Surat Kepada Pemimpin Redaksi Harian “WASPADA” – Medan

Bucue, Kota Bakti, 29 Sept 1988

Kepada Yth.

Bapak Pimpinan Redaksi

Harian WASPADA

Di

MEDAN

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Rahmat dan kurnia Allah SWT, semoga senantiasa dilimpahkan kepada kita sekalian, sehingga dapat terlaksanakanlah semua maksud dan cita-cita kita. Amiin.

Rencana saya semula, bermaksud merampungkan suatu ‘laporan’ kepada Harian WASPADA yang dapat langsung saya kirimkan dari kota Yogyakarta. Tetapi Tuhan menentukan lain dari keinginan saya. Ditengah-tengah saya sedang menyusun laporan, kakak kandung saya datang ke Yogya untuk menjemput/membawa saya pulang ke Aceh. Sebagai bapak ketahui, setelah mengalami tabrakan kenderaan roda empat, keadaan fisik saya sudah cacat bagian kaki, maka sebab itulah saya perlu dijemput untuk pulang ke Aceh. Begitulah suasananya, sehingga ‘laporan’ “Aceh Dipandang dari Luar”  atau wawancara ini saya susun di dua buah Daerah Istimewa, yakni di daerah ISTIMEWA Yogyakarta dan di Propinsi Derah ISTIMEWA Aceh (rumah saya sendiri). Mulai halaman 1-19 dan 26-28 saya susun di kota Yogyakarta sementara “wawancara” dari halaman 20 – 25 saya susun kembali di rumah saya sendiri di desa Bucue, Kota Bakti (Aceh).

Kepada bapak pengasuh Hr. WASPADA sangat saya harapkan untuk sudi kiranya mengirim kembali kepada saya ‘laporan’ ini sekiranya tak layak dimuat dalam Hr. WASPADA. Prangko pengembalian terlampir. Dan sekiranya, dapat dimuat dalam Hr. WASPADA, saya mohon dikirimkan beberapa eksemplar Hr. WASPADA yang memuat laporan ini, karena teman-teman yang ikut memberi pendapat sebagai nara sumber laporan ini (kesemua mereka di Yogyakarta) sangat bermaksud/ingin membacanya kembali, setelah dimuat dalam koran.

Bapak Pengasuh Hr. WASPADA yang baik.

Setelah saya pulang ke Aceh dari Yogyakarta, saya bermaksud menulis sesuatu yang merupakan oleh-oleh dari rantau atau buah tangan dari seberang. Tulisan itu, tentu saja berkaitan dengan pengalaman ‘pengamatan’ yang saya lakukan. Isinya akan saya kaitkan Aceh – Yogya. Dan rencana judulnya adalah: Dari Daerah ISTIMEWA KE DAERAH ISTIMEWA. Saya sedang ‘melacak’, kira-kira koran/majalah mana yang bersedia memuat artikel panjang saya itu. Sekiranya Hr. WASPADA memuatnya, saya mohon diberi kabar…

Mungkin perlu juga saya jelaskan, bahwa meskipun saya sudah kembali berada di Aceh, namun tulisan-tulisan yang saya tulis TETAP MEMAKAI ALAMAT YOGYAKARTA. Sekurang-kurangnya hingga penghujung/berakhir tahun 1988 ini. Ini, dikarenakan kesemua ide, catatan atau garis besar dari tulisan-tulisan tersebut, telah dipersiapkan di Yogyakarta. Kerangka dasar tulisan yang telah saya catat sejak awal di Yogya itu, jumlahnya kira-kira 30 judul lagi yang belum saya selesaikan.

 

Wassalam,

T.A. Sakti

 alias

 

Drs. T. Abdullah Sulaiman Bucue

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s