Almarhum Prof.H.A. Madjid Ibrahim berasal dari Keluarga Ulama

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim berasal dari keluarga Ulama

II

Laporan: T.A. Sakti

 

Saksi mata terhadap kunjungan Bapak Kemerdekaan Malaysia itu, masih hidup hingga saat ini. Beliau adalah istri Tgk. H. Ibrahim sendiri, yang masih sehat wal‘afiat sekarang. Teungku Abdurrahman Putra Al Haj, sangat berjasa dalam mempersatukan Negara-negara Islam. Jalan pertama yang beliau tempuh, yaitu dengan mengadakan MTQ tingkat internasional setiap tahun di Kuala Lumpur. MTQ internasional adalah Negara Malaysia yang merintisnya buat pertama kali. Karena jasanya, Teungku Abdurrahman pernah diangkat oleh negara-negara Islam, menjadi presiden pertama Persatuan Negara-Negara Islam sedunia. Sekarang beliau bergiat di bidang dakwah Islamyah di Malaysia.

Perjalanan sejarah memang tidak selamanya datar. Demikian juga dengan perkembangan dayah Baro Bung Asam ini. Penambahan bangunannya tidak pernah terjadi lagi. Kelesuan sudah menjadi nampak dalam tahun empat puluhan. Hal demikian terus berlangsung hingga Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Para santri (ureueng meudagang) yang belajar di sana ketika itu sudah menyusut. Hanya agak menjadi ramai dengan anak dari Tgk. H. Ibrahim sendiri. Dalam masa permulaan kemerdekaan Indonesia, Tgk H. Ibrahim memegang jabatan rangkap. Disamping sebagai pemimpin dari sebuah pondok pesantren, beliau juga sebagai Ketua Barisan Mujahidin Seulimum. Pembentukan Barisan Mujahidin ini, adalah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Selanjutnya Tgk. H. Ibrahim diangkat pemerintah sebagai kepala Mahkamah Syari’ah Kecamatan Seulimum.

Pada hari ahad, menjelang shubuh tahun 1952, Tgk. H. Ibrahim berpulang ke rahmatullah di komplek dayahnya sendiri, di Lamjruen Seulimum, kira-kira 43 km dari kota Banda Aceh kejurusan Banda Aceh – Medan. Jenazah beliau di kebumikan di Lamjruen, yang sekarang berdampingan letaknya dengan makam Prof. Tgk. H. Abdul Madjid. Tgk. H. Ibrahim meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Tgk. Nyak Nur Halimatussa’diyah, Tgk.. Nyak Bulgia dan Pocut Khadijah. Sedangkan anak beliau 10 orang. Mereka itu ialah; Tgk. Abdul Djalil, Prof. Tgk. H. Abdul Madjid Ibrahim, Adnan Ibrahim, SH (tugas sekarang di airport kemayoran Jakarta), Asy’ariah di Seulimum, Jamaluddin (Guru SMA 1 Kramat Raya Jakarta Pusat), Ainal Mardhiah (Jakarta), Mahyuddin (Karyawan Dolog Jakarta) M. Dahlan (Madrasah Ibrahimiyah Seulimum), Mustafa Ibrahim (Biro Rektor Universitas Syiah Kuala) dan Muhammad Ibrahim (telah meninggal dunia tahun 1970).

