Ayo, Menuliskan Aceh di Internet! – II

Ketika   Dua Tahun Sebagai Blogger:

18 Juni 2009 –  18 Juni 2011

AYO, MENULISKAN   ACEH   DI   INTERNET!  – II

Oleh: T.A. Sakti

Hari ini Sabtu, 18 Juni 211 berarti sudah dua tahun  saya  sebagai blogger. Jumlah yang membuka/baca blog saya hingga hari/detik ini pukul 12.39  wib., sebanyak  29.835   kali. Bagi blog budaya, jumlah pembuka/pembaca sebanyak itu termasuk lumayan, yakni tidak mengecewakan dan tidak pula menggembirakan. Singkat kata, masihlah menyisakan secuil semangat buat saya untuk  terus menghidupkan blog Tambeh/Bek Tuwo Budaya ini.

Namun, saya masih tetap gagal mewujudkan gagasan awal menampilkan blog budaya ini, yakni bagi meningkatkan citra sastra Aceh khususnya Hikayat dan Cae Aceh. Dari 6  judul  hikayat dan 2 Tambeh, yaitu: 1. Hikayat Kosason Hiyawan, 2. Hikayat Banta Amat, 3.Hikayat Gomtala Syah, 4. Hikayat Nabi Yusuf, 5. Hikayat Teungku Di Meukek, 6. Hikayat  Ranto  dan  1. Tambeh Tujoh, 2. Tambeh Tujoh Blah; tidak semua judul karya di  atas dalam setahun  sempat muncul di layar blog, yang menandakan telah dibuka/dibaca orang. Sepanjang setahun yang sudah berlangsung, hanya hikayat Nabi Yusuf, Hikayat Kisason Hiyawan, Tambeh Tujoh Blah dan dalam 7 hari belakangan Hikayat Banta Amat  saja yang  mendapat perhatian. Kegagalan serupa juga berlaku bagi Cae Aceh. Saya masih dapat mengingat, dalam setahun yang sudah berlalu hanya 2 kali cae yang berjudul  “Cicem Dalam Blang”  pernah dibuka/dibaca orang. Sementara puluhan judul Cae Aceh yang lain masih saja tersimpan nyaris membusuk.

Agar gairah merawat hikayat dan Cae Aceh tidak keropos, saya pun meminta  pembaca agar sudi  memberi   saran dan terobosan yang dapat ditempuh.  Mudah-mudahan saran  itu dapat menjadi ‘api sepuhan’ bagi  sastra Aceh; seandainya ada yang sedia mempraktekkannya!.

Makanya, saya  sudah punya kesimpulan sekarang. Bahwa    satu-satunya  cara  bagi menyelamatkan sastra Aceh  serta mencegah kehancurannya adalah lewat campur tangan Pemerintah Nanggroe Aceh Darusssalam. Pendiri Yayasan “Rancage”   Ajip Rosidi  yang banyak pengalaman dalam pemberdayaaan sastra daerah  juga berpendapat demikian. Dalam sebuah konferensi pers setelah acara  pemberian  “Anugerah  Rancage” bagi sastrawan Sunda, Jawa , Bali dan Lampung;  keprihatinan itu dilontarkannya.  Ajip Rosidi menyebutkan, setelah 22 kali memiberikan anugerah Rancage kepada para penulis dalam bahasa daerah, ternyata penerbitan  buku-buku berbahasa ibu tidak juga berkembang,  tetap jalan di tempat. Ajip Rosidi  menyatakan, jalan  satu-satunya bagi membangkitkan sastra daerah adalah campur tangan  pemerintah, baik  Pamerintah Pusat dan terutama  Pemerintah Daerah setempat. Banyak hal yang mampu dibuat Pemerintah Daerah; seperti pengadaan muatan lokal secara sungguh-sungguh di sekolah-sekolah dan sebagainya. Kini, muatan lokal  di Aceh memang telah lama dilaksanakan, tapi kurang sungguh-sungguh atau sekedar adanya saja!.

Oleh karena itu lewat tulisan ini saya menghimbau Pemerintah NAD  untuk melaksanakannya dengan sungguh-sungguh!!!. Dan perlu dibuat sebuah Qanun khusus tentang Perlidungan dan penyelamatan  Tamaddun  atau “Peradaban Aceh!”.

Memang dari awal saya sudah maklumi, bahwa himbauan ini hanya bagaikan angin lalu saja; tak ada yang peduli.  Jangankan saran-himbauan dari seseorang ‘hamba la’eh’ seperti saya,saran-saran dari seminar-seminar besar pun tak ada yang peduli!. Namun, karena kemampuan kita hanya sebatas memberi  ‘masukan’, maka biar masuk ke mana pun – ke tong sampah, misalnya – pantas dan patut  kita dorong saja!.

