Surat UU.Hamidy ( 13 ) – Pengarang 58 buku tentang Dunia Melayu Raya

Pekanbaru,  8 Sya’ban 1429 Hijrah

10 Agustus 2008 Masehi

Yth.  Bung T.A.  Sakti di Darussalam, Aceh.

Surat ini memang pantas ditulis, atas pertimbangan beberapa perkara.  Pertama, jika masih ada umur, insya Allah bulan depan kita melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Karena itu, melalui surat ini, saya menyampaikan selamat melakukan ibadah Ramadhan kepada Bung serta keluarga. Semoga ibadah ini menambah kebajikan dalam umur kita. Dan selanjutnya, insya Allah kita dapat berhari raya Idul Fitri, sehingga sekali lagi saya ucapkan pula selamat hendaknya Bung dan keluarga, mencapai  pintu gerbang rahmat Allah yang tiada terhingga itu.

Kita harus bicara seperti  ini, sebab   d u n i a   pada hakekatnya  semakin menjauh sementara akhirat semakin  mendekat.  Maka sebenarnya , seperti   telah  saya utarakan dalam surat-surat terdahulu, dalam pandangan dakwah serupa itulah saya tergerak lagi menulis mengenai hikayat  Aceh. Coba Bung bayangkan, sudah lebih dari 30 tahun ( yakni terhitung sejak tahun 1975 ) saya mempelajari hikayat  Aceh.  Kemudian dengan tidak terduga  Bung membicarakan lagi tentang hikayat Aceh kepada saya tahun 2007, melalui berbagai kegiatan dan jerih payah yang Bung  lakukan.

Saya termenung, membayangkan Aceh tahun 1974,  membayangkan Pak Anzib Lamnyong mengumpulkan hikayat, yang amat besar artinya bagi kajian saya. Juga teman lain seperti Talsya, Syekh Rih, Pak Ali Hasjmy dan banyak lagi.  Saya bermukim di Aceh di kampung Darussalam, bergaul dengan saudara seiman, bagaikan saudara sendiri.  Bahkan setelah saya kembali ke Pekanbaru, saya masih menjadi pembantu khusus majalah Sinar Darussalam, sampai majalah itu berhenti terbit.

Kalau begitu, saya sebenarnya  s i a p a   di Darussalam Aceh. Darussalam Aceh sudah saya rasakan sebagai kampung halaman saya.  Tak heran jika Pemda Aceh ketika itu menawarkan kepada saya melalui Gubernur Muzakkir Walad dan Ibrahim Hasan Rektor Unsyiah, menawarkan kepada saya, bahwa mereka bersedia menerima saya menjadi tenaga pengajar di Unsyiah. Silakan pindah dari Pekanbaru ke Darussalam. Dan tiap Pak Ali Hasjmy ke Pekanbaru, dia niscaya mencari saya untuk bertemu, lalu kepada sesama warga Aceh , saya diperkenalkan  sebagai warga Aceh – orang Aceh yang tinggal di Pekanbaru.

Jadi,  bagaimana saya bisa melupakan hikayat Aceh begitu saja. Tulisan saya tentang hikayat Aceh, baik yang melalui buku saya, maupun yang diterbitkan pihak lain seperti Seulawah dan Masuk  dan Berkembangnya Islam di Indonesia, terbitan Ma’arif Bandung dengan editor A.Hasjmy  sudah mendunia.  Kajian hikayat Aceh telah memberi bahan bahkan juga gagasan kepada saya untuk memperhatikan dunia sastra Melayu, sehingga saya mendapat peluang dari Allah Swt, menulis tentang dunia Melayu lebih dari 50 buah buku.

Bung T.A.  Sakti,  jadi begitulah keistimewaan hubungan saya dengan hikayat Aceh serta masyarakatnya.  Lalu berselang 30 tahun, keadaan itu seakan Bung panaskan lagi. Maka itulah yang terjadi. Saya membuka lagi sejumlah kartu-kartu hikayat  Aceh yang masih saya simpan. Hasilnya itulah lebih kurang 7-8 tulisan pendek mulai dari Lain Ditulis Lain Dibaca ( tentang Pak Anzib Lamnyong, semacam anekdote ) sampai Tipologi Manusia dalam Hikayat Aceh. Maka, rasanya            j a d i l a h  serupa itu saya menyambut gegap gempita kreativitas Bung yang membara terus. Saya sendiri tak mungkin lagi menulis seperti dulu, kerena sesuai dengan sunatullah apa-apa yang ada pada manusia akan lenyap dan binasa dan hanya yang berada di sisi Allah-lah yang kekal abadi.

