Dibuai Nostalgia

DIBUAI NOSTALGIA

Oleh : T.A. Sakti Mhs. FHPM Unsyiah

Kehidupan manusia sangat di pengaruhi dua faktor, yaitu pikiran dan perasaan. Faktor mana yang sangat berpengaruh pada pribadi seseorang, akan terlihat jelas sikap pada sikap hidupnya sehari-hari. Bila unsur pikiran yang lebih banyak dipakai, pribadi orang itu Nampak optimis di semua keadaan. Orang yang berperangai demikian sukar di terka sedang bagaimanakah keadaannya saat itu. Apakah tengah diliputi kesusahan atau sebaliknya. Dan biasanya orang optimis beginilah yang sering menonjol dalam pergaulan. Sebaliknya bagi orang yang bersifat banyak perasaan, pasti ia sering kali jadi penasaran. Kehidupannya tak pernah ceria, selalu di liputi murung dan durja. Seringkali orang yang begini bersifat pesimis. Ia sering memisahkan diri dari pergaulan. Jika pesimis inilah yang sering dan suka sekali mengingat sejarah masa yang di laluinya. Dan ia suka serta senang sekali jika orang lain mau pula membicarakan tentang dirinya. Dia dapat kita sebutkan sebagai PENGAGUM NOSTALGIA atau dengan istilah lain DOK NGON HABA JEURAT NAMIET. Penulis tidaklah maksudkan, bahwa mengingat nostalgia itu tidak bermanfaat sama sekali. Yang sia-sia apabila kisah yang telah terjadi di masa dulu, tidak memberi inspirasi pada kita sebagai pedoman masa mendatang. Tapi bila dari sumber nostalgia itu dapat menghidupkan semangat baru, mempertebal sikap percaya pada diri sendiri, maka nostalgia yang demikian perlu di pelihara dalam lubuk hati kita. Dan memang perlu kita wasiatkan bagi generasi-generasi kita masa mendatang.

TANTANGAN DAN JAWABAN

Khusus bagi daerah Aceh banyak sekali peristiwa masa lalu yang penuh kenangan. Semua kenangan itu dapat dikatakan sebagai nostalgia yang sangat indah. Tapi yang sangat kita sayangkan adalah kegemaran kita pada nostalgia, kadang-kadang kita sendiri terbuai olehnya. Dan seringkali membuat kita terlena karena asyik mendengarnya, hingga memberi keuntungan pada orang lain yang pandai bercerita. Orang lain tidak segan-segan menipu kita hidup-hidup (di pengeut udep-udep). Tahun 1980 saja daerah Aceh, banyak sekali mencetak nostalgia baru. Nostalgia tersebut terjadi pada bulan Agustus dan September Peristiwa pertama berlangsung pada minggu malam tanggal 31 Agustus. Malam tersebut telah muncul Persiraja Banda Aceh sebagai juara kompetesi nasional 6 besar PSSI, ketika itu Persiraja Banda Aceh menundukkan Persipura Irian Jaya 3-1 di stadion Senayan Jakarta. Kemenangan SABANG terhadap MEROKE ini merupakan peristiwa BESAR bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Peristiwa bersejarah ke dua tahun 1980 adalah penanda tanganan naskah pendirian Fakultas kedokteran di Unsyiah. Menteri P & K yang telah sangat tau tentang sifat masyarakat disini, sudah punya modal besar dari kedua peristiwa tadi. Ketika memberi kata-kata sambutan pada Dies Natalis Unsyia tahun lalu di gedung DPRD Tk I, Pak Menteri a.l berkata : ‘MEMANG ACEH SERING KALI BUAT KEJUTAN”, “geerrrrrr…..geeerrrrr…., tepuk tangan para hadirin. Sungguh hebat. Betapa tidak. Penguwujudan Fakultas saja, turut dibantu oleh sepuluh Universitas dalam negeri. Dan menurut menteri, lagi peristiwa itu belum pernah terjadi sepanjang sejarah di Indonesia. Kalau dipikir benar juga kata Menteri P & K itu. Suatu hal yang tak pernah di lakukan orang, memang perkara yang hebat dan luar biasa. Tapi timbul tanda tanya, benarkah hal ini terjadi karena Aceh sangat ketinggalan dari daerah lain dalam bidang pendidikan ? Manakah bukti bahwa daerah ini punya keistimewaan di bidang pendidikan, kenyataannya masih hampa dan kosong. Sepatutnya daerah inilah yang membantu daerah lain dalam bidang pendidikan, karena kita disebut sebagai “orang yang istimewa” dalam profesi ini. Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Walaupun demikian, putra-putri di Tanah Rencong tak usah berkecil hati, sebab jika belum mampu membantu orang saat ini, siapa tahu dimasa datang akan terujud angan-angan tersebut. Kita  ‘kan pernah dengar Titiek Sandrora & Muhsin mengatakan dalam lirik lagunya “dunia belum kiamat”. Tapi yang harus di ingat, bahwa keadaan yang kosong ini, harus di cita-citakan agar dapat terlaksana dimasa depan. Bukan untuk di simpan di dalam “Album Nostalgia”, yang hanya di buka bila ada tamu datang dari Jakarta. Dan hanya menanti pujian dari Bapak-bapak kita dari sana.

