Dari Moskow Sampai ke Capetown – Afrika Selatan

Dari Moskow Sampai ke Capetown – Afrika Selatan:

Mencari Akar Sastra Aceh Dalam Masyarakatnya Dewasa Ini

Oleh : T.A. Sakti

 Latar Belakang

Memang sengaja tidak saya gunakan kata “menggali” pada awal judul di atas. Perkataan menggali, mengandung makna yang dalam; sukar dipenuhi karena sebab-sebab tertentu, sedangkan kata “mencari” tidak seberapa sukar mencapainya. Dan, buat apa bersusah payah, kalau secara gampang pun bisa kita peroleh tujuannya!. Mengapa sulit mencari akar sastra Aceh? Bila bermaksud menulis sebuah karya tulis yang (sedikit) berkualitas, tentu membutuhkan bahan bacaan atau literaturnya yang memadai. Hal inilah yang amat kurang dimiliki sastra Aceh selama sejarah perkembangannya. Buku-buku tentang bahasa dan sastra Aceh – amat langka – di Aceh. Memang, pernah diterbitkan beberapa buku tentang bahasa atau sastra Aceh, namun tak pernah dicetak ulang karena seretnya pemasaran. Akibatnya, buku-buku mengenai bahasa atau sastra Aceh bisa dicari sekarang adalah buku cetakan yang lama yang tidak diperoleh lagi di toko-toko buku. Buku bahasa atau sastra Aceh, kenapa sulit dipasarkan? Larisnya suatu barang dagangan, tentu disebabkan banyaknya konsumen yang membutuhkannya. Bagi buku bahasa dan sastra Aceh, calon-calon peminatnya hanyalah orang-orang yang secara alamiah memang menyukai masalah-masalah bahasa dan sastra. Jumlah mereka tidak banyak, sehingga buku-buku yang diperlukan sedikit. Inilah salah satu penyebab buku-buku bahasa atau sastra Aceh tidak pernah mampu dicetak berkali-kali. Kesulitan memperoleh buku bahasa atau sastra Aceh seperti sekarang: sesungguhnya tidak akan kita alami sekitranya pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan mematuhi “amanah” Rapor anak Sekolah Rakyat (SR)/Sekolah Dasar (SD) yang selalu menyediakan “kolom” bahasa daerah, yang minta diisi pada setiap selesai ujian triwulan. Nampaknya, amanah Rapor SR/SD ini sudah “terlanggar” puluhan tahun tanpa disengaja (?). Apakah, karena bahasa daerah dianggap “enteng” atau ada faktor lainnya, sehingga amanah Rapor itu terlupakan puluhan tahun? Sampai sejauh ini, penulispun belum menemukan jawaban yang jelas. Namun yang pasti, pada setiap menerima Rapor dari bapak guru /wali kelas “seluruhnya” pada ruang/ kolom bahasa daerah pada setiap Rapor siswa sudah terisi dengan mata pelajaran lain atau hanya dikosongkan saja. Biasanya, setelah “mencoret” tulisan bahasa daerah Pak guru langsung menulis “parafnya” sebagai gantinya: dengan menggunakan polpen dawat parker. Hanya sekedar coretan polpen itulah, maka mulai pupuslah sedikit demi sedikit kebudayaan dari suatu daerah di Indonesia. Padahal, itu adalah kebudayaan nasional yang seharusnya dibanggakan dan diperkembangkan bersama. Ini, “malah dicoret” di Rapor yang sengaja sudah dicetak. Masya Allah! Selain daerah Aceh! (khususnya di SD penulis sekolah dulu!), entah di propinsi mana lagi yang turut melanggar “amanah” Rapor SD itu? Kita, perlu angkat salut kepada daerah-daerah yang sanggup memenuhi pesan Rapor. Para bapak /ibu guru, memang mengisi nilai ujian bahasa daerah pada kolom yang mestinya diisi dengan nilai bahasa daerah. Di daerah-daerah inilah pada saat sekarang paling mudah mendapatkan buku-buku bahasa dan sastra daerah. Salah satu daerah demikian adalah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelum kurikulum muatan lokal diperkenalkan, daerah-daerah seperti ini telah puluhan tahun “berswasembada”, atau, cukup banyak memiliki buku bahasa daerah atau sastra daerah. Ketika kurikulum muatan lokal “dianjurkan” seperti sekarang, mereka hanya bergiat meningkatkan kualitas dan kuantitas saja. Dengan lain perkataan, upaya memenuhi tuntutan muatan lokal tidaklah dimulai dari nol (0) seperti beberapa daerah lain yang melanggar “amanah” Rapor SR dan SD. Bagaimana perkembangan di Aceh??? Tentu, sebagian besar para pembaca yang budiman telah