Nyang Ubit-ubit Sang Kabit Langka

Nyang Ubit-Ubit Sang Kabit Langka

Bahan Lomba Cipta Hikayat Aceh

Yang diselenggarakan PLN-DKA

–          Leubeng

–          Piet

–          Jangak

–          H’ueng

–          Sidom (lam) Baet

–          Guda bak Jruen

–          Seupah buleuen/Beluen raja nimoh

–          Lintah Situek

–          Ujoe

–          Uek

–          Limpeuen (?)

–          Teumeule

–          Meuk

–          Meut-meut

–          Keululu

–          Kumbang

 

–          Pajoh on pisang

–          Rambeu na meumeuet bak punggong

–          Rambeu gajah

–          Ikat bak gaki

–          Ta peuglong laju jiputa keudroe

–          Bui abee dapu

–          Bui ek kubiri

–          Meuk bak on pik

–          Kumbang bak reudeup

–          (Binatang) Teureujoe

–          Sidom situek

–          Kumuto tanoh

–          Lalat (mirah rueng)

–          Sidom mirah

–          Ulat tupe ulat C’ap

Cicem rampagoe Nek

–            Leubeng

–            Piet

–            Jangak

–            H’ueng

–            Sidom (lam) Baet

–            Guda bak Jruen

–            Seupah buleuen/Beluen raja nimoh

–             

–             

 

(Jum’at,  11 Jumadil Akhir 1422

                           7 September 2001

                              (T.A. Sakti)

      (Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

Iklan

Seunijuek Sambo – Menyambut Bulletin KERN Mahasiswa Teknik Unsyiah.

SEUNIJUEK SAMBO

Saleum seujahtera sambot nibak lon

Majalah KERN jinoe lon nyata

Padum treb lawet tapreh meuthon-thon

Majalah KERN meusom lam tapa

Pada hai awai katreb di rawon

Majalah KERN katreb lahe ka

‘Oh lheuh nyan  pansan  natreb padum thon

Bak buleun nyou phon ka udeb teuma

Keutua SENAT keubit that meuphom

Aspirasi kawom dum MAHASISWA

Bak latih bakat geu peuna langsong

Geu tamah seutrom KERN nyang kana

Teuga seumangat kuat ngon jantong

Inspirasi jitron meuganda-ganda

Teu biet rencana meugeudong-geudong

Laen buleun phon laen keu dua

Na jipot angen katrok nibak lon

Buleun dua phon geu pasang gamba

Jeut pasang fhoto barang sou langsong

Sou peugot panton atau ceurita

Rencana got that patot tadukong

Beudoh rakan lon jinoe keurija

Peugot karangan kirem le langsong

Pasoe lam KERN wahe saudara

Hai SENAT laen bak lagei patong

Neu cunto KERN deungon PEUNAWA

EFTE ngon FEKON langkah geu ayon

Tanyoe rakan lon pajan tamula….?

FK deungon FIP Fakultas Hukom

Pajan neu puphon peugot MEDIA

DI FKHP, FP po keubon

Mari rakan lon peuteubiet MEDIA

Meungna lagei nyan ngon Tuhan tulong

Unsyiah harom u nanggrou lua

Tanyou ek jithee trok u kota ROM

Meunghan meukong-kong diyub bruek tuha

Meuseb keuh ohnou hai panyot tanglong

Lon sambot KERN hudep KEU DUA

Beu mangat asoe Majalah KERN

Teubeit meuthon-thon si umu DONYA…!!!.

T.A. Sakti, Mhs. FHPM Unsyiah

Medio April 1981

(Baca kembali: Bulletin KERN – forum mahasiswa fakultas teknik – Unsyiah no 004 Th. II – Mei 1981 hlm. 33  ).

