Hikayat Prang Sabi Ditulis Banyak Pengarang

Rubrik Droe Keu Droe

HPS disusun banyak pengarang

Seminar “Buku-buku Sejarah Aceh dan Tsunami” telah berlangsung di Banda Aceh tanggal 17 s/d 19  Oktober 2006. Saat sekarang, tentu para penulis sedang menyempurnaka isi buku-buku tersebut yang dijaring dari seminar itu. Selama seminar, ada satu hal yang tidak muncul kepermukaan, yaitu tentang siapa pengarang Hikayat Prang Sabi (HPS). Ada beberapa kemungkinan masalah itu tidak tersentuh, antara lain: 1. Karena ada keterbatasan, saya sendiri tidak sanggup selalu hadir di ruang seminar, sehingga tidak sempat menyimak pembahasan masalah tersebut. 2.Halaman makalah/ringkasan isi buku amat terbatas, dan ke 3. Masalah siapa pengarang HPS tidak dipersoalkan lagi, karena  secara umum sudah diketahui bahwa pengarang HPS adalah Tgk. Di Pantekulu.

Melihat pada daftar isi buku dan judul dari buku-buku tersebut, ada tiga buku yang mungkin menyinggung prihal HPS, yakni Aceh Bumi Srikandi, Budaya Aceh dan Aceh Tanah Rencong. Namun, bagaimana uraian persis ketiga buku itu tentang pengarang HPS, saya sendiri belum membacanya karena tidak dimuat  sebagai   isi makalah yang ringkas itu.

Memang, secara umum sudah diketahui dan “diproklamirkan” bahwa pengarang HPS adalah Teungku Pantekulu. Sebuah nama jalan di Banda Aceh, yang dulu bernama Jl. Perdagangan, telah diganti namanya menjadi Jln. Tgk. Chik  Pante Kulu. Buku-buku tebal –buku-buku- tipis, majalah, tabloid, buletin, brosur dan lain-lain; juga menyebutkan bahwa Pengarang HPS adalah Teungku Chik Pante Kulu. Dan HPS ini baru dikarang Teungku Di Pante Kulu dalam pelayaran pulang beliau ke Aceh – antara pelabuhan Jeddah sampai pelabuhan Pulo Pinang  –  dalam periode perang Belanda di Aceh , tepatnya tahun 1880.

Sebaliknya, banyak pula penulis yang menyebutkan HPS disusun oleh banyak pengarang. Di antara mereka adalah Tgk. Abdullah Arief, MA, Prof. Dr T. Ibrahim Alfian, Prof. Dr. Imran T. Abdullah dan HC. Zentgraaft.

Dalam kata pengantar (Mukaddimah) salinan HPS berhuruf Jawi yang diterbitkan oleh “Abdullah Arif”, beliau mengatakan bahwa  HPS dikarang oleh banyak ulama dalam menggairahkan semangat rakyat Aceh melawan Belanda. Seleksi disertasi   T. Ibrahim Alfian yang berjudul “Perang di Jalan Allah” juga menyebut banyak pengarang HPS, di antara yang  paling banyak disinggung adalah Tgk. Nyak Ahmad Cot Paleue. Sejauh yang dapat saya ingat, T. Ibrahim Alfian pun sama sekali tidak menyebut HPS versi Tgk. Pantekulu dalam disertasinya. Begitu pula, dalam buku T. Ibrahim Alfian lainnya mengenai HPS, yaitu Sastra Perang juga tidak  pernah menyinggung  mengenai karya Tgk. Di Pantekulu. Selain itu, dalam penelitiannya T. Ibrahim Alfian juga menjumpai,  bahwa naskah tertua HPS ditulis pada tahun 1710 M.

Tahun 2002, Prof. Dr. Imran T. Abdullah mengadakan pengkajian terhadap Hikayat Nasha’ihul Ghazat (Nasehat Peperangan). Walaupun tidak secara langsung menyebut HPS  ditulis banyak pengarang, namun secara tersirat amat terkesan demikian. Hal itu tercermin ketika ia membagi jenis HPS kepada dua bagian, yaitu Tambeh (sastra kitab) dan jenis epos/kepahlawanan. Hikayat Nasha’ihul Ghazat termasuk jenis Tambeh, yang isinya membicarakan hukum-hukum perang sabil, dalil-dalil ayat Al-Quran  dan Hadits tentang perang sabil. Mengenai jenis kedua, saya kutip: “HPS jenis Epos melukiskan peristiwa perang yang berlangsung di berbagai tempat di Aceh  sewaktu melawan Belanda, yakni: Hikayat Prang Sigli, Hikayat Prang Geudong, Hikayat Prang Bakongan, Hikayat Prang Rundeng, Hikayat Prang Gompeuni, atau kisah perang di zaman Rasulullah, misalnya, Hikayat Prang Bada, Hikayat Prang Uhud, dan Karya HPS Teungku Pante Kulu yang terkenal itu”. Mengomentari kutipan di atas, saya berpendapat kalau judul HPS ternyata banyak; tentu pengarangnya juga banyak. Namun Imran T. Abdullah tidak menyebut Hikayat Prang Keumala, yang naskahnya telah hilang hingga tak dijumpainya lagi di Perpustakaan Leiden, Belanda.

T.A Sakti

Saleuem Horeumat

  1. SALEUM HOREUMAT

Alhamdulillah jinoe ka jadeh

Na dike Aceh bak TVRI

Tanyoe meutunang kon meunang tapreh

Do’a keu Aceh aman Tuhan bri

 

Radat

Sigala pujoe meuwoe dum saheh

Nyang maha leubeh Tuhanku Rabbi

Seulaweuet saleum hana lheung teupreh

Penghulee shaleh Muhammad Nabi

 

Asslamu’alaikom phon-phon lon cukeh

Horeumat leubeh keu TVRI

Nyan panitia po dike Aceh

Leupah that gigeh geubangket seni

 

Keu dewan juri ahli nibak Syeh

Horeumat leubeh meunan cit meubri

Para penonton di lingka tan weh

di Lhoknga- Sibreh datang keumari

 

Dumna peunonton seuluroh Aceh

Saleuem dum kabeh kamoe kirimi

Soe-soe nyang galak keu dike Aceh

Neuduek bek neuweh sira jep kupi (dilingka Tivi)

 

Teurimong gaseh kamoe peusaheh

Perjan nyang gigeh nyan TVRI

Sideh di gampong  keunoe meura-eh

Bak pihak angleh budaya seni (dike syari’i)

( T.A. Sakti )

 

SALEUM HOREUMAT

Oleh: T.A. Sakti


Alhamdulillah hate that seunang

Budaya keumang ngon TVRI

Lheuh Doda idi, Dala-e tunang

Meurukon teuman, Meudike kini

 

