Hukum Yang Sedang Sakit atau Aparatnya?????

HUKUM YANG SEDANG SAKIT

ATAU APARATNYA ????????

 

Oleh : T.A. Sakti – Mhs FHPM Unsyiah

 

Motto :

–          Fiat Jastitia Ruat Coelum

(Hukum harus di tegakkan meski langit akan runtuh).

–          Dengan Sarjana Hukum kita tidak akan dapat berevolusi (Bung Karno).

 

Landasan Negara kita adalah UUD 1945, pada bagian penjelasan UUD 1945 di sebutkan bahwa Negara Indonesia berdasar atas Hukum (Rechtastaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka (Machtestaat). Setelah kita baca penjelasan dari Undang-undang dasar itu hati dan jiwa kita jadi tenteram. Hal ini karena kita telah yakin dan percaya, bahwa segala sesuatunya di Negara kita akan berjalan menurut prosedur HUKUM. Hukum diatas segala-galanya. Kita yakin bahwa dinegara Hukum sudah pasti tidak terdapat penindasan sikuat atap si lemah, si kaya atas si miskin dan kepincangan  sosial lainnya. Gambaran diatas tersebut di dalamnya pasti akan tercapai dan nikmati warga negara, jika sekiranya hukum itu benar-benar dapat di tegakkan dalam masyarakat. Tapi untuk dapat tegaknya hukum itu, merupakan suatu masalah yang sangat sukar untuk dapat dibawa kealam  kenyataan. Apalagi jika aparatnya yang bertugas menegakkan hukum sendiri tidak jujur dalam melaksanakannya. Kalau hukum masih di jadikan sebagai cinu (timba) untuk menimba rezeki dari makhluk insan yang tertindas, maka sampai DUNIA KIAMAT PUN hukum tersebut tidak akan pernah berjalan pada jalur yang sebenarnya. Tepatnya dapat kita katakan bahwa selagi masih berlaku pameo “Raseuki makhluk ateuh makhluk (rezeki makhluk atas makhluk)” dalam penyelesaian masalah hukum, maka tak usah beragan-angan bahwa keadilan hukum akan kita nikmati. Semua semboyan   dan slogan hanya tinggal diatas poster saja.

Bagaimana kisa-kisah gambaran suasana bila suatu negara telah dapat melaksanakan tuntutan hukum dengan sebenarnya ?. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini kita hanya dapat meraba-raba saja, karena kita tidak pernah melihatnya. Mau memberi contoh pelaksanaan di luar negeri, mohon ampun penulis belum pernah sekalipun pergi kesana.

Hendak kita alihkan pandangan di tempat sendiri, waaah makin lebih sukar kita dapati jawabnya. Karena disini hukum masih dalam keadaan sakit atau dengan perkataan lebih sopan, katakanlah hukum sedang kurang sehat (Seu uem asoe). “Wakl Presiden Adam Malik mengatakan bahwa Indonesia saat ini memang dalam keadaan sakit hukum, karenanya perlu ada penyehatan oleh seluruh penegak hukum baik pemerintah maupun pengacara”. “Kalau pengobatan oleh seluruh kita, pemerintah  dan pengacara pasti akan bisa  disehatkan” (Wsp 24-4-1-1981). Bila sebuah negara telah sanggup melaksanakan hukum secara murni dan konsekwen, maka rakyatnya mendapat kesentosaan disemua bidang kehidupan, mereka itu akan merasa seakan-akan hidupnya dialam kekuasaan, tidak ada lagi orang yang berpesta pora di atas kepala manusia melarat dan menderita. Negara itu akan jadi Negara Besar yang adil dan makmur, baik moral maupun modal.

