Sebuah tanggapan terhadap: Oknum-oknum Berjiwa Kerdil

Sebuah tanggapan terhadap :

OKNUM-OKNUM BERJIWA KERDIL.

Oleh : T.A. Sakti

Mhs. FHPM Unsyiah.

Motto : Nanggrou kesatuan kalheuh tapeudong Jinou tapeukong si umu donya.

(Negara kesatuan telah kita tegakkan (Republik Indonesia) Patut kita

pertahankan sampai seumur dunia (kiamat). Kutipan dari sebuah

Hadih Maja di Aceh.

–          Bhinneka Tunggal Ika (Biar berpisah-pisah, tetap bersatu).

–          “Berikanlah jiwa ragamu dengan mutlak/. Jangan setengah-setengah. Yang setengah-setengah tidak akan mendapat padi segenggam, yang mutlak akan mendapat dunia” (Bung Karno).

DENGAN tidak kita sadari, sampai sekarang rupanya masih banyak rakyat Indonesia yang belum tumbuh sifat percaya pada diri sendiri. Mereka masih saja membeo pada pendapat dan pendirian bangsa lain, tentang ukuran kepribadian mereka sendiri. Sudah sekian tahun kita merdeka, namun sikap jelek yang satu ini, belumlah tercabut samapi seakarnya. Keadaan ini merupakan sisa-sisa politik penjajahan palsu yang meracuni diri sendiri. “Rakayat inlander tidak sanggup mengurus diri sendiri, apalagi memegang pemerintahan sendiri”, demikian pihak Belanda memiatwakan bangsa kita dizaman itu. Ajaran tersebut terus-terusan dipompakan pada rakyat Indonesia, sehingga melekat ketulang sumsumnya. Tujuan dari pihak imperialis, hanyalah sebagai azimat penangkal supaya mereka dapat mengekalkan kekuasaannya disini. Rupanya omong kosong mereka masih berbekas dan mengalir dalam peredaran darah bangsa kita. Sifat tidak percaya diri sendiri (hana peucaya drou keudrou) merupakan penghalang utama dalam melanjutkan pembangunan dari suatu bangsa merdeka. Tanah airnya telah merdeka, tapi watak pribadinya masih saja seperti jiwa rakyat jajahan. Mereka yang berwatak demikianlah yang disebut jiwa-jiwa yang kerdil. Hidupnya terombang ambing kemana arah angin, ibarat orang-orangan (peulangkot tulo) ditengah sawah.

Sebagai contoh terdekat,  bahwa rakyat kita masih dihinggapi penyakit hana turi drou (tidak kenal diri) ini, dapatlah penulis tampilkan issue-issue yang tersiar baru-baru ini. Di tengah-tengah kita waraga masyarakat sedang mengikuti tindak lanjut pihak pemerintah terhadap oknum-oknum yang menggunakan jabatan hakimnya untuk kepentingan pribadi, maka bagai halilintar di tengah hari, tersiarlah suatu fitnah besar yang menghina bangsa kita. Fitnah dimaksud adalah ditujukan kepada seorang proklamator kita, Bung Karno. Penghinaan pada beliau, berarti pula sebagai comooh kepada bangsa Indonesia seluruhnya. Sebab Bung Karno telah ikrarkan seorang pemimpin kita yang tulen. Putra Sang Fajar ini bersama kawan seperjuangannya, telah membawa Indonesia kegerbang kemerdekaan. Tokoh yang menciptakan kehebohan ini adalah John Ingelson. Disini berarti, Bung Karno dituduh pernah mengkhianati perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, hanya demi kepentingan pribadi. Kita sebagai bangsa merdeka, tidak pada tempatnya menelan bulat-bulat semua tuduhan itu. Apalagi fitnah tersebut berasal dari bangsa asing yang biasanya punya tujuan tertentu dengan tulisannya. Kita perhatikan saja tokoh-tokoh orientalis dizaman penjajahan. Mereka menulis sejarah bangsa kita, hanya dari segi yang negative saja. Hampir tidak pernah mereka menyatakan bahwa bangsa kita sebagai suatu bangsa yang berkebudayaan tinggi. Mereka selamanya berpendapat bangsa rakyat ini sebagai manusia belum beradap. Mereka berperan sebagai kita selama ini kurang kritis, maka tidak jarang pula kita hanya menerima saja apa yang pihak orientalis omongkan. Dan bahkan banyak juga ahli-ahli bangsa kita, belum mau menerima suatu bukti sejarah, kalau mereka belum mendengar pendapat bangsa Barat tentang sejarah bangsa  sendiri. Pendapat  pakar asing dianggap, bagaikan “mutiara-sakti”, yang jatuh dari langit. Kini, kedok pembohongan itu, telah banyak terbongkor. Hal ini adalah berkat sikap kritis bangsa kita sendiri. Kalau sebuah kedok telah terbuka, maka kita dapat memastikan, bahwa dimasa mendatang akan terbongkar semuanya.