Sebab itu, kalau selepas ini tak ada lagi tulisan saya mengenai hikayat aceh, janganlah Bung kecil hati dan kecewa. Itu, bukanlah suatu kehendak yang sengaja, tetapi semata-mata  sesuai  dengan kudrat dan iradat Allah. Kemampuan saya berdakwah melalui  hikayat Aceh tentu ada batasnya. Sebab itu, jika kemampuan ini hendak di perpanjang, maka seperti saya sampaikan kepada Bung dan juga teman kita LK Ara, jalan yang dapat ditempuh ialah menerbitkan lagi semacam  Seulawah jilid II, yang buat sementara saya sederhanakan  judulnya : Bunga Rampai Hikayat Aceh.

Di dalamnya termuat  1) sejumlah tulisan mengenai hikayat  Aceh, yang agaknya beberapa di antara tulisan pendek saya yang  7(8) itu dapat dimasukkan didalamnya. 2) Gambaran umum tentang budaya Aceh yang Islami, yang meliputi berbagai cabang budaya. 3) Infentarisasi  Judul-Judul hikayat Aceh ( Naskah Lama Aceh ). 4). Daftar Judul Kajian ( buku ) mengenai Aceh, teristimewa mengenai hikayat Aceh. 5). Rancangan ke depan untuk memelihara sastra dan budaya Aceh. Buku ini dapat ditaja oleh 3 pihak yakni Pemda Istimewa Aceh cq Bidang Pendidikan/Budaya, Balai Bahasa Aceh dan Lembaga Adat Aceh.  Jika buku samacam itu dapat diterbitkan, niscaya akan menjadi buku penting  (pokok ) untuk mata pelajaran muatan lokal di Aceh. Menjadi buku cenderamata bagi pelancong yang datang ke Aceh. Dan di atas segalanya inilah juga cara kita umat Islam menampilkan ketinggian ajaran  Islam, yang mampu memberikan    p e n c e r a h a n   sepanjang masa.

Bung T.A. Sakti,   hari sudah rembang petang. Bila saya mendapat panggilan menghadap-Nya, barang kali tidak akan ada surat atau berita kepada Bung. Sebab  itu,  marilah kita sama-sama berharap dan berdoa kepada Allah, agar pergaulan dan persaudaraan kita selama ini diridhai Allah, semoga menjadi tambahan kebajikan bagi kita, apa-apa yang telah kita tulis dengan niat bertasbi memuji Allah.

Selamat beribadah dan berkarya, semoga  Bung dan keluarga selalu dalam perlindungan, taufik dan hidayah-Nya, yang tiada putus dan terhingga.   Amin.

Wassalam

dto

UU. Hamidy

{ Catatan sementara: Inilah  penutup  posting  surat UU. Hamidy. Semula, saya bermaksud memposting surat ini pada Hari Libur Nasional Peringatan Israk Mikrak Nabi Muhammad Saw tahun ini; namun mengingat “Takdir Ilahy tak ada manusia yang ketahui”, maka segeralah saya muatkan surat beliau yang ‘teramat penting’ ini.  Sebagai ulasan perpisahan Insya Allah akan saya sajikan pada Hari Peringatan Israk Mikraj tahun 1433 H yang akan datang!. Bale Tambeh Darussalam,  Selasa, 27 Maret 2012, pkl. 7.50 wib., pagi, T.A. Sakti }.

