Sang Mutivator itu Telah Tiada!!!

Sang Motivator  Telah Pergi!

–          Nyan Do’a Ma Bandum

“Innalillahi wa inn ILihi Rji’un telah pulang kerahmatullah Bapak Hasballah M. Saad,jam stgh satu pagi tadi di Jakarta, dan Insya Allah dikebumikan sore ini di Lameue, Sigli”. Demikian bunyi SMS buat saya dari Dr. Husaini Ibrahim, MA. Di pagi Selasa, 23 Ramadhan 1432 H bersamaan 23 Agustus 2011 beberapa SMS senada juga sudah menanti saya buka, yaitu dari Bapak Ramli A. Dally( Budayawan Aceh), Usman M.Saad(Adik seayah Bapak Hasballah M. Saad), Kak Ti(Keponakan dari isteri Bapak Hasballah M.Saad), Fuad Mardhatillah(Budayawan Aceh); dan  dua telepon dari Bapak Mohd. Kalam Daud(Budayawan Aceh) dan Bapak M. Harun Jalil(Sejarawan Aceh). Sayangnya, karena pulsa HP saya sedang kosong di pagi ini, saya pun hanya bisa  mengucapkan terima kaih -dalam hati- kepada para informan tadi.

Cara meninggal amat mendadak, tanpa saya mendengar berita sakit beliau sebelumnya. Malah  pada dinihari Senin kemarin,   saya terima SMS dari beliau berbunyi;”Selamat sahur Pak TA, Semoga berkah. Setelah membacanya, saya pun membalas:” Terima kasih!.Selamat berpuasa!TA

Semua  berita duka di atas  itu juga memberitahukan, bahwa  beliau meninggal pukul 00.45 malam  di RS Mitra Keluarga, Bekasi, Jakarta, jenazah akan dibawa pulang ke  kampong halaman beliau, Gampong Lameue, Kec. Sakti, Kab. Pidie, Aceh. Maka saya pun telah memanggil tukang RBT/Ojeg untuk menunggu beliau di bandara SIM Blang Bintang nanti, Insya Allah!!!.(Bale Tambeh: poh 8.05 Wib.)

Berikut Ringkasan   Pandangan  Saya  terhadap  Almarhum:

Sungguh!. Nyaris  tak ada yang menyangka, bahwa pada suatu  hari  ia akan menjadi seorang menteri dari sebuah negara besar, yakni Menteri Negara Hak Asasi Manusia ( HAM ) Negara Republik Indonesia. Apalagi mengingat, jabatan menteri termasuklah “anugerah” teramat langka bagi orang Aceh. Coba Anda hitung saja, berapa gelintir orang Aceh telah menjadi menteri sejak Republik Indonesia merdeka pada  17 Agustus 1945!!!. Namun  begitulah, ia telah berkiprah sebagai Menteri Negara HAM pada era pemerintahan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Allah Swt telah mentakdirkan nasib meutuah (mujur)  bagi anak desa ini.

Kampung kami boleh dikata bertetangga,- hanya diselangi  8 petak sawah di “Lhok Bileh”-, saya di Bucue dan dia di Lameue. Sebagai murid SD kelas 6  di Sekolah Dasar – SD Lameue, saya telah mengenalnya ketika itu. Orang-orang memanggilnya “Pak Ballah”. Bagi  masyarakat desa,  seorang  guru dipandang mulia, karena itu banyak orang mengenalnya; termasuk saya.

Saat itu ( tahun 1966)  ia memang seorang guru di SD Gampong Langga, kecamatan Sakti, Pidie, di sebuah desa sekitar 3 km lebih pelosok lagi dari sekolah saya yang terletak di pinggir ‘jalan kabupaten’.