Majalah Sinar Darussalam, No. 112-113, hlm 290-292, pernah membuka ‘kartu bohong’ bangsa-bangsa Barat dalam penulisan sejarah bangsa kita, terutama tentang masalah sejarah masuk dan berkembangnya Agama Islam di Nusantara ini. Dalam Tinjauan Redaksi majalah tersebut. Prof.A.Hasjmy yang Bapak Pendidikan Aceh itu menulis “Telah berlalu masa dan kurun, dalam waktu mana kepada kita disodorkan buku-buku sejarah Islam, terutama sejarah Islam di Nusantara, yang dikarang oleh bangsa asing kaum penjajah yang bukan beragama Islam, bahkan sebagai penjajah mereka berusaha untuk menghancurkan Islam. Sekurang-kurangnya untuk menyelewengkan atau mendangkalkan ajaran-ajaran Islam. Salah satu cara yang mereka tempuh untuk maksud-maksud kolonialisme tersebut, yaitu dengan memutar balikkan sejarah Islam, bahkan mencampur adukkan Sejarah Islam dengan israeliat (dongeng-dongeng yang dimasukkan orang-orang Yahudi ke dalam ajaran dan sejarah Islam). Karena itu, adalah wajar kalau kemudian ada orang-orang Islam sendiri, terutama yang mendapat pendidikan di sekolah-sekolah kaum penjajah, membenci Islam, memusuhi Islam, mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan dan mempersubur perbudakan ; mereka kemudian menjadi orang-orang sikuler yang memusuhi agamanya, Agama Islam, bahkan melawan Allah Yang Maha Esa”. “Maka tidak heran kita, kalau kaki tangan kaum penjajah menulis dalam apa yang dinamakan “buku sejarah Islam” bahwa Malikus Saleh, raja kerajaan Islam Samudra/Pasei yang terbesar, beliau makan ‘cacing’, yang apabila hal demikian dibaca oleh pemuda-pemuda kita, jatuhlah martabat Malikus Saleh di mata mereka, padahal beliau adalah mujahid dan pahlawan yang terbesar pada zamannya.

Tokoh-tokoh penjajah terbesar, seperti Prof.Dr.Snouck Hourgronye dan lain-lainnya, tanpa malu-malu menulis sejarah Islam di Indonesia dengan mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dalam abad ke XIII M. Dan raja Islam pertama yaitu Malikus Saleh yang makan  cacing itu. Dengan sengaja tokoh-tokoh utama kaum penjajah itu tidak mau mengakui bahwa Islam telah masuk ke Nusantara dalam abad pertama Hijriyah dan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara telah berdiri di Perlak pada awal abad ke tiga Hiriyah (abad ke IX M). Pendapat dari tokoh-tokoh utama kaum penjajah itu diterima bulat-bulat oleh sementara kaum terpelajar di Nusantara, bahwa tulisan-tulisan para otak kaum penjajah yang berlindung dibawah nama ‘orientalisten” dijadikan sumber sejarah Islam yang utama. Mereka menolak, kalau kita ketengahkan kepada mereka naskah-naskah tua yang ditulis oleh para Ulama Nusantara sendiri sejak zaman dahulu, seumpama naskah Idharul Haqq Fi-Mamlaka Ferlak karangan Abu Ishak Makarani, Tazkirah Tabakat Salatin yang ditulis oleh Said Abdullah, Keurukon Katibul Muluk (Sekretarsi Negara) dari Kerajaan Aceh Darussalam, hanya karena naskah-naskah tersebut tidak pernah disebut-sebut oleh tokoh-tokoh utama kaum penjajah ; Snouck tidak menyebutnya, kata mereka,. “Keadaan yang timpang ini, yang sangat merugikan Ummat Islam di Asia Tenggara harus kita banteras, harus kita lawan, karena kalau kita biarkan, pasti ajaran sekularisme dan ajaran anti Tuhan (atheisme) akan berkembang terus dan mengancam Islam bahkan buat di Indonesia akan mengancam ke murnian dan keselamatan PANCASILA.

