Tengku Sulung, Sebagai Panglima dan Panglima Besar – Calon Pahlawan Nasional Asal Riau

JEJAK PERJUANGAN PANGLIMA BESAR

RETEH TENGKU SULUNG*)

(Sebagai Panglima dan Panglima Besar)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

Drs. Teuku Abdullah Sulaiman, SmHK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*******************

*)  Disampaikan pada Seminar Nasional Sejarah Perjuangan Panglima Besar Reteh Tengku Sulung di Tembilahan 24 – 25 Juli 1999.

 



 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, syukur kepada Allah swt yang mentakdirkan saya berkesempatan hadir pada “Seminar Perjuangan Panglima Besar Reteh Tengku Sulung; menjelang 12 tahun setelah saya selesai menyusun skripsi yang berkaitan dengan Tengku Sulung ini, yang berjudul “Perlawanan Rakyat Reteh di Riau pada tahun 1858”

Saya benar-benar terharu ketika mendengar undangan seminar pada tanggal 14 juni 1999. Betapa tidak, saya nyaris “sehidup semati” dengan kisah kepahlawanan Tengku Sulung, batin saya merasa terhibur dan beban hidup yang terasa berat sejak 14 tahun yang lalu terasa ringan jadinya.

Sehubungan dengan hal itu, saya mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada pihak panitia seminar yang telah sudi mengundang saya. Undangan ini semakin tak terlupakan karena panitia telah mau bersusah payah mencari-cari alamat saya, sejak dari Jakarta, Yogyakarta dan baru ke Banda Aceh.

Terima kasih yang tak terhingga juga tak lupa saya sampaikan kepada yang mulia Guru Besar saya Prof. Dr. Teuku Ibrahim Alfian, MA. Beliau adalah pembimbing tunggal skripsi saya sekaligus beliau pula yang “memperkenalkan” saya, ketika sejarah Teungku Sulung beliau kedepankan pada Seminar Kepahlawan Riau di Medan pada tahun 1988. Sementara tak mungkin saya lupakan, undangan seminar yang dialamatkan panitia ke rumah beliau di Yogyakarta, bisa saya terima dengan selamat di Banda Aceh.

 

 

  1. Asal mula sengketa

Keputusan Gubernur Jenderal Belanda C.F. Fahud tanggal 23 September 1857 yang menurunkan Sultan Mahmud Muzaffar Syah dari kerajaan Riau-Lingga, banyak mendapat tantangan dari rakyat Riau.[1] Mereka sangat kecewa terhadap campur tangan bangsa asing dalam hal yang sangat prinsipil ini,  yang belum pernah dilakukan Belanda di waktu-waktu sebelumnya.

Penentangan secara terang-terangan terhadap tindakan Belanda muncul di daerah Reteh yang dipelopori oleh Teungku Sulung atau yang lebih terkenal dengan nama Panglima Besar Reteh. Penentangan serupa juga timbul dari daerah-daerah lain di sekitar Reteh seperti dari Manda, daerah Mapar, pulau Singkep dan lain-lain; akan tetapi tidak dinyatakan secara tegas. Hanya saja kepala daerah-daerah setempat membiarkan rakyatnya bergabung dengan pasukan perlawanan rakyat Reteh yang dipimpin Panglima Besar Reteh Tengku Sulung.[2]

Panglim Besar Teungku Sulung mengirim beberapa orang utusan ke Singapura untuk menemui Sultan Mahmud yang masih tinggal di sana sejak dipecat Belanda. Utusan ini bertugas meminta dukungan Sultan Mahmud terhadap gerakan perlawanan Tengku Sulung serta untuk membeli perlengkapan senjata. Menanggapi permohonan ini, Sultan Mahmud merestui tindakan Panglima Besar Sulung sekaligus menyerahkan bantuan buat modal membeli perlengkapan perang.