Radat

Meubandum pujoe meuwoe keu Tuhan

Nyang peujeut alam langet ngon bumi

Seulaweuet saleuem keu Muhammadan

Rasul pilihan panghulee Nabi

 

Assalamu’alaikom meuangkat tangan

Keu Pak pimpinan bak TVRI

Lom panitia ureueng peutimang

Kamoe undangan festival seni

 

Han tuwo citlom  saleuem haluan

Keupada dewan juri nyang ahli

Saleuem horeumat keu tuan-tuan

Nyang na di deupan kanan dan kiri

 

Dudoe nibak nyan keu pirsawan

Nonton siaran nyan TVRI

Rabu ngon Minggu dalam sepekan (seupeukan)

Khusus festival Dike syari’i

 

Teurimong gaseh kamoe ucapkan

Keupada Perjan nyan TVRI

Gampong di jeuoh  keunoe meudatang

Ikoet festival like aseuli

 

Dana Inpres Kesenian

Komentar Pembaca:

Dana Inpres Kesenian

Pembelaan Hr. Serambi Indonesia, demi menggairahkan kehidupan berkesenian di Aceh bukanlah perkara baru. Nuansa ini sudah nampak sejak harian ini berdiri lebih dari delapan tahun lalu. Misalnya, hadirnya rubrik Hikayat Aceh, Aceh Lam Haba, Haba Bak Rangkang, Apit Awe dan lain-lain dalam surat kabar ini.

Pembelaan paling baru dan cukup seru yang digebrak harian tercinta bagi rakyat daerah Aceh ini adalah menyangkut penyimpangan dana Inpres kesenian dari   Pusat yang  berjumlah 350 juta rupiah. Keseriusan Serambi menggugat masalah ini cukup mengesankan, ternyata dengan pemuatan beritanya secara berturut-turut, yaitu tanggal 22, 23, 24 dan sebuah tajuk rencana dalam “Salam Serambi” bertanggal 24-10-1997.

Sebagai orang awam, saya hanya mampu mengucapkan Alhamdulillah. Sebab pihak yang dianggap melanggar ‘aturan main’ itu telah menjelaskan mengapa penyimpangan dana kesenian itu sampai terjadi. Mudah-mudahan ditahun-tahun mendatang ‘kekeliruan’ yang merugikan bidang kesenian di Aceh, sama sekali tidak terulang lagi.

Sebenarnya, bantuan dana sangat dibutuhkan oleh berbagai bidang kesenian yang hendak digairahkan kembali/dikembangkan di daerah Aceh. Salah satunya adalah bidang Sastra Aceh yang sangat saya minati.

Dalam upaya menggairahkan kembali Sastra Aceh yang nyaris punah/mati sekarang ini, saya telah mengalih hurufkan (dari Arab Jawoe ke huruf Latin) puluhan judul manuskrip Aceh (naskah lama) yang terdiri dari Hikayat, Nadlam dan Tambeh Aceh.

Bila semua hasil alih aksara itu dicetak kecil-kecil( lk 60 halaman) sebagai buku saku akan menjadi 65 jilid. Jika perjilid hanya dicetak 1000 eks/buah saja, akan menghabiskan biaya sekitar 30 juta rupiah. Akibat ketiadaan dana, niat mencetaknya hanya kekal sebagai angan-angan belaka. Sementara dipihak lain, dana bantuan Pusat terkesan dihambur-hamburkan saja.!

T.A. Sakti

Kampus Darussalam

25 Oktober 1997

Melacak Jejak Suratkabar di Aceh

MENGENANG ARWAH DAN LIKU-LIKU

PERKEMBANGAN PERSURATKABARAN DI ACEH

Oleh : T.A. Sakti, MHS. FHPM Unsyiah.

Membaca Harian Waspada, terbitan 7 April 1981 hlm, IX, tentang Pendidikan Pers Mahasiswa di Unsyiah, perasaan penulis memencarkan rasa haru dan bergembira. Betapa tidak, kejadian itu merupakan peristiwa pertama, berlangsung di Unsyiah. Pucuk di cinta ulam tiba. Semoga pendidikan pers mahasiswa tersebut akan membuka jalan bagi diterbitkannya sebuah media atau lebih di kampus Unsyiah. Kepada mereka yang telah dididik menjadi seorang calon jurnalis, akan bekerja keras demi mencapai harapan kita bersama, yang tersebut diatas. Selamat bekerja.

Membicarakan masalah perkembangan pers di Negara Republik Indonesia, tidak lagi termasuk masalah baru. Karena pers di Indonesia telah muncul sejak zaman penjajahan. Pers dinegara ini telah bagitu kuat dasar fundamennya. Hal ini ditandai dengan Peresmian Monumen Pers Nasional tanggal 9 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Monument Pers Nasional yang dibangun di Surakarta itu, menandakan bahwa perkembangan pers di Indonesia sudah berlembaga. Dan dianggap pula partisipasi pers sangat penting dalam rangka memantapkan pembangunan di Negara ini.

Dengan adanya  monument  itu , akan mendorong kita, baik rakyat biasa maupun pemerintah untuk membantu dan membina kemajuan pers dimasa-masa akan datang. Karena siapapun tidak dapat membantah, adagium  yang menyatakan, bahwa pers  nasional maupun didaerah sangat bermanfaat dengan segala aktifitas sosial kontrolnya.

Tahun 1980 suatu kejutan besar telah berlaku terhadap perkembangan pers tingkat international. Perkembangan baru bidang pers tingkat dunia ini, dimulai tanggal 15 September 1980 di kota Paris. International Herald Tribune adalah Koran pertama, yang melaksanakan revolusi bidang pers.

Selama ini sebuah surat kabar dari Eropa baru dapat dibaca oleh pembacannya di Asia, ketika  suratkabar itu sendiri telah basi di sana (Eropa). Surat kabar itu baru sampai ke Asia, setelah lima hari atau paling cepat setelah dua hari keluar dari mesin cetaknya.

Tapi dengan perkembangan baru dibidang jurnalistik, surat kabar Eropa telah dapat di baca dulu oleh orang Asia dari pada pembaca di tanah Eropa sendiri. Tokoh yang utama yang mempraktekkan penemuan baru tersebut adalah Tuan Lee Huekner, pemimpin Sk. International Herald Tribune. Kini, international Herald Tribune telah dapat diterbitkan dengan edisi serentak dari ujung dunia ke ujung dunia. Sesudah isinya lengkap, maka dari kota Paris dikirimlah lembaran mini yang disebut “fecsimiles” ke percetakan cabangnya di Hongkong dengan menggunakan satelit komunikasi. Lembaran ini itu diproses di Hongkong menjadi sebuah surat kabar yang utuh.

