Terobosan-terobosan Menjadikan Aceh Sebagai Daerah “Primadona”

Terobosan-terobosan Menjadikan Aceh

Sebagai Daerah “Primadona”

Oleh: T.A. Sakti

BELUM selang berapa lama; Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Aceh Malik Ridwan Badai, SH mengatakan, citra Aceh di dunia luar masih gelap terutama adanya pihak-pihak luar yang menilai negatif tentang Aceh. “Untuk mengantisipasi kesan ini, petugas Kantor Penghubung Pemda Aceh – Jakarta harus bisa menjadikan kantornya sebagai pusat dan sekaligus pintu gerbang informasi” “Saya minta agar semua data-data yang menyangkut pembangunan di Aceh harus tersedia”. kata Malik di hadapan seluruh staf kantor penghubung dalam acara perkenalan sebagai Sekwilda yang baru. Senin (7/3) di Jakarta” (Lihat: koran Serambi Indonesia, Selasa, 8 Maret 1994 halaman 3).

Lebih lima tahun yang lalu,  Prof. Ali Hasjmy sebagai tokoh atau profil penjaga dan pembela Aceh, juga pernah menulis perihal pandangan keliru masyarakat luar terhadap Aceh.  Beliau menyebutkan “Sampai akhir-akhir ini, cerita dongeng tentang ‘Aceh menutupi dirinya sendiri’ dan Aceh sebagai  daerah angker;  masih tersiar atau sengaja disiarkan oleh orang di luar Aceh. Hal ini sangat merugikan Tanah Aceh sebagai Daerah Ujung Paling Barat dari  Tanah Air Indonesia tercinta. Dalam Seminar Pembangunan Aceh yang diadakan oleh PWI Pusat bekerjasama dengan Pemda Aceh, juga masalah tersebut ditanyai orang. hatta karenanya menjadi panas dan ramai” (Ali Hasjmy. “Benarkah Aceh Tertutup dan Angker” HarianWaspada. 13 Oktober 1988. halaman IV).

Tanggapan

Sepantasnya masyarakat di luar daerah Aceh – baik masyarakat berbagai daerah di Indonesia, maupun dari  luar negeri sudah tahu tentang Keterbukaan Aceh dan daerah ini bukanlah tempat angker bagi para pendatang dari luar. Tapi entah kenapa, apa yang diungkapkan Ali Hasjmy ternyata masih subur tersiar di luar Aceh. Masih cukup banyak masyarakat luar Aceh yang berprasangka. Aceh sebagai daerah tertutup dan angker alias momok bagi mereka.

Sebenarnya, prasangka orang luar Aceh itu; sungguh.. sungguh… sungguh jauh meleset dari keadaan atau kenyataan yang sesungguhnya. Sekiranya masyarakat luar Aceh mau sedikit berupaya mencari informasi mengenai Aceh. Pasti mereka tak sedia lagi menerima racun informasi yang sekian lama menjerat kaki mereka untuk melangkah lincah ke Aceh yang kini sedang beranjak cepat berbenah diri untuk menjadi daerah “primadona” baru di Indonesia, bahkan di Aceh Tenggara, seiring pelaksanaan dan perkembangan Segi Tiga Pertumbuhan Perekonomian Indonesia – Malaysia – Muangthai atau IMT-GT. di masa-masa mendatang nanti.

Betapa tidak ! Bukankah juga di Aceh sejumlah proyek industri raksasa telah terwujud belasan tahun terakhir ini? Industri pupuk, gas alam cair atau LNG (Liquehed Natural Gas), semen, kertas dan segudang industri lain vang merupakan tetesan dari industri-industri raksasa itu; sedang berkembang pesat sekarang!!! Pembagian wilayah pembangunan Aceh kepada zona industri dan zona pertanian, juga sangat membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama penanaman modal dan para investor baik dalam maupun luar negeri. Sungguh kita sayangkan, kalau orang luar Aceh enggan datang ke Aceh, hanya akibat percaya pada dongeng-dongeng negative, yang kemungkinan besar sengaja disebarkan penjajah Belanda tempo doeloe.

