Melacak Jejak Suratkabar di Aceh

MENGENANG ARWAH DAN LIKU-LIKU

PERKEMBANGAN PERSURATKABARAN DI ACEH

Oleh : T.A. Sakti, MHS. FHPM Unsyiah.

Membaca Harian Waspada, terbitan 7 April 1981 hlm, IX, tentang Pendidikan Pers Mahasiswa di Unsyiah, perasaan penulis memencarkan rasa haru dan bergembira. Betapa tidak, kejadian itu merupakan peristiwa pertama, berlangsung di Unsyiah. Pucuk di cinta ulam tiba. Semoga pendidikan pers mahasiswa tersebut akan membuka jalan bagi diterbitkannya sebuah media atau lebih di kampus Unsyiah. Kepada mereka yang telah dididik menjadi seorang calon jurnalis, akan bekerja keras demi mencapai harapan kita bersama, yang tersebut diatas. Selamat bekerja.

Membicarakan masalah perkembangan pers di Negara Republik Indonesia, tidak lagi termasuk masalah baru. Karena pers di Indonesia telah muncul sejak zaman penjajahan. Pers dinegara ini telah bagitu kuat dasar fundamennya. Hal ini ditandai dengan Peresmian Monumen Pers Nasional tanggal 9 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Monument Pers Nasional yang dibangun di Surakarta itu, menandakan bahwa perkembangan pers di Indonesia sudah berlembaga. Dan dianggap pula partisipasi pers sangat penting dalam rangka memantapkan pembangunan di Negara ini.

Dengan adanya  monument  itu , akan mendorong kita, baik rakyat biasa maupun pemerintah untuk membantu dan membina kemajuan pers dimasa-masa akan datang. Karena siapapun tidak dapat membantah, adagium  yang menyatakan, bahwa pers  nasional maupun didaerah sangat bermanfaat dengan segala aktifitas sosial kontrolnya.

Tahun 1980 suatu kejutan besar telah berlaku terhadap perkembangan pers tingkat international. Perkembangan baru bidang pers tingkat dunia ini, dimulai tanggal 15 September 1980 di kota Paris. International Herald Tribune adalah Koran pertama, yang melaksanakan revolusi bidang pers.

Selama ini sebuah surat kabar dari Eropa baru dapat dibaca oleh pembacannya di Asia, ketika  suratkabar itu sendiri telah basi di sana (Eropa). Surat kabar itu baru sampai ke Asia, setelah lima hari atau paling cepat setelah dua hari keluar dari mesin cetaknya.

Tapi dengan perkembangan baru dibidang jurnalistik, surat kabar Eropa telah dapat di baca dulu oleh orang Asia dari pada pembaca di tanah Eropa sendiri. Tokoh yang utama yang mempraktekkan penemuan baru tersebut adalah Tuan Lee Huekner, pemimpin Sk. International Herald Tribune. Kini, international Herald Tribune telah dapat diterbitkan dengan edisi serentak dari ujung dunia ke ujung dunia. Sesudah isinya lengkap, maka dari kota Paris dikirimlah lembaran mini yang disebut “fecsimiles” ke percetakan cabangnya di Hongkong dengan menggunakan satelit komunikasi. Lembaran ini itu diproses di Hongkong menjadi sebuah surat kabar yang utuh.

Ketika matahari menampakkan wajahnya, maka surat kabar international Herald Tribune, telah dapat di edarkan kepada langganannya di kota Hongkong. Sedang pada saat yang sama rakyat Perancis (Eropa) masih tidur nyenyak, karena waktu pagi belum tiba disana.

Di pagi itu pula, surat kabar tersebut dengan pesawat udara dari Hongkong  dibawa  ke kota-kota besar di Asia, termasuk kota Jakarta. Jadi orang Asia telah dapat membaca surat kabar yang sama dengan isi dan hari yang sama, lebih duluan dari rakyat Paris sendiri, walaupun disanalah kantor pusat international Herald Tribune. Demikian keterangan sebuah majalah yang penulis baca belum lama ini (majalah Santunan No. 47, Tahun ke V, hlm 35). Semoga jadi perbandingan bagi perkembangan pers di Indonesia pada umumnya dan di Propinsi Daerah Istimewa Aceh pada khususnya.

ACEH GUDANG WARTAWAN

Kalau kita mengkaji sejarah perkembangan persuratkabar di Aceh, dapatlah dikatakan, bahwa di daerah ini perkembangannya telah lama juga wujudnya. Di zaman Belanda telah pernah terbit surat kabar pertama dengan nama “Atjeh Nieuwsblad”. Khusus  diperuntukkan bagi pembaca di kalangan orang Belanda saja. Biar orang yang di sibou  (dilayani) tidak peduli, namun budi tetap dicurahkan. Begitulah kehidupan media di Aceh. Suatu kehidupan yang memprihatinkan kita  yang melihatnya. Sebagai nasib  hidup kerakap dia atas batu, hidup segan mati tak mau.

