Mengapa Wasiat Haji Agus Salim Dilupakan???

MENGAPA WASIAT HAJI   AGUS SALIM DILUPAKAN ?

Oleh : T.A. Sakti Bucue

Prof. DR. HAMKA beri komenter: “penguasaan pengetahuan Barat dan Timur oleh H. Agussalim, menunjukkan bahwa dia adalah seorang jenius yang besar. “Hingga sekarang belum ada orang Indonesia yang mampu menandingi H. Agus Salim dalam hal penguasaan pengetahuan Barat dan Timur”.  Begitu  pendapat  HAMKA sebagai seorang pujangga, ulama ( terakhir sebagai Ketua Umum MUI  Pusat di Jakarta)  terhadap H.Agussalim.

Prof. Mhd Rasjidi juga tak mau ketinggalan memberi komentar tentang pribadi diplomat besar ini: “belum ada orang Indonesia hingga kini yang mampu menyamai H.Agussalim. Dan lagi meskipun  H.Agussalim menguasai pengetahuan Barat dan Timur hingga tuntas, dia tetap utuh sebagai pribadi yang sederhana, human, mempunyai wawasan luas, teguh memegang prinsip hidup, dan mempunyai tanggung jawab besar atas bangsanya. Dalam kehidupannya yang amat sederhana, semua ini tercermin dengan jelas. Dalam konteks sejarah, pribadi Agussalim yang besar layak jadi pedoman bagi kita, demikian komentar Prof. Mhd Rasjidi yang pernah menjadi Menteri Agama RI. “kalau kita tidak sanggup seperti dia, menirunya saja sudah cukup hikmahnya bagi kita”, tambah beliau lagi. Sesungguhnya Haji Agussalim itu seorang jenius besar. Orangnya kecil, tapi kalau ilmunya, sangat luas dan mendalam, ibarat kata Hadih Maja: “Ubit ta kalon, geuhon tak tijik” (Kecil dalam pandangan, besar atas timbangan  – kalau dijinjing).

Haji Agus Salim sejak umur 22 tahun telah berperan sebagai sekretaris konsul pemerintah Belanda di Jeddah, Arab Saudi  dari tahun 1906-1911. Di sanalah beliau mempelajari agama Islam secara mendalam sekali. Ketika beliau pulang ke Hindia Belanda waktu itu dengan langsung ia menceburkan diri dalam pergerakan Islam yang tengah berjuang mencapai Indonesia merdeka.  Setelah Indonesia merdeka, beliau menjadi Menteri luar negeri    Indonesia  yang pertama.

PENGARUH PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN

Kita mungkin semua berpendapat, bahwa tidak setiap yang baru itu baik. Karena walaupun menurut perencanaan semula bertujuan baik, tapi lantaran dimakan waktu dan masa dapat terjadi sebaliknya. Sebagai contoh: “Wakil ketua Praksi Karya Pembangunan (PKP) bidang Kesra, bapak Suharto Kusumo Hartono, menyatakan agar penggunaan kembali batu tulis bagi pelajar Sekolah Dasar perlu dipikirkan kembali, dalam usaha mengatasi kesulitan membeli alat-alat tulis terutama bagi penduduk desa. Juga beliau menganjurkan supaya “belajar menulis halus” diajarkan kembali.

Pernyataan wakil rakyat ini membuktikan, bahwa kita tidak boleh hanya mengejar mode …, yang baru saja, tapi kita wajib pula sesekali menoleh ke belakang, mungkin apa yang telah ditinggalkan atau dibuang itu merupakan “intan berharga”.

Tentang pengaruh pendidikan dalam kehidupan, Haji Agus Salim mengatakan: “tiap-tiap yang kita lawan bercakap-cakap, menyatakan iapun berpaham “maju” serta merasa patut dan perlu negeri dan bangsa kita ini dimajukan, pihak yang terkenal kepada kita sebagai kaum yang teramat “kuno” sekali sehingga kita katakan kaum “kemunduran” atau “reactionair” mereka itu demikian juga pengakuannya. Maka terbitlah pertanyaan dalam hati kita, dimanakah perbedaannya, jika sama rata sekalian orang itu mengaku akan keharusan dan kewajiban akan memajukan tanah air dan anak negeri kita ini, apakah sebabnya sekalian kita anak Hindia (tulisan H.A. Salim ini di zaman penjajahan. Pen) sejati merasa kemajuan kita terlampau lambat?. Pada pendapat kita terlampau jauh ketinggalan dari bangsa-bangsa yang lain di muka bumi ini dan SANGAT LAMBAT sekali usaha yang dilakukan mengejar keterceceran kita itu, kita telah melihat bangsa Jepang dan bangsa Tionghoa seolah-olah terlompat ke muka dan tiba-tiba saja dari kegelapan zama kuno sampai ke tengah-tengah zaman kemajuan abad yang kedua puluh”.