mengetahuinya. Ternyata, “ketinggalan kereta api” sudah dua kali. Pertama, kita tidak mampu memenuhi amanah Rapor yang menyediakan kolom bahasa daerah, di waktu-waktu yang lalu. Kedua, kitapun belum sanggup memenuhi tuntutan kurikulum muatan lokal pada saat sekarang! (baca: “Akibat Ketiadaan Dana Pengadaan Materi Muatan Lokal di Aceh macet” Harian Serambi Indonesia, 1 November 1996). Kreativitas pribadi Bila kreatifitas bahasa dan sastra Aceh secara massal Nampak tiada “berdetak”, khususnya dalam dunia pendidikan di Aceh. Tidaklah demikian halnya dalam kreatifitas perseorangan dari waktu ke waktu. Ternyata denyutnya selalu kentara, terutama dalam lingkungan terbatas. Mereka itulah “nafas” yang bisa menghidupkan sastra Aceh hingga sekarang, walaupun keadaan sangat lemah hampir kehabisan nafas. Keadaan kelompok ini dapat disebutkan antara lain : A. Hasjmy, Abdullah Arif (almarhum), T.A. Talsya, Syeh Rih Krueng Raya, Drs. Ameer Hamzah, Idris Hasan, Marzuki Sabon dan lain-lain. Sementara, di dunia akademik atau perguruan tinggi, juga ada dua orang ilmuwan dalam bidang sastra Aceh, khususnya hikayat. Beliau adalah Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian dan Dr. Imran T. Abdullah. Disertai T. Ibrahim Alfian tentang Hikayat Perang Sabi (Peran di Jalan Allah), sedangkan Imran T. Abdullah mengkaji mengenai Hikayat Meukuta Alam. Keduanya, adalah dosen di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta. Buku-buku atau karya ilmiah dari A. Hasjmy, T.A. Talsya, T. Ibrahim Alfian, Imran T. Abdullah telah memberi acuan kepada kita dalam mempelajari/ mengkaji sastra Aceh secara ilmiah. Hal ini sangat penting, jika pada suatu saat nanti akan dibuka Fakultas Bahasa Sastra Aceh. Para calon sarjana sastra Aceh yang hendak menulis skripsi, tentu bisa memakai buku-buku itu sebagai telaah rujukan. Di sisi lain, pengarang-pengarang hikayat seperti Syeh Rih Krueng Raya, Ameer Hamzah, dan lain-lain (yang dapat dihitung dengan jari-jari sebelah tangan) merupakan jantung-jantung sastra Aceh yang terus “berdenyut” dalam masyarakat. Tanpa keberadaan mereka, sastra Aceh mungkin betul-betul nyaris punah. Pihak lain yang turut mendukung mempertahankan “detik-detik terakhir” dari perkembangan sastra Aceh adalah lembaga-lembaga siaran, seperti RRI dan radio-radio swasta. Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh yang sejak dulu menyiarkan acara “Like Aceh” pembaca hikayat Aceh, nadlam Aceh, berita daerah bahasa Aceh, dan ceramah bahasa Aceh pada acara pedesaan: dapatlah diibaratkan sebagai seutas akar sastra Aceh yang tertancap kuat di bumi sastra Aceh yang tengah gersang-kerontang. Radio-radio siaran niaga juga tidak ketinggalan ikut menghidup-hidupkan sastra Aceh yang sedang “payah” Radio Rapa-i Aceh (RRA) misalnya, pemancar itu juga menyiapkan beberapa acara budaya Aceh, seperti pembaca hikayat Aceh, Like Aceh, mempopulerkan lagu-lagu Aceh dan pepatah Aceh. Semboyan RRA memang cukup menarik, yaitu “meumate aneuk ka meupat jeurat, meumate adat patkeuh tamita”. Begitu pula dengan radio duta kencana (Radio Geureubak Meueh) Banda Aceh; besar pula jasanya dalam “mentransfusi darah” bagi bahasa dan sastra Aceh. Siaran-siaran dalam bahasa Aceh baik pada bagian pagi, sore dan malam hari (jum’at), tentu menjadi obat pelipur lara bagi yang merindukan alunan merdu bahasa Aceh melalui udara. Peran LAKA Sejak Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) dibentuk pada tahun 1985 sudah banyak dilakukan usaha-usaha dalam rangka terus mengembangkan kebudayaan Aceh pada umumnya. Memang, perhatian LAKA bagi bahasa dan sastra Aceh belum banyak dilakukan. Namun, seminar-seminar sejarah atau kebudayaan Aceh yang pernah digelarkan LAKA: kadang-kadang turut terangkat pula topik-topik yang menyangkut sastra Aceh. Hal ini, tidak terlepas dari peran orang pertama atau ketua umum LAKA, yakni Prof. A. Hasjmy yang juga sastrawan Aceh. Karena Prof. A. Hasjmy