Surat UU.Hamidy ( 13 ) – Pengarang 58 buku tentang Dunia Melayu Raya

Pekanbaru,  8 Sya’ban 1429 Hijrah

10 Agustus 2008 Masehi

Yth.  Bung T.A.  Sakti di Darussalam, Aceh.

Surat ini memang pantas ditulis, atas pertimbangan beberapa perkara.  Pertama, jika masih ada umur, insya Allah bulan depan kita melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Karena itu, melalui surat ini, saya menyampaikan selamat melakukan ibadah Ramadhan kepada Bung serta keluarga. Semoga ibadah ini menambah kebajikan dalam umur kita. Dan selanjutnya, insya Allah kita dapat berhari raya Idul Fitri, sehingga sekali lagi saya ucapkan pula selamat hendaknya Bung dan keluarga, mencapai  pintu gerbang rahmat Allah yang tiada terhingga itu.

Kita harus bicara seperti  ini, sebab   d u n i a   pada hakekatnya  semakin menjauh sementara akhirat semakin  mendekat.  Maka sebenarnya , seperti   telah  saya utarakan dalam surat-surat terdahulu, dalam pandangan dakwah serupa itulah saya tergerak lagi menulis mengenai hikayat  Aceh. Coba Bung bayangkan, sudah lebih dari 30 tahun ( yakni terhitung sejak tahun 1975 ) saya mempelajari hikayat  Aceh.  Kemudian dengan tidak terduga  Bung membicarakan lagi tentang hikayat Aceh kepada saya tahun 2007, melalui berbagai kegiatan dan jerih payah yang Bung  lakukan.

Saya termenung, membayangkan Aceh tahun 1974,  membayangkan Pak Anzib Lamnyong mengumpulkan hikayat, yang amat besar artinya bagi kajian saya. Juga teman lain seperti Talsya, Syekh Rih, Pak Ali Hasjmy dan banyak lagi.  Saya bermukim di Aceh di kampung Darussalam, bergaul dengan saudara seiman, bagaikan saudara sendiri.  Bahkan setelah saya kembali ke Pekanbaru, saya masih menjadi pembantu khusus majalah Sinar Darussalam, sampai majalah itu berhenti terbit.

Kalau begitu, saya sebenarnya  s i a p a   di Darussalam Aceh. Darussalam Aceh sudah saya rasakan sebagai kampung halaman saya.  Tak heran jika Pemda Aceh ketika itu menawarkan kepada saya melalui Gubernur Muzakkir Walad dan Ibrahim Hasan Rektor Unsyiah, menawarkan kepada saya, bahwa mereka bersedia menerima saya menjadi tenaga pengajar di Unsyiah. Silakan pindah dari Pekanbaru ke Darussalam. Dan tiap Pak Ali Hasjmy ke Pekanbaru, dia niscaya mencari saya untuk bertemu, lalu kepada sesama warga Aceh , saya diperkenalkan  sebagai warga Aceh – orang Aceh yang tinggal di Pekanbaru.

Jadi,  bagaimana saya bisa melupakan hikayat Aceh begitu saja. Tulisan saya tentang hikayat Aceh, baik yang melalui buku saya, maupun yang diterbitkan pihak lain seperti Seulawah dan Masuk  dan Berkembangnya Islam di Indonesia, terbitan Ma’arif Bandung dengan editor A.Hasjmy  sudah mendunia.  Kajian hikayat Aceh telah memberi bahan bahkan juga gagasan kepada saya untuk memperhatikan dunia sastra Melayu, sehingga saya mendapat peluang dari Allah Swt, menulis tentang dunia Melayu lebih dari 50 buah buku.

Bung T.A.  Sakti,  jadi begitulah keistimewaan hubungan saya dengan hikayat Aceh serta masyarakatnya.  Lalu berselang 30 tahun, keadaan itu seakan Bung panaskan lagi. Maka itulah yang terjadi. Saya membuka lagi sejumlah kartu-kartu hikayat  Aceh yang masih saya simpan. Hasilnya itulah lebih kurang 7-8 tulisan pendek mulai dari Lain Ditulis Lain Dibaca ( tentang Pak Anzib Lamnyong, semacam anekdote ) sampai Tipologi Manusia dalam Hikayat Aceh. Maka, rasanya            j a d i l a h  serupa itu saya menyambut gegap gempita kreativitas Bung yang membara terus. Saya sendiri tak mungkin lagi menulis seperti dulu, kerena sesuai dengan sunatullah apa-apa yang ada pada manusia akan lenyap dan binasa dan hanya yang berada di sisi Allah-lah yang kekal abadi.

