Tanggal Keramat Yang Dilupakan, Mengapa?

TANGGAL KERAMAT

YANG DULUPAKAN, MEGAPA ?

 Oleh:  T.A. Sakti – Mhs. FHPM – Unsyiah/IV

Masih GRAK GRUK dan krak kruk dalam telinga kita sampai hari ini, akan tulisan sahabat kita sdr. H.Ayub Sani Ibrahim dalam Peunawa no. 1, Thn ke II, May 1980 hal. 26. Dihalaman tersebut kolom 2, baris 31-35, disana terdapat beberapa pertanyaan dari penulisnya tentang embel-embel “ISTIMEWA” dari Propinsi Daerah Istimewa Aceh, yang kita cintai bersama ini. Tulisan ini merupakan sekelumit jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kalau masih belum terjawab semuanya, penulis pun tak lupa mohon maaf, maklum saja andapun tahu dan penulis pun tahu, apa sebabnya ?

TANGGAL 26 MEI adalah “hari yang sangat penting” bagi kita rakyat Indonesia yang berada di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, karena pada tanggal itulah pemerintah pusat memberikan secara resmi gelaran atau julukan DAERAH ISTIMEWA bagi Aceh. Kita mengenangkan, bahwa kita lebih super dari daerah lain, tapi hanya sekedar mengingatkan kita akan masa-masa sukar dan pahit di waktu silam. Dari renungan ini, kita harapkan supaya partisipasi kita dalam pembangunan “manusia Indonesia yang seutuhnya” itu akan lebih bergairah lagi. Tulisan ini, juga sekaligus menyambut dan memperingati “genap  satu   abad usia Hikayat Prang Sabi yang jatuh pada tahun 1980 ini. Hikayat Prang Sabi sangat berjasa bagi kita karena dengannya telah menggelorakan semangat perjuangan rakyat Aceh, ketika menentang Intervensi dari kolonial Belanda dulu.

Hikayat Prang Sabi ini dikarang oleh Teungku Syik Pante Kulu dan beberapa Ulama lainnya dalam tahun 1980. Maka sudah sewajarnyalah apabila Pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah Daerah Istimewa Aceh, mengadakan Upacara Peringatan yang “sesuai dan wajar” dengan jasa-jasa yang telah disumbangkan oleh Hikayat Prang Sabi ini dan juga mempertimbangkan pemberian gelar kehormatan sebagai “PAHLAWAN NASIONAL”, kepada pengarang Hikayat Prang Sabi, yaitu Teungku Syik Pante Kulu pada tahun 1980 ini. Rasanya tidaklah cukup dengan mencantumkan nama beliau pada sebuah pusat Pendidikan di Daerah saja yaitu Pesantren Teungku Syik Pante Kulu. Mudah-mudahan, nanti janganlah aka nada dari anak-anak cucu kita yang mencap kita generasi yang hidup tahun 1980 ini, sebagai bunyi pepatah : “Kacang yang lupa akan kulitnya”..

Tentang embel-embel istimewa ini, Gubernur Aceh Prof. H.A. Majid Ibrahim menyatakan bahwa Daerah Aceh mempunyai keistimewaan dalam tiga hal. Istimewa dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan peradaban/kebudayaan. Dalam bidang keagamaan kita sebagai hamba Allah, marilah kita lebih meningkatkan penghayatan kepada dalil-dalil keagamaan dalam rangka lebih meningkatkan peribadatan masing-masing. Hal itu dinyatakan dalam sambutannya pada acara penyambutan abad ke 15 Hijriah, bertempat di SD Lamlom, LhokNga Kabupaten Aceh Besar (Waspada 4 Desember 1979).

Pemberian atau penganugerahan Daerah Istimewa bagi Aceh, bukanlah tanpa alas an, tapi ia punya landasan berpijak yang kuat sekali di Negara kita yaitu UUD 1945. Hal ini tercantum dalam pasal 18 UUD 1945 yang berbunyi : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah Besar dan Kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-Undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistim pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat istimewa”.