Surat Kepada Sebuah Yayasan asal Perancis di Jakarta

 

Kampus Darussalam,

14 Juli 1999

Kepada Yang Terhormat

Mr. Henri Chambert Loir

Ecole Francaise O’Extreme-Orient

Jl. Mampang Prapatan VII/R 5

Jakarta 12790.

Dengan hormat.

Nama Yayasan “Ecole…” telah sering saya  baca, baik dalam berita koran tentang kebudayaan atau pada buku-buku masalah budaya. Namun keinginan berhubungan dengan “Ecole..” selama ini terhambat karena  alamatnya yang belum saya ketahui. Barulah atas bantuan informasi dari seorang kepala sebuah instansi “kebudayaan’, jadilah saya tahu alamat Bapak sekaligus Yayasan “Ecole…”. Perlu saya tambahkan, tiga buah naskah sastra Aceh telah “kami” lakukan kajian ilmiah untuk instansi tersebut. Lembaga itu adalah Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh.

Saya adalah lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta. Berkuliah di sana atas beasiswa Lembaga Kerjasama Indonesia-Belanda. Salah seorang dosen saya di FS UGM adalah Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian. Sementara tempat saya “berguru informal” di bidang budaya-sastra adalah Drs. UU. Hamidy, MA di Universitas Riau, Pekanbaru-Riau. Kalau di Aceh ialah Prof. Dr. Bahrein T.Sugihen, MA.

Saya amat tertarik terhadap sastra Aceh lama. Sekaligus berharap sastra ini mau/bisa  diminati kembali oleh rakyat Aceh seperti tahun-tahun 50-60-an. Pengaruh banyaknya hiburan lain seperti dari radio, buku, koran, majalah, televisi, video; memang telah mengurangi minat masyarakat terhadap sastra Aceh seperti pembacaan hikayat, nazam-tambeh.

Namun, saya sangat yakin bahwa bukan perkembangan media-massa tersebut di  atas   semata-mata yang telah menurunkan citra sastra Aceh. Keberadaan sastra Aceh lama yang sebagian besar masih tetap tertulis tangan, serta ditulis pula dalam huruf Arab-Melayu (huruf Jawoe/Jawi) adalah termasuk penghalang besar bagi masyarakat Aceh untuk  membaca  naskah-naskah sastra itu. Sebab, sebagian  orang Aceh tidak bisa  lagi membaca dalam huruf Arab-Melayu.  Orang Aceh sekarang hanya bisa  membaca dalam huruf Latin. Bila menginginkan mereka meminati kembali sastra Aceh ; salinlah kembali naskah sastra itu ke dalam HURUF LATIN……

   Dalam upaya membela sastra Aceh lama agar tidak punah, kini saya telah mengumpulkan naskah-naskah lama sastra Aceh tulisan tangan. Tebal naskah bervariasi, ada yang tebal, ada yang tipis. Tetapi umumnya lembaran kertasnya sudah mulai rapuh-rusak.

Cara pengumpulan naskah itu adakalanya saya pinjam, sebagian difoto copy dan lainnya milik sendiri. Kini, jumlahnya  ada sekitar 25 (dua puluh lima) judul naskah, yang lebih banyak tebal-tebal.

Tujuan mengumpulkan naskah itu untuk menyalinnya kedalam huruf Latin. Atau mengalih aksara-kan, dari huruf Arab-Melayu ke huruf latin dari naskah-naskah dari bahasa Aceh. Jadi, yang diganti-ganti hanya huruf saja-dari Arab ke Latin-, sedangkan bahasanya tetap seperti semula, yaitu bahasa Aceh. Jika memang diperlukan nanti, baru pada tahap berikutnya diterjemahankan dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia.

 Buat tahap awal, hasil alih aksara/ubah huruf naskah hikayat, tambeh dan nadham itu dihadiahkan kesalah satu perpustakaan umum di Aceh. Kalau memungkinkan, selanjutnya dicetak/diterbitkan buat  bacaan masyarakat luas.