Disamping mempersiapkan alat senjata, dibeberapa tempat strategis dibangun pula benteng-benteng yang kokoh. Rakyat Reteh bekerja keras siang malam untuk menyelesaikan benteng-benteng pertahanan itu. Selanjutnya semua benteng meriam-meriam ukuran besar dan kecil. Pada benteng besar seperti benteng pusat dipasang meriam ukuran 6,8 dan 12 pon sebanyak 13 pucuk, sedangkan dibenteng lebih kecil di pasang 6 pucuk meriam ukuran 3,6,8 pon. Begitu pula perahu-perahu ukuran besar dan kecil dipersenjatai dengan meriam berbagai ukuran.[3]

Penjagaan di muara-muara sungai diadakan untuk memberitahukan lebih awal tentang kedatangan kapal-kapal atau perahu yang dicurigai. Tujuan agar semua pasukan Reteh yang siap tempur segera dapat berkumpul di dalam dan disekitar benteng. Perahu-perahu bersenjata hilir mudik di muara sungai, terutama sungai Sampi yang langsung mengalir ke Reteh; selalu dalam penjagaan ketat.

Untuk mempertebal semangat juang, rakyat Reteh yang dipimpin Panglima Besar Tengku Sulung  mengadakan acara mengucapkan sumpah setia  yang dilakukan di benteng pusat. Begitu pula anak-anak dan istri pasukan yang akan bertempur dikumpulkan dalam beberapa buah rumah di sekitar benteng pusat. Maksud mengumpulkan mereka, selain untuk dapat memberi bantuan langsung seperti menyediakan makanan bagi pasukan, berfungsi pula buat peneguh jiwa para pejuang karena mereka tetap didampingi keluarganya. Dapat pula bermakna bahwa perlawanan itu merupakan perang habis-habisan; sedia mengorbankan diri, istri dan anak-anak.[4]

Pasukan Reteh yang sudah siap tempur diperkirakan berjumlah 800 orang. Mereka bukan hanya terdiri dari penduduk Reteh saja, akan tetapi banyak pula yang berasal dari daerah lain seperti yang telah dikemukakan di atas. Semuanya tetap berjaga-jaga.

  1. Kewibawaan Sultan Mahmud Muzafar Syah

Meskipun Sultan Mahmud Muzaffar Syah telah dipecat Belanda dan digantikan dengan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1857-1883), namun sikap pemimpin serta rakyat Reteh masih tetap mengakui Sultan Mahmud sebagai raja yang sah. Beberapa hari menjelang upacara resmi pelantikan Sultan Sulaiman menjadi Sultan Kerajaan Riau-Lingga pada tanggal 12 April 1858. Sultan Mahmud menghilang dari tempat tinggalnya di Singapura. Belanda khawatir bahwa kepergian Sultan Mahmud secara diam-diam ini mungkin bermaksud untuk mengganggu upacara pelantikan tersebut. Upacara yang diadakan di Penyengat serta dihadiri oleh Residen Belanda J.H Tobias, pengamannya diperketat untuk mencegah sabotase dari para penyokong Sultan Mahmud Muzaffar Syah.[5]

Keberadaan Sultan Mahmud yang tidak diketahui Belanda sangat membingungkan mereka. Saling surat menyurati berkali-kali dilakukan antara Residen Riau dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia yang membicarakan masalah ini. Gubernur Jenderal C.F. Fahud memerintahkan Residen Riau untuk memperkuat penjagaan keamanan di pelabuhan Riau untuk mencegah serangan tiba-tiba dari pada pengikut setia Sultan Mahmud. Ia juga memerintahkan Residen Riau untuk menangkap Sultan Mahmud apabila ditemukan di daerah Riau serta menahannya sampai datang perintah-perintah baru mengenai hal itu.[6]

Sementara itu Residen lewat suratnya mengeluh pula kepada Gubernur Jenderal mengenai kekurangan alat-alat perlengkapan perang yang dimiliki Belanda di Riau. Keluhan itu disampaikan setelah diketahui tentang adanya gejala-gejala perlawanan rakyat Reteh yang disampaikan mata-mata Belanda di Singapura. Pada masa itu hanya sebuah kapal perang ‘Haai”, 4 kapal kecil dan 3 kapal penjelajah milik Belanda yang menjaga keamanan di seluruh pantai Riau yang dianggap kurang aman.[7]