Sepeninggal Tgk. H. Ibrahim, pimpinan pesantren Dayah Baro Bung Asam Lamjruen beralih kepada putra beliau yang tertua, yakni Tgk. Abdul Djalil. Sejak masa itu dayah tersebut dirobah nama baru, yaitu “Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah Seulimum.” Pemberian nama baru tersebut, sebagai mengenang jasa (meuseumpeuna) perjuangan tokoh sebelumnya, yaitu Tgk. H. Ibrahim. Tgk Abdul Djalil sebagai tokoh yang mewarisi tugas ayahnya untuk melanjutkan kehidupan pesantrennya. Dilahirkan tahun 1922. Tahun 1930 beliau memasuki sekolah rendah selama 5 tahun. Dalam tahun 1936 beliau memasuki sekolah Taman Siswa di Jeunieb Aceh Utara hanya satu tahun saja. Dari sekolah Taman Siswa Jeunieb, Tgk. Abdul Djalil pindah ke sekolah Taman Siswa Banda Aceh, ia juga belajar agama pada Tgk. Usman Lam Panah di Lam Bhuek Banda Aceh, hingga tahun 1943. Kemudian beliau kembali ke kampung asalnya dan belajar pada orang tuanya sendiri. Karir Tgk. Abdul Djalil dalam bidang pengabdian masyarakat dan negara dimulai tahun 1949. Beliau diangkat sebagai pegawai negeri pada Kantor Urusan Agama di kecamatan Seulimum sampai pensiun. Tahun 1971 menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Istimewa Aceh. Dan disamping itu beliau sangat aktif dalam masalah-masalah sosial di daerahnya. Hanya baru setahun pimpinan Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah berada di tangan Tgk. Abdul Djalil, pekerjaan itu terpaksa beliau tinggalkan. Beliau menyingkir ke Banda Aceh dan terus ke Medan. Pengungsian beliau kesana, karena keamanan di Aceh masa itu tidak aman akibat meletusnya Peristiwa Aceh tahun 1953. Setelah kekeruhan di Aceh jernih kembali, barulah kegiatan pesantren tersebut diaktifkan kembali. Tahun 1965 Pesantren Dayah Ibrahimiyah mulai membangun dua gedung sekolah, yaitu gedung Ibtidaiyah & Tsanawiyah. Dan sejak itu pula, sistim pendidikan di Dayah tersebut ditambah dengan beberapa mata pelajaran ilmu pengetahuan umum. System kurikulum baru ini, sebagai cara untuk turut menyesuaikan diri dengan perobahan zaman. Gedung Ibtidaiyah berukuran 24 x 6 x 7 meter, sedang Madrasah Tsanawiyah luasnya 21 x 6, 25 m. ke dua gedung yang semi permanen ini, biaya pembangunannya sebagian besar dari swadaya masyarakat. Tahun ajaran 1968/1969 ke dua gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (saat itu pejabatnya adalah Letnan Kolonel Hasby Wahidy). Kurikulum pendidikan di madrasah itu dibagikan dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Tingkat Bustanul Athfal (Taman Kanak-Kanak)
  2. Tingkat Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
  3. Tingkat Tsanawiyah (Tingkat Menengah)

Di masa permulaan, ketiga macam pendidikan ini berjalan lancar. Semua rintangan yang coba menghalangi perjalanannya, dapat disingkirkan. Tapi pada tahun kedua, badaipun datang silih berganti, hingga tak sanggup tenaga menahannya. Kemunduran ini timbul sebagai akibat didirikan sebuah Madrasah Tsanawiyah swasta di kota Seulimum. Hampir semua lulusan MIN atau MIS yang ada di Seulimum, masuk ke Madrasah Tsanawiyah yang baru saja dibangun itu. Karena para lulusan Madrasah Ibtidaiyah baik negeri maupun swasta hanya sedikit sekali, hingga tidak memungkinkan mencukupi untuk murid-murid dua Madrasah Tsanawiyah. Pimpinan Dayah Ibrahimiyah mengambil kebijaksanaan untuk menutup Madrasah Tsanawiyahnya. Bustanul Athfal juga mengalami nasib yang sama. Dia juga terpaksa ditutup berhubung di kota Seulimum telah dibuka sebuah taman kanak-kanak pula. Kalau sudah ada pihak lain yang mau menampung dan memenuhi kebutuhan rakyat, lebih baik kita beralih ke bidang lain, agar ruang lingkup usaha memenuhi aspirasi rakyat semakin lebar. Untuk sementara sekarang, hanya tinggal tingkat Ibtidaiyah milik Dayah Ibrahimiyah. Madrasah Ibtidaiyah ini telah menghasilkan lulusannya sebanyak 6 kali. Para lulusan pertama dan kedua tidak mengikuti Ujian Negara. Tapi yang 4 kali selanjutnya berkesempatan mengikuti ujian penghabisan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri, yang semua pesertanya mencapai nilai atau angka memuaskan. (bersambung). 

Catatan kemudian: Mudah-mudahan seri I  & III   dari laporan yang pernah dimuat  Harian”Waspada” di tahun 1981 ini dapat saya postingkan segera!. Bale Tambeh, 24  Mei  2011 poh 9.35 malam Rabu, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s