Singapura Yang Saya Kenal

Sempena: Menyambut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke 18 di Jakarta pada tanggal 7 – 8 Mei 2011  sengaja saya posting artikel ini. Semula tulisan ini saya susun dalam rangka ikut lomba mengarang sempena Ultah ke 10 Radio Singapura Internasional. Saya tidak menang, karena itu tak dapat  ke negara Singapura – sebagai hadiah utamanya – namun karya ini pernah menjadi bahan bacaan mahasiswa saya yang mengambil mata kuliah Sejarah Asia Tenggara.  Kepada Kepala-Kepala Negara  “ASEAN” saya ucapkan selamat ber-KTT di Jakarta, semoga sukses!!!.Bale Tambeh  , 6 Mei 2011, T.A. Sakti.

Singapura Yang Saya Kenal

Oleh : T.A. Sakti

Pengantar

Sebagai dosen pengasuh mata kuliah Sejarah Asia Tenggara, memang sudah merupakan kewajiban saya mempelajari Sejarah Negara Singapura. Hanya amat disayangkan, bahan-bahan bacaan mengenai Singapura cukup sedikit yang saya miliki dan tidak ada satu ‘tulisan’ pun yang ditulis orang Singapura sendiri ataupun yang diterbitkan di negeri Singapura.

Akibatnya, selain memberi informasi yang ‘kecil’ tentang Singapura ; tulisan-tulisan itu kadang-kadang juga memberikan keterangan yang miring mengenai Singapura. Memang apa mau dikata, bahan-bahan itulah yang menjadi acuan saya dalam mengajar kepada mahasiswa. Mencari bahan-bahan yang memadai; kemampuan saya amat terbatas. Jadi, mau tak mau, begitulah saya mengajarkan “Sejarah Singapura” selama 13 tahun terakhir ini. Selain dari sedikit buku yang diterbitkan di Indonesia, saya juga melengkapi bahan-bahan itu dengan buku-buku yang diterbitkan di Malaysia, seperti buku ‘Sejarah Malaysia dan Singapura”, karya Tan Ding Eing, buku “Dilema Melayu” tulisan Mahathir Mohammad, “Orang Melayu dan Masa Depannya” ; tulisan Sayid Ali dan beberapa buku asal Malaysia lainnya.

Sebagai tambahan bahan-bahan itu juga saya melengkapi dengan guntingan-guntingan suratkabar dan majalah yang ada isinya menyangkut segi-segi kehidupan rakyat Singapura. Kliping-kliping itu pada umumnya dari media massa yang terbit di Jakarta seperti Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Majalah Tempo dan lain-lain.

SINGAPURA, pada awalnya bernama Temasik atau Tumasik. Sedikit sekali yang diketahui periode ini. Diantara yang sedikit itu, bahwa Parameswara yang menjadi cikal-bakal Sultan-sultan dari Kerajaan Malaka adalah tokoh pelarian dari Tumasik, yakni ketika negeri itu diserang kerajaan Majapahit.

Barulah ketika Inggris menguasai Singapura pada tahun 1819, sejarah Singapura mulai tercatat sehingga memudahkan menelusuri jejaknya. Asal mula pemerintah Inggris hendak menguasai pulau Singapura adalah dalam rangka memperlancar dan memperbesar volume perdaganganya dengan negeri Cina. Salah satu syarat untuk itu adalah adanya pelabuhan singahan bagi kapal-kapal dagang Inggris sebelum mereka tiba di Cina. Sejumlah utusan telah dikirim Inggris ke Asia Tenggara untuk menyelidiki tempat-tempat yang cocok bagi pangkalan kapal-kapal dagang mereka. Diantara tempat-tempat yang telah diselidiki adalah di Aceh, Siak, Karimun, Bintan dan pulau-pulau di kepulauan Riau lainnya. Ternyata, kesemua lokasi itu tidak memenuhi syarat sebagai pelabuhan yang bisa berkembang.