Tapi apa hendak dikata, semua harapan sukar terlaksana dalam kenyataan. Hukum sedang dalam penyakitan, seperti yang telah pernah disinggung Wapres Adam Malik. Timbul pertanyaan, apakah yang sedang sakit itu hukum atau aparatnya ?. Penulis rasa hukum  sendiri tidak pernah demam atau sakit, karena ia merupakan peraturan hidup yang telah digariskan, yang memenuhi kriteria tertentu. Ia akan berjalan menurut adanya selagi aparat yang mengelolanya masih disiplin. Tetapi hukum itu akan menjadi bengkok dan cacat apabila pelaksananya bersikap curang dan sakit jiwa. Para penegak hukum yang tidak ambil pusing dengan tuntutan hukum itu sendiri, meyebabkan masyarakat konsumen hukum jadi  sasaran. Jika demikian keadaannya maka penipuan dan penggarongan dengan kedok hukum sering terjadi. Hukum telah dijadikan seluruh pengadilan tidak ada yang objektif. Menang atau kalah hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi pihak yang berperkara. Dengan demikian sebuah bunyi hadih Maja “Pancuri manok dalam totopan, pancuri intan atueh kurusi (Pencuri  ayam dalam penjara, sedang pencuri intan goyang-goyang kaki di kursinya). Kalau uang yang memegang peranan dalam segala hal, termasuk dalam bidang hukum, maka kemanakah lagi insan  yang lemah mencari keadilan.  Allah Nabi Wali peng (Yang masih tetap hanya Allah dan Nabi, sedang ahli family hanya bagi orang yang berduit). Sudah jadi kebiasaan dimana saja, bahwa orang sering menyimpang dalam mengatasi suatu masalah. Dan jadi kebiasaan pula kita hanya bertindak secara kuratif, yaitu mencegah setelah terjadi. Jarang yang melakukan secara prefentif, yakni pencegahan sebelum terjadi. Kalau negara kita mau memiliki para penegak hukum yang jujur, maka usaha mewujudkannya harus dimulai dari sekarang. Ketidak jujuran bisa timbul karena seseorang itu tipis imannya. Iman adalah suatu keyakinan hati, bahwa hidup didunia ini bukanlah hidup yang terakhir. Ada suatu adegan kehidupan lagi yang mesti kita lalui, yaitu hidup diakhirat. Untuk mencapai kehidupan yang lumayan diakhirat nanti, kita mesti bertindak disetiap masalah menurut garis-garis yang telah ditentukan Tuhan. Kita percaya semua Agama yang diakui pemerintah di Indonesia ini, menyuruh ummatnya berprilaku demikian. Karena itu untuk menciptakan para penegak hukum yang berisiplin dimasa datang, kita harus mendidik   putra-putri kita yang masih bocah sekarang, dengan ajaran agama yang mantap. Hingga memberi  bekas dalam kehidupan dimasa datang. Kalau seseorang telah berpateri begitu kuat dengan ajaran agamanya, maka jarang sekali ia akan menyeleweng dalam tugasnya. Ia tidak akan cari kesempatan dalam kesempitan. Apalagi yang mau ditegakkannya adalah keadilan. Serta yang dihadapinya setiap hari adalah orang tertindas yang mencari perlindungan hukum. Dan bukan  tidak terdapat, bahwa orang mengerti agama sering juga berbuat curang. Hal itu memang ada, tapi jarang sekali. Kita harus ingat dua perkara yang sangat sulit diatasi manusia, yaitu uang dan sex. Hingga timbul madah : “Menyo bak peng gadoh janggot, menyo bak  ……  gadoh ulama (Dalam masalah yang menyangkut uang, siapapun akan terpengaruh, demikian juga dalam hal sex).

Suatu kali dipanggil ayahnya yang terbaring sakit dirumah. Ayah dari pemuda Abu Nawas ini berpangkat Hakim Tinggi dari kerajaan di Baghdad. Sang ayah hendak mengatakan sesuatu pada anaknya, sebelum ia wafat. “Wahai anakku, coba dekatkan hidungmu pada kedua telingaku” minta sang ayah. Abu Nawas melakukan kehendak ayahnya. “Bagaimana baunya, naaakk?”, Jawab Abu Nawas. “Itulah akibat bagiku yang bekerja sebagai Hakim, Bau harum adalah karena vonis yang kuberikan tepat pada orang yang berhak. Sedang bau bangkai tikus diteliga kiri, karena vonis keputusanku salah alamat, hingga banyak rakyat teraniaya. Karena itu aku menasehatkanmu, supaya jangan terima kalau raja.( Belum lengkap, karena ada lembaran  yang hilang!).

 *Keterangan: Mhs,FHPM Unsyiah = Mahasiswa Fakultas Hukum dan  Pengetahuan  Masyarakat  Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bale Tambeh, 18 Mei 2011, jam 4.44 sore Wib., T.A. Sakti.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s