Menanggapi permintaan itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda memerintahkan Komandan Angkatan laut Hindia Belanda untuk mengirim sebuah kapal perang besar ke Riau. Pada tanggal 25 April 1858 kapal api “Sumbing” berlabuh di Tanjung Pinang. Dalam sepucuk surat yang dititipkan pada komandan kapal, Gubernur Jenderal memerintahkan Residen Riau untuk menyelidiki dimana Sultan Mahmud berada secara lebih serius lagi. Begitu pula meminta laporan terperinci mengenai bukti-bukti rakyat Reteh mau mengadakan pemberontakan. Rahasia hilangnya Sultan Mahmud baru tersingkap sesudah datang laporan resmi dari Singapura yang menyatakan bahwa Sultan Mahmud telah berangkat ke Pahang atas permintaan Bendahara Muda negeri itu.[8]

Dimana saja Sultan Mahmud berada tetap merisaukan Belanda. Karena bekas Sultan  itu masih cukup besar pengaruhnya ketika itu. Kehadiran dia di daerah Riau juga tidak dikehendaki, disebabkan Belanda takut ia mendapat dukungan rakyat yang tidak menyetujui pemecatannya untuk mengadakan perlawanan. Keberadaan Sultan Mahmud di Pahang juga menggelisahkan Belanda karena di negeri tersebut namanya masih tetap dipuja. Dalam kerajaan-kerajaan Melayu Semenanjung Malaka seperti Trengganu, Pahang, Singapura, Selangor : kedudukan Sultan ini masih selalu diselebungi prestise. Oleh raja-raja kerajaan tersebut ia dipandang sebagai seorang raja yang mulia yang nampak dari panggilan mereka dengan julukan “Ayah” kepadanya.[9]

Salah satu contoh, bahwa ia benar-benar cukup disegani di kerajaan-kerajaan itu adalah kehadirannya di Pahang atas undangan penguasa kerajaan itu. Pada masa itu Wan Ahmad dengan sokongan Sultan Trengganu yaitu paman Sultan Mahmud, hendak merebut jabatan Bendahara negeri Pahang. Bendahara berkeyakinan bahwa selama bekas Sultan Riau-Lingga berada di Pahang, maka pihak Sultan Trengganu pasti tidak akan melakukan sesuatu serangan terhadap kerajaan kecil itu. Harapan bendahara itu akhirnya benar-benar terbukti.[10]

Ada dua hal yang ditakuti Belanda mungkin bisa terjadi jika dibiarkan Sultan Mahmud tetap tinggal di kerajaan Pahang. Masalah pertama, bisa terwujudnya persekutuan raja-raja di wilayah Inggris itu untuk membantu bekas Sultan tersebut guna merebut kembali tahta kerajaannya. Kalau hal itu terjadi, maka permusuhan antara Belanda dengan Inggris pecah pula, karena Inggris akan menyalahkan Belanda sebagai penyebab kekacauan di wilayahnya akibat hasutan Sultan Mahmud bekas Sultan dari wilayah Belanda. Sebab kedua, Belanda menghindari kemungkinan campur tangan langsung pihak Inggris untuk memulihkan kekuasaan Sultan Mahmud sebagai Sultan Riau kembali. Apabila benih-benih pertikaian mudah saja di pancing antara Belanda dan Inggris, yaitu dengan membesar-besarkan sengketa kecil mengenai masalah pengamanan di perairan Selat Malaka yang sering terjadi.[11]

Mengingat kemungkinan-kemungkinan itu, pihak Belanda tak henti-hentinya mencari jalan untuk mengeluarkan Sultan Mahmud dari Pahang. Meminta Inggris secara resmi supaya mengusirnya sangat tidak patut, karena bisa dianggap mencampuri urusan dalam wilayah Inggris. Lebih-lebih lagi Sultan Mahmud tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum selama tinggal di Pahang. Jika Inggris melakukan permintaan Belanda itu, akan terbuka pula permusuhan antara Inggris dengan raja-raja Melayu wilayahnya, disebabkan Sultan Mahmud masih sangat dihormati di kerajaan-kerajaan tersebut. Sehubungan dengan Inggris ini, pihak Belanda hanya berani bertindak pada taraf menghimbau tokoh-tokoh penguasa Inggris secara tidak resmi untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan Belanda terhadap Sultan Mahmud Muzaffar Syah.[12]

