Nyang Ubit-ubit Sang Kabit Langka

Nyang Ubit-Ubit Sang Kabit Langka

Bahan Lomba Cipta Hikayat Aceh

Yang diselenggarakan PLN-DKA

–          Leubeng

–          Piet

–          Jangak

–          H’ueng

–          Sidom (lam) Baet

–          Guda bak Jruen

–          Seupah buleuen/Beluen raja nimoh

–          Lintah Situek

–          Ujoe

–          Uek

–          Limpeuen (?)

–          Teumeule

–          Meuk

–          Meut-meut

–          Keululu

–          Kumbang

 

–          Pajoh on pisang

–          Rambeu na meumeuet bak punggong

–          Rambeu gajah

–          Ikat bak gaki

–          Ta peuglong laju jiputa keudroe

–          Bui abee dapu

–          Bui ek kubiri

–          Meuk bak on pik

–          Kumbang bak reudeup

–          (Binatang) Teureujoe

–          Sidom situek

–          Kumuto tanoh

–          Lalat (mirah rueng)

–          Sidom mirah

–          Ulat tupe ulat C’ap

Cicem rampagoe Nek

–            Leubeng

–            Piet

–            Jangak

–            H’ueng

–            Sidom (lam) Baet

–            Guda bak Jruen

–            Seupah buleuen/Beluen raja nimoh

–             

–             

 

(Jum’at,  11 Jumadil Akhir 1422

                           7 September 2001

                              (T.A. Sakti)

      (Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

Iklan

Seunijuek Sambo – Menyambut Bulletin KERN Mahasiswa Teknik Unsyiah.

SEUNIJUEK SAMBO

Saleum seujahtera sambot nibak lon

Majalah KERN jinoe lon nyata

Padum treb lawet tapreh meuthon-thon

Majalah KERN meusom lam tapa

Pada hai awai katreb di rawon

Majalah KERN katreb lahe ka

‘Oh lheuh nyan  pansan  natreb padum thon

Bak buleun nyou phon ka udeb teuma

Keutua SENAT keubit that meuphom

Aspirasi kawom dum MAHASISWA

Bak latih bakat geu peuna langsong

Geu tamah seutrom KERN nyang kana

Teuga seumangat kuat ngon jantong

Inspirasi jitron meuganda-ganda

Teu biet rencana meugeudong-geudong

Laen buleun phon laen keu dua

Na jipot angen katrok nibak lon

Buleun dua phon geu pasang gamba

Jeut pasang fhoto barang sou langsong

Sou peugot panton atau ceurita

Rencana got that patot tadukong

Beudoh rakan lon jinoe keurija

Peugot karangan kirem le langsong

Pasoe lam KERN wahe saudara

Hai SENAT laen bak lagei patong

Neu cunto KERN deungon PEUNAWA

EFTE ngon FEKON langkah geu ayon

Tanyoe rakan lon pajan tamula….?

FK deungon FIP Fakultas Hukom

Pajan neu puphon peugot MEDIA

DI FKHP, FP po keubon

Mari rakan lon peuteubiet MEDIA

Meungna lagei nyan ngon Tuhan tulong

Unsyiah harom u nanggrou lua

Tanyou ek jithee trok u kota ROM

Meunghan meukong-kong diyub bruek tuha

Meuseb keuh ohnou hai panyot tanglong

Lon sambot KERN hudep KEU DUA

Beu mangat asoe Majalah KERN

Teubeit meuthon-thon si umu DONYA…!!!.

T.A. Sakti, Mhs. FHPM Unsyiah

Medio April 1981

(Baca kembali: Bulletin KERN – forum mahasiswa fakultas teknik – Unsyiah no 004 Th. II – Mei 1981 hlm. 33  ).

Surat Kepada Sebuah Yayasan asal Perancis di Jakarta

 

Kampus Darussalam,

14 Juli 1999

Kepada Yang Terhormat

Mr. Henri Chambert Loir

Ecole Francaise O’Extreme-Orient

Jl. Mampang Prapatan VII/R 5

Jakarta 12790.

Dengan hormat.

Nama Yayasan “Ecole…” telah sering saya  baca, baik dalam berita koran tentang kebudayaan atau pada buku-buku masalah budaya. Namun keinginan berhubungan dengan “Ecole..” selama ini terhambat karena  alamatnya yang belum saya ketahui. Barulah atas bantuan informasi dari seorang kepala sebuah instansi “kebudayaan’, jadilah saya tahu alamat Bapak sekaligus Yayasan “Ecole…”. Perlu saya tambahkan, tiga buah naskah sastra Aceh telah “kami” lakukan kajian ilmiah untuk instansi tersebut. Lembaga itu adalah Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh.

Saya adalah lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta. Berkuliah di sana atas beasiswa Lembaga Kerjasama Indonesia-Belanda. Salah seorang dosen saya di FS UGM adalah Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian. Sementara tempat saya “berguru informal” di bidang budaya-sastra adalah Drs. UU. Hamidy, MA di Universitas Riau, Pekanbaru-Riau. Kalau di Aceh ialah Prof. Dr. Bahrein T.Sugihen, MA.

Saya amat tertarik terhadap sastra Aceh lama. Sekaligus berharap sastra ini mau/bisa  diminati kembali oleh rakyat Aceh seperti tahun-tahun 50-60-an. Pengaruh banyaknya hiburan lain seperti dari radio, buku, koran, majalah, televisi, video; memang telah mengurangi minat masyarakat terhadap sastra Aceh seperti pembacaan hikayat, nazam-tambeh.

Namun, saya sangat yakin bahwa bukan perkembangan media-massa tersebut di  atas   semata-mata yang telah menurunkan citra sastra Aceh. Keberadaan sastra Aceh lama yang sebagian besar masih tetap tertulis tangan, serta ditulis pula dalam huruf Arab-Melayu (huruf Jawoe/Jawi) adalah termasuk penghalang besar bagi masyarakat Aceh untuk  membaca  naskah-naskah sastra itu. Sebab, sebagian  orang Aceh tidak bisa  lagi membaca dalam huruf Arab-Melayu.  Orang Aceh sekarang hanya bisa  membaca dalam huruf Latin. Bila menginginkan mereka meminati kembali sastra Aceh ; salinlah kembali naskah sastra itu ke dalam HURUF LATIN……

   Dalam upaya membela sastra Aceh lama agar tidak punah, kini saya telah mengumpulkan naskah-naskah lama sastra Aceh tulisan tangan. Tebal naskah bervariasi, ada yang tebal, ada yang tipis. Tetapi umumnya lembaran kertasnya sudah mulai rapuh-rusak.

Cara pengumpulan naskah itu adakalanya saya pinjam, sebagian difoto copy dan lainnya milik sendiri. Kini, jumlahnya  ada sekitar 25 (dua puluh lima) judul naskah, yang lebih banyak tebal-tebal.

Tujuan mengumpulkan naskah itu untuk menyalinnya kedalam huruf Latin. Atau mengalih aksara-kan, dari huruf Arab-Melayu ke huruf latin dari naskah-naskah dari bahasa Aceh. Jadi, yang diganti-ganti hanya huruf saja-dari Arab ke Latin-, sedangkan bahasanya tetap seperti semula, yaitu bahasa Aceh. Jika memang diperlukan nanti, baru pada tahap berikutnya diterjemahankan dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia.

 Buat tahap awal, hasil alih aksara/ubah huruf naskah hikayat, tambeh dan nadham itu dihadiahkan kesalah satu perpustakaan umum di Aceh. Kalau memungkinkan, selanjutnya dicetak/diterbitkan buat  bacaan masyarakat luas.

Untuk mengatasi masalah dana/keuangan itu, pada kesempatan ini saya menghimbau serta mengajak Yayasan “Ecole Francaise O’Extreme-Orient” yang Mr. Henri Chambert Loir kelola ini untuk sudi kiranya membantu dana atau menjadi lembaga sponsor dari “kegiatan budaya” saya tersebut.

Demikianlah surat himbauan ini, mudah-mudahan Bapak menyetujuinya.

Salam,

 

T.A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHK)

Surat Kepada Ford Foundation Perwakilan Jakarta

Kampus Darussalam,

6 Maret 2000

Kepada Yang Terhormat

Pimpinan Ford Foundation

Jl. Kebun Sirih No. 1

Jakarta.

            Salam sejahtera….

            Terima kasih saya ucapkan kepada pimpinan & staf Ford Foundation yang mendukung kegiatan saya dengan memberi  semangat dalam surat balasannya sekitar setahun yang lalu. Saran Ford Foundation agar saya menghubungi  sebuah Perguruan Tinggi  yang mengelola Program Penggalakan Kajian Sumber-sumber Tertulis Nusantara tidak jadi saya laksanakan.