selain ketua LAKA juga merangkap ketua MUI Aceh, maka pada acara muzakarah/semintar MUI Aceh pernah didiskusikan dua makalah “Hikayat Aceh” (tahun 1995). Kenyataan itu menguntungkan bagi bahasa dan sastra Aceh, karena bisa mengangkat harkat dan martabatnya yang kini sedang runtuh. Bila campur tangan LAKA dalam upaya mengangkat kembali citra sastra Aceh masih sedikit yang dilakukan di Aceh, namun, perannya di luar daerah cukup mengesankan. Pelaksanaan Musyawarah Besar (MUBES) LAKA di Jakarta pada tahun 1994 yang peresmiannya dilakukan oleh Wakil Presiden Tri Sutrisno: jelas sebagai sangat meningkatkan citra LAKA sebagai lembaga ‘pelindung’ kebudayaan Aceh, yang bahasa dan sastra Aceh juga bagiannya. Selain itu, peran serta pengaruh Prof. A. Hasjmy dan kawan-kawan baik selaku pribadi, Ketua MUI Aceh ataupun Ketua LAKA adalah sangat “mengesankan” di beberapa negara dalam kawasan ASEAN, Asia Tenggara. Keadaan ini, memberi nilai tambah bagi sastra Aceh khususnya dan kebudayaan Aceh umumnya. Menurut berita-berita suratkabar yang sempat saya pantau, hampir setiap tahun selalu ada seminar-seminar tentang “Budaya Melayu Raya” (termasuk budaya Aceh) yang diadakan di Malaysia (baik di Kuala Lumpur dan semua kota negara bagian di sana), Singapura, Brunei Darussalam, Muangthai Selatan, dan bahkan baru-baru ini di kota Hanoi (Vietnam). Kini, setelah tercapai perdamaian antara pemerintah Philipina dan Pejuang Muslim “Moro”, mungkin saja seminar “Melayu Raya” juga akan diadakan di Philipina. Prakarsa ini, jelas berasal dari Muslim Philipina yang berdarah Melayu. Dan, siapa tahu mantan kepala pejuang muslim tahu Moro (MNLF = Moro National Liberation Front) Prof. Nur Mirsuari, yang sekarang sebagai Gubernur Kepala Daerah akan mempeloporinya. Kita tunggu! Bila peristiwa itu benar-benar berlangsung, tentu Prof. A. Hasjmy dan kawan-kawan akan diundang untuk menyajikan makalah-makalah tentang budaya Aceh, atau mengenai bahasa dan sastra Aceh, insya Allah! Kepopuleran LAKA atau Prof. A. Hasjmy dan kawan-kawan, tak berlebihan kalau dikatakan sudah sampai ketingkat internasional. Dalam symposium sastra nusantara di Hanoi, Vietnam bulan November 1996 lalu, malah LK. Ara salah seorang peserta dari Indonesia menyajikan makalahnya yang membicarakan A. Hasjmy salah seorang tokoh sastrawan anggota Pujangga Baru (Harian Serambi Indonesia, Kamis, 24 Oktober 1996 halaman 3). Berita serambi itu, yang berasal dari siaran pers LAKA juga menyebutkan kegiatan yang berhubungan dengan luar negeri. Bulan Juni 1996 lalu, Prof. A.Hasjmy sebagai ketua LAKA juga diundang untuk menyampaikan makalahnya pada Pertemuan Sastrawan Nusantara yang berlangsung selama lima hari di Moscow, Rusia. Prof. A.Hasjmy , memang tidak berkesempatan menghadirinya, namun mengirimkan kertas kerjanya dengan judul “Peranan Hikayat Perang Sabi Sebagai Sastra Heroik”. Ketidak hadirnya A.Hasjmy ke symposium di Moscow itu, menurut penuturan beliau kepada penulis bertempat di teras rumah Jl. Sudirman No. 20, Banda Aceh pada sore sabtu tanggal 3 Sya’ban 1417 / 14 Desember 1996 adalah karena bertepatan dengan kepergiannya ke negeri Belanda dalam urusan pembuatan “Film Perang Aceh” oleh pihak Belanda. Selanjutnya, antara tanggal 31 Oktober hingga 4 November 1996 di kota Capetown (Afrika Selatan) juga diadakan Pertemuan Budaya Melayu Serumpun, LAKA sendiri mengirim dua orang peserta yaitu ketua IV Dr. Safwan Idris (Rektor IAIN Ar-raniry) dan anggota dewan musyawarah Prof. Dr. Darwis. A. Sulaiman, Guru Besar Unsyiah. Meski penampilan sastra Aceh terkesan hebat: melanglang buana ke manca negara, namun, sebenarnya akar sastra Aceh sangat keropos pada khalayak masyarakat. Kapankah datang juru selamat (Bahasa Aceh: Utom) sastra Aceh? Mudah-mudahan kedatangannya janganlah sampai terlambat!!!.

( Baca: Majalah SANTUNAN, no. 231 halaman 17 – 19, Kanwil Depag.Aceh tahun 1997).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s