Sejarah Persuratkabaran di Aceh

Menjelang Satu Tahun Monumen Pers Nasional :

25 April 1980-25 April 1981

SEJARAH PERSURATKABARAN DI ACEH

Oleh : T.A. Sakti. – FHPM Unsyiah.

“Melalui sarana komunikasi yang mampu mencapai banyak orang sekaligus, dapat diadakan penyebaran informasi, sedangkan informasi merupakan peningkatan pengetahuan umum dan perluasan pengetahuan tentang bidang-bidang dan hal-hal yang sebelumnya diketahui. Melalui media massa, maka pengalaman seseorang dapat dijadikan ‘pengetahuan baru” oleh orang lain. Dengan membaca surat kabar atau majalah, atau mendengar radio atau menonton televisi, orang akan merasa bertambah pengetahuan ataupun pengalamannya. Bahkan mungkin pengertian akan pengetahuan yang telah dimilikinyapun meningkat. Atau dengan kata lain, kecerdasannya akan bertambah”. (Dr.Phil, Astrid S.Susanto, lihatlah Almanak Pers ‘Antara” tahun 1976).

TAHUN 1980 merupakan tahun perkembangan pers terbesar, baik tingkat nasional maupun internasional. Di tingkat nasional, ditandai dengan peresmian Monumen Pers Nasional tanggal 25 April 1980. Monument Pers Nasional yang dibangun di Solo itu, menandakan bahwa perkembangan pers di Indonesia sudah berlembaga dan dianggap pula, partisipasi pers sangat penting dalam rangka memantapkan pembangunan di Negara ini. Dengan adanya monument itu, akan mendorong kita, baik rakyat biasa maupun pemerintah, untuk membantu dan membina kemajuan pers dimasa-masa akan datang. Karena siapapun, tidak dapat membatah adagium yang menyatakan bahwa pers baik nasional maupun didaerah sangat bermanfaat adanya. Suatu kejutan juga telah terjadi di tingkat internasional. Perkembangan pers tingkat dunia ini, dimulai tanggal 15 September 1980 di kota Paris. Surat kabar International Herald Tribune adalah Koran pertama yang melakukan revolusi ini. Selama ini surat kabar dari Eropa, baru dapat dibaca oleh orang di Asia, ketika sura kabar itu sendiri telah basi di sana (Eropa). Surat kabar itu, baru sampai ke Asia setelah lima hari, atau paling cepat setelah dua hari keluar dari mesin cetaknya. Tapi, dengan perkembangan baru dibidang jurnalistik, surat kabar Eropa telah dapat dibaca lebih dulu oleh orang Asia dari pada orang Eropa sendiri. Tokoh revolusiner bidang persuratkabaran ini, ialah Tuan Lee Huekner pemimpin sk. International Herald Tribune. Dalam hal ini merupakan kejadian yang pertama didunia persuratkabaran. International Herald Tribune, diterbitkan dengan edisi serentak dari ujung dunia keujung dunia. Sesudah isinya lengkap, maka dari Paris dikirimlah lembaran mini yang disebut “faesimiles” kepercetakan cabang di Hongkong, dengan menggunakan satelit komunikasi. Ketika matahari menampakkan sinarnya, maka Sk. International Herald Tribune, telah dapat diedarkan kepada langganannya dikota Hongkong. Sedang orang-orang Perancis dan Eropa masih tidur nyenyak disaat itu, karena waktu pagi belum tiba. Dipagi itu pula surat kabar tersebut diterbangkan dengan pesawat udara keseluruh Asia, termasuk Indonesia (Jakarta). Jadi orang Asia, telah dapat membaca surat kabar yang sama, isi dan hari yang sama, lebih duluan dari orang Paris sendiri, dimana disanalah International Herald Tribune berkantor pusatnya. Demikian menurut keterangan sebuah media, yang penulis baca. Supaya jadi bandingan.

Setelah kita menjelajah perkembangan pers dewasa ini, baik secara nasional dan international, sekarang marilah kita ikuti pula suatu perkembangan lainnya, juga tentang mass media. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil lagi, yaitu Kampus Darussalam. Disana  juga telah dilakukan suatu kegiatan yang berhubungan dengan pers. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 3-6 April 1981, telah diadakan Pendidikan Pers Mahasiswa oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah. Walaupun pada dasarnya pendidikan pers ini dikhususkan untuk bakat-bakat penulis dari mahasiswa FE, namun panitianya, mau juga memberi belas kasih kepada fakultas-fakultas lainnya. Panitia tersebut mengundang seorang peserta dari setiap senat, dalam lingkungan Unsyiah. Sehubungan dengan pendidikan pers  situ, penulis merasa tertarik untuk menulis sejarah perkembangan pers di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan menelusuri jejak persuratkabaran  ini, mudah-mudahan akan muncullah tokoh-tokoh muda yang berasal dari mahasiswa dan umum, untuk membina persuratkabaran didaerah ini kearah yang lebih maju. Selamat mengikuti.

