Selamat Tinggal SLTA

T.A. Sakti

SELAMAT TINGGAL SLTA

Kami menuju ke Perguruan Tinggi///.

Saat ini hampir semua siswa SLTA di seluruh Tanah Air telah selesai mengkuti Evaluasi Belajar  Tahap Akhir (EBTA). Sekarang hanya tinggal menunggu pembagian ijazah bagi yang lulus. Kata orang, masa menunggu adalah saat-saat yang penuh penderitaan. Apalagi kalau perkara yang di tunggu itu merupakan vonis terakhir yang menentukan nasib kita. Inipun jika dapat dianggap demikian. Saat-saat begini perasaan dag…dig dug… pasti tak dapat dihindarkan. Bagi siswa siswi yang merasa dirinya mampu menyelesaikan soal-soal dalam EBTA nya, memang bila dapat merasa lega sedikit. Lain halnya bagi mereka yang kemampuannya tanggung-tanggung, resah gelisah mencekam di jiwa. Disamping diri pribadi, tentu banyak pihak lagi yang mendombakan kemenangan. Ibu-bapa, sanak family juga mengarapkan kesuksesan itu. Sementara itu, harapan S1 DIA besarnya tidak kepalang tanggung.

HANYA TINGGAL KENANGAN

Masa yang penuh haru adalah saat perpisahan. Dalam hal ini termasuk perpisahan apa saja pada umumnya. Lebih-lebih lagi kalau sebelum pertemuan terakhir itu tleah dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang mengasyikkan. Seorang pujangga pernah bermadah : “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi setiap perpisahan belum tentu dimulai lagi dengan pertemuan”. Ibarat lirik dari sebuh lagu “Bertemu dan berpisah, dua kata satu masalah,”. Yaitu kesedihan. Begitu pula dengan kita yang baru selesai dari SLTA. Di hati sanubari, penuh kenangan yang beraneka ragam. Pahit dan manis selama bergaul sesame teman. Sang otak pasti mendapat tugas tambahan untuk berperan sebagai reporter terhadap kenangan lama. Jalur pengalaman juga banyak jenisnya. Ada yang karena tangan-tangan gatal dari sang guru yang sering kali turun kepipi. Dan yang paling menyakitkan, pipi yang lebam itu bukan karena kesalahan yang berarti. Tapi karena salah paham dari sang guru sendiri. Mungkin ketika dari rumah tadi, baru saja bertengkar dengan sang istri. Waduhuuuuhh, kasihan simurid, pipinya malang gara-gara orang. Di soh bak geudeu-geudeu, di jak pleu ureung meukat payeh (gara-gara ditinju orang- tapi orang lain jadi sasaran kemarahannya). Peristiwa yang begini sungguh jadi kemenangan pahit yang sukar di lupakan. Kenangan lainnya selama di SLTA ialah saat-saat berpisah dengan sang kekasih, sibuah hati. Hati siapa yang tak akan merasa pedih, mata siapa yang takkan tergenang, mengingat masa-masa lalu yang penuh kemesraan. Ketika itu paling terasa, bahwa sang waktu sungguh cepat berlalu. Tiga tahun tanpa disadari tielah ditelan masa, api asmara besar membahana. Tapi apa hendak dikata, mungkin berpisah buat selamanya. Yang cowok mungkin melanjutkan studinya keluar daerah, maka tinggalah sicewek mengurut dada. Ataupun sebaliknya yang terjadi.

MENUJU DUNIA BARU

Setelah lulus EBTA, satu perangkat lagi ujian harus dilalui, bila yaitu saringan masuk di Perguruan Tinggi. Bila nasib mujur, gelaran ‘mahasiswa baru terpampang didada. Perguruan Tinggi (PT) merupakan dunia tersendiri. Ciri khasnya sungguh berbeda dari tingkatan pendidikan dibawahnya. Bagi kita yang berasal dari daerah yang langka informasi, membutuhkan banyak kesungguhan baru untuk mengikuti perkekembangan baru. Bagi siswa dari desa banyak hal yang belum di mengerti masalah PT. Ini pengalaman penulis sendiri.

Banyak sikap selama di SLTA, harus ditinggalkan bila telah berada di PT. terutama bila dulu disana banyak memiliki sifat negatif. Selama di SLTA tanggung jawab menguasai pelajaran lebih banyak dipaksakan oleh guru, agar masuk ke otak si pelajar. Bila suatu materi pelajaran belum di mengerti si murid, sang guru belum/tidak mengadakan melanjutkan pada pelajaran yang baru. Tapi lain pula di PP. Disana tugas guru (dosen) hanya membimbing saja. Beliau itu tidak berkewajiban lagi untuk menyuapkan makan bagi si mahasiswanya. Mahasiswa telah dianggap dewasa, bukan anak-anak lagi yang perlu disuap makanan segala. Bagi orang dewasa, yaaaak/ jika leper masaklah makanan dan makanlah sendiri.

Diruang kuliah seorang dosen hanya menjelaskan materi kuliah hanya sambil lalu saja. Selebihnya terserahlah sama mahasiswa untuk mendalaminya. Kalau si mahasiswa itu pemalas, dosen tidak ambil pusing. Lulus atau gagal di waktu ujian, si pemalas itu sendiri yang kena resikonya. Itulah akibat yang diterima bagi si mahasiswa malas. Tanpa ampun.

Dalam mendekte bahan kuliah, dosen hanya pakai sistim expres saja. Serba cepat. Dapat atau tidak di ikuti si mahasiswa, bukan persoalan. “Saudara-saudara untuk hari ini kita cukupkan kuliah kita, berhubung ada tugas di luar”, demikian kebiasaan seorang dosen mengakhiri kuliahnya. Dosen terus keluar, tinggallah si mahasiswa menghadapi sejumlah kesibukkan. Si mahasiswa masih saja perlu bergelut dengan materi kuliah yang tercecer tadi. Dia terpaksa putar kiri putar kanan pinjam bahan kuliah pada kawan. Jika malas menyalin, akan jadi beban yang berat bila mau ikut testamen nanti di ujung semester.

Satu hal yang juga tidak kurang pentingnya harus di miliki seorang mahasiswa ialah kesabaran. Mahasiswa harus sabar dalam segalanya. Paling kurang, jika tahun pertama tidak naik tingkat, ia mesti sabar untuk menanti tahun berikutnya. Dan banyak hal lagi yang perlu pakai sifat sabaaaarrrr.

Namun kesemua itu, sebelum kita mengikuti testing masuk di PT ada satu perkara yang mesti di pikir masak-masak seorang calon mahasiswa. Perkara itu ialah tentang hal memilih jurusan di PT. Di sebuah Universitas tentunya memiliki sejumlah jurusan, yang harus di pilih calon mahasiswa sesuai dengan bakatnya. Awaaasss, jangan sampai salah pilih jurusan. Jika pilihan tidak tepat, alamat diri jadi mahasiswa setengah abad. Kesalahan memilih jurusan sering di alami si mahasiswa yang berasal dari desa. Pada mulanya mereka ( si anak desa) hanya ikut-ikutan mengambil sebuah jurusan di PT. keadaan ini terjadi, karena kurangnya informasi bagi mereka semasa di SLTA. Semoga tidak berulang lagi ditahun ajaran 1981 ini. SELAMAT datang ke Perguruan Tinggi///.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s