Ketika memperingati Ulang Tahun ke 10 Hari Daerah Istimewa Aceh Panglima Kodam Iskandar Muda, Brigjend TNI T.Hamzah (kini Almarhum) pernah mengatakan : “Hak asal-usul yagn bersifat hidup dan bersifat Istimewa di daerah Aceh, adalah pandangan hidup rakyatnya yang telah turun-temurun dan tetap dijaga dan dihormati, yaitu : kebaktiannya kepada Allah, hidup beragama dan mati beriman”. Berarti ada peri hidup, peri laku, tutur kata dan perbuatan rakyat Aceh sehari-hari adalah bersendikan Agama, sebagaimana telah digambarkan oleh hadis majanya : Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan kitabullah dan Sunnah Rasul. Dalam hal ini telah merupakan kesadaran hukum adat atau hukum rakyat. Jadi adat peri laku hidup rakyat Aceh sehari-hari adalah sesuai dengan ajaran Islam. Maka sesuai dengan Kondisi dan Aspirasi rakyat yang hidup dan berlangsung lama dalam kehidupan masyarakat sehari-hari serta berdasarkan dan mengindahkan hak-hak asal-usul yang hidup dan bersifat istimewa di daerah Istimewa Aceh, maka pemerintah pusat dengan keputusan Perdana Menteri RI tgl. 26 Mei 1959 telah memberikan status keistimewaan bagi Propinsi Aceh dengan sebutan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, dengan Keistimewaannya di bidang paradatan/kebudayaan, agama dan pendidikan”. Demikian kata T. Hamzah yang pernah jadi Panglima itu. Disamping julukan daerah istimewa yang sedang kita peringati ulang tahunnya yang ke 21 ini, Aceh juga memiliki beberapa gelar lainnya yang juga mempunyai sejarah yang tersendiri, gelar-gelar tersebut adalah SERAMBI MEKKAH, DAERAH MODAL, TANAH RENCONG DAN BUMI ISKANDAR MUDA.

Dalam rangka memperingati Ulang Tahun Daerah Istimewa Aceh ke 10 di tahun 1969, A.Hasjmy yang pada tgl 26 Mei 1959 masih sebagai Gubernur Aceh pernah berucap tentang detik-detik sejarah menjelang tgl 26 Mei 1959 sebagai berikut : “Pada waktu mengadakan Musyawarah Pleno ”, dengan pemberian hak-hak otonom yang, terutama bidang Agama, Pendidikan, dan Peradatan/Kebudayaan.

Ketika itu semua kepala tunduk bersyukur, dan berpasang mata menitik air hening. Menjelang magrib tgl. 26 Mei 1959, rapat Pleno terakhir dari Musyarakah yang penting itu ditutup dengan resmi dan kami semua peserta Musyawarah menangis haru sambil bersalam-salaman. Pada waktu malamnya diadakan resepsi perpisahan dengan Missi Hardi (dari Pusat/Jakarta-Pen), para hadirin kelihatan berseri-seri mukanya ketika di umumkan bahwa musyawarah telah menelurkan hasil-hasil yang konstruktif…”

Tetang kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, memang siapapun tidak dapat memungkirinya. Hal ini adalah terbukti sejak masa-masa R.I. baru saja di Proklamirkan, kesetiaan itu telah ditunjukkan. Sebagai buktinya ialah : Dalam Pembukaan Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh, KH. Fatah Jasin sebagai Menteri Penghubung Alim Ulama merangkap Menteri Agama Ad Interim mengatakan : “Terlebih dahulu kami sampaikan syukur kepada Allah SWT, bahwa kita pada saat ini dapat menghadiri Resepsi Iftitah atau Pembukaan dari Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh ini. Aceh sebagaimana yang kami kenal pertama dari buku-buku sejarah Aceh, kami percaya sampai pada waktu ini, bahwa keistimewaan dari pada Aceh ini akan dipegang seterusnya. Keistimewaan yang berupa TASUBUDDINI mendarah dan mendaging dalam soal Agama Islam. Sehingga segala hal keistimewaaan itu pada waktu Revolosu Nasional kita, ada hal yang merupakan istimewa pula dari daerah-daerah lain di seluruh Nusantara kita, ialah : Daerah Aceh yang pertama menyumbang satu kapal terbang untuk pemerintahan Jokya pada waktu itu”, demikian diungkapkan oleh K.H. Fatah Jasin dalam upacara pembukaan Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh di tahun 1960.

Prof Dr Slamet Muljana ketika menjelaskan  keberanian rakyat Aceh sewaktu melawan Belanda dulu pernah menulis : “Yang menjiwai patriotisme para pejuang Aceh ialah semangat mempertahankan Aceh Raya yang pembentukannya telah dimulai oleh Sultan Iskandar Muda. Patriotism Aceh yang dilapisi dengan fanatisme Agama terbukti tidak gampang dipatahkan oleh kekuatan Barat. Patriotisme  yang demikian itu hingga sekarang masih mendarah mendaging pada putra dan putri  Aceh.

