Misteri Hikayat Raja Pasai – Kenang-Kenangan dari Mengikuti International Seminar Malikussaleh di Lhokseumawe, 11 s/d 12 Juli 2011.

Sun, Jul 24th 2011, 08:04

Apresiasi

Misteri Hikayat Raja Pasai

International Seminar Malikussaleh: present, past   and Future berlangsung di Gedung ACC Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, 11   s/d   12 Juli 2011. Suasana seminar meriah dan gegap gempita.    Namun,  di balik kemeriahan seminar itu, ada satu butir  sejarah “Malikussaleh” yang terlupakan. Yakni, mengenai naskah Hikayat Raja Pasai (lengkapnya: Hikayat Raja-Raja Pasai, selanjutnya disingkat HRRP)  yang tidak dibahas secara khusus dalam sebuah makalah. Pengkajian  yang rinci  ini cukup penting, karena  dalam  naskah HRRP   masih banyak “misteri” yang belum terjelaskan; di antaranya yaitu:Pertama, HRRP ditulis dalam bahasa Melayu. Padahal ratusan naskah yang  berjudul hikayat – bahkan menurut UU.Hamidy sampai seribuan  judul —  yang pernah ditulis di Aceh nyaris semuanya disusun dalam bahasa Aceh. Pertanyaan yang  muncul; kenapa HRRP tertulis dalam bahasa Melayu? Inilah pertanyaan yang belum mendapat jawaban yang memuaskan sampai hari ini.

Ada yang berpendapat, bahwa masyarakat di   Kerajaan Samudra Pasai memang berbahasa Melayu, sehingga HRRP  pun ditulis dalam bahasa Melayu. Prof. Dr. Ibrahim Alfian dalam bukunya “Kronika Pasai” di halaman 8 mendukung pendapat ini bahwa rakyat Kesultanan Samudra Pasai memakai bahasa Melayu. Sewaktu Samudra Pasai digabungkan dengan Kerajaan Aceh Darussalam,  masuklah bahasa Aceh ke wilayah itu.

Ada pula alasan yang lain, bahwa bahasa resmi Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu,  dengan nama bahasa Melayu Pasai.  Saya sendiri lebih memilih alasan ini, bahwa bahasa nasional Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu Pasai, sedangkan bahasa sehari-hari masyarakatnya yaitu bahasa Aceh.

Setelah Kesultanan Samudra-Pasai runtuh, bahasa Melayu Pasai diambil alih oleh Kerajaan  Malaka. Kemudian, ketika Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis tahun 1511 M, bahasa Melayu Pasai  berkembang  pula  di Kerajaan Aceh Darussalam  sekaligus menjadi  bahasa nasional kerajaan itu. Kita belum tahu yang mana di antara kedua  pendapat  itu yang lebih mengandung kebenaran.

Kedua, naskah HRRP  dijumpai di Pulau Jawa.  Hikayat Raja-raja Pasai yang merupakan bukti satu-satunya tentang kerajaan Samudera Pasai dalam bentuk tulisan dalam bahasa Melayu, naskahnya  bukan ditemukan  di Aceh melainkan di wilayah Bogor, Jawa Barat. Pemiliknya Kiai Suradimenggala mantan Bupati Demak.  Atas inisiatif Thomas  Stamford Raffles Wakil Gubernur Jenderal Inggris di  Jawa  saat itu mengongkoskan  orang untuk menyalinnya. Setelah  Raffles  meninggal, istrinya menyerahkan naskah itu ke perpustakaan Royal Asiatic Society di London tahun 1830. Tidak lama kemudian, sarjana Perancis E. Delaurier membuat kajian terhadap naskah tersebut, yang seterusnya  diterbitkan di Paris tahun 1848. Buku  itulah yang sampai ke Aceh, hingga kita dapat membaca sejarah kerajaan Samudera-Pasai dalam bentuk tulisan, baik Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sebenarnya, terkait sejarah Samudra Pasai,  ada satu naskah lain dalam bahasa Aceh, yaitu Hikayat Raja Bakoy, namun kita tak pernah mendengar lagi mengenai posisi keberadaannya.

Kembali ke pokok bahasan.  Kenapa HRRP berada di Jawa dan bukan di Aceh utara  sebagai tempat yang jadi materi  isi hikayat itu? Prof. Dr. Ibrahim Alfian menyebutkan, HRRP ditulis  oleh pujangga kalangan istana Samudra-Pasai sendiri dalam rangka mengangkat citra para sultan di hadapan rakyatnya. Karena itu, dalam hal asal-usul HRRP,  ia menyatakan ada kemungkinan HRRP dibawa ke Jawa oleh salah seorang tawanan  Pasai yang dibawa ke Jawa oleh pasukan Majapahit(Lihat “Kronika Pasai” hlm. 7).

Saya sendiri sedikit berbeda dengan pendapat Guru Besar saya di Fakultas Sastra UGM itu. Panduan yang saya pakai juga sama, yaitu HRRP walaupun kesimpulannya sedikit berlainan. Pada halaman 97 naskah berhuruf Arab Melayu atau Jawi/Jawoe  dalam “Hikayat Raja- Raja  Pasai”; pada kisah yang membicarakan serangan kerajaan Majapahit terhadap Kerajaan Samudra – Pasai.  Hikayat  yang berhuruf Arab Melayu/Jawi itu menceritakan, ketika pasukan Majapahit tiba kembali di negerinya setelah menaklukkan Kerajaan Samudra – Pasai, maka Sang Nata (Raja) Majapahit bertitah:  “Akan segala tawanan orang Pasai  itu suruhlah ia  duduk di Tanah Jawa ini mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya, maka banyak keramat di Tanah Jawa itu, tatkala zaman alah Pasai oleh Majapahit”.  Berdasarkan kisah di atas, saya berkesimpulan bahwa HRRP ditulis di Jawa setelah ( keterunan ) para tawanan Pasai menetap di sana. Kalau bukan dikarang di Jawa, maka  kalimat “maka banyak keramat di Tanah Jawa itu, tatkala zaman alah Pasai oleh Majapahit”  tentu tidak dimuat dalam HRRP karena peristiwa itu belum terjadi atau si pengarang tidak mengetahui hal itu.