Di zaman penjajahan kebanyakan dari kaum yang telah menikmati pendidikan Barat, tidak  mau lagi berjuang demi membela nasib rakyat kecil. Hal yang demikian menurut Haji Agus Salim sebagai akibat sifat pendidikan yang diterimanya.. kata beliau : “adapun hal yang kurang menyenangkan itu, tersebab oleh CARA PENDIDIKAN. Mereka itu di sekolah, yaitu beberapa kejahatan yang dipelajarinya dan beberapa kebajikan yang tidak dipelajarinya. Pertama-tema sekali pemuda-pemuda itu mulai dari kecilnya diberi pengajaran cara Barat, yakni cara Eropah, sedikitpun tidak diberikan pengetahuan cara Timur, yakni cara bangsanya sendiri. Maka oleh sebab itu adalah kepandaian dan pengetahuan itu sebagai barang datang kemudian, lekat dari luar karena tidak beralasan kepada tabiat chulki (natuur) kemanusiaan Timurnya, tidak berurat berakar dalam budinya. Tabiat Chulki itu tidak dikenal oleh pendidikan dan pengajaran yang diperolehnya sehingga dengan cara Baratan itu tidak dapat mempahamkan isinya yang berfaedah bagi kecerdasan budi pekerti (karakter) dan budi kaedah (zakelijkheidnya), hanyalah semata-mata diperolehnya kecerdasan akal budinya (intellect), oleh sebab itu kita lihatlah pemuda-pemuda kita memakai alasan keduniaan lahir (materialism) lebih dari pada bangsa gurunya, yaitu bangsa Eropah, BAGI BANGSA EROPAH paham keduniaan lahir (materialism) itu beralasan dan bertujuan dengan tabi’at kebiasaannya, sehingga berpadanan juga lahir dan batinnya. Maka kejahatan yang terkandung dalam pengajaran dan pendidikan cara Barat itu ditibali juga sekedarnya oleh kecerdasan budi pekerti (karakter) dan budi keadaban (zakelijkheid) yang sama diperolehnya, karena cara ke baratan itu belasan dengan tabi’at chulki yang umum kepada bangsa barat sekaliannya. Dengan karena sebab yang demikian itu, pemuda-pemuda Eropa yang belajar dan telah keluar dari sekolah tinggal serasian dengan bangsanya, dengan yang tidak terpelajar juga. Maka kekallah perasaan kebangsaan dan ke-esaan bangsa saamhoorigheid) gevoel dalam bangsanya) kepada mereka itu, biarpun jauh berbeda derajat kecerdasan (ontnik kelling) dan keadaan beschaving mereka itu. Berlainan sekali hal bangsa kita, dengan karena sebab yang telah kita terangkan di atas ini, pemuda-pemuda kita yang telah beroleh pendidikan dan pengajaran dalam sekolah menengah, banyak yang hilang perasaan kebangsaannya, sehingga mereka itu mengasingkan diri dari bangsanya”. Wasiat Haji Agus Salim ini patut mendapat perhatian dari semua pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan di negara kita.

AKSARA JAWI MENGAPA DIBUANG?

Dalam rangka menyambut dan menyemarakkan abad ke XV Hijriyah, Majelis Ulama Indonesia Tingkat I Propinsi Sumatera Utara yang bertindak sebagai panitia penyambut abad ke XV H Propinsi Sumatera Utara, mengadakan beberapa kegiatan antara lain:

Pemberantasan tiga buta (program jangka panjang) yaitu:

–          Buta aksara Arab dan Al-qur’an.

–          Buta aksara latin.