Walaupun saya tidak/belum memperoleh bantuan Ford Foundation yang sudah dikelola sebuah Perguruan Tinggi  itu , namun saya tetap bergiat di bidang pelestarian sastra lama Aceh. Surat permohonan bantuan juga terus saya layangkan kesana-kemari. Pada pertengahan 1999, saya mendapat bantuan dari World Bank Perwakilan Indonesia (Jakarta). Bantuan itu digunakan untuk mentransliterasi dan penterjemahaan 4 buah naskah lama sastra Aceh, yang sekarang telah selesai saya kerjakan (ada dalam kumpulan lampiran).

Ketika membaca Harian Republika, Jumat, 18 Februari 2000 hlm. 20 yang berjudul “Ketika Sastrawan Datangi Sekolah-sekolah”, gairah saya  dalam menggeluti sastra lama Aceh bangkit kembali.

Oleh karena saya sudah pernah menyurati tempo hari dan hampir segalanya  telah tercakup dalam lampiran, maka dalam surat ini hanya saya sampaikan secara ringkas saja.

Bantuan yang saja mohon dalam dua bentuk, yaitu :

  1. Kegiatan transliterasi dan penterjemahan ke bahasa Indonesia terhadap beberapa buah naskah lama sastra Aceh yang berhuruf Arab Melayu (bahasa Aceh : harah Jawoe). Kegiatan seperti ini telah saya lakukan atas bantuan The World Bank Perwakilan Indonesia. Namun, naskah-naskah yang masih saya miliki sekarang lebih tebal dari naskah yang sudah saya kerjakan itu.
  2. Dana bantuan untuk menerbitkan/mencetak naskah-naskah yang sudah dialihkan ke huruf  Latin, namun tetap berbahasa Aceh. Pada saya sekarang sudah terkumpul 25 judul naskah, yang bila telah selesai dialihkan seluruhnya ke huruf LATIN akan menjadi sia-sia jika tidak diterbitkan/diedarkan kembali ke masyarakat Aceh.

Untuk lebih praktis, penerbitan itu dibuat berjilid, masing-masing sebesar buku saku, yang isinya sekitar 60-an halaman. Dari semua naskah yang ada pada saya, mungkin bisa  menghasilkan sekitar 80 jilid buku saku sastra lama Aceh.

Bagi penerbitan ini, saya mengusulkan dua cara pendistribusiannya.

a). Hasil cetakan itu dibagi antara Ford Foundation dengan saya menurut persen tertentu. Pihak Ford Foundation menghadiahkannya kepada masyarakat Aceh, baik kepada pustaka-pustaka sekolah atau pesantren. Sementara, bagian saya sendiri akan saya pasarkan ke toko  Buku dengan harga murah,  agar bisa  mencetak ulang naskah-naskah tersebut.

Dengan penjualan dimurahkan, pada tahun 1997 pernah saya terbitkan empat naskah sastra Aceh lama dengan dana saya sendiri. Masing-masing naskah dicetak 1000 eksemplar. Ternyata kini sudah habis terjual.

b). Hasil penerbitan itu diberikan kepada saya untuk mengelola pemasarannya. Uang hasil penjualannya adalah untuk mencetak ulang naskah-naskah itu, atau digunakan buat menerbitkan naskah-naskah lainnya, atau secara umum untuk “Dana pelestarian Sastra Aceh” bantuan Ford Foundation.

Ataupun ada bentuk pengelolaan cara lain menurut Ford Foundation ?.

Demikian surat permohonan ini. Atas tanggapan positif dari Ford Foundation, saya ucapkan banyak terima kasih.!

Salam

 

T. A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

Surat Kepada Yayasan Habibie Center

Banda Aceh, 3 Ramadhan 1421

29 November 2000

Kepada Yang Terhormat

Pimpinan The Habibie Center

Jl. Kemang Selatan No. 98

Jakarta Selatan 12560.

Asslamu’alakum Wr.Wb

Dan salam sejahtera……

Pertama-tama saya mengucapkan “Selamat Berpuasa” kepada para staf The Habibie Center (THC) yang berpuasa, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT… Amin!.

The Habibie Center sudah dikenal umum sejak sebelum didirikannya. Hal ini bisa terjadi karena Bapak Habibie sendiri yang memberi keterangan pers sewaktu dikunjungi Gusdur yang baru saja terpilih sebagai Presiden hari itu. Pada pertemuan itulah yang disiarkan langsung RCTI Pak Habibie mengatakan, bahwa setelah berhenti jadi Presiden beliau akan mendirikan sebuah LSM bidang politik dan HAM… inilah The Habibie Center.

Pada mulanya, saya yang bergiat di bidang “Budaya Daerah” hampir sama sekali tidak merasakan ada kaitanya dengan LSM yang mentereng ini. Kegiatan pertama dari THC yang saya baca di media massa, bahwa THC akan memberi beasiswa kepada mahasiswa S2 dan S3. Jadi belum nampak hubungannya dengan kegiatan saya, walaupun niat kuliah S2 memang terpendam di hati saya. Kemudian saya memperoleh alamat THC dari mahasiswa PT Swasta Abulyatama. Terbaca di situ bahwa The Habibie Center adalah : “Yayasan pembinaan, pengembangan sumber daya  manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi”. Sebatas ini, mulai ada secuil kaitannya, yakni dalam hal ‘ilmu pengetahuan’ menurut seorang seniman tari, jelaslah bagi saya bahwa THC   mulai  ada kaitannya dengan “kebudayaan” (Republika, 17-9-2000 hlm.2). Sebenarnya, keterangan   dari seniman tari  itu masih megambang/belum jelas ; namun saya sengaja memberanikan diri menyurati LSM yang membanggakan ini.

Bapak Habibie dan The Habibie Center yang terhormat….

Sejak tahun 1992/8 tahun terakhir, saya mempunyai kegiatan sampingan selain tugas pokok saya mengajar di FKIP Unsyiah Banda Aceh. Kegiatan sambilan itu ialah mengumpulkan naskah-naskah lama sastra Aceh dan lalu menyalinnya/transliterasi ke huruf Latin. Hingga  kini sudah 20 naskah selesai saya alihkan dari huruf Arab Melayu/aksara Jawi ke huruf Latin.

Terlibatnya saya dalam mengurus naskah-naskah lama ini adalah atas keprihatinan pribadi saya terhadap nasib naskah kuno sastra Aceh yang terbengkalai; tak ada yang peduli lagi. Menurut saya, ketidak pedulian masyarakat Aceh lagi “informasi” dari naskah-naskah tersebut. Sebab, mereka masih juga mencari informasi serupa dalam buku-buku modern yang umumnya tertulis dengan huruf Latin. Dalam hal ini saya berkesimpulan, bahwa ada baiknya semua naskah berhuruf Arab Melayu itu disalin/dialihkan ke dalam huruf Latin. Karena sebagian besar/mayoritas masyarakat Aceh sekarang tidak bisa lagi membaca tulisan berhuruf Arab Melayu/huruf Jawi.

Tulisan dari naskah-naskah lama itu tertulis dalam bentuk syair bahasa Aceh. Jenisnya ada tiga, yaitu Nadham/Nazam, Tambeh dan Hikayat. Nazam isinya lebih  mirip dengan kitab Agama, sedangkan Tambeh berisi nasehat/tuntunan agama dan nasehat bermasyarakat pada umumnya. Sementara Hikayat berisi cerita-cerita/kisah yang pada zaman dulu menjadi salah satu sarana pendidikan dan hiburan bagi masyarakat. Para pegarang dari naskah-naskah itu umumnya tidak mencantumkan namanya, namun dapat kita perkirakan adalah para ulama-penyair dan pujangga-pujangga.

Menurut penilaian saya, isi dari naskah-naskah itu masih aktual dan bisa memberi manfaat kepada masyarakat, terutama dalam hal akhlak dan budi-pekerti pergaulan bermasyarakat. Saya yakin, sekiranya generasi muda Aceh belum terputus hubungannya dengan naskah-naskah lama itu selama + 35 tahun akibat ketidaktahuan huruf Arab Melayu, mungkin (?) tidak akan terjadi apa yang sempat disaksikan-serta ikut ditanggapi Presiden Habibie dalam dialog “Aceh” di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Waktu itu generasi muda “menilai’ bodoh orang tua.!

Sejak 8 tahun bergiat di bidang alih aksara/transliterasi ini, ternyata Nazam-Tambeh dan Hikayat yang sudah berhuruf latin itu belum mampu saya sebarkan kembali kelingkungan masyarakat Aceh. Padahal, kalau bisa  digandakan/diterbitkan dalam bentuk BUKU SAKU setebal rata-rata 60 halaman, hasil kerja saya sudah menghasilkan 80 jilid.

