Kisah Mantan Rektor Universitas Syiah Kuala

KAMPUS DARUSSALAM TURUT MENANGIS

Oleh : T.A. Sakti

Mhs. FHPM-Unsyiah

Sore itu, hari minggu tgl. 15 Maret 1981. Seperti biasanya, kalau hari minggu, suasana kampus Darussalam memang agak sepi. Betapa tidak, bus kampus yang digelar Robur, satupun tidak hadir kesana. Para dosen yang tinggal dalam kompleks  kampus, juga banyak yang pergi. Diantarannya pergi rekreasi. Ataupun mencari rezeki. Usaha sambilanlah ! Memang Darussalam kalau hari-hari libur kurang menarik di hati.

Sementara itu, MA juga pergi ke kota. Itulah kegiatannya setiap hari Minggu. Kota Banda Aceh, tujuh kilo meter jaraknya dari Darussalam. Setelah cukup rawon-rawon, MA mampir ke sebuah warung kopi. Dia lama nongkrong disitu. Sambil merokok pandangannya tertuju pada siaran TV, yang terletak disebuah sudut kedai. Tiba-tiba  ia tertegun.  Wajahnya yang ceria, berobah jadi sendu. “Mimpikah aku ini ?”, teriak MA dalam hati. “Oh tidaaaakk!. Ini memang kenyataan!. Astaghfirullahal’alim”, sebuah ucapan terlontar keluar dari mulut MA. Kemudian terdengar dia mengoreksi diri. “Innalillahi Wa inna Illaihi Rajiunn”. Lama MA termangu sendiri. Lamunan hanya tertuju pada yang pergi. Gubernur Aceh, Prof. A. Madjid Ibrahim menemui Ilahi. Kini lamunan MA terbang jauh, ketika almarhum menjabat Rektor Unsyiah yang pertama (1965-1973). Pribadi Almarhum sangat terkesan di hatinya. Pribadi yang penuh dedikasi untuk pembangunan. Kesemua sejarah ini terpatri dalam ingatan MA. Sebab, tokoh mahasiswa yang satu ini, memang sudah berpredikat mahasiswa ketika itu. MA melangkah meninggalkan warung kopi. Tubuhnya masih terasa lemas. Dengan menumpang bis umum 385, mahasiswa itu menuju kampus Darussalam. “Aku beruntung hari ini dapat berita baru. Biar aku jadi jagoan bicara nanti”. Hati MA gembira campur sedih, mengingat dialah yang lebih dahulu tau berita musibah tadi. Betapa kecewa hati MA, ketika belumpun sampai ke pondoknya, seorang teman memberitahukannya berita dari TV. Kemudian MA menuju rumah seorang dosen kenalannya. Disana sang dosen juga memberitahukannya bahwa Prof. A.Madjid Ibrahim telah berpulang kerahmatullah jam 16.30 WIB tadi. Disini, MA kecewa lagi. Hendak jadi informan ulung kandas. Minggu malam telah larut. Sedang MA belum tidur lagi. Kantuknya tak kunjung tiba. Sambil berbaring, dia mulai menghitung jasa-jasa Almarhum Prof. A.Madjid Ibrahim, pada Universitasnya yakni Universitas Syiah Kuala.

Ilhampun datang, MA teringat pada sebuah dokumen yang pernah disimpannya. Dia membongkar semua bungkusan-bungkusan lama yang pernah disimpannya. Dia membongkar semua bungkusan-bungkusan itu dari celah buku-bukunya dengan hati-hati. Secarik kertas koran di jumpainya. Koran tersebut adalah Harian Waspada, tertanggal berita 23-7-1978. Didalamnya tertulis riwayat hidup Prof. A.Madjid Ibrahim. Mahasiswa satu satunya yang belum tidur ini dengan penuh konsentrasi terus membaca riwayat hidup dari tokoh professor yang dikaguminya itu : “Prof.A.Madjid Ibrahim dilahirkan di Seulimum pada tanggal 19 November 1926, beragama Islam. Pendidikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1957 serta University of Columbia tahun 1961 di New York. Pengalaman/Jabatan : Pimpinan Staf Redaksi Majalah “Api Merdeka” IPJ Pusat Jokyakarta (1945-1946). TRIP Jawa Timur (1947-1949) ; Anggota PB HMI (1953-1955), Koordinator Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1953-1958). Anggota Badan Pekerja PPMI (1956-1958). Dosen Fakultas Ekonomi UI (1957-1962). Dosen Terbang Universitas Syakiakerti di Palembang (1957-1958). Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (1963-1966). Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1965-1973). Diangkat sebagai Guru Besar dalam teori ekonomi pada Universitas Syiah Kuala (1967-sekarang). Ketua Aceh Development Board (1968-1973). Anggota Dewan Pembina Golkar Dista Aceh (1970-1973). Deputy Ketua Bappenas Bidang Regional dan Daerah (1973-sekarang, 1978-pen). Angota Policy Research Team Deperdag (1971-1973).

