Surat UU.Hamidy ( 7 ) – Penulis 57 buku tentang Budaya Melayu

Pekanbaru  Ahad  25 – 10 – 1997

Bung T.A. Sakti yang tekun  dan kreatif

Saya sudah menerima sejumlah karya Bung, berupa bermacam alih tulis naskah-naskah lama Aceh, yang semuanya cukup menarik. Jika Bung suka mendengar pertimbangan dari saya, maka saya kira alangkah baiknya jika karya-karya itu  tidak hanya sebatas bahasa  Aceh, tetapi dibuatkan lagi di belakang atau di bawah tiap bait(untai) syair itu terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Jika ini dilakukan,  maka jangkauan pembaca karya Bung akan sangat luas, yakni seluas masyarakat yang dapat memahami bahasa Melayu – Indonesia. Ini tentu dapat dilakukan dalam cetak ulang. Kemudian untuk ulang,  juga sebaiknya ada semacam pengantar dari Bung, yang bisa memberikan tentang seluk-beluk naskah itu,  sekitar 2 – 3 halaman, seperti tentang pengarang, usia naskah, tempat ditemukan, keadaan naskah, versi naskah dsb. Jika ini dilakukan, maka tentu karya Bung dapat dikutip oleh sejumlah peneliti  atau  penulis. ( Sayang hal itu belum teringat, tapi kita belum terlambat ).

Melihat harga buku yang Bung terbitkan, amat besar kemungkinan bisa dibeli oleh kalangan yang luas. (Kelemahannya barangkali paling kurang adalah seperti saya katakan di atas). Sebagai bandingan, buku saya Orang Melayu di Riau,dijual paling kurang Rp 7.500,-  ( 175 halaman HVS 60 gram, gambar kulit 3 warna ) sedangkan buku saya tahun ini Cakap Rampai- Rampai Budaya Melayu di Riau, juga dijual Rp 7.500 ( 125 halaman HVS  70 gram, gambar kulit 5 warna ) Dari situ saya bisa mendapat keuntungan kotor lima ribu perbuku. Pasaran buku saya, terutama mahasiswa, dosen dan peneliti ( termasuk peneliti asing ) tamu-tamu dari Malaysia, guru-guru sekolah dan perpustakaan yang dapat saya kunjungi.

Bagi Bung saya kira, sekolah-sekolah amat potensial untuk membeli buku-buku  itu. Bung harus segera bekerjasama ( hubungi ) Kanwil P dan K Aceh. Bicarakan buku ini sebagai  m u a t a n  lokal,  yang sekarang cukup hangat. Kalau perlu Bung lakukan seperti saya perbuat. Saya bersedia memberikan penataran muatan lokal sambil memperkenalkan buku-buku saya kepada guru SD-Sekolah Menengah. Jika tiap sekolah membeli untuk pustaka, sudah berapa buku Bung  bisa  terjual ? Tiap ada pameran Bung jangan lalai mengambil kesempatan. Saya amat tertolong,  tiap tahun ( 17 Agustus ) selalu ada pameran, termasuk buku-buku oleh Pustaka Wilayah. Buku saya selalu jadi andalan mereka untuk dipamerkan. Maka saya mendapat promosi yang murah, tapi amat efektif. Tiap saya memberikan seminar buku saya juga selalu saya jual, kalau perlu dengan harga agak rendah, demi kepentingan pemasaran.

Jadi Bung punya peluang untuk memasarkan buku untuk berbagai jurus: Pustaka Wilayah, pustaka sekolah, guru-guru, kalangan mahasiswa, para peneliti dsb. Coba turunkan ulasan tentang buku-buku ini pada surat kabar di Aceh. Coba misalnya Rusdi Sufi menulis untuk itu. Ini tentu amat berguna. Kemudian Bung kan sudah lama membantu Balai Kajian Tradisinal Aceh yang dipimpin Rusdi. Mengapa kalian tidak melakukan berbagai seminar, yang ketika itu Bung dapat memasarkan karya Bung. Saya sudah 3 kali memberikan seminar untuk Balai Kajian Tradisional Melayu. Tiap seminar, buku saya terjual sekitar 300 ribu rupiah.

Saya kira penerbit buku Bung hendaknya juga diperhatikan. Dulu kan saya beri saran. Apa tak mungkin diterbitkan atas nama misalnya Unsyiah Press atau Arraniry Press. Buku saya sebagian diterbitkan atas nama Unri Press, Unilak Press , Bumi Pustaka, Payung Sekaki dsb.

Ternyata ada percetakaan mau kerjasama dengan Bung. Walaupun imbalannya agak rendah, tapi daripada karya kita tidak beredar atau tidak terbit, saya kira tidak jadi soal. Bung sebagai pemula, jangan berpikir, bahwa jadi pengarang atau penulis itu, akan  segera jadi kaya. Tanggungjawab kita ialah tanggungjawab moral, akademis dan budaya. Serta di atas segalanya sebagai amal saleh di sisi Tuhan. Kita bukan pengarang komersial, yang tidak mencari nilai, kecuali kebendaan semata.

Demikianlah dulu,semoga ada gunanya bagi Bung.                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Wassalam

UU.Hamidy

Misteri Hikayat Raja Pasai – Kenang-Kenangan dari Mengikuti International Seminar Malikussaleh di Lhokseumawe, 11 s/d 12 Juli 2011.

Sun, Jul 24th 2011, 08:04

Apresiasi

Misteri Hikayat Raja Pasai

International Seminar Malikussaleh: present, past   and Future berlangsung di Gedung ACC Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, 11   s/d   12 Juli 2011. Suasana seminar meriah dan gegap gempita.    Namun,  di balik kemeriahan seminar itu, ada satu butir  sejarah “Malikussaleh” yang terlupakan. Yakni, mengenai naskah Hikayat Raja Pasai (lengkapnya: Hikayat Raja-Raja Pasai, selanjutnya disingkat HRRP)  yang tidak dibahas secara khusus dalam sebuah makalah. Pengkajian  yang rinci  ini cukup penting, karena  dalam  naskah HRRP   masih banyak “misteri” yang belum terjelaskan; di antaranya yaitu:Pertama, HRRP ditulis dalam bahasa Melayu. Padahal ratusan naskah yang  berjudul hikayat – bahkan menurut UU.Hamidy sampai seribuan  judul —  yang pernah ditulis di Aceh nyaris semuanya disusun dalam bahasa Aceh. Pertanyaan yang  muncul; kenapa HRRP tertulis dalam bahasa Melayu? Inilah pertanyaan yang belum mendapat jawaban yang memuaskan sampai hari ini.

Ada yang berpendapat, bahwa masyarakat di   Kerajaan Samudra Pasai memang berbahasa Melayu, sehingga HRRP  pun ditulis dalam bahasa Melayu. Prof. Dr. Ibrahim Alfian dalam bukunya “Kronika Pasai” di halaman 8 mendukung pendapat ini bahwa rakyat Kesultanan Samudra Pasai memakai bahasa Melayu. Sewaktu Samudra Pasai digabungkan dengan Kerajaan Aceh Darussalam,  masuklah bahasa Aceh ke wilayah itu.

Ada pula alasan yang lain, bahwa bahasa resmi Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu,  dengan nama bahasa Melayu Pasai.  Saya sendiri lebih memilih alasan ini, bahwa bahasa nasional Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu Pasai, sedangkan bahasa sehari-hari masyarakatnya yaitu bahasa Aceh.

Setelah Kesultanan Samudra-Pasai runtuh, bahasa Melayu Pasai diambil alih oleh Kerajaan  Malaka. Kemudian, ketika Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis tahun 1511 M, bahasa Melayu Pasai  berkembang  pula  di Kerajaan Aceh Darussalam  sekaligus menjadi  bahasa nasional kerajaan itu. Kita belum tahu yang mana di antara kedua  pendapat  itu yang lebih mengandung kebenaran.

Kedua, naskah HRRP  dijumpai di Pulau Jawa.  Hikayat Raja-raja Pasai yang merupakan bukti satu-satunya tentang kerajaan Samudera Pasai dalam bentuk tulisan dalam bahasa Melayu, naskahnya  bukan ditemukan  di Aceh melainkan di wilayah Bogor, Jawa Barat. Pemiliknya Kiai Suradimenggala mantan Bupati Demak.  Atas inisiatif Thomas  Stamford Raffles Wakil Gubernur Jenderal Inggris di  Jawa  saat itu mengongkoskan  orang untuk menyalinnya. Setelah  Raffles  meninggal, istrinya menyerahkan naskah itu ke perpustakaan Royal Asiatic Society di London tahun 1830. Tidak lama kemudian, sarjana Perancis E. Delaurier membuat kajian terhadap naskah tersebut, yang seterusnya  diterbitkan di Paris tahun 1848. Buku  itulah yang sampai ke Aceh, hingga kita dapat membaca sejarah kerajaan Samudera-Pasai dalam bentuk tulisan, baik Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sebenarnya, terkait sejarah Samudra Pasai,  ada satu naskah lain dalam bahasa Aceh, yaitu Hikayat Raja Bakoy, namun kita tak pernah mendengar lagi mengenai posisi keberadaannya.

Kembali ke pokok bahasan.  Kenapa HRRP berada di Jawa dan bukan di Aceh utara  sebagai tempat yang jadi materi  isi hikayat itu? Prof. Dr. Ibrahim Alfian menyebutkan, HRRP ditulis  oleh pujangga kalangan istana Samudra-Pasai sendiri dalam rangka mengangkat citra para sultan di hadapan rakyatnya. Karena itu, dalam hal asal-usul HRRP,  ia menyatakan ada kemungkinan HRRP dibawa ke Jawa oleh salah seorang tawanan  Pasai yang dibawa ke Jawa oleh pasukan Majapahit(Lihat “Kronika Pasai” hlm. 7).

Saya sendiri sedikit berbeda dengan pendapat Guru Besar saya di Fakultas Sastra UGM itu. Panduan yang saya pakai juga sama, yaitu HRRP walaupun kesimpulannya sedikit berlainan. Pada halaman 97 naskah berhuruf Arab Melayu atau Jawi/Jawoe  dalam “Hikayat Raja- Raja  Pasai”; pada kisah yang membicarakan serangan kerajaan Majapahit terhadap Kerajaan Samudra – Pasai.  Hikayat  yang berhuruf Arab Melayu/Jawi itu menceritakan, ketika pasukan Majapahit tiba kembali di negerinya setelah menaklukkan Kerajaan Samudra – Pasai, maka Sang Nata (Raja) Majapahit bertitah:  “Akan segala tawanan orang Pasai  itu suruhlah ia  duduk di Tanah Jawa ini mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya, maka banyak keramat di Tanah Jawa itu, tatkala zaman alah Pasai oleh Majapahit”.  Berdasarkan kisah di atas, saya berkesimpulan bahwa HRRP ditulis di Jawa setelah ( keterunan ) para tawanan Pasai menetap di sana. Kalau bukan dikarang di Jawa, maka  kalimat “maka banyak keramat di Tanah Jawa itu, tatkala zaman alah Pasai oleh Majapahit”  tentu tidak dimuat dalam HRRP karena peristiwa itu belum terjadi atau si pengarang tidak mengetahui hal itu.

Boleh jadi dalam perkembangan berikutnya, para tawanan asal Pasai itulah yang berperan menyiarkan agama Islam di Jawa dan merekalah yang membentuk “Dewan Dakwah Sembilan  Wali” yang kemudian terkenal dengan Walisongo.  Dalam hal ini  saya  berpendapat, HRRP  ditulis oleh salah seorang  ( keturunan ) tawanan Pasai yang sudah menetap di Kerajaan Majapahit.

Ketiga, karena kemakmurannya, maka mata uang Kerajaan Samudra Pasai  ditempa dari emas dengan sebutan   dirham emas yang merupakan mata uang emas tertua di Asia.  Sampai hari ini, jika hujan lebat turun beberapa kali, masyarakat di sekitar pemakaman raja-raja Samudra Pasai, masih menjumpai dirham-dirham emas yang tersembul dari tanah. Sewaktu saya berziarah ke Kompleks Makam Ratu Nahrisyah tanggal 12 Juli 2011 lalu, beberapa meter di selatan makam ada orang yang memamerkan batu cincin yang berwarna-warni. Menurut saya, batu cincin memang “bersaudara” dengan bongkahan emas yang dikandung Bumi Samudra Pasai.

Dalam HRRP ada dua tempat yang mengisyaratkan bahwa Bumi Kerajaan Samudra Pasai banyak mengandung emas. Sewaktu Meurah Silu belum menjadi raja, ia punya kebiasaan menangkap ikan dengan menahan bubu (theun bubee) di sungai. Suatu pagi ia mengangkat bubunya, ternyata yang masuk puluhan ekor cacing, lalu dibuangnya. Besok pun demikian sampai tiga kali. Pada kali ketiga, cacing-cacing itu ia bawa pulang ke rumah dan merebusnya. Selesai direbus,  ternyata cacing-cacing itu berubah menjadi emas, berbentuk gelang emas. Sejak itu, Meurah Silu menjadi kaya-raya, dan emas-emas itulah yang membawanya menjadi raja.

Pada halaman 30 HRRP yang berhuruf Arab Melayu/Jawoe  mengisahkan  isu yang sedang hangat di Kerajaan Samudra Pasai. Kabar itu  menyebutkan, Bumi Samudra Pasai kaya emas. Bahkan ada tujuh tempat yang mengeluarkan asap emas. Kabar itu berasal dari orang Keling (asal India) yang ahli “melihat asap emas”. Suatu kali kapal dari negeri Keling merapat ke pelabuhan Pasai.

Pakar ‘tambang emas’  dipanggil ke istana. Berkat petunjuk  “ahli melihat asap emas”  yang berasal dari negeri  Keling itu, Sultan Malikussaleh menjadi amat kaya karena memiliki batangan emas yang melimpah. Dulu, negeri Sultan Malikussaleh itu banyak menyimpan “Harta Karun”. Ternyata Bumi Samudra Pasai, bukan hanya mengandung gas LNG tetapi banyak berisi emas pula. Biar terkesan cerita dongeng, tapi ‘jika tak ada api, tentu tak akan ada asapnya’. Ketika gas LNG sudah menyusut seperti sekarang, kisah dalam HRRP yang ‘misterius’ itu tentu perlu dicermati pula. Putra-putri Samudra Pasai pasti sudah lebih cerdas sekarang dan tak perlu bantuan “orang Keling” lagi!

Memang, misteri  HRRP khususnya  dan sejarah Kerajaan Samudra Pasai umumnya; masih  banyak yang belum tergali. Buku-buku sejarah Aceh yang sudah terbit hanya sekilas membahasnya atau paling banyak hanya satu bab. Dosen dan guru-guru sejarah juga kurang memberi perhatian.

Jalur mengangkat kembali sejarah Samudra Pasai memang banyak.  Namun keberhasilannya  amat tergantung keseriusan berbagai pihak.  Salah satu pihak yang paling menentukan adalah kepedulian pemerintah. Untuk mempertegas kepedulian itu, saya menyarankan diwujudkan sebuah qanun tentang “Penggalian Peradaban Samudra Pasai”;  seperti halnya Pemerintah Provinsi Riau yang kini sedang menggarap Peraturan Daerah (Perda) mengenai “Kepahlawanan Riau”.

Salah satu muatan penting  dari qanun itu adalah  perlu  dibangunnya  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) atau semacamnya seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Aceh Utara. Bila  FIB atau FKIP sudah wujud di Aceh Utara, maka terbukalah kesempatan “Membangkitkan Peradaban Samudra Pasai’ secara luas, berencana, dan kontinyu/berkelanjutan.

* Penulis adalah  dosen dan peminat sejarah, tinggal di Banda Aceh.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 24 Juli 2011 pada rubrik Budaya).
* ( keturunan ), saya tambah kemudian. Bale Tambeh, 10 November 2011, pkl 7.07 Wib., T.A. Sakti.

Saleuem Seminar – Cae yang gagal dibaca di Forum International Seminar Malikussaleh

                       Saleuem Seminar

 Assalamu’alaikom saleuem lon saheh

Lon bri ka sareh keu rakan rame

Seminar Internasional Malukussaleh

Jinoe ka jadeh di Lhokseumawe

 

Sion undangan nan lon geucukeh

Geuyue ba syareh nyang kon rammeune

Makalah ilmiah keumah geuyue peh

Lantui ka meukleh atot bak mane

 

‘Ohlheueh makalah hate lon sang ceh

Tan soe peutateh u Lhokseumawe

Po nyoe han geutem Po jeh peukabeh

Jadeh han jadeh lon meukeuriwete

 

RBT hantem geulakee leubeh

Lam keh lon saheh ruhung meuwewe

Untong Idham aneuk nyang shaleh

Jak intat ayeh u Lhokseumawe

 

Ngon limong gaki jadeh meutateh

Bak pihak leubeh buet Lhokseumawe

Ulee meuhdua mata peuet leubeh

Jinoe ulon preh tanggapan rame

 

Hotel Lido Graha,

Lhokseumawe:   9 Khanuri Bu 1432

Seulanyan, Senin, 11 Juli 2011 *Poh 3.17 Wib.

                                      dto

                                 T.A. Sakti

• Ketika sedang ditulis, Cae Aceh ini hendak dibacakan di depan forum Seminar Internasional Malikussaleh yang akan dilaksanakan beberapa saat lagi. Namun, diwaktu seminar berlangsung pada Senin sore itu  sang mentari ka meulele Asha/menjelang maghrib. Maka  batallah  saya  kheun (baca) Cae ini. Makalah yang  saya bentangkan  berjudul “Walisongo, Para Muballigh Asal Kerajaan Samudra- Pasai”.

Bale Tambeh, Kamis, 14 Juli 2011, poh  12.34 Wib., T.A. Sakti

Bahasa Melayu Pasai, Akar Tunjang Bahasa Nasional Indonesia!

           Bahasa Melayu Pasai, Akar Tunjang  Bahasa Nasional Indonesia!

                                Oleh: T.A. Sakti

Bahasa Melayu    merupakan akar utama dari bahasa Indonesia.   Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa Melayu terus-menerus diperkaya sehingga ia semakin mantap berperan di seluruh wilayah Nusantara. Bahasa Melayu masih dapat dilacak jejaknya mulai abad ke-7, masa Kerajaan Sriwijaya, yaitu berupa prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Melayu Kuno, seperti prasasti Kedukan Bukit             (Tahun 683 M), Talang Tuo (Tahun 684), dan lain-lain.[1]

Seiring dengan timbul-tenggelamnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan datangnya penjajahan asing, bahasa Melayu pun mendapat predikat yang berbeda-beda dalam perkembangannya; seperti bahasa Melayu Pasai, bahasa Melayu Melaka, bahasa Melayu Johor, bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Balai Pustaka, dan bahasa nasional Indonesia.[2]

Berkaitan dengan hal ini, dalam bukunya yang berjudul Kesusasteraan Melayu Klasik Sepanjang Abad, Dr. Teuku Iskandar menjelaskan sebagai berikut:

“Jika sebuah pusat kerajaan menjadi penting dari sudut politik dan ekonomi, kaum cerdik pandai dan pujangga-pujangga, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, akan bertumpu ke tempat itu. Dengan jalan demikian lahirlah sebuah pusat kebudayaan dan pusat kesusasteraan. Munculnya pusat politik dan pusat ekonomi baru akan melemahkan pusat kekuasaan lama dan pusat kebudayaan berpindah dari sini ke pusat yang baru. Tiap pusat kebudayaan yang baru itu akan memberi nafas baru pada kesusasteraan Melayu yang telah ada dan dengan jalan demikian mencetuskan genre atau genre-genre baru dalam kesusasteraan Melayu. Sesuatu genre kesusasteraan yang lahir di sebuah pusat kebudayaan akan tersebar ke sekitarnya dan dilanjutkan di sana, kadang-kadang pula genre baru ini dilanjutkan terus di tempat-tempat yang terpencil, walaupun di pusat kebudayaan lain telah lahir genre kesusasteraan yang lebih baru lagi”.[3]

Bahasa Melayu Pasai berkembang pada masa Kerajaan Samudera Pasai (1250—1524 M). Kerajaan ini amat berperan dalam penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, seperti ke Melaka dan Jawa. Bersamaan berkembangnya agama Islam itu tersebar pula bahasa Melayu Pasai di wilayah tersebut melalui kitab-kitab pelajaran agama Islam yang menggunakan bahasa Melayu Pasai sebagai pengantarnya.

Kerajaan Samudera Pasai berhubungan akrab dengan Kerajaan Melaka. Perkawinan antara Sultan Melaka Iskandar Syah dengan puteri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai semakin mempererat hubungan kedua negara itu. Sultan Samudera juga telah mengutus dua orang ulama ke pulau Jawa untuk mengembangkan agama Islam. Berkat dakwah Islam yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak, agama Islam berkembang di Gresik, dan seterusnya menyebar ke seluruh pulau Jawa. Karena berperan sebagai pendakwah pertama itulah sehingga Maulana Ishak bergelar Syekh Awwalul Islam.[4]

                Peranan Bahasa  Melayu   Pasai di Nusantara

Sebutan istilah “bahasa Melayu” merupakan kebiasaan baru di abad ke-18. Pada abad keenam belas dan tujuh belas penyebutan bahasa Melayu adalah dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”. Hal ini karena bahasa itu ditulis dalam huruf Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan dengan ucapan lidah masyarakat Nusantara. Sementara “jawi” ialah sebutan orang-orang Arab di masa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara/Asia Tenggara.

Sehubungan dengan uraian di atas, Syed Muhammad Naguib al-Attas menyebutkan:

“Kita dapati bahwa dalam tulisan-tulisan Melayu pada abad-abad keenambelas dan ketujuh belas terdapat istilah-istilah seperti “orang Melayu” dan “negeri Melayu”, tetapi tidak terdapat istilah “bahasa Melayu”. Bilamana bahasa Melayu dimaksudkan dalam tulisan-tulisan itu, maka terdapat di situ istilah “bahasa Jawi”. Kita tahu bahwa istilah Jawi itu adalah sebutan untuk orang Arab terhadap seluruh bangsa-bangsa penduduk Kepulauan ini, tetapi bagaimana pun orang Melayu sendiri menamakan bahasanya, bahasa Jawi.[5]

Dalam sejarah perkembangan Islam di Asia Tenggara, kedudukan Pasai merupakan pusat penyiaran agama Islam selama beberapa abad. Sultan Melaka misalnya, selalu mengirim perutusan ke Pasai untuk mencari jawaban dari masalah-masalah agama yang belum diketahui secara pasti. Suatu kisah yang amat terkait dengan perkembangan bahasa Melayu Pasai adalah riwayat penterjemahan kitab Durrul Manzum. Dalam hal ini Dr. Muhammad Gade Ismail menerangkan:

“Sulalatussalatin atau Sejarah Melayu (edisi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) menceritakan bahwa di Tanah Arab ada seorang alim bernama Maulana Abu Ishak yang sangat paham akan ilmu tasawuf. Ia mengarang kitab Durrul-manzum dan mengajarkan isi kitab ini kepada muridnya Abu Bakar. Kemudian muridnya itu dikirimkannya ke Malaka untuk mengajarkan isi kitabnya itu. Sultan Malaka Mansur Syah sangat memuliakan Maulana Abu Bakar dan baginda berguru kepada Maulana itu. Kemudian Sultan Mansur Syah mengirim kitab itu ke Pasai dan oleh Sultan Pasai disuruh artikan kepada Makdum Petakan, salah seorang alim di Kerajaan Pasai. Setelah selesai, hasilnya diantarkan kembali ke Malaka, dan Sultan Mansyur Syah terlalu suka-cita melihat kitab itu sudah bermakna. Baginda menunjukkan kitab Durrul-manzum yang dikirim dari Pasai itu kepada Maulana Abu Bakar, dan Maulana Abu Bakar itu berkenan di hati serta dipujinya ulama Pasai itu.”[6]  

Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis dengan bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai merupakan bukti amat kuat untuk mengenal bentuk asli bahasa Jawi Pasai itu. Namun, naskah satu-satunya dari Hikayat Raja-raja Pasai yang terwariskan kepada kita hari ini bukanlah dijumpai di Aceh, melainkan di pulau Jawa. Naskah ini kepunyaan Kiai Suradimenggala, Bupati Sepuh di Demak, daerah Bogor yang selesai disalin tahun 1235 H atau 1819 M.[7]   

Keberadaan naskah satu-satunya Hikayat Raja-raja Pasai di pulau Jawa merupakan salah satu bukti pula, bahwa masyarakat Jawa masa itu telah mengenal bahasa Melayu Pasai dengan baik, sehingga mereka dapat menikmati kisah-kisah dalam Hikayat Raja-raja Pasai itu.

Mengenai besarnya pengaruh Hikayat Raja-raja Pasai terhadap teks-teks karya sastra yang lain di Nusantara, Prof. Dr. Teuku Ibrahim Alfian dalam tulisannya yang lain mengemukakan sebagai berikut.

“Hikayat raja-raja Pasai yang tertulis dalam Bahasa Melayu Klasik atau disebut juga bahasa Jawi Pasai, menurut Dr. A. H. Hill dikarang sekitar tahun 1360, dan hikayat itu jelas menghasilkan gaya sastra Melayu yang pertama yang ekspresi sepenuhnya satu abad kemudian ditemukan dalam Kitab Sejarah Melayu. Jelas tampak, tulis Hill, pengaruh Hikayat Raja-raja Pasai kepada Sejarah Melayu, dan kepada teks-teks Melayu yang lain seperti Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Marong Mahawangsa (Sejarah Kedah).[8]

Menurut Dr. Muhammad Gade Ismail, adanya hubungan antara Kerajaan Samudera-Pasai dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara seperti pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lombok dan Sumbawa dapat ditelusuri dengan adanya kesamaan batu nisan yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah tersebut di atas.[9] Melalui perhubungan antara berbagai wilayah itulah bahasa Melayu Pasai secara perlahan-lahan berkembang menjadi “bahasa lingua franca” atau bahasa ilmu dan perdagangan.

Tentang besarnya pengaruh Samudera-Pasai dalam pembinaan bahasa Melayu, Syed Muhammad Naguib al-Attas menjelaskan sebagai berikut.

“Menurut hemat saya penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar Islam serta bahasa sastera rasional dan intelektual telah memecahkan aliran sejarah bahasa itu kepada dua jurusan: yang satunya menimbulkan satu perkembangan aliran baru yang berasal dari Barus dan kemudian Pasai, kemudian Aceh sebagai pusatnya; sedangkan yang satu lagi mulai terbelakang, mulai mengalami proses penghapusan. Memang sewajarnyalah demikian sebab Pasai itulah pusat pengajian Islam yang tertua di kepulauan ini, dan dari situlah segala sinaran surya pengaruhnya menyorot ke seluruh pelosok kepulauan Melayu-Indonesia. Aliran baru ini mempunyai sifat dan bawaan yang singkat serta kemas gayanya; menggunakan perbendaharaan kata serta istilah-istilah Islam; menyatakan dirinya sebagai bahasa bertata-logika, bahasa pemikiran akliah yang mengutamakan analisa dan saintifik, bahasa yang banyak mengandung kesan pengaruh para penulis penggunanya —ahli-ahli tasawuf, ulama dan golongan ilmiah lainnya dan para penterjemah dan pensyarah— yang kesemuanya membayangkan pengaruh Al-Qur’an dalam menyanjung nilai penjelasan dan sifat akliah dalam pembicaraan, pertuturan, dan penulisan. Maka dari aliran baru inilah bahasa Melayu moden, bahasa Melayu-Indonesia dewasa ini, berkembang justru karena aliran inilah yang mengandung unsur-unsur pembaharuan yang saintifik, yang menyebarkan Islam di daerah kepulauan.[10]

                    Pengaruh Bahasa Jawi Semakin Meluas

Bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai juga menjadi salah satu bahasa resmi Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini antara lain dapat dibuktikan dari kata pengantar Kitab Miraatut Thullab karya Syeikh Abdurrauf Syiah Kuala. Tentang hal itu Syeikh Abdurrauf berkata:

“Maka bahwasanya adalah Hadlarat yang Mahamulia (Paduka Sri Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah) itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah, bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj (diperlukan kepadanya orang yang menjabat jabatan qadli pada pekerjaan hukum daripada segala hukum syarak Allah yang muktamad pada segala ulama yang dibangsakan kepada Imam Syafi’i radliyallahu ‘anhu”.

Setelah Kerajaan Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Aceh pada tahun 1524 M, maka berdirilah negara kesatuan Kerajaan Aceh Darussalam (1524-1900). Dalam periode itu Kerajaan Aceh Darussalam menjadi pusat penulisan ilmu pengetahuan, baik masalah keagamaan maupun mengenai sastra. Saat itu, bahasa Melayu Jawi memainkan peranan penting sebagai bahasa komunikasi intelektual berdampingan dengan bahasa Arab.

Dalam masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, wilayah ini banyak melahirkan ulama dan pengarang yang sebagian karya mereka masih ditemui hingga hari ini. Namun, ada empat ulama-pujangga yang paling terkenal, yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdurauf As-Singkili. Di antara karangan Hamzah Fansuri ialah Syair Burung Pingai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang.

Sementara bentuk prosa antara lain Asrarul ‘Arifin fi Bayanil Ilmus Suluk wat Tauhid (Penjelasan tentang ilmu Suluk dan Tauhid) dan Syarbal ‘Asyikin (Minuman orang-orang yang Mencintai Tuhan). Sultan Iskandar Muda telah berjasa menyebarkan karya-karya Hamzah Fansuri ke berbagai tempat, antara lain ke Malaka, Kedah, Sumatera Barat, Kalimantan, Banten, Gresik, Kudus, Makassar dan Ternate.11

Karangan Hamzah Fansuri sebagiannya ditulis dalam Bahasa Melayu Jawi. Mengenai hal ini dapat kita baca pada kata pengantar kitab Zinatul Muwahhidin (Perhiasan orang-orang yang Mengesakan Allah), yang berbunyi sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa fakir yang dhaif Hamzah Fansuri, hendak menyatakan jalan kepada Allah Taala, dan makrifat Allah dengan bahasa Jawi di dalam kitab ini Insya Allah Taala supaya segala hamba Allah yang tiada tahu akan bahasa Arab dan bahasa Persi dapat membicarakan dia. Adapun kitab ini hamba namai Zinatul Muwahhidin“.12

Terhadap kebesaran Hamzah Fansuri, Syed Muhammad Naguib Al-Attas menyatakan:

“Bahwa bahasa Melayu Modern, termasuk bahasa Melayu-Indonesia lebih dekat gaya dan bawaannya dengan bahasa Melayu yang sejak ratusan tahun dahulu berpunca dari Barus dan Pasai, telah diperguna dan disebarkan oleh Islam: bahasa aliran baru yang saya sebutkan tadi, yang penulis-penulis serta penggunaannya terdiri dari kalangan para ahli pikir, ulama-ulama Melayu-Islam yang berkembang di Acheh pada abad-abad keenambelas dan ketujuh belas. Saya majukan Hamzah Fansuri, yang menulis pada abad keenam belas, sebagai pelopor aliran baru ini. Beliaulah manusia yang pertama menggunakan bahasa Melayu dengan secara rasional dan sistematis; yang dengan inteleknya merangkum keindahan fikiran murni yang dikandungkannya dalam bahasa yang telah diperolehkan sehingga sanggup berdaya menyusul lintasan alam fikiran, yang berani menempuh saujana lautan falsafah. Sayogialah Hamzah Fansuridi diberi tempat utama dalam pemikiran persejarahan bahasa dan kesusteraan Melayu Modern. Aliran baru yang membawa kesan pengaruh Hamzah itu mulai timbul ternyata pada abad-abad keenam belas dan ketujuh belas. Semua penulis, ulama dan ahli fikir Melayu yang terkemuka selepasnya telah meniru dan menganut gaya dan tauladannya terhadap penggunaannya bahasa Melayu. Dari Samsul-Din Pasai hingga ‘Abdul-Rauf Singkel pada abad ketujuh belas, dan dari ‘Abdul Rauf ke kemas Fakhrul-Din pada abad kedelapan belas, dan seterusnya abad kedua puluh ini, sebagaimana terbayang dalam fikiran dan tulisan Amir Hamzah. Kesimpulan bahwa tulisan Amir Hamzah itulah juga yang mencapai suatu keistimewaan peri kehalusan serta keindahan seni bahasa Melayu itu pun mengandung arti yang berkesan dalam merenungkan proses pertalian penggunaan bahasa itu dari aliran yang berasal dari Hamzah Fansuri. Pada zaman inilah juga zaman pengaruh Hamzah harus kita tempatkan penulisan moden dalam bidang sejarah orang Melayu, yang jelas sifatnya dalam tulisan-tulisan Nuru’l-Din al-Raniri pada abad ketujuh belas”.13

Dalam uraian di atas, Syed Muhammad Naguib al-Attas antara lain mengatakan bahwa pengaruh jejak kepenyairan Hamzah Fansuri terus berlanjut hingga abad ke-20. Kesimpulan itu diakui oleh seorang ahli tentang Hamzah Fansuri (Hamzah Fansurilog), yakni Abdul Hadi W.M. Ia berpendapat, pengaruh Hamzah Fansuri terlihat pada beberapa karya penyair “Pujangga Baru” seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Bagi Sanusi Pane, pengaruh itu tampak pada sajaknya “Dibawa Gelombang”, sedangkan untuk Amir Hamzah terlihat dalam sajak yang berjudul “Sebab Dikau”.14

Selain Sanusi Pane dan Amir Hamzah, masih banyak pula para penyair “Angkatan Pujangga Baru” yang terpengaruh dengan sastra sufi yang bersumber dari aliran Tasawuf Hamzah Fansuri. Di antara mereka adalah Hamka, Ali Hasjmy, Asmara Hadi, OR Mandank, Yoesoef Sou’yb, dan Sutan Takdir Alisjahbana.15 Dalam kajian Abdul Hadi W.M lainnya pada periode 1970-an juga didapati bahwa aliran tasawuf Hamzah Fansuri terus berpengaruh kepada beberapa penyair masa itu, bahkan hingga masa kini, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Acep Zamzam Noor, dan Ahmadun Yosi Herfanda.16

Pada abad ke-19, karya-karya para ulama-sastrawan Aceh banyak mempengaruhi para pengarang di Riau. Hal ini diakui oleh Abu Hasan Sham dalam tulisannya sebagai berikut:

“Suatu hal yang dapat kita perhatikan ialah pengaruh negeri-negeri Melayu yang berjiran terhadap pengarang-pengarang Melayu Riau. Aceh umpamanya sedikit sebanyak telah mempengaruhi karangan-karangan di Riau. Karya-karya Aceh yang termasyur umpamanya Mirat al-Tullab telah menjadi bahan bacaan bagi mereka yang menuntut ilmu agama di Riau. Begitu juga dengan kitab Bustan al-Salatin karangan Syeikh Nuruddin al-Raniri. Umpamanya, sebuah karya yang bernama Siaru’l-Salatin kepunyaan
Encik Mukmin Ibn Haji Sulaiman, Imam Pulau penyengat yang tertarikh Sanat 1281 mempunyai pengaruh secara langsung dari karya Nuruddin itu. Begita juga dengan syair Bustanul’I-Salatin. Yang tentu sekali sumber pengambilan utamanya ialah Bustanul-Salatin. Syair yang tebalnya 33 halaman ini menceritakan sifat-sifat perempuan terutama sifat-sifat yang tercela kepada perempuan yang telah bersuami, umpamanya sifat seperti babi, kera, serigala, ular, anjing, kala, tikus, kambing, baghal, dan sebagainya”.

Perkara demikian dibahaskan dengan panjang lebar oleh Syeikh Nuruddin dalam bukunya Bustanul-Salatin dalam buku ke-7 pasal 4.

Syair Ma’rifat, salah satu karya Syeikh Abdul Rauf Al-Singkel juga mendapat pengaruh di Riau. Jika kita perhatikan Syair Sifat Dua puluh  mempunyai banyak persamaan dengan karya Syeikh Abdul Rauf tersebut.

Syair Ma’rifat                                      Syair Sifat Dua Puluh

Baik-baik kita tuan menerima,            Baik-baik kita menerima

Kepada pohon ialah seumpama,         Kepada pohonnya ialah seumpama

Daun dan buah tiada sama,                 Daun dan buah tiadalah sama,

Masing-masing berlain-lain nama,       Masing-masing dengannya nama,

Jikalau diibaratkan sebiji kelapa,         Jikalau diibaratkan sebiji kelapa,

Kulit dan isi tiada serupa,                   Kulit dan isi tiada serupa,

Janganlah kita bersalah tapa,               Janganlah kita tersalah tempa,

Tetapi beza tiadalah berapa,                Tetapi bezanya tiada berapa,

Sebiji kelapa ibarat sama,                    Sebiji kelapa ibarat di sana

Lafaznya empat suatu makna,                        Lafat yang empat suatu makna,

Disitulah banyak orang terkena,         Disitulah banyak yang terkena,

Sebab pendapat kurang sempurna,     Sebab pendapat kurang sempurna,

Kulitnya itu ibarat syariat,                  Sabutnya itu ibarat syariat,

Tempurungnya itu ibarat tariqat,         Tempurungnya itu ibarat Tariqat,

Isinya itu ibarat hakikat,                     Isinya itu ibarat hakikat,

Minyaknya itu ibarat makrifat.           Minyaknya itu ibarat makrifat.

Syair Sifat Dua Puluh ini sungguhpun sebahagian besar kandungannya membicarakan sifat-sifat Tuhan tetapi ada juga bahagiannya yang membicarakan tasawuf dan di bahagiannya ini pengarang mengambil ibaratnya secara langsung dari karya Abdul Rauf al-Singkel tersebut.17

Begitu pandangan dari Abu Hassan Sham dari Universiti Malaya dalam Sub-judul tulisannya: ”Sumber-sumber Rujukan Pengarang-Pengarang Agama Riau”,  yang kalimat awal berbunyai: ”Pengarang-Pengarang agama Riau tidaklah semasyhur seperti apa yang pernah dilahirkan oleh Aceh pada abad ke-17, tetapi keistimewaannya ialah pengarang-pengarang tersebut terdiri dari pada kalangan keluarga diraja.18

Meski hanya menetap selama tujuh tahun (1047 H/1637 M–1054 H/1644 M), peranan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry di Aceh cukup besar. Ia menulis 29 kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karya-karyanya antara lain Bustanus Salatin, Sirathal Mustaqim, Hidayatul Habib, Kaifiyatul Salat, Babul Nikah. Yang terakhir ini, bersama kitab Sirathal Mustaqim dikirimkan sendiri oleh Ar-Raniry ke Kedah (sekarang di Malaysia) pada sekitar tahun 1050 H/1640 M.19 Di antara murid Nuruddin Ar-Raniry yang kemudian paling menonjol di Nusantara adalah Syekh Yusuf Al-Maqassari, seorang ulama besar Sulawesi Selatan, yang juga berperan di Banten (Jawa) dan Afrika Selatan.20

Tentang peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mengembangkan bahasa Melayu, Dr. Azyumardi Azra menulis sebagai berikut.

“Tidak kalah penting adalah peranan Ar-Raniri dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca di wilayah Melayu Indonesia. Dia bahkan diklaim sebagai salah seorang pujangga Melayu pertama. Meski bahasa ibu Al-Raniri bukanlah Melayu, penguasaannya atas bahasa ini tak perlu diperdebatkan lagi. Seorang ahli bahasa Melayu-Indonesia menyatakan, bahasa Melayu Klasik Ar-Raniri tidak menunjukkan kekakuan yang sering terlihat dalam bahasa Melayu praklasik. Dengan demikian, karya-karya Ar-Raniri dalam bahasa Melayu juga dianggap sebagai karya-karya sastra dan, sebab itu, memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan.21

         Bahasa Melayu Pasai Menuju Bahasa Nasional Indonesia

Perkembangan bahasa Melayu Jawi sejak Kerajaan Samudera Pasai sampai saat berdirinya Republik Indonesia tentu telah melewati waktu yang berabad-abad lamanya. Prof. Dr. Teuku Iskandar mengatakan bahwa “Kesusasteraan Melayu yang dimulai di Kerajaan Pasai dan dilanjutkan di Kerajaan Aceh berkembang selama lebih dari enam ratus lima puluh tahun’.22

Berdasarkan semua uraian yang telah dikemukakan kiranya sepatutnya definisi bahasa Indonesia yang diketengahkan oleh sejarawan, ilmuan, dan budayawan Prof. Dr. Teuku Ibrahim Alfian, M.A dari Universitas Gadjah Mada diberikan sedikit catatan tambahan demi meluruskan fakta sejarah Indonesia.

Dalam makalah yang berjudul “Proses Perkembangan Bahasa Jawi di Samudera Pasai (Aceh Utara) Menjadi Bahasa Nasional Indonesia”, setelah melakukan redefinisi bahasa Indonesia Sutan Takdir Alisyahbana, Teuku Ibrahim Alfian memberi definisi bahasa Indonesia sebagai berikut.

“Bahasa Indonesia adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh perlahan-lahan diantara penduduk Asia Tenggara, yang terjelma menjadi bahasa Jawi/Melayu dan telah diangkat oleh agama Islam sebagai bahasa ilmu dan kebudayaan. Serta setelah bangkitnya pergerakan rakyat Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan insyaf diangkat dan dijunjung sebagai bahasa persatuan.23

Fakta sejarah yang ingin penulis selipkan adalah sumbangan jasa; bahkan pelimpahan, pemberian secara menyeluruh dari para ulama-pujangga-sastrawan Aceh—Sejak Kerajaan Samudera Pasai Sampai Kerajaan Aceh Darussalam— dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Melayu Jawi atau Melayu Pasai, sehingga bahasa Indonesia dapat berkembang seperti sekarang. Berkaitan dengan maksud itu, maka definisi bahasa Indonesia berbunyi sebagai berikut:

Bahasa Indonesia adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh perlahan-lahan di antara penduduk Asia Tenggara, yang terjelma menjadi bahasa Jawi/Melayu dan telah diangkat oleh agama Islam sebagai bahasa ilmu dan kebudayaan. Dengan sumbangan-sumbangan perlimpahan jasa para ulama-sastrawan Aceh, serta setelah bangkitnya pergerakan rakyat Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan insaf diangkat dan dijunjung sebagai bahasa persatuan  Indonesia. Memang, jasa Aceh amat sahih!

(Catatan: Tulisan ini pernah dimuat dalam buku”ACEH DAERAH MODAL”, Dinas Kebudayaan dan Parawisata Aceh   Tahun 2009. Saya terlibat dalam Tim penulisan buku ini, dan tulisan di atas adalah cuplikan bagian tulisan saya. Bale Tambeh Darussalam, 8 Juli 2011, poh 3.43 seupot, T.A. Sakti ).

 

 



[1] Syamsuddin Udin, dalam Tradisi Johor-Riau, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1987, hlm. 19.

[2] Khaidir Anwar, “Sumbangan Bahasa Melayu Riau terhadap Bahasa Indonesia”, dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaanya, Pekanbaru, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau, 1986, hlm. 28-29

[3] Teuku Iskandar, Kesusasteraan Melayu Klasik Sepanjang Abad, Jakarta, Libra, 1996, hlm. xxii.

[4] H. M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Pustaka Iskandar Muda, 1961, hlm. 121.

[5] Sayed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Bandung,  Penerbit Mizan, 1990, hlm. 64.

[6] Muhammad Gade Ismail, Pasai dalam Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 Sampai Awal   ke-16, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997, hlm. 27.

[7] Teuku Ibrahim Alfian, Kronika Pasai, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1973, hlm. 6.

[8] Teuku Ibrahim Alfian, “Proses Perkembangan Bahasa Jawi di Samudera Pasai Aceh Utara) menjadi Bahasa Nasional Indonesia”, dalam Warisan Budaya Melayu Aceh, Banda Aceh, Pusat Studi Melayu – Aceh (PUSMA), 2003, hlm. 141.

[9] Muhammad Gade Ismail, op. cit., hlm. 29.

[10] Sayed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Kuala Lumpur, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972, hlm. 45.

11 Hasan Muarif Ambari, Hamzah Fansuri-Ulama Besar dan Kualitas Intelektualnya, Makalah yang disampaikan pada Seminar Internasional Menelusuri Jejak Syekh Hamzah Al-Fansuri: Intelektual, Sufi dan Sastrawan.

12M.Yusuf Usa, Karya Hamzah Fansuri: Zinatul Muwahhidin, Banda Aceh, Dinas Kebudayaan Prov. NAD, 2005, hlm. 23.

13 Sayed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Kuala Lumpur, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972, hlm. 46-47.

14 Abdul Hadi W.M., “Jejak Sang Sufi: Hamzah Fansuri dan Syair-syair Tasawufnya” dalam makalah seminar Internasional Menelusuri Jejak Syekh Hamzah Al-Fansuri, Singkil, 14-17 Januari 2002, hlm. 16

15 Abdul Rozak Zaidah, “Pengaruh Tasawuf  Dalam Sastra Melayu Nusantara : Studi Kasus Sastra Indonesia Dasawarsa 1930-an”, Makalah Seminar Internasional Tapak Sufi Hamzah al-Fansuri di  Kota Sibolga, Sumut, 18-21 Desember 2002. Dalam Buku Jejak Sufi Hamzah Fansuri, Medan, Balai Bahasa Medan, 2003, hlm. 19.

16 Ibid

17 Abu Hassan Sham, “Karya-Karya yang Berlatar Belakangkan Islam dari Pengarang Melayu Riau-Johor sehingga Awal Abad Kedua Puluh” dalam  tradisi Johor-Riau-Kertas Kerja Hari Hari Sastra 1983, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1987, hlm. 267-269.

18 Ibid., hl. 266.

19 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung, Penerbit Mizan, 1994, hlm. 186.

20 Ibid., hlm. 184

21 ibid., hlm. 188.

22 Teuku Iskandar, Op Cit. hlm. 182.

23 Teuku Ibrahim Alfian, Dalam Warisan Budaya Melayu Aceh, Banda Aceh, Pusat Studi Melayu-Aceh (PUSMA), 2003, hlm. 148-148.