Akhirnya pilihan itu jatuh kepada Singapura. Bagi mendapatkan pulau Singapura dari kerajaan Johor, pihak Inggris melakukan sejumlah ‘penipuan’. Tokoh yang ditugaskan untuk tujuan itu adalah Stamford Raffles, yakni Wakil Gubernur Inggris di Bengkulen/Bengkulu. Di Kerajaan Johor ketika itu baru saja terjadi pergantian Sultan, dimana Tengku Husein sebagai Putera Mahkota tersingkirkan oleh calon lain, yaitu Tengku Abdurrahman. Konflik inilah yang digunakan Raffles untuk mecapai tujuanya.

Stamford Raffles membujuk Tengku Husein agar setuju dilantik sebagai Sultan Johor  tandingan yang berkedudukan di Singapura. Bujukan ini berhasil, dan Temenggung Abdurrahman sebagai penguasa lokal juga menerima rencana Raffles. Namun, setelah beberapa lama memegang jabatan Sultan Johor, pada tahun 1823 Sultan Husein dan Temenggung Abdurrahman menyerahkan kepemilikan pulau Singapura  kepada Inggris dengan menerima imbalan gaji setiap bulan sampai keduanya meninggal dunia. Sejak itu kolonialis Inggris menjadi penguasa tunggal negeri Singapura.

SINGAPURA adalah negara multi etnis dan budaya. Sebelum kedatangan Inggris, Singapura adalah negeri milik orang Melayu. Semasa Raffles mendarat di Singapura pada tahun 1819, penduduk Singapura hanya 150 orang, yakni 120 orang Melayu dan 30 orang Cina. Tahun 1823, dari penduduk seluruhnya 10.600 orang, sebanyak 3300 orang diantaranya adalah keturunan Cina.

Pemerintah Inggris memang membuka kesempatan seluas-luasnya kepada imigran dari luar negeri. Selain untuk memperbanyak penduduk Singapura juga bisa dijadikan sebagai pekerja untuk membangun Singapura menjadi kota pelabuhan dan perdagangan bertaraf antar bangsa. Akibat orang Melayu dari Tanah Semenanjung yang  ‘enggan’   merantau ke Singapura, maka pulau Singapura menjadi wilayah impian  bagi imigran Cina yang datang dari daerah Cina Selatan. Imigran-imigran   Cina ini bekerja sebagai buruh di berbagai sektor pembangunan seperti dipertambangan timah (lombong), pengerukan bukit, penimbunan  jurang, pembangunan gedung dan berbagai bidang pembangunan lainnya.

Dapat dikatakan, bahwa pembangunan Singapura Modern benar-benar dilakukan oleh para imigran Cina. Mereka bekerja sebagai buruh yang rajin dan tekun. Selain imigran Cina, penjajah Inggris juga menampung imigran dari Asia Selatan. Akibatnya, sampai dewasa ini kita dapat menyaksikan rakyat Singapura yang terdiri dari berbagai etnis dan budaya, yaitu orang Cina, orang India, orang Melayu dan etnis-etnis lainnya.

Dalam upaya menciptakan kerukunan antara berbagai suku bangsa yang mendiami negara itu, pemerintah Singapura melakukan berbagai kegiatan dan perencanaan untuk mewujudkan pembauran diantara rakyatnya. Salah satu dari usaha itu adalah pembangunan Rumah Susun di seantero negara kota itu.