Ketika matahari menampakkan wajahnya, maka surat kabar international Herald Tribune, telah dapat di edarkan kepada langganannya di kota Hongkong. Sedang pada saat yang sama rakyat Perancis (Eropa) masih tidur nyenyak, karena waktu pagi belum tiba disana.

Di pagi itu pula, surat kabar tersebut dengan pesawat udara dari Hongkong  dibawa  ke kota-kota besar di Asia, termasuk kota Jakarta. Jadi orang Asia telah dapat membaca surat kabar yang sama dengan isi dan hari yang sama, lebih duluan dari rakyat Paris sendiri, walaupun disanalah kantor pusat international Herald Tribune. Demikian keterangan sebuah majalah yang penulis baca belum lama ini (majalah Santunan No. 47, Tahun ke V, hlm 35). Semoga jadi perbandingan bagi perkembangan pers di Indonesia pada umumnya dan di Propinsi Daerah Istimewa Aceh pada khususnya.

ACEH GUDANG WARTAWAN

Kalau kita mengkaji sejarah perkembangan persuratkabar di Aceh, dapatlah dikatakan, bahwa di daerah ini perkembangannya telah lama juga wujudnya. Di zaman Belanda telah pernah terbit surat kabar pertama dengan nama “Atjeh Nieuwsblad”. Khusus  diperuntukkan bagi pembaca di kalangan orang Belanda saja. Biar orang yang di sibou  (dilayani) tidak peduli, namun budi tetap dicurahkan. Begitulah kehidupan media di Aceh. Suatu kehidupan yang memprihatinkan kita  yang melihatnya. Sebagai nasib  hidup kerakap dia atas batu, hidup segan mati tak mau.

Kalau di suatu hari, kita jalan-jalan kesemua kios yang menjual Koran dan majalah. Karena yang ingin   dibeli adalah Koran/majalah yang terbit di Banda Aceh, ketika kita mintakan maksud itu pada si pemilik kios. “tidak pernah kami lihat”. Jawabnya. “Dan kami sendiri jarang sekali dapat membacanya”. Memang sukar sekali memperoleh Koran/majalah yang terbit di Banda Aceh di pasaran kota Banda Aceh sendiri. Kesukaran untuk mencarinya dapatlah kita ibaratkan lagei tamita leubeng lam peulincot (ibarat mencari leubeng  – binatang kecil yang suka  hidup  pada pangkal bulu ayam  –  di dalam rumput pelincot).

Menurut pengamatan penulis sehari-hari, penyebab utama kemunduran pers daerah. Khususnya bagi daerah Aceh, adalah karena modal dan ketiadaan percetakan offset di Banda Aceh.

Dengan judul berita :”Percetakan offset di Banda Aceh mulai beroperasi Agustus 1980”. Harian Peristiwa terbitan 2 Juli 1980, selanjutnya menulis ; “sidang pengurus SPS Pusat ke I periode 1979/1980 pada 13-17 Juni 1980 lalu di Linggarjati, mendesak agar rencana pengadaan percetakan di Ambon dan Aceh segera di realisasikan”. “demikian Tia Huspia Ketua PWI Aceh”. Tulis Peristiwa lagi.

Kelihatannya cetusan di Linggarjati tersebut belum terlaksanakan hingga hari ini. Kesimpulan penulis tentang hal ini berdasarkan kenyatan, bahwa hingga hari ini, belum satupun  menjumpai  surat kabar     yang pernah di cetak offset berasal dari percetakan offset kota Banda Aceh.

Menurut Sinar Harapan, hlm I, Sabtu, 2 Februari 1980, desakan di Linggarjati telah dapat dilaksanakan di Maluku (Ambon). Selanjutnya Harian Sinar Harapan antara lain menulis : “Demikian Hasan Slamet pada peresmian unit Mesin Zetting guna kelengkapan rencana percetakan Surat-surat kabar setempat secara offset pada awal Januari y1. Ia optimis dengan beroperasinya Unit Mesin Zetting itu, suatu perkembangan baru dalam kehidupan pers di Maluku lebih cerah, dan menjajikan lagi bantuan melalui APBD mendatang”.

SARAN-SARAN

Setelah kita menjelajahi segala kelok-belok perkembangan persurat kabaran di Aceh, sambil mengenang para arwah mereka, terakhir kali penulis menyampaikan beberapa saran-saran kepada yang berwenang dan berkepentingan tentang persuratkabaran di daerah ini, semoga mendapat tanggapan yang positif.

Saran-saran dimaksud adalah :

  1. Menurut setahu penulis, hingga ini belum ada satupun buku tentang sejarah persuratkabaran di Aceh, yang dapat kita jadikan pedoman untuk mengetahui perkembangan pers di daerah ini. Karena itu penulis menyarankan agar para tokoh pers dan wartawan di Banda Aceh, sudi kiranya mengadakan suatu seminar tentang perkembangan persuratkabaran di Aceh, dimana hasil seminar tersebut nantinya akan di terbitkan sebuah buku pedoman tentang sejarah para (khusus surat kabar dan majalah) di Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
  2. Demi lebih menggairahkan kehidupan pers di Aceh, maka disini penulis menghimbau Pemerintah Daerah Tingkat I Aceh dan pihak-pihak yang ada hubungannya dengan pers, agar lebih mempercepat pengadaan percetakan offset di daerah ini, sebagai mana telah adanya rencana yang demikian.
  3. Dalam kehidupan pers kampus, problema kekurangan modal sering kali di alami. Jika sekiranya di kampus Unsyiah hendak di terbitkan pers kampus, maka ada baiknya kalau setiap mahasiswa diwajibkan mendukung gagasan ini, dengan membayar di awal setiap tahun. Mulai  tingkat persiapan sampai tingkat terakhir.

Penulis cukupkan artikel ini, semoga dapat menjadi bagaikan “Setetes embun turun  kebumi, membuat rumput kering di ‘halaman persuratkabaran Aceh” tersenyum kembali”.

Bucue, 10 Agustus 1981.

Sejarah Persuratkabaran di Aceh

Menjelang Satu Tahun Monumen Pers Nasional :

25 April 1980-25 April 1981

SEJARAH PERSURATKABARAN DI ACEH

Oleh : T.A. Sakti. – FHPM Unsyiah.

“Melalui sarana komunikasi yang mampu mencapai banyak orang sekaligus, dapat diadakan penyebaran informasi, sedangkan informasi merupakan peningkatan pengetahuan umum dan perluasan pengetahuan tentang bidang-bidang dan hal-hal yang sebelumnya diketahui. Melalui media massa, maka pengalaman seseorang dapat dijadikan ‘pengetahuan baru” oleh orang lain. Dengan membaca surat kabar atau majalah, atau mendengar radio atau menonton televisi, orang akan merasa bertambah pengetahuan ataupun pengalamannya. Bahkan mungkin pengertian akan pengetahuan yang telah dimilikinyapun meningkat. Atau dengan kata lain, kecerdasannya akan bertambah”. (Dr.Phil, Astrid S.Susanto, lihatlah Almanak Pers ‘Antara” tahun 1976).

