Mengapa Propinsi Aceh digelar Daerah Istimewa?

Mengapa Propinsi Aceh digelar Daerah Istimewa?

Oleh: T.A. Sakti

 

Pada kesempatan ini penulis mencoba  menelusuri jejak-jejak sejarah dari gelar “Istimewa” yang melekat pada daerah Aceh dengan harapan dapat bermanfaat bagi mereka yang belum mengetahuinya, terutama para kafilah-kafilah MTQN yang berasal dari luar daerah.

Dengan saling mengenal ini, merupakan bibit unggul bagi persatuan nasional di negara kita. Pemerintah dan rakyat Indonesia memang sangat mengharapkan kita hidup di dalam persatuan yang teguh. Perlu pula penulis katakan, bahwa tulisan ini tidaklah bertujuan mengatakan “super” bagi daerah yang jadi pokok pembahasan artikel ini, tetapi hanya untuk mencapai dari kenal timbullah sayang…! Selamat mengikuti!

Almarhum Prof. H.A. Madjid Ibrahim selaku Gubernur Kepala Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh suatu kesempatan pernah menyatakan bahwa: “Daerah Aceh mempunyai keistimewaan dalam tiga hal; istimewa dalam bidang pendidikan, istimewa dalam bidang keagamaan dan bidang peradatan. Dalam bidang keagamaan, kita sebagai hamba Allah, marilah lebih meningkatkan penghayatan kepada dalil-dalil keagamaan dalam rangka meningkatkan peribadatan masing-masing.” Hal ini dinyatakan baru-baru ini dalam sambutannya pada upacara penyambutan abad ke-15 Hijriyah, bertempat di SD Inpres Lamlom, Lhok Nga Kabupaten Aceh Besar (Waspada 4 Desember 1979).

Pemberian atau penganugerahan Daerah Istimewa bagi Aceh, bukannya tanpa landasan hukum, tetapi ia memiliki landasan hukum tempat berpijak yang kuat sekali, yaitu berdasarkan Undang-Undang 1945. UUD 1945 merupakan landasan konstitusionil yang utama di negara kita Republik Indonesia. Dalam hal ini pasal 18 UUD 1945 menyatakan: “Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistim pemerintahan negara dan hak-hak asal usul dalam daerah yang bersifat istimewa. “memang tepat sekali bahwa penganugerahan istimewa bagi daerah Aceh adalah dilaksanakan menurut ketentuan isi dari pasal 18 UUD 1945 tersebut. Ia dibina menurut peraturan undang-undang yang berlaku dengan dasar musyawarah. Tentang hal “musyawarah” ini, dapat kita ikuti suatu perkembangan di saat-saat terakhir suatu sidang yang mempermasalahkan pemberian “daerah istimewa” bagi daerah Aceh. A. Hasjmy yang pernah memegang jabatan Gubernur Aceh  ada menceritakan perkembangan tersebut sebagai berikut:

Pada waktu mengadakan musyawarah Pleno tgl. 26 Mei 1959 diumumkan bahwa titik pertemuan telah tercapai, Aceh harus diselamatkan dari kehancuran dan kepada Aceh diberi status “daerah Istimewa”, dengan pemberian hak-hak otonom yang luas terutama bidang agama, pendidikan, dan peradatan. Waktu itu segala kepala tunduk bersyukur, dan berpasang-pasang mata menitikkan air hening. Menjelang magrib tgl. 26 Mei 1959, rapat pleno terakhir dari musyawarah yang penting itu ditutup dengan resmi, dan kami semua peserta musyawarah menangis haru sambil bersalam-salaman. Pada waktu malamnya diadakan resepsi perpisahan dengan Missi Hardi (dari Pusat/Jakarta), para hadirin kelihatan berseri-seri mukanya ketika diumumkan bahwa musyawarah telah menelurkan hasil-hasil yang konstruktif,” demikian cerita nostalgia A. Hasjmy, yang beliau ulangi ketika memperingati ulang tahun ke-10 Daerah Istimewa Aceh tgl. 26 Mei 1969 tempo dulu. (Baca buku: 10 tahun Daerah Istimewa Aceh – T. Ali Basjah Talsya).