                                                     TAMBAHAN KEMUDIAN:

          Hari ini Ahad, 27 Rajab 1433 H atau 27 Apam  1433 bertepatan 17 Juni 2012 adalah Hari Libur Nasional  – Memperingati Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw  tahun   1433  H. Sudah 14 surat UU.Hamidy saya persembahkan kepada masyarakat dunia, khususnya yang meminati bidang karang – mengarang seperti para calon sastrawan, budayawan, dan calon ilmuan lainnya. Pada  “penutupan surat-surat UU.Hamidy  kali  ini, saya tidak mengulas lagi tentang pentingnya surat-surat  itu  dibaca oleh ‘peminatnya’, karena kesemua itu dapat dibaca sendiri dalam blog “Tambeh” yang terbuka ini.

          Setelah ‘membaca’ ke 14 surat UU. Hamidy, muncullah banyak pertanyaan. Diantara salah satu pertanyaan terpenting, modal apakah   yang dipakai UU. Hamidy sehingga beliau sanggup menulis buku sampai  lebih  50 buah  itu???!!!!. Menurut saya, keikhlasan dalam berkarya adalah ‘modal utama’ beliau. Sebab, mengharapkan bantuan atau dukungan  dari pihak luar memang nyaris tak mungkin. Menunggu royalti/honor  besar dari penerbit?. Tentu, jauh panggang dari api!. Malah, dalam salah satu surat, UU.Hamidy  menyebutkan, kebanyakan penerbit hanya memberikan ‘tulang’ kepada para pengarang, sedangkan  ‘ daging’   buat diri mereka sendiri.  Apa  lagi, menanti  dukungan dari pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Daerah. Tak usahlah para pengarang ‘bermimpi’!.

          Selama saya menjadi staf pengajar di Perguruan Tinggi selama hampir 22 tahun, selalu saya mencari kesempatan buat mendorong mahasiswa baru agar bergiat dalam dunia tulis-menulis, selain terlibat dalam organisasi mahasiswa lainnya. Namun hasilnya nihil belaka!. Memang, ada satu-dua mahasiswa yang mau ‘mencoba’,  tetapi tidak bertahan lama. Semangat  menulis mereka segera terkulai!.  Menurut saya, inilah akibat tak adanya ‘penghargaan’ terhadap “dunia karang-mengarang” di negara era modern:  Indonesia.

         Padahal di Kerajaan Aceh Darussalam – tempo doeloe – penghargaan terhadap pengarang amat tinggi. Bacalah kitab-kitab lama yang belum punah. Pastilah pada pengantar/mukaddimah akan Anda jumpai pernyataan, bahwa karya  asal abad ke 17 itu ditulis atas ‘sponsor’ Sultan atau raja Aceh yang sedang berkuasa  ketika  itu. Begitu kita temukan dalam kitab karya Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Syamsuddin As-Sumatra-i    dan ulama-pujangga  lainnya. Karena itu tak perlu heran, jika  ketiga ulama tersebut di atas  telah menulis berpuluh-puluh  kitab, yang sebagiannya masih dipelajari sampai hari ini. Nuruddin Ar-Raniry misalnya, beliau hanya 7 tahun menetap di Aceh; tetapi telah menulis lebih 20 kitab dalam berbagai bidang pengetahuan yang dibutuhkan rakyat Aceh saat itu.

         Memang, banyak negara di era modern ini yang amat menghargai para penulis. Salah satunya negara tetangga kita, Malaysia. Di sana, kepada para pengarang ‘berbakat’ dianugerahkan gelar “Sastrawan Negara”. Banyak fasilias   atau  kemudahan yang dihadiahkan negara Malaysia kepada orang-orang yang telah memperoleh gelar itu, diantaranya sertifikat dan uang 60 ribu RM  pada saat penganugerahan  gelar Sastrawan Negara itu. Mungkinkah negara kita – Indonesia –  mengikuti jejak Malaysia???. Wallahu’aklam!!!.

          Akhirul kalam,  kepada peminat blog  www. tambeh.wordpress.com  saya ucapkan selamat membaca surat-surat UU.Hamidy,  semoga  Anda dapat terinspirasi oleh pandangan-pandangan beliau yang berkarya  demi mencari ridha Allah Swt. Dan kepada Bapak UU. Hamidy dan  Ibu Aswarni   serta  Purnimasari,   saya ucapkan terima kasih atas segala perhatian yang dicurahkan kepada saya sekeluarga. Mudah-mudahan segala amal  ibadah kita diterima baik oleh Allah Rabbal ‘alaminnn. Aminnn!!!.