TAHUN 1980 merupakan tahun perkembangan pers terbesar, baik tingkat nasional maupun internasional. Di tingkat nasional, ditandai dengan peresmian Monumen Pers Nasional tanggal 25 April 1980. Monument Pers Nasional yang dibangun di Solo itu, menandakan bahwa perkembangan pers di Indonesia sudah berlembaga dan dianggap pula, partisipasi pers sangat penting dalam rangka memantapkan pembangunan di Negara ini. Dengan adanya monument itu, akan mendorong kita, baik rakyat biasa maupun pemerintah, untuk membantu dan membina kemajuan pers dimasa-masa akan datang. Karena siapapun, tidak dapat membatah adagium yang menyatakan bahwa pers baik nasional maupun didaerah sangat bermanfaat adanya. Suatu kejutan juga telah terjadi di tingkat internasional. Perkembangan pers tingkat dunia ini, dimulai tanggal 15 September 1980 di kota Paris. Surat kabar International Herald Tribune adalah Koran pertama yang melakukan revolusi ini. Selama ini surat kabar dari Eropa, baru dapat dibaca oleh orang di Asia, ketika sura kabar itu sendiri telah basi di sana (Eropa). Surat kabar itu, baru sampai ke Asia setelah lima hari, atau paling cepat setelah dua hari keluar dari mesin cetaknya. Tapi, dengan perkembangan baru dibidang jurnalistik, surat kabar Eropa telah dapat dibaca lebih dulu oleh orang Asia dari pada orang Eropa sendiri. Tokoh revolusiner bidang persuratkabaran ini, ialah Tuan Lee Huekner pemimpin sk. International Herald Tribune. Dalam hal ini merupakan kejadian yang pertama didunia persuratkabaran. International Herald Tribune, diterbitkan dengan edisi serentak dari ujung dunia keujung dunia. Sesudah isinya lengkap, maka dari Paris dikirimlah lembaran mini yang disebut “faesimiles” kepercetakan cabang di Hongkong, dengan menggunakan satelit komunikasi. Ketika matahari menampakkan sinarnya, maka Sk. International Herald Tribune, telah dapat diedarkan kepada langganannya dikota Hongkong. Sedang orang-orang Perancis dan Eropa masih tidur nyenyak disaat itu, karena waktu pagi belum tiba. Dipagi itu pula surat kabar tersebut diterbangkan dengan pesawat udara keseluruh Asia, termasuk Indonesia (Jakarta). Jadi orang Asia, telah dapat membaca surat kabar yang sama, isi dan hari yang sama, lebih duluan dari orang Paris sendiri, dimana disanalah International Herald Tribune berkantor pusatnya. Demikian menurut keterangan sebuah media, yang penulis baca. Supaya jadi bandingan.

Setelah kita menjelajah perkembangan pers dewasa ini, baik secara nasional dan international, sekarang marilah kita ikuti pula suatu perkembangan lainnya, juga tentang mass media. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil lagi, yaitu Kampus Darussalam. Disana  juga telah dilakukan suatu kegiatan yang berhubungan dengan pers. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 3-6 April 1981, telah diadakan Pendidikan Pers Mahasiswa oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah. Walaupun pada dasarnya pendidikan pers ini dikhususkan untuk bakat-bakat penulis dari mahasiswa FE, namun panitianya, mau juga memberi belas kasih kepada fakultas-fakultas lainnya. Panitia tersebut mengundang seorang peserta dari setiap senat, dalam lingkungan Unsyiah. Sehubungan dengan pendidikan pers  situ, penulis merasa tertarik untuk menulis sejarah perkembangan pers di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan menelusuri jejak persuratkabaran  ini, mudah-mudahan akan muncullah tokoh-tokoh muda yang berasal dari mahasiswa dan umum, untuk membina persuratkabaran didaerah ini kearah yang lebih maju. Selamat mengikuti.

ACEH GUDANG WARTAWAN

Kalau kita melihat kebelakang ternyata, bahwa daerah Aceh tidak pernah mengalami krisis buta aksara. Dizaman huruf Latin belum muncul disini. Orang di daerah Aceh telah pandai tulis baca dalam huruf Jawi. Yang mereka baca, ialah buku-buku mengenai agama, cerita pelipur lara dan ilmu pengetahuan lainnya. Memang waktu itu surat kabar belum ada disana. Barulah dizaman Belanda diterbitkan sebuah surat kabar bernama “Atjeh Nieuwsblad”. Surat kabar ini tidak diedarkan pada umum, hanya untuk kalangan Belanda sendiri. Biar orang yang disibou (dilayani) tidak peduli, tetapi budi tetap dicurahkan. Begitulah kehidupan media  di Aceh. Suatu kehidupan yang memprihatinkan kita yang melihatnya, bagaikan kehidupan kerakap diatas batu, hidup segan mati tak mau. Kalau disuatu hari, kita jalan-jalan kesemua kios yang menjual Koran dan majalah. Kita minta salah satu dari Koran-koran yang terbit disini, maka sang pemilik kios itu menggelang kepala, bahwa Koran yang diminta itu tidak ada. Sukar untuk mencarinya lagei tamita leubeng lam peulincot (ibarat mencari leubeng binatang paling kecil yang suka  menggigit dikantong kemih anak kecil). Menurut pengamatan penulis sehari-hari, bahwa penyebab utama kemunduran pers daerah, khususnya bagi daerah Aceh, adalah karena modal dan ketiadaan percetakan offset di Banda Aceh. Dengan Judul berita : Percetakan offset di Banda Aceh mulai Beroperasi Agustus 1980, Harian Peristiwa terbitan 2 Juli 1980, selanjutnya penulis : “Sidang pengurus SPS Pusat Ke I periode 1979/1980 pada 13-17 Juni 1980 lalu di Linggarjati, mendesak agar rencana pengadaan percetakan di Ambon dan Aceh segera direalisasikan”. Demikian Tia Huspia Ketua PWI Aceh”. Tulis Peristiwa lagi. Kelihatannya cetusan Linggarjati tersebut, belum terlaksana hingga hari ini. Kesimpulan penulis ini berdasarkan dua buah surat kabar Peristiwa dan Mimbar Swadaya, keluaran minggu ketiga bulan Maret 1980, dimana keduanya masih dicetak di Mercu Suar, MEDAN. Menurut Sinar Harapan, hlm, VI, Sabtu, 2 Februari 1980, desakan di Linggarjati telah dapat dilaksanakan dengan sempurna di Maluku (Ambon). Selanjutnya Harian Sinar Harapan, a.l. menulis:”Demikian Hasan Slamet pada peresmian Unit Mesin Zetting guna kelengkapan rencana percetakan surat-surat kabar setempat secara offset pada awal Januari y 1. Ia optimis dengan beroperasinya Unit Mesin Zetting itu, suatu perkembangan baru dalam kehidupan pers di Maluku lebih cerah, dan menjanjikan lagi bantuan melalui APBD mendatang”.

