Melacak Jejak Walisongo

Sun, Apr 24th 2011, 08:06

Apreasasi

Melacak Jejak Wali Songo

Almarhum  Rosihan Anwar bukan   hanya terkenal dengan julukan  “wartawan  tiga zaman”, tetapi beliau diakui pula sebagai budayawan, sastrawan, dan juga sejarawan. Tulisannya mengenai sejarah dapat kita baca dalam  sejumlah buku, baik yang khusus tentang sejarah maupun  yang bersifat “bunga rampai” serta dalam berbagai media.  Salah satu  tulisan beliau yang telah saya simpan lebih dari  23  tahun adalah sebuah kliping koran Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, tertanggal 15  Maret  1988  pada halaman Opini dengan judul  “Kerajaan  Islam Samudera-Pasai”. Penulis lain yang menyinggung Samudera Pasai, antara lain, Prof Dr Hamka, Solichin Salam,  H M Zainuddin, dan Prof A Hasjmy. Namun,  sebagian   penulis Indonesia yang lain, sama sekali tidak menyebut lagi Kerajaan Samudra-Pasai ketika mereka meriwayatkan kehidupan Wali Songo.

Prof Dr Hamka  dalam  bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan   dicetak di Singapura menyebutkan,  “Banyaklah putera Pasai  meningggalkan kampung halamannya, terutama sejak dua kali serangan yang menyedihkan, pertama dari Siam, kedua dari Majapahit. Dan akhirnya di tahun 1521 diserang pula oleh Portugis. Kerajaan Majapahit yang keras mempertahankan kerinduannya itu, sehingga menyebabkan negeri Pasai terpaksa mengakui takluk ke bawah naungannya, menyebabkan beberapa anak Pasai pergi merantau ke tanah Jawa sendiri, terutama ke Jawa Timur dan menetap di sana. Jika negerinya sendiri telah terbakar, dibakar oleh suatu kekuasaan besar, anak Pasai itu telah pergi ke hulu kekuasaan itu, ke daerah  kekuasaan Majapahit sendiri dan mengembangkan  pula cita-citanya di sana. Dengan suatu ajaran rohani yang murni, Majapahit telah mereka perangi pula, bukan dengan  senjata. Apa yang mereka tanamkan,  itulah kelaknya yang akan besar  dan kukuh, menjelma   menjadi Kerajaan Islam Demak.

Seorang di antara anak  Pasai itu ialah Falatehan, atau Fatahillah, atau bernama juga Syarif Hidayatullah, datang ke Jawa sebab negerinya diserang Portugis (1521). Mulanya menjadi panglima perang dari Kerajaan Islam Demak untuk menaklukkan Jawa Barat, Kerajaan Galoh dan Pajajaran, dan akhirnya menjadi pendiri daripada dua Kerajaan Islam  sesudah Demak, iaitu Bantam dan Cirebon. (Baca buku karya Prof.Dr.  Hamka yang sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu, “Sejarah Umat Islam”, edisi baru, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 2005, halaman  708 – 709).”

Masih dalam buku yang sama, pada halaman  745 dikatakan, “Tersebut perkataan, bahwasanya raja negeri Campa itu beranak dua orang perempuan. Yang tertua bernama Darawati diambil istri oleh Angkawijaya Raja Majapahit. Itulah yang lebih terkenal dengan sebutan  Puteri Campa itu. Dan anak perempuannya yang seorang lagi kawin pula dengan seorang penyair Islam dari Tanah Arab, maka mendapatlah putera Raden Rahmat. Kalau benar bahwa Campa itu bukan yang di Annam Indo-China, tetapi di Aceh, yaitu negeri Jeumpa, sudah tidak pelak lagi bahwasanya Raden Rahmat, adalah keturunan Arab datang dari Aceh. Dikirimlah Raden Rahmat  itu oleh nenek Raja Campa (Jeumpa) ke tanah Jawa dan singgah dua bulan di Palembang, Lalu diajaknya  Aria Damar;  Adipati Majapahit  memeluk Islam. Aria Damar memeluk Islam dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian Raden Rahmat meneruskan perjalanan ke Jawa”.

Solichin Salam dalam bukunya “Sekitar Wali Sanga”, Penerbit Menara Kudus, Semarang, 1974,  juga mengakui bahwa sebagian wali itu punya asal-usul dari Kerajaan Samudera-Pasai. Penulis lain, Umar Hasyim, dalam bukunya “Sunan Giri”, Penerbit Menara Kudus, Semarang, 1979, di halaman 21 menyebutkan, “Maulana Ishak diberi tugas oleh Zawiyah Cot Kala untuk menyebarkan Islam ke Jawa. Beliau kawin dengan salah seorang putri Blambangan. Dari perkawinan itu beliau dikaruniai seorang  putera yang bernama Raden Paku yang kemudian  bergelar Sunan Giri”.

Kalau merujuk kepada pendapat para pengarang tersebut di atas serta beberapa tulisan lepas lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa enam orang dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa  berasal dari Aceh. Beliau-beliau itu adalah: (1) Maulana Malik Ibrahim, (2) Malik Ishak (Sunan Giri), (3) Ali Rahmatullah/Raden Rahmat (Sunan Ampel), (4) Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang), (5) Masaih Munad  (Sunan Drajat), dan (6)  Syarief Hidayatullah/Fatahillah (Sunan Gunung Jati).

