaran Asia Tenggara (Majalah Prisma No. 11, bulan Nopember 1981 halaman 45;-dialog).

Sepanjang sejarah daerah Aceh, bukan hanya orang-orang Aceh saja yang berlayar keluar negeri. Kapal-kapal asing juga banyak yang singgah di pelabuhan-pelabuhan kerajaan Aceh. Para pedagang negara-negara luar seperti Persia, Arab, Gujarat, Portugis, Spanyol, Inggeris, Perancis, Belanda dan lain-lain; ketika datang memperdagangkan barang-barang asal negeri mereka. Sementara sewaktu pulang membeli hasil rempah-rempah dari Aceh.

Diantara kapal-kapal asing itu ada pula yang karam atau tenggelam dalam pelayaran di laut. Salah satu kapal yang ikut kena musibah demikian adalah kapal Portugis yang tenggelam dekat perairan daerah Lamno, Aceh Barat.

Sebagian penumpang dan awak kapal Portugis itu dapat menyelamatkan diri (seperti yang dialami sebagian penumpang KMP Gurita pada awal Januari 1996 lalu). Para penumpang yang selamat; akhirnya tinggal menetap di wilayah Lamno, Aceh Barat. Itulah sebabnya sebagian penduduk Lamno sekarang ada yang mirip orang Portugis, yakni berhidung mancung, kulit putih dan bermata biru (baca: Harian Kompas, Sabtu 15 Pebruari 1986 halaman IX; berjudul “Mencari Si Mata Biru di Lamno”).

Begitulah, ternyata masyarakat Aceh tempo dulu sangat akrab dengan laut. Kecintaan pada laut cukup tertanam di jiwa mereka. Mungkin akibat penjajahan Belanda itulah yang “mematikan” cinta bahari di kalangan masyarakat kita”(?). Mudah-mudahan “keakraban” terhadap laut akan bangkit kembali di sanubari putra-putri Indonesia!

Akhirnya, kita ucapkan selamat mengelilingi dunia kepada kapal KRI “Arung Samudera”!. Gemuruhnya bunyi sangsaka merah putih yang melambai-lambai sepanjang perjalanan ke seluruh dunia; kita harapkan bisa menggugah bangkitnya “samangat cinta bahari” (kelautan) rakyat Indonesia yang sekian lama padam dan kurang menggairahkan.

#Sumber: Majalah SANTUNAN no. 225, halaman 35 – 36, Kanwil Departemen Agama Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s