Berbagai pihak di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Jakarta telah saya surati/datangi, tetapi nyaris tak ada yang sudi membantu dana. Hanya Bank Dunia Perwakilan Jakarta yang pernah membantu (foto copy terlampir) dengan meminta saya menterjemahkan 4 naskah dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia. Maka lewat surat ini, saya memohon bantuan dana dari The Habibie Center untuk melestarikan dan menggandakan naskah-naskah yang sudah selesai saya alihkan ke huruf latin itu.

Demikianlah surat permohonan ini, semoga terkabul hendaknya..

Wassalam ;

T.A. Sakti

(Catatan kemudian: Sejak tahun 1991 sampai 28 Juli 1999, saya sekeluarga pernah tinggal/kost  di rumah yang kemudian dijadikan Perumahan Yayasan Habibie Center, Darussalam,  Banda Aceh; tempat menampung Yatim-Piatu korban tsunami Aceh.

Bale Tambeh,  9 Maret 2012, pkl. 11.00 wib, siang, T.A. Sakti ).

Surat Kepada Pemimpin Redaksi Harian “WASPADA” – Medan

Bucue, Kota Bakti, 29 Sept 1988

Kepada Yth.

Bapak Pimpinan Redaksi

Harian WASPADA

Di

MEDAN

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Rahmat dan kurnia Allah SWT, semoga senantiasa dilimpahkan kepada kita sekalian, sehingga dapat terlaksanakanlah semua maksud dan cita-cita kita. Amiin.

Rencana saya semula, bermaksud merampungkan suatu ‘laporan’ kepada Harian WASPADA yang dapat langsung saya kirimkan dari kota Yogyakarta. Tetapi Tuhan menentukan lain dari keinginan saya. Ditengah-tengah saya sedang menyusun laporan, kakak kandung saya datang ke Yogya untuk menjemput/membawa saya pulang ke Aceh. Sebagai bapak ketahui, setelah mengalami tabrakan kenderaan roda empat, keadaan fisik saya sudah cacat bagian kaki, maka sebab itulah saya perlu dijemput untuk pulang ke Aceh. Begitulah suasananya, sehingga ‘laporan’ “Aceh Dipandang dari Luar”  atau wawancara ini saya susun di dua buah Daerah Istimewa, yakni di daerah ISTIMEWA Yogyakarta dan di Propinsi Derah ISTIMEWA Aceh (rumah saya sendiri). Mulai halaman 1-19 dan 26-28 saya susun di kota Yogyakarta sementara “wawancara” dari halaman 20 – 25 saya susun kembali di rumah saya sendiri di desa Bucue, Kota Bakti (Aceh).

Kepada bapak pengasuh Hr. WASPADA sangat saya harapkan untuk sudi kiranya mengirim kembali kepada saya ‘laporan’ ini sekiranya tak layak dimuat dalam Hr. WASPADA. Prangko pengembalian terlampir. Dan sekiranya, dapat dimuat dalam Hr. WASPADA, saya mohon dikirimkan beberapa eksemplar Hr. WASPADA yang memuat laporan ini, karena teman-teman yang ikut memberi pendapat sebagai nara sumber laporan ini (kesemua mereka di Yogyakarta) sangat bermaksud/ingin membacanya kembali, setelah dimuat dalam koran.

Bapak Pengasuh Hr. WASPADA yang baik.

Setelah saya pulang ke Aceh dari Yogyakarta, saya bermaksud menulis sesuatu yang merupakan oleh-oleh dari rantau atau buah tangan dari seberang. Tulisan itu, tentu saja berkaitan dengan pengalaman ‘pengamatan’ yang saya lakukan. Isinya akan saya kaitkan Aceh – Yogya. Dan rencana judulnya adalah: Dari Daerah ISTIMEWA KE DAERAH ISTIMEWA. Saya sedang ‘melacak’, kira-kira koran/majalah mana yang bersedia memuat artikel panjang saya itu. Sekiranya Hr. WASPADA memuatnya, saya mohon diberi kabar…

Mungkin perlu juga saya jelaskan, bahwa meskipun saya sudah kembali berada di Aceh, namun tulisan-tulisan yang saya tulis TETAP MEMAKAI ALAMAT YOGYAKARTA. Sekurang-kurangnya hingga penghujung/berakhir tahun 1988 ini. Ini, dikarenakan kesemua ide, catatan atau garis besar dari tulisan-tulisan tersebut, telah dipersiapkan di Yogyakarta. Kerangka dasar tulisan yang telah saya catat sejak awal di Yogya itu, jumlahnya kira-kira 30 judul lagi yang belum saya selesaikan.

 

Wassalam,

T.A. Sakti

 alias

 

Drs. T. Abdullah Sulaiman Bucue

Almarhum Prof.H.A. Madjid Ibrahim berasal dari Keluarga Ulama

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim berasal dari keluarga Ulama

II

Laporan: T.A. Sakti

 

Saksi mata terhadap kunjungan Bapak Kemerdekaan Malaysia itu, masih hidup hingga saat ini. Beliau adalah istri Tgk. H. Ibrahim sendiri, yang masih sehat wal‘afiat sekarang. Teungku Abdurrahman Putra Al Haj, sangat berjasa dalam mempersatukan Negara-negara Islam. Jalan pertama yang beliau tempuh, yaitu dengan mengadakan MTQ tingkat internasional setiap tahun di Kuala Lumpur. MTQ internasional adalah Negara Malaysia yang merintisnya buat pertama kali. Karena jasanya, Teungku Abdurrahman pernah diangkat oleh negara-negara Islam, menjadi presiden pertama Persatuan Negara-Negara Islam sedunia. Sekarang beliau bergiat di bidang dakwah Islamyah di Malaysia.

Perjalanan sejarah memang tidak selamanya datar. Demikian juga dengan perkembangan dayah Baro Bung Asam ini. Penambahan bangunannya tidak pernah terjadi lagi. Kelesuan sudah menjadi nampak dalam tahun empat puluhan. Hal demikian terus berlangsung hingga Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Para santri (ureueng meudagang) yang belajar di sana ketika itu sudah menyusut. Hanya agak menjadi ramai dengan anak dari Tgk. H. Ibrahim sendiri. Dalam masa permulaan kemerdekaan Indonesia, Tgk H. Ibrahim memegang jabatan rangkap. Disamping sebagai pemimpin dari sebuah pondok pesantren, beliau juga sebagai Ketua Barisan Mujahidin Seulimum. Pembentukan Barisan Mujahidin ini, adalah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Selanjutnya Tgk. H. Ibrahim diangkat pemerintah sebagai kepala Mahkamah Syari’ah Kecamatan Seulimum.

Pada hari ahad, menjelang shubuh tahun 1952, Tgk. H. Ibrahim berpulang ke rahmatullah di komplek dayahnya sendiri, di Lamjruen Seulimum, kira-kira 43 km dari kota Banda Aceh kejurusan Banda Aceh – Medan. Jenazah beliau di kebumikan di Lamjruen, yang sekarang berdampingan letaknya dengan makam Prof. Tgk. H. Abdul Madjid. Tgk. H. Ibrahim meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Tgk. Nyak Nur Halimatussa’diyah, Tgk.. Nyak Bulgia dan Pocut Khadijah. Sedangkan anak beliau 10 orang. Mereka itu ialah; Tgk. Abdul Djalil, Prof. Tgk. H. Abdul Madjid Ibrahim, Adnan Ibrahim, SH (tugas sekarang di airport kemayoran Jakarta), Asy’ariah di Seulimum, Jamaluddin (Guru SMA 1 Kramat Raya Jakarta Pusat), Ainal Mardhiah (Jakarta), Mahyuddin (Karyawan Dolog Jakarta) M. Dahlan (Madrasah Ibrahimiyah Seulimum), Mustafa Ibrahim (Biro Rektor Universitas Syiah Kuala) dan Muhammad Ibrahim (telah meninggal dunia tahun 1970).

