Selamat Ultah Ke- 26 TVRI

Selamat Ultah ke 26 TVRI :

MENDAMBAKAN SEBUAH STASIUN PEMANCAR TVRI

DI DAERAH ISTIMEWA ACEH

Oleh: T.A. Sakti – Taman Pelajar Aceh Yogyakarta

MENTERI Penerangan Republik Indonesia H. Harmoko dalam ‘ceramah’ beliau di depan peserta Kongres ke- 17 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)  di Lhokseumawe, Aceh Utara; tanggal 30 Juni 1988 yang lalu pernah mengatakan, “bahwa informasi yang disebarkan ke wilayah pedesaan , baik melalui TVRI, RRI maupun media massa cetak, dapat memberikan nilai tambah dan menumbuhkan sikap kritis  masyarakat desa (artikel  Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta, 12 Agustus 1988 hlm.  11  berjudul:”Peranan TVRI dalam Pembangunan  Desa, Suatu Upaya Pembebasan, oleh Ahmadun Y Herfanda).

Apa yang dikemukakan Menteri Penerangan R.I di Aceh itu, memang benar. Bahwa media massa sangat berperan dalam  usaha mencerdaskan bangsa, baik masyarakat kota maupun desa.

Khusus  bagi  negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, peranan TVRI lebih dominan pengaruhnya bila dibandingkan kedua jenis media lainnya, yaitu media cetak dan siaran radio.

Ini disebabkan belum kuatnya minat baca di kalangan masyarakat kita dan adanya sejumlah kecanggihan teknis pesawat TV yang  tidak dimiliki pesawat radio dan media cetak.. Televisi bersifat audio-visual, yakni gabungan auditiv(radio) dan  visual (media cetak).  Jelasnya,  siaran televisi mampu menyajikan suara serta  ‘gambar hidup’ obyek yang diberitakan.

Karena memiliki kemampuan yang lebih itu, maka televisi mempunyai efektifitas  yang lebih kuat untuk mempengaruhi  jiwa dan mendorong masyarakat untuk partisipasi aktif dalam  pembangunan nasional. Secara garis besar, peranan siaran televisi antara lain  ialah memperluas pengetahuan dan ketrampilan ….. memperdalam rasa kebangsaan serta ‘menjanjikan’  harapan hidup yang lebih cerah di masa-masa akan datang

4

Bahwa siapa pun yang terlebih dulu menyaksikan ‘Aceh dalam TVRI’ pasti yang bersangkutan segera memberitahukan  para penghuni asrama yang lain dengan teriakan komando: “Aceh!, Aceh!, Aceehh!, Aceeehhh!”, terdengar suara panggilan dari ruang makan; yang di tempat itu sebuah pesawat televisi hitam-putih ditempatkan. Sesaat setelah teriakan panggilan demikian bergema, bermunculanlah para penghuni asrama secara tergesa-gesa ke depan televisi. Wajah-wajah mereka menjelmakan rasa  gembira ketika menyaksikan  ‘Aceh dalam TVRI’ itu. Dan pada bagian-bagian yang dapat dikomentari, mengalirlah berbagai versi tanggapan dari para perantau asal Aceh ini, sehingga menimbulkan gema suara yang subra(hiruk-pikuk) yang tetap bernada gembira!

Suasana  gembira-ria di saat menonton ‘Aceh dalam TVRI’; bukan hanya dialami para mahasiswa/i, tetapi berlangsung pula dalam keluarga masyarakat Aceh di perantauan. Kenyataan ini dapat diketahui, di saat kita berkunjung ke tempat tinggal mereka. Ketika berbincang-bincang,  ternyata ‘Aceh dalam TVRI’  yang kebetulan  “belum lama” disiarkan,  termasuk salah satu topik pembicaraan yang sering muncul ke permukaan dan mengasyikkan!.

Ada dua kemungkinan yang dapat disimpulkan kenapa para  perantau asal Aceh ini  sangat  antusias akan acara ‘Aceh dalam TVRI’ ini?. Pertama,  karena kerinduan terkenang kampung halaman.  ……………………………………………… akan kampung halaman dalam skala besar (“Aceh”), …………………………………….. rasa rindu itu agak terobati.