–          Buta agama.

(WASPADA, 11 Nopember 1979 hlm. IV).

Kegiatan dari Majelis Ulama tersebut merupakan jalan perintis buat menggali identitas ummat Islam yang telah pudar, masak kita sebagai orang Islam, kalau membaca Qur’an pun tak bisa.

KEBUDAYAAN dari suatu bangsa merupakan hasil proses perobahan yang tidak terjadi dalam waktu setahun dua, tapi proses tersebut berlangsung sangat  lama. Tiap bangsa yang sudah berkebudayaan tinggi mempunyai atau memiliki ‘aksara’ nya sendiri, karena bangsa tersebut telah pandai baca tulis dalam kehidupannya. Dapat kita lihat sampai hari ini, misalnya bangsa Jepang Tiongkok, bangsa-bangsa Arab, (India?), mereka memiliki aksara sendiri dan tetap dipelihara dan dipakai sampai sekarang ini, di samping itu mereka juga menggunakan huruf aksara latin.

Kita bangsa Indonesia telah pernah memakai bermacam-macam aksara, sejak zaman purbakala. Salah satu aksara yang pernah dipakai oleh bangsa kita ialah aksara JAWI. Aksara ini merupakan suatu jenis aksara yang telah sangat berjasa dalam mempersatukan suku-suku bangsa yang mendiami di tiap-tiap pulau di Nusantara ini, yang sekarang telah menjelma menjadi bangsa Indonesia. Surat menyurat dalam hubungan diplomatik antara kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, selalu menggunakan aksara JAWI yang berasal dari huruf Arab. Begitu juga para ulama dan cerdik pandai di zaman itu, menyebarkan ilmu pengetahuannya dengan perantaraan tulisan Jawi, sehingga boleh dikatakan, tidak seorangpun di masa itu yang BUTA HURUF.

Di Aceh, penggunaan hrufu Jawi di asa itu sangat meluas. Dalam hal ini Prof. A. Hasjmy menulis: “Kesusasteraan Aceh pada pada umumnya dalam bentuk puisi, diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh di bawah nama “hikayat”, sementara sastera Aceh dalam bentuk “Prosa” umumnya bersifat mantera. Juga sejumlah kitab-kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh. Setelah datang Islam, huruf asli Aceh telah diganti dengan huruf Arab dibawah nama “Huruf Jawi”; juga karya-tulis dalam bahasa Melayu ditulis dengan huruf Jawi”. Demikian di antara isi paper A. Hasjmy yang berjudul : Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Aceh, yang beliau sampaikan pada Hari  Sstra 1980 di Ipoh Malaysia yang berlangsung tanggal 19 s/d 23 April 1980.

Memang sesungguhnya jasa tulisan Jawi ini tak dapat dibantah oleh siapapun, karena hal ini memang kenyataan sejarah. Tulisan Jawi bukan lagi merupakan kebudayaan asing bagi bangsa Indonesia sejak zaman berzaman, tapi sudah jadi kebudayaan sendiri (Indonesia) yang mendarah daging, sehingga tak heranlah kalau di tiap-tiap sekolah, sejak Indonesia merdeka hingga permulaan tahun enam puluhan, masih di “wajibkan” untuk dipelajari. Penulis tulisan ini sendiri pernah mempelajari tulisan Jawi semasa di Sekolah Dasar. Tapi sungguh sangat disayangkan, tulisan JAWI yang telah membudaya bagi bangsa Indonesia, hanya dengan mudah saja telah dikesampingkan atau telah di buang ke dalam “tong sampah sejarah pendidikan” di Indonesia.

Berbagai macam pelajaran baru, sekarang telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Negara kita, tapi kenapakah aksara JAWI ini tidak diperdulikan lagi?, bukankah huruf JAWI tersebut satu tanda kekayaan budaya kita?. Sedangkan huruf NAGARI (Sanskerta), masih diajarkan di jurusan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan Unsyiah, padahal huruf tersebut sudah sangat lama punah di Indonesia. Kalau untuk memudahkan penyelidikan sejarah, bukankan prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen sejarah banyak juga ditulis dengan huruf Jawi yang berserakan di Nusantara?