Sepeninggal Tgk. H. Ibrahim, pimpinan pesantren Dayah Baro Bung Asam Lamjruen beralih kepada putra beliau yang tertua, yakni Tgk. Abdul Djalil. Sejak masa itu dayah tersebut dirobah nama baru, yaitu “Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah Seulimum.” Pemberian nama baru tersebut, sebagai mengenang jasa (meuseumpeuna) perjuangan tokoh sebelumnya, yaitu Tgk. H. Ibrahim. Tgk Abdul Djalil sebagai tokoh yang mewarisi tugas ayahnya untuk melanjutkan kehidupan pesantrennya. Dilahirkan tahun 1922. Tahun 1930 beliau memasuki sekolah rendah selama 5 tahun. Dalam tahun 1936 beliau memasuki sekolah Taman Siswa di Jeunieb Aceh Utara hanya satu tahun saja. Dari sekolah Taman Siswa Jeunieb, Tgk. Abdul Djalil pindah ke sekolah Taman Siswa Banda Aceh, ia juga belajar agama pada Tgk. Usman Lam Panah di Lam Bhuek Banda Aceh, hingga tahun 1943. Kemudian beliau kembali ke kampung asalnya dan belajar pada orang tuanya sendiri. Karir Tgk. Abdul Djalil dalam bidang pengabdian masyarakat dan negara dimulai tahun 1949. Beliau diangkat sebagai pegawai negeri pada Kantor Urusan Agama di kecamatan Seulimum sampai pensiun. Tahun 1971 menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Istimewa Aceh. Dan disamping itu beliau sangat aktif dalam masalah-masalah sosial di daerahnya. Hanya baru setahun pimpinan Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah berada di tangan Tgk. Abdul Djalil, pekerjaan itu terpaksa beliau tinggalkan. Beliau menyingkir ke Banda Aceh dan terus ke Medan. Pengungsian beliau kesana, karena keamanan di Aceh masa itu tidak aman akibat meletusnya Peristiwa Aceh tahun 1953. Setelah kekeruhan di Aceh jernih kembali, barulah kegiatan pesantren tersebut diaktifkan kembali. Tahun 1965 Pesantren Dayah Ibrahimiyah mulai membangun dua gedung sekolah, yaitu gedung Ibtidaiyah & Tsanawiyah. Dan sejak itu pula, sistim pendidikan di Dayah tersebut ditambah dengan beberapa mata pelajaran ilmu pengetahuan umum. System kurikulum baru ini, sebagai cara untuk turut menyesuaikan diri dengan perobahan zaman. Gedung Ibtidaiyah berukuran 24 x 6 x 7 meter, sedang Madrasah Tsanawiyah luasnya 21 x 6, 25 m. ke dua gedung yang semi permanen ini, biaya pembangunannya sebagian besar dari swadaya masyarakat. Tahun ajaran 1968/1969 ke dua gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (saat itu pejabatnya adalah Letnan Kolonel Hasby Wahidy). Kurikulum pendidikan di madrasah itu dibagikan dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Tingkat Bustanul Athfal (Taman Kanak-Kanak)
  2. Tingkat Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
  3. Tingkat Tsanawiyah (Tingkat Menengah)

Di masa permulaan, ketiga macam pendidikan ini berjalan lancar. Semua rintangan yang coba menghalangi perjalanannya, dapat disingkirkan. Tapi pada tahun kedua, badaipun datang silih berganti, hingga tak sanggup tenaga menahannya. Kemunduran ini timbul sebagai akibat didirikan sebuah Madrasah Tsanawiyah swasta di kota Seulimum. Hampir semua lulusan MIN atau MIS yang ada di Seulimum, masuk ke Madrasah Tsanawiyah yang baru saja dibangun itu. Karena para lulusan Madrasah Ibtidaiyah baik negeri maupun swasta hanya sedikit sekali, hingga tidak memungkinkan mencukupi untuk murid-murid dua Madrasah Tsanawiyah. Pimpinan Dayah Ibrahimiyah mengambil kebijaksanaan untuk menutup Madrasah Tsanawiyahnya. Bustanul Athfal juga mengalami nasib yang sama. Dia juga terpaksa ditutup berhubung di kota Seulimum telah dibuka sebuah taman kanak-kanak pula. Kalau sudah ada pihak lain yang mau menampung dan memenuhi kebutuhan rakyat, lebih baik kita beralih ke bidang lain, agar ruang lingkup usaha memenuhi aspirasi rakyat semakin lebar. Untuk sementara sekarang, hanya tinggal tingkat Ibtidaiyah milik Dayah Ibrahimiyah. Madrasah Ibtidaiyah ini telah menghasilkan lulusannya sebanyak 6 kali. Para lulusan pertama dan kedua tidak mengikuti Ujian Negara. Tapi yang 4 kali selanjutnya berkesempatan mengikuti ujian penghabisan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri, yang semua pesertanya mencapai nilai atau angka memuaskan. (bersambung). 

Catatan kemudian: Mudah-mudahan seri I  & III   dari laporan yang pernah dimuat  Harian”Waspada” di tahun 1981 ini dapat saya postingkan segera!. Bale Tambeh, 24  Mei  2011 poh 9.35 malam Rabu, T.A. Sakti.

Kisah Mantan Rektor Universitas Syiah Kuala

KAMPUS DARUSSALAM TURUT MENANGIS

Oleh : T.A. Sakti

Mhs. FHPM-Unsyiah

Sore itu, hari minggu tgl. 15 Maret 1981. Seperti biasanya, kalau hari minggu, suasana kampus Darussalam memang agak sepi. Betapa tidak, bus kampus yang digelar Robur, satupun tidak hadir kesana. Para dosen yang tinggal dalam kompleks  kampus, juga banyak yang pergi. Diantarannya pergi rekreasi. Ataupun mencari rezeki. Usaha sambilanlah ! Memang Darussalam kalau hari-hari libur kurang menarik di hati.

Sementara itu, MA juga pergi ke kota. Itulah kegiatannya setiap hari Minggu. Kota Banda Aceh, tujuh kilo meter jaraknya dari Darussalam. Setelah cukup rawon-rawon, MA mampir ke sebuah warung kopi. Dia lama nongkrong disitu. Sambil merokok pandangannya tertuju pada siaran TV, yang terletak disebuah sudut kedai. Tiba-tiba  ia tertegun.  Wajahnya yang ceria, berobah jadi sendu. “Mimpikah aku ini ?”, teriak MA dalam hati. “Oh tidaaaakk!. Ini memang kenyataan!. Astaghfirullahal’alim”, sebuah ucapan terlontar keluar dari mulut MA. Kemudian terdengar dia mengoreksi diri. “Innalillahi Wa inna Illaihi Rajiunn”. Lama MA termangu sendiri. Lamunan hanya tertuju pada yang pergi. Gubernur Aceh, Prof. A. Madjid Ibrahim menemui Ilahi. Kini lamunan MA terbang jauh, ketika almarhum menjabat Rektor Unsyiah yang pertama (1965-1973). Pribadi Almarhum sangat terkesan di hatinya. Pribadi yang penuh dedikasi untuk pembangunan. Kesemua sejarah ini terpatri dalam ingatan MA. Sebab, tokoh mahasiswa yang satu ini, memang sudah berpredikat mahasiswa ketika itu. MA melangkah meninggalkan warung kopi. Tubuhnya masih terasa lemas. Dengan menumpang bis umum 385, mahasiswa itu menuju kampus Darussalam. “Aku beruntung hari ini dapat berita baru. Biar aku jadi jagoan bicara nanti”. Hati MA gembira campur sedih, mengingat dialah yang lebih dahulu tau berita musibah tadi. Betapa kecewa hati MA, ketika belumpun sampai ke pondoknya, seorang teman memberitahukannya berita dari TV. Kemudian MA menuju rumah seorang dosen kenalannya. Disana sang dosen juga memberitahukannya bahwa Prof. A.Madjid Ibrahim telah berpulang kerahmatullah jam 16.30 WIB tadi. Disini, MA kecewa lagi. Hendak jadi informan ulung kandas. Minggu malam telah larut. Sedang MA belum tidur lagi. Kantuknya tak kunjung tiba. Sambil berbaring, dia mulai menghitung jasa-jasa Almarhum Prof. A.Madjid Ibrahim, pada Universitasnya yakni Universitas Syiah Kuala.

Ilhampun datang, MA teringat pada sebuah dokumen yang pernah disimpannya. Dia membongkar semua bungkusan-bungkusan lama yang pernah disimpannya. Dia membongkar semua bungkusan-bungkusan itu dari celah buku-bukunya dengan hati-hati. Secarik kertas koran di jumpainya. Koran tersebut adalah Harian Waspada, tertanggal berita 23-7-1978. Didalamnya tertulis riwayat hidup Prof. A.Madjid Ibrahim. Mahasiswa satu satunya yang belum tidur ini dengan penuh konsentrasi terus membaca riwayat hidup dari tokoh professor yang dikaguminya itu : “Prof.A.Madjid Ibrahim dilahirkan di Seulimum pada tanggal 19 November 1926, beragama Islam. Pendidikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1957 serta University of Columbia tahun 1961 di New York. Pengalaman/Jabatan : Pimpinan Staf Redaksi Majalah “Api Merdeka” IPJ Pusat Jokyakarta (1945-1946). TRIP Jawa Timur (1947-1949) ; Anggota PB HMI (1953-1955), Koordinator Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1953-1958). Anggota Badan Pekerja PPMI (1956-1958). Dosen Fakultas Ekonomi UI (1957-1962). Dosen Terbang Universitas Syakiakerti di Palembang (1957-1958). Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (1963-1966). Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1965-1973). Diangkat sebagai Guru Besar dalam teori ekonomi pada Universitas Syiah Kuala (1967-sekarang). Ketua Aceh Development Board (1968-1973). Anggota Dewan Pembina Golkar Dista Aceh (1970-1973). Deputy Ketua Bappenas Bidang Regional dan Daerah (1973-sekarang, 1978-pen). Angota Policy Research Team Deperdag (1971-1973).