Kedua,  disebabkan acara ‘Aceh dalam TVRI’ termasuk peristiwa yang  langka – amat jarang disiarkan. Mana yang lebih berpengaruh antara rasa rindu kampung  halaman atau akibat langkanya acara  itu disiarkan?.  Bila mau mendapatkan kesimpulan yang benar/tepat …………………………………………………………………………………………………………………..masyarakat

5

Stasiun TVRI di Aceh

Telah dikemukakan di atas, bahwa penulis belum mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan terlalu jarangnya muncul ‘Aceh dalam TVRI’ Pusat Jakarta. Namun berdasarkan ‘pengalaman’  selama merantau di Yogyakarta, dapatlah diungkapkan salah satu  “biang-keladinya” yang  yang mengakibatkan timbulnya “kepincangan” tersebut.  Sungguh ini masih merupakan dugaan penulis, tetapi perlu disampaikan dalam tulisan ini; guna dapat kita ‘diskusikan’ bersama!.

Berbahagialah penduduk yang tinggal di kota Yogyakarta Hadiningrat ( Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta).  Di kota ini, dalam setiap hari  kita dapat mengikuti siaran  TVRI dari 3 ( tiga)  stasiun pemancar. Ketiga stasiun pemancar itu adalah  stasiun pemancar TVRI Pusat Jakarta,  stasiun TVRI Yogyakarta dan stasiun daerah dari TVRI Surabaya. Kesempatan mengikuti  ke  ketiga stasiun siaran ini tidaklah serentak waktunya, karena adanya kewajiban stasiun-stasiun  pemancar TVRI Daerah  untuk menggabungkan diri dengan stasiun TVRI Pusat Jakarta dalam acara-acara tertentu.

Biarpun demikian, masyarakat Yogyakarta cukup terbuka ‘menonton’  acara-acara siaran TVRI  dengan berbagai variasi.

Dalam usia TVRI yang ke- 26 tanggal 24 Agustus 1988  ini, kini  jaringan Televisi Republik Indonesia sudah memiliki 10 (sepuluh)  pemancar dan duabelas (12)  stasiun produksi keliling  (SPK). Salah satunya adalah SPK Banda Aceh. Sehubungan  dengan  Pekan Kebudayaan Aceh ke tiga (PKA 3) yang berlangsung di Banda Aceh  Darussalam( dari tanggal 24 Agustus s/d  3 September 1988 ), maka TVRI SPK Banda Aceh dapat berkiprah lebih banyak.

Berdasarkan pengamatan bertahun-tahun, terbukti bahwa stasiun pemancar TVRI Daerah lebih banyak berperan dibandingkan stasiun produksi keliling(SPK).  …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

6

Berpeluang pula mengangkat potensi-potensi daerah masing-masing ke permukaan.

Akibat pengaruh siaran TVRI stasiun Daerah itu, terkesan kepada kita bahwa  partisipasi aktif  masyarakat dalam pembangunan nasional  jadi lebih bergairah.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menjadi lebih yakin  pada suatu dugaan, bahwa   jarangnya “Aceh” muncul dalam  TVRI Pusat Jakarta  adalah  karena daerah Aceh tidak mempunyai stasiun  pemancar TVRI Daerah tersendiri.   Sekedar SPK TVRI ternyata tidak  dapat berbuat banyak. Hal ini logis, karena sebuah stasiun produksi  keliling (SPK) tentu saja hanya memiliki peralatan  teknis yang sederhana, disamping jumlah personil dan dana terbatas. Mengharapkan kiprah SPK TVRI Banda Aceh yang lebih ‘berbobot’ dari kenyataan selama ini, jelas merupakan harapan hampa. Mengingat, apa-apa yang hendak ditayangkan  SPK TVRI Banda Aceh Darussalam; mesti mengirimkan terlebih dahulu “paket siaran”  itu ke stasiun pemancar  TVRI Pusat Jakarta untuk dapat disiarkan.

Berdasarkan alasan itulah, kita sangat mendambakan sebuah stasiun pemancar TVRI  bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh!,

Bila dambaan kehadiran sebuah  Stasiun Pemancar TVRI Daerah Istimewa Aceh sudah terwujud, berarti “ komunikasi sambung rasa”  antara warga sebangsa lewat satelit Palapa, menjadi lebih efektif lagi. Tak seperti selama ini, hanya masyarakat Aceh yang banyak menerima informasi, sementara mereka sangat jarang mampu memberi, karena ketiadaan memiliki stasiun pemancar TVRI Daerah Aceh.

