Mendambakan Gubernur Aceh yang Meliburkan Sekolah di Bulan Puasa

  Mendambakan Gubernur Aceh  yang Meliburkan Sekolah di Bulan Puasa

                                  Oleh: T.A. Sakti

      Surat Keputusan ( SK )  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( P & K )    Dr. Daoed Joesoef  no. 0211/U/1978 yang tidak meliburkan sekolah selama bulan puasa  tetap masih berlaku hingga sekarang.  Penetrapan peraturan ini sempat menimbulkan polemik  panjang saat itu; bahkan hingga hari ini.   Sebab   sebelumnya, selama  bulan puasa semua sekolah diliburkan sebulan penuh. Alasan dikeluarkannya  peraturan baru itu adalah untuk mengejar ketertinggalan dan mempertinggi  mutu pendidikan di Indonesia dalam rangka  menyongsong era abad ke 21. Sayangnya, apa yang diinginkan Dr. Daoed Joesoef itu sampai hari ini masih sebatas “ mimpi”. Yakni mutu pendidikan di negara kita Indonesia,  masih pada urutan ke seratus lebih dari duaratus lebih negara di dunia.

     Dalam  penjelasan Dr. Daoed Joesoef  saat   mengunjungi  Sumatera Barat  kala  itu   mengatakan: “Sekolah akan diliburkan 10 hari selama bulan puasa, yaitu 3 hari pada permulaan puasa “untuk memungkinkan yang masih hidup menabur bunga sambil berziarah ke makam sanak keluarga” dan 7 hari di sekitar  hari raya Idulfitri untuk memungkinkan merayakan lebaran di lingkungan keluarga yang selama ini terpisah karena aktifitas perantauan” (Tempo, 2 Juni 1979).

     Peraturan Menteri(Permen) itulah yang berlaku di seluruh Indonesia hingga sekarang, termasuk di Aceh.

Dalam bulan  puasa kali  ini, kita dapat menyaksikan sekolah-sekolah di Banda Aceh ada yang mulai aktif pada hari Kamis, 4 Agustus 2011 setelah melewati tiga hari awal puasa  seperti yang ‘diliburkan’ dalam  SK Menteri Daoed Joesoef itu.

       Padahal dalam instruksi bersama antara Kepala Kanwil Kementerian Agama( Kakanwil Kemenag) Aceh dengan  Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh tanggal  22 Juli 2011 keputusannya bukanlah demikian.

      Dalam instruksi bersama itu disebutkan:” Sekolah umum dan sekolah agama di Aceh hanya libur pada minggu pertama bulan Ramadhan ( 1 – 7 Agustus 2011 ). Sedangkan pada tanggal 8 – 20 Agustus, sekolah aktif kembali seperti biasa, namun jam belajarnya dipersingkat, hanya sekitar empat jam/hari (Baca: Serambi Indonesia, “8 – 20 Agustus Sekolah Tak Libur”, Kamis, 28 Juli 2011, halaman 1).

     Ternyata dalam pelaksanaannya tidak mulus . Yakni  sekolah umum sudah mulai aktif pada hari ke empat puasa. Boleh jadi hanya sekolah agama yang melaksanakan instruksi bersama itu, yaitu sekolah mulai aktif pada tanggal 8 Agustus.  Dalam hal ini nampaklah ketidak seragaman, yakni sekolah umum lebih memilih melaksanakan Peraturan Menteri (Permen) yang berasal dari Menteri P & K Dr. Daoed Yoesoef itu. Mengenai kepatuhan terhadap  “peraturan” yang dua macam itu, pihak sekolah tentu memilih yang paling  besar  resikonya.