Jabatan jabatan lain yang pernah dipegangnya antara lain : Anggota Dewan Penyantun Universitas Syiah Kuala. Anggota MPR dan anggota Badan Pekerja MPR. Wakil Ketua Panitia Pelaksana Panitia Parasamnya Purna Karya Nugraha (1974 dan 1978). Anggota Ahli Team Ahli Lemhanas (1974-sekarang, 1978-pen). Dosen Seskogab. Wakil Ketua Steering Comite untuk Regional Studies (1974 sekarang, -1978-pen). Penasehat Team Pembina Program Inpres Propinsi, Kabupaten, Desa, SD, Pasar dan Penghijauan (1974-sekarang,1978-pen). Penasehat Team Pembina Pendidikan dan Latihan Perencanaan Pembangunan Daerah (1975). Anggota Panitia Penghimpunan Bahan-bahan utnuk SU MPR. Ketua Delegasi Indonesia di dalam Asean Senior Official Meeting. Anggota Delegasi Indonesia didalam Asean Economic Minister Meeting. Anggota Advisory Council For Regional Development dari UNCED Nagoya. Wakil Ketua Team Pembina Koordinasi Urusan Timor Timur. Ketua Team Perencana Daerah Perbatasan Kalbar. Komisaris Utama PT Pesero Batama. Ketua Steering Committee Perencana Pembangunan Daerah Industri Batam. Dilantik menjadi Gubernur Aceh oleh Mendagri Amir Mahmud pada tanggal 27 Juli 1978 mengantikan A.Muzakkir Walad. (Sud).

Setelah membaca dukomen itu, getar jiwa mahasiswa MA semakin terharu dan kagum akan pemimpinnya, yang telah pergi. Pribadi Prof. A.Madjid Ibrahim, sangat erat hubungannya dengan penjelmaan Kampus Darussalam. Beliau beserta tokoh-tokoh Aceh lainnya, mendesak pemerintah pusat, agar mengizinkan di Aceh didirikan sebuah Universitas Negeri. Setelah sekian lama mereka perjuangkan, akhirnya menjelmalah apa yang sangat didambakan seluruh rakyat Aceh. Sebuah embryo dari Universitas Syiah Kuala, mulai tumbuh penuh gelora. Dan bahkan sekarang telah memiliki Fakultas Kedokteran, walaupun buat sementara hidup dalam pengasingan. Kesemua hasil yang telah diperoleh  Universitas ini, tidak terlepas dari darma bakti yang telah disumbangkan oleh Almarhum Bapak Prof. A.Madjid Ibrahim yang pernah menjadi Dekan Fakultas Ekonomi dan pula Rektor Pertama Universitas Syiah Kuala. Kekaguman MA semakin tebal, karena dia tahu sekarang, bahwa tokohya ini, bukan hanya berbakti buat daerah Aceh saja. Tapi secara nasional tidak luput dari sumbangsihnya. “Wakil Ketua Team Pembina Koordinasi Urusan Timor Timur, Deputy Ketua Bappenas Bidang Regional dan Daerah. Juga lainnya yang tercantum dalam dokumen tadi, masih tersemat dihatinya. Tanpa disadari, air mata duka turun rintik-rintik membasahi pipi MA. Tangisnya semakin tak tertahan lagi, hingga mulut MA pun, turut terpancar suara tangisan “Syeuk!, Syeuk!.,mmmmm,,mmmmm,,mmmm,’a’a’aaa,,a’a’aaa,,. Sekitar jam empat pagi, MA tertidur dengan tangisan yang dibawa tidur, mungkin pula sampai terbawa ke alam mimpinya !.

Pagi Senin, tanggal 16 Maret 1981 telah menjelma. Pagi-pagi sekali, MA sudah berada di terminal bus Darussalam. Dia mau pergi ke kota. Rencananya hendak turut bersama menyambut ketibaan jenazah Prof. A.Madjid Ibrahim dari Jakarta. Sang mahasiswa ini merasa heran. Mengapa tak sebuah Roburpun yang tiba dari kota. Dia melihat beratus-ratus siswa sekolah menengah sedang antri menunggu bus, begitu pula dengan sejumlah mahasiswa/i lainnya, yang mau ke kota. “Kasihan juga mereka”;, bisik MA dalam hati. Siswa-siswa yang sekolah di kota terpaksa bayar mahal hari itu. Mereka naik bus Damri atau bis umum 385 yang banyak sekali beroperasi dari Banda Aceh-Darussalam. Sewa Robur cuma Rp. 25, Damri Rp. 50, sedang bis 385 harus bayar Rp. 100-150, Kasihan mereka yang kebetulan tidak membawa kelebihan uang dari rumah. Memang para siswa ini, mungkin belum tahu dan mengerti, bahwa kampus Darussalam sedang berkabung bagi menghormati salah seorang tokoh pendirinya yang telah pergi. Apalagi jika anak-anak tersebut dari desa yang jauh dari Darussalam. Bagi MA sendiri masih beruntung. Ia menumpang sebuah Robur yang datang menjemput mahasiswa yang tinggal di Kampus, untuk mejemput jenazah di Lapangan Udara Blang Bintang. Dalam perjalanan, MA menghitung deretan bus yang demikian banyak jumlahnya, bagaikan deretan gerbong-gerbong kereta api yang sedang berjalan tanpa relnya. Memang di Aceh kereta api telah lama sekali gulung tikar. Dari Blang Bintang jenazah terus dibawa menuju simpang tiga, yaitu ke rumah almarhum. Dari sana, jenazah dibawa ke Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, untuk disembahyangkan. Sementara itu, jauh  sebelum jenazah itu tiba, beribu-ribu warga kota Banda Aceh, termasuk pelajar dan mahasiswanya sedang menunggu-nunggu dengan khitmat. Di sepanjang pinggir jalan, di dalam dan diluar Mesjid dipenuhi massa. Kelihatannya para petugas lalu lintas tidak berapa sukar mengatur ketertiban. Maklum saja, kedatangan massa di situ, bukanlah untuk mengacaukan. Tapi khusus untuk melihat dan memberi penghormatan di saat-saat terakhir, sebelum pemimpinnya dikebumikan. Dengan didahului laungan laram bis lalu lintas, jenazah memasuki pintu gerbang mesjid. Berdesak-desak hendak melihat usungan jenazah, yang telah dimasukkan dalam keranda berukiran indah. Dua buah payung warna kuning turut menaungi jenazah yang tengah diusung ke dalam mesjid. Tidak berapa lama sembahyang jenazahpun dimulai. Seterusnya jenazah dibawa ke Seulimum untuk dimakamkan. MA tidak ikut kesana, hanya diikutinya iringan-iringan mobil pengantar jenazah, hingga menghilang dari pandangannya.

MA kembali kepondoknya  di kampus Darussalam. Suasana kampus masih tetap sepi, hanya sesekali terdengar deruman bis 385, yang masih memecah kesunyian. “Robur tidak hadir  ke Darussalam hari ini, sungguh beruntunglah abang-abang sopir 385. Banyak duit yang tamong (masuk) saku mereka”!, pikir MA sambil sarapan. Hanya pejalan-pejalan kaki, nampak keluar dari kantin pulang kerumahnya. Tugu Darussalam yang agung itu, kelihatannya sendu. Mungkin ia sangat duka atas kemangkatan salah seorang pendirinya. Pohon-pohon akasia yang jadi lambang keindahan kampus selama ini, hanya tinggal bermenung saja. Hari itu seluruh kampus diliputi kesedihan dan tangisan. Kampus bekabung, atas kepergian seorang putra berjasa, pergi buat selama-lamanya.

MA sedang istirahat selepas makan. Dia bersandar pada sebatang akasia. Ia sedang menganalisa nasib dirinya. Sebelas tahun telah berlalu, sejak ia jadi mahasiswa. Namun kuliahnya tak kunjung selesai. Mulai sekarang ia berniat buat revolusi perobahan. Tertambatlah satu tekad bagi diri pribadi  MA, sejak peristiwa musibah itu. Ia bertekad mengikuti jejak perjuangan Prof. A.Madjid Ibrahim. Titel yang dipangku selama ini, mau dibuang jauh-jauh. Dengan penuh semangat ia berkata : “Persetan MA!! (Persetan  Mahasiswa Abadi!!!).***

Bucue, 16-3-1981/9-5-1401


 

( Baca kembali: Bulletin PEUNAWA,  Media Komunikasi Mahasiswa FEKON Unsyiah, edisi 8    Tgl.  23 Juni 1981 Thn III  hlm. 25 – 29).

 

 

Tanggal Keramat Yang Dilupakan, Mengapa?

TANGGAL KERAMAT

YANG DULUPAKAN, MEGAPA ?

