Aksara Jawi adakah Berperan dalam Kebudayaan Nasional?

Aksara Jawi  adakah  Berperan

                               dalam  Kebudayaan  Nasional?

Oleh: T.A. Sakti

 

MENHANKAM/PANGAB Jenderal TNI M.Yusuf pernah mengatakan: “merosotnya nilai-nilai budaya serta adat istiadat suatu bangsa akan membawa bangsa itu ke jurang kehancuran. Karenanya didalam keluarga harus lebih dahulu tercipta suatu tatakrama yang baik sebagai dasar dan patokan untuk tercapainya budaya dan adat istiadat”.  Pesan ini patut dihayati Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara, yang telah berlangsung dengan sukses baru-baru ini. Dalam seminar tsb telah dibahas 18 buah kertas kerja, delapan kesimpulan dan 10 saran-saran. Bunyi saran no.9 sebagai berikut: “Di dalam sejarah bangsa-bangsa di Asia Tenggara, bahwa huruf Arab yang disebut huruf Jawi, telah merupakan huruf resmi dalam berbagai kegiatan komunikasi. Dalam usaha melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Nasional, dipandang perlu diajarkan kembali huruf Arab Jawi di sekolah-sekolah (Wsp 9-10-1980 hlm IX). Timbul pertanyaan dalam hati kita, benarkah huruf Jawi itu termasuk dalam kebudayaan kita bangsa Indonesia? Dan adakah fakta-fakta menunjukkan bahwa huruf (aksara) ini telah pernah berperan sekali di Asia Tenggara dimasa silam?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, patut kita perhatikan terlebih dahulu, bahwa yang menghadiri seminar yang berlangsung di Aceh tsb terdiri dari ulama-ulama, para ahli sejarah dan kebudayaan. Apalagi banyak juga peserta-peserta dari luar negeri. Kalau sudah demikian keadaannya, pastilah setiap keputusan-saran yang dicetuskan, telah dipertimbangkan sematang-matangnya. Setiap kalimat,  kata dan huruf; sebagai isi pernyataan tentunya telah dibahas bersama. “dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional dipandang perlu diajarkan kembali huruf Arab Jawi disekolah-sekolah.” Demikian bunyi saran di atas. Disini jelas ditunjukkan bahwa aksaran Jawi, itu telah pernah menjadi mata pelajaran penting di setiap sekolah di negara kita dimasa lalu. Dan dengan demikian berarti pemerintah kita disaat tersebut, mengakui aksara Jawi sebagai Kebudayaan Nasional Indonesia. Di masa itu yang mengelola pendidikan dan kebudayaan juga sebuah departemen, yaitu  Departemen P & K. Negara kita sangat kaya dengan berbagai atribut kebudayaan, termasuk aksara. Sederetan nama-nama huruf (aksara) yang telah pernah dipakai Indonesia misalnya: huruf Pallawa, aksara Nagari, aksara Aceh, aksara Batak, aksara Jawa, aksara Makasar, aksara Bali dan Latin. Disamping aksara-aksara yang telah penulis sebutkan itu, kita tak boleh melupakan AKSARA JAWI yang sangat berjasa itu. Aksara ini merupakan suatu jenis aksara yang telah sangat berjasa dalam mempersatukan suku-suku bangsa yang mendiami di tiap-tiap pulau di Nusantara ini, yang sekarang telah menjelma menjadi bangsa Indonesia. Surat menyurat dalam hubungan diplomatik antara kerajaan di Nusantara ini, selalu menggunakan aksara JAWI yang berasal dari huruf Arab. Begitu pula dengan para ulama dan cerdik pandai di zaman itu, menyebarkan ilmu pengetahuannya dengan tulisan JAWI. Di Aceh penggunaan huruf Jawi dimasa itu sangat meluas. Dalam hal ini, Prof. A. Hasjmy menulis: “kesusteraan Aceh yang pada umumnya dalam bentuk puisi, diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh dibawah nama “hikayat”, sementara sustera Aceh dalam bentuk “prosa” pada umumnya bersifat mantera. Juga sejumlah kitab-kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh. Setelah datang Islam, huruf asli Aceh telah diganti dengan huruf Arab dibawah nama “Huruf Jawi”; juga karya tulis dalam bahasa Melayu ditulis dengan huruf Jawi” demikian diantara isi paper A. Hasjmy yang berjudul: Bahasa dan Kesusteraan Melayu di Aceh, yang beliau sampaikan pada Hari Sastra 1980 di Ipoh Malaysia yang berlangsung tanggal 19 s/d 23 April 1980 (1.  Memang sesungguhnya, jasa tulisan Jawi ini tidak dapat dibantah oleh siapapun, karena hal ini memang kenyataan sejarah. Tulisan Jawi bukan lagi merupakan kebudayaan asing bagi bangsa Indonesia sejak berzaman, tapi sudah jadi kebudayaan sendiri bagi bangsa Indonesia yang mendarah daging, sehingha tidak heranlah kalau tiap-tiap sekolah, sejak Indonesia merdeka hingga sekitar permulaan tahun enam puluhan, masih di “wajibkan” untuk dipelajarinya. Penulis sendiri pernah mempelajari tulisan Jawi semasa di sekolah Dasar. Tapi sungguh sangat disayangkan, tulisan Jawi yang telah membudaya bagi bangsa Indonesia, hanya dengan mudah saja telah dikesampingkan atau telah dibuang ke dalam “tong sampah sejarah pendidikan” di Indonesia. Dapat kita lihat sampai hari ini, misalnya bangsa Jepang, bangsa Tiongkok, India, bangsa-bangsa Arab dan lain-lain, mereka memiliki aksara sendiri dan tetap dipelihara dan dipakai sampai sekarang ini, disamping itu mereka juga menggunakan aksara Latin. Berbagai macam pelajaran baru, sekarang telah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di negara kita, tapi kenapa aksara JAWI ini tidak dipedulikan lagi? Bukankah huruf Jawi tersebut sebagai suatu tanda kebesaran dan kekayaan kebudayaan kita? Sedangkan huruf NAGARI (sanskerta), masih diajarkan di jurusan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Unsyiah, padahal aksara tersebut sudah sangat lama punah di Indonesi!!!.