Untuk mengatasi masalah dana/keuangan itu, pada kesempatan ini saya menghimbau serta mengajak Yayasan “Ecole Francaise O’Extreme-Orient” yang Mr. Henri Chambert Loir kelola ini untuk sudi kiranya membantu dana atau menjadi lembaga sponsor dari “kegiatan budaya” saya tersebut.

Demikianlah surat himbauan ini, mudah-mudahan Bapak menyetujuinya.

Salam,

 

T.A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHK)

Surat Kepada Ford Foundation Perwakilan Jakarta

Kampus Darussalam,

6 Maret 2000

Kepada Yang Terhormat

Pimpinan Ford Foundation

Jl. Kebun Sirih No. 1

Jakarta.

            Salam sejahtera….

            Terima kasih saya ucapkan kepada pimpinan & staf Ford Foundation yang mendukung kegiatan saya dengan memberi  semangat dalam surat balasannya sekitar setahun yang lalu. Saran Ford Foundation agar saya menghubungi  sebuah Perguruan Tinggi  yang mengelola Program Penggalakan Kajian Sumber-sumber Tertulis Nusantara tidak jadi saya laksanakan.

Walaupun saya tidak/belum memperoleh bantuan Ford Foundation yang sudah dikelola sebuah Perguruan Tinggi  itu , namun saya tetap bergiat di bidang pelestarian sastra lama Aceh. Surat permohonan bantuan juga terus saya layangkan kesana-kemari. Pada pertengahan 1999, saya mendapat bantuan dari World Bank Perwakilan Indonesia (Jakarta). Bantuan itu digunakan untuk mentransliterasi dan penterjemahaan 4 buah naskah lama sastra Aceh, yang sekarang telah selesai saya kerjakan (ada dalam kumpulan lampiran).

Ketika membaca Harian Republika, Jumat, 18 Februari 2000 hlm. 20 yang berjudul “Ketika Sastrawan Datangi Sekolah-sekolah”, gairah saya  dalam menggeluti sastra lama Aceh bangkit kembali.

Oleh karena saya sudah pernah menyurati tempo hari dan hampir segalanya  telah tercakup dalam lampiran, maka dalam surat ini hanya saya sampaikan secara ringkas saja.

Bantuan yang saja mohon dalam dua bentuk, yaitu :

  1. Kegiatan transliterasi dan penterjemahan ke bahasa Indonesia terhadap beberapa buah naskah lama sastra Aceh yang berhuruf Arab Melayu (bahasa Aceh : harah Jawoe). Kegiatan seperti ini telah saya lakukan atas bantuan The World Bank Perwakilan Indonesia. Namun, naskah-naskah yang masih saya miliki sekarang lebih tebal dari naskah yang sudah saya kerjakan itu.
  2. Dana bantuan untuk menerbitkan/mencetak naskah-naskah yang sudah dialihkan ke huruf  Latin, namun tetap berbahasa Aceh. Pada saya sekarang sudah terkumpul 25 judul naskah, yang bila telah selesai dialihkan seluruhnya ke huruf LATIN akan menjadi sia-sia jika tidak diterbitkan/diedarkan kembali ke masyarakat Aceh.

Untuk lebih praktis, penerbitan itu dibuat berjilid, masing-masing sebesar buku saku, yang isinya sekitar 60-an halaman. Dari semua naskah yang ada pada saya, mungkin bisa  menghasilkan sekitar 80 jilid buku saku sastra lama Aceh.

Bagi penerbitan ini, saya mengusulkan dua cara pendistribusiannya.

a). Hasil cetakan itu dibagi antara Ford Foundation dengan saya menurut persen tertentu. Pihak Ford Foundation menghadiahkannya kepada masyarakat Aceh, baik kepada pustaka-pustaka sekolah atau pesantren. Sementara, bagian saya sendiri akan saya pasarkan ke toko  Buku dengan harga murah,  agar bisa  mencetak ulang naskah-naskah tersebut.