Minim Publikasi

Alangkah tepatnya, bila masyarakat luar Aceh mau membaca serta menghayati kembali pepatah lama peninggalan nenek moyang mereka yang saya yakin pasti ada disetiap daerah atau Negara. Kalau di Aceh, Hadih Maja itu berbunyi “tajak beutroh kalon beudeuh bek rugoe meueh saket hate” (datanglah dekat sampai ke tempat, jangan sampai sekarat dan di hati cacat- terjemahan bebas). Bukankah petuah di atas menganjurkan kita agar jangan sembarangan percaya kepada informasi yang kita terima karena mungkin mengandung unsure fitnah yang merugikan diri sendiri?

Saya berpendapat bahwa sebab-sebab timbulnya isu bohong yang menyebutkan Aceh sebagai daerah angker adalah akibat dua hal. Pertama, karena masih banyak informasi zaman penjajahan Belanda yang tersisa hingga hari ini. Kedua, informasi penawar untuk menghapuskan melenyapkan racun informasi penjajah tersebut terlalu kurang kita produksi. Atau lebih jelasnya, publikasi informasi yang bercitra positif tentang Aceh, terlalu langka, sangat minim yang sempat tersebar luas mencakup skala nasional apalagi buat lingkup internasional’

Apakah kita tetap berdiam diri menyaksikan ketimpangan informasi yang terus menerus meracuni kehidupan kita sebagai suatu bangsa besar ?. Saya kira, kita perlu sekali menciptakan penawar racun itu dengan upaya yang serius dan berkelanjutan. Meremehkan perkara ini, berarti membiarkan duri dalam daging yang tak pernah henti menusuk-nusuk. Bukankah sakit di ujung kaki juga terasa di kepala.

Muncul lagi pertanyaan lain, apakah kesenjangan informasi tentang Aceh ini dapat dihapuskan? Pasti dapat! Terutama jika diadakan kerjasama berbagai pihak secara nasional. Kalau usaha penghapusan cap bohong itu hanya dilaksanakan pihak daerah Aceh saja, diperkirakan jangkauan dampaknya kurang meluas. Biarpun demikian, sekurang-kurangnya dapat mengurangi atau menipiskan kepercayaan kepada isapan jempol tersebut. Karena itu, dukungan secara menyeluruh dan bersifat nasional sangatlah perlu. Gerakan ini dapat dibuat serentak bagi daerah-daerah lain, yang juga belum begitu dikenal oleh sebagian rakyat Indonesia, seperti Irian Jaya, Kalimantan, Riau dan lain-lain.

Terobosan

“Tak kenal maka tak sayang !” tergolong pribahasa kita yang sangat tepat. Dan tujuan terobosan dalam uraian ini bermaksud memperkenalkan Aceh ke seluruh jagad. Sehingga dicintai dan dihargai sesuai martabat. Peran promosi atau memperkenalkan sangatlah menentukan untuk memperoleh kesempatan dan kecintaan. Dalam salah satu acara siaran TVRI Stasiun Pusat-Jakarta beberapa waktu yang lalu, kecintaan pada daerah Aceh muncul dalam sebuah lagu. Di antaranya bait syair dari lagu “Tak Kenal Tak Sayang” pencipta lagu sengaja menyelipkan “pengakuan” “Saman tari Aceh”. Mengapa hal ini terjadi? Karena Tari Saman itu sudah sangat dikenal secara nasional. Jadi sang pencipta lagu tinggal ‘memetiknya’ saja. Lain halnya dalam sebuah lagu anak-anak yang juga sangat popular belum lama ini. Bunyi lagu itu antara lain: …… si Ketut ………. dari Bali, ……. si Ucok…….. dari Batak, …… dan seterusnya. Mengapa anak dari Aceh tidak disebut dalam lagu itu? Tentu, akibat si Inong, si Agam, si Wen, si Sarong, si Maneh, si Kaoy dan lain-lain nama khas anak-anak Aceh (dulu), tidak diketahui para pencinta lagu. Begitu pula dalam lagu “Dansa Regge” dan seterusnya. Jadi unsur pengenalan identitas, sangat penting untuk memperoleh popularitas. Untuk mencapai popularitas selingkup Nasional dari beberapa ‘mutiara sejati’ milik Aceh, jelas memerlukan dukungan materi dan moril yang berat pula. Tapi, meunyo ka mupakat; lampoh jeurat tapeugala! (kalau sudah setuju, kuburan itu pun digadaikan).