 Oleh:  T.A. Sakti – Mhs. FHPM – Unsyiah/IV

Masih GRAK GRUK dan krak kruk dalam telinga kita sampai hari ini, akan tulisan sahabat kita sdr. H.Ayub Sani Ibrahim dalam Peunawa no. 1, Thn ke II, May 1980 hal. 26. Dihalaman tersebut kolom 2, baris 31-35, disana terdapat beberapa pertanyaan dari penulisnya tentang embel-embel “ISTIMEWA” dari Propinsi Daerah Istimewa Aceh, yang kita cintai bersama ini. Tulisan ini merupakan sekelumit jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kalau masih belum terjawab semuanya, penulis pun tak lupa mohon maaf, maklum saja andapun tahu dan penulis pun tahu, apa sebabnya ?

TANGGAL 26 MEI adalah “hari yang sangat penting” bagi kita rakyat Indonesia yang berada di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, karena pada tanggal itulah pemerintah pusat memberikan secara resmi gelaran atau julukan DAERAH ISTIMEWA bagi Aceh. Kita mengenangkan, bahwa kita lebih super dari daerah lain, tapi hanya sekedar mengingatkan kita akan masa-masa sukar dan pahit di waktu silam. Dari renungan ini, kita harapkan supaya partisipasi kita dalam pembangunan “manusia Indonesia yang seutuhnya” itu akan lebih bergairah lagi. Tulisan ini, juga sekaligus menyambut dan memperingati “genap  satu   abad usia Hikayat Prang Sabi yang jatuh pada tahun 1980 ini. Hikayat Prang Sabi sangat berjasa bagi kita karena dengannya telah menggelorakan semangat perjuangan rakyat Aceh, ketika menentang Intervensi dari kolonial Belanda dulu.

Hikayat Prang Sabi ini dikarang oleh Teungku Syik Pante Kulu dan beberapa Ulama lainnya dalam tahun 1980. Maka sudah sewajarnyalah apabila Pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah Daerah Istimewa Aceh, mengadakan Upacara Peringatan yang “sesuai dan wajar” dengan jasa-jasa yang telah disumbangkan oleh Hikayat Prang Sabi ini dan juga mempertimbangkan pemberian gelar kehormatan sebagai “PAHLAWAN NASIONAL”, kepada pengarang Hikayat Prang Sabi, yaitu Teungku Syik Pante Kulu pada tahun 1980 ini. Rasanya tidaklah cukup dengan mencantumkan nama beliau pada sebuah pusat Pendidikan di Daerah saja yaitu Pesantren Teungku Syik Pante Kulu. Mudah-mudahan, nanti janganlah aka nada dari anak-anak cucu kita yang mencap kita generasi yang hidup tahun 1980 ini, sebagai bunyi pepatah : “Kacang yang lupa akan kulitnya”..

Tentang embel-embel istimewa ini, Gubernur Aceh Prof. H.A. Majid Ibrahim menyatakan bahwa Daerah Aceh mempunyai keistimewaan dalam tiga hal. Istimewa dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan peradaban/kebudayaan. Dalam bidang keagamaan kita sebagai hamba Allah, marilah kita lebih meningkatkan penghayatan kepada dalil-dalil keagamaan dalam rangka lebih meningkatkan peribadatan masing-masing. Hal itu dinyatakan dalam sambutannya pada acara penyambutan abad ke 15 Hijriah, bertempat di SD Lamlom, LhokNga Kabupaten Aceh Besar (Waspada 4 Desember 1979).

Pemberian atau penganugerahan Daerah Istimewa bagi Aceh, bukanlah tanpa alas an, tapi ia punya landasan berpijak yang kuat sekali di Negara kita yaitu UUD 1945. Hal ini tercantum dalam pasal 18 UUD 1945 yang berbunyi : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah Besar dan Kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-Undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistim pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat istimewa”.

Ketika memperingati Ulang Tahun ke 10 Hari Daerah Istimewa Aceh Panglima Kodam Iskandar Muda, Brigjend TNI T.Hamzah (kini Almarhum) pernah mengatakan : “Hak asal-usul yagn bersifat hidup dan bersifat Istimewa di daerah Aceh, adalah pandangan hidup rakyatnya yang telah turun-temurun dan tetap dijaga dan dihormati, yaitu : kebaktiannya kepada Allah, hidup beragama dan mati beriman”. Berarti ada peri hidup, peri laku, tutur kata dan perbuatan rakyat Aceh sehari-hari adalah bersendikan Agama, sebagaimana telah digambarkan oleh hadis majanya : Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan kitabullah dan Sunnah Rasul. Dalam hal ini telah merupakan kesadaran hukum adat atau hukum rakyat. Jadi adat peri laku hidup rakyat Aceh sehari-hari adalah sesuai dengan ajaran Islam. Maka sesuai dengan Kondisi dan Aspirasi rakyat yang hidup dan berlangsung lama dalam kehidupan masyarakat sehari-hari serta berdasarkan dan mengindahkan hak-hak asal-usul yang hidup dan bersifat istimewa di daerah Istimewa Aceh, maka pemerintah pusat dengan keputusan Perdana Menteri RI tgl. 26 Mei 1959 telah memberikan status keistimewaan bagi Propinsi Aceh dengan sebutan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, dengan Keistimewaannya di bidang paradatan/kebudayaan, agama dan pendidikan”. Demikian kata T. Hamzah yang pernah jadi Panglima itu. Disamping julukan daerah istimewa yang sedang kita peringati ulang tahunnya yang ke 21 ini, Aceh juga memiliki beberapa gelar lainnya yang juga mempunyai sejarah yang tersendiri, gelar-gelar tersebut adalah SERAMBI MEKKAH, DAERAH MODAL, TANAH RENCONG DAN BUMI ISKANDAR MUDA.

Dalam rangka memperingati Ulang Tahun Daerah Istimewa Aceh ke 10 di tahun 1969, A.Hasjmy yang pada tgl 26 Mei 1959 masih sebagai Gubernur Aceh pernah berucap tentang detik-detik sejarah menjelang tgl 26 Mei 1959 sebagai berikut : “Pada waktu mengadakan Musyawarah Pleno ”, dengan pemberian hak-hak otonom yang, terutama bidang Agama, Pendidikan, dan Peradatan/Kebudayaan.

Ketika itu semua kepala tunduk bersyukur, dan berpasang mata menitik air hening. Menjelang magrib tgl. 26 Mei 1959, rapat Pleno terakhir dari Musyarakah yang penting itu ditutup dengan resmi dan kami semua peserta Musyawarah menangis haru sambil bersalam-salaman. Pada waktu malamnya diadakan resepsi perpisahan dengan Missi Hardi (dari Pusat/Jakarta-Pen), para hadirin kelihatan berseri-seri mukanya ketika di umumkan bahwa musyawarah telah menelurkan hasil-hasil yang konstruktif…”

Tetang kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, memang siapapun tidak dapat memungkirinya. Hal ini adalah terbukti sejak masa-masa R.I. baru saja di Proklamirkan, kesetiaan itu telah ditunjukkan. Sebagai buktinya ialah : Dalam Pembukaan Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh, KH. Fatah Jasin sebagai Menteri Penghubung Alim Ulama merangkap Menteri Agama Ad Interim mengatakan : “Terlebih dahulu kami sampaikan syukur kepada Allah SWT, bahwa kita pada saat ini dapat menghadiri Resepsi Iftitah atau Pembukaan dari Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh ini. Aceh sebagaimana yang kami kenal pertama dari buku-buku sejarah Aceh, kami percaya sampai pada waktu ini, bahwa keistimewaan dari pada Aceh ini akan dipegang seterusnya. Keistimewaan yang berupa TASUBUDDINI mendarah dan mendaging dalam soal Agama Islam. Sehingga segala hal keistimewaaan itu pada waktu Revolosu Nasional kita, ada hal yang merupakan istimewa pula dari daerah-daerah lain di seluruh Nusantara kita, ialah : Daerah Aceh yang pertama menyumbang satu kapal terbang untuk pemerintahan Jokya pada waktu itu”, demikian diungkapkan oleh K.H. Fatah Jasin dalam upacara pembukaan Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh di tahun 1960.

Prof Dr Slamet Muljana ketika menjelaskan  keberanian rakyat Aceh sewaktu melawan Belanda dulu pernah menulis : “Yang menjiwai patriotisme para pejuang Aceh ialah semangat mempertahankan Aceh Raya yang pembentukannya telah dimulai oleh Sultan Iskandar Muda. Patriotism Aceh yang dilapisi dengan fanatisme Agama terbukti tidak gampang dipatahkan oleh kekuatan Barat. Patriotisme  yang demikian itu hingga sekarang masih mendarah mendaging pada putra dan putri  Aceh.