Beberapa sumber menyebutkan,  pada masa  Kerajaan Samudra-Pasai di bawah pemerintahan  Sultan Zainal Abidin Bahian Syah (± 797 H/1395 M), sebuah tim dakwah Islam yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim telah dikirimnya ke pulau Jawa

Rosihan Anwar juga berpendapat demikian. Pada peringatan Hari Israk Mikraj tahun 1988,    Rosihan Anwar menjelaskan lewat TVRI-Jakarta dan beberapa suratkabar, antara lain, sebagai berikut: “Masuknya Islam ke Jawa adalah karena  usaha juru dakwah dari Pasai. Dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke 14,  15 dan 16 Masehi,  empat wali berasal dari Samudra Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Wali pertama adalah Malik Ibrahim yang wafat dan dimakamkan di Gresik tahun 1419; beliau seorang saudagar Persia, berasal dari Gujarat, India.

Akan tetapi, wali kedua yang muncul pada pertengahan abad ke-15 bernama Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang makamnya terdapat di Kampung Arab di Surabaya, berasal dari Pasai.  Beliau wafat kira-kira tahun 1481. Kedua putranya, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Bonang yang kemudian bermukim  di Tuban dan juga menjadi wali, pun berasal dari Pasai.

Terakhir dari Wali Songo adalah Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Fatahillah atau Falatehan, lahir di Basma, Pasai, tahun 1490. Setelah menjadi wakil kerajaan Demak di Banten, Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon pada tahun 1552,  beliau wafat tahun 1570.

Dewasa ini sudah semakin langka para penulis sejarah Islam di Indonesia yang menghubungkan kisah Wali Songo dengan negeri Samudra-Pasai di Aceh. Menurut kebanyakan penulis “sejarah” sekarang, agama Islam yang menyebar ke seluruh nusantara tidaklah  mulai bergerak dari Aceh, melainkan dari Kerajaan Campa (di negara Kamboja – sekarang). Oleh hal demikian, maka hilanglah “jaringan Aceh” sebagai tempat mula bertapaknya Islam di Indonesia seperti yang diyakini selama ini.  Padahal, menurut pengarang tempo dulu, negeri Campa adalah Kerajaan Jeumpa yang terletak di wilayah Bireuen, di  Aceh sekarang;  bukan kerajaan Campa yang terdapat di negara Kamboja.

Sebuah buku terbaru tentang Wali Songo, yang berjudul “Sejarah Walisongo – Misi Pengislaman di Tanah Jawa” penerbit Graha Pustaka, Yogyakarta, dapat menjadi bukti `terbaru’  pula bagi kita, bahwa para penulis kisah Wali Songo dewasa ini sama sekali tidak menyinggung lagi Kerajaan Samudra-Pasai; ketika mereka mengisahkan riwayat Wali Songo. Buku ini ditulis oleh Budiono Hadi Sutrisno, seorang sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip)-UGM Yogyakarta yang amat produktif menulis berbagai buku. Ternyata buku “sejarah Wali Songo” ini menjadi buku  best seller.

Buku ini juga tidak sekali pun menyebut Kerajaan Samudra-Pasai sebagai tempat asal sebagian Wali Songo. Sebuah buku lain yang telah lama beredar, cetakan ke-4 terbitan Bandung (1996) “Seri Wali Songo” yang ditulis Arman Arroisi juga berpendapat serupa mengenai  asal-usul wali songo.  Karena buku ini ditulis berseri, maka setiap orang wali ditulis dalam sebuah buku khusus/tersendiri dengan buku berbentuk lebar dengan huruf dan ilustrasi gambar yang besar-besar. Pada buku yang dikhususkan kepada anak-anak ini, Sunan Ampel disebutkan berasal dari negeri Campa di Kamboja. Singkat kata, baik buku bacaan anak-anak maupun buku bacaan orang dewasa  yang menyangkut kisah Walisong dewasa ini;  semuanya telah memberi `talak tiga’  kepada kerajaan Samudra-Pasai.

Padahal dalam buku “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, Grafiti Pers, Jakarta, 1986, disebutkan  bahwa  Sunan Ampel berasal dari Aceh. Buku yang semula berbahasa Belanda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia; ditulis oleh   dua sejarawan Belanda, Dr. H. J. De Graaf dan Dr. TH. G. TH. Pigeaud.

Mengenai asal-usul Sunan Ampel dari  Campa, kedua  sejarawan Belanda ini  tidak menganggap negeri Campa yang berada di negara Kamboja,  tetapi negeri Jeumpa yang terletak di wilayah Bireuen sekarang. Begitulah. ‘Arus sejarah’ yang berkembang kini ternyata telah menenggelamkan sejarah Kerajaan Samudra-Pasai” dari jalur riwayat Wali Songo di Tanah Jawa.

Sebelum masalah asal-usul Wali Songo dari Aceh semakin gelap, alangkah baiknya digerakkan suatu upaya untuk menelusuri kembali sejarah wali-wali itu mulai dari Aceh sampai  ke  pulau Jawa. Sebagai langkah awal saya mengajukan beberapa saran. Pertama,

agar dilakukan cetak ulang dan disebarluaskan semua buku yang pernah mengaitkan sejarah Wali Songo dengan negeri asal mereka. Kedua, mendesak pihak berwenang untuk mengadakan  Seminar Internasional tentang  Sejarah Wali Songo, yang dilangsungkan di Banda Aceh. Keempat, memproduksi film dokumenter mengenai kisah profil Wali Songo yang isinya menceritakan asal mula kehidupan sang wali di Kerajaan Samudra-Pasai.

* Penulis adalah  peminat bidang kewartawanan dan sejarah, tinggal di Banda Aceh.

Catatan:  1. Telah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu, 24 April 2011 halaman Budaya.  Bale Tambeh, Senin, 25 – 4 – 2011 poh 3.53 Wib. T.A. Sakti.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s