     Dalam hal ini, sebagai seorang warganegara yang menjunjung tinggi   demokrasi, antara lain    hak berpendapat, saya mengusulkan agar “sekolah libur penuh  di bulan puasa” diwujudkan kembali; khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam.  Dengan berpijak kepada Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), rasanya mustahil gagasan itu tak bisa dilaksanakan, asal warga Aceh kompak memperjuangkannya. Saluran  kekompakan paling ampuh yang ‘mudah dan menentukan” yang dapat ditunjukkan warga Aceh adalah dalam Pemilukada.

    Karena itu, ke depan   Aceh   membutuhkan hadirnya seorang pemimpin yang mampu mengemban berbagai hak istimewa yang dikandung UUPA. Pemimpin dimaksud adalah seorang Gubernur Aceh yang  terpilih dalam Pemilukada nanti. Salah satu yang harus diwujudkan oleh sang Gubernur adalah sekolah libur penuh selama bulan puasa. Karena itu sejak dalam kampanye  calon Gubernur Aceh itu diharapkan telah berjanji kepada calon pemilihnya, bahwa ia akan – berusaha – meliburkan sekolah di bulan Ramadhan jika ia terpilih nanti.

        Memang benar, kalau dipikir secara matang, buat apa sekolah aktif di bulan puasa, kalau murid dan guru mereka beraktifitas setengah hati. Saya yakin, kalau satu “jajak  pendapat” diadakan terhadap para murid dan guru di Aceh,  pendapat yang menginginkan sekolah diliburkan penuh di bulan puasa;  pasti suaranya lebih dominan.

          Dulu di Aceh ada burung  Got-got, yang menurut legenda masyarakat  punya perilaku aneh. Kelakuannya dicibir anak-anak dengan lagu sindiran. “Got-got panyang iku/Geulungku panyang mata/Nyang tabri han jipajoh/Nyang tatroh dijak mita. Maksudnya, burung itu sungguh aneh, yaitu membiarkan apa yang sudah dapat, dan sibuk mencari yang lain lagi.

         Menurut saya, beginilah masyarakat kita sekarang.   Sebenarnya, rakyat Aceh harus bersyukur, bahwa apa yang pernah diharapkan dulu telah ada hasilnya. Yaitu apa yang terkandung dalam UUPA.  Namun, ternyata  segala rahmat itu diterlantarkan hingga hari  ini.

Dalam pemikiran saya yang awam, semua keteledoran  itu terjadi karena Aceh belum memiliki pemimpin yang benar-benar  mempersembahkan  darma baktinya demi pembangunan dan kesejahteraan rakyat Aceh.  Libur penuh di bulan puasa juga suatu kebutuhan terpenting bagi masyarakat Aceh..

       Sebagai seorang  yang pernah mengalami  dua periode waktu, yakni ketika sekolah  libur penuh selama bulan puasa dan sebaliknya, tentu alakadarnya saya memahami untung-ruginya dari kedua jenis  peraturan pemerintah itu. Orang tua di Aceh tempo dulu, paling kurang punya dua program menjelang puasa terhadap anaknya. Pertama, akan mengantar putra-putrinya ke tempat pengajian yang lebih formal. Kedua, akan melaksanakan sunat rasul  atau “khitan” buat anak laki-lakinya. Rencana orangtua  dibuat demikian, karena selama bulan puasa semua sekolah diliburkan penuh.

       Saya sendiri mengalami kedua hal itu dalam tahun 60-an. Atas kesepakatan beberapa orangtua, kami   enam orang  anak setingkat kelas 3 – 5  SD/SRI diantar ke tempat beuet( pengajian) yang jaraknya lebih 4 km dari kampung sendiri. Setelah diantar (geujak intat beuet) pada hari pertama, kami pun sudah menjadi aneukmiet beuet (murid pengajian) di Meunasah itu.  Begitulah, dengan melingkar kain sarung di leher kami berenam dari Bucue   setiap pagi pergi melintasi persawahan Blang Beutong  serta gampong Beutong Pocut dan Leupeuem ( di Kecamatan Sakti, Pidie) menuju tempat pengajian di Meunasah Me, gampong Jeumpa. Di tempat pengajian itu juga hadir anak-anak dari berbagai kampung di sekitar kampong Jeumpa.

