Mencermati Nasib Bahasa Indonesia yang dicabut akar tunjangnya!

Memurnikan Istilah bahasa Indonesia

Oleh: T.A Sakti

Bahasa Indonesia merupakan bahasa “terbesar” di kawasan AsiaTenggara. la dipakai oleh ratusan juta umat manusia. Dalam hal ini, bangsa Indonesia patut berbangga, karena kitalah yang memiliki bahasa Indonesia ini. Kebanggaan tersebut perlu kita tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Caranya, antara lain ialah dengan usaha mempertahankan keutuhan bahasa Indonesia dari “serangan dan ancaman” pihak musuh-musuhnya. Hanya dengan jalan itulah bahasa Indonesia dapat terpelihara kemurniannya.

Namun disadari atau tidak, ternyata bahasa Indonesia dewasa ini berada dalam “kemelut”. Kalau tidak membenahinya sejak sekarang, besar kemungkinan “penyakit” inilah yang akan menghancurkan keutuhan bahasa Indone­sia di suatu hari nanti. Yang penulis maksudkan dengan “penyakit” itu ialah: semakin banyak usaha-usaha untuk menyingkirkan kosakata baha­sa Indonesia di masa akhir-akhir ini.

Hampir setiap hari terjadi usaha penghancuran bahasa Indonesia, terutama dalam media massa. Kosakata bahasa Indonesia yang murni yang telah disingkirkan, lantas diganti dengan kosakata yang berasal dari bahasa daerah atau asing. Kalau pemasukan bahasa daerah, terutama dipelopori oleh para wartawan dan pengarang umumnya, maka “impor” bahasa/istilah asing ke dalam bahasa Indonesia didalangi oleh para ilmuan kita.

Nampaknya, para ilmuan kita lebih memandang hebat bahasa asing daripada bahasa sendiri. Ini terbukti dari sikap mereka: yaitu tidak hanya menggantikan kosakata bahasa Indonesia yang belum  ada padanannya dalam bahasa Indo­nesia, tetapi kosakata yang telah ada padanannya juga sering mereka ganti. Ditinjau dari sudut pemakaian bahasa saja, sudah nampak “kemunafikan” para ilmuan kita. Mereka saring berselogan: “Kami akan berbakti demi rakyat?”. Padahal sikap mereka dalam penggunaan bahasa, telah menciptakan suatu tembok pemisah antara para ilmuan dengan masyarakat awam, yang pada umumnya berpendidikan rendah itu.

 

Putus Kontak

Nggak Jelas Lagi ( kertas koran tersobek air tsunami Aceh, 26 – 12 – 2004)

…………”usaha mencerdaskan bangsa” bukanlah hanya lewat pendidikan formal. Segala jenis penerangan yang berasal dari terbagai pihak asal menuju ke arah usaha itu, dapat pula digolongkan sebagai usaha mencerdaskan bangsa.

Dalam hal Ini, jasa pihak media massa sungguh besar sekali. Tetapi sayang, penyajian dari media massa tidak sepenuhnya dapat diikuti oleh segenap lapisan masyarakat. Sebagian besar sajiannya setiap hari, hanya dapat dihayati masyarakat yang memangnya telah “cerdas” ; paling kurang berpendidikan SLTA ke atas.

Sedang bagi masyarakat yang berpendididkan lebih rendah dari itu, hanya bisa mengikuti dari “pinggir-pinggir” saja. Mengapa kesenjangan demikian sampai terjadi?.  Sebabnya adalah karena berbagai bentuk penyajian dalam media massa telah dijejali dengan Istilah-istilah “asing”, yang belum memasyarakat di kalangan masyarakat lapisan bawah,

Dengan perkataan lain dapat disimpulkan, bahwa media massa kita hanya ikut “mencerdaskan” warga negara yang telah “cerdas” saja. Sedang bagi warga negara yang kurang pendidikannya kurang manfaatnya, alias jauh panggang dari api.

Jika yang dibaca oleh rakyat biasa selembar surat kabar, memang masih ada “untung” nya. Sebab dalam penulisan beritanya, para wartawan sengaja menulis dengan bahasa Indonesia yang tidak terlalu “berat”. Tujuannya, agar dipahami segenap lapisan masya­rakat. Namun ungkapan “untung” tersebut nampaknya tidak selamanya membawa untung. Artinya, masih banyak hal selain berupa berita-berita, yang juga disajikan dalam koran, tetapi tak dapat diikuti oleh para pembaca lapisan bawah.

Artikel-artikel surat kabar yang sudah mendapat “cap ilmiah” atau ilmiah populer, pasti sukar dimengerti masya­rakat umum. Hal ini terjadi, karena para kolumnis yang bertitel profesor, doktor, atau sarjana umumnya; sudah memadati karangannya dengan istilah-istilah bahasa asing.

 

 

 

Nggaak Jelas Lagi ( sda )

………..jarang sekali rakyat lapisan ‘bawah’ yang mau membaca artikel-artikel dari para kolumnis di negara kita. Padahal golongan yang rendah pendididikan inilah mayoritas rakyat di negara kita.

Mana mungkin seorang pedagang sayur misalnya, mau membaca koran (biar surat kabar pinjaman, umpamanya) bila terpaksa harus membeli kamus untuk dapat memahaminya. Akibatnya, semakin lama perbedaan pengetahuan antara lapisan masyarakat semakin jauh berbeda. Yang elit terus melejit, yang rendah semakin terjepit

Keterbukaan

Masalah lainnya yang sema­kin besar pula “bahaya”nya adalah kesukaan memasukkan bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Yang sangat mengherankan, bukan hanya untuk istilah-istilah yang tidak ada padanannya yang diganti dengan bahasa daerah. Kosakata bahasa Indonesia yang sudah lazim pun masih dengan “paksaan” diganti secara semena-mena dengan bahasa daerah.

Perbuatan menggantikan kata demi kata bahasa Indone­sia dengan bahasa daerah, tanpa alasan yang cocok atau pantas, adalah termasuk suatu pemerkosaan bahasa Indone­sia, yang telah kita akui sebagai Bahasa Nasional itu.

Bila keadaan sebagai sekarang terus berlangsung, alangkah kacaunya tata bahasa Indonesia di masa-masa mendatang. Betapa tidak, bukankah Jumlah bahasa daerah di Indo­nesia banyak sekali? Yang berarti akan mewujudkan jenis bahasa Indonesia ratusan ragam pula. Pemecahan masalah-masalah tersebut di atas sudah sepantasnya diperhatikan para ahli bahasa, didiskusikan, diseminarkan atau dijadikan topik pembahasan dalam Kongres-kongres Bahasa Indonesia yang mungkin diadakan di masa-masa akan datang. Sebab gejala “mendewakan” istilah asing dan bahasa daerah yang dipaksakan masuk ke dalam Bahasa Indonesia sudah sangat kentara. Kerelaan dan keterbukaan kita ………………..

 

( Sumber:  Serambi Indonesia, Jum’at, 30 Oktober 1992)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s