Menyambut “International Seminar Malikussaleh” : Seandainya Sejarah Walisongo Diseminarkan di Aceh!

            Menyongsong International  Seminar

            Malikussaleh:  Past, Present and Future

            di Lhokseumawe, Aceh – Indonesia

                     11 – 12 Juli  2011         

 Seandainya Sejarah Walisongo Diseminarkan di Aceh!

                                        Oleh: T.A. Sakti

        Anda tak perlu  heran membaca judul di atas. Sebagai bangsa Indonesia ( di Aceh ) kita memang dituntut untuk memahami  sejarah Tanah Air; termasuk di dalamnya sejarah Walisongo. Jadi Walisongo tidak mutlak milik masyarakat Jawa. Apalagi dalam penelusuran sejarah asal-usul Walisongo, ternyata asal mula sebagian mereka berasal dari Aceh, yakni Kerajaan Samudra-Pasai.

         Demikianlah yang tersurat dan tersirat dalam berbagai bentuk “ literature”, baik  dalam babad, serat,  carita, lagenda,ketoprak, tembang-tembang, nyanyian dolanan anak,buku-buku,majalah,filem dan sebagainya. Kesemua sumber itu sepakat, bahwa sebagian Walisongo itu betul-betul berasal dari Aceh.

          Namun, sekitar akhir  tahun 60-an pendapat yang berbeda mulai muncul. Sejauh yang saya amati, pendapat yang berlainan itu  ditulis  dalam beberapa buku yang kemudian dikutip dalam majalah dan suratkabar. Dalam ‘versi baru’, sejarah Walisongo sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Samudra-Pasai di Aceh.

         Pada umumnya, para penulis sejarah Walisongo versi baru ini bukanlah membantah  keterkaitan kehidupan Walisongo dengan Aceh, melainkan tidak menyinggung samasekali, bahwa asal-usul mereka dari kerajaan Samudra-Pasai.

         Salah satu contoh versi baru yang yang paling kontroversial  mengenai hal itu terdapat dalam buku yang ditulis Prof.Ir. Slamet Mulyana yang menyebutkan bahwa delapan orang dari Walisembilan berasal dari Cina. Serta raja Islam pertama di Jawa adalah juga asal Cina, yakni Raden Patah atau yang bernama asli Jin Bun atau Cek Ko Po.

 Berdasarkan perkembangan itulah, saya berpendapat sudah tiba saatnya diadakan sebuah seminar sekala besar; bertaraf intersional di Aceh dengan pokok bahasan Sejarah Walisongo.

         Dalam seminar itu nanti, semua penulis yang ‘berminat’ pada sejarah Walisongo  perlu  dilibatkan, baik asal Aceh maupun dari luar Aceh. Mengundang pihak pro-kontra  mengenai asal-usul Walisongo  amatlah  penting ,dalam upaya mewujudkan  sejarah Walisongo yang lebih berbobot;  tidak asal-asalan alias beujitheele kafe(agar diakui  dunia).

          Hanya saja, para  penulis sejarah generasi lama  asal Aceh  yang berminat pada sejarah Walisongo   hampir semuanya telah berpulang ke rahmatullah. Mereka itu adalah

Dada Meuraxa, H.M.Zainuddin, Tgk. M.Junus Jamil, Prof.A.Hasjmy, dan Tuwanku Abdul Jalil, sayangnya mereka

tidak menampilkan regenerasi pengganti. Buku dan tulisan  karya merekalah yang masih kita wariskan. Peminat sejarah Aceh  generasi baru  pada umumnya tidaklah mampu  seperti generasi lama. Tidak sebuah buku pun dapat dihasilkan kelompok ini secara pribadi. Buku-buku yang mereka tulis lebih merupakan kegiatan kelompok dan umumnya termasuk proyek pemerintah. Mereka lebih berperan sebagai ‘juru bicara’ yang mengulangi dan menyebarkan kembali isi buku dari para penulis lama. Maka dari Aceh, kelompok inilah yang dapat diundang ke seminar besar Walisongo itu.

            Pilihan undangan terbanyak tentu dari luar Aceh, terutama dari Jawa. Memang ada  seorang  sejarawan lain  dari luar  Jawa yang amat ‘mencintai’ sejarah Walisongo , yakni Prof.Dr. Hamka, namun beliau pun telah meninggal dunia. Banyaknya penulis sejarah Walisongo asal  Jawa adalah wajar. Sebab, kesemua makam para wali itu adalah di Jawa, tersebar mulai Jawa Timur sampai ke Jawa Barat.

           Selain itu, tradisi penulisan sejarah wali juga cukup kuat di Jawa, berlangsung terus-menerus dari abad keabad. Diantara manuskrip terkenal tentang Walisongo adalah Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Serat Walisongo karya Ronggo Warsito, Kitab Walisongo karya Sunan Dalem alias Sunan Giri II,dan  Naskah dari Klenteng Sam Po Kong. Kecuali naskah terakhir; kesemua manuskrip di atas mengakui sebagian Walisongo asal Aceh dan kerajaan Campa adalah kerajaan Jeumpa di Aceh pula, dan sama sekali bukan negeri Campa di Negara Kamboja.

Bila para penulis mengenai Walisongo tempo dulu yang menulis dalam bahasa Jawa cukup banyak, begitu pula dengan penulis kisah Walisongo di era Republik Indonesia sekarang juga tidak sedikit. Kini mereka menulis dalam bahasa Indonesia. Buku-buku karya mereka beredar di seluruh Tanah  Airku  Indonesia  dan bahkan ke manca Negara.