Bidang pendidikan yang juga mendapat hak istimewa di Daerah Aceh ini, sekarang menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Siswa dan pelajar yang  lulus tiap akhir tahun, hampir-hampir tidak tertampung pada sekolah-sekolah lanjutannya. Khusus bagi Perguruan Tinggi yang berlokasi di Darussalam, mulai tahun 1979 boleh kita katakan sudah menanjak lebih dewasa. Pembukaan Fakultas Kedokteran di tahun 1979 merupakan bukti kedewasaan itu. Rasanya keistimewaa bidang Pendidikan di Aceh tidak sempurna, kalau sekiranya Fakultas Kedokteran tidak dibuka hingga hari ini. Sudah hampir 20 tahun sejak Darussalam dibuka,  putra-putri Aceh terpaksa merantau keluar daerah jika bermaksud melanjutkan studi di bidang kedokteran. Pergi keluar daerah merupakan problema yang sukar sekali, disamping akan memerlukan biaya yang sangat tinggi juga ketabahan dari si mahasiswa harus sanggup bertahan. Karena itu tidak heranlah kalau sampai hari ini kita masih dapat menghitung dengan jari “jumlah dokter putra-putri Aceh” yang telah berada di arena dunia perobatan sekarang. Rakyat Aceh sungguh berterima kasih kepada pemerintah yang telah mewujudkan Fakultas Kedokteran ini, sungguhpun belum menjelma sebagaimana yang kita harapkan. Jadi sekali lagi kita ucapkan “Syukur Alhamdulillah”.

Di bidang Agama juga menunjukkan perkembangan yang boleh kita banggakan. Banyak mesjid-mesjid baru yang telah dibangun ditambah lagi dengan sejumlah Mushalla dan Meunasah. Tapi yang sangat di sayangkan perkembangan pendidikan Agama,  yaitu pengajian secara khas Aceh nyatanya semakin menghilang dan lenyap. Hal ini memang telah sampai dengan apa yang diramalkan oleh Ulama besar Teungku Syik Kuta Karang lebih seabad yang lalu. Teungku Kuta Karag (Teungku Syik di Matang) dalam kitab beliau Akhbarul Karim yang disusun berbentuk Syair Aceh pernah menulis dan meramalkan sebagai berikut :

Takoh lasoun pagaui lawah

Ta rhat jubah beunaung si naroe

Akhe donya kureueng tuah

Soh Meunasah jeub-jeub nanggroe

Aneuk miet beuet hana sapat

Timu Barat Meunasah sagoe

Nyang na rame barang kapat

Oh katrouk hat troek bak gantoe

Buleuen Syakban  buleuen Ramadhan

Rame sinan Salli allai

Puasa pilheueh Fitrah hase

Mar teuduekle Meulasah sagoe

Laen nibak nyan teumpat piasan

Rame sinan malam uroe

Meu grum geudrang meutuem bude

Di deungole siri sagoe

Terjemahan bebas :

Potong lason pagar lawah

Dibikin jubah benang semua

Di akhir masa kurang tuah

Kosong Meunasah tiap-tiap negeri

Anak mengaji jarang terdapat

Timur dan Barat rata negeri

Yang agak ramai datang ke tempat (Meunasah)

Hanya pabila tiba waktunya saja

Bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan

Ramai disitu bukan kepalang

Puasa tamat Fitrahpun selesai

Maka, terbengkalailah lagi  Meunasah itu!

Selain itu ramai lagi di tempat hiburan

Ramai disana tiap ketika

Dam dum genderang, dentum  bedil

Mereka mendengarkan dari mana datang suara!

Demikian ramalan dari Teungku di Matang terhadap perkembangan dari pengajian-pengajian yang telah ada di Aceh sejak dahulu. Sekarang sungguh-sungguh sudah terjelma apa yang dikemukakan ramalan tersebut. Kita semakin prihatin akan perkembangan yang semakin merosot itu. Kalau 10 atau 20 tahun  yang lalu dihampir tiap Meunasah di Aceh, pasti ada pengajian -pengajian yang diadakan atas kegotong royongan dari masyarakat di sebuah desa, Pengajian itu ada kalanya dibiayai oleh rakyat dari desa secara “meuripe” yaitu dengan  dipungut iuran dari tiap-tiap kepala keluarga. Dan bahkan  ada pula yang diadakan dengan kesukarelaan dari ustad yang mengajar itu. Di zaman itu sungguh banyak teungku-teungku di Aceh yang mengajar secara sukarela.

Kalau kita meneliti kembali sejarah perkembangan rakyat Aceh yang sangat mematuhi adatnya, maka ternyatalah bahwa semua yang baik itu, telah berobah sejak Belanda menjejakkkan kakinya di Aceh. Hal ini akan lebih jelas kalau kita ikuti  penjelasana dari Bapak Mohammad Husein yang menulis sebagai berikut : “Bukan saya bersumpah, tetapi juga dimasa penjajahan Belanda orang Aceh pula berani meminum minuman yang memabukkan meskipun jumlahnya tidak seberapa. Minuman itu dapat dibelinya di kedai-kedai yang terdapat dalam kota-kota.

Rumah-rumah tempat melakukan yang melanggar hukum Islam dan adat Aceh, seperti berzina terdapat juga kota-kota dimasa itu. Dimasa pendudukan Jepang perbuatan yang demikian diteruskan juga, bahkan lebih parah. Kata-kata “sakaj” artinya minuman keras dan “onna” artinya nona dikenal dengan baik. Tidak malu-malu mereka meminum minuman keras yang hampir-hampir tidak pernah terjadi dahulu kala. Beruntunglah sejak zaman R.I. peminum-peminum itu banyak yang insaf dan kembali kepada ajaran-ajaran Islam. Perasaan malupun sudah mereka miliki kembali, demikian tulis Mohd. Hoesin dalam bukunya “Adat Aceh”.

MTQ NASIONAL KE XII DI BANDA ACEH.

            Sebagaimana kita ketahui, bahwa di Banda Aceh pada tahun 1981 akan berlangsung MTQ Nasional. Di kota Banda Aceh kita telah dapat merasa dan melihat usaha-usaha permulaan untuk menyambut peristiwa yang bersejarah nanti. Sudah bertahun-tahun rakyat Aceh menanti-nantikan kapankah di Bumi Serambi Mekkah ini dilangsungkan. Mereka ingin dan rindu menatap semua wajah-wajah dari Qari-qariah dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Mereka bersyukur pada Allah, karena nanti Insya Allah semua itu akan terlaksana. Mereka sewaktu tiba masanya nanti akan mengucapkan Selamat Datang dan mempersilahkan tamu-tamunya untuk melihat dan mempersaksikan segala sesuatu yang ingin mereka lihat disini. Kalau selama ini mereka ada merasa bahwa pasti ada sesuatu yang unik di Serambi Mekkah, biarlah nanti mereka mempersaksikan apa adanya di daerah ini. Kita di masa akhir-akhir ini telah sering membaca berita bahwa di Aceh khususnya di Kota Madya Banda Aceh, pihak yang berwajib sedang giat-giatnya mengusahakan agar kota Banda Aceh bebas dari maksiat. Kegiatan menghancurkan maksiat ini tidak saja di Kota Banda Aceh, tapi diperluaskan hingga mencakup seluruh DISTA dan pula yang paling kita harapkan dari pemimpin-pemimpin kita disini agar pembersihan maksiat ini dapat dilaksanakan terus-menerus, yaitu tidak saja karena mau menyambut MTQ Nasional 1981, tapi sesudah MTQ dan seterusnya. Kita sebagai warga negara yang baik dari R.I. yang kita cintai, sudah patut dan sewajarnya memberi  partisipasi yang serius bagi pembangunan negara ini dan khususnya bagi kesejahteraan  keluarga di sekitar kita masing-masing. Mudah-mudahan masyarakat adil dan makmur akan lekas tercapai. Anda pembaca tentu telah menyambut “Hari jadi Daerah Istimewa Aceh, tgl. 26 Mei 1980.

Daftar bacaan/Referensi :

  1. T.A. Talsya, 10 Tahun Daerah Istimewa Aceh, hal. 8,9 dan 18.
  2. Buku hasil-hasil Musyawarah Alim Ulama se Daerah Istimewa Aceh hal. 48.
  3. Prof Dr Slametmuljana : Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia, hal 44.

IPM-SAKTI,  Banda Aceh,  26 Mei 1980/11

                   Rajab 1400

( Baca kembali: Bulletin PEUNAWA No. 2, Juni 1980 Thn II, hlm. 35 – 40, Diterbitkan SENAT  Mahasiswa FEKON Unsyiah, Darussalam – Banda Aceh).

Catatan kemudian:  1. Dalam pengamatan lanjutan, ternyata Hikayat Prang Sabi ditulis oleh banyak pengarang, dan bukan pada tahun 1880.