Boleh jadi dalam perkembangan berikutnya, para tawanan asal Pasai itulah yang berperan menyiarkan agama Islam di Jawa dan merekalah yang membentuk “Dewan Dakwah Sembilan  Wali” yang kemudian terkenal dengan Walisongo.  Dalam hal ini  saya  berpendapat, HRRP  ditulis oleh salah seorang  ( keturunan ) tawanan Pasai yang sudah menetap di Kerajaan Majapahit.

Ketiga, karena kemakmurannya, maka mata uang Kerajaan Samudra Pasai  ditempa dari emas dengan sebutan   dirham emas yang merupakan mata uang emas tertua di Asia.  Sampai hari ini, jika hujan lebat turun beberapa kali, masyarakat di sekitar pemakaman raja-raja Samudra Pasai, masih menjumpai dirham-dirham emas yang tersembul dari tanah. Sewaktu saya berziarah ke Kompleks Makam Ratu Nahrisyah tanggal 12 Juli 2011 lalu, beberapa meter di selatan makam ada orang yang memamerkan batu cincin yang berwarna-warni. Menurut saya, batu cincin memang “bersaudara” dengan bongkahan emas yang dikandung Bumi Samudra Pasai.

Dalam HRRP ada dua tempat yang mengisyaratkan bahwa Bumi Kerajaan Samudra Pasai banyak mengandung emas. Sewaktu Meurah Silu belum menjadi raja, ia punya kebiasaan menangkap ikan dengan menahan bubu (theun bubee) di sungai. Suatu pagi ia mengangkat bubunya, ternyata yang masuk puluhan ekor cacing, lalu dibuangnya. Besok pun demikian sampai tiga kali. Pada kali ketiga, cacing-cacing itu ia bawa pulang ke rumah dan merebusnya. Selesai direbus,  ternyata cacing-cacing itu berubah menjadi emas, berbentuk gelang emas. Sejak itu, Meurah Silu menjadi kaya-raya, dan emas-emas itulah yang membawanya menjadi raja.

Pada halaman 30 HRRP yang berhuruf Arab Melayu/Jawoe  mengisahkan  isu yang sedang hangat di Kerajaan Samudra Pasai. Kabar itu  menyebutkan, Bumi Samudra Pasai kaya emas. Bahkan ada tujuh tempat yang mengeluarkan asap emas. Kabar itu berasal dari orang Keling (asal India) yang ahli “melihat asap emas”. Suatu kali kapal dari negeri Keling merapat ke pelabuhan Pasai.

Pakar ‘tambang emas’  dipanggil ke istana. Berkat petunjuk  “ahli melihat asap emas”  yang berasal dari negeri  Keling itu, Sultan Malikussaleh menjadi amat kaya karena memiliki batangan emas yang melimpah. Dulu, negeri Sultan Malikussaleh itu banyak menyimpan “Harta Karun”. Ternyata Bumi Samudra Pasai, bukan hanya mengandung gas LNG tetapi banyak berisi emas pula. Biar terkesan cerita dongeng, tapi ‘jika tak ada api, tentu tak akan ada asapnya’. Ketika gas LNG sudah menyusut seperti sekarang, kisah dalam HRRP yang ‘misterius’ itu tentu perlu dicermati pula. Putra-putri Samudra Pasai pasti sudah lebih cerdas sekarang dan tak perlu bantuan “orang Keling” lagi!

Memang, misteri  HRRP khususnya  dan sejarah Kerajaan Samudra Pasai umumnya; masih  banyak yang belum tergali. Buku-buku sejarah Aceh yang sudah terbit hanya sekilas membahasnya atau paling banyak hanya satu bab. Dosen dan guru-guru sejarah juga kurang memberi perhatian.

Jalur mengangkat kembali sejarah Samudra Pasai memang banyak.  Namun keberhasilannya  amat tergantung keseriusan berbagai pihak.  Salah satu pihak yang paling menentukan adalah kepedulian pemerintah. Untuk mempertegas kepedulian itu, saya menyarankan diwujudkan sebuah qanun tentang “Penggalian Peradaban Samudra Pasai”;  seperti halnya Pemerintah Provinsi Riau yang kini sedang menggarap Peraturan Daerah (Perda) mengenai “Kepahlawanan Riau”.

Salah satu muatan penting  dari qanun itu adalah  perlu  dibangunnya  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) atau semacamnya seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Aceh Utara. Bila  FIB atau FKIP sudah wujud di Aceh Utara, maka terbukalah kesempatan “Membangkitkan Peradaban Samudra Pasai’ secara luas, berencana, dan kontinyu/berkelanjutan.

* Penulis adalah  dosen dan peminat sejarah, tinggal di Banda Aceh.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 24 Juli 2011 pada rubrik Budaya).
* ( keturunan ), saya tambah kemudian. Bale Tambeh, 10 November 2011, pkl 7.07 Wib., T.A. Sakti.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s