        Oleh karena itu; sekiranya  Seminar Internasional tentang    WALISONGO  benar-benar dilaksanakan di Aceh, maka para penulis buku Walisongo dari Jawa perlu lebih banyak diundang ke seminar itu!.  Semoga!!!.

H. Rosihan Anwar dan Sejarah Aceh – Mengenai Asal-usul Walisongo dari Kerajaan Samudra – Pasai

                    H. Rosihan Anwar dan Sejarah Aceh

*Beliau meninggal, Kamis, 14 April 2011 di Jakarta

 

                                     Oleh: T.A. Sakti

 

 

       Haji Rosihan Anwar bukan   hanya terkenal dengan julukan  “wartawan  tiga zaman”, tetapi beliau diakui pula sebagai budayawan, sastrawan dan juga sejarawan. Tulisannya mengenai sejarah dapat kita baca dalam  sejumlah buku, baik yang khusus sejarah maupun  yang bersifat “bunga rampai” serta dalam berbagai majalah dan media koran lainnya.

         Salah satu  tulisan beliau yang telah saya simpan lebih 23  tahun adalah sebuah kliping koran Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta tertanggal 15  Maret  1988  halaman “Opini” dengan judul “ Kerajaan  Islam Samudera-Pasai di TVRI” Mengapa saya begitu setia menyimpan ‘koran bekas’ yang bahkan sudah  berbau   lumpur tsunami Aceh ini?. Alasannya tak lain, hanya karena amat sedikit saya menjumpai para pengarang di Indonesia yang  mengaitkan sejarah Wali Songo di Jawa dengan asal-usul mereka di Aceh, tepatnya  dari Kerajaan Samudea-Pasai.

          Diantara sedikit penulis Indonesia yang berbuat demikian adalah Prof,Dr. Hamka, Solichin Salam,  H.M. Zainuddin , Prof.A.Hasjmy dan H.Rosihan  Anwar sendiri. Sementara sebagian   penulis Indonesia yang lain, samasekali tidak menyebut lagi Kerajaan Samudra-Pasai, ketika mereka meriwayatkan kehidupan Walisongo yang kesemua kubur beliau berada dipulau Jawa itu

           Dengan telah meninggalnya H. Rosihan Anwar di Jakarta, 14 April 2011 yang lalu (baca:”Wartawan’Catatan Kaki Sejarah’ Itu Telah Tiada”, Serambi Indonesia,  Jum’at, 15 April 2011 halaman 1), maka  sejauh yang saya maklumi  telah “habislah” para penulis sejarah Islam Indonesia yang   ‘menghubungkan’  sejarah Walisongo di Jawa dengan asal-usul mereka dari  Kerajaan Samudra Pasai – karena Prof.Dr. Hamka, H.M. Zainuddin,  Prof.A.Hasjmy dan Solichin Salam telah duluan meninggal dunia -. Dengan demikian “putuslah jaringan sejarah” penyebaran Islam antara Aceh dengan Jawa. Padahal sejak lama jalinan sejarah itu memang  suatu fakta sejarah yang tidak diperdebatkan lagi tentang kesahihannya. Hampir semua kitab babad, serat yang ada di Jawa mengisahkannya. Begitu pula dengan cerita  rakyat di Jawa seperti ketoprak, termasuk “ketoprak humor” yang pernah disiarka RCTI beberapa tahun lalu juga menceritakannya.

 

            Prof.Dr. Hamka  dalam  bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan   dicetak di Singapura menyebutkan, “ banyaklah putera Pasai  meningggalkan kampung halamannya, terutama sejak dua kali serangan yang menyedihkan, pertama dari Siam, kedua dari Majapahit. Dan akhirnya di tahun 1521 diserang pula oleh Portugis. Kerajaan Majapahit yang keras mempertahankan kehinduannya itu, sehingga menyebabkan negeri Pasai terpaksa mengakui takluk kebawah naungannya, menyebabkan beberapa anak Pasai pergi merantau ketanah Jawa sendiri, terutama ke Jawa Timur dan menetap disana. Jika negerinya sendiri telah terbakar, dibakar oleh suatu kekuasaan besar, anak Pasai itu telah pergi ke hulu kekuasaan itu, ke daerah   kekuasaan Majapahit sendiri dan mengembangkan  pula cita-citanya di sana. Dengan suatu ajaran rohani yang murni, Majapahit telah mereka perangi pula, bukan dengan  senjata. Apa yang mereka tanamkan  itulah kelaknya yang akan besar  dan kukuh, menjelma   menjadi Kerajaan Islam Demak.

       Seorang di antara anak  Pasai itu ialah Falatehan, atau Fatahillah, atau bernama juga Syarif Hidayatullah, datang ke Jawa sebab negerinya diserang Portugis ( 1521 ). Mulanya menjadi panglima perang dari Kerajaan Islam Demak untuk menaklukkan Jawa Barat, Kerajaan Galoh dan Pajajaran, dan akhirnya menjadi pendiri dari pada dua Kerajaan Islam  sesudah Demak, iaitu Bantam dan Cirebon” (baca: buku karya Prof.Dr.  Hamka yang sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu, “Sejarah Umat Islam”, edisi baru, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 2005 halaman  708 – 709)

           Masih dalam buku yang sama, pada halaman  745 Prof.Dr. Hamka melanjutkan lagi:”Tersebut perkataan, bahwasanya raja negeri Campa itu beranak dua orang perempuan. Yang tertua bernama Darawati diambil isteri oleh Angkawijaya Raja Majapahit. Itulah yang lebih terkenal dengan sebutan  Puteri Campa itu. Dan anak perempuannya yang seorang lagi kawin pula dengan seorang penyair Islam dari Tanah Arab, maka mendapatlah putera Raden Rahmat.