Dengan penjualan dimurahkan, pada tahun 1997 pernah saya terbitkan empat naskah sastra Aceh lama dengan dana saya sendiri. Masing-masing naskah dicetak 1000 eksemplar. Ternyata kini sudah habis terjual.

b). Hasil penerbitan itu diberikan kepada saya untuk mengelola pemasarannya. Uang hasil penjualannya adalah untuk mencetak ulang naskah-naskah itu, atau digunakan buat menerbitkan naskah-naskah lainnya, atau secara umum untuk “Dana pelestarian Sastra Aceh” bantuan Ford Foundation.

Ataupun ada bentuk pengelolaan cara lain menurut Ford Foundation ?.

Demikian surat permohonan ini. Atas tanggapan positif dari Ford Foundation, saya ucapkan banyak terima kasih.!

Salam

 

T. A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

Surat Kepada Yayasan Habibie Center

Banda Aceh, 3 Ramadhan 1421

29 November 2000

Kepada Yang Terhormat

Pimpinan The Habibie Center

Jl. Kemang Selatan No. 98

Jakarta Selatan 12560.

Asslamu’alakum Wr.Wb

Dan salam sejahtera……

Pertama-tama saya mengucapkan “Selamat Berpuasa” kepada para staf The Habibie Center (THC) yang berpuasa, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT… Amin!.

The Habibie Center sudah dikenal umum sejak sebelum didirikannya. Hal ini bisa terjadi karena Bapak Habibie sendiri yang memberi keterangan pers sewaktu dikunjungi Gusdur yang baru saja terpilih sebagai Presiden hari itu. Pada pertemuan itulah yang disiarkan langsung RCTI Pak Habibie mengatakan, bahwa setelah berhenti jadi Presiden beliau akan mendirikan sebuah LSM bidang politik dan HAM… inilah The Habibie Center.

Pada mulanya, saya yang bergiat di bidang “Budaya Daerah” hampir sama sekali tidak merasakan ada kaitanya dengan LSM yang mentereng ini. Kegiatan pertama dari THC yang saya baca di media massa, bahwa THC akan memberi beasiswa kepada mahasiswa S2 dan S3. Jadi belum nampak hubungannya dengan kegiatan saya, walaupun niat kuliah S2 memang terpendam di hati saya. Kemudian saya memperoleh alamat THC dari mahasiswa PT Swasta Abulyatama. Terbaca di situ bahwa The Habibie Center adalah : “Yayasan pembinaan, pengembangan sumber daya  manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi”. Sebatas ini, mulai ada secuil kaitannya, yakni dalam hal ‘ilmu pengetahuan’ menurut seorang seniman tari, jelaslah bagi saya bahwa THC   mulai  ada kaitannya dengan “kebudayaan” (Republika, 17-9-2000 hlm.2). Sebenarnya, keterangan   dari seniman tari  itu masih megambang/belum jelas ; namun saya sengaja memberanikan diri menyurati LSM yang membanggakan ini.

Bapak Habibie dan The Habibie Center yang terhormat….

Sejak tahun 1992/8 tahun terakhir, saya mempunyai kegiatan sampingan selain tugas pokok saya mengajar di FKIP Unsyiah Banda Aceh. Kegiatan sambilan itu ialah mengumpulkan naskah-naskah lama sastra Aceh dan lalu menyalinnya/transliterasi ke huruf Latin. Hingga  kini sudah 20 naskah selesai saya alihkan dari huruf Arab Melayu/aksara Jawi ke huruf Latin.