BUNG KARNO sendiri, yang Presiden PERTAMA RI, telah juga ikut bersama untuk memperbesar Gunung Nostalgia, yang memang telah sekian   tingginya. Dengan penambahan beliau akan semakin mumanglah bagi kita untuk memikulnya. Dalam suatu kujungan ke kota Meulaboh (Aceh Barat), tgl 4 September 1948

, Presiden Soekarno a.l berpidato begini ; “Daerah Aceh adalah DAERAH MODAL, dan akan tetap menjadi DAERAH MODAL bukan saja modal yang berupa emas, bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal yang berupa jiwa yang berkobar-kobar. Rakyat Aceh jiwanya memang jiwa yang banyala-nyala dan berapi-api. Dan modal jiwa yang menyala-nyala dan berapi-api itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaan sampai akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita sekali merdeka tetap merdeka”.

Buat masa sekarang segala yang di ucapkan presiden itu telah terbukti kebenarannya. Aceh adalah DAERAH MODAL. MODAL dalam segala-galanya. Penulis tidak menjelaskan tentang fungsi Aceh sebagai daerah modal di masa lalu, karena telah banyak buku sejarah (Walaupun jarang terdapat sekarang) yang mencatatnya. Penulis hanya mengguraikan tentang Aceh SEBAGAI DAERAH MODAL DI HARI INI YANG MEMPERLANCAR PEMBANGUNAN NEGERA INDONESIA, YANG SAMA-SAMA KITA CINTAI. Sebagai pegangan penulis adaah isi kuliah Bapak Drs. Muhammad Gade SH yang Hari Kamis tgl 16 April 1981 beliau memberi kuliah Ilmu Tata Pemerintahan II di Ruang Seminar FHPM Unsyiah. Ketika menguraikan tenaga tentang masalah pembangunan, beliau menyatakan bahwa hasil dari LNG bagi pembangunan Negara bermilyar dollar. Untuk setahun LNG di Aceh dapat mengekuarkan hasil sebanyak $ 2 milyar dollar AS. Hutang negera kita terhadap modal luar negeri hanya 7 milyar dollar AS. Berarti dengan penghasilan 31/2 (  tiga setengah tahun) hasil LNG saja, semua hutang itu telah terbayar. Sedang pembangunan yang dilaksanakan dengan uang pinjaman luar negeri banyak sekali dan merata diseluruh pelosok Tanah Air. Lihatlah betapa potensialnya Aceh dalam memberi modal bagi pembangunan Negara ini. Bapak Muhammad Gade SH, menghimbau generasi muda di Aceh, supaya tidak lekas terpancing dengan issue-issue yang dapat mengacaukan keamanan Negara yang sedang membangun ini, demikian keterangan beliau. Jadi di bidang keuangan daerah Aceh masih menunjukkan sifatnya sebagai daerah modal. Buat masa kini dan akan datang, sangat banyak proyek-proyek raksasa yang sedang dan  akan dibangun di Aceh.

Kalau dalam persediaan cadangan tambang dalam perut bumi Tanah Iskandar Muda ini masih terpendam banyak sekali. Berbagai macam jenis logam mulia masih tersimpan  dibawah tanah dari bumi bertuah ini. Sebagian kecil telah dijamah manusia dan banyak lagi yang belum diketahui letaknya. Menurut Harian WASPADA hari Jumat, 17 April 1981 melaporkan, bahwa di Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Barat banyak persediaan marmar dibawah buminya. Tapi yang harus di ingat, jangan sampai kita terjebak bunyi pepatah; Ayam di lumbung mati kelaparan, itik  diair…….!!!”.