Begitulah, kadang-kadang saya sempat melihatnya, ketika ia melintas dengan “Geuritan Angen Inong” ( sepeda buat perempuan)  di jalan yang berada di depan sekolah saya. Kejadian itu tak terbayang lagi di benak saya hari ini, karena peristiwa itu sudah 45 tahun berlalu; dan pula  banyak guru yang hilir-mudik dari Kota Bakti ke arah Garot saat itu. Namun ada satu kejadian yang takkan terlupakan sepanjang hayat. Ketika itu sedang musim hujan, akibatnya semua jalan ke kampung-kampung berkeadaan becek. Bila sedang demikian, orang-orang terpaksa melangkah  di jalan berlumpur atau jika  beruntung   dapat bertatih-tatih  pada batang pinang atau bambu yang diatur( dirangkai)  orang  di sepanjang jalan.Bila bepergian, orang-orang hanya dapat jalan kaki, tak mungkin bersepeda, Begitu pula bila menuju Gampong Langga. Sempat saya saksikan sendiri di suatu pagi, Pak Ballah bersama temannya “Pak Lateh” sedang bersiap-siap berangkat ke tempat tugas mereka di Gampong Langga.             Mula-mula “Geuritan Angen Inong”  disandarkan pada dinding bambu Kedai Kopi Bang Cut Amat Lameue. Lalu,  baju putih yang berlengan panjang dilipat hingga ke siku, kemudian  berjongkok buat melipat kedua ujung celana panjang  sampai ke lutut (bahasa Aceh: geusilak pha luweue) agar tak terkena lumpur di jalan,  sementara sepatu dijinjing  tangan kanan, sedangkan buku dikepit (geugapiet lam gitiek) pada ketiak kiri. Dalam keadaan demikian, berangkatlah kedua mereka ke SD Gampong Langga sejauh 3 km lebih. Peristiwa pada pagi itu masih membekas dalam ingatan saya, walaupun sudah 45 tahun lebih berlalu.

Sewaktu saya masuk Sekolah Menengah Islam (SMI) Kota Bakti tahun 1967; kami “bertemu” lagi lantaran searah perjalanan( Aceh: saho jak tan sapeue buet!). Karena SMI belum punya gedung sendiri, saya belajar digedung SMP Negeri Kota Bakti. Saat itu Pak Ballah sedang mengikuti Kursus KGA(Kursus Guru Atas) selama 3 bulan di Kota Bakti. Selama itu, kadang-kadang saya melihatnya melintas – masih dengan Geuritan Angen Inong dan tetap berbaju putih lengan panjang – di jalan di depan sekolah saya. Ketika kursus berakhir, terdengar kabar, bahwa Pak Ballah mendapat juara satu dengan ‘punten’/nilai 10. Sebagai hadiahnya, ia “dipeusikula lom”(disekolahkan lagi dengan beasiswa) ke Banda Aceh. Demikian desas-desus yang tersiar; dan masyarakat pun mulai kagum kepada Pak Ballah sejak saat itu, termasuk diri saya. Secara pribadi, kami belum saling kenal ketika itu.

Setelah kuliah ke Banda Aceh, cukup lama juga saya tak  menjumpai lagi sosok itu. Barulah pada saat saya kelas 2 SMA Negeri Sigli ia tampil di kampung saya. Ketika itu, ia sebagai salah seorang pimpinan “Ikatan Pemuda-Mahasiswa Sakti”(IPM-Sakti), yang sedang mengumpulkan dana untuk  Pembangunan Asrama Mahasiswa Kecamatan Sakti di Banda Aceh. Ceramah ‘Ramadhan’ yang digelar para mahasiswa pada malam hari selepas shalat tarawih, cukup beragam.

Namun, menurut penilaian saya ketika itu, ceramah yang disampaikan Pak Ballah yang paling mempengaruhi massa. Vokal suara, mimik dan penampilannya cukup menawan. Walaupun bukan mahasiswa, ketika  kelas 3 SMAN Sigli(tahun 1974), saya telah menggabungkan diri dengan para mahasiswa yang pulang dari Banda Aceh pada bulan puasa buat mengumpulkan dana pembangunan asrama itu.

Sosok Pak Ballah tetap jadi panutan ketika saya sebagai seorang mahasiswa, yang ketika itu ia sudah jadi tokoh mahasiswa dengan nama panggilan Hasballah MS. Tidak semua kegiatan Hasballah MS sanggup saya ikuti, hanya bidang ‘karang-mengaranglah’ yang hendak saya dalami.  Setiap karangannya pada koran dan majalah,  saya perhatikan dengan seksama. Salah satu tulisannya di “Atjeh Post” pernah saya simpan bertahun-tahun.

Lama kelamaan, saya pun sudah mampu menulis.

Dimulai dengan judul “Pungguk Yang Malang” yang dimuat Harian “Waspada”-Medan tahun 1979; berupa dongeng yang saya sadur dari Hikayat Kisason Hiyawan yang aslinya bersyair dalam bahasa Aceh. Setelah itu, bermacam karangan  saya seperti cae Aceh, “cerpen”, berita, laporan dan tulisan ‘ilmiah populer’ telah dimuat dalam beberapa media-massa seperti suratkabar “Peristiwa”, majalah “Santunan”, “Gema Ar-Raniry”, Bulletin Mahasiswa “Peunawa” dan “KERN” yang kesemuanya terbit di Banda Aceh serta Harian ‘Waspada’ Medan.

