Dalam menghadapi dunia modern: Manusia Jawa Atau Bukan Jawa Sama Saja!

Dalam menghadapi dunia modern:

Manusia Jawa Atau Bukan Jawa Sama Saja!

Oleh: T.A. Sakti

  

  

 

Suka meratapi masa lalu yang aduhai …. indahnya, namun telah hilang merupakan sifat manusia pada umumnya. Hal inilah yang tercermin dalam tulisan JC Tukiman Taruna tentang “Manusia Jawa” (Hr. Kompas, 8 Januari 1984). Beliau sangat menyesalkan terhadap berbagai pergeseran budaya “Manusia Jawa” sehingga menyebabkan sifat manusia Jawa dewasa ini semakin brengsek (katanya). Saya yang bukan orang Jawa sangat tertarik membaca artikel itu.

Apalagi setelah muncul karangan lain yang nampaknya hendak membantah pendapat JC Tukiman Taruna itu (lihat : Ipong S Azhar; KR; 12 Januari 1984 hlm 6). Pada mulanya, saya jadi bingung ketika membanding-bandingkan kedua artikel tersebut. Mana sih yan benar? Namun pada akhirnya, saya lebih setuju dengan pendapat  Sdr.. Ipong S. Azhar.  Guna menjernihkan “polemik” itulah saya memberanikan diri menurunkan tulisan ini. Karena saya “manusia Aceh”, tentu saja sejumlah “atribut  Aceh”akan ikut terbawa-bawa  dalam uraian  saya nanti. Paling kurang, sebagai perbandingan.

Jangan Pesimis

Apapun alasannya, kita harus mengakui bahwa perkembangan kehidupan kita sekarang lebih “baik” bila dibandingkan dengan kehidupan nenek moyang kita tempo dulu.

Keadaan yang semakin membaik itu hampir di semua bidang. Cara berpikir kita semakin luwes, sebaliknya sifat “fanatik” terus menipis. Bidang perhubungan bertambah lancar. Jalan desa yang berlumpur terus berkurang. Kecerdasan bangsa terus meningkat, karena hampir setiap manusia Indonesia telah mengerti, bahwa pendidikan itu sangat penting. Kalau di daerah sendiri mutu pendidikan masih rendah, orang tidak segan-segan lagi untuk menuntut ilmu di negeri orang. Demi mengejar pendidikan “bermutu” itulah saya terdampar ke pulau Jawa.

Hanya dari beberapa contoh saja, n ampak jelas bahwa kehidupan kita di zaman modern ini sangat lebih “baik” daripada kakek-kakek kita.

Jadi apakah lagi yang merisaukan kita dengan perkembangan dunia modern kini? Dampak negatifnya? Hal itu memang resiko zaman kemajuan. Mengeluh terhadap pengaruh jelek itu wajar saja. Faedahnya tidak seberapa, ibarat nyalak anjing di padang pasir, kafilah tetap berlalu. Tempat yang paling layak bagi orang yang “anti kemajuan” adalah menyingkir ke gua-gua batu. Namun sayang, gua-gua batupun telah dikerok orang untuk menimbun halaman  sekolah di desa.

Karena itu, daripada pesimis yang tidak bermanfaat, lebih baik rasanya kalau kita terus optimis, bahkan bersyukur dengan berbagai kemajuan yang telah dapat kita capai di zaman modern ini.

Pergeseran nilai

Sebagai orang Aceh (asli-paten), saya tetap penuh percaya, bahwa kebudayaan Aceh tempo dulu sungguh hebat sekali. Paling kurang sama tarafnya dengan budaya-Jawa yang terkenal adiluhung itu. Tetapi, semua yang terlanjur saya anggap “hebat”, itu tidak pernah saya saksikan sendiri. Kata orang, budaya Aceh yang juga adiluhung tersebut telah digilas oleh kemajuan masa. Timbul bisikan di hati saya, “Kalau sampai dapat dihancurkan roda zaman berarti ia kurang hebat, hingga tak sanggup mempertahankan diri”.

Kalau budaya Jawa seperti ditulis JC Tukiman Taruna juga sudah ludes digilas kemajuan masa, berarti pula budaya Jawa sama dengan  budaya Aceh; yaitu sama-sama sebagai pihak yang kalah bila berhadapan dengan “Bathara kala” dunia modern. Pada akhirnya, budaya Jawa dan budaya Aceh menerima nasib yang sama. Dalam hal ini mutunya sama, alias sami mawon. Dan saya yakin, nasib  berbagai budaya di dunia  tak jauh berbeda. Pergeseran nilai budaya, merupakan musibah yang tak dapat dielakkan oleh bangsa-bangsa yang pernah terjajah.

Dari uraian di atas semakin jelas, bahwa pergeseran nilai bukan hanya dialami manusia Jawa saja. Tepat sekali apa yang ditulis sdr Ipong S. Azhar, bahwa pergeseran yang sama juga dialami manusia Batak, Bugis, Dayak,  Toraja, Bali dan manusia-manusia daerah lainnya (tidak terkecuali manusia Aceh).

Dalam majalah Panji Masyarakat nomor terbaru (No. 419 – 11 Januai 1984) sangat lengkap digambarkan tentang sejumlah pergeseran nilai yang telah terjadi di Aceh. Saya yang asli Aceh, jauh sebelum dilaporkan majalah itu telah maklum segalanya. Walaupun demikian, saya tidak mengeluh dan cengeng. Karena menurut pendapat saya, adalah wajar, dalam rangka mengejar kemajuan agar sebanding dengan daerah-daerah lain. Dan satu hal yang perlu diingat, bahwa biarpun kita menjerit hingga terbelah langit, namun manusia tidak mau kembali hidup seperti di zaman purba. Jadi apa gunanya bernostalgia.

Apa yang dilukiskan majalah Panji Masyarakat mengenai Aceh tak dapat kita sanggah, karena begitulah kenyataannya. Jumlah Dayah (pesantren) merosot. Sekolah-sekolah agama semakin dijauhi peminatnya. Jumlah ulama apalagi: semakin kurang. Namun masih ada satu hal penting lainnya yang lupa di ekpose majalah itu, yakni sifat kepahlawanan manusia Aceh semakin tipis, bahkan sudah sirna. Hal yang terakhir ini paling kentara sekarang. Tempo doeloe, perang Aceh melawan Belanda terkenal ke seluruh jagad. Coba perhatikan sekarang, berapa gelintir manusia Aceh yang dapat lulus test masuk AKABRI? Jawabnya : Jarang sekali. Bukankah kenyataan ini menunjukkan  sifat patriotik masyarakat Aceh telah luntur. Keadaan demikian tidak terlepas dari pergeseran nilai dalam diri manusia Aceh, akibat pengaruh lingkungan dan perkembangan masa.

Saya tetap yakin, bahwa dalam menghadapi dunia modern masyarakat Jawa atau bukan Jawa sama saja nasibnya.

*TA Saki alias Teuku Abdullah Sulaiman adalah mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM) Unsyiah Banda Aceh, yang terpilih belajar di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta dengan beasiswa Depdikbud/ Panitia Kerjasama Indonesia -Belanda./LIPI-Jakarta.

( Baca: Harian “Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta, 23 Januari 1984 halaman 6/Opini).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s