Manusia Aceh dan Lingkungan Hidup

Manusia Aceh dan Lingkungan Hidup

OLEH:      TA SAKTI

Di desa saya “jam alamiah” kini tak pernah lagi berdentang di pagi dan sore. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat-saat menjelang pagi, penduduk desa selalu dibangunkan oleh merdunya suara jam alamiah itu.

Ciiii ….. kuaciiiiiiiii………… ciiiiiiiiiii….. kuaciiiiiiiiiiiiiii. Itulah bunyi kicauan burung Cicempala paki (Cecak rowo). Malah ketika matahari pagi sudah lebih terang, Cicempala paki juga ikut mengubah tekanan dan irama suaranya. Kicauan saat itu sering “diterjemahkan” oleh penduduk desa saya ke dalam bahasa Aceh, “Maaaa kei ka jagaaaaaaa! Ka beudoh hanjeut!” (ibu, aku sudah jaga. Ooo, bangunlah anakku !). Kicauan itu terdengar saling bersahut-sahutan “Maa kei ka jagaaa! Ka beudoh hanjeut!”, biasa dimanfaatkan kaum ibu yang beranak kecil sebagai “alat” untuk membujuk anak mereka yang baru terbangun dalam ayunan agar tidak menangis. Itu, baru dua kisah dari fungsi/manfaat suara Cicempala paki di waktu pagi bagi masyarakat desa. Kicauannya berguna dalam “gerak hidup” warga desa setiap hari.

Kini, suasana pagi tak seindah masa dulu, sewaktu cicempala paki masih malang melintang terbang sambil “berkuaciiii” di desa-desa. Keadaan demikian hanya tinggal kenangan. Kawanan Cicempala paki sudah “menghilang” entah kemana. Siapakah yang gegabah menghabisi mereka. Alamkah atau insan durjana yang memusnahkan kelestariannya? Beruntunglah, sebelum pernyataan kita terjawab, di Aceh dan Banda Aceh kita telah memperoleh dua “duplikat” Cempala paki, yang bisa dijadikan obyek “kenangan” untuk mengenang Cicempala paki yang punah- binasa di desa-desa. Kedua “benda nostalgia” bagi Cicempala paki itu adalah “Cempala kuneng”, nama halikopter hadiah pemerintah pusat kepada Pemda Aceh guna memperlancar kunjungan aparat Pemda ke desa-desa di seluruh Aceh dan “Cempala Taksi”, nama taksi penumpang yang beroperasi di kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Manusia dan Alam

Manusia Aceh (orang Aceh) tempo dulu, sangat akrab dengan lingkungan alam di sekitarnya. Mereka menyatu dengan alam, baik alam nyata maupun alam gaib. Kenyataan demikian sangat nampak dalam kehidupan masyarakat desa. Faktor pengikat keakraban dengan alam itu terdorong oleh beberapa sebab, yakni karena rasa takut, mempercayai atau anggapan yang diwarisi dari nenek moyang mereka.

Karena takut ditimpa balasan dari Tuhan, berupa teumeureuka (kualat), maka sangat jarang para supir bis yang berani menggilas kucing yang melintas di jalan. Semampu-mampunya di supir pasti berusaha menghindar. Sebab, mereka percaya, bahwa kucing adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW. Bahkan menurut cerita rakyat (kisah tanpa sumber yang jelas) yang “popular” di kalangan warga desa menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad sampai-sampai memotong kain beliau agar sang kucing tidak terbangun dari tidurnya di atas kain tersebut. Akibat sikap memuliakan kucing, maka terhindarlah kucing-kucing itu dari kemusnahan. Itulah suatu contoh “anggapan” akan dunia hewan.

Terhadap dunia tumbuh-tumbuhan, orang Aceh juga punya anggapan dan kepercayaan tertentu, sehingga selamatlah habitat itu. Sebatang pohon besar dari jenis tertentu, tumbuh/hidup leluasa tak pernah ditebang orang, karena dipercaya ada “penunggunya”. Batang geuleumpang, pohon bubirah, pohon asam, batang agu termasuk di antara pohon-pohon kayu yang dianggap punya penunggu (na ureung po), yang siap menghajar siapa saja yang merusak rumah makhluk gaib itu, lestarilah pohon-pohon besar melingkari desa.

 

Takut Botak

Para orang dewasa di desa, selalu melarang anak-anak mengambil anak Cicem murong yang sarangnya bergantungan di ujung atap tertinggi (ujong tampong) rumah Aceh. “sumpah serapah Cicem murong bisa membuat seseorang jadi botak (duroh oek), kata mereka. “Bek ……. hai bek, diseurapa Cicem Murong duroh oek! (hai jangan, nanti disumpah induk Cicem Murong bisa botak), hardik orang tua terhadap anak-anak yang mau memungut anak Cicem Murong. Begitu juga terhadap Cicem ujeuen (burung layang-layang) yang membuat sarang di rumah-rumah, mesjid dan meunasah.