Harapan kita,  tulisan ini sempat terbaca para pemimpin kita; baik di Pusat maupun Daerah yang tengah berada di Aceh untuk berpartisipasi dalam kegiatan PKA – 3. Mudah-mudahan semua beliau, berkenan  ‘melirik’ terhadap harapan rakyat daerah Aceh yang terangkum dalam tulisan ini!. Selamat PKA-3  dan dirgahayu TVRI ke-26, semoga tetap jaya!!!.

Yogyakarta, 17 Agustus 1988

Penulis,

T.A. Sakti

Catatan Mutakhir:  (1)  Dulu, tulisan ini saya kirim ke Harian ‘Pelita’ Jakarta.

(2)  Arsipnya sudah dilumatkan air/lumpur stunami, 26 Desember 2004, namun sebagiannya selamat setelah saya jemur berhari-hari. Bagian yang tersisa inilah yang saya salin kembali guna dipostingkan. (3)  Kertas bagian bawah halaman 1 sudah robek, halaman 2 dan 3 masih hilang/sudah hancur?, , sebagian kertas halaman 4 sudah robek/punah sehingga saya tandai ………, bagian bawah yang kiri halaman 5 juga robek/musnah dan koyak terlipat-lipat-sukar dibuka, sedangkan bagian belakang halaman 6 berdempet/melekat utuh pada selembar kliping koran. Sementara di belahan  lain koran itu melengket lagi bagian depan kertas HVS kwarto yang berisi tulisan. Mungkin itulah halam 2 atau 3  dari tulisan ini yang hilang!!!. Sebelah atas koran itu, lumpur tsunami tebal pula.

( 3  ) Dewasa ini stasiun pemancar TVRI,   Banda Aceh memang telah mengudara, walaupun belum mampu beraktivitas seperti  stasiun pemancar TVRI Yogyakarta tahun 1988 yang sempat saya saksikan!.

Bale Tambeh, 6 Februari 2011, T.A. Sakti.

(  4   ) Catatan tambahan: Dalam pengamatan saya, sepanjang tahun 2011 tidak pernah sekali pun TVRI Pusat Jakarta menyiarkan

berita-berita dari Aceh ” secara langsung” yakni yang diucapkan langsung oleh penyiar dari stasiun TVRI Banda Aceh. Berita-berita dari Aceh memang pernah disiarkan TVRI Pusat Jakarta, tetapi bukan secara langsung, padahal siaran berita dari Jambi, Kalimantan Tengah, Gorontalo,  NTB, NTT dan lain-lain semuanya disiarkan langsung dari TVRI setempat. Semula saya mengira Stasiun TVRI Banda Aceh sedang mengalami kerusakan buat jenis siaran demikian. Tetapi kemudian pikiran saya berubah, bahwa bukan karena rusak peralatan, melainkan tidak ada berita  dari Aceh yang layak disiarkan secara nasional selama ini. Sebab, sesudah ada berita yang  ‘layak siar nasional’, langsung pada jelang tanggal 20-an Januari 2012   saya telah  dapat menyaksikan siaran langsung  dari Stasiun TVRI Banda Aceh dua malam berturut-turut selepas maghrib, yaitu  berita hiruk-pikuk Pemilukada/Pilkada Aceh.

Bale Tambeh, Aleuhad/Ahad/Minggu, 22 Januari 2012, pkl 12.19 wib., T.A. Sakti.

4 pemikiran pada “Selamat Ultah Ke- 26 TVRI

  1. Ping balik: Waktu dulu cuman ada TVRI, acara apa yang paling disukai? :: Gosip Artis Hari Ini | Gosip Artis Terkini | Gosip Artis Terbaru

  2. selamat ulang tahun ke 26 untuk TVRI semoga TVRI Banda Aceh bisa di tonton di daerah jawa barat yaitu bogor. Karena banyak sekali warga aceh yang rindu dengan kesenian aceh……amiinn….

    • Semoga, aminn…!!!. TVRI Banda Aceh pada 18 Februari 2011 yang lalu Genap Berusia 18 Tahun. Sementara Ultah Ke- 26 TVRI yang tercantum dalam artikel itu adalah Ultah Ke- 26 TVRI Pusat, Jakarta pada 24 Agustus 1988 yang lalu!.

  3. PAK GEUTULEH SEJARAH FKIP UNSYIAH SABOH JET KEREN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s