Jasad-Jasad Pahlawan

Memperingati Hari Pahlawan :

10 Nopember 1980

Sangsaka Merah Putih ditegakkan di atas :

JASAD-JASAD PAHLAWAN.

Oleh : T.A.Sakti.

Mhs. FHPM Unsyiah.

“Rakyat kita tahu bahwa kalau mereka turuti ultimatum dari angkatan perang sekutu itu, mereka tidak akan digempur, akan selamat, akan hidup. Tapi mereka tahu pula bahwa selamat dan damai demikian itu adalah selamat dan damainya seorang hamba yang terantai dan terbelenggu. Maka sebagaimana pada permulaan Revolusi Nasional Amerika, Patrick Henry berseru : “if life so dear, or pease so sweet as tube purehased at the price of chains and slavery ? Forbit it Almighty. God, I know not what course others may take, but as for me, give me liberty of give me death” (Apakah hidup adalah demikian tinggi nilainya dan damai demikian manisnya, sehingga layak dibeli dengan rantai dan perhambaan sebagai harganya ?. Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, hidarkanlah itu/. Aku tak tahu apa yang akan diperbuat oleh orang-orang lain, tapi bagiku sendiri, berilah aku kemerdekaan, atau berilah aku maut”. Juga rakyat kita dengan dipelopori oleh angkatan muda memilih berjuang dan menghadapi maut, dari pada menyerah kepada ultimatum itu laksana hamba yang akan dirantai. Juga rakyat kita, sebagai Patrick Henry, menjawab ultimatum itu dengan : “Give me Liberty or give me death”, merdeka atau mati”, (Pidato Bung Karno ; Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, jilid II, hlm 1856-1857).

“Kami meninjau rumah sakit umum. Ketika kami pergi dari bangsal yang satu keruangan yang lain tempat para pemuda dan rakyat yang jadi korban tembakan dirawat, Prof. Dr. Syaaf ada disitu. Macam-macam logat bahasa terdengar. Mulai dari bahasa Jawa, Madura,  Sunda hingga bahasa Batak dan Minangkabau, logat Ambon dan Manado. Suatu bukti perjuangan Surabaya disertai oleh seluruh bangsa Indonesia”.

(KISAH-KISAH ZAMAN REVOLUSI, kenang-kenangan seorang wartawan oleh H.Rosihan Anwar hlm 15, diterbitkan oleh Pustaka Jaya-Jakarta).

MESKIPUN peristiwa-peristiwa di Surabaya tahun 1945 yang dijadikan patokan resmi, sehinga lahirlah tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan, hal ini bukanlah berarti di daerah-daerah lain tidak berlaku adu kekuatan dalam rangka menegakkan kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh dwi-tunggal Soekarno Hatta, tgl 17 Agustus 1945. Segenap rakyat disemua daerah dalam  Negara kesatuan Republik Indonesia telah siap siaga menghadapi setiap kemungkinan, asal saja negaranya takkan terjajah lagi. Sikap patriotisme  yang demikian itu menampilkan beribu-ribu pahlawan yang rela syahid dimedan juang. Banyak kesuma bangsa yang gugur diarena perang dan sebagian besar kubur mereka tidak kita ketahui dimana gerangan berada.  Keadaan begini menimbulkan istilah PAHLAWAN dikenal dan para PAHLAWAN tidak dikenal. Bagi pahlawan yang dikenal, sebagian mereka ada yang telah diakui pemerintah pusat sebagai Pahlawan Nasional dan sebagian lagi belum. Namun  begitu “bukan  gelar dan tidak sebutan” yang jadi tujuan  dari para pahlawan kita. Mereka betul-betul ikhlas berbakti demi agama bangsa dan Negara. Bagaimana dengan keadaan kita sekarang….???

Peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember, juga bukan haya memperingati pahlawan-pahlawan yang gugur dan jasa-jasa putra-putri tanah air yang berjuang dalam masa Revolusi Kemerdekaan 1945, tetapi dengan peringatan ini sekaligus mengingat dan mengenang darma bakti para pahlawan dizaman sebelumnya. Banyak jasa mereka telah dicurahkan di bumi bertuah ini, sejak masa sebelum Indonesia dijajah  kolonialis asing. Mereka ada yang patut disebut sebagai pahlawan-pahlawan ilmu pengetahuan, kebudayaan, keagamaan dll. Dimasa Negara dalam keadaan aman, mereka menaburkan jasa memakmurkan kehidupan rakyat, mencerdaskan penalaran,  mereka dapat kita sebutkan seperti tokoh-tokoh Wali Songo nan delapan, Syekh Yusuf dari Banten, Syekh Abdurrauf (Syiah Kuala), Nuruddin Ar-Raniry Hamzah Fansuri dari Aceh. Syekh Burhanuddin Ulakan dari Sumatera Barat dan lain-lain. Patih Gajah Mada telah pernah berusaha mempersatukan seluruh tanah air. Terkenal sumpah beliau hingga hari ini, yang disebut “Sumpah Palapa”. Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam pernah mengalahkan armada angkatan perang Portugis. Beliau bukan hanya mengusir Portugis dinegeri sendiri tetapi sampai-sampai ke negeri seberang, Tanah Malaka.  Pasukan Portugis terpaksa lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Hilang keinginan bangsa Portugis untuk menjajah Nusantara ini dimasa itu. Hanya Timor Timur saja yang dapat mereka jajah hingga penghujung tahun 1975. Syukur Alhamdulillah, Timor Timur pun  sekarang telah bebas dari dominasi asing dan telah bergabung kembali dengan bunda pertiwinya; Republik Indonesia.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa kolonialis memiliki hubungan emosionil yang erat. Hal ini terbukti selama pendudukan Belanda di Indonesia. Pusara Iskandar Muda Meukuta Alam dihilangkan jejaknya oleh Belanda, mungkin sebagai balas dendam mereka, karena tokoh ini telah pernah mengusir kolonialis Portugis dari tanah air  dimasa hidupnya. Belanda mau menghapuskan bekas-bekas kebesaran dari tokoh yang sanggup mengalahkan bangsa Barat, yang termasuk bangsa Belanda juga. Pada hal kalau Belanda mau mengenang jasa bangsa Indonesia bagi negerinya, tentu perbuatan terkutuk seperti tersebut diatas, tidak sampai hati mereka lakukan. Waktu Nederland baru merdeka baru merdeka dari Spanyol, semua bangsa-bangsa di Eropa tidak mau mengakui kemerdekaannya. Indonesