Menyambut “International Seminar Malikussaleh” : Seandainya Sejarah Walisongo Diseminarkan di Aceh!

            Menyongsong International  Seminar

            Malikussaleh:  Past, Present and Future

            di Lhokseumawe, Aceh – Indonesia

                     11 – 12 Juli  2011         

 Seandainya Sejarah Walisongo Diseminarkan di Aceh!

                                        Oleh: T.A. Sakti

        Anda tak perlu  heran membaca judul di atas. Sebagai bangsa Indonesia ( di Aceh ) kita memang dituntut untuk memahami  sejarah Tanah Air; termasuk di dalamnya sejarah Walisongo. Jadi Walisongo tidak mutlak milik masyarakat Jawa. Apalagi dalam penelusuran sejarah asal-usul Walisongo, ternyata asal mula sebagian mereka berasal dari Aceh, yakni Kerajaan Samudra-Pasai.

         Demikianlah yang tersurat dan tersirat dalam berbagai bentuk “ literature”, baik  dalam babad, serat,  carita, lagenda,ketoprak, tembang-tembang, nyanyian dolanan anak,buku-buku,majalah,filem dan sebagainya. Kesemua sumber itu sepakat, bahwa sebagian Walisongo itu betul-betul berasal dari Aceh.

          Namun, sekitar akhir  tahun 60-an pendapat yang berbeda mulai muncul. Sejauh yang saya amati, pendapat yang berlainan itu  ditulis  dalam beberapa buku yang kemudian dikutip dalam majalah dan suratkabar. Dalam ‘versi baru’, sejarah Walisongo sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Samudra-Pasai di Aceh.

         Pada umumnya, para penulis sejarah Walisongo versi baru ini bukanlah membantah  keterkaitan kehidupan Walisongo dengan Aceh, melainkan tidak menyinggung samasekali, bahwa asal-usul mereka dari kerajaan Samudra-Pasai.

         Salah satu contoh versi baru yang yang paling kontroversial  mengenai hal itu terdapat dalam buku yang ditulis Prof.Ir. Slamet Mulyana yang menyebutkan bahwa delapan orang dari Walisembilan berasal dari Cina. Serta raja Islam pertama di Jawa adalah juga asal Cina, yakni Raden Patah atau yang bernama asli Jin Bun atau Cek Ko Po.

 Berdasarkan perkembangan itulah, saya berpendapat sudah tiba saatnya diadakan sebuah seminar sekala besar; bertaraf intersional di Aceh dengan pokok bahasan Sejarah Walisongo.

         Dalam seminar itu nanti, semua penulis yang ‘berminat’ pada sejarah Walisongo  perlu  dilibatkan, baik asal Aceh maupun dari luar Aceh. Mengundang pihak pro-kontra  mengenai asal-usul Walisongo  amatlah  penting ,dalam upaya mewujudkan  sejarah Walisongo yang lebih berbobot;  tidak asal-asalan alias beujitheele kafe(agar diakui  dunia).

          Hanya saja, para  penulis sejarah generasi lama  asal Aceh  yang berminat pada sejarah Walisongo   hampir semuanya telah berpulang ke rahmatullah. Mereka itu adalah

Dada Meuraxa, H.M.Zainuddin, Tgk. M.Junus Jamil, Prof.A.Hasjmy, dan Tuwanku Abdul Jalil, sayangnya mereka

tidak menampilkan regenerasi pengganti. Buku dan tulisan  karya merekalah yang masih kita wariskan. Peminat sejarah Aceh  generasi baru  pada umumnya tidaklah mampu  seperti generasi lama. Tidak sebuah buku pun dapat dihasilkan kelompok ini secara pribadi. Buku-buku yang mereka tulis lebih merupakan kegiatan kelompok dan umumnya termasuk proyek pemerintah. Mereka lebih berperan sebagai ‘juru bicara’ yang mengulangi dan menyebarkan kembali isi buku dari para penulis lama. Maka dari Aceh, kelompok inilah yang dapat diundang ke seminar besar Walisongo itu.

            Pilihan undangan terbanyak tentu dari luar Aceh, terutama dari Jawa. Memang ada  seorang  sejarawan lain  dari luar  Jawa yang amat ‘mencintai’ sejarah Walisongo , yakni Prof.Dr. Hamka, namun beliau pun telah meninggal dunia. Banyaknya penulis sejarah Walisongo asal  Jawa adalah wajar. Sebab, kesemua makam para wali itu adalah di Jawa, tersebar mulai Jawa Timur sampai ke Jawa Barat.

           Selain itu, tradisi penulisan sejarah wali juga cukup kuat di Jawa, berlangsung terus-menerus dari abad keabad. Diantara manuskrip terkenal tentang Walisongo adalah Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Serat Walisongo karya Ronggo Warsito, Kitab Walisongo karya Sunan Dalem alias Sunan Giri II,dan  Naskah dari Klenteng Sam Po Kong. Kecuali naskah terakhir; kesemua manuskrip di atas mengakui sebagian Walisongo asal Aceh dan kerajaan Campa adalah kerajaan Jeumpa di Aceh pula, dan sama sekali bukan negeri Campa di Negara Kamboja.

Bila para penulis mengenai Walisongo tempo dulu yang menulis dalam bahasa Jawa cukup banyak, begitu pula dengan penulis kisah Walisongo di era Republik Indonesia sekarang juga tidak sedikit. Kini mereka menulis dalam bahasa Indonesia. Buku-buku karya mereka beredar di seluruh Tanah  Airku  Indonesia  dan bahkan ke manca Negara.

        Oleh karena itu; sekiranya  Seminar Internasional tentang    WALISONGO  benar-benar dilaksanakan di Aceh, maka para penulis buku Walisongo dari Jawa perlu lebih banyak diundang ke seminar itu!.  Semoga!!!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s