Terlibatnya saya dalam mengurus naskah-naskah lama ini adalah atas keprihatinan pribadi saya terhadap nasib naskah kuno sastra Aceh yang terbengkalai; tak ada yang peduli lagi. Menurut saya, ketidak pedulian masyarakat Aceh lagi “informasi” dari naskah-naskah tersebut. Sebab, mereka masih juga mencari informasi serupa dalam buku-buku modern yang umumnya tertulis dengan huruf Latin. Dalam hal ini saya berkesimpulan, bahwa ada baiknya semua naskah berhuruf Arab Melayu itu disalin/dialihkan ke dalam huruf Latin. Karena sebagian besar/mayoritas masyarakat Aceh sekarang tidak bisa lagi membaca tulisan berhuruf Arab Melayu/huruf Jawi.

Tulisan dari naskah-naskah lama itu tertulis dalam bentuk syair bahasa Aceh. Jenisnya ada tiga, yaitu Nadham/Nazam, Tambeh dan Hikayat. Nazam isinya lebih  mirip dengan kitab Agama, sedangkan Tambeh berisi nasehat/tuntunan agama dan nasehat bermasyarakat pada umumnya. Sementara Hikayat berisi cerita-cerita/kisah yang pada zaman dulu menjadi salah satu sarana pendidikan dan hiburan bagi masyarakat. Para pegarang dari naskah-naskah itu umumnya tidak mencantumkan namanya, namun dapat kita perkirakan adalah para ulama-penyair dan pujangga-pujangga.

Menurut penilaian saya, isi dari naskah-naskah itu masih aktual dan bisa memberi manfaat kepada masyarakat, terutama dalam hal akhlak dan budi-pekerti pergaulan bermasyarakat. Saya yakin, sekiranya generasi muda Aceh belum terputus hubungannya dengan naskah-naskah lama itu selama + 35 tahun akibat ketidaktahuan huruf Arab Melayu, mungkin (?) tidak akan terjadi apa yang sempat disaksikan-serta ikut ditanggapi Presiden Habibie dalam dialog “Aceh” di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Waktu itu generasi muda “menilai’ bodoh orang tua.!

Sejak 8 tahun bergiat di bidang alih aksara/transliterasi ini, ternyata Nazam-Tambeh dan Hikayat yang sudah berhuruf latin itu belum mampu saya sebarkan kembali kelingkungan masyarakat Aceh. Padahal, kalau bisa  digandakan/diterbitkan dalam bentuk BUKU SAKU setebal rata-rata 60 halaman, hasil kerja saya sudah menghasilkan 80 jilid.

Berbagai pihak di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Jakarta telah saya surati/datangi, tetapi nyaris tak ada yang sudi membantu dana. Hanya Bank Dunia Perwakilan Jakarta yang pernah membantu (foto copy terlampir) dengan meminta saya menterjemahkan 4 naskah dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia. Maka lewat surat ini, saya memohon bantuan dana dari The Habibie Center untuk melestarikan dan menggandakan naskah-naskah yang sudah selesai saya alihkan ke huruf latin itu.

Demikianlah surat permohonan ini, semoga terkabul hendaknya..

Wassalam ;

T.A. Sakti

(Catatan kemudian: Sejak tahun 1991 sampai 28 Juli 1999, saya sekeluarga pernah tinggal/kost  di rumah yang kemudian dijadikan Perumahan Yayasan Habibie Center, Darussalam,  Banda Aceh; tempat menampung Yatim-Piatu korban tsunami Aceh.

Bale Tambeh,  9 Maret 2012, pkl. 11.00 wib, siang, T.A. Sakti ).

Surat Kepada Pemimpin Redaksi Harian “WASPADA” – Medan

Bucue, Kota Bakti, 29 Sept 1988

Kepada Yth.

Bapak Pimpinan Redaksi

Harian WASPADA

Di

MEDAN

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Rahmat dan kurnia Allah SWT, semoga senantiasa dilimpahkan kepada kita sekalian, sehingga dapat terlaksanakanlah semua maksud dan cita-cita kita. Amiin.