SARAN-SARAN

1. Demi lebih menggairahkan kehidupan pers di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, maka disini penulis menghimbau Pemerintah Daerah Tingkat I Aceh dan pihak yang ada hubungannya dengan pers, agar lebih mempercepat pengadaan percetakan offset didaerah ini, sebagaimana telah adanya rencana yang demikian. 2. Dalam kehidupan pers kampus, problem kekurangan modal sering dialami. Jika sekiranya di Kampus Unsyiah hendak ditertibkan pers kampus, maka ada baiknya, kalau setiap mahasiswa diwajibkan mendukung gagasan in, dengan membayar diawal setiap tahun. Mulai tingkat persiapan sampai tingkat terakhir.

BUCUE, 1 April 1981.

Catatan terakhir: Pada Pendidikan Pers Mahasiswa tersebut di atas, saya termasuk salah seorang peserta yang mewakili mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat ( FHPM ) Unsyiah. Bale Tambeh, 3 Maret 2011, T.A. Sakti ).

Dibuai Nostalgia

DIBUAI NOSTALGIA

Oleh : T.A. Sakti Mhs. FHPM Unsyiah

Kehidupan manusia sangat di pengaruhi dua faktor, yaitu pikiran dan perasaan. Faktor mana yang sangat berpengaruh pada pribadi seseorang, akan terlihat jelas sikap pada sikap hidupnya sehari-hari. Bila unsur pikiran yang lebih banyak dipakai, pribadi orang itu Nampak optimis di semua keadaan. Orang yang berperangai demikian sukar di terka sedang bagaimanakah keadaannya saat itu. Apakah tengah diliputi kesusahan atau sebaliknya. Dan biasanya orang optimis beginilah yang sering menonjol dalam pergaulan. Sebaliknya bagi orang yang bersifat banyak perasaan, pasti ia sering kali jadi penasaran. Kehidupannya tak pernah ceria, selalu di liputi murung dan durja. Seringkali orang yang begini bersifat pesimis. Ia sering memisahkan diri dari pergaulan. Jika pesimis inilah yang sering dan suka sekali mengingat sejarah masa yang di laluinya. Dan ia suka serta senang sekali jika orang lain mau pula membicarakan tentang dirinya. Dia dapat kita sebutkan sebagai PENGAGUM NOSTALGIA atau dengan istilah lain DOK NGON HABA JEURAT NAMIET. Penulis tidaklah maksudkan, bahwa mengingat nostalgia itu tidak bermanfaat sama sekali. Yang sia-sia apabila kisah yang telah terjadi di masa dulu, tidak memberi inspirasi pada kita sebagai pedoman masa mendatang. Tapi bila dari sumber nostalgia itu dapat menghidupkan semangat baru, mempertebal sikap percaya pada diri sendiri, maka nostalgia yang demikian perlu di pelihara dalam lubuk hati kita. Dan memang perlu kita wasiatkan bagi generasi-generasi kita masa mendatang.

TANTANGAN DAN JAWABAN

Khusus bagi daerah Aceh banyak sekali peristiwa masa lalu yang penuh kenangan. Semua kenangan itu dapat dikatakan sebagai nostalgia yang sangat indah. Tapi yang sangat kita sayangkan adalah kegemaran kita pada nostalgia, kadang-kadang kita sendiri terbuai olehnya. Dan seringkali membuat kita terlena karena asyik mendengarnya, hingga memberi keuntungan pada orang lain yang pandai bercerita. Orang lain tidak segan-segan menipu kita hidup-hidup (di pengeut udep-udep). Tahun 1980 saja daerah Aceh, banyak sekali mencetak nostalgia baru. Nostalgia tersebut terjadi pada bulan Agustus dan September Peristiwa pertama berlangsung pada minggu malam tanggal 31 Agustus. Malam tersebut telah muncul Persiraja Banda Aceh sebagai juara kompetesi nasional 6 besar PSSI, ketika itu Persiraja Banda Aceh menundukkan Persipura Irian Jaya 3-1 di stadion Senayan Jakarta. Kemenangan SABANG terhadap MEROKE ini merupakan peristiwa BESAR bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Peristiwa bersejarah ke dua tahun 1980 adalah penanda tanganan naskah pendirian Fakultas kedokteran di Unsyiah. Menteri P & K yang telah sangat tau tentang sifat masyarakat disini, sudah punya modal besar dari kedua peristiwa tadi. Ketika memberi kata-kata sambutan pada Dies Natalis Unsyia tahun lalu di gedung DPRD Tk I, Pak Menteri a.l berkata : ‘MEMANG ACEH SERING KALI BUAT KEJUTAN”, “geerrrrrr…..geeerrrrr…., tepuk tangan para hadirin. Sungguh hebat. Betapa tidak. Penguwujudan Fakultas saja, turut dibantu oleh sepuluh Universitas dalam negeri. Dan menurut menteri, lagi peristiwa itu belum pernah terjadi sepanjang sejarah di Indonesia. Kalau dipikir benar juga kata Menteri P & K itu. Suatu hal yang tak pernah di lakukan orang, memang perkara yang hebat dan luar biasa. Tapi timbul tanda tanya, benarkah hal ini terjadi karena Aceh sangat ketinggalan dari daerah lain dalam bidang pendidikan ? Manakah bukti bahwa daerah ini punya keistimewaan di bidang pendidikan, kenyataannya masih hampa dan kosong. Sepatutnya daerah inilah yang membantu daerah lain dalam bidang pendidikan, karena kita disebut sebagai “orang yang istimewa” dalam profesi ini. Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Walaupun demikian, putra-putri di Tanah Rencong tak usah berkecil hati, sebab jika belum mampu membantu orang saat ini, siapa tahu dimasa datang akan terujud angan-angan tersebut. Kita  ‘kan pernah dengar Titiek Sandrora & Muhsin mengatakan dalam lirik lagunya “dunia belum kiamat”. Tapi yang harus di ingat, bahwa keadaan yang kosong ini, harus di cita-citakan agar dapat terlaksana dimasa depan. Bukan untuk di simpan di dalam “Album Nostalgia”, yang hanya di buka bila ada tamu datang dari Jakarta. Dan hanya menanti pujian dari Bapak-bapak kita dari sana.