Ahli-ahli sejarah Islam dari bangsa-bangsa Asia Tenggara sendiri harus menulis sejarahnya, harus meneliti masuk dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara, kemudian menseminarkannya, kemudian menulis menjadi buku sejarah Islam di Indonesia. Sejarah Islam di Malaysia, Sejarah Islam di Singapura, Sejarah Islam di Pilipina, Sejarah Islam di Thailand, Sejarah Islam di Brunei dan sebagainya. Menurut hemat saya, naskah-naskah tua masih cukup banyak;  asal kita mau mencari dan ia akan dapat membantu kita dalam usaha yang besar itu. Sudah waktunya kita meninggalkan tulisan-tulisan kaum penjajah sebagai sumber utama sejarah Islam di Asia Tenggara, sudah masanya kita menggali sumber yang ada dibumi kita sendiri. Ini adalah salah satu tujuan dari seminar ini ; Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara, disamping tujuan-tujuan yang lain’, demikian pendapat Prof.A.Hasjmy, seorang ahli sejarah bangsa kita sendiri.

Pandangan A.Hasjmy ini tidak hanya dapat kita gunakan sebagai pedoman untuk menulis sejarah Islam di Negara kita saja tetapi dapat pula dijadikan sebagai kompas dalam menulis sejarah bangsa Indonesia pada umumnya. “Sudah waktunya kita meninggalkan tulisan-tulisan penjajah………” demikian ungkapan beliau diatas. Ahli-ahli sejarah bangsa kita harus bangkit dan bekerja untuk menjernihkan penulisan riwayat bangsa kita sendiri. Bukan masanya lagi, kita hanya mengekor saja kepada tulisan-tulisan bangsa-bangsa kolonialis atau anteknya tentang nasion kita. Sejarah yang disusun bangsa asing, kadang-kadang atau kebanyakannya menjadi racun bagi kita. Buanglah jiwa-jiwa kerdil sebagai pak turut. Kita bangsa Indonesia patut berterimakasih pada pemerintah Orde Baru, yang telah membantah isapan jempol antek-antek kolonialis, Presiden Suharto dan Wapres Adam Malik telah membantah kebenaran berita yang menyatakan, bahwa Bung Karno telah berkhianat terhadap bangsa Indonesia. “Pak Harto dan saya sependapat bahwa pemuatan tulisan yang menyebut Ir.Sukarno pernah menyerah pada Belanda adalah tidak benar’, demikian, Wapres Adam Malik. Kitapun akur dengan pendapat pemimpin kita, bahwa berita yang menulis Bung Karno pernah menyerah dan minta ampun pada Belanda adalah bohong sama sekali, dan merupakan dosa besar bagi antek-antek kolonialis yang menyatakan fitnah tersebut. Dengan demikian, maka sia-sialah usaha John Ingelson untuk menjatuhkan martabat pemimpin bangsa Indonesia dimata rakyatnya, dan juga dimata dunia. Sejarah menyatakan sebaliknya, apa saja yang ia (John Ingelson)  cita-citakan tidaklah tercapai. Seluruh rakyat Indonesia, tidak mau tertipu dengan taktik yang dipasangnya. Mudah-mudahan John Ingelson tidak sampai jatuh frustrasi (gila) dengan kegagalannya dan semoga ia lekas sadar serta kembali kejalan yang “benar”. Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Maka kekallah pula Bung Karno, sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.

Bucue, 25-2-1981.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s