Apakah saya menyerah kalah dengan kegagalan total ini?. Insya Allah, sama sekali tidak!. Sebab, bayangan kegagalan itu sudah melintas dari awal, yakni sebelum blog ini wujud. Akibat gagal total sudah diprediksi dari awal, maka tusukan gagal itu tidak begitu menghunjam; malah kulit ari pun mungkin tidak tembus!. Seorang teman sekaligus guree/Tuwan Guru saya, yakni Teungku Fauzi   telah mengingatkan:”Orang Aceh di kota yang  biasa dengan internet, mereka tidak menyukai lagi hikayat, sedangkan mereka yang  di kampung dan  masih mencintai hikayat, mereka   belum   pernah melihat internet”. Nyatanya, apa yang disampaikan guree saya itu adalah  kebenaran total.

Paling kurang masih ada beberapa alasan lain  yang menghambat  saya menyerah atau menutup blog Tambeh/Bek Tuwo Budaya ini, yaitu:

Pertama, bahwa isi blog kita dapat dibuka/dibaca di seluruh  pojok dunia. Ini tentu penyebaran informasi yang luar biasa; belum pernah ada (di Aceh) sepuluh tahun lalu.

Kecanggihan itulah yang mendorong saya mewujudkan blog internet ini. Kata sahabat saya Fauzan Santa yang saya minta pendapat tentang manfaat blog internet; “Bah dibaca ban sigom donya!”(Biar dibaca orang di seantero   dunia!), katanya lewat sms lebih dua tahun lalu.

Kedua,  berpijak pada jumlah pembuka/pembaca blog saya yang sudah berjumlah  29.835 kali  pada hari/detik ini; berarti isi blog saya ada manfaatnya bagi hamba Allah yang meminatinya. Bila sesuatu kegiatan itu bermanfaat, maka itu menunjukkan perbuatan yang baik. Hal ini sesuai dengan nasehat Tuwan Guru saya dari negeri seberang; Tan Sri Sanusi Junid. “Nyan jeuroh that Tengku!( Itu amat baik; Tengku!)”, kata beliau  dengan  sms ketika saya  tanyakan  manfaat menulis dalam blog. Atas keadaan beliau yang baru dioperasi  pada  6 Juni 2011, saya  ikut prihatin   dan mendo’akan semoga cepat disembuhkan oleh Allah Swt. Saya ikut gembira dan senang hati, ketika Encik Azfar bin Sanusi Junid memberitahukan  saya  pada 10 Juni, bahwa keadaan Tan Sri semakin sehat adanya!.

           Ketiga, teman saya yang membantu membuat blog  bagi saya, masih tetap  memiliki blog, dan    setia diasuhnya. Dua tahun lalu, bertempat di Kantin FKIP Unsyiah;  Herman RN telah membuat blog Tambeh/Bek Tuwo Budaya bagi saya secara gratis dan ikhlas. Bila sang guree  masih  menganggap menulis dalam blog berguna, tentu sang murid setuju pula. Akibatnya, blog saya masih tetap “mengudara!!!”.

Keempat, sifat jujur yang ditunjukkan para peminat blog saya juga telah memberi  nafas panjang bagi blog ini. Ketika menyambut usia setahunnya, saya telah menghimbau agar siapa pun jangan lagi mengutip isi blog  saya  buat memperbanyak isi blog mereka. Biar tujuan mereka baik;  guna menyebarkan informasi yang dianggap berfaedah, namun tindakan mereka telah membuat kegairahan saya mengisi blog menjadi turun setrumnya. Betapa tidak, karena tulisan saya telah menyebar kemana-mana; ke berbagai blog, yang sebagian besar tanpa… ba-bi-bu, tidak seizin saya; hanakom hana salam!.