Rencana saya semula, bermaksud merampungkan suatu ‘laporan’ kepada Harian WASPADA yang dapat langsung saya kirimkan dari kota Yogyakarta. Tetapi Tuhan menentukan lain dari keinginan saya. Ditengah-tengah saya sedang menyusun laporan, kakak kandung saya datang ke Yogya untuk menjemput/membawa saya pulang ke Aceh. Sebagai bapak ketahui, setelah mengalami tabrakan kenderaan roda empat, keadaan fisik saya sudah cacat bagian kaki, maka sebab itulah saya perlu dijemput untuk pulang ke Aceh. Begitulah suasananya, sehingga ‘laporan’ “Aceh Dipandang dari Luar”  atau wawancara ini saya susun di dua buah Daerah Istimewa, yakni di daerah ISTIMEWA Yogyakarta dan di Propinsi Derah ISTIMEWA Aceh (rumah saya sendiri). Mulai halaman 1-19 dan 26-28 saya susun di kota Yogyakarta sementara “wawancara” dari halaman 20 – 25 saya susun kembali di rumah saya sendiri di desa Bucue, Kota Bakti (Aceh).

Kepada bapak pengasuh Hr. WASPADA sangat saya harapkan untuk sudi kiranya mengirim kembali kepada saya ‘laporan’ ini sekiranya tak layak dimuat dalam Hr. WASPADA. Prangko pengembalian terlampir. Dan sekiranya, dapat dimuat dalam Hr. WASPADA, saya mohon dikirimkan beberapa eksemplar Hr. WASPADA yang memuat laporan ini, karena teman-teman yang ikut memberi pendapat sebagai nara sumber laporan ini (kesemua mereka di Yogyakarta) sangat bermaksud/ingin membacanya kembali, setelah dimuat dalam koran.

Bapak Pengasuh Hr. WASPADA yang baik.

Setelah saya pulang ke Aceh dari Yogyakarta, saya bermaksud menulis sesuatu yang merupakan oleh-oleh dari rantau atau buah tangan dari seberang. Tulisan itu, tentu saja berkaitan dengan pengalaman ‘pengamatan’ yang saya lakukan. Isinya akan saya kaitkan Aceh – Yogya. Dan rencana judulnya adalah: Dari Daerah ISTIMEWA KE DAERAH ISTIMEWA. Saya sedang ‘melacak’, kira-kira koran/majalah mana yang bersedia memuat artikel panjang saya itu. Sekiranya Hr. WASPADA memuatnya, saya mohon diberi kabar…

Mungkin perlu juga saya jelaskan, bahwa meskipun saya sudah kembali berada di Aceh, namun tulisan-tulisan yang saya tulis TETAP MEMAKAI ALAMAT YOGYAKARTA. Sekurang-kurangnya hingga penghujung/berakhir tahun 1988 ini. Ini, dikarenakan kesemua ide, catatan atau garis besar dari tulisan-tulisan tersebut, telah dipersiapkan di Yogyakarta. Kerangka dasar tulisan yang telah saya catat sejak awal di Yogya itu, jumlahnya kira-kira 30 judul lagi yang belum saya selesaikan.

 

Wassalam,

T.A. Sakti

 alias

 

Drs. T. Abdullah Sulaiman Bucue

Almarhum Prof.H.A. Madjid Ibrahim berasal dari Keluarga Ulama

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim berasal dari keluarga Ulama

II

Laporan: T.A. Sakti

 

Saksi mata terhadap kunjungan Bapak Kemerdekaan Malaysia itu, masih hidup hingga saat ini. Beliau adalah istri Tgk. H. Ibrahim sendiri, yang masih sehat wal‘afiat sekarang. Teungku Abdurrahman Putra Al Haj, sangat berjasa dalam mempersatukan Negara-negara Islam. Jalan pertama yang beliau tempuh, yaitu dengan mengadakan MTQ tingkat internasional setiap tahun di Kuala Lumpur. MTQ internasional adalah Negara Malaysia yang merintisnya buat pertama kali. Karena jasanya, Teungku Abdurrahman pernah diangkat oleh negara-negara Islam, menjadi presiden pertama Persatuan Negara-Negara Islam sedunia. Sekarang beliau bergiat di bidang dakwah Islamyah di Malaysia.