Memang, bermacam-macam anggapan dan kepercayaan terhadap makhluk hidup di kalangan penduduk desa. Anak-anak tidak berani menyentuh telur cecak, Sebab mengakibatkan tangan jadi bergetaran terus-menerus seperti ekor cecak yang putus (aneuk jarone meutete). Penghuni seiisi rumah jarang menghalau sejenis kupu-kupu (bambang jamei) yang terbang masuk ke dalam rumah, lantaran  dianggap membawa laporan awal; bahwa ke rumah itu tak lama lagi akan didatangi tamu. Tokek pun ditakuti anak-anak, karena jika diludahinya bisa berakibat kulit orang itu belang-belang (plang-pleng) seperti tokek (lagei pa’e). apalagi ada kepercayaan, rumah yang ditempati tokek mempusakai kaya.

Ramalan Cuaca

Demi lancarnya kegiatan sehari-hari, warga desa perlu memahami fai (ramalan cuaca). Burung Beurijuek Balei, burung Got-got, suara tokek, termasuk sarana ampuh untuk mendapatkan hasil ramalan lebih tepat. Kicauan riuh Beurijuek balee di pagi hari, memberi pertanda matahari akan bersinar terang benderang. Sementara suara Got-got yang terus menerus, merupakan isyarat tidak lama lagi bakal turun hujan. Dan bila si Tokek sering kali bertokek-tokek di waktu malam, itulah tanda bisa menjemur padi besok hari, karena panas terik matahari sampai sore.

Selain menyiarkan prakiraan cuaca, khusus kehidupan burung Got-got bisa disadap tamsil-ibarat. Anak-anak di Aceh menyanyikan: “Got-got panyang iku / geuleungku penyang mata/ nyang tabri han ji pajoh/ nyang tatroh dijak mita” (Got-got panjang ekor/ kukuran kelapa panjang matanya/ yang dikasih tidak terima/ yang disimpanlah yang dicuri). Burung Got-got punya sifat serakah, yang tak boleh ditiru manusia budiman.

 Kini, di antara ketiga “peramal” cuaca itu, Beurijuek balee dan burung Got-got, sekarang sangat jarang ditemui di desa-desa. Orang percaya, Beureujuek balee yang dipelihara sejak kecil, bisa dilatih untuk berbicara seperti manusia dan punya kemampuan meramal (keumalon) sebagai burung beo (Tiyong). Adanya anggapan demikian termasuk sebab yang mempercepat kepunahannya, karena sering diburu orang.

Tuah

Burung Layang-layang membawa “tuah”, jika membuat sarang di kolong rumah. Sarangnya terlengket pada tot rumah Aceh. Pemilik rumah, biasanya memang sengaja memasang papan-papan kecil bagi tempat ticem ujeuen (burung Layang-layang) bikin sarang.

Karena dianggap mempusakai kaya, maka sejak orang dewasa sampai anak-anak hampir-hampir tak pernah mengusik kehidupan burung Layang-layang itu. Lestarilah ia beranak-pianak di situ. Di samping membawa “tuah kaya” burung Layang-layang juga dipercayai bisa memberi pertanda hujan. Bila burung itu terbang malang melintang berkawan-kawan di udara, maka bersiap-siaplah mengemas diri, sebab hujan bakal turun sekejap lagi.

Selain burung Layang-layang, Rayap/Anai-anai (Kamue), Lhang, dan Tokek (Pa’e) juga dianggap membawa tuah. Ketiga binatang itu “mempusakai kaya”, Rayab (Kamue) yang dianggap membawa tuah, khusus bagi Kamue yang membuat sarangnya  di lantai tanah ruang dapur (geudong), tetapi terhadap Rayap yang bersarang di ruang atas, dianggap membawa bencana.

Bek ……. Hai bek, diseurapa Cicem Murong duroh oek! (hai jangan, nanti disumpah induk cCcem Murong bisa botak), hardik orang tua terhadap anak-anak yang mau memungut anak Cicem Murong. Begitu juga terhadap Cicem ujeuEn (burung Layang-layang) yang membuat sarang di rumah-rumah, mesjid dan meunasah.

(Baca: Harian “Serambi Indonesia”, Kamis, 7 Maret 1991 halaman 4/Opini).

 

 

 


Iklan

2 pemikiran pada “Manusia Aceh dan Lingkungan Hidup

  1. saya ingin tahu lebih banyak mengenai budaya aceh dan lingkungan, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s