 Bale Tambeh Darussalam, Ahad, 17 Juni 2012, pukul  13.13 wib., T.A. Sakti.  

Surat UU.Hamidy, ketika mengirim buku baru kepada saya!

uu-hamidi

UU. Hamidy

Pekanbaru,  Jum’at, 9  Maret   2012

Bung  T.A.  Sakti  yang  baik.

Alhamdulillah,  setelah  kita bertemu   lebih   kurang   3   tahun   yang   lalu  (Agustus  2009)

kita   masih   diberi   umur   oleh   Allah   Swt   untuk   mengabdi   kepadanya.  Semoga   Allah  Yang

Maha  Pemurah   menjadikan   sisa   umur   kita   sebagai   tambahan   kebajikan,  dan  menjadikan

kematian   bagi   kita   sebagai   pelepas   kita   daripada   segala   kejahatan.

Bung   Teuku   Abdullah,    berkat   jasa   Bung   beberapa   tulisan   saya   telah   diterbitkan   pula

oleh   beberapa    surat   kabar   di Banda Aceh    beberapa   tahun   yang   lalu.  Saya   melihat

tulisan   itu   sedikit    banyak   bernilai,  sehingga   semoga    jadi   amal   saleh  oleh  Rabbul

Alamin   kepada   kita. Karena   itu    dalam   perjalanan   hidup   kita  di  dunia   ini   yang  hanya

bagaikan   berhenti   sejenak    di bawah    sebatang    pohon,  saya   terpanggil   untuk   membukukan

tulisan   mengenai   hikayat   Aceh   tersebut.  Kiranya   tulisan   itu   dapat   menggugah   hati

para   pembaca,  bagaimana   agama   Islam   telah  dilarutkan   bagaikan   garam   kedalam

Hikayat    Aceh.

Maka,  setelah   buku   itu   terbit   dengan   tajuk    Demokrasi   Direbut   Pemimpin   Belalang

dengan   sukacita   saya    kirimkan   3   buah   buku   tersebut   kepada   Bung. Satu   buah  untuk

Bung   sebagai   tanda   persaudaraan   kita, satu   buah   untuk   pustaka  Balai  Bahasa  Aceh,

dan   satu   lagi  untuk   pustaka   Unsyiah. Kalau    ada   dari   pihak   Balai  Bahasa   ingin  menurunkan

tulisan   mengenai  buku  tersebut,  sambil   menukil   lagi  kejayaan  hikayat Aceh, tentulah

tulisan   itu   amat  berharga. Jika   tidak, silakan   Bung  Teuku   Abdullah  membuat  ulasan

singkat  tentang   buku   tersebut,  lalu   kirimkan   kepada   koran   yang  terbit  di  Banda  Aceh.

Bung  Teuku  Abdullah,  begitulah   dulu.  Saya   juga   telah  membaca   berita  duka  dari  Bung

tentang   seorang   ulama  terpandang    yang   telah   mendahului   kita.  Semoga   beliau  mendapat

tempat   yang   lapang di sisi Allah.  Sedangkan   kita   yang   akan   menyusul,  semoga

dipelihara   Allah   dari   segala   subhat   dan   fitnah   dunia.  Amin …

Salam  takzim

dto

UU  Hamidy

 

 

 

SENARAI KARYA UU. HAMIDY

Yang telah diterbitkan:

 

 1. Bahasa Melayu Riau,

Cetakan I, BPKD, Pekanbaru, 1973

Cetakan II, Pustaka AS, Pekanbaru, 1975.

 

  2.   Anzib Lamnyong Gudang Karya Sastra Aceh,

Pusat Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Aceh, 1974.

 

3.   “Peranan Cerita Rakyat Aceh”

Dalam buku Segi-segi Sosial Masyarakat Aceh,

Oleh Alfian (ed.) LP3ES, Jakarta, 1977.

 

4. “Kebijakan Mempergunakan Hikayat di Aceh”

Dalam buku Sejarah Masuknya Islam di Indonesia.

Oleh A. Hasjim, PT. Alma’arif, Bandung, 1981.