Sebab itu, kalau selepas ini tak ada lagi tulisan saya mengenai hikayat aceh, janganlah Bung kecil hati dan kecewa. Itu, bukanlah suatu kehendak yang sengaja, tetapi semata-mata  sesuai  dengan kudrat dan iradat Allah. Kemampuan saya berdakwah melalui  hikayat Aceh tentu ada batasnya. Sebab itu, jika kemampuan ini hendak di perpanjang, maka seperti saya sampaikan kepada Bung dan juga teman kita LK Ara, jalan yang dapat ditempuh ialah menerbitkan lagi semacam  Seulawah jilid II, yang buat sementara saya sederhanakan  judulnya : Bunga Rampai Hikayat Aceh.

Di dalamnya termuat  1) sejumlah tulisan mengenai hikayat  Aceh, yang agaknya beberapa di antara tulisan pendek saya yang  7(8) itu dapat dimasukkan didalamnya. 2) Gambaran umum tentang budaya Aceh yang Islami, yang meliputi berbagai cabang budaya. 3) Infentarisasi  Judul-Judul hikayat Aceh ( Naskah Lama Aceh ). 4). Daftar Judul Kajian ( buku ) mengenai Aceh, teristimewa mengenai hikayat Aceh. 5). Rancangan ke depan untuk memelihara sastra dan budaya Aceh. Buku ini dapat ditaja oleh 3 pihak yakni Pemda Istimewa Aceh cq Bidang Pendidikan/Budaya, Balai Bahasa Aceh dan Lembaga Adat Aceh.  Jika buku samacam itu dapat diterbitkan, niscaya akan menjadi buku penting  (pokok ) untuk mata pelajaran muatan lokal di Aceh. Menjadi buku cenderamata bagi pelancong yang datang ke Aceh. Dan di atas segalanya inilah juga cara kita umat Islam menampilkan ketinggian ajaran  Islam, yang mampu memberikan    p e n c e r a h a n   sepanjang masa.

Bung T.A. Sakti,   hari sudah rembang petang. Bila saya mendapat panggilan menghadap-Nya, barang kali tidak akan ada surat atau berita kepada Bung. Sebab  itu,  marilah kita sama-sama berharap dan berdoa kepada Allah, agar pergaulan dan persaudaraan kita selama ini diridhai Allah, semoga menjadi tambahan kebajikan bagi kita, apa-apa yang telah kita tulis dengan niat bertasbi memuji Allah.

Selamat beribadah dan berkarya, semoga  Bung dan keluarga selalu dalam perlindungan, taufik dan hidayah-Nya, yang tiada putus dan terhingga.   Amin.

Wassalam

dto

UU. Hamidy

{ Catatan sementara: Inilah  penutup  posting  surat UU. Hamidy. Semula, saya bermaksud memposting surat ini pada Hari Libur Nasional Peringatan Israk Mikrak Nabi Muhammad Saw tahun ini; namun mengingat “Takdir Ilahy tak ada manusia yang ketahui”, maka segeralah saya muatkan surat beliau yang ‘teramat penting’ ini.  Sebagai ulasan perpisahan Insya Allah akan saya sajikan pada Hari Peringatan Israk Mikraj tahun 1433 H yang akan datang!. Bale Tambeh Darussalam,  Selasa, 27 Maret 2012, pkl. 7.50 wib., pagi, T.A. Sakti }.

                                                     TAMBAHAN KEMUDIAN:

          Hari ini Ahad, 27 Rajab 1433 H atau 27 Apam  1433 bertepatan 17 Juni 2012 adalah Hari Libur Nasional  – Memperingati Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw  tahun   1433  H. Sudah 14 surat UU.Hamidy saya persembahkan kepada masyarakat dunia, khususnya yang meminati bidang karang – mengarang seperti para calon sastrawan, budayawan, dan calon ilmuan lainnya. Pada  “penutupan surat-surat UU.Hamidy  kali  ini, saya tidak mengulas lagi tentang pentingnya surat-surat  itu  dibaca oleh ‘peminatnya’, karena kesemua itu dapat dibaca sendiri dalam blog “Tambeh” yang terbuka ini.