BUNG KARNO sendiri, yang Presiden PERTAMA RI, telah juga ikut bersama untuk memperbesar Gunung Nostalgia, yang memang telah sekian   tingginya. Dengan penambahan beliau akan semakin mumanglah bagi kita untuk memikulnya. Dalam suatu kujungan ke kota Meulaboh (Aceh Barat), tgl 4 September 1948

, Presiden Soekarno a.l berpidato begini ; “Daerah Aceh adalah DAERAH MODAL, dan akan tetap menjadi DAERAH MODAL bukan saja modal yang berupa emas, bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal yang berupa jiwa yang berkobar-kobar. Rakyat Aceh jiwanya memang jiwa yang banyala-nyala dan berapi-api. Dan modal jiwa yang menyala-nyala dan berapi-api itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaan sampai akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita sekali merdeka tetap merdeka”.

Buat masa sekarang segala yang di ucapkan presiden itu telah terbukti kebenarannya. Aceh adalah DAERAH MODAL. MODAL dalam segala-galanya. Penulis tidak menjelaskan tentang fungsi Aceh sebagai daerah modal di masa lalu, karena telah banyak buku sejarah (Walaupun jarang terdapat sekarang) yang mencatatnya. Penulis hanya mengguraikan tentang Aceh SEBAGAI DAERAH MODAL DI HARI INI YANG MEMPERLANCAR PEMBANGUNAN NEGERA INDONESIA, YANG SAMA-SAMA KITA CINTAI. Sebagai pegangan penulis adaah isi kuliah Bapak Drs. Muhammad Gade SH yang Hari Kamis tgl 16 April 1981 beliau memberi kuliah Ilmu Tata Pemerintahan II di Ruang Seminar FHPM Unsyiah. Ketika menguraikan tenaga tentang masalah pembangunan, beliau menyatakan bahwa hasil dari LNG bagi pembangunan Negara bermilyar dollar. Untuk setahun LNG di Aceh dapat mengekuarkan hasil sebanyak $ 2 milyar dollar AS. Hutang negera kita terhadap modal luar negeri hanya 7 milyar dollar AS. Berarti dengan penghasilan 31/2 (  tiga setengah tahun) hasil LNG saja, semua hutang itu telah terbayar. Sedang pembangunan yang dilaksanakan dengan uang pinjaman luar negeri banyak sekali dan merata diseluruh pelosok Tanah Air. Lihatlah betapa potensialnya Aceh dalam memberi modal bagi pembangunan Negara ini. Bapak Muhammad Gade SH, menghimbau generasi muda di Aceh, supaya tidak lekas terpancing dengan issue-issue yang dapat mengacaukan keamanan Negara yang sedang membangun ini, demikian keterangan beliau. Jadi di bidang keuangan daerah Aceh masih menunjukkan sifatnya sebagai daerah modal. Buat masa kini dan akan datang, sangat banyak proyek-proyek raksasa yang sedang dan  akan dibangun di Aceh.

Kalau dalam persediaan cadangan tambang dalam perut bumi Tanah Iskandar Muda ini masih terpendam banyak sekali. Berbagai macam jenis logam mulia masih tersimpan  dibawah tanah dari bumi bertuah ini. Sebagian kecil telah dijamah manusia dan banyak lagi yang belum diketahui letaknya. Menurut Harian WASPADA hari Jumat, 17 April 1981 melaporkan, bahwa di Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Barat banyak persediaan marmar dibawah buminya. Tapi yang harus di ingat, jangan sampai kita terjebak bunyi pepatah; Ayam di lumbung mati kelaparan, itik  diair…….!!!”.

TRAGEDI KEBUDAYAAN

Hari selasa tgl 7 April 1981 bertempat dihalaman gedung DPRD Daerah Tingkat I Prop. Dista Aceh telah dilantik beberapa orang pejabat kelurahan. Peristiwa itu merupakan pelaksanaan Undang-undang No.5 tahun 1979, yang di undangkan dan disahkan tgl 1 Desember 1979 oleh Presiden Soeharto dan Sekneg Sudharmono SH. Undang-undang tersebut mengatur tentang pemerintahan desa. Disana diatur tentang perombakan dan pembinaan status pemerintahan desa, dimana yang perlu diadakan perobahan dan sebagainya. Kita bukanlah mau menentang UU ini, yang telah disetujui oleh wakil-wakil rakyat. Tapi yang ingin kita analisa adalah pelaksanaan dari UU tersebut. Menurut keterangan dari pihak yang dapat dipercaya menyatakan, bahwa lurah-lurah yang dilantik tersebut terdiri dari orang-orang yang tidak berpenaruh dalam masyarakat yang akan dipimpinnya. Khusus bagi masyarakat Aceh yang telah sekian abad memiliki ‘Keuchik’ sebagai kepala desanya, dengan di ubahnya sistim pemerintahan desa itu ‘Sistim Keuchik” sudah sampai saat terakhir untuk dimasuk kedalam “Album Nostalgia”, yang tak usah di buka lagi. Satu istilah “kebudayaan” yakni ‘Teungku Keuchik” akan lenyap buat selamanya. Walaupun sudah terlambat dan nasi telah jadi kubur, tak rugi kiranya kita melihat bagaimana tanggapan Majalah Sinar Darussalam. No. 101 MEI/JUNI 1979-J.AKHIR/RAJAB   1399 hlm 164 menulis tentang Kepegawaian Lurah sbb, “Mengenai masalah kedua (setelah menguraikan masalah Liburan Puasa-Pen), yaitu mempegawaian negerikan Lurah, sebenarnya berasal dari idée Pangkopkamtib Sudomo, sesudah melihat beberapa kasus di lapangan. Rupanya idée Sudomo ini juga banyak mendapat tanggapan yang bermacam-macam. Kita juga ingin turun pendapat sedikit mengenai hal ini sbb. Kalau nasib Lurah pada umumnya dikatakan kurang baik, maka nasib ‘Keuchik” di Aceh yang di perkirakan sama dengan Lurah di Jawa, jauh lebih jelek lagi. Kalau di Jawa ada “tanah Bengkok” sebagai imbalan jerih payah lurah, maka “Keuchik” di Aceh tidak mempunyai penghasilan apa-apa sebagai imbalan kerjanya mengurus kampong dengan segala macam permasalahannya. Oleh karena itu sekarang sukar memilih orang yang berwibawa untuk menjadi “Keuchik”, semua menolak. Lalu di pilihnya orang-orang yang tidak berwibawa dan dapat disuruh-suruh saja. Akibatnya ia tidak mempunyai waktu mengurus kampong, karena sibuk mencari nafkahnya sendiri yang merupakan kewajiban pokok selaku kepala keluarga. Akibatnya kampong tidak terurus dan keperluan umum sukar terpenuhi. Oleh karena itu kami berpendapat bahwa “Keuchik” perlu mendapat santunan dari pemerintah, sekedar membantu nafkah sehari-harinya. Tetapi kami juga tidak setuju mereka di pegawai negerikan, karena kalau sudah menjadi pegawai negeri, tidak dapat diperhentukan bagitu saja, sedang mereka bertugas bukan untuk seumur hidup, melainkan selama masa tertentu. Katakanlah selama ia masih di senangi oleh rakyatnya. Jadi kalau di pegawai-negerikan, maka akan memberatkan Negara, karena meskipun ia sudah tidak menjadi “Keuchik” masih tetap di bayar, melahan akan harus di bayar pensiunnya lagi tetap di bayar, melahan akan harus di bayar pensiunnya lagi nanti. Jadi kami mengusulkan supaya kepada mereka diberikan hororarium yang agak lumayan selama mereka menjalankan tugas saja. Kami kira ini pantas (IM)”. Demikian usulan dari Majalah Sinar Darussalam, yang tetap sebagai usulan saja di atas kertas. Yang penting adanya usul, soal diopen atau tidak, bukan hak kita untuk memutuskannya.