 

5. Riau sebagai pusat bahasa dan Kebudayaan Melayu,

Bumi Pustaka, Pekan Baru,

Cetakan I 1981, cetakan II 1982, dan ke III 1987.

 

6.  Sikap Orang Melayu terhadap Tradisinya Riau,

Bumi Pustaka, Pekan Baru, cetakan I 1981, cetakan II 1982.

 

7. Pengarang Melayu di Riau dan Abdullah Munsyi,

Pusat Pembinaan Bahasa, Jakarta, 1981.

 

8. Agama dan Kehidupan dalam Cerita Rakyat,

Bumi pustaka , Pekanbaru, 1982.

 

9. Kedudukan Kebudayaan Melayu di Riau,

Bumi Pustaka, Pekan Baru, cetakan I 1981, ke II 1982.

 

10.  System Nilai Masyarakat Pedesaan di Riau,

Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1982.

 

11. Pembahasan Karya Fiksi dan Puisi,

Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1983.

 

12. Tradisi Kepenyairan di Indonesia,

Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1984.

 

13. Pengantar Kajian Drama,

Bumi, pustaka, pekanbaru, 1984.

 

14. Orang  Patut ( bersama Muchtar Ahmad )

Bumi Pustaka, Pekan baru, 1984.

 

15. “ Sumbangan  Cendekiawan Riau terhadap kebudayaan Nasional Indonesia”

( bersama Hasan Junus ) dalam buku Tradisi Johor Riau,

Dewan Bahasa, Kuala Lumpur, 1985.

 

16. Membaca Kehidupan  Orang Melayu,

Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1986.

 

17.  Kesenian Jalur di Rantau Kuantan Riau,

Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1986.

 

18.  Dukun Melayu Rantau Kuantan Riau,

Melayulogi, Pekanbaru, 1986, cetakan II 1999.

 

19. Tema Keadilan dan Keberadaan dalam karya Sastra Indonesia,

Bumi Pustaka, Pekanbaru,  1987.

 

20.  Rimba Kepungan Sialang,

Balai Pustaka Jakarta,1987.

 

21.  Kasin Niro Penyadap Enau,

Balai Pustaka, Jakarta, 1987.

 

22.  Kesusastraan Islam di Rantau Kuantan,

Payung Sekaki, Pekanbaru, 1988.

 

23.  Sikap dan Pandangan Hidup Ulama di Riau,

UIR Press, Pekanbaru, 1988.

 

24.  Kebudayaan Sebagai Amanah Tuhan,

UIR Press, Pekanbaru , cetakan I 1989, ke II 1992, ke III 1997.

 

25.  Ketakwaan  Orang Melayu,

UIR Press, Pekanbaru, 1989.

 

26.  Perjuangan YLPI di Riau,

UIR Press, Pekanbaru, 1989.

 

27.  Masyarakat dan Kebudayaan di Riau,

Yayasan Zamrud, Pekanbaru, 1990.

 

28.  Indonesia, Malaysia dan Singapura,

Yayasan Zamrud, Pekanbaru, 1990.

 

29..  Estetika Melayu dan Islam,

Yayasan Zamrud, Pekanbaru, 1990.

 

30.  Masyarakat Terasing Daerah Riau di Gerbang Abad XXI,

Yayasan Zamrud, Pekanbaru, 1991

 

.31.  Pengislaman Masyarakat Sakai,

UIR Press, Pekanbaru, 1992.

 

32.  Perantau  Jawa di Daerah Riau,

UIR Press, Pekanbaru, 1992.

 

33.  “Dimensi Bahasa dalam Budaya Melayu”

dalam buku 100 Tahun Bahasa dan Sastra Melayu

oleh S. Othman Kelantan (ed.),

Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1992.

 

34.  Nilai Suatu Kajian Awal,

UIR Press, Pekanbaru, 1993.

 

35.  Kerukunan Hidup Beragama di Daerah Riau,

UIR Press, Pekanbaru, 1993.

 

36.  Beberapa Aspek Sosial Budaya Daerah Riau,

(bersama Muchtar Ahmad)

UIR Press, Pekanbaru, 1993.