 Kalau benar bahwa Campa itu bukan yang di Annam Indo-China, tetapi di Aceh, iaitu negeri Jeumpa, sudah tidak pelak lagi bahwasanya Raden Rahmat, adalah keturunan Arab datang dari Aceh.

     Dikirimlah Raden Rahmat  itu oleh nenek Raja Campa (Jeumpa) ke tanah Jawa dan singgah dua bulan di Palembang, Lalu diajaknya  Aria Damar;  Adipati Majapahit  memeluk Islam. Aria Damar memeluk Islam dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian Raden Rahmat meneruskan perjalanan ke Jawa”.

 

 

         Solichin Salam, dalam bukunya “Sekitar Wali Sanga”, Penerbit Menara Kudus, Semarang, 1974,  juga mengakui bahwa sebagian wali itu punya asal-usul dari Kerajaan Samudera-Pasai. Penulis lain, Umar Hasyim, dalam bukunya “Sunan Giri”, Penerbit Menara Kudus, Semarang, 1979 di halaman 21 menyebutkan:”Maulana Ishak diberi tugas oleh Zawiyah Cot Kala untuk menyebarkan Islam ke Jawa. Beliau kawin dengan salah seorang puteri Blambangan. Dari perkawinan itu beliau dikaruniai seorang  putera yang bernama Raden Paku yang kemudian  bergelar Sunan Giri”.                                                     

           Kalau merujuk kepada pendapat- para pengarang tersebut di atas serta beberapa tulisan lepas lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa enam orang dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa adalah berasal dari Aceh. Beliau-beliau itu adalah: .1. Maulana Malik Ibrahim, 2. Malik Ishak (Sunan Giri), 3. Ali Rahmatullah/Raden Rahmat (Sunan Ampel), 4. Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang), 5. Masaih Munad (Sunan Drajat), dan 6. Syarief Hidayatullah/Fatahillah (Sunan Gunung Jati).

Beberapa sumber menyebutkan, bahwa pada masa  Kerajaan Samudra-Pasai di bawah pemerintahan  Sultan Zainal Abidin Bahian Syah (± 797 H/1395 M), sebuah Tim Dakwah Islam yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim telah dikirimnya ke pulau Jawa

          H. Rosihan Anwar juga berpendapat demikian. Pada peringantan Hari Israk Mikraj tahun 1988,   H. Rosihan Anwar menjelaskan lewat TVRI-Jakarta dan beberapa suratkabar antara lain sebagai berikut: “Masuknya Islam ke Jawa adalah karena  usaha juru dakwah dari Pasai. dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke 14, ke 15 dan ke-16 Masehi, maka empat wali berasal dari Samudra Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Wali pertama adalah Malik Ibrahim yang wafat dan dimakamkan di Gresik tahun 1419; beliau seorang saudagar Persia, berasal dari Gujarat, India.

Akan tetapi wali kedua yang muncul pada pertengahan abad ke-15 bernama Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang makamnya terdapat di Kampung Arab di Surabaya, berasal dari Pasai. . Beliau wafat kira-kira tahun 1481. kedua putranya, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Bonang yang kemudian bermukim  di Tuban dan juga menjadi wali, pun berasal dari Pasai.

Terakhir dari wali songo adalah Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Fatahillah atau Falatehan, lahir di Basma, Pasai tahun 1490. setelah menjadi wakil kerajaan Demak di Banten, Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon pada tahun 1552,  beliau wafat tahun 1570.

Orang  sedikit sekali menyadarinya, tetapi memang demikianlah faktanya,  bahwa 4 (empat)  dari   9 (sembilan)  wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa berasal dari Samudra Pasai”. Demikianlah pendapat H. Rosihan Anwar tentang asal-usul Walisongo (Lihat : “Kerajaan Islam Samudra Pasai  di TVRI” oleh: H. Rosihan  Anwar, Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 15 Maret 1988 halaman 4/Opini).

 

Dewasa ini, sudah semakin langka para penulis sejarah Islam di Indonesia yang menghubungkan kisah Walisongo dengan negeri Samudra-Pasai di Aceh. Menurut kebanyakan penulis “sejarah” sekarang, agama Islam yang menyebar ke seluruh Nusantara bukanlah  mulai bergerak dari Aceh, melainkan dari Kerajaan Campa( di negara Kamboja – sekarang). Oleh hal demikian, maka hilanglah “jaringan Aceh” sebagai tempat mula bertapaknya Islam di Indonesia seperti yang diyakini selama ini.  Menurut pengarang tempo dulu, negeri Campa adalah Kerajaan Jeumpa yang terletak di wilayah Bireuen, di  Aceh sekarang;  bukan kerajaan Campa yang terdapat di negara Kamboja( baca:”TV Malaysia Telusuri Jejak Campa di Aceh”, Serambi Indonesia, Jum’at, 15  April  2011  halaman  10/Nasional). Sejarah Kerajaan Jeumpa, memang  belum begitu jelas sosoknya hingga hari ini. Sebagai seorang anak, dulu yang pernah saya dengar  hanya Hikayat Putroe Jeumpa ( Hikayat Putri Jeumpa) yang diperebutkan oleh raja Cina, tetapi gagal. Membaca ucapan C atau J dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe, yaitu Jim, memang nyaris tak ada beda, sehingga boleh saja orang membaca Kerajaan Campa, kalau dalam bahasa Melayu/Indonesia atau Jeumpa, bila dalam bahasa Aceh.