          Setelah ‘membaca’ ke 14 surat UU. Hamidy, muncullah banyak pertanyaan. Diantara salah satu pertanyaan terpenting, modal apakah   yang dipakai UU. Hamidy sehingga beliau sanggup menulis buku sampai  lebih  50 buah  itu???!!!!. Menurut saya, keikhlasan dalam berkarya adalah ‘modal utama’ beliau. Sebab, mengharapkan bantuan atau dukungan  dari pihak luar memang nyaris tak mungkin. Menunggu royalti/honor  besar dari penerbit?. Tentu, jauh panggang dari api!. Malah, dalam salah satu surat, UU.Hamidy  menyebutkan, kebanyakan penerbit hanya memberikan ‘tulang’ kepada para pengarang, sedangkan  ‘ daging’   buat diri mereka sendiri.  Apa  lagi, menanti  dukungan dari pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Daerah. Tak usahlah para pengarang ‘bermimpi’!.

          Selama saya menjadi staf pengajar di Perguruan Tinggi selama hampir 22 tahun, selalu saya mencari kesempatan buat mendorong mahasiswa baru agar bergiat dalam dunia tulis-menulis, selain terlibat dalam organisasi mahasiswa lainnya. Namun hasilnya nihil belaka!. Memang, ada satu-dua mahasiswa yang mau ‘mencoba’,  tetapi tidak bertahan lama. Semangat  menulis mereka segera terkulai!.  Menurut saya, inilah akibat tak adanya ‘penghargaan’ terhadap “dunia karang-mengarang” di negara era modern:  Indonesia.

         Padahal di Kerajaan Aceh Darussalam – tempo doeloe – penghargaan terhadap pengarang amat tinggi. Bacalah kitab-kitab lama yang belum punah. Pastilah pada pengantar/mukaddimah akan Anda jumpai pernyataan, bahwa karya  asal abad ke 17 itu ditulis atas ‘sponsor’ Sultan atau raja Aceh yang sedang berkuasa  ketika  itu. Begitu kita temukan dalam kitab karya Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Syamsuddin As-Sumatra-i    dan ulama-pujangga  lainnya. Karena itu tak perlu heran, jika  ketiga ulama tersebut di atas  telah menulis berpuluh-puluh  kitab, yang sebagiannya masih dipelajari sampai hari ini. Nuruddin Ar-Raniry misalnya, beliau hanya 7 tahun menetap di Aceh; tetapi telah menulis lebih 20 kitab dalam berbagai bidang pengetahuan yang dibutuhkan rakyat Aceh saat itu.

         Memang, banyak negara di era modern ini yang amat menghargai para penulis. Salah satunya negara tetangga kita, Malaysia. Di sana, kepada para pengarang ‘berbakat’ dianugerahkan gelar “Sastrawan Negara”. Banyak fasilias   atau  kemudahan yang dihadiahkan negara Malaysia kepada orang-orang yang telah memperoleh gelar itu, diantaranya sertifikat dan uang 60 ribu RM  pada saat penganugerahan  gelar Sastrawan Negara itu. Mungkinkah negara kita – Indonesia –  mengikuti jejak Malaysia???. Wallahu’aklam!!!.

          Akhirul kalam,  kepada peminat blog  www. tambeh.wordpress.com  saya ucapkan selamat membaca surat-surat UU.Hamidy,  semoga  Anda dapat terinspirasi oleh pandangan-pandangan beliau yang berkarya  demi mencari ridha Allah Swt. Dan kepada Bapak UU. Hamidy dan  Ibu Aswarni   serta  Purnimasari,   saya ucapkan terima kasih atas segala perhatian yang dicurahkan kepada saya sekeluarga. Mudah-mudahan segala amal  ibadah kita diterima baik oleh Allah Rabbal ‘alaminnn. Aminnn!!!.

 Bale Tambeh Darussalam, Ahad, 17 Juni 2012, pukul  13.13 wib., T.A. Sakti.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s