Akibat sudah dikenal, akhirnya saya terpilih mewakili mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat(FHPM) Unsyiah pada acara Pendidikan Pers Mahasiswa yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi(FE) Unsyiah pada 2-4 April 1981 di FE Unsyiah, Banda Aceh. Para narasumber pada acara ‘Pendidikan Pers Mahasiswa perdana’  di Kampus Darussalam  yang masih saya ingat adalah Sjamsul Kahar, Hasballah MS, T.Syarief Alamuddin dan Barlian AW.

Pemateri hari kedua adalah Hasballah MS. Pada saat giliran dialog dia melontarkan ‘bom siasat’ yang memeranjatkan saya. Bahwa “siapa yang tidak bertanya berarti mati sebelum mati!”. Pernyataan itu membuat saya kalangkabut dan serba-salah. Saya tentu  betul-betul merasa malu bila tak bertanya, sebab kami sudah lama saling kenal.

Padahal sebelumnya, tak pernah satu kali pun saya mengajukan pertanyaan pada diskusi-diskusi kuliah yang ketika itu saya sudah duduk di tingkat IV.

Walaupun saat itu, bermacam karangan saya sudah tersebar di sejumlah media, namun buat bicara didepan khalayak nilai saya masih nol besar. Akibat ditran(diterjang)  ‘bom siasat’ itu terpaksalah saya memberanikan diri mengajukan sebuah pertanyaan, walaupun dengan rasa  cemas dan gemetaran. Sejak hari “naas” itu, saya pun  menjadi orang yang tidak  begitu canggung lagi  dalam setiap diskusi.

2. Hati Seorang Ibu

Selama 8 setengah tahun di awal pengangkatan sebagai staf pengajar di Unsyiah, saya bersama keluarga tinggal di dua kamar dari  sebuah “Rumoh Kost” yang bernama “Rumoh Blang” di Jl. Ar-Raniry, Lr.Bakti no.3 Kampus Darussalam. Sekarang rumah itu menjadi Rumah Anak Yatim Tsunami milik Yayasan Habibie Centre. Rumah tersebut  milik Drs. Hasballah, MS, M.Pd. Disampingnya adalah rumah “Kak Nur”, yakni adik seayah Hasballah MS. Syahkubandi, yakni ibu kandung Pak Hasbalah seringkali berada di rumah itu.Sewaktu datang dari kampung, selain menginap di rumah anaknya di Komplek Sederhana Kopelma Darussalam, beliau sering pula bermalam di rumah Kak Nur.

Ibu Syahkubandi, yang saya panggil “Mak” berkali-kali pula mampir ke tempat kost saya. Beliau senang bercerita berbagai hal, terutama petuah-petuah kehidupan. Diantara “bekal hidup” yang sempat saya catat tanggal 7 Juli 1994 adalah dua macam do’a yang berguna dalam mengharungi kehidupan yang penuh cobaan. Isi catatan saya saat itu berbunyi sebagai berikut:

1.  “Do’a Sangga Mara”

Bismillahirrahmanirrahim

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَمَّ

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ وَبِكَلِمَتِكَ تَمَّتِى كُلِّهَا مِلْهِ اِحْمًا وَمِنْ دَاءٍ أَكْبَرْ فِى النَّفْسِ وَالرُّوْحِ وَالدَّمِّ وَالَّحْمِ وَالْعِلْمِ وَالْجُرُوْدِ وَالْعُرُوْكِ يَا رِيْحٌ اِحْمًا خَرْخِ عَنْكَ بِالْحَقِّ اَسْمَاءٍ نمات كُلِّهَا مِنْ شَرٍّ مَا خَلَقَ وَمِنْ شَرٍّ دَإِ دامَاتٍ من صَلَّى الله عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

          2.  “Do’a Pulang Sakat”

Bismillahirrahmanirrahim

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَمَّ

اَللَّهُمَّ يَا مُحَمَّدُ يَا عَدِيْدُ يَا قَلَمُ يَا جَلَلُ بِكَثْرَةِ يَا الله يَا مُحَمَّدُ عَلَيْهِ السَّلاَمِ شَافِعٌ قَلَمٌ بِعِدَّةِ يَا الله تَعَالَى

Beureukat Muhammad, beureukat Musa Ibnu Imran, Ibnu Suratun

عِلْمٌ شَيْءٌ لَهُ رِجَالٌ لَهُ عَفْوُكَ يَا الله شفعة كامي رَسُوْلُ الله يَا جِيْبْرِيْل يَا مِيْكَائِل عَلَيْهِ السَّلاَمِ  يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا الله بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

He ya Tuhanku, nyang deungki khianat; meuwoe laknat keudroe!!!