 Sebuah buku terbaru tentang Walisongo, yang berjudul “Sejarah Walisongo – Misi Pengislaman di Tanah Jawa”penerbit Grha Pustaka, Yogyakarta, dapat menjadi bukti ‘terbaru’  pula bagi kita, bahwa para penulis kisah Walisongo dewasa ini samasekali tidak menyinggung lagi Kerajaan Samudra-Pasai; ketika mereka mengisahkan riwayat Walisongo. Buku ini ditulis oleh Budiono Hadi Sutrisno, seorang sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip)- UGM Yogyakarta yang amat produktif menulis berbagai buku. Ternyata buku “sejarah Walisongo” ini menjadi buku  ‘best seller’/ laku-keras yang mulai diterbitkan tahun 2007, namun sudah mengalami cetakan ke 9  pada  Januari 2010. Dalam buku ini juga tidak sekali pun menyebut Kerajaan Samudra-Pasai sebagai tempat asal sebagian Walisongo.

.Sebuah buku lain yang telah lama beredar, cetakan ke-4 terbitan Bandung (1996) “Seri Wali Songo” yang ditulis Arman Arroisi juga berpendapat serupa mengenai  asal-usul wali songo.  Karena buku ini ditulis berseri, maka setiap orang wali ditulis dalam sebuah buku khusus/tersendiri dengan buku berbentuk lebar dengan huruf dan illustrasi gambar yang besar-besar.Pada buku yang dikhususkan kepada anak-anak in, Sunan Ampel disebutkan berasal dari negeri Campa di Kamboja. Singkat kata, baik buku bacaan anak-anak maupun buku bacaan orang dewasa  yang menyangkut kisah Walisong dewasa ini;  semuanya telah ‘memberi talak tiga’  kepada kerajaan Samudra-Pasai.

Padahal dalam buku “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, Grafiti Pers, Jakarta, 1986, menyebutkan Sunan Ampel berasal dari Aceh. Buku yang semula berbahasa Belanda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia; ditulis oleh   dua sejarawan Belanda, DR. H. J. De Graaf dan DR. TH. G. TH. Pigeaud.

Mengenai asal-usul Sunan Ampel dari  Campa, kedua  sejarawan Belanda ini  tidak menganggap negeri Campa yang berada di negara Kamboja,  tetapi negeri Jeumpa yang terletak diwilayah Bireuen sekarang. Begitulah  ‘arus sejarah’ yang berkembang sekarang, bahwa sejarah Kerajaan Samudra-Pasai “ semakin tenggelam” dari jalur riwayat Walisongo di Tanah Jawa.

            Sebelum masalah asal-usul Wali Songo dari Aceh semakin gelap, alangkah baiknya digerakkan suatu upaya untuk menelusuri kembali sejarah wali-wali itu mulai dari Aceh sampai  ke  pulau Jawa. Sebagai langkah awal saya mengajukan beberapa saran. Pertama,

agar dilakukan cetak ulang semua buku yang pernah mengaitkan sejarah Waisongo dengan negeri asal mereka; Kerajaan Samudra-Pasai  seperti buku-buku karya Prof.Dr. Hamka, Solichin Salam, H.M. Zainuddin, Prof. A,Hasjmy,H.  Rosihan Anwar dan lain-lain. Kedua,

buku-buku hasil cetakan itu perlu disebarkan ke berbagai Perpustakaan sekolah dan pustaka umum. Ketiga, mendesak pihak berwenang buat mengadakankan  Seminar Internasional tentang  Sejarah Walisongo, yang dilangsungkan di Banda Aceh. Keempat, memproduksi Film dokumenter/sinetron mengenai kisah profil Walisongo, yang isinya mengandung asal mula kehidupan sang wali di Kerajaan Samudra-Pasai.

            Pihak mana yang paling bertanggung jawab bagi terwujudnya semua saran tadi.

Menurut saya banyak pihak yang wajib melestarikan sejarah Islam di Indonesia, yaitu:

1. Pemerintah Negara Republik Indonesia.

     Betapa tidak!. Sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang bermula di Aceh lantas berkembang ke seluruh persada tanah air Indonesia- bahkan kesegenap wilayah Asia Tenggara – merupakan “benang merah” yang amat kuat yang telah merajut persatuan nasional Indonesia, akibat persamaan sejarahnya. Bila benang merah ini ‘putus’, maka terganggulah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

       Sebagai sebuah bangsa besar, pemerintah kita jangan mengharapkan bangsa lain yang akan melestarikan sejarah kebangsaan kita. Misalnya, buku “Sejarah Umat Islam” karya Prof.Dr.Hamka yang dicetak ulang di Singapura setelah diterjemahkan ke bahasa Melayu, merupakan sumbangan bangsa luar bagi pelestarian sejarah nasional kita. Begitu pula dengan usaha TV Malaysia yang sedang merekam  jejak Sejarah Kerajaan Jeumpa/Campa di Aceh; termasuk pula hadiah bangsa serumpun/Melayu bagi memperteguh identitas bangsa kita.