Untuk memecahkan awan mendung yang menutupi wajah Aceh yang sesungguhnya supaya dikenal-jelas bagi masyarakat luar, beberapa saran serta himbauan akan dikemukakan dalam tulisan ini. Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa pandangan yang menyimpang dari keadaan sebenarnya (tentang Aceh itu), hanyalah disebabkan kesalah pengertian yang diakibatkan oleh beberapa penyebab. Sumber-sumber atau akarnya antara lain, karena informasi positif mengenai Aceh sangat sedikit tersebar di luar daerah Aceh. Saran dan himbauan sebagai terobosannya adalah sebagai berikut:

  • Kantor Penghubung Pemda Aceh di Jakarta, mesti memiliki sebuah perpustakaan tentang daerah Aceh yang lengkap dan aktual. Bukan hanya mengenai sejarah Aceh  -Aceh Tempo Doeloe-  yang tersedia, tetapi juga mencakup harapan-harapan Aceh di masa mendatang.
  • Menghimbau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia agar menambah porsi mata pelajaran mengenal Indonesia di sekolah-sekolah, sejak dari sekolah dasar (SD), sampai perguruan tinggi (PT). Tujuannya agar rakyat Indonesia serba tahu tentang Tanah Air. Sebab, banyak warga negara kita termasuk sarjana-sarjana sekarang, terlalu minim pengetahuan mereka mengenai kehidupan serta keberadaan bangsanya sendiri.
  • Dimohon kesediaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat untuk menyelenggarakan Seminar Pembangunan Aceh seperti yang pernah diadakan tahun 1988 di Jakarta. Seminar ini, terutama membahas yang menyangkut kebekuan informasi antara Aceh dengan luar daerah dan luar negeri. PWI Pusat patut menyelenggarakan Sayembara Mengarang Tentang Aceh yang ditujukan untuk menghapuskan citra Aceh daerah angker bagi masyarakat luar Aceh. Dalam kegiatan ini, Pemda Aceh dan pihak perusahaan di Aceh, hendaklah diajak kerjasama.

Pendeknya dapat ditingkatkan Informasi positif tentang Aceh lewat siaran Stasiun TVRI Pusat-Jakarta. Siaran-siaran yang menarik di TVRI Banda Aceh supaya disiarkan lagi melalui Stasiun TVRI Pusat (Jakarta). Jangkauan dan jam siaran TVRI Stasiun Banda Aceh masih sangat perlu ditingkatkan.

