Surat Kepada Yayasan Habibie Center

Banda Aceh, 3 Ramadhan 1421

29 November 2000

Kepada Yang Terhormat

Pimpinan The Habibie Center

Jl. Kemang Selatan No. 98

Jakarta Selatan 12560.

Asslamu’alakum Wr.Wb

Dan salam sejahtera……

Pertama-tama saya mengucapkan “Selamat Berpuasa” kepada para staf The Habibie Center (THC) yang berpuasa, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT… Amin!.

The Habibie Center sudah dikenal umum sejak sebelum didirikannya. Hal ini bisa terjadi karena Bapak Habibie sendiri yang memberi keterangan pers sewaktu dikunjungi Gusdur yang baru saja terpilih sebagai Presiden hari itu. Pada pertemuan itulah yang disiarkan langsung RCTI Pak Habibie mengatakan, bahwa setelah berhenti jadi Presiden beliau akan mendirikan sebuah LSM bidang politik dan HAM… inilah The Habibie Center.

Pada mulanya, saya yang bergiat di bidang “Budaya Daerah” hampir sama sekali tidak merasakan ada kaitanya dengan LSM yang mentereng ini. Kegiatan pertama dari THC yang saya baca di media massa, bahwa THC akan memberi beasiswa kepada mahasiswa S2 dan S3. Jadi belum nampak hubungannya dengan kegiatan saya, walaupun niat kuliah S2 memang terpendam di hati saya. Kemudian saya memperoleh alamat THC dari mahasiswa PT Swasta Abulyatama. Terbaca di situ bahwa The Habibie Center adalah : “Yayasan pembinaan, pengembangan sumber daya  manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi”. Sebatas ini, mulai ada secuil kaitannya, yakni dalam hal ‘ilmu pengetahuan’ menurut seorang seniman tari, jelaslah bagi saya bahwa THC   mulai  ada kaitannya dengan “kebudayaan” (Republika, 17-9-2000 hlm.2). Sebenarnya, keterangan   dari seniman tari  itu masih megambang/belum jelas ; namun saya sengaja memberanikan diri menyurati LSM yang membanggakan ini.

Bapak Habibie dan The Habibie Center yang terhormat….

Sejak tahun 1992/8 tahun terakhir, saya mempunyai kegiatan sampingan selain tugas pokok saya mengajar di FKIP Unsyiah Banda Aceh. Kegiatan sambilan itu ialah mengumpulkan naskah-naskah lama sastra Aceh dan lalu menyalinnya/transliterasi ke huruf Latin. Hingga  kini sudah 20 naskah selesai saya alihkan dari huruf Arab Melayu/aksara Jawi ke huruf Latin.

Terlibatnya saya dalam mengurus naskah-naskah lama ini adalah atas keprihatinan pribadi saya terhadap nasib naskah kuno sastra Aceh yang terbengkalai; tak ada yang peduli lagi. Menurut saya, ketidak pedulian masyarakat Aceh lagi “informasi” dari naskah-naskah tersebut. Sebab, mereka masih juga mencari informasi serupa dalam buku-buku modern yang umumnya tertulis dengan huruf Latin. Dalam hal ini saya berkesimpulan, bahwa ada baiknya semua naskah berhuruf Arab Melayu itu disalin/dialihkan ke dalam huruf Latin. Karena sebagian besar/mayoritas masyarakat Aceh sekarang tidak bisa lagi membaca tulisan berhuruf Arab Melayu/huruf Jawi.

Tulisan dari naskah-naskah lama itu tertulis dalam bentuk syair bahasa Aceh. Jenisnya ada tiga, yaitu Nadham/Nazam, Tambeh dan Hikayat. Nazam isinya lebih  mirip dengan kitab Agama, sedangkan Tambeh berisi nasehat/tuntunan agama dan nasehat bermasyarakat pada umumnya. Sementara Hikayat berisi cerita-cerita/kisah yang pada zaman dulu menjadi salah satu sarana pendidikan dan hiburan bagi masyarakat. Para pegarang dari naskah-naskah itu umumnya tidak mencantumkan namanya, namun dapat kita perkirakan adalah para ulama-penyair dan pujangga-pujangga.

Menurut penilaian saya, isi dari naskah-naskah itu masih aktual dan bisa memberi manfaat kepada masyarakat, terutama dalam hal akhlak dan budi-pekerti pergaulan bermasyarakat. Saya yakin, sekiranya generasi muda Aceh belum terputus hubungannya dengan naskah-naskah lama itu selama + 35 tahun akibat ketidaktahuan huruf Arab Melayu, mungkin (?) tidak akan terjadi apa yang sempat disaksikan-serta ikut ditanggapi Presiden Habibie dalam dialog “Aceh” di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Waktu itu generasi muda “menilai’ bodoh orang tua.!

Sejak 8 tahun bergiat di bidang alih aksara/transliterasi ini, ternyata Nazam-Tambeh dan Hikayat yang sudah berhuruf latin itu belum mampu saya sebarkan kembali kelingkungan masyarakat Aceh. Padahal, kalau bisa  digandakan/diterbitkan dalam bentuk BUKU SAKU setebal rata-rata 60 halaman, hasil kerja saya sudah menghasilkan 80 jilid.

Berbagai pihak di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Jakarta telah saya surati/datangi, tetapi nyaris tak ada yang sudi membantu dana. Hanya Bank Dunia Perwakilan Jakarta yang pernah membantu (foto copy terlampir) dengan meminta saya menterjemahkan 4 naskah dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia. Maka lewat surat ini, saya memohon bantuan dana dari The Habibie Center untuk melestarikan dan menggandakan naskah-naskah yang sudah selesai saya alihkan ke huruf latin itu.

Demikianlah surat permohonan ini, semoga terkabul hendaknya..

Wassalam ;

T.A. Sakti

(Catatan kemudian: Sejak tahun 1991 sampai 28 Juli 1999, saya sekeluarga pernah tinggal/kost  di rumah yang kemudian dijadikan Perumahan Yayasan Habibie Center, Darussalam,  Banda Aceh; tempat menampung Yatim-Piatu korban tsunami Aceh.

Bale Tambeh,  9 Maret 2012, pkl. 11.00 wib, siang, T.A. Sakti ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s