Sebagai bangsa yang ‘malas bergerak’ kita jangan hanya pandai “demo dan mengomel”, bila saudara di negara jiran kita bertindak!. Kita tentu masih ingat, bahwa beberapa jenis kesenian dan benda budaya Indonesia;  telah diklaim milik negara Malaysia!!!.

 

2. Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darussalam.

     Sejarah awal perkembangan Islam di Indonesia/Asia Tenggara dimulai dari Aceh. Hal ini bukanlah dongeng, tetapi fakta sejarah. Banyak pendakwah dari Aceh berangkat ke berbagai pulau di Nusantara buat menyiarkan agama Islam merupakan fakta sejarah pula. Namun, bila sekarang kesemua “jaringan sejarah Aceh”itu  telah ‘diputuskan’ orang, tentu amat rugi bagi citra baik Aceh sebagai sumber awal berkembangnya Islam di Nusantara. Apalagi bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang kini sedang menampilkan diri sebagai negeri  Syariat Islam, dengan hilangnya jejak-jejak Islam  tadi, tentu bagaikan akar Syariat Islam di Aceh telah tercerabut/tercabut pula.Padahal di masa lalu Aceh terkenal dengan gelar ‘Negeri Serambi Mekkah” yang tentunya didukung berbagai fakta sejarah di masa silam.

 

3. Dunia Islam.

     Berbagai lembaga Islam di tingkat dunia, seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI),  Rabithah Alam Islamy dan Lembaga Kebudayaan Islam lainnya wajib melestariakan kebudayaan Islam yang tersebar di seluruh dunia. Kini, yang diketahui umum   hanya negara-negara atau lembaga non muslim yang telah berjasa melestarikan budaya Islam. Sementara negara-negara Islam yang kaya raya, sibuk menghabiskan dana buat bidang politik  saja!

Akhirul kalam, Innalillahi wainna ilaihi raji’un, semoga arwah H. Rosihan Anwar diterima baik di sisi Allah Swt, Aminn!!!

  • Penulis, peminat bidang kewartawanan dan sejarah, tinggal di Banda Aceh.

Catatan : saya tidak keberatan bila tulisan ini diringkas oleh redaktur Serambi, sesuai kebutuhan !.

 

 

 

 

 

 

 

Peran Aceh Masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia ( PDRI ) Perlu di “Nasionalkan” Kembali!!!

 Peran Aceh masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia ( PDRI )  Perlu di  “Nasionalkan” Kembali!!!

                    Oleh: T.A. Sakti

Mencermati Dialog sejarah dengan pelaku sejarah A.K. Jakobi dan pembacaan puisi bertema sejarah oleh L.K.Ara di Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, Unsyiah, Banda Aceh, Kamis siang, 5 Mei 2011  amat menggugah saya sebagai peminat sejarah. Betapa tidak!. Sebab, belum lewat sebulan lalu( 12/4)  di Kampus Darussalam  yang dijuluki “Jantung Hati Rakyat Aceh” ini juga telah berlangsung seminar sejarah dengan tema yang sama, yakni “Peran Aceh dalam Perang Kemerdekaan Republik Indonesia ( 1945-1949)

dengan narasumber tak tanggung-tanggung pula, yaitu Prof.Dr. Darni M.Daud, MA selaku   Rektor Unsyiah dan Dr, Ahmad Farhan Hamid,MS sebagai  Pembicara Kunci,yang kini berjabatan Wakil Ketua MPR RI.

         Sebagai peminat sejarah, saya bersyukur sekaligus terharu; karena masih ada elit-elit kita  yang mencintai sejarah nasional bangsa Indonesia yang perkasa itu. Memang sekarang, kita tak dapat lagi ‘menikmati’ cerita-cerita kegagahan rakyat  Aceh mempertahankan kemerdekaan RI,  yang dimuat dalam koran-majalah sehari-hari. Namun dengan adanya seminar atau dialog sejarah itu, berarti ‘ketandusan kisah sejarah’ bagi masyarakat kita agak terobati juga. Dulu, ketika Prof.A. Hasjmy, T.A. Talsya, Tuwanku Abdul Jalil,  Tgk. Hasballah Aneuk Galong,BA masih sehat walafiat, masyarakat Aceh tak pernah sepi dilingkari artikel-artikel sejarah Aceh yang dimuat dalam suratkabar Harian WASPADA-Medan, bulletin,dan majalah. Kini, ‘sungai sejarah Aceh’ itu  tak mengalir lagi, setelah semua ‘sejarawan’ tersebut di atas berpulang ke rahmatullah. Kapankah lahir pengganti mereka?.

            Kosongnya  penulis sejarah dalam media-massa itu, memang telah membawa dampak pada pemahaman sejarah  bagi generasi muda Aceh sekarang. Hal ini terlihat pada dialog sejarah dengan pelaku sejarah A.K.Jakobi tersebut di atas,ketika seorang mahasiswa memberi komentarnya, bahwa ia nyaris tak mengetahui sejarah Aceh karena tak diajarkan ‘secara khusus’ di sekolah-sekolah.

              Problema lain yang menjerat sejarah Aceh kontemporer – khusus peran Aceh dalam perang kemerdekaan RI – adalah gaungnya hanya sebatas wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Sampai ke batas Aceh- Sumatera Utara (Sumut), maka berhentilah kisah heroik rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan RI 1945-1949. Orang di seberang Aceh, nyaris tak tahu samasekali perihal itu.