Catatan:  Do’a Sangga Mara & Pulang Sakat neubrile Mak, Kamis, 27 Muharram 1415/7-7-1994.

TA

Wasiet:  Beu ulon jok keu  Pak Hasballah MS

RUMOH  BLANG

DARUSSALAM-BANDA ACEH

Begitulah suara hati seorang ibu, yang mendambakan sibijeh mata/anaknya selamat dalam menempuh tantangan hidup; hingga  bahagia di dunia dan akhirat. Pernah suatu kali secara lamhsung saya sampaikan perihal “wasiat do’a” ini kepada Dr. Hasballah M.Saad, MA – setelah beliau pensiun dari Menteri Negara HAM -, namun terasa kurang mendapat respon. Sebab itulah, saya ulangi lagi melalui sumbangan tulisan buat buku biografi beliau ini. Mungkin akibat ‘terlalu sibuk’, pada saat masih menjabat Menteri Negara HAM RI, tak pernah sekali pun saya ketemu beliau, walaupun saya pernah berangan-angan agar sempat berjumpa, biar sekedar bersalaman saja!.

Di suatu subuh tahun 1995,keponakan isterinya datang tergesa-gesa  ke rumah Kak Nur guna menjumpai Mak Syahkubandi. Berita serius yang hendak segera disampaikan, bahwa sekitar jam 23.00 malam tadi Pakciknya diajak pergi oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Dan sampai sepagi itu belum kembali.

Suasana politik di Aceh saat itu kurang nyaman.Penculikan oleh Orang Tak Dikenal ( OTK)kadangkala terbaca di media lokal.Akibatnya, berita tadi cukup mengejutkan semua orang yang mendengarnya, lebih-lebih bagi

Ibunda Syahkubandi. Selain membaca berbagai do’a memohon keselamatan kepada Allah, beliau pun sempat bernazar, bahwa akan sembahyang hajat dua rakaat di makam Teungku Syiah Kuala.Dalam keadaan hati resah-gelisah, beliau pun pulang ke rumah anaknya di Jalan Bayeuen  no.27 itu.

Menjelang siang, Pak Hasballah pulang. Syukur alhamdulillah!. Tadi malam, ternyata beliau hanya diajak “makan-makan” oleh sahabat dekat yang sudah lama tak jumpa. Namun,  nazar sembahyang hajat(Aceh: meukaoy) yang sudah diucapkan tentu mesti ditunaikan segera.

Besok paginya, Bukhari yang tinggal bersama saya telah mengantarkan Mak Syahkubandi ke komplek makam Syekh Abdurrauf Syiah Kuala dengan sepeda motor Honda Cup 70 milik saya.

Itulah gambaran kemuliaan hati seorang ibu. Belian selalu mengharapkan keberhasilan hidup putranya. Dr.Hasballah M.Saad sendiri mengakui, bahwa apa yang telah dicapainya sekarang adalah berkat do’a  sang Ibunda Syahkubandi.Pengakuan ini termuat dalam sebuah short message service (sms) yang beliau sampaikan kepada saya;terkait draf awal buku biografi ini yang pernah saya baca. Sms itu selengkapnya sebagai berikut: “ Nye na neu baca tulisan ttg. Syahkubandi, lon ucapkan teurimonggaseh. Nyan roh riwayat udep lon. Meu t’ie tu’ie, jra that, rab han saho trok. Tapi alhamdulillah akhe jih jeut syit sikada droe lon, lagee uroe nyoe. Nyan Do’a Ma bandum” ( sms Hasballah MS, 15-Jul-2008, 09:35:28).

Bale Tambeh Darussalam,Selasa, 23 Puasa 1432

23 Agustus 2011

T.A. Sakti

http://www.tambeh.wordpress.com

Iklan

2 pemikiran pada “Sang Mutivator itu Telah Tiada!!!

  1. Assalamu’alaikum.
    Pak Sakti, saya adalah reporter Harian Republika, dan sedang mencari kontak sejarawan Aceh. Di dalam tulisan Bpk, Pak Sakti menyebutkan nama M. Harun Jalil. Boleh saya minta kontak (nmr tlp/alamat email) beliau? Jazakumullah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s