Sebuah tanggapan terhadap: Oknum-oknum Berjiwa Kerdil

Sebuah tanggapan terhadap :

OKNUM-OKNUM BERJIWA KERDIL.

Oleh : T.A. Sakti

Mhs. FHPM Unsyiah.

Motto : Nanggrou kesatuan kalheuh tapeudong Jinou tapeukong si umu donya.

(Negara kesatuan telah kita tegakkan (Republik Indonesia) Patut kita

pertahankan sampai seumur dunia (kiamat). Kutipan dari sebuah

Hadih Maja di Aceh.

–          Bhinneka Tunggal Ika (Biar berpisah-pisah, tetap bersatu).

–          “Berikanlah jiwa ragamu dengan mutlak/. Jangan setengah-setengah. Yang setengah-setengah tidak akan mendapat padi segenggam, yang mutlak akan mendapat dunia” (Bung Karno).

DENGAN tidak kita sadari, sampai sekarang rupanya masih banyak rakyat Indonesia yang belum tumbuh sifat percaya pada diri sendiri. Mereka masih saja membeo pada pendapat dan pendirian bangsa lain, tentang ukuran kepribadian mereka sendiri. Sudah sekian tahun kita merdeka, namun sikap jelek yang satu ini, belumlah tercabut samapi seakarnya. Keadaan ini merupakan sisa-sisa politik penjajahan palsu yang meracuni diri sendiri. “Rakayat inlander tidak sanggup mengurus diri sendiri, apalagi memegang pemerintahan sendiri”, demikian pihak Belanda memiatwakan bangsa kita dizaman itu. Ajaran tersebut terus-terusan dipompakan pada rakyat Indonesia, sehingga melekat ketulang sumsumnya. Tujuan dari pihak imperialis, hanyalah sebagai azimat penangkal supaya mereka dapat mengekalkan kekuasaannya disini. Rupanya omong kosong mereka masih berbekas dan mengalir dalam peredaran darah bangsa kita. Sifat tidak percaya diri sendiri (hana peucaya drou keudrou) merupakan penghalang utama dalam melanjutkan pembangunan dari suatu bangsa merdeka. Tanah airnya telah merdeka, tapi watak pribadinya masih saja seperti jiwa rakyat jajahan. Mereka yang berwatak demikianlah yang disebut jiwa-jiwa yang kerdil. Hidupnya terombang ambing kemana arah angin, ibarat orang-orangan (peulangkot tulo) ditengah sawah.

Sebagai contoh terdekat,  bahwa rakyat kita masih dihinggapi penyakit hana turi drou (tidak kenal diri) ini, dapatlah penulis tampilkan issue-issue yang tersiar baru-baru ini. Di tengah-tengah kita waraga masyarakat sedang mengikuti tindak lanjut pihak pemerintah terhadap oknum-oknum yang menggunakan jabatan hakimnya untuk kepentingan pribadi, maka bagai halilintar di tengah hari, tersiarlah suatu fitnah besar yang menghina bangsa kita. Fitnah dimaksud adalah ditujukan kepada seorang proklamator kita, Bung Karno. Penghinaan pada beliau, berarti pula sebagai comooh kepada bangsa Indonesia seluruhnya. Sebab Bung Karno telah ikrarkan seorang pemimpin kita yang tulen. Putra Sang Fajar ini bersama kawan seperjuangannya, telah membawa Indonesia kegerbang kemerdekaan. Tokoh yang menciptakan kehebohan ini adalah John Ingelson. Disini berarti, Bung Karno dituduh pernah mengkhianati perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, hanya demi kepentingan pribadi. Kita sebagai bangsa merdeka, tidak pada tempatnya menelan bulat-bulat semua tuduhan itu. Apalagi fitnah tersebut berasal dari bangsa asing yang biasanya punya tujuan tertentu dengan tulisannya. Kita perhatikan saja tokoh-tokoh orientalis dizaman penjajahan. Mereka menulis sejarah bangsa kita, hanya dari segi yang negative saja. Hampir tidak pernah mereka menyatakan bahwa bangsa kita sebagai suatu bangsa yang berkebudayaan tinggi. Mereka selamanya berpendapat bangsa rakyat ini sebagai manusia belum beradap. Mereka berperan sebagai kita selama ini kurang kritis, maka tidak jarang pula kita hanya menerima saja apa yang pihak orientalis omongkan. Dan bahkan banyak juga ahli-ahli bangsa kita, belum mau menerima suatu bukti sejarah, kalau mereka belum mendengar pendapat bangsa Barat tentang sejarah bangsa  sendiri. Pendapat  pakar asing dianggap, bagaikan “mutiara-sakti”, yang jatuh dari langit. Kini, kedok pembohongan itu, telah banyak terbongkor. Hal ini adalah berkat sikap kritis bangsa kita sendiri. Kalau sebuah kedok telah terbuka, maka kita dapat memastikan, bahwa dimasa mendatang akan terbongkar semuanya.