ACEH GUDANG WARTAWAN

Kalau kita melihat kebelakang ternyata, bahwa daerah Aceh tidak pernah mengalami krisis buta aksara. Dizaman huruf Latin belum muncul disini. Orang di daerah Aceh telah pandai tulis baca dalam huruf Jawi. Yang mereka baca, ialah buku-buku mengenai agama, cerita pelipur lara dan ilmu pengetahuan lainnya. Memang waktu itu surat kabar belum ada disana. Barulah dizaman Belanda diterbitkan sebuah surat kabar bernama “Atjeh Nieuwsblad”. Surat kabar ini tidak diedarkan pada umum, hanya untuk kalangan Belanda sendiri. Biar orang yang disibou (dilayani) tidak peduli, tetapi budi tetap dicurahkan. Begitulah kehidupan media  di Aceh. Suatu kehidupan yang memprihatinkan kita yang melihatnya, bagaikan kehidupan kerakap diatas batu, hidup segan mati tak mau. Kalau disuatu hari, kita jalan-jalan kesemua kios yang menjual Koran dan majalah. Kita minta salah satu dari Koran-koran yang terbit disini, maka sang pemilik kios itu menggelang kepala, bahwa Koran yang diminta itu tidak ada. Sukar untuk mencarinya lagei tamita leubeng lam peulincot (ibarat mencari leubeng binatang paling kecil yang suka  menggigit dikantong kemih anak kecil). Menurut pengamatan penulis sehari-hari, bahwa penyebab utama kemunduran pers daerah, khususnya bagi daerah Aceh, adalah karena modal dan ketiadaan percetakan offset di Banda Aceh. Dengan Judul berita : Percetakan offset di Banda Aceh mulai Beroperasi Agustus 1980, Harian Peristiwa terbitan 2 Juli 1980, selanjutnya penulis : “Sidang pengurus SPS Pusat Ke I periode 1979/1980 pada 13-17 Juni 1980 lalu di Linggarjati, mendesak agar rencana pengadaan percetakan di Ambon dan Aceh segera direalisasikan”. Demikian Tia Huspia Ketua PWI Aceh”. Tulis Peristiwa lagi. Kelihatannya cetusan Linggarjati tersebut, belum terlaksana hingga hari ini. Kesimpulan penulis ini berdasarkan dua buah surat kabar Peristiwa dan Mimbar Swadaya, keluaran minggu ketiga bulan Maret 1980, dimana keduanya masih dicetak di Mercu Suar, MEDAN. Menurut Sinar Harapan, hlm, VI, Sabtu, 2 Februari 1980, desakan di Linggarjati telah dapat dilaksanakan dengan sempurna di Maluku (Ambon). Selanjutnya Harian Sinar Harapan, a.l. menulis:”Demikian Hasan Slamet pada peresmian Unit Mesin Zetting guna kelengkapan rencana percetakan surat-surat kabar setempat secara offset pada awal Januari y 1. Ia optimis dengan beroperasinya Unit Mesin Zetting itu, suatu perkembangan baru dalam kehidupan pers di Maluku lebih cerah, dan menjanjikan lagi bantuan melalui APBD mendatang”.

SARAN-SARAN

1. Demi lebih menggairahkan kehidupan pers di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, maka disini penulis menghimbau Pemerintah Daerah Tingkat I Aceh dan pihak yang ada hubungannya dengan pers, agar lebih mempercepat pengadaan percetakan offset didaerah ini, sebagaimana telah adanya rencana yang demikian. 2. Dalam kehidupan pers kampus, problem kekurangan modal sering dialami. Jika sekiranya di Kampus Unsyiah hendak ditertibkan pers kampus, maka ada baiknya, kalau setiap mahasiswa diwajibkan mendukung gagasan in, dengan membayar diawal setiap tahun. Mulai tingkat persiapan sampai tingkat terakhir.

BUCUE, 1 April 1981.

Catatan terakhir: Pada Pendidikan Pers Mahasiswa tersebut di atas, saya termasuk salah seorang peserta yang mewakili mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat ( FHPM ) Unsyiah. Bale Tambeh, 3 Maret 2011, T.A. Sakti ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s