  • Perkumpulan masyarakat Aceh – bahkan perorangan yang berada di luar Aceh, merupakan ujung tombak pertama yang menginformasikan tentang Aceh kepada masyarakat di perantauan mereka. Kalau dibekali dengan perencanaan yang matang, para perantau Aceh itu pasti mampu berperan menjadi juru bicara yang sukses tentang Aceh.
  • Pihak Dinas Pariwisata daerah Aceh, patut mencontohkan gebrakan promosi seperti yang pernah dilakukan Pemda Yogyakarta. Mengingat pulau Bali sudah sangat terkenal sebagai daerah tujuan pariwisata, maka daerah Yogyakarta telah menggunakan keterkenalannya. Bali mempopulerkan obyek-obyek wisata daerahnya kepada turis-turis dari manca negara yang sedang berlibur ke sana. Dengan demikian, maka muncullah kegiatan promosi seperti “Semalam Yogyakarta di Bali” atau “Seminggu Yogyakarta di Bali”. Seandainya, memang ada kesungguhan serius untuk memperkenalkan kekayaan potensi pariwisata daerah Aceh kepada para turis, baik luar negeri, ataupun domestik, perlu diadakan kegiatan serupa. Misalnya “Semalam Aceh di Tanah Toraja”, atau “48 Jam Aceh di Yogyakarta”, ataupun “Seminggu Aceh di Bali” dan seterusnya. Perlu diingat, Bali Yogyakarta dan Tanah Toraja termasuk tiga besar Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang sudah mapan namanya di arena pariwisata internasional. Kerjasama dari Menteri Parpostel sangat menentukan berhasil-tidaknya kegiatan promosi Aceh  di luar kandangnya sendiri.
  • Pemerintah Pusat dan Pemda Aceh diharapkan menerbitkan lebih banyak lagi buku mengenai daerah Aceh. Khususnya untuk dipasarkan ke luar daerah Aceh. Mengenal Aceh tidak cukup sekedar mengetahui Sejarah Perang Aceh yang penuh heroik itu, tetapi sangat perlu juga mengenal bagaimana watak orang Aceh di luar zaman perang, alias tentang Aceh Kontemporer. Upaya ini sangat perlu disponsori oleh pemerintah, mengingat perusahaan-perusahaan penerbit, kurang berminat menerbitkan buku-buku tentang Aceh. Anggapan ini berdasarkan pengamatan penulis, bahwa di Aceh boleh dikatakan termasuk sering/pernah berlangsung seminar-seminar kelas kakap tentang Aceh. Tapi, kenyataannya menunjukkan hampir tak pernah sekalipun diterbitkan buku-buku yang berupa kumpulan makalah dari seminar-seminar itu. Padahal kalau di Yogyakarta, masalah-masalah seminar dari kelas teri pun hampir selalu dicetak sebagai buku-buku yang diterbitkan oleh perusahaan penerbit komersial. Mengapa keadaan yang bertolakbelakang ini terpampang di antara dua Daerah Istimewa di Indonesia? Yah ! Mungkin karena minat baca di kalangan masyarakat Aceh masih sangat rendah – terkecuali baca koran di warung kopi – sehingga pihak penerbit buku tercekam takut rugi.
  • Pegawai Humas (Hubungan Masyarakat) se-Aceh, perlu dibekali keterampilan khusus sehingga mampu memperkenalkan Aceh secara utuh kepada masyarakat luar. Kreteria tentang kemampuan tulis menulis dan bicara fasih perlu dipertimbangkan sebagai prasyarat penerimaan menjadi pegawai di Kehumasan Aceh. Ada tidaknya tulisan atau karangan mereka mengenai Aceh dalam koran lokal dan nasional (Jakarta), perlu pula dijadikan sebagai unsur penilaian bagi kenaikan pangkat mereka. Sementara bagi yang mampu menulis dalam surat khabar/majalah berbahasa asing, patut dihargai pula dengan penilaian istimewa. Selain itu, dalam jangka waktu tertentu, pegawai Humas se Aceh sebaiknya dibiayai melakukan study tour /studi perbandingan ke daerah-daerah luar Aceh demi memperluas wawasan pemikiran, sekaligus bertujuan mengenal secara langsung bagaimana pengelolaan kehumasan di luar Aceh yang mungkin telah dikelola dengan cara-cara yang lebih profesional.