Alhamdulillah, ternyata himbauan saya mujur hampir seratus persen. Sejak ajakan ‘bermain jujur’ saya muat pada 18 Juli 2010 pagi, secara beransur-angsur orang-orang yang telah khilaf itu sadar kembali. Sebuah blog yang dimiliki seorang intelektual agama yang mengambil tulisan saya mengenai manuskrip kesehatan telah memperbaiki sikapnya. Nama saya yang telah diganti dengan namanya pada tulisan itu, telah dibetulkannya. Inilah yang saya sebut belum mujur 100  persen. Sebenarnya, saya menghendaki   ia  menghapuskan seluruh tulisan saya dalam blognya!. Tulisan itu berjudul:”Membedah Tiga Manuskrip Aceh tentang kesehatan-kedokteran” .  Sebuah tulisan lain karya saya yang diambil mahasiswa Pascasarjana  Jurusan Filologi   dari Universitas Islam terkenal di  Jakarta  ini berjudul:”Menjaring Wali Nanggroe dalam Manuskrip Aceh”;  sekaligus menghapus nama saya sebagai penulisnya.Sebelum saya muat dalam blog, kedua tulisan itu telah dimuat dalam rubrik Budaya Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh.

Selanjutnya, sebuah blog  lain yang telah mengambil syair Aceh bertajuk “Aceh – Malaysia” sekaligus mengganti nama saya dengan namanya; juga tidak terjumpai lagi di internet. Begitu pula, sebuah blog yang berisi kisah-kisah tauladan, juga telah menghapus semua hikayat hasil transliterasi saya yang diambilnya. Kemudian, sebuah blog  khusus “Cae Aceh” yang diisi semuanya dengan cae-cae Aceh karya saya, juga sudah tak menampakkan ‘hidungnya’ lagi di dunia maya. Dengan hal demikian, saya cukup senang hati dan mengucapkan terima kasih; syukur Alhamdulillah atas kebaikan dan  sifat terpuji dari para peminat blog saya.

Memang belum seratus persen himbauan saya terkabul. Sebab, masih ada blog Atjeh Pusaka yang mengutip hampir semua isi blog saya. Mudah-mudahan, Tabib Adriansyah   selaku pemilik blog ini juga akan berbuat ‘jujur’ dalam waktu tak lama lagi. Alasannya: “ blog  nyang teungoh  meuruno(sedang belajar jadi blogger)” cukuplah setahun saja!. Semoga himbauan saya ini  terkabul hendaknya.Insya Alllah!!!.

Bila kedua modal perjuangan blog saya – Hikayat dan Cae Aceh –tidak berhasil mujur, maka apa saja jenis topik  lain yang diminati pembaca?. Secara umum, isi blog saya adalah mengenai budaya dan sejarah, terutama terkait Aceh. Pada bulan-bulan awal dalam setahun lalu (antara 18 Juni 2010 s/d 18 Juni 2011); tulisan yang berjudul “Hikayat Aceh Telah Mati(?) berhari-hari terletak di rangking atas. Kita tentu bertanya-tanya;  kenapa judul ini banyak diminati orang!!??. Apakah beliau-beliau itu kasihan terhadap Hikayat Aceh yang nyaris mati(?). Bulan-bulan berikutnya – masih di tahun 2010 – artikel berjudul:”Peran Aceh dalam Revolusi Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (1945 – 1949) terus-menerus bertengger di atas. Hal ini wajar, karena mayoritas rakyat Indonesia belum tahu adanya peran rakyat Aceh dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka hanya tahu peran arek-arek Suroboyo- Hari Pahlawan, peran  rakyat Bandung –Halo-halo Bandung, Peran Rakyat Yogya- Sepasang Mata Bola; karena semua kisah sejarah ini diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sementara peran rakyat Aceh tidak diajarkan di sekolah-sekolah, baik di Aceh apalagi di seluruh Tanah Airku  Indonesia!!!.

Pada empat bulan awal tahun 2011, surat pembaca saya:”PAHLAWAN  NASIONAL   ASAL   RIAU” mengungguli semua tulisan lain yang dibuka/dibaca dalam blog saya. Saya sebut surat pembaca,  karena tulisan itu merupakan pertinggal dari surat pembaca yang  saya kirim ke   majalah “GATRA”  di Jakarta. Pertanyaan pertama yang muncul, apakah rakyat Riau sedang ‘kehausan’ pahlawan nasional?. Namun, saya juga mengira, bahwa tentang Kepahlawanan Rakyat Riau bukan hanya jadi  misteri bagi rakyat Riau; tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia!. Mereka bertanya-tanya; apakah di Riau ada pahlawan???.  Sungguh, pada zaman kejayaannya dulu, Riau merupakan bagian dari Emperium Dunia Melayu Yang Maha Besar, namun sejarah ini amat sedikit diketahui orang sekarang. Tokoh Raja Haji Fisabilillah yang sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia; misalnya, beliau bukan hanya pantas sebagai pahlawan Indonesia, tetapi patut pula diakui sebagai Pahlawan Nasional Malaysia, karena beliau gugur sewaktu memimpin perang melawan Belanda di Malaka(Malaysia). Karena itu, saya amat gembira mendapat informasi, bahwa Pemerintah Daerah Riau sekarang  sedang menggarap sebuah “ Perda”  tentang Kepahlawanan Riau. Mudah-mudahan dengan selesainyaPeraturan Daerah ( Perda )  itu akan memperlancar proses rakyat Riau menggali jati dirinya!.

Menyongsong lahirnya  “Peraturan Daerah”  tentang Kepahlawanan Riau itu, saya pun insya Allah dalam beberapa hari ke depan  akan mengisi blog ini dengan makalah  saya pada Seminar Nasional Sejarah Perjuangan Tengku Sulung di Tembilahan –Riau,  Juli 1999. Panglima Besar Tengku Sulung, memang Pahlawan Riau yang perlu terus diperjuangkan ke Pemerintah Pusat agar diakui sebagai Pahlawan Nasional!. Namun sekarang, hati saya bertanya-tanya; dengan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau( Kepri), apakah Panglima Besar Tengku Sulung masih tetap sebagai calon Pahlawan Nasional dari Provinsi Riau, ataukah menjadi milik Provinsi Kepri!!!?. Sebab, dalam Skripsi yang saya tulis tentang tokoh pahlawan itu,  di  lokasi  perjuangan beliau  banyak menjumpai nama pulau, seperti pulau Singkep, pulau Kajang, dsb.

Pada bulan Mei 2011, tulisan pada rangking teratas adalah “Hikayat Aceh”.  Tulisan itu bukanlah milik saya, tetapi tulisan yang mengisi  rubrik ‘Tafakur’ pada halaman pertama Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh. Saya mengira  penulisnya adalah Drs. Tgk.H.Ameer Hamzah, karena di masa itu beliau sebagai wartawan dan redaktur Budaya suratkabar itu. Mengapa “Hikayat  Aceh” banyak diminati pembaca di bulan Mei, tentu menimbulkan pertanyaan pula!. Jawabannya tentu beragam. Namun, salah satu argument yang dapat saya berikan, bahwa dewasa ini masyarakat  Aceh mulai haus terhadap bacaan budaya inti keacehan. Hikayat adalah salah satu inti budaya Aceh yang jarang ditulis orang. Akibatnya, prihal  hikayat semakin gelap. Karena itu tulisan mengenai Hikayat Aceh perlu diperbanyak oleh para penulis Aceh. Masih adakah yang berminat???. Rangking  paling atas pada bulan Juni 2011 adalah “Lagu Anak Aceh Tempo Dulu”. Ini mungkin karena banyak diantara pembaca yang ‘bernostalgia’ atau ada pula generasi muda yang mau mengenali “sejarah masa kecil” orangtua mereka!.

Selain tulisan-tulisan yang terpampang di deretan teratas, dari   319   tulisan dalam blog saya, hanya beberapa tulisan saja yang pernah dibuka/dibaca peminatnya sepanjang setahun lalu, yakni sebagai berikut:  1) Kisah Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis ke Malaka.   2) Milihat Propinsi Daerah Istimewa Aceh dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.   3) Tambeh Tujoh Blah.    4) Syariat Islam di Aceh pada Abad ke 19.    5) Tukok Jok Tukok U, Na Buet Na Bu.    6)  Aceh Kaya Obat Tradisional?.    7) Baca Al Qur’an dengan Lagu Pidie!.

8) Hikayat Nabi Yusuf.    9) dan lain-lain.    10). Yayasan Rancage, Bergegaslah Datang ke Aceh!.     11. Pakaian Aceh.    12.  Undang-undang Kerajaan Aceh Darussalam. 13)  Dari “Seminar Kebangsaan Tulisan Jawi” di Malaysia.  14)Ternyata jenis Hikayat dan Cae Aceh tidak jadi pilihan bagi para peminat blog saya. Apa mau dikata!?.

Dalam kegiatan budaya Aceh ini,  Jelas – jelas  saya kalah dan blog Tambeh/Bek Tuwo Budaya:  betul-betul  gagal total!!!.

Demikianlah!. Mudah – mudahan blog ini terus berlanjut……Insya  Allah, Amiinn!.

Bale Tambeh Darussalam,   16 Buleuen  Apam 1432

16  Rajab 1432 H

18   Juni   2011   M

Iklan

2 pemikiran pada “Ayo, Menuliskan Aceh di Internet! – II

  1. luar biasa, adat ngon budaya Aceh waresan indatu harus beutoi-beutoi ta jaga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s