          Buktinya,sewaktu saya masih mahasiswa di jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM dulu, ternyata nyaris tak ada  pemahaman sejarah kontemporer Aceh

di kalangan teman-teman saya di sana. Tentang perang kemerdekaan RI, mereka hanya tahu peran arek-arek Surabaya,kisah lautan api di Bandung, “sepasang mata bola” di Yogyakarta serta Bung Tomo dan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Perang RI masa itu. Perihal keberhasilan  Konferensi Meja Bundar(KMB) yang menyebabkan kemerdekaan Indonesia diakui Belanda; para sahabat saya itu, hanya tahu kesemua itu  berkat kepiawaian para diplomat Indonesia.

       Padahal fakta sejarahnya tidaklah demikian. Dalam hal  suksesnya KMB itu, peran Aceh amat menentukan

Perihal ini terangkum dalam  makalah Dr.Ahmad Farhan Hamid,MS, Prof.Dr. Darni M.Daud,MA dan A.K.Jakobi tersebut di atas. Namun sayang, mereka yang di luar Aceh tak  “mengakui”/ belum  mengetahuinya

Walaupun ditulis singkat, sebenarnya pengakuan terhadap peran Aceh itu masih dapat ditelusuri. Dalam buku “Peran TNI AU dalam Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI)” terbitan 2001 dijelaskan begini:

“Belanda menangkap para pejabat tinggi RI, termasuk KSAU Komodor Suryadarma, kemudian mengasingkannya ke Pulau Bangka. Dengan tidak adanya pimpinan AURI, PDRI mengangkat Opsir Udara I Hubertus Suyono menjadi KSAU PDRI. Diangkat pula Opsir Udara I Soejoso Karsono, yang berkedudukan di Kutaraja, Aceh, sebagai KSAU cadangan I dan Opsir Udara II Wiweko Supono di Rangoon, Burma, sebagai KSAU cadangan II
Digambarkan dengan jelas, betapa banyak stasiun radio yang dimiliki TNI AU masa itu, untuk mendukung komunikasi perhubungan PDRI. Yaitu: stasiun radio “ZZ” di Kototinggi untuk melayani daerah Sumatera bagian tengah; stasiun radio pemancar “UDO” yang mengikuti gerakan gerilya PDRI; stasiun radio “PD-2” di Kutaraja dan “NBM” di Tangse, Aceh; pemancar radio “SMN” di pesawat Dakota Indonesian Airways, yang beroperasi di Rangoon, Burma; serta stasiun radio “PC-2” yang digunakan Kolonel TB Simatupang di Playen, Wonosari. Melalui stasiun-stasiun radio AURI, semua berita perjuangan diketahui negara-negara lain”. Jadi, waktu itu peran Aceh masa PDRI bukan hanya diketahui selingkup nasional, melainkan  sampai ke tingkat internasional.

Belasan tahun yang lalu pernah pula  saya simak  suatu dialog sejarah  pada TVRI-Pusat Jakarta. Acara “Forum Dialog” itu berlangsung  hari Jum’at tanggal 25 Desember 1998 pukul 21.30 Wib. Pokok pembahasan termasuk topik langka, yaitu sejarah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) sejak  22 Desember 1948 s/d 13 Juli 1949).

Peserta dialog malam itu adalah para pelaku sejarah yang terlibat langsung dengan peristiwa sejarah itu. Yaitu Umar Said Noor mantan Wakil Kepala Stasiun Radio AURI Bukittinggi, Aboebakar Loebis mantan Diplomat RI, Bapak Halim mantan Wakil Gubernur Militer Sumatera Barat, dan didampingi oleh seorang sejarawan terkemuka Prof. Dr. Taufik Abdullah serta dengan moderator TVRI Bapak Purnama.

Lewat penuturan langsung dari para pelaku sejarah PDRI dari Sumatera Barat, barulah saya yakin bahwa peran  Aceh semasa Perang Kemerdekaan RI memang cukup penting.

Beberapa fakta sejarah  yang khusus menyangkut “Peran Aceh”  yang terungkap pada dialog  PDRI di TVRI  adalah tentang peran beberapa pemancar radio di Aceh yang telah memperlancar tugas-tugas dari pemerintahan PDRI. Nama-nama pemancar radio itu ialah Radio Tangse, Radio Kutaraja dan Radio Rimba Raya. Disamping itu, juga disinggung tentang kedatangan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Aceh untuk menjumpai Mr. Sjafruddin Prawiranegara  selaku Ketua PDRI yang merangkap Menteri Pertahanan/Menteri Penerangan dan Menteri Luar Negeri ad Interim (Kemudian dijabat oleh A.A. Maramis).

Dalam kedua sumber yang bukan berasal dari pelaku/penulis sejarah asal Aceh itu barulah  terungkap, bahwa alat propaganda pihak kita bukan hanya radio Kutaraja dan Radio Rimba Raya, tetapi ada sebuah pemancar lagi, yaitu Radio Tangse. Lantas hati kita berdesah, masih adakah “situs sejarah Radio Tangse” setelah wilayah Tangse terkena musibah  banjir bandang baru-baru ini?.