TRAGEDI KEBUDAYAAN

Hari selasa tgl 7 April 1981 bertempat dihalaman gedung DPRD Daerah Tingkat I Prop. Dista Aceh telah dilantik beberapa orang pejabat kelurahan. Peristiwa itu merupakan pelaksanaan Undang-undang No.5 tahun 1979, yang di undangkan dan disahkan tgl 1 Desember 1979 oleh Presiden Soeharto dan Sekneg Sudharmono SH. Undang-undang tersebut mengatur tentang pemerintahan desa. Disana diatur tentang perombakan dan pembinaan status pemerintahan desa, dimana yang perlu diadakan perobahan dan sebagainya. Kita bukanlah mau menentang UU ini, yang telah disetujui oleh wakil-wakil rakyat. Tapi yang ingin kita analisa adalah pelaksanaan dari UU tersebut. Menurut keterangan dari pihak yang dapat dipercaya menyatakan, bahwa lurah-lurah yang dilantik tersebut terdiri dari orang-orang yang tidak berpenaruh dalam masyarakat yang akan dipimpinnya. Khusus bagi masyarakat Aceh yang telah sekian abad memiliki ‘Keuchik’ sebagai kepala desanya, dengan di ubahnya sistim pemerintahan desa itu ‘Sistim Keuchik” sudah sampai saat terakhir untuk dimasuk kedalam “Album Nostalgia”, yang tak usah di buka lagi. Satu istilah “kebudayaan” yakni ‘Teungku Keuchik” akan lenyap buat selamanya. Walaupun sudah terlambat dan nasi telah jadi kubur, tak rugi kiranya kita melihat bagaimana tanggapan Majalah Sinar Darussalam. No. 101 MEI/JUNI 1979-J.AKHIR/RAJAB   1399 hlm 164 menulis tentang Kepegawaian Lurah sbb, “Mengenai masalah kedua (setelah menguraikan masalah Liburan Puasa-Pen), yaitu mempegawaian negerikan Lurah, sebenarnya berasal dari idée Pangkopkamtib Sudomo, sesudah melihat beberapa kasus di lapangan. Rupanya idée Sudomo ini juga banyak mendapat tanggapan yang bermacam-macam. Kita juga ingin turun pendapat sedikit mengenai hal ini sbb. Kalau nasib Lurah pada umumnya dikatakan kurang baik, maka nasib ‘Keuchik” di Aceh yang di perkirakan sama dengan Lurah di Jawa, jauh lebih jelek lagi. Kalau di Jawa ada “tanah Bengkok” sebagai imbalan jerih payah lurah, maka “Keuchik” di Aceh tidak mempunyai penghasilan apa-apa sebagai imbalan kerjanya mengurus kampong dengan segala macam permasalahannya. Oleh karena itu sekarang sukar memilih orang yang berwibawa untuk menjadi “Keuchik”, semua menolak. Lalu di pilihnya orang-orang yang tidak berwibawa dan dapat disuruh-suruh saja. Akibatnya ia tidak mempunyai waktu mengurus kampong, karena sibuk mencari nafkahnya sendiri yang merupakan kewajiban pokok selaku kepala keluarga. Akibatnya kampong tidak terurus dan keperluan umum sukar terpenuhi. Oleh karena itu kami berpendapat bahwa “Keuchik” perlu mendapat santunan dari pemerintah, sekedar membantu nafkah sehari-harinya. Tetapi kami juga tidak setuju mereka di pegawai negerikan, karena kalau sudah menjadi pegawai negeri, tidak dapat diperhentukan bagitu saja, sedang mereka bertugas bukan untuk seumur hidup, melainkan selama masa tertentu. Katakanlah selama ia masih di senangi oleh rakyatnya. Jadi kalau di pegawai-negerikan, maka akan memberatkan Negara, karena meskipun ia sudah tidak menjadi “Keuchik” masih tetap di bayar, melahan akan harus di bayar pensiunnya lagi tetap di bayar, melahan akan harus di bayar pensiunnya lagi nanti. Jadi kami mengusulkan supaya kepada mereka diberikan hororarium yang agak lumayan selama mereka menjalankan tugas saja. Kami kira ini pantas (IM)”. Demikian usulan dari Majalah Sinar Darussalam, yang tetap sebagai usulan saja di atas kertas. Yang penting adanya usul, soal diopen atau tidak, bukan hak kita untuk memutuskannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s