Perjalanan sejarah memang tidak selamanya datar. Demikian juga dengan perkembangan dayah Baro Bung Asam ini. Penambahan bangunannya tidak pernah terjadi lagi. Kelesuan sudah menjadi nampak dalam tahun empat puluhan. Hal demikian terus berlangsung hingga Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Para santri (ureueng meudagang) yang belajar di sana ketika itu sudah menyusut. Hanya agak menjadi ramai dengan anak dari Tgk. H. Ibrahim sendiri. Dalam masa permulaan kemerdekaan Indonesia, Tgk H. Ibrahim memegang jabatan rangkap. Disamping sebagai pemimpin dari sebuah pondok pesantren, beliau juga sebagai Ketua Barisan Mujahidin Seulimum. Pembentukan Barisan Mujahidin ini, adalah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Selanjutnya Tgk. H. Ibrahim diangkat pemerintah sebagai kepala Mahkamah Syari’ah Kecamatan Seulimum.

Pada hari ahad, menjelang shubuh tahun 1952, Tgk. H. Ibrahim berpulang ke rahmatullah di komplek dayahnya sendiri, di Lamjruen Seulimum, kira-kira 43 km dari kota Banda Aceh kejurusan Banda Aceh – Medan. Jenazah beliau di kebumikan di Lamjruen, yang sekarang berdampingan letaknya dengan makam Prof. Tgk. H. Abdul Madjid. Tgk. H. Ibrahim meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Tgk. Nyak Nur Halimatussa’diyah, Tgk.. Nyak Bulgia dan Pocut Khadijah. Sedangkan anak beliau 10 orang. Mereka itu ialah; Tgk. Abdul Djalil, Prof. Tgk. H. Abdul Madjid Ibrahim, Adnan Ibrahim, SH (tugas sekarang di airport kemayoran Jakarta), Asy’ariah di Seulimum, Jamaluddin (Guru SMA 1 Kramat Raya Jakarta Pusat), Ainal Mardhiah (Jakarta), Mahyuddin (Karyawan Dolog Jakarta) M. Dahlan (Madrasah Ibrahimiyah Seulimum), Mustafa Ibrahim (Biro Rektor Universitas Syiah Kuala) dan Muhammad Ibrahim (telah meninggal dunia tahun 1970).