 

37.  “Teks, Pengarang dan Masyarakat dalam Sastra Melayu Riau”

dalam buku Pengarang Teks dan Khalayak,

oleh Sahlan Mohd. Saman

Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1994.

 

38.  Potensi Lembaga Pendidikan Islam di Riau,

UIR Press, Pekanbaru, 1994.

 

39.  Bahasa Melayu dan Kreatifitas Sastra di Daerah Riau,

Unri Press, Pekanbaru, 1994.

 

40.  Kamus Antropoligi Dialek Melayu Rantau Kuantan,

Unri Press, Pekanbaru, 1995.

 

41.  Dari Bahasa Melayu sampai Bahasa Indonesia,

Unri Press, Pekanbaru, 1995, cetakan II 1997.

 

42.  “Islamisasi Melalui Hikayat  Aceh” dalam Seulawah Antologi Sastra Aceh,

Editor LK Ara, Taufiq Ismail, Hasyim KS,

Yayasan Nusantara,  Jakarta 1995.

 

43.  Orang Melayu di Riau,

UIR Press, Pekanbaru, 1996.

 

44.   Cakap Rampai – rampai Budaya Melayu di  Riau,

Unilak Press, Pekanbaru, 1997.

 

45.  Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji,

Penerbit  Sastra Leo, Medan, 1997.

 

46.  Teks dan Pengarang di Riau,

Unri Press, Riau, Indonesia, 1998.

 

47.  Islam dan Masyarakat Melayu di Riau,

UIR Press, Riau, Indonesia, 1999.

 

48.  Bahasa dan Kreatifitas Sastra,

Unilak Pres, Pekanbharu, 1999.

 

49.Masyarakat Adat Kuantan Singingi,

UIR Press, Pekanbaru, 2000.

 

.50. Kearifan Puak Melayu di Riau Memelihara Lingkungan Hidup,

UIR Press, Pekanbaru, 2001.

 

51.  Riau Doeloe – Kini dan Bayangan Masa Depan,

UIR Press, Pekanbaru, 2002.

 

52. Metodologi Penelitian: Disiplin Ilmu Sosial dan Budaya,

Bilik Kreatif Press, Pekanbaru, 2003.

 

53. Jagad  Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau,

Bilik Kreatif  Press, Pekanbaru, 2003

 

 

Yang belum Diterbitkan :

 

54. Kesenian Randai dalam Masyarakat Rantau Kuantan Riau,

( Tesis M.A. pada Universitas Malaya, Kuala lumpur),

tersimpan   pada perpustakaan Wilayah Provinsi  Riau

Jalan Thamrin Pekanbaru.

 

55. Peranan Suku Banjar di Inderagiri Hilir,

(hasil penelitian tahun 1982)

tersimpan pada Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau.

 

56. Masalah Sosial Budaya dan Teknologi Transmigrasi Lokal Di Riau

( hasil penelitian bersama    Muchtar Ahmad, tahun 1984)

tersimpan pada Perputakaan Wilayah Propinsi Riau.

 

57. Tradisi Akademis Perguruan Tinggi Daerah Riau,

( hasil penelitian tahun 1985)

tersimpan pada Perpustakaan Wilayah Propinsi Riau.

 

58. Naskah Melayu Kuno  Daerah Riau,

(hasil penelitian tahun 1985)

tersimpan pada Perpustakaan Wilayah Propinsi Riau.

 

59. Syair Suluh Pegawai Karangan Raja Ali  Haji,

(hasil penelitian bersama Hasan Junus dan R. Hamzah Junus, tahun 1986)

tersimpan pada Perpustakaan Wilayah Propinsi Riau.

 

60. Beberapa Masalah Pendidikan di Pedesaan Riau,

(hasil penelitian tahun 1996)

tersimpan pada Lembaga Penelitian Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

 

 

(Catatan:  1) Sumber kutipan: UU.Hamidy, “Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau”,

Bilik Kreatif Press, Pekanbaru, 2006 halaman 227 – 232.

2) Kutipan di atas disalin komputer oleh dua orang anak saya,  keponakan  dan saya sendiri. Bale Tambeh, 9 Maret 2012, pkl. 12.23 wib., T.A. Sakti ).