Pada tanggal 20 Ramadhan 1274 bertepatan tanggal 14 Mei 1858, Sultan Mahmud mengirim surat kepada Residen Riau serta Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ada tiga hal yang diminta Sultan Mahmud pada Belanda melalui surat yang dilampiri daftar investasi hartanya itu. Permintaan pertama, agar Belanda mengizinkan seluruh keluarganya keluar dari Riau untuk menyertainya tinggal di Pahang. Kedua, supaya Residen Riau mau mengembalikan semua hartanya yang masih tinggal di Riau. Ketiga, mengajak Gubernur Jenderal untuk mengadakan perdamaian dengannya. Kontak pertama antara Belanda dengan Sultan Mahmud sejak pemecatannya, sama sekali tidak disia-siakan Belanda.[13]

Permintaan pertama dan kedua segera diluluskan Belanda. Dalam urusan ini, atas persetujuan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Residen J.H. Tobias bertindak sebagai juru bicara dan penengah menemui pihak Sultan Sulaiman dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya. Mengenai permintaan berdamai, surat jawaban dari kolonial Belanda sedikitpun tidak menyinggung masalah itu. Pada bagian lanjutan surat itu, pihak Belanda dengan kata-kata yang lemak-manis membujuk Sultan Mahmud untuk bersedia dibuang ke Pulau Jawa. Jika Sultan bersetuju, maka urusan pemberangkatan ke Pulau Jawa akan diurus oleh Residen Riau.[14]

Diantara janji kemudahan yang ditawarkan Belanda bila Sultan Mahmud setuju dengan tawaran itu antara lain, masalah tempat tinggal yang akan dipilih di Jawa terserah menurut kemauan Sultan. Kedua, Sultan dibenarkan membawa serta semua keluarga serta sejumlah pengikut yang ingin menyertainya. Ketiga, segala biaya hidup yang layak menurut kedudukannya dahulu ditanggung Pemerintah Hindia Belanda. Keempat, Sultan beserta keluarga pada waktu-waktu tertentu secara periodik dibolehkan menziarahi makam-makam leluhurnya untuk menghilangkan kesan sebagai orang buangan. Mengenai pembuangan ini tidak ditanggapinya.[15]

 

3.  Profil Panglima Besar Tengku Sulung

Panglima Besar Reteh Tengku Sulung adalah cucu Sultan Yahya yang merupakan Sultan Siak terakhir dari keturunan Raja Kecil. Ibu Raja Sulung seorang puteri Sultan Yahya bernama Raja Maimunah. Ketika kekuasaan kerajaan Siak ini direbut oleh Said bin Usman pada tahun 1784, ia melarikan diri meminta perlindungan kepada Sultan Mahmud III di Riau dan ia menetap beberapa lama di Reteh.  Selama tingggal di Reteh, Raja Maimunah kawin dengan Tok Lukas seorang panglima perang yang ikut menyerang Belanda di Tanjung Pinang pada tahun 1784.[16] Menurut laporan G.F de Bruyn Kops yang pernah bertemu Raja Sulung sewaktu menyelidiki batubara di Reteh pada tahun 1849, menyatakan bahwa karakter pribadi Panglima Besar Tengku Sulung berwatak keras, cerdas dan suka menanyakan informasi kepada tamu yang datang kepadanya. Kegiatan yang sangat digemari sewaktu ia masih muda adalah merampok kapal-kapal dagang Belanda yang berlayar diperairan Riau. Oleh karena selalu dikejar-kejar pasukan patroli laut Belanda, sehingga terpaksa melarikan diri ke Kalimantan Barat serta menetap beberapa lama disana. Petualangannya baru berakhir ketika Sultan Mahmud Muzaffar Syah mengangkatnya sebagai Orang Kava  yang mengepalai  daerah  Reteh  sekaligus dianugerahkan gelar Panglima Besar Reteh.[17]

Tindakan Belanda memakzulkan Sultan Mahmud, secara terus terang tidak disetujui pimpinan dan masyarakat daerah Reteh. Tengku Sulung (Raja Sulung) yang telah diangkat Sultan Mahmud sebagai Kepala Daerah Reteh dengan gelar Panglima Besar Sulung, menyatakan sikap penolakannya dengan tidak mau mengakui dan tunduk kepada Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah yang diangkat Belanda menggantikan Sultan Mahmud.