 Sekarang, tergantung kesediaan  Pemda Aceh dan Rektor Unsyiah untuk mengangkat sejarah Peran Aceh dalam Perang Kemerdekaan RI ke tingkat nasional. Jangan sampai nanti  generasi muda Aceh akan bergumam:”Itu ‘kan celoteh pelaku sejarah asal Aceh saja!. Kalau memang fakta sejarah, tentu disebut pula dalam buku sejarah nasional Indonesia!”..Bagaimana cara mengangkat Sejarah Aceh ke tingkat nasional?. Tentu saya tak perlu mengajari air mengalir!!!.

*Penulis, adalah peminat sejarah, dan tinggal di Banda Aceh.

Konfirmasi terakhir dari Panitia Seminar Nasional Sejarah Perjuangan Tengku Sulung – Calon Pahlawan Nasional Asal Riau

PANITIA PENGARAH

SEMINAR NASIONAL SEJARAH PERJUANGAN

PANGLIMA BESAR RETEH TENGKU SULUNG

          Di Tembilahan 24 – 25 juli 1999

Sekretariat : d/a Jl. Ali Kelana No. 3 Telp. (0761) 22941, 35531 Fax. (0761) 41677

Pekanbaru 28131

Nomor             : 06/Pan/VIII/99                                                                         Pekanbaru, 13 Juli 1999

Lamp               : –

Hal                   : Konfirmasi terakhir

Kepada Yth.

Bapak  : Drs. T. Abdullah Sulaiman

Di –

Banda Aceh

Dengan hormat, sesuai dengan hasil pertemuan Tim Pengarah Tingkat I dan Tim Pelakasana Seminar Nasional Perjuangan Panglima Besar Retah Tengku Sulung tanggal 13 Juli 1999 bertempat di Ruang Rapat Wakil Gubernur KDH Tk I Riau, dihasilkan antara lain :

  1. Pelaksana Seminar Nasional dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 Juli 1999 di Tembilahan-Indragiri Hilir.
  2. Tanggal 23 Juli 1999  rombongan berangkat bersama-sama ke Tembilahan, dan bagi pemakalah yang bertolak dari Batam, maka segala sesuatunya telah diatur oleh Panitia Pelaksana Tk II melalui perwakilannya di Batam.
  3. Bagi Bapak/Ibu berangkat pada tanggal 23 Juli 1999 dari tempat masing-masing panitia penjemputan sudah dipersiapkan di lapangan udara Simpang Tiga Pekanbaru.
  4. Bagi pemakalah akomodasi dan konsumsi bagi pemakalah disediakan oleh Panitia selama di Pekanbaru. Tempat akomodasi di Hotel Rauda Jalan Tangkuban Perahu Pekanbaru.
  5. Kiranya Bapak/Ibu dapat memberikan  informasi keberangkatan dari tempat masing-masing, jadwal pesawat dan jenis pesawat yang digunakan kepada kami.
  6. Diharapkan Bapak/Ibu dapat menggunakan biaya sendiri untuk keberangkatan ke Pekanbaru, sesampainya di Pekanbaru akan diganti oleh Panitia.
  7. Bagi Bapak/Ibu berminat untuk mengunjungi lokasi Benteng Panglima Besar Reteh Tengku Sulung, kunjungan akan dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 1999.

Demikianlah dan atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

            Panitia Pengarah Tk I

                                    Ketua                                                                                      Sekretaris

                                                                                           stempel

                            Prof. H. SUWARDI, MS                                                                   Drs. ISJONI, MSi

Surat Pengumuman dari Panitia Seminar Sejarah Tengku Sulung – Calon Pahlawan Nasional Asal Riau

PANITIA PENGARAH

SEMINAR NASIONAL SEJARAH PERJUANGAN

PANGLIMA BESAR  RETEH TENGKU SULUNG

Di Tembilahan 24 – 25 juli 1999

Sekretariat:    d/a   Jl. Ali Kelana No. 3 telp. (0761) 22941 , 35531 Fax. (0761) 41677

Pekanbaru 28131

 

Nomor                  : 01/pan/VI/99                                                                                                                  18   Juni   1999

Lamp                     : –

Hal                          : Pelaksanaan Seminar

 

 

Kepada  Yth.

Bpk/Ibu/Sdr.    Drs . T. Sulaiman

Di

             Yogyakarta

             – – ———-

 

 

Dengan hormat, sesuai dengan keputusan rapat Tim Pengarah TK I Propinsi Riau dan Panitia Pelaksanaan TK  II  Indragiri Hilir Seminar Nasional Perjuangan Panglima Besar Reteh Tengku Sulung  tanggal 15 Juni 1999 di Ruang  Rapat Wakil Gebenur  Riau Kepala Daerah Tingkat I Riau Bidang Pemerintahan dan Kesra, maka disepakati antara lain :

 

1. Pelaksanaan Seminar Nasional Sejarah Perjuangan Panglima Besar Reteh Tengku Sulung  akan             dilaksanakan tanggal   24-25 Juli 1999, bertempat di Tembilahan   Indragiri Hilir.

2.  Biaya transportas (PP), akomodasi dan sebagainya menjadi tanggung jawab kami, akan tetapi kami mengharapkan kiranya  Bapak/Ibu/Sdr dapat menggunakan   uang sendiri terlebih dahulu untuk transportasi dari tempat masing-masing ke Pekanbaru dan akan diganti setelah menyerahkan tanda bukti tiket kepada panitia.