Sebagai perbandingan bagi Anda pembaca kita kutip berita berikut ini:

BOASA NDANG AKSARA BATAK

Seorang pejabat bagian perencanaan Kanwil P & K Sumatera Utara merasa bingung setelah mendengar diajarkannya kembali aksara Batak di SD dan SLP di Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut berita Harian Kompas yang bersumber dari Bupati MS Sinaga itu, pelajaran aksara Batak sudah dimulai sejak awal tahun pelajaran 1978-1979. Katanya, tidak ada kesulitan yang berarti ketika kurikulum itu diterapkan

Guru dan buku pelajaran cukup. Murid juga mampu membeli buku pelajaran yang harganya sengaja ditekan rendah.

Pada baris yang lain halaman yang sama TEMPO: “Bahkan Batak bersama Jawa, Makasar dan Bali, termasuk daerah yang mengajarkan aksaranya di sekolah. Aksara Batak sendiri, menurut Nalom Siahaan ahli bahasa Batak FSUI, sudah diajarkan sejak zaman Belanda. Tetapi tiba-tiba menghilang sejak 1980-an.

MENERUSKAN POLITIK PENJAJAHAN

Dengan judul seperti di atas, “Meneruskan Politik Penjajahan”, Haji Agus Salim menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara JAWI sebagai berikut: “Maka pemerintah kita dan pelbagai partai perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha, tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dan menyiarkan bacaan-bacaan dengan huruf latin saja. Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita, “Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan sesuai dengan yang menjadi pokok asli daripada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh pemerintah  dan pemimpin dan pemuka-pemuka kita semua. Bukan hanya orang yang beragama Islam, agama Qur’an saja, bunyi bacaan Qur’an tambah berkurang di negeri kita ini yang memakai nama negeri Islam, seolah-olah tambah berkurangnya paham-paham ajaran Qur’an di hati bangsa kita. Sehingga ….. bagaimana akan akhirnya???. Mungkinkah kita akan mendapat kemajuan kebudayaan, jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudayaan sebesar-besarnya itu???”

HIMBAUAN DAN HARAPAN

DARI kutipan di atas dengan jelas dapat kita pahami betapa seriusnya masalah huruf JAWI menurut pendapat Haji Agus Salim, yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran huruf Jawi (Arab) dalam kurikulum pendidikan Indonesia merupakan bahaya dan bancana bagi kebudayaan kita. Demi menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang dimiliki oleh huruf JAWI, yang telah memperkaya kebudayaan Indonesia, warisan leluhur yang wajib kita pelihara dan junjung tinggi, serta semestinya kita wariskan kepada generasi bangsa Indonesia yang akan dating, maka dengan ini penulis menghimbau dan mengharap pada pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kebudayaan dan pendidikan, agar sudi melaksanakan wasiat Haji Agus Salim. Juga kepada panitia perumus pendidikan nasional, supaya jangan melupakan wasiat Haji Agus Salim ini. Kalau aksara-aksara daerah sekarang sudah mulai dihidupkan kembali, sudah sepantasnyalah aksara (huruf) JAWI, juga dihidupkan pula, sungguh banyak naskah-naskah lama yang ditulis dengan huruf Jawi, yang merupakan sumber-sumber sejarah, akan sia-sia belaka, kalau huruf Jawi ini tidak diajarkan kembali di sekolah-sekolah. Marilah kita melaksanakan WASIAT Haji Agus Salim, suatu wasiat dari salah seorang dari tokoh-tokoh yang sama-sama kita kagumi itu.

Daftar referensi:

  1. Kompas, 8 November 1979.
  2. Kompas idem = kompas 8 November 1979.
  3. WASPADA, 17 November 1978 hlm. IV.
  4. Djedjak Langkah Agus Salim, penerbitan tinta mas hlm. 30.
  5. Buku yang sama hlm. 41.
  6. Sinar Darussalam no. 106/107 hlm. 104.
  7. Majalah TEMPO, 13 Januari 1979, no. 46 hlm. 13.
  8. Majalah idem = Tempo, 13 Januari 1979 hlm. 13.
  9. Djedjak Langkah Agus Salim hlm. 316.

(Baca: Majalah SANTUNAN, no. 50 halaman 20, 21 dan 36, Kanwil Depag. Aceh 1981).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s