Sepeninggal Tgk. H. Ibrahim, pimpinan pesantren Dayah Baro Bung Asam Lamjruen beralih kepada putra beliau yang tertua, yakni Tgk. Abdul Djalil. Sejak masa itu dayah tersebut dirobah nama baru, yaitu “Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah Seulimum.” Pemberian nama baru tersebut, sebagai mengenang jasa (meuseumpeuna) perjuangan tokoh sebelumnya, yaitu Tgk. H. Ibrahim. Tgk Abdul Djalil sebagai tokoh yang mewarisi tugas ayahnya untuk melanjutkan kehidupan pesantrennya. Dilahirkan tahun 1922. Tahun 1930 beliau memasuki sekolah rendah selama 5 tahun. Dalam tahun 1936 beliau memasuki sekolah Taman Siswa di Jeunieb Aceh Utara hanya satu tahun saja. Dari sekolah Taman Siswa Jeunieb, Tgk. Abdul Djalil pindah ke sekolah Taman Siswa Banda Aceh, ia juga belajar agama pada Tgk. Usman Lam Panah di Lam Bhuek Banda Aceh, hingga tahun 1943. Kemudian beliau kembali ke kampung asalnya dan belajar pada orang tuanya sendiri. Karir Tgk. Abdul Djalil dalam bidang pengabdian masyarakat dan negara dimulai tahun 1949. Beliau diangkat sebagai pegawai negeri pada Kantor Urusan Agama di kecamatan Seulimum sampai pensiun. Tahun 1971 menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Istimewa Aceh. Dan disamping itu beliau sangat aktif dalam masalah-masalah sosial di daerahnya. Hanya baru setahun pimpinan Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah berada di tangan Tgk. Abdul Djalil, pekerjaan itu terpaksa beliau tinggalkan. Beliau menyingkir ke Banda Aceh dan terus ke Medan. Pengungsian beliau kesana, karena keamanan di Aceh masa itu tidak aman akibat meletusnya Peristiwa Aceh tahun 1953. Setelah kekeruhan di Aceh jernih kembali, barulah kegiatan pesantren tersebut diaktifkan kembali. Tahun 1965 Pesantren Dayah Ibrahimiyah mulai membangun dua gedung sekolah, yaitu gedung Ibtidaiyah & Tsanawiyah. Dan sejak itu pula, sistim pendidikan di Dayah tersebut ditambah dengan beberapa mata pelajaran ilmu pengetahuan umum. System kurikulum baru ini, sebagai cara untuk turut menyesuaikan diri dengan perobahan zaman. Gedung Ibtidaiyah berukuran 24 x 6 x 7 meter, sedang Madrasah Tsanawiyah luasnya 21 x 6, 25 m. ke dua gedung yang semi permanen ini, biaya pembangunannya sebagian besar dari swadaya masyarakat. Tahun ajaran 1968/1969 ke dua gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (saat itu pejabatnya adalah Letnan Kolonel Hasby Wahidy). Kurikulum pendidikan di madrasah itu dibagikan dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Tingkat Bustanul Athfal (Taman Kanak-Kanak)
  2. Tingkat Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
  3. Tingkat Tsanawiyah (Tingkat Menengah)

Di masa permulaan, ketiga macam pendidikan ini berjalan lancar. Semua rintangan yang coba menghalangi perjalanannya, dapat disingkirkan. Tapi pada tahun kedua, badaipun datang silih berganti, hingga tak sanggup tenaga menahannya. Kemunduran ini timbul sebagai akibat didirikan sebuah Madrasah Tsanawiyah swasta di kota Seulimum. Hampir semua lulusan MIN atau MIS yang ada di Seulimum, masuk ke Madrasah Tsanawiyah yang baru saja dibangun itu. Karena para lulusan Madrasah Ibtidaiyah baik negeri maupun swasta hanya sedikit sekali, hingga tidak memungkinkan mencukupi untuk murid-murid dua Madrasah Tsanawiyah. Pimpinan Dayah Ibrahimiyah mengambil kebijaksanaan untuk menutup Madrasah Tsanawiyahnya. Bustanul Athfal juga mengalami nasib yang sama. Dia juga terpaksa ditutup berhubung di kota Seulimum telah dibuka sebuah taman kanak-kanak pula. Kalau sudah ada pihak lain yang mau menampung dan memenuhi kebutuhan rakyat, lebih baik kita beralih ke bidang lain, agar ruang lingkup usaha memenuhi aspirasi rakyat semakin lebar. Untuk sementara sekarang, hanya tinggal tingkat Ibtidaiyah milik Dayah Ibrahimiyah. Madrasah Ibtidaiyah ini telah menghasilkan lulusannya sebanyak 6 kali. Para lulusan pertama dan kedua tidak mengikuti Ujian Negara. Tapi yang 4 kali selanjutnya berkesempatan mengikuti ujian penghabisan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri, yang semua pesertanya mencapai nilai atau angka memuaskan. (bersambung). 

Catatan kemudian: Mudah-mudahan seri I  & III   dari laporan yang pernah dimuat  Harian”Waspada” di tahun 1981 ini dapat saya postingkan segera!. Bale Tambeh, 24  Mei  2011 poh 9.35 malam Rabu, T.A. Sakti.