Rumah Susun dibuat bertingakt-tingkat atau berlapis-lapis Penghuninya terdiri dari berbagai kaum/etnis. Mereka saling bertetangga, yang akhirnya menciptakan pergaulan harmonis. Memang, pada awalnya perumahan sejenis ini bisa menjadikan para penghuninya gamang dan kikuk, sebab tradisi-tradisi etnis yang selama ini hanya didengar atau dilihat dari jauh; sudah betul-betul berada di depan mata. Tinggal di Rumah Susun pada satu sisi memang merugikan, yaitu menghilangnya tradisi nenek moyang dari suatu etnis tertentu. Tapi entahlah; mungkin ada upaya lain yang dilakukan untuk mengekalkan budaya warisan leluhur itu. Pembinaan “Taman Warisan Melayu” seperti yang saya dengar baru-baru ini dari Radio Singapura Internasional; mungkin merupakan salah satu upaya tetap melestarikan budaya warisan sesuatu etnis di Singapura.

SINGAPURA, sampai hari ini dikenal sebagai negara yang berhasil mengatasi korupsi. Salah satu penyebabnya, boleh jadi karena di negara ini tingkat gaji bagi pekerjanya lebih tinggi dibandingkan di negara-negara tetanggannya. Selain itu, masalah penegakan hukum di negara ini juga benar-benar diterapkan dengan konsekuen dan tidak pandang bulu, dimana hukum itu tidak bisa diperjual-belikan. Pemerintah yang bersih; benar-benar terlaksana di negeria ini.

SINGAPURA, termasuk salah satu negara yang terkuat ‘pertahanan’ ekonominya di kawasan Asia Tenggara. Dalam periode ‘krisis ekonomi’ beberapa tahun yang lalu, negara ini termasuk yang mampu mempertahankan diri dari gejolak itu. Selain itu kita juga sering mendengar/membaca, bahwa para konglomerat asal Singapura juga sudah mampu menanamkan modalnya ke berbagai negara di dunia. Ini menunjukkan, para investor Singapura tidak hanya ‘berani’ di kandang sendiri, tetapi sudah melanglang buwana ke seantero dunia.

SINGAPURA sangat beruntung karena memiliki putra-putra terbaik yang menjadi pemimpin negara ‘kecil’ itu. Biar kecil, tapi cukup berpengaruh baik di kalangan ASEAN maupun diluarnya. Dalam pelaksanaan AFTA, Singapura pula yang paling diuntungkan, sehingga anggota ASEAN yang lain harus berpikir berkali-kali dalam menerapkan AFTA tersebut. Sosok Lee Kuan Yew memang satu figure briliant  yang telah membawa negara Singapura menjadi seperti sekarang. Semoga pemimpin-pemimpin Singapura penerus beliau mampu pula berbuat demikian, sehingga rakyatnya tetap makmur adanya !

. Penutup

Inilah sebagian dari pengenalan saya terhadap Singapura, Memang, masih banyak  hal yang belum saya ungkapkan dalam tulisan ini. Hal ini mengingat syarat penulisan yang terbatas hanya 500 kata. Tulisan saya banyak kekurangan, sebab tidak satu pun literature yang saya miliki berasal dari Singapura. Tapi kebanyakan dari Malaysia. Namun, walaupun sedikit, hanya dengan bahan itulah saya akan terus mengajar tentang SINGAPURA kepada mahasiswa-mahasiswi saya di FKIP Unsyiah Banda Aceh-Insya Allah selama 15 tahun lagi. Lembaga pendidikan ini mendidik para calon guru Sejarah yang akan mengajar di seluruh Tanah Air, terutama di Nanggroe Aceh Darussalam

. Kampus Darussalam, 5 Syawal 1424

29 November 2003 Pukul : 13.17 NAD/Wib

Penulis, T.A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, Sm.Hk).

E-mail : ta-sakti@yahoo.com

*Saya mengucapkan : Selamat Ulang Tahun Ke X/10 Radio Singapura International

Semoga terus bergema di udara!

Catatan kemudian: Akibat terendam banjir Tsunami Aceh, 26 Desember 2004,karya asli karangan ini hampir tak dapat dibaca lagi. Tulisan di satu halaman sudah melengket pada halaman lainnya dengan bentuk huruf terbalik, hingga bisa cepat pening jika membacanya. Bale Tambeh, 6 Mei 2011, T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s