Jabatan jabatan lain yang pernah dipegangnya antara lain : Anggota Dewan Penyantun Universitas Syiah Kuala. Anggota MPR dan anggota Badan Pekerja MPR. Wakil Ketua Panitia Pelaksana Panitia Parasamnya Purna Karya Nugraha (1974 dan 1978). Anggota Ahli Team Ahli Lemhanas (1974-sekarang, 1978-pen). Dosen Seskogab. Wakil Ketua Steering Comite untuk Regional Studies (1974 sekarang, -1978-pen). Penasehat Team Pembina Program Inpres Propinsi, Kabupaten, Desa, SD, Pasar dan Penghijauan (1974-sekarang,1978-pen). Penasehat Team Pembina Pendidikan dan Latihan Perencanaan Pembangunan Daerah (1975). Anggota Panitia Penghimpunan Bahan-bahan utnuk SU MPR. Ketua Delegasi Indonesia di dalam Asean Senior Official Meeting. Anggota Delegasi Indonesia didalam Asean Economic Minister Meeting. Anggota Advisory Council For Regional Development dari UNCED Nagoya. Wakil Ketua Team Pembina Koordinasi Urusan Timor Timur. Ketua Team Perencana Daerah Perbatasan Kalbar. Komisaris Utama PT Pesero Batama. Ketua Steering Committee Perencana Pembangunan Daerah Industri Batam. Dilantik menjadi Gubernur Aceh oleh Mendagri Amir Mahmud pada tanggal 27 Juli 1978 mengantikan A.Muzakkir Walad. (Sud).

Setelah membaca dukomen itu, getar jiwa mahasiswa MA semakin terharu dan kagum akan pemimpinnya, yang telah pergi. Pribadi Prof. A.Madjid Ibrahim, sangat erat hubungannya dengan penjelmaan Kampus Darussalam. Beliau beserta tokoh-tokoh Aceh lainnya, mendesak pemerintah pusat, agar mengizinkan di Aceh didirikan sebuah Universitas Negeri. Setelah sekian lama mereka perjuangkan, akhirnya menjelmalah apa yang sangat didambakan seluruh rakyat Aceh. Sebuah embryo dari Universitas Syiah Kuala, mulai tumbuh penuh gelora. Dan bahkan sekarang telah memiliki Fakultas Kedokteran, walaupun buat sementara hidup dalam pengasingan. Kesemua hasil yang telah diperoleh  Universitas ini, tidak terlepas dari darma bakti yang telah disumbangkan oleh Almarhum Bapak Prof. A.Madjid Ibrahim yang pernah menjadi Dekan Fakultas Ekonomi dan pula Rektor Pertama Universitas Syiah Kuala. Kekaguman MA semakin tebal, karena dia tahu sekarang, bahwa tokohya ini, bukan hanya berbakti buat daerah Aceh saja. Tapi secara nasional tidak luput dari sumbangsihnya. “Wakil Ketua Team Pembina Koordinasi Urusan Timor Timur, Deputy Ketua Bappenas Bidang Regional dan Daerah. Juga lainnya yang tercantum dalam dokumen tadi, masih tersemat dihatinya. Tanpa disadari, air mata duka turun rintik-rintik membasahi pipi MA. Tangisnya semakin tak tertahan lagi, hingga mulut MA pun, turut terpancar suara tangisan “Syeuk!, Syeuk!.,mmmmm,,mmmmm,,mmmm,’a’a’aaa,,a’a’aaa,,. Sekitar jam empat pagi, MA tertidur dengan tangisan yang dibawa tidur, mungkin pula sampai terbawa ke alam mimpinya !.