Kalau untuk memudahkan menyelidiki sejarah, bukankah prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen sejarah banyak ditulis dengan aksara Jawi, dimana prasasti dan dokumen itu bertebaran di seluruh tanah Air Indonesia???.

 

 

HAJI AGUS SALIM DAN AKSARA JAWI

Diplomat besar dan ilmuan agung Haji Agussalim, menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi sbb: “Maka pemerintah kita dan pelbagai partai perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dan menyiarkan bacaan-bacaan dengan huruf Latin saja. Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan dimasa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala macam bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita.” Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli daripada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh pemerintah dan pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka kita semua.” “mungkinkah kita akan mendapat kemajuan, kebudayaan, jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudayaan yang sebesar-besarnya itu???”. Dari kutipan-kutipan diatas dengan jelas dapat kita pahami betapa seriusnya masalah Aksara JAWI menurut pendapat Haji Agussalim, selain yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran huruf JAWI (Jawoe= bahasa Aceh) dalam sistem pendidikan Indonesia merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran bagi kebudayaan kita untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan barat pada setiap anak negeri generasi-generasi kemudian. Politik demikian dijalankan kolonial Belanda demi tujuan mengekalkan penjajahannya di negara kita. Penggayangan kebudayaan bumi putra dijalankan dalam semua bidang kehidupan sampai pada seni kaligrafi. Hal ini diakui oleh wakil presiden Adam Malik. Dalam pameran kaligrafi nasional yang diprakarsai oleh dua orang tokoh Indonesia Prof. Drs. Ahmad Sadeli dari ITB dan Yoop Ave dikenal sebagai Dirjen Protokol dan Konseler Deplu R.I. Ketika memberi kata sambutan Wakil presiden Adam Malik a.l. mengatakan: “Kaligrafi adalah suatu hasil seni yang indah, diwujudkan dalam bentuk tulisan yang di dalamnya mengandung makna yang tinggi nilainya. Perkembangan seni kaligrafi di Indonesia yang telah sejak lama, telah menjadi subur dengan masuknya agama Islam di Indonesia. Lahirlah kemudian hasil-hasil seni kaligrafi yang indah dan dikagumi, menambah kasanah kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan hadirnya kaum penjajah di bumi Indonesia yang bersamaan dengan itu masuk pula kebudayaan Barat telah menyebabkan perkembangan seni kaligrafi tersebut mengalami hambatan, bahkan sama sekali dilupakan. Hal ini kiranya sesuai dengan politik umum penjajah yang selalu berusaha untuk menanamkan pengaruh kebudayaannya dengan cara menindas serta mematikan unsur-unsur kebudayaan bangsa yang dapat membahayakan kelangsungan hidupnya di negeri jajahan….”. sekarang dalam alam kemerdekaan ini, tentu umat Islam tidak akan mengalami lagi hambatan-hambatan “. Apa yang diucapkan “Wakil Presiden Adam Malik memang telah berlaku dialam penjajahan.

HIMBAUAN DAN HARAPAN.

Demi menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang dimiliki oleh aksara Jawi yang telah memperkaya kebudayaan Indonesia, warisan leluhur yang wajib kita pelihara dan junjung tinggi, serta semestinya kita wariskan kepada generasi bangsa Indonesia yang akan datang. Kita menghimbau serta menggugah hati kita semua yang mencintai kebudayaan, untuk memberi pikiran dan pandangan dalam masalah mengajarkan kembali hurufJjawi di sekolah-sekolah di Negara kita Republik Indonesia ini. Himbauan dan harapan ini terutama sekali penulis tujukan kepada Panitia Perumus Pendidikan Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mentri P&K Republik Indonesia, Rektor-rektor Universitas, baik Negeri maupun Swasta, para Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Majelis Ulama Pusat dan Propinsi, Dewan Dakwah Indonesia, para sarjana dan ahli kebudayaan dan semua pecinta kebudayaan di seluruh pelosok tanah air!!!.

Dengan semangat dan inspirasi dari Peringatan Hari Aksara Internasional tahun 1980 ini, marilah kita menilai kembali kesilapan-kesilapan kita di masa lalu!!!. Semoga “Wasiat Haji Agussalim tentang Aksara Jawi,” tidaklah kita biarkan saja berlalu bersamaan berlalunya waktu dan tanpa kita beri parhatian!

Selamat menyambut dan memperingati Hari Aksara Internasional, semoga sukses!.

( Baca kembali: Harian “Waspada”-Medan, Jum’at, 24 Oktober 1980 pada  halaman VII  rubrik “Agama”)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s