Majalah Sinar Darussalam, No. 112-113, hlm 290-292, pernah membuka ‘kartu bohong’ bangsa-bangsa Barat dalam penulisan sejarah bangsa kita, terutama tentang masalah sejarah masuk dan berkembangnya Agama Islam di Nusantara ini. Dalam Tinjauan Redaksi majalah tersebut. Prof.A.Hasjmy yang Bapak Pendidikan Aceh itu menulis “Telah berlalu masa dan kurun, dalam waktu mana kepada kita disodorkan buku-buku sejarah Islam, terutama sejarah Islam di Nusantara, yang dikarang oleh bangsa asing kaum penjajah yang bukan beragama Islam, bahkan sebagai penjajah mereka berusaha untuk menghancurkan Islam. Sekurang-kurangnya untuk menyelewengkan atau mendangkalkan ajaran-ajaran Islam. Salah satu cara yang mereka tempuh untuk maksud-maksud kolonialisme tersebut, yaitu dengan memutar balikkan sejarah Islam, bahkan mencampur adukkan Sejarah Islam dengan israeliat (dongeng-dongeng yang dimasukkan orang-orang Yahudi ke dalam ajaran dan sejarah Islam). Karena itu, adalah wajar kalau kemudian ada orang-orang Islam sendiri, terutama yang mendapat pendidikan di sekolah-sekolah kaum penjajah, membenci Islam, memusuhi Islam, mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan dan mempersubur perbudakan ; mereka kemudian menjadi orang-orang sikuler yang memusuhi agamanya, Agama Islam, bahkan melawan Allah Yang Maha Esa”. “Maka tidak heran kita, kalau kaki tangan kaum penjajah menulis dalam apa yang dinamakan “buku sejarah Islam” bahwa Malikus Saleh, raja kerajaan Islam Samudra/Pasei yang terbesar, beliau makan ‘cacing’, yang apabila hal demikian dibaca oleh pemuda-pemuda kita, jatuhlah martabat Malikus Saleh di mata mereka, padahal beliau adalah mujahid dan pahlawan yang terbesar pada zamannya.

Tokoh-tokoh penjajah terbesar, seperti Prof.Dr.Snouck Hourgronye dan lain-lainnya, tanpa malu-malu menulis sejarah Islam di Indonesia dengan mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dalam abad ke XIII M. Dan raja Islam pertama yaitu Malikus Saleh yang makan  cacing itu. Dengan sengaja tokoh-tokoh utama kaum penjajah itu tidak mau mengakui bahwa Islam telah masuk ke Nusantara dalam abad pertama Hijriyah dan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara telah berdiri di Perlak pada awal abad ke tiga Hiriyah (abad ke IX M). Pendapat dari tokoh-tokoh utama kaum penjajah itu diterima bulat-bulat oleh sementara kaum terpelajar di Nusantara, bahwa tulisan-tulisan para otak kaum penjajah yang berlindung dibawah nama ‘orientalisten” dijadikan sumber sejarah Islam yang utama. Mereka menolak, kalau kita ketengahkan kepada mereka naskah-naskah tua yang ditulis oleh para Ulama Nusantara sendiri sejak zaman dahulu, seumpama naskah Idharul Haqq Fi-Mamlaka Ferlak karangan Abu Ishak Makarani, Tazkirah Tabakat Salatin yang ditulis oleh Said Abdullah, Keurukon Katibul Muluk (Sekretarsi Negara) dari Kerajaan Aceh Darussalam, hanya karena naskah-naskah tersebut tidak pernah disebut-sebut oleh tokoh-tokoh utama kaum penjajah ; Snouck tidak menyebutnya, kata mereka,. “Keadaan yang timpang ini, yang sangat merugikan Ummat Islam di Asia Tenggara harus kita banteras, harus kita lawan, karena kalau kita biarkan, pasti ajaran sekularisme dan ajaran anti Tuhan (atheisme) akan berkembang terus dan mengancam Islam bahkan buat di Indonesia akan mengancam ke murnian dan keselamatan PANCASILA.

Ahli-ahli sejarah Islam dari bangsa-bangsa Asia Tenggara sendiri harus menulis sejarahnya, harus meneliti masuk dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara, kemudian menseminarkannya, kemudian menulis menjadi buku sejarah Islam di Indonesia. Sejarah Islam di Malaysia, Sejarah Islam di Singapura, Sejarah Islam di Pilipina, Sejarah Islam di Thailand, Sejarah Islam di Brunei dan sebagainya. Menurut hemat saya, naskah-naskah tua masih cukup banyak;  asal kita mau mencari dan ia akan dapat membantu kita dalam usaha yang besar itu. Sudah waktunya kita meninggalkan tulisan-tulisan kaum penjajah sebagai sumber utama sejarah Islam di Asia Tenggara, sudah masanya kita menggali sumber yang ada dibumi kita sendiri. Ini adalah salah satu tujuan dari seminar ini ; Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara, disamping tujuan-tujuan yang lain’, demikian pendapat Prof.A.Hasjmy, seorang ahli sejarah bangsa kita sendiri.

Pandangan A.Hasjmy ini tidak hanya dapat kita gunakan sebagai pedoman untuk menulis sejarah Islam di Negara kita saja tetapi dapat pula dijadikan sebagai kompas dalam menulis sejarah bangsa Indonesia pada umumnya. “Sudah waktunya kita meninggalkan tulisan-tulisan penjajah………” demikian ungkapan beliau diatas. Ahli-ahli sejarah bangsa kita harus bangkit dan bekerja untuk menjernihkan penulisan riwayat bangsa kita sendiri. Bukan masanya lagi, kita hanya mengekor saja kepada tulisan-tulisan bangsa-bangsa kolonialis atau anteknya tentang nasion kita. Sejarah yang disusun bangsa asing, kadang-kadang atau kebanyakannya menjadi racun bagi kita. Buanglah jiwa-jiwa kerdil sebagai pak turut. Kita bangsa Indonesia patut berterimakasih pada pemerintah Orde Baru, yang telah membantah isapan jempol antek-antek kolonialis, Presiden Suharto dan Wapres Adam Malik telah membantah kebenaran berita yang menyatakan, bahwa Bung Karno telah berkhianat terhadap bangsa Indonesia. “Pak Harto dan saya sependapat bahwa pemuatan tulisan yang menyebut Ir.Sukarno pernah menyerah pada Belanda adalah tidak benar’, demikian, Wapres Adam Malik. Kitapun akur dengan pendapat pemimpin kita, bahwa berita yang menulis Bung Karno pernah menyerah dan minta ampun pada Belanda adalah bohong sama sekali, dan merupakan dosa besar bagi antek-antek kolonialis yang menyatakan fitnah tersebut. Dengan demikian, maka sia-sialah usaha John Ingelson untuk menjatuhkan martabat pemimpin bangsa Indonesia dimata rakyatnya, dan juga dimata dunia. Sejarah menyatakan sebaliknya, apa saja yang ia (John Ingelson)  cita-citakan tidaklah tercapai. Seluruh rakyat Indonesia, tidak mau tertipu dengan taktik yang dipasangnya. Mudah-mudahan John Ingelson tidak sampai jatuh frustrasi (gila) dengan kegagalannya dan semoga ia lekas sadar serta kembali kejalan yang “benar”. Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Maka kekallah pula Bung Karno, sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.

Bucue, 25-2-1981.