Bidang pendidikan yang juga mendapat hak istimewa di Daerah Aceh ini, sekarang menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Siswa dan pelajar yang  lulus tiap akhir tahun, hampir-hampir tidak tertampung pada sekolah-sekolah lanjutannya. Khusus bagi Perguruan Tinggi yang berlokasi di Darussalam, mulai tahun 1979 boleh kita katakan sudah menanjak lebih dewasa. Pembukaan Fakultas Kedokteran di tahun 1979 merupakan bukti kedewasaan itu. Rasanya keistimewaa bidang Pendidikan di Aceh tidak sempurna, kalau sekiranya Fakultas Kedokteran tidak dibuka hingga hari ini. Sudah hampir 20 tahun sejak Darussalam dibuka,  putra-putri Aceh terpaksa merantau keluar daerah jika bermaksud melanjutkan studi di bidang kedokteran. Pergi keluar daerah merupakan problema yang sukar sekali, disamping akan memerlukan biaya yang sangat tinggi juga ketabahan dari si mahasiswa harus sanggup bertahan. Karena itu tidak heranlah kalau sampai hari ini kita masih dapat menghitung dengan jari “jumlah dokter putra-putri Aceh” yang telah berada di arena dunia perobatan sekarang. Rakyat Aceh sungguh berterima kasih kepada pemerintah yang telah mewujudkan Fakultas Kedokteran ini, sungguhpun belum menjelma sebagaimana yang kita harapkan. Jadi sekali lagi kita ucapkan “Syukur Alhamdulillah”.

Di bidang Agama juga menunjukkan perkembangan yang boleh kita banggakan. Banyak mesjid-mesjid baru yang telah dibangun ditambah lagi dengan sejumlah Mushalla dan Meunasah. Tapi yang sangat di sayangkan perkembangan pendidikan Agama,  yaitu pengajian secara khas Aceh nyatanya semakin menghilang dan lenyap. Hal ini memang telah sampai dengan apa yang diramalkan oleh Ulama besar Teungku Syik Kuta Karang lebih seabad yang lalu. Teungku Kuta Karag (Teungku Syik di Matang) dalam kitab beliau Akhbarul Karim yang disusun berbentuk Syair Aceh pernah menulis dan meramalkan sebagai berikut :

Takoh lasoun pagaui lawah

Ta rhat jubah beunaung si naroe

Akhe donya kureueng tuah

Soh Meunasah jeub-jeub nanggroe

Aneuk miet beuet hana sapat

Timu Barat Meunasah sagoe

Nyang na rame barang kapat

Oh katrouk hat troek bak gantoe

Buleuen Syakban  buleuen Ramadhan

Rame sinan Salli allai

Puasa pilheueh Fitrah hase

Mar teuduekle Meulasah sagoe

Laen nibak nyan teumpat piasan

Rame sinan malam uroe

Meu grum geudrang meutuem bude

Di deungole siri sagoe

Terjemahan bebas :

Potong lason pagar lawah

Dibikin jubah benang semua

Di akhir masa kurang tuah

Kosong Meunasah tiap-tiap negeri

Anak mengaji jarang terdapat

Timur dan Barat rata negeri

Yang agak ramai datang ke tempat (Meunasah)

Hanya pabila tiba waktunya saja

Bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan

Ramai disitu bukan kepalang

Puasa tamat Fitrahpun selesai

Maka, terbengkalailah lagi  Meunasah itu!

Selain itu ramai lagi di tempat hiburan

Ramai disana tiap ketika

Dam dum genderang, dentum  bedil

Mereka mendengarkan dari mana datang suara!

Demikian ramalan dari Teungku di Matang terhadap perkembangan dari pengajian-pengajian yang telah ada di Aceh sejak dahulu. Sekarang sungguh-sungguh sudah terjelma apa yang dikemukakan ramalan tersebut. Kita semakin prihatin akan perkembangan yang semakin merosot itu. Kalau 10 atau 20 tahun  yang lalu dihampir tiap Meunasah di Aceh, pasti ada pengajian -pengajian yang diadakan atas kegotong royongan dari masyarakat di sebuah desa, Pengajian itu ada kalanya dibiayai oleh rakyat dari desa secara “meuripe” yaitu dengan  dipungut iuran dari tiap-tiap kepala keluarga. Dan bahkan  ada pula yang diadakan dengan kesukarelaan dari ustad yang mengajar itu. Di zaman itu sungguh banyak teungku-teungku di Aceh yang mengajar secara sukarela.