Kalau di suatu hari, kita jalan-jalan kesemua kios yang menjual Koran dan majalah. Karena yang ingin   dibeli adalah Koran/majalah yang terbit di Banda Aceh, ketika kita mintakan maksud itu pada si pemilik kios. “tidak pernah kami lihat”. Jawabnya. “Dan kami sendiri jarang sekali dapat membacanya”. Memang sukar sekali memperoleh Koran/majalah yang terbit di Banda Aceh di pasaran kota Banda Aceh sendiri. Kesukaran untuk mencarinya dapatlah kita ibaratkan lagei tamita leubeng lam peulincot (ibarat mencari leubeng  – binatang kecil yang suka  hidup  pada pangkal bulu ayam  –  di dalam rumput pelincot).

Menurut pengamatan penulis sehari-hari, penyebab utama kemunduran pers daerah. Khususnya bagi daerah Aceh, adalah karena modal dan ketiadaan percetakan offset di Banda Aceh.

Dengan judul berita :”Percetakan offset di Banda Aceh mulai beroperasi Agustus 1980”. Harian Peristiwa terbitan 2 Juli 1980, selanjutnya menulis ; “sidang pengurus SPS Pusat ke I periode 1979/1980 pada 13-17 Juni 1980 lalu di Linggarjati, mendesak agar rencana pengadaan percetakan di Ambon dan Aceh segera di realisasikan”. “demikian Tia Huspia Ketua PWI Aceh”. Tulis Peristiwa lagi.

Kelihatannya cetusan di Linggarjati tersebut belum terlaksanakan hingga hari ini. Kesimpulan penulis tentang hal ini berdasarkan kenyatan, bahwa hingga hari ini, belum satupun  menjumpai  surat kabar     yang pernah di cetak offset berasal dari percetakan offset kota Banda Aceh.

Menurut Sinar Harapan, hlm I, Sabtu, 2 Februari 1980, desakan di Linggarjati telah dapat dilaksanakan di Maluku (Ambon). Selanjutnya Harian Sinar Harapan antara lain menulis : “Demikian Hasan Slamet pada peresmian unit Mesin Zetting guna kelengkapan rencana percetakan Surat-surat kabar setempat secara offset pada awal Januari y1. Ia optimis dengan beroperasinya Unit Mesin Zetting itu, suatu perkembangan baru dalam kehidupan pers di Maluku lebih cerah, dan menjajikan lagi bantuan melalui APBD mendatang”.

SARAN-SARAN

Setelah kita menjelajahi segala kelok-belok perkembangan persurat kabaran di Aceh, sambil mengenang para arwah mereka, terakhir kali penulis menyampaikan beberapa saran-saran kepada yang berwenang dan berkepentingan tentang persuratkabaran di daerah ini, semoga mendapat tanggapan yang positif.

Saran-saran dimaksud adalah :

  1. Menurut setahu penulis, hingga ini belum ada satupun buku tentang sejarah persuratkabaran di Aceh, yang dapat kita jadikan pedoman untuk mengetahui perkembangan pers di daerah ini. Karena itu penulis menyarankan agar para tokoh pers dan wartawan di Banda Aceh, sudi kiranya mengadakan suatu seminar tentang perkembangan persuratkabaran di Aceh, dimana hasil seminar tersebut nantinya akan di terbitkan sebuah buku pedoman tentang sejarah para (khusus surat kabar dan majalah) di Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
  2. Demi lebih menggairahkan kehidupan pers di Aceh, maka disini penulis menghimbau Pemerintah Daerah Tingkat I Aceh dan pihak-pihak yang ada hubungannya dengan pers, agar lebih mempercepat pengadaan percetakan offset di daerah ini, sebagai mana telah adanya rencana yang demikian.
  3. Dalam kehidupan pers kampus, problema kekurangan modal sering kali di alami. Jika sekiranya di kampus Unsyiah hendak di terbitkan pers kampus, maka ada baiknya kalau setiap mahasiswa diwajibkan mendukung gagasan ini, dengan membayar di awal setiap tahun. Mulai  tingkat persiapan sampai tingkat terakhir.

Penulis cukupkan artikel ini, semoga dapat menjadi bagaikan “Setetes embun turun  kebumi, membuat rumput kering di ‘halaman persuratkabaran Aceh” tersenyum kembali”.

Bucue, 10 Agustus 1981.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s