 Begitu pula dengan khitan ( bahasa aceh: geupeusunat)  atau sunat rasul.  Jauh sebelum datang bulan puasa, persiapan untuk acara khitan sudah dimulai. Bagi keluarga mampu, biasanya melangsungkan kenduri khitanan  anak ( khanduripeusunat aneuk). Setelah itu dibuat pula acara tepung tawar (peusijuek/peusunteng). Kemudian,  para orangtua yang punya hajat mengkhitankan anaknya berembug dulu menentukan ‘hari baik’dan rumah tempat acara khitan. Rumah  yang dipilih biasanya  rumah dari keluarga berada atau tokoh masyarakat.  Bila hari H tiba, datanglah Teungku Mudem(tukang sunat)  untuk mengkhitankan anak-anak dari beberapa keluarga itu, yang kadangkala datang dari kampong yang berbeda.

     Begitulah, dengan diterapkannya tidak libur sekolah di bulan puasa; paling kurang dua adat atau  tradisi Aceh telah digilas oleh peraturan itu. Sekarang, para orangtua tidak biasa lagi mengantarkan anaknya ke pengajian pada bulan puasa, karena sekolah anaknya tak libur penuh lagi. Begitu pula, tradisi khitan pun sudah jarang diadakan pada awal puasa dalam masyarakat Aceh.

  Bila dirujuk kepada Undang-Undang  No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, penetrapan Peraturan Menteri (Permen) Daoed Joesoef itu sebenarnya telah melanggar UU no. 4 Tahun 1950, karena saat itu UU tersebut belum dicabut. Dalam aturan kenegaraan kita, Undang-undang lebih tinggi statusnya dibandingkan Peraturan Menteri(Permen).

         Mengenai ‘libur sekolah, dalam  UU no. 4 Tahun 1950 disebutkan:  libur sekolah bagi sekolah-sekolah negeri ditetapkan “mengingat kepentingan pendidikan,  faktor musim, kepentingan agama dan hari-hari raya kebangsaan”. Dalam hal  pemberlakuan  SK no. 0211/U/1978 Menteri P & K  Dr. Daoed Joesoef itu, paling kurang telah melanggar dua kepentingan, yakni kepentingan pendidikan dan kepentingan agama. Dalam hal ini berarti Permen itu batal demi hukum. Namun, karena negara Indonesia saat itu  berada dalam kekuasaan totaliter, maka aturan hukum resmi pun digilasnya!.

                                                                                                                 T.A. Sakti

                                                                                                             Banda Aceh

*Penulis,  pengamat budaya Aceh, tinggal di Banda Aceh.

** Saya tidak   keberatan, apakah tulisan ini dijadikan artikel atau rubrik “Droe Keudroe”!.

Saleuem Meuturi

Saleuem meuturi

 

 

Alhamdulillah syuko keu Allah

Katroh lon langkah bak ACEHTV

Leubeh dua thon hate beulisah

Pajan Ya Allah langkah lon ili

 

Bak Jambo Cae hawa sileupah

Duek poh beurakah syae peunari

Bahthat su dilon lagee trieng beukah

Pakri paban bah bri Po Ilahy

 

Ka 27 thon tan glahle langkah

Gaki lon patah buet Muto tadi

Sideh di  Yogya yoh jak kuliah

Alhamdulillah nyawong gohlom lhi

 

Jak keunoe-keudeh payah gob papah

Laju meulangkah ngon limong gaki

Bahthat bit meunan syuko keu Allah

Nyoe katrok langkah bak ACEHTV

 

Saleuem horeumat lon kirem limpah

Tanda ikheuwah tanyoe lam seuni

Bandum peumirsa rayek ngon bilaih

Seb ‘ohnoe sudah saleuem meuturi!!!

