Surat UU. Hamidy ( 8 ) – Penulis 57 Buku tentang Budaya Melayu

Bung T.A. Sakti, yang tekun dan kreatif

Surat Bung tanggal 20 Februari 2000, saya terima pada hari Selasa tanggal  7 Maret 2000 di Pekanbaru. Semua kiriman Bung itu memang sudah sampai pada saya, Karya-karya Bung cukup bermakna sebagai dokumentasi, tapi jika Bung suka mendengar penilaian saya, karya itu masih belum memadai untuk memberikan gambaran budaya Aceh dengan semangat masyarakat yang pantang menyerah menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebab itu, dalam kesempatan yang akan datang karya serupa  itu sebaiknya Bung berikan ulasan, diantaranya dengan hubungan karya itu dengan karya lainnya, nilai karya itu bagi masyarakat dan budaya Aceh serta bagaimana karya ini mampu memberikan pencerahan bagi budaya Melayu Nusantara.

Untuk  model  itu, alangkah baiknya Bung membaca hasil penelitian saya mengnai masyarakat Aceh, melalui kajian cerita rakyat. Mengapa hasil penelitian saya itu dipandang yang terbaik oleh para peneliti ilmu-ilmu sosial ( terutama oleh LIPI ) karena saya melalui kajian cerita rakyat itu dapat membentangkan bagaimana budaya, masyarakat dan agama Islam di Aceh. Ini adalah suatu hal yang jarang dilakukan orang, sebagaimana biasanya untuk kepentingan itu orang hanya langsung melakukan kajian antropologi dan sosiologi.

Jika model itu Bung kembangkan, maka dari rangkaian kajian terhadap naskah Aceh serta sastra lisan Aceh, Bung akan mempunyai bahan yang melimpah untuk menulis buku belakang hari. Jika nanti telah memadai, Bung bisa menurunkan beberapa judul buku yang telah saya tulis di Riau, yang untuk Aceh dapat diberi judul antara lain

–          Masyarakat dan Budaya di Aceh

–          Islam dalam Masyarakat Aceh

–          Masyarakat Terasing (Pedalaman) di Aceh

–          Kamus Antropologi Bahasa Aceh

–          Teks dan Pengarang di Aceh

–          Aceh sebagai Pusat Budaya Melayu Nusantara

–          dst

Kalau buku-buku serupa itu telah turun dari pena Bung, maka nama Bung sebagai peneliti, budayawan dan pengamat budaya Aceh, akan melampaui nama-nama terdahulu, seperti  A. Hasjmy almarhum. Dan tampaknya jalan kesitu sedang terbuka lebar bagi Bung dewasa ini. Saya juga mengharapkan, dalam kajian Bung hendaknya juga terkesan ada perbandingan dengan kajian terdahulu, misalnya dengan kumpulan kajian Segi-Segi  Sosial Masyarakat Aceh oleh  LP3Es,  Sejarah Aceh (oleh M. Said) Seulawah  Antologi Sastra Aceh dsb.  Sepanjang saya baca kajian Bung, buku-buku itu jarang bung pakai sebagai pembanding, sehingga hasil kajian Bung di asumsi (?)  kurang memberikan informasi yang luas tentang Aceh, juga menjadi agak sempit. Boleh kita membuat kajian yang sempit tapi dengan ciri yang khas.

Mengenai  belajar di Malaysia, sebenarnya bukanlah sulit mencari informasi. Teman saya dulu Nurdin (yang pernah jadi Bupati Pidie) juga bisa memberi gambaran. Tapi pokoknya beasiswa d i sana ya hanya cukup untuk hidup di Malaysia. Kalau kita mau  hidup seperti orang Malaysia, malah beasiswa itu tak cukup. Saya dulu dalam tahun 1980, bisa mendapat sedikit simpanan karena saya tinggal di kampung orang Melayu dengan sewa rumah yang murah. Kemudian saya mendapat kepercayaan untuk memeriksa  ujian akhir anak SMA di sana (sijil tinggi). Jika hal itu tak berlaku, wallahu alam bissawab.

Tentang keadaan Bung sekarang, niscaya akan memberikan muatan semangat yang besar untuk berkarya lebih banyak dan lebih menarik lagi. Keadaan Bung yang boleh di katakan cacat, tentulah akan memberikan semangat dan cara kerja yang tekun. Lihatlah,  orang-orang cacat telah melahirkan karya yang agung, seperti  Alva Edison yang tuli, Curcil yang pendek, Taha Huseein yang buta,dan banyak lagi. Dengan kegiatan Bung sekarang, maka nama Bung sudah masuk mata rantai sejarah di Aceh. Apalagi setelah karya Bung nanti di cetak dan diterbitkan.

Kalau bung mau, sebenarnya Bung sendiri mampu mengasah pisau sendiri. Kalau kita bersekolah itu artinya kita minta asahkan pisau ( otak )kita pada orang lain. Bung bisa mempertajam diri dengan banyak membaca, banyak berpikir tentang objek kajian Bung, serta jangan lupa beribadah dengan baik agar mendapat pencerahan dari Tuhan Seru Sekalian Alam. Mengapa Rumi dan Iqbal menjadi bintang dalam dunia Islam, bukanlah oleh gelar kesarjanaan, tetapi oleh karyanya yang jolong dan mengagumkan, yang tak terlintas oleh alam pikiran orang lain.

Nah, begitulah dulu. Bahagialah dengan apa yang telah kita terima dan berusahalah kita menambah karya kita, sebagai cara membuat amal saleh dalam rangka membaca kebesaran Allah dan kekayaann-Nya di alam jagat raya ini. Fak tabiru ya ulil abshar.

Wassalam

dto

UU.Hamidy

*  Terima  Kamis, tanggal 30-3-2000.

Mi ngon aneukmiet intat Miwa woe di Haji u gampong.

TA

Banda Aceh

( Catatan mutakhir:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s