  • Pantas diusahakan, agar sejumlah suratkabar yang pro Aceh semakin bertambah banyak beroperasi di Jakarta. Tujuannya, menangkal berita-berita dari koran yang lebih senang memuat berita yang menjatuhkan citra Aceh. Dengan demikian diharapkan paling kurang suratkabar yang bersikap sinis kepada daerah Aceh jadi lebih berhati-hati dan mengerti akibat jelek yang ditimbulkan berita-berita “fitnah” yang disebarkannya selama ini. Untuk memperlancar usaha tersebut di atas, pendekatan kekeluargaan oleh Deperteman Penerangan dan Pemda Aceh, perlu dilakukan, ini termasuk upaya yang sangat positif.
  • Hingga hari ini, lokakarya, seminar, rapat, pertemuan yang berskala nasional dan internasional, paling jarang di adakan di Aceh. Padahal kegiatan sejenis itu cukup besar maknanya dalam rangka memperkenalkan daerah/tempat dilangsungkan ‘pertemuan’ itu. Sampai saat ini, kegiatan semacam itu hanya berlangsung di Jakarta, Bali, Yogyakarta, Parapat dan beberapa tempat menarik lainnya. Kita tahu, memang di tempat-tempat tersebut segala fasilitas telah tersedia lengkap – bahkan melimpah. Tetapi, apa salahnya kalau pertemuan serupa juga dilangsungkan di daerah-daerah lain, terutama di daerah Aceh misalnya. Paling kurang masyarakat Aceh memperoleh kepuasan batin serta sempat berbangga-ria dengan peristiwa itu.
  • Berbagai kejuaraan olahraga tingkat nasional sewajarnya dilangsungkan juga di daerah Aceh.
  • Bila selama ini hanya ada “Pertukaran Pemuda” antara negara-negara ASEAN dengan Jepang atau Indonesia – Amerika Serikat, patut diwujudkan pula kegiatan “Pertukaran Pelajar – mahasiswa” antara propinsi-propinsi di Indonesia. Kegiatan ini dapat memberi dampak positif yang mampu mengikis habis dongeng-dongeng negative terhadap daerah-daerah tertentu. Lebih efektif lagi, jika hasil pengamatan para peserta pertukaran pemuda antardaerah itu, ditulis menjadi buku-buku dan sengaja dicetak untuk disebarluaskan.
  • Study tour banyak memberi faedah dari segi memperluas cakrawala seseorang. Karena jalan Trans-Sumatera, sudah lumanyan bagus. Maka sebaiknya para palajar mahasiswa yang berada di antara kedua belahan seberang Selat Sunda, sesekali perlu mengadakan study tour ke pulau Sumatera atau sebaliknya ke pulau Jawa. Bila para pelajar/mahasiswa sampai di Aceh pasti mereka mengalami sendiri, bahwa prasangka-prasangka yang sangat dipercaya selama ini, yaitu daerah Aceh angker dan masyarakat tertutup, ternyata hanya bohong samasekali, kisah gombal semata-mata, Sungguh””
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, khususnya pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sepantasnya bersedia mensponsori suatu Sayembara Mengarang Tingkat Nasional bagi kalangan pelajar dan mahasiswa dengan topik kupasan mengenai daerah-daerah di Indonesia. Saya khususkan saran ini tertuju kepada LIPI, karena lembaga ini bergerak di bidang ilmiah. Selama ini, banyak anggapan tidak ilmiah dalam masyarakat Indonesia terhadap sesuatu daerah. Dalam hal ini sudah sepatutnya kewajiban LIPI-lah berusaha memperbaiki!. Upaya ini bisa menghasilkan pemahaman yang lebih mendetil akan daerah-daerah di tanah air sendiri. Dan jika Sayembara Karya Ilmiah itu benar-benar diadakan nanti, saya usulkan agar daerah Aceh dijadikan topik sayembara pertama. Karena masih banyak generasi muda, bahkan generasi tua dari masyarakat luar daerah Aceh yang sangat minim/kurang pengetahuan tentang Aceh.
  • Supaya generasi muda Aceh diberi sarana dan fasilitas yang memadai untuk pembinaan bakat karang-mengarang mereka! Bila kemudahan itu terpenuhi, tentu tampilnya pengarang yang berkualitas di Aceh, tidak lagi gersang seperti sekarang ! Insya Allah””

( Sumber: Majalah PANCA,  edisi Maret – April  1994,  Kanwil Transmigrasi Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh )

Iklan

2 pemikiran pada “Terobosan-terobosan Menjadikan Aceh Sebagai Daerah “Primadona”

  1. Ping balik: Kenapa Amerika Takut Perang Dengan Indonesia | humorisiora.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s