 

 

(Catatan: Cae yang semula bertulisan tangan ini, saya bacakan sendiri pada acara “Cae Bak Jambo” ACEHTV,  pada Sabtu, 27 Ramadhan 1432 H/27 Agustus 2011 M  sekitar jam 12.30 siang. Diberi judul ‘saleuem meuturi’, karena hari itu merupakan kehadiran saya yang pertama kali dalam acara itu, walaupun syair-syair karya saya  atau hasil alih aksara saya telah puluhan judul dilantunkan.

Bale Tambeh: Sabtu,  16 September 2011 poh 5.27 wib., T.A. Sakti)

 

 

Allahyarham Dr. H. Hasballah M. Saad, MS

                 Allahyarham Dr.H. Hasballah M. Saad,MS

                       

                           Oleh: T.A. Sakti

Alhamdulillah ta syuko rahmat

Buleuen keuramat ujong   rab  teuka

Mudah-mudahan bandum seulamat

Meuteumeung niekmat Lailaton Kada

 

Dalam Serambi ban nyoe dimuat

Beurita hangat trok di Jakarta

Geuwoe bak Allah Hasballah Saad

Nyang kalheueh geumat Menteri Negara

 

Soe katrok ajai beukai ka tamat

Walau si saat cit tanggoeh hana

Tanyoe meudo’a talakee rahmat

Hasballah Saad beulam  bahgia

 

Niet ulon kisah mudahan mangat

Nyang na mamfaat keu ureueng muda

Dum aneuk Aceh beukong seumangat

Hasballah Saad boeh keu neuraca

 

Tacok keu cunto saboh meuneumat

Ngat kong seumangat udep lam donya

Jeuet lon kheun meunan  bit na alamat

Hasballah Saad ureueng udep jra

 

Bah pih ‘oh rayek   pangkat dum  geumat

Tapi kon mangat yoh phon useuha

Lam meut’ie tu’ie hantom na mangat

Namun seumangat sebe meunyala

 

Seumangat juang pantang khianat

Udep lam himat tan putoih asa

Bak pihak gasien hansep ‘geuranat’

Bunda geuintat bak Tuke kaya

 

Yue bantu-bantu meukat bu mangat

Asai ek tamat  bak jak Sikula

Bak Hasan Raden Warong  meugah that

Lam Meulo teumpat toe ngon Keumala

 

Bak Warong Bu nyan tantrep geumumat

Sabab meukarat bak jak Sikula

Warong Bu Tuke Sen leubeh geuminat

Hasballah Saad pinah keureuja

 

Sinan  Nyak Ballah trep that meukeumat

SMP   tamat na  lhee thon  lama

Ban poh peuet malam tugaih ka geumat

Taguen ie leugat ku U seureuta

 

Sabab warong nyan kagob  thee mangat

Bu Guri meuhat ngon bandeng hana

Bu Guri beungoh rame  nyang hajat

Hasballah Saad ku U tiep masa

 

Ie seu uem kaju   sue U ka lumat

Santan kasep that siploh boh U na

Sinyak Hasballah jak manoe leugat

Lheueh  nyan  beurangkat  ubak Sikula

 

Meunankeuh sabe tanpre tiep  saat

Hasballah Saad jeumot lagoina

Guru  geusayang sabab carong that

Tuke geuangkat lagee aneuknda

 

Tamat SMP  lom SGB sambat

Mantong di teumpat Lam Meulo juga

Hanya lam  lhee thon SGB tamat

Lheueh nyan diangkat guru Sikula

 

Jeuet Guru SD  padum thon meuhat

Bak saboh teumpat nan Gampong Langga

Ngon gampong Lameue hana jeuoh that

Meunyo ta sipat limong batee na

 

Sayang   ‘oh ujeuen jalan rhub sangat

Gari han liwat bhan tan meuputa

Nibak siuroe cit na lon lihat

Hasballah Saad payah jak ngon pha

 