Pagi Senin, tanggal 16 Maret 1981 telah menjelma. Pagi-pagi sekali, MA sudah berada di terminal bus Darussalam. Dia mau pergi ke kota. Rencananya hendak turut bersama menyambut ketibaan jenazah Prof. A.Madjid Ibrahim dari Jakarta. Sang mahasiswa ini merasa heran. Mengapa tak sebuah Roburpun yang tiba dari kota. Dia melihat beratus-ratus siswa sekolah menengah sedang antri menunggu bus, begitu pula dengan sejumlah mahasiswa/i lainnya, yang mau ke kota. “Kasihan juga mereka”;, bisik MA dalam hati. Siswa-siswa yang sekolah di kota terpaksa bayar mahal hari itu. Mereka naik bus Damri atau bis umum 385 yang banyak sekali beroperasi dari Banda Aceh-Darussalam. Sewa Robur cuma Rp. 25, Damri Rp. 50, sedang bis 385 harus bayar Rp. 100-150, Kasihan mereka yang kebetulan tidak membawa kelebihan uang dari rumah. Memang para siswa ini, mungkin belum tahu dan mengerti, bahwa kampus Darussalam sedang berkabung bagi menghormati salah seorang tokoh pendirinya yang telah pergi. Apalagi jika anak-anak tersebut dari desa yang jauh dari Darussalam. Bagi MA sendiri masih beruntung. Ia menumpang sebuah Robur yang datang menjemput mahasiswa yang tinggal di Kampus, untuk mejemput jenazah di Lapangan Udara Blang Bintang. Dalam perjalanan, MA menghitung deretan bus yang demikian banyak jumlahnya, bagaikan deretan gerbong-gerbong kereta api yang sedang berjalan tanpa relnya. Memang di Aceh kereta api telah lama sekali gulung tikar. Dari Blang Bintang jenazah terus dibawa menuju simpang tiga, yaitu ke rumah almarhum. Dari sana, jenazah dibawa ke Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, untuk disembahyangkan. Sementara itu, jauh  sebelum jenazah itu tiba, beribu-ribu warga kota Banda Aceh, termasuk pelajar dan mahasiswanya sedang menunggu-nunggu dengan khitmat. Di sepanjang pinggir jalan, di dalam dan diluar Mesjid dipenuhi massa. Kelihatannya para petugas lalu lintas tidak berapa sukar mengatur ketertiban. Maklum saja, kedatangan massa di situ, bukanlah untuk mengacaukan. Tapi khusus untuk melihat dan memberi penghormatan di saat-saat terakhir, sebelum pemimpinnya dikebumikan. Dengan didahului laungan laram bis lalu lintas, jenazah memasuki pintu gerbang mesjid. Berdesak-desak hendak melihat usungan jenazah, yang telah dimasukkan dalam keranda berukiran indah. Dua buah payung warna kuning turut menaungi jenazah yang tengah diusung ke dalam mesjid. Tidak berapa lama sembahyang jenazahpun dimulai. Seterusnya jenazah dibawa ke Seulimum untuk dimakamkan. MA tidak ikut kesana, hanya diikutinya iringan-iringan mobil pengantar jenazah, hingga menghilang dari pandangannya.

MA kembali kepondoknya  di kampus Darussalam. Suasana kampus masih tetap sepi, hanya sesekali terdengar deruman bis 385, yang masih memecah kesunyian. “Robur tidak hadir  ke Darussalam hari ini, sungguh beruntunglah abang-abang sopir 385. Banyak duit yang tamong (masuk) saku mereka”!, pikir MA sambil sarapan. Hanya pejalan-pejalan kaki, nampak keluar dari kantin pulang kerumahnya. Tugu Darussalam yang agung itu, kelihatannya sendu. Mungkin ia sangat duka atas kemangkatan salah seorang pendirinya. Pohon-pohon akasia yang jadi lambang keindahan kampus selama ini, hanya tinggal bermenung saja. Hari itu seluruh kampus diliputi kesedihan dan tangisan. Kampus bekabung, atas kepergian seorang putra berjasa, pergi buat selama-lamanya.

MA sedang istirahat selepas makan. Dia bersandar pada sebatang akasia. Ia sedang menganalisa nasib dirinya. Sebelas tahun telah berlalu, sejak ia jadi mahasiswa. Namun kuliahnya tak kunjung selesai. Mulai sekarang ia berniat buat revolusi perobahan. Tertambatlah satu tekad bagi diri pribadi  MA, sejak peristiwa musibah itu. Ia bertekad mengikuti jejak perjuangan Prof. A.Madjid Ibrahim. Titel yang dipangku selama ini, mau dibuang jauh-jauh. Dengan penuh semangat ia berkata : “Persetan MA!! (Persetan  Mahasiswa Abadi!!!).***

Bucue, 16-3-1981/9-5-1401


 

( Baca kembali: Bulletin PEUNAWA,  Media Komunikasi Mahasiswa FEKON Unsyiah, edisi 8    Tgl.  23 Juni 1981 Thn III  hlm. 25 – 29).

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s