 

 

 

 

 

.

Surat kepada Prof. Dr. Aoyama Toru

Banda Aceh, 1 Maret 2011

Kepada  Yth

Prof.Dr. Aoyama Toru

Di  TUFS.

Salam perkenalan!.

Saya termasuk peserta yang turut diundang ke seminar Manuskrip Aceh yang akan berlangsung hari Sabtu, 5 Maret 2011 di lantai 3 Gedung Pasca Sarjana IAIN-Arraniry, Banda Aceh. Surat undangan diantar   langsung

ke rumah saya.  Sebagai peminat terhadap manuskrip Melayu/Aceh, tentu saya amat gembira dengan adanya undangan itu. Tadi siang, saya telah datang memeriksa tangga untuk naik ke lantai 3. Kesimpulannya, saya tak sanggup naik ke acara seminar tersebut, karena itu telah saya beritahukan panitia, bahwa saya tidak dapat hadir.

Sebagai peminat manuskrip Melayu/Aceh, saya amat gembira karena pihak TUFS telah banyak berjasa dalam menyelamatkan manuskrip Melayu/Aceh. Dalam hal ini, tentu masyarakat Aceh sangat menghargai upaya pihak TUFS ini. Mudah-mudahan-mudahan dimasa akan datang upaya itu lebih ditingkatkan, yakni selain menyelmatkan naskah juga dilanjutkan dengan penerbitan/pencetakan ulang naskah itu, baik dalam huruf Jawi  ataupun dalam huruf Latin.

Saya sendiri, sejak tahun 1992 sampai sekarang telah melakukan transliterasi ke huruf Latin sebanyak 32 naskah Melayu/Aceh. Hanya teramat sedikit yang dapat saya terbitkan guna diedarkan kembali ke masyarakat.

Kepada Bapak yang akan membawa makalah pada seminar Manuskrip Aceh, saya ucapkan selamat, dan terima kasih atas kepedulian Bapak kepada manuskrip Melayu/Aceh yang amat terlupakan selama ini!.

                                                                             Wassalam,

                                                                              T.A. Sakti

                                                                              www.tambeh.wordpress.com

  • Dalam blog saya ini,  tulisan yang membahas kegiatan alih aksara yang saya kerjakan terhadap manuskrip Melayu/Aceh,  boleh dijumpai dalam banyak judul. Tapi judul yang paling penting ialah: “Hkayat Aceh Telah Mati (?)”.

Surat kepada Dr. Khalif Muammar di Malaysia

Bale Tambeh Darusssalam,

Banda Aceh, 18 Apam 1432

18 – 7 – 1432 H/20 – 6 – 2011 M

 

Kepada Yang Terhormat

Dr. Khalif Muammar

di  ATMA, UKM

 

Saya sedang membaca ulang makalah Bapak yang disampaikan di Aceh dua tahun lalu.

Judulnya:  “Kajian Terhadap Manuskrip Durr al -Fara’id  Karangan Shekh Nuruddin al-Raniri”.

Saya sendiri adalah peminat manuskrip Aceh, terutama yang berbahasa Aceh. Dari 32 judul yang sudah selesai saya transliterasi, hanya 3 judul  saja yang berbahasa Melayu, yaitu Tazkirah Thabaqat, Adat Aceh dan Qawa’idul Islam.

Pada catatan kaki no. 14 di halaman 3, tentang asal Teuku Mat Ha Hasan dari Kerang-kerang, Bapak menyatakan tidak tahu secara pasti apa yang dimaksud dengan kaf, ra, nga dan tanda dua kali; pada nama kampung itu. Saya coba member pendapat, bahwa tempat itu bernama Grong-Grong, yaitu satu kota kecil pada jalan raya Banda Aceh – Medan, yang terletak antara  Keude Padang Tiji dengan Pekan Pidie. Pasar/keude Grong-Grong, biasa ramai pada setiap sore hari. Sampai tahun  80 –an memang masih ada Dayah/Pesantren terkenal  di daerah Grong-Grong.

 

                                                                              Wassalam,

                                                                                  T.A. Sakti

                                                                            www.tambeh.wordpress.com