Geusadeue  Gari Keude Cut Amat

Langkah geuangkat  u gampong Langga

Lon murid SD di Lameue teumpat

Glah nam rab tamat yohnyan Sikula

 

Teukeudirollah bak saboh saat

Tuhan bri rahmat keupada hamba

Dipeugot kursus keu guru leugat

Lam Meulo teumpat nan jih KGA

 

Kursus lhee buleuen hana trep tamat

Hasballah Saad luloih lumboi sa

Tugas belajar laju  meundapat

Kuliah meuhat keunoe u Banda

 

Trok   Banda  Aceh  lanja  terlibat

Ketua Senat bak FIP ngon  sigra

Nibak HMI nyan pi that hibat

Laju meucrab-crab maju lagoina

 

Sekretaris DEMA  bak akhe pangkat

Lheueh nyan padum  at  tamong penjara

Teubiet totopan Dosen diangkat

Aktif giat that   meumacam rupa

 

Ban Reformasi   maju leupah  brat

Meuteumeung pangkat meuganda-ganda

Anggouta KPU lom DPR    Pusat

Hasballah Saad duek di Jakarta

 

Buet Presiden Gusdur teuma geuangkat

Menteri HAM  geumat phon-phon baro na

Seb ‘ohnoe dilee ka lon peutamat

Jeuet cok ibarat hai aneuk muda!!!

 

Neubri Ya Allah meuribee rahmat

Hasballah Saad   beulam Syuruga

Wahe  rakan lon timu ngon barat

Mohon beule that neu lakee do’a

Amiinn!!!

 

*Keterangan: – Harian Serambi Indonesia, Rabu, 24 Agustus 2011 halaman 1 – 11.

–  Dr. Hasballah Saad berpulang kerahmatullah tgl. 23 Ramadhan  1432/23 Agustus 2011 jam 00.45 wib., di RS Mitra Keluarga,Bekasi, Jawa Barat. Dikebumikan di Lameue, Kecamatan Sakti, Pidie, Aceh, malam Rabu, 23 Puasa 1432 jam 11 malam.

** Pada, Sabtu, 27 Ramadhan 1432 sekitar jam 12.35 wib., cae di atas  dilantunkan oleh Medya Hus di  ACEHTV dengan penjelasan ringkas dari saya sendiri. Hari Minggu, 28 Agustus 2011, cae ini dimuat dalam rubrik ‘Budaya’ Harian Serambi Indonesia, halaman 2. Besoknya, Senin, 29 Puasa 1432 saat saya sekeluarga takziah(jak kunjong) ke rumah almarhum di Lameue, ketikan asli dan yang dimuat Serambi syair Aceh ini saya serahkan kepada Kak Dar, isteri almarhum. Setelah berbincang dengan keluarga beliau, barulah saya tahu, bahwa tempat pertama Bapak Hasballah Saad  bekerja di Warong Bu Hasan Raden, baru kemudian di Warong Bu Tuke Sen. Akibatnya, syair ini pun mengalami sedikit perbaikan setelah pemuatannya dalam “Serambi Indonesia”.

– SGB = Sekolah Guru Bantu      

 – KGA = Kursus Guru Atas

 – FIP  = Fakultas Ilmu Pendidikan Unsyiah

– KPU = Komite Pemilihan Umum

– HAM = Hak Asasi Manusia

– DEMA = Dewan Mahasiswa

    **Bale Tambeh Darussalam, 25 Puasa 1432/ 25 Agustus 2011 poh 00.20 wib., Singoh poh 13.00 adalah Uroe Ultah keu  27 ulon dipokle muto(ditabrak mobil)  di Kalasan, lk 8 km di sebelah Timur kota Yogyakarta.   Sebab hari naas itu,  Sabtu, 25 Ramadhan 1405 H  bertepatan 15 Juni 1985.  Syukur Alhamdulillah, saya masih diberi hayat oleh Allah Swt!, T.A. Sakti