3.  Tanggal 23 juli 1999 pukul   09.00 semua pemakalah dan jemputan berangkat dari Pekanbaru menuju Tembilahan.

4.  Tanggal   1 Agustus 1999 akan  dilaksanakan peninjaun lapangan  ke lokasi Benteng Panglima Besar Reteh Tengku sulung.

5.  Informasi keberangkatan Bapak/Ibu/Sdr.  tentang pesawat yang digunakandan ,  jadwal keberangkatan  sesegara mungkin dapat disampaikan kepada kami,  sehingga memudahkan kami untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang di perlukan.  Serta  tangal keberangkatan kembali ketempat masing-masing.

 

Demikianlah  dan atas kerjasamanya   diucapkan

 

                                                                                                  Tim Pengarah Tk I  Riau

                                             Ketua                                                       Sekretaris

 

                                                                             Stempel panitia  

 

 

                             Prof. Drs. H. SUWARDI, MS                            Drs.  ISJONI, MSi

 

 

*M o h o n   d I k I r I m    n o m o r  r e k e n I n g     B a n k   d e n g a n   a l a m a t  d I  a t a s

 

 

 

 

Menanggapi Surat Panitia Seminar Sejarah Tengku Sulung – Calon Pahlawan Nasional Asal Riau

Banda Aceh,  15 Juli 1999

Kepada  Yang Terhormat

Bapak   Prof. Drs. M. Suwardi, MS

Jl.  Ali  Kelana  No .3

Pekanbaru,  Riau

             Assalamu’alaikum   Wr. Wb

             Dengan hormat,

            Menanggapi surat Bapak tertanggal  3 Juli 1999 yang saya terima hari Jum’at,   9 Juli 1999, maka saya memberitahukan  bahwa :

  1. Saya  mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas keikhlasan Bapak menerima usul-usul saya; baik hal penyerahan makalah, tak keberatan membawa seorang teman pendamping maupun   kesediaan mencetak skripsi saya.
  2. Menurut informasi dari Kantor agen tiket “Garuda” bahwa pesawat Garuda tidak melayani(tak ada) jalur Medan-Pekanbaru.  Dari Medan ke Pekanbaru dilayani pesawat “Merpati”. Jadi, untuk ke Pekanbaru saya akan menumpang pesawat Garuda dan Merpati.

Insya Allah, dengan ditemani seorang teman; saya akan berangkat dari Banda Aceh pada hari Rabu, 21 Juli 1999 dengan menumpang “Garuda” ke Medan. Setelah menginap semalam di Medan, pada pukul  6.000  WIB. pagi kami akan menumpang “Merpati”  menuju  Pekanbaru.  Insya Allah, pada pukul . . . . . hari Kamis, 22 Juli 1999 kami telah tiba di Pekanbaru.

  1. Nomor  Rekening Bank milik saya adalah :

Bank Exim Kankas Unsyiah No.  ……………………… Wisma I Unsyiah Darussalam Banda Aceh. Dengan nama Drs. Teuku Abdullah. SmHk.

         Demikianlah informasi dari saya kali ini . . .

                                                                                           Salam

                                                                                        T.A. Sakti

                                                           ( Drs. Teuku Abdullah Sulaiman, SmHk ) 

                                                             Darussalam, Banda Aceh 23111 

Konfirmasi dari Panitia Seminar Nasional Sejarah Perjuangan Tengku Sulung – Calon Pahlawan Nasional Asal Riau

 

PANITIA PENGARAH 

SEMINAR NASIONAL SEJARAH PERJUANGAN

PANGLIMA BESAR RETEH TENGKU SULUNG

Di Tembilahan 24 –25 Juli 1999

Sekretariat : d/a Jl. Ali Kelana No. 3 Telp. (0761) 22941, 35531 Fax. (0761) 41677

Pekanbaru 28131

Nomor           : 04/Pan/VII/99                                                                  Pekanbaru, 3 Juli 1999

            Lamp              : –

            Hal                  : Konfirmasi

Kepada Yth.

Sdr. Teuku Abdullah .Sulaiman ,SMHK

Darussalam, Banda Aceh

Dengan hormat, membalas surat saudara tanggal 14 Juni 1999, maka bersama ini kami sampaikan bahwa :

  1. Pelaksanaan Seminar Nasional Perjuangan Panglima Besar Reteh Tengku Sulung akan dilaksanakan pada tanggal 24-25 Juli 1999 di Tembilahan-Indragiri Hilir.
  2. Makalah kalau tidak mungkin untuk dikirimkan sebelum pelaksanaan Seminar, maka dapat saja saudara bawa pada waktu akan ke Tembilahan.
  3. Kami tidak keberatan andaikata saudara membawa teman untuk didampingi, karena sangat diperlukan.
  4. Kiranya saudara dapat mengirimkan nomor Rekening Bank untuk memudahkan pengiriman uang biaya transportasi dan lainnya.
  5. Kiranya saudara dapat memberikan informasi tentang keberangkatan dan pesawat yang ditumpangi, sehingga memudahkan kami untuk menjemput.
  6. Kami siap untuk mencetak skripsi saudara, apabila saudara percayakan kepada kami.
  7. Kami sangat prihatin akan musibah yang saudara alami, semoga akan ada hikmahnya, dan kepada kita semua

Demikianlah atas perkenannya saudara untuk hadir pada acara tersebut kami ucapkan terima kasih.

                                                                                                     A.n. Ketua                                  

Sekretaris Tim Pengarah

 

                       

   Drs. ISJONI,MSI