                                         2. Penulis Kitab Akhbarul Karim adalah Teungku Seumatang (bukan Teungku Kuta Karang). Teungku Seumatang  kelahiran Gampong Cot,Kecamatan Sakti, Pidie(sekarang). Diberi gelar   Seumatang, karena beliau pernah “meudagang’/belajar mengaji ke Seumatang. Bale Tambeh Darussalam, 18 Mei 2011, poh 4.24 sore Wib, T.A. Sakti.

Hukum Yang Sedang Sakit atau Aparatnya?????

HUKUM YANG SEDANG SAKIT

ATAU APARATNYA ????????

 

Oleh : T.A. Sakti – Mhs FHPM Unsyiah

 

Motto :

–          Fiat Jastitia Ruat Coelum

(Hukum harus di tegakkan meski langit akan runtuh).

–          Dengan Sarjana Hukum kita tidak akan dapat berevolusi (Bung Karno).

 

Landasan Negara kita adalah UUD 1945, pada bagian penjelasan UUD 1945 di sebutkan bahwa Negara Indonesia berdasar atas Hukum (Rechtastaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka (Machtestaat). Setelah kita baca penjelasan dari Undang-undang dasar itu hati dan jiwa kita jadi tenteram. Hal ini karena kita telah yakin dan percaya, bahwa segala sesuatunya di Negara kita akan berjalan menurut prosedur HUKUM. Hukum diatas segala-galanya. Kita yakin bahwa dinegara Hukum sudah pasti tidak terdapat penindasan sikuat atap si lemah, si kaya atas si miskin dan kepincangan  sosial lainnya. Gambaran diatas tersebut di dalamnya pasti akan tercapai dan nikmati warga negara, jika sekiranya hukum itu benar-benar dapat di tegakkan dalam masyarakat. Tapi untuk dapat tegaknya hukum itu, merupakan suatu masalah yang sangat sukar untuk dapat dibawa kealam  kenyataan. Apalagi jika aparatnya yang bertugas menegakkan hukum sendiri tidak jujur dalam melaksanakannya. Kalau hukum masih di jadikan sebagai cinu (timba) untuk menimba rezeki dari makhluk insan yang tertindas, maka sampai DUNIA KIAMAT PUN hukum tersebut tidak akan pernah berjalan pada jalur yang sebenarnya. Tepatnya dapat kita katakan bahwa selagi masih berlaku pameo “Raseuki makhluk ateuh makhluk (rezeki makhluk atas makhluk)” dalam penyelesaian masalah hukum, maka tak usah beragan-angan bahwa keadilan hukum akan kita nikmati. Semua semboyan   dan slogan hanya tinggal diatas poster saja.

Bagaimana kisa-kisah gambaran suasana bila suatu negara telah dapat melaksanakan tuntutan hukum dengan sebenarnya ?. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini kita hanya dapat meraba-raba saja, karena kita tidak pernah melihatnya. Mau memberi contoh pelaksanaan di luar negeri, mohon ampun penulis belum pernah sekalipun pergi kesana.

Hendak kita alihkan pandangan di tempat sendiri, waaah makin lebih sukar kita dapati jawabnya. Karena disini hukum masih dalam keadaan sakit atau dengan perkataan lebih sopan, katakanlah hukum sedang kurang sehat (Seu uem asoe). “Wakl Presiden Adam Malik mengatakan bahwa Indonesia saat ini memang dalam keadaan sakit hukum, karenanya perlu ada penyehatan oleh seluruh penegak hukum baik pemerintah maupun pengacara”. “Kalau pengobatan oleh seluruh kita, pemerintah  dan pengacara pasti akan bisa  disehatkan” (Wsp 24-4-1-1981). Bila sebuah negara telah sanggup melaksanakan hukum secara murni dan konsekwen, maka rakyatnya mendapat kesentosaan disemua bidang kehidupan, mereka itu akan merasa seakan-akan hidupnya dialam kekuasaan, tidak ada lagi orang yang berpesta pora di atas kepala manusia melarat dan menderita. Negara itu akan jadi Negara Besar yang adil dan makmur, baik moral maupun modal.

Tapi apa hendak dikata, semua harapan sukar terlaksana dalam kenyataan. Hukum sedang dalam penyakitan, seperti yang telah pernah disinggung Wapres Adam Malik. Timbul pertanyaan, apakah yang sedang sakit itu hukum atau aparatnya ?. Penulis rasa hukum  sendiri tidak pernah demam atau sakit, karena ia merupakan peraturan hidup yang telah digariskan, yang memenuhi kriteria tertentu. Ia akan berjalan menurut adanya selagi aparat yang mengelolanya masih disiplin. Tetapi hukum itu akan menjadi bengkok dan cacat apabila pelaksananya bersikap curang dan sakit jiwa. Para penegak hukum yang tidak ambil pusing dengan tuntutan hukum itu sendiri, meyebabkan masyarakat konsumen hukum jadi  sasaran. Jika demikian keadaannya maka penipuan dan penggarongan dengan kedok hukum sering terjadi. Hukum telah dijadikan seluruh pengadilan tidak ada yang objektif. Menang atau kalah hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi pihak yang berperkara. Dengan demikian sebuah bunyi hadih Maja “Pancuri manok dalam totopan, pancuri intan atueh kurusi (Pencuri  ayam dalam penjara, sedang pencuri intan goyang-goyang kaki di kursinya). Kalau uang yang memegang peranan dalam segala hal, termasuk dalam bidang hukum, maka kemanakah lagi insan  yang lemah mencari keadilan.  Allah Nabi Wali peng (Yang masih tetap hanya Allah dan Nabi, sedang ahli family hanya bagi orang yang berduit). Sudah jadi kebiasaan dimana saja, bahwa orang sering menyimpang dalam mengatasi suatu masalah. Dan jadi kebiasaan pula kita hanya bertindak secara kuratif, yaitu mencegah setelah terjadi. Jarang yang melakukan secara prefentif, yakni pencegahan sebelum terjadi. Kalau negara kita mau memiliki para penegak hukum yang jujur, maka usaha mewujudkannya harus dimulai dari sekarang. Ketidak jujuran bisa timbul karena seseorang itu tipis imannya. Iman adalah suatu keyakinan hati, bahwa hidup didunia ini bukanlah hidup yang terakhir. Ada suatu adegan kehidupan lagi yang mesti kita lalui, yaitu hidup diakhirat. Untuk mencapai kehidupan yang lumayan diakhirat nanti, kita mesti bertindak disetiap masalah menurut garis-garis yang telah ditentukan Tuhan. Kita percaya semua Agama yang diakui pemerintah di Indonesia ini, menyuruh ummatnya berprilaku demikian. Karena itu untuk menciptakan para penegak hukum yang berisiplin dimasa datang, kita harus mendidik   putra-putri kita yang masih bocah sekarang, dengan ajaran agama yang mantap. Hingga memberi  bekas dalam kehidupan dimasa datang. Kalau seseorang telah berpateri begitu kuat dengan ajaran agamanya, maka jarang sekali ia akan menyeleweng dalam tugasnya. Ia tidak akan cari kesempatan dalam kesempitan. Apalagi yang mau ditegakkannya adalah keadilan. Serta yang dihadapinya setiap hari adalah orang tertindas yang mencari perlindungan hukum. Dan bukan  tidak terdapat, bahwa orang mengerti agama sering juga berbuat curang. Hal itu memang ada, tapi jarang sekali. Kita harus ingat dua perkara yang sangat sulit diatasi manusia, yaitu uang dan sex. Hingga timbul madah : “Menyo bak peng gadoh janggot, menyo bak  ……  gadoh ulama (Dalam masalah yang menyangkut uang, siapapun akan terpengaruh, demikian juga dalam hal sex).

Suatu kali dipanggil ayahnya yang terbaring sakit dirumah. Ayah dari pemuda Abu Nawas ini berpangkat Hakim Tinggi dari kerajaan di Baghdad. Sang ayah hendak mengatakan sesuatu pada anaknya, sebelum ia wafat. “Wahai anakku, coba dekatkan hidungmu pada kedua telingaku” minta sang ayah. Abu Nawas melakukan kehendak ayahnya. “Bagaimana baunya, naaakk?”, Jawab Abu Nawas. “Itulah akibat bagiku yang bekerja sebagai Hakim, Bau harum adalah karena vonis yang kuberikan tepat pada orang yang berhak. Sedang bau bangkai tikus diteliga kiri, karena vonis keputusanku salah alamat, hingga banyak rakyat teraniaya. Karena itu aku menasehatkanmu, supaya jangan terima kalau raja.( Belum lengkap, karena ada lembaran  yang hilang!).

 *Keterangan: Mhs,FHPM Unsyiah = Mahasiswa Fakultas Hukum dan  Pengetahuan  Masyarakat  Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bale Tambeh, 18 Mei 2011, jam 4.44 sore Wib., T.A. Sakti.