Sebuah Masukan Buat LAKA – Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh

Sebuah Masukan untuk LAKA

Seorang Sastrawan Angkatan Pujangga  Baru, sekaligus seorang Tokoh Sastrawan Nusantara (ASEAN) telah berpulang ke rahmatullah pada bulan Ramadhan 1418 yang lalu. Semoga arwah beliau dirahmati oleh Allah Swt. Sosok sastrawan itu adalah Prof. A. Hasjmy (almarhum). Memang tepat sekali apa yang disebutkan saudara Risman dalam sebuah karangannya yang berjudul “A. Hasjmy: Profil Penjaga dan Pembela Aceh”. (Serambi (13/3- 1998)). Khusus tentang kepemimpinan A. Hasjmy selaku Ketua LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh) sejak awal terbentuknya lembaga ini, sungguh mengesankan. Beliau telah memperkenalkan LAKA, sejak di daerah Aceh sampai ke tingkat nasional dan internasional. Upaya memperkenalkan LAKA ke tingkat nasional, misalnya dengan pembentukan perwakilan LAKA di kota-kota propinsi yang hampir merata di seluruh Indonesia. Kini jumlah perwakilan LAKA adalah 20 wilayah perwakilan, disamping perwakilan LAKA di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Puncak “promosi” LAKA di tingkat nasional adalah Pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) LAKA II di Jakarta yang diresmikan oleh Wakil Presiden Try Sutrisno dan ditutup oleh Menteri Kesra Azwar Anas (Serambi 14/9-‘94). Tentang kiprah LAKA di tingkat internasional, juga amat mengagumkan. Misalnya, kunjungan Tim Kesenian Aceh ke luar negeri, kunjungan para pakar LAKA ke luar negeri untuk menghadiri Simposium “Budaya Melayu Raya”; sangat berperan pula dalam upaya memperkenalkan LAKA ke tingkat dunia. Seminar “Budaya Melayu Raya” ini boleh dikatakan rutin atau bergiliran diadakan di beberapa kota Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Indonesia. Selain itu, ada pula seminar-seminar tentang Kebudayaan Melayu yang tidak berlangsung rutin seperti di Moskow (Rusia), Gapetown (Afrika Selatan), Madagaskar dan Hanoi. Pada seminar-seminar tingkat dunia ini, pihak LAKA turut pula diundang. Menyebut sebagian dari berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan LAKA selama sebelas tahun lebih pembentukannya, maka kesan yang muncul di benak kita bahwa lembaga ini “agak elitis” dalam merancang program-programnya. Manfaatnya memang besar, terutama dalam mempertinggi gengsi atau citra LAKA baik ke dalam (daerah Aceh) maupun ke luar. Karenanya kita berharap kepada pengurus LAKA periode mendatang agar menyusun program LAKA yang lebih “membumi” dan “merakyat”. Bila hal demikian bisa terwujud, maka barulah terjadi keseimbangan dalam penataan kembali kebudayaan Aceh, sebagaimana yang dicita-citakan dari sejak awal pendirian LAKA ini.

T.A. Sakti

Darussalam-Banda Aceh

( Sumber: Komentar Pembaca Harian Serambi Indonesia, Selasa, 12 Mei 1998 = Quis Asia Timur. Bale Tambeh, 24 Juli 2011,  T.A. Sakti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s