Kalau kita meneliti kembali sejarah perkembangan rakyat Aceh yang sangat mematuhi adatnya, maka ternyatalah bahwa semua yang baik itu, telah berobah sejak Belanda menjejakkkan kakinya di Aceh. Hal ini akan lebih jelas kalau kita ikuti  penjelasana dari Bapak Mohammad Husein yang menulis sebagai berikut : “Bukan saya bersumpah, tetapi juga dimasa penjajahan Belanda orang Aceh pula berani meminum minuman yang memabukkan meskipun jumlahnya tidak seberapa. Minuman itu dapat dibelinya di kedai-kedai yang terdapat dalam kota-kota.

Rumah-rumah tempat melakukan yang melanggar hukum Islam dan adat Aceh, seperti berzina terdapat juga kota-kota dimasa itu. Dimasa pendudukan Jepang perbuatan yang demikian diteruskan juga, bahkan lebih parah. Kata-kata “sakaj” artinya minuman keras dan “onna” artinya nona dikenal dengan baik. Tidak malu-malu mereka meminum minuman keras yang hampir-hampir tidak pernah terjadi dahulu kala. Beruntunglah sejak zaman R.I. peminum-peminum itu banyak yang insaf dan kembali kepada ajaran-ajaran Islam. Perasaan malupun sudah mereka miliki kembali, demikian tulis Mohd. Hoesin dalam bukunya “Adat Aceh”.

MTQ NASIONAL KE XII DI BANDA ACEH.

            Sebagaimana kita ketahui, bahwa di Banda Aceh pada tahun 1981 akan berlangsung MTQ Nasional. Di kota Banda Aceh kita telah dapat merasa dan melihat usaha-usaha permulaan untuk menyambut peristiwa yang bersejarah nanti. Sudah bertahun-tahun rakyat Aceh menanti-nantikan kapankah di Bumi Serambi Mekkah ini dilangsungkan. Mereka ingin dan rindu menatap semua wajah-wajah dari Qari-qariah dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Mereka bersyukur pada Allah, karena nanti Insya Allah semua itu akan terlaksana. Mereka sewaktu tiba masanya nanti akan mengucapkan Selamat Datang dan mempersilahkan tamu-tamunya untuk melihat dan mempersaksikan segala sesuatu yang ingin mereka lihat disini. Kalau selama ini mereka ada merasa bahwa pasti ada sesuatu yang unik di Serambi Mekkah, biarlah nanti mereka mempersaksikan apa adanya di daerah ini. Kita di masa akhir-akhir ini telah sering membaca berita bahwa di Aceh khususnya di Kota Madya Banda Aceh, pihak yang berwajib sedang giat-giatnya mengusahakan agar kota Banda Aceh bebas dari maksiat. Kegiatan menghancurkan maksiat ini tidak saja di Kota Banda Aceh, tapi diperluaskan hingga mencakup seluruh DISTA dan pula yang paling kita harapkan dari pemimpin-pemimpin kita disini agar pembersihan maksiat ini dapat dilaksanakan terus-menerus, yaitu tidak saja karena mau menyambut MTQ Nasional 1981, tapi sesudah MTQ dan seterusnya. Kita sebagai warga negara yang baik dari R.I. yang kita cintai, sudah patut dan sewajarnya memberi  partisipasi yang serius bagi pembangunan negara ini dan khususnya bagi kesejahteraan  keluarga di sekitar kita masing-masing. Mudah-mudahan masyarakat adil dan makmur akan lekas tercapai. Anda pembaca tentu telah menyambut “Hari jadi Daerah Istimewa Aceh, tgl. 26 Mei 1980.

Daftar bacaan/Referensi :

  1. T.A. Talsya, 10 Tahun Daerah Istimewa Aceh, hal. 8,9 dan 18.
  2. Buku hasil-hasil Musyawarah Alim Ulama se Daerah Istimewa Aceh hal. 48.
  3. Prof Dr Slametmuljana : Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia, hal 44.

IPM-SAKTI,  Banda Aceh,  26 Mei 1980/11

                   Rajab 1400

( Baca kembali: Bulletin PEUNAWA No. 2, Juni 1980 Thn II, hlm. 35 – 40, Diterbitkan SENAT  Mahasiswa FEKON Unsyiah, Darussalam – Banda Aceh).

Catatan kemudian:  1. Dalam pengamatan lanjutan, ternyata Hikayat Prang Sabi ditulis oleh banyak pengarang, dan bukan pada tahun 1880.

                                         2. Penulis Kitab Akhbarul Karim adalah Teungku Seumatang (bukan Teungku Kuta Karang). Teungku Seumatang  kelahiran Gampong Cot,Kecamatan Sakti, Pidie(sekarang). Diberi gelar   Seumatang, karena beliau pernah “meudagang’/belajar mengaji ke Seumatang. Bale Tambeh Darussalam, 18 Mei 2011, poh 4.24 sore Wib, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s