Dalam hal ini, Panglima Besar Reteh Tengku Sulung betul-betul me-nunjukkan kesetiaanya “yang tidak berbelah bagi” kepada Sultan Mahmud yang diyakininya masih sebagai Raja yang sah dari Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Berkali-kali telah diupayakan membujuk Tengku Sulung supaya merubah sikapnya yang dilakukan oleh Residen Riau beserta Sultan Sulaiman, akan tetapi selalu menemui kegagalan.[18]

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa gerakan menentang Belanda ini bukan hanya digerakkan Panglima Besar Reteh, namun ikut terlibat pula beberapa kepala daerah lain seperti Raja Long dan Singkep, Raja Muhammad Kepala Daerah Manda serta Raja Abdul Manan penguasa daerah Mapar. Selain itu dibantu pula oleh sejumlah bangsawan asal Kuala Tungkal yaitu Raja Idris, Raja Merdan dan Raja Ismail.[19]

Bagi daerah Riau yang terletak disekitar jalur perdagangan yang cukup ramai, para saudagar juga memiliki peranan penting dalam tata kehidupan sosial politik dan ekonomi di wilayah itu. Dalam kasus perlawanan terhadap Belanda yang dipimpin Panglima Besar Reteh ini misalnya, peranan kaum saudagar sangat penting sebagai orang yang bertanggung jawab mengumpulkan senjata untuk perlengkapan perang.

Menjelang pecahnya pertempuran Reteh, kaum saudagar Riau yang berniaga ke Singapura, sewaktu pulang selalu membawa senjata yang dibeli di Singapura. Akibat aktivitas kaum pedagang ini memang amat berpengaruh pada kekuatan pasukan rakyat Reteh, karena peralatan senjata yang mereka miliki hampir-hampir sama dengan persenjataan pihak Belanda.[20]

Sementara itu. Panglima Besar Reteh Tengku Sulung terus berusaha mempersiapkan diri memperkokoh pertahanan di daerah Reteh. Persediaan beras dan bahan pangan lainnya untuk kebutuhan tiga bulan telah dikumpulkan. Dapat dikatakan, bahwa segala keperluan yang sanggup dipersiapkan untuk menghadapi Belanda telah tersedia bersama para penyokongnya hanya menanti-nantikan kapan datangnya serangan Belanda. Oleh karena itu serangan itu belum juga tiba; biarpun masa menunggu sudah cukup lama, maka kesiagaan pasukan Reteh mulai mengendur dari hari ke hari.

Panglima Besar  Sulung  sendiri mulai  yakin, bahwa serangan Belanda tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat, berhubung kematian yang dipertuan Muda Riau Raja Ali pada bulan Juni 1858. Lebih-lebih lagi ketika ia mendengar kabar yang baru datang dari Lingga yang menceritakan, bahwa menjelang meninggal Raja Ali berpesan supaya rencana menyerang Reteh sebaiknya jangan diteruskan lagi. Sejak itu Raja Sulung telah memberi izin kepada sebagian besar anggota pasukan dan keluarga mereka untuk bekerja lagi di ladang-ladang atau kembali kerumah mereka di Kota Baru. Sebagian para pengikutnya telah bertebaran kemana-mana mengurus kehidupan masing-masing seperti sediakala. Sementara itu, sejumlah enam buah perahu yang diketuai Raja Idris berangkat berdagang ke Singapura..[21]

4. Pecahnya Pertempuran Reteh

Setelah mempertimbangkan akan tingkah laku Tengku Sulung yang benar-benar akan memberontak, maka pihak Belanda pun tidak lagi berdiam diri. Berhubungan terbatasnya ruang  dan waktu, kisah pertempuran Reteh tidak mungkin dijelaskan secara rinci, akan tetapi hanya diuraikan secara garis besar saja.

Pada tanggal 9 Oktober 1858 sejumlah kapal perang Belanda meninggalkan pelabuhan Tanjung Pinang menuju Reteh. Armada itu terdiri dari kapal api “Sumbing”, lima buah kapal penjelajah serta dua puluh buah perahu yang dipersenjatai. Kapal api “Sumbing” yang khusus dikirim untuk ekspedisi itu, dipergunakan untuk menyeret semua kapal dan perahu yang tidak bermesin. Komandan kapal “Sumbing” Letnal AA.J. Kroef sekaligus bertindak sebagai pimpinan operasi itu.[22]

Tidak berapa lama kemudian, sebagian pasukan Belanda diperintahkan untuk menutup semua muara sungai yang mengalir ke daerah Reteh. Sebuah kapal pejelajah dan beberapa perahu yang diketuai Letnal A.J. Van Mansvelt bergerak ke Kuala Enok untuk menjaga muara sungai disana. Akibatnya, maka pada tanggal 13 Oktober 1858 muara-muara sungai seperti sungai Terap, sungai Tengah, sungai Gangsal dan Sampi; semuanya telah selesai diduduki pasukan Belanda. Blokade itu bertujuan supaya orang-orang Reteh tidak dapat lagi keluar atau masuk ke daerah itu.

Kedatangan pasukan Belanda baru diketahui penduduk Reteh, setelah semua muara sungai diduduki mereka. Masyarakat Reteh sangat terkejut dengan bahaya yang secara tiba-tiba telah mengancam itu. Beberapa orang coba menerobos blokade di muara sungai Reteh,sungai  Parang dan Sampi dengan perahu-perahu kecil segera dapat ditangkap pasukan Belanda.

Panglima Besar Sulung segera mengatur pasukannya ketika mengetahui pasukan musuh sudah memasuki daerahnya. Pada tanggal 16 Oktober 1858 sejumlah pasukan Reteh dalam dua buah perahu berusaha menyerang kapal-kapal Belanda di Kuala Patah Parang. Pertempuran sengit berlangsung antara kedua pihak, akan tetapi pasukan Reteh tidak lama sanggup mempertahankan diri.[23]

Dalam suatu operasi pasukan Belanda ke daerah dekat Kota Baru ibu kota wilayah Reteh, sebuah benteng yang dipertahankan pasukan Reteh dapat direbut Belanda. Dalam serangan itu Haji Muhammad Taha sekretaris Panglima Besar Sulung ditangkap Belanda, sehingga beberapa pucuk surat rahasia dapat disita.

Belanda segera membangun sebuah benteng kecil disebelah kanan sungai pada tanah yang agak padat. Semua kapal diatur sedemikian rupa, sehingga meriam-meriam mudah untuk ditembak. Walaupun tembakan hampir setiap waktu dilepaskan laskar Reteh dari dalam benteng mereka, namun pekerjaan membangun kubu-kubu pertahanan terus dapat dilanjutkan Belanda. Hal ini disebabkan lebatnya belukar yang menjulang tinggi yang menghalangi pandangan pasukan Reteh.

Dalam pertempuran yang berlangsung didarat, banyak korban yang jatuh dikedua pihak. Dlpihak Belanda, lima orang terbunuh serta empat yang luka-luka, sementara dikalangan laskar Reteh 14 orang yang gugur. Diantaranya orang-orang terpandang yang ikut gugur ialah Raja Hamzah, yaitu menantu Panglima Besar Reteh, dua orang panglima serta tiga orang tokoh masyarakat dari Kuala Enok.

Pasukan Belanda benar-benar merasa berat menghadapi laskar Reteh yang menyerang secara tiba-tiba. Apalagi serbuan itu dilancarkan dengan jumlah pasukan yang besar. Melihat ancaman yang serius itu, pimpinan ekspedisi Belanda memutuskan untuk meminta bantuan kepada Residen Riau. Pada tanggal 28 Oktober 1858 kapal api “Sumbing” berangkat ke Tanjung Pinang, ikut membawa empat orang tahanan diantaranya Haji Muhammad Taha, sekretaris dan orang kepercayaan Panglima Besar. Kepadanya diserahkan sepucuk surat ultimatum supaya disampaikan kepada Raja Sulung apabila  ia dibawa kembali  ke Renteh.[24] Kapal layar “De Haai” juga kembali ke Tanjung Pinang   untuk  membantu membawa bantuan  yang  sangat diperlukan,  yaitu 50 orang prajurit dari  garnizun.  Begitu pula persediaan amunisi terutama peluru-peluru senapan yang ‘dirasakan sangat sedikit saat itu.

Pada tanggal 5 November 1858 ultimatum dari Residen Riau dikirimkan kepada Panglima Besar, yang disuruh bawa kepada Haji Muhammad Taha. Ultimatum ini membuat tuntutan, supaya Panglima Besar Sulung agar menyerahkan diri kepada komandan ekspedisi untuk dibawa menghadap Sultan Sulaiman dan Sultanlah nanti yang akan memutuskan mengenai dirinya, karena ia telah melepaskan diri dari kekuasaan Sultan itu. Residen Riau dalam ultimatumnya menjamin pengampunan dan keselamatan jiwa Raja Sulung pasti akan diberikan Sultan.

Masa untuk mempertimbangkan isi ultimatum diberikan dua hari dan selama itu semua permusuhan diminta dihentikan untuk sementara.

Akan tetapi pada hari yang sama para utusan juga membawa pulang jawaban Tengku Sulung yang ditujukan kepada Residen Riau. Isi jawaban Tengku Sulung terhadap ultimatum menyatakan, bahwa ia bukan pihak yang memulai peperangan. Disebutkan pula dirinya tidak berperang melawan orang-orang Belanda. Apabila Residen bermaksud baik kepadanya, maka ia mengharapkan bahwa semua kapal perang harus ditarik ke Tanjung Pinang lebih dahulu, sebelum ia dapat memberikan

keputusan tentang usul penyerahan diri itu.[25]

Jawaban yang diberikan Panglima Besar Sulung sama sekali tidak memuaskan Belanda, maka sejak itu pertempuran hebat antara kedua belah pihak berkobar kembali.

Tanggal 7 Oktober 1858, angin kencang beserta hujan lebat menyiram daerah Reteh sepanjang hari. Keadaan ini menyebabkan laskar Reteh jadi kurang waspada dan tidak menyangka, bahwa serangan besar-besaran akan dilakukan pada hari seburuk itu.

Panglima Besar Sulung segera mengatur anak buahnya. Pertempuran ketika itu sangat dahsyat, karena antara kedua belah pihak sudah berdekatan. Laskar Reteh harus menghadapi serangan dari dua arah. Pasukan Belanda yang menyusup dibelakang benteng, mendapat serangan bertubi-tubi, baik dari benteng pusat maupun dari benteng kecil. Laskar Reteh yang mempertahankan benteng kecil terpaksa mundur, karena mendapat serangan yang tidak sepadan.

Panglima Besar yang sudah terluka dua hari yang lalu akibat kena tembakan ketika memeriksa pelindung bentengnya, dengan semangat besar masih mampu memimpin pertempuran yang sangat menentukan hingga saat itu. Dalam keadaan pertempuran masih sedang berlangsung dahsyat, beberapa orang pimpinan laskar Reteh yang penting, diantaranya Said Usman dan Raja Ismail dapat ditangkap oleh pasukan Belanda. Penangkapan tokoh-tokoh penting itu telah mengakibatkan laskar Reteh kehilangan pimpinan yang mengatur strategi dan taktik perang. Walaupun demikian, mereka masih melancarkan perlawanan seru, karena beberapa tokoh pimpinan lainnya termasuk Panglima Besar Sulung masih tetap berjuang bersama mereka.

Ditengah-tengah pertempuran yang sedang berkecamuk, Panglima Besar Reteh terkena  sebutir peluru tepat ditengah leher yang menyebabkan ia gugur di dalam benteng. Ketika berita kematian tokoh tampuk pimpinan itu tersebar kepada para pengikutnya, telah menyebabkan semangat bertempur mereka mulai menurun. Akhirnya, pertempuran itupun terus berakhir. Kekalahan yang menimpa rakyat Reteh dalam pertempuran tanggal 7 November 1858 ini, terutama disebabkan sebagian besar pemimpin dan tokoh-tokoh yang gagah berani telah tewas atau ditangkap pasukan Belanda. Laskar Reteh yang terbunuh dalam pertempuran hari itu diperkirakan berjumlah 70 orang, sedangkan di pihak musuh 16 orang Belanda yang menderita luka, diantaranya 3 orang yang terluka berat. Korban yang lain bagi pasukan Belanda adalah 4 orang pribumi mengalami luka-luka dan tiga orang diantaranya terluka berat.[26]

 

 

KEPUSTAKAAN

 

  1. I.       Manuskrip

Missive Gouvernements Secretaris, no. la M2, 21 April 1858.

Missive Gouvernements Secretaris, no. XXXII, 27 Juli 1858.

Missive Gouvernements Secretaris, no. la E2, 20 Agustus 1858.

Mailrapport, no. 546, 9 Desember 1857.

Politiek Verslag Resident Riau, no. 280 La m, 16 April 1858.

Politiek Verslag Resident Riau, no. LaL/a 12 Juni 1858.

Politiek Verslag Resident Riau, no. 296 La F, 29 April 1858.

Politiek Verslag Resident Riau, no. 266 La L/a, 20 Agustus 1858.

 

  1. I.       Sumber-sumber tercetak

Anwar Syair, et. al., Sejarah Daerah Riau, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1882.

 

Kops, G.F. de Bruijn, Togt op de Reteh-Rivier, dalam TNI Tahun IV. 1858.

 

Muchtar Lutfi, (ed), Sejarah Riau, Pekanbaru: Percetakan Riau, 1977.

 

Netscher, E, De Nederlanders in Djohor en Siak 1602-1862, Batavia: Bruning dan Wijt, 1870.

 

Raja Ali Haji, Tuhfat Al Nafis, Kuala Lumpur: Fajar Bakti SDN. BHD. 1982.

 

Sierburg, N.C, “De Kriygs Verrichtingen Tagen den Panglima Bezaar van Reteh”, De Gids, Vol. 23, 1859

 

Tobias, J.H. Verslag van eenen naar Lingga, Reteh en Manda”, dalam Tijd. Vol X. 1861


[1] N.C. Sierburg, “De Kriygs Verrichtingen Tagen den Panglima Bezaar van Reteh”, De Gids, Vol. 23, 1859, hlm. 308.

 

[2] J.H. Tobias can Eenen Toght naar Lingga, Reteh en Manda”, dalam Tijd, vol x, 1861, Passim

[3] E. Netscher, De Netherlanders in Djohor  en  Siak 1602-1862. (Batavia : Bruining en Wijt, 1870), hlm. 311.

 

[4] Ibid.

[5] Ibid.

 

[6] Missive Gouvernements Sekretaria, no, la M2, 21 April 1858.

 

[7] Politik Verslag Resident Riau, no, 280 La m, 16 April 1858.

 

[8] Ibid

 

[9] Lihat Surat Rahasia Residen Riau kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, no, La L/a., 12 Juni 1858.

 

[10] Laporan Residen Riau kepada Gubernur Jenderal no. 296 La F, 29 April 1858.

[11] Anwar Syair, et. al., Sejarah Daerah Riau (Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,  Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1882), hlm. 132.

 

[12] Politiek Verslag Resident Riau, no. 266 La L/a, 20 Agustus 1858.

[13] Laporan Gubernur Jenderal kepada Dewan Hindia Belanda, no. XXXII, 27 Juli 1858.

 

[14] Missive Gouvernements Sekretaris, no. 34 La E2, 20 Agustus 1858.

 

[15] Ibid.

[16] Raja Ali Haji, Tuhfat Al Nafis (Kuala Lumpur: Fajar Bakti SDN, BHD., 1982) hlm 221 dan 251.

 

[17] G.F. de Bruyn Kops, “Togt op de Reteh Rivier” dalam TNI. tahun IV, 1853, hlm. 615.

 

[18] Surat Dinas (rahasia) Residen Riau kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 9 Desember No. 546/F, 1957.

[19] J.H. Tobias, Loc.cit.

 

[20] E. Netscher, log.cit.

[21] Muchtar Lutfi (ed)., Sejarah Riau (Pekanbaru: Perce-takan Riau, 1977), hlm. 311.

 

[22] N. C. Sieburgh, op.cit, hlm. 310.

[23] E. Netscher, op.cit. hlm. 312.

 

[24] E. Netscher, op.cit. hlm. 317.

[25] Ibid. him. 318.

[26] N.C. Sieburgh, op.cit. him. 325.

Iklan

2 pemikiran pada “Tengku Sulung, Sebagai Panglima dan Panglima Besar – Calon Pahlawan Nasional Asal Riau

  1. seandainya cerita sejarah ini di angkat ke layar lebar…tentulah sangat bagus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s