Sejak tgl. 26 Mei 1959, yang merupakan tahun pertama peresmian Hari Jadi Daerah Istimewa Aceh, sampai sekarang kita selalu mendengar dan membaca bahwa apabila orang menyebut daerah Aceh sudah pasti selalu diiringi dengan embel-embel “Istimewa” di mukanya, lebih-lebih lagi kalau dalam upacara atau peristiwa yang resmi/formil.

Tentang bagaimana hakikat dan corak-ragam dari keistimewaan tersebut, Panglima Kodam I Iskandar Muda, Brigjen TNI T. Hamzah semasa masih dalam hayatnya mengatakan: “Hak asal-usul yang bersifat hidup dan bersifat istimewa di daerah Aceh, adalah pandangan hidup rakyatnya yang telah turun temurun dan tetap dijaga, dihormati, yaitu: kebaktiannya kepada Allah, hidup beramal, mati beriman. Berarti adat pri hidup, pri laku, tutur kata dan perbuatan rakyat Aceh sehari hari adalah bersendikan kepada agama, sebagaimana telah digambarkan hadist majanya: Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Dalam hal ini telah merupakan kesadaran hukum adat atau hukum rakyat. Tegas menunjukkan, bahwa adat dengan syara’ bagi rakyat Aceh adalah seperti zat dengan sifat yang tidak boleh dipisahkan. Apa yang dikatakan syara’ atau ajaran agama itulah yang dikerjakan dan demikianlah pelaksanaannya, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi adat prilaku hidup rakyat Aceh sehari-hari adalah sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan ajaran Islam itu bersumber dari Kitabullah, yaitu Qur’anul Karim dan Sunnah Rasul. Apa yang dimaksud dengan mengamalkan ajaran agama, adalah melaksanakan ajaran Tuhan, mengambil isinya, bukan merek dan kulit. Tegasnya mengamalkan ajaran Islam. Maka sesuai dengan kondisi dan apitasi rakyat yang hidup dan telah berlangsung lama dalam kehidupan masyarakat sehari-hari serta berdasarkan dan mengindahkan hak-hak asal usul yang hidup dan bersifat istimewa di daerah Aceh, maka oleh pemerintah pusat dengan Keputusan Perdana Menteri RI tgl. 26 Mei 1959 telah memberikan status keistimewaan bagi provinsi Aceh dengan sebutan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, dengan keistimewaannya di bidang agama, peradatan dan pendidikan,” demikian menurut Brigadil Jenderal Teuku Hamzah, yang menjelaskan tentang keistimewaan di bidang tersebut.

Bidang pendidikan yang juga mendapat hak istimewa di daerah ini, sekarang menunjukkan perkembangannya yang sangat pesat. Siswa dan pelajar yang lulus tiap akhir tahun, hampir tidak tertampung pada sekolah-sekolah lanjutannya. Sedangkan anak-anak yang sampai umur waktu masuk sekolah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Perkembangan dari perguruan tinggi ataupun akademi juga mengembirakan. Khusus di Kopelma Darussalam terdapat tiga PT. Selain Universitas Syiah Kuala juga berdiri dengan megahnya IAIN Jami’ah Ar-Raniy serta sebuah Pesantren Modern Dayah Manyang Teungku Syik Pante Kulu.

Tentang perkembangan Universitas Syiah Kuala, mulai tahun 1979 boleh kita katakan sudah menanjak dewasa, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pembukaan Fakultas Kedokteran pada tahun tersebut, merupakan bukti kedewasaannya. Rasanya keistimewaan Aceh di bidang pendidikan tidaklah sempurna, kalau sekiranya Fakultas Kedokteran belum dibuka hingga hari ini. Sudah hampir dua puluh tahun sejak Darussalam di buka, putera-puteri Aceh terpaksa merantau ke luar daerah, jika bermaksud melanjutkan studi di bidang kedokteran. Pergi ke luar daerah menimbulkan berbagai rintangan yang sukar sekali diatasi. Di samping akan memerlukan biaya yang sangat tinggi, juga ketabahan dari si mahasiswa juga harus bertahan. Karena itu tidaklah heran, kalau sampai hari ini kita dapat menghitung dengan jari “jumlah dokter putera-puteri Aceh” yang telah berbakti di arena dunia perobatan sekarang.

Sekarang Aceh sungguh sangat berterima kasih kepada pemerintah yang telah mewujudkan Fakultas Kedokteran ini sungguhpun belum menjelma sebagaimana yang kita harapkan. Jadi sekali lagi kita ucapkan “Syukur alhamdulillah!”

Perkembangan pendidikan agama secara Dayah (pondok) juga berkembang pesat. Cuma karena kurang di publisir dan diberitakan, baik dalam koran-koran ataupun majalah, maka banyak di antara orang yang berasal dari luar daerah Aceh, menyangka di daerah ini tidak terdapat tempat-tempat pengajian agama yang berbentuk Dayah, Pondok Pesantren. Kenyataan ini penulis simpulkan setelah berbicara dengan mereka. Sebenarnya jumlah pesantren di Aceh banyak sekali. Urutan-urutan tentang jumlahnya dapat kita sebutkan; Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Barat dan Selatan merupakan jumlah pesantrennya dan berkualitas tinggi. Dari kesemua daerah kabupaten yang paling minim memiliki pesanteran adalah Kabupaten Pidie. Mungkin karena itulah Bupati Pidie Drs. Nurdin AR telah mencetuskan suatu ide yang membangun pesantren di daerahnya.

Kalau kita meneliti kembali sejarah perkembangan rakyat Aceh yang sangat mematuhi adatnya, maka ternyatalah bahwa, semua yang baik itu telah berobah sejak Belanda menjejakkan kakinya di daerah itu. Dalam masalah ini ada satu penjelasan begini: “Bukan saja sumpah, tetapi juga di masa penjajahan Belanda, orang Aceh telah berani pula meminum minuman yang memabukkan meskipun jumlahnya tidak seberapa. Minuman keras dapat dibelinya di kedai-kedai yang terdapat di dalam kota-kota di masa itu. Dimasa pendudukan Jepang perbuatan yang melanggar hukum dan adat dimaksud diteruskan juga, sehingga nampaknya lebih buruk dari yang tersebut barusan. Kata-kata “sakaj” artinya minuman keras dan “onna” artinya nona, dikenal dengan baik.

Tidak malu-malu mereka meminum minuman keras itu yang hampir-hampir tidak pernah terjadi dahulu kala.

Beruntunglah mulai zaman Republik Indonesia peminum minuman itu banyak yang insaf kembali dan balik kembali pada ajaran-ajaran Islam. Perasaan malupun sudah mereka miliki kembali, demikian tulis Moehammad Hoesin dalam buku beliau “Adat Aceh”. Perkembangan seperti yang diceritakan penulis ini, sudah sangat baik perkembangannya, apalagi setelah Aceh dipilih sebagai tuan rumah MTQ Nasional ke-XII. Semoga di masa mendatang, Aceh akan dapat berperilaku sebagai daerah yang memiliki sejumlah keistimewaan.

Ketika melantik panitia MTQ Nasional ke-XII tgl. 3 Mei 1980 Gubernur Propinsi Daerah Tingkah I Propinsi Daerah Istimewa Aceh menyatakan dengan tegas, bahwa “Semua keadaan yang kurang tertib ataupun hal-hal yang tidak selaras dengan tuntutan agama dan Pancasila harus dapat kita hapuskan secara tuntas,” demikian Prof. H. A. Madjid Ibrahim (kini sudah almarhum).

{ Sumber: Harian “WASPADA” Medan  tanggal 6 Juni 1981 halaman  IX. Halaman khusus Musabbaqah Tilawatil Qur’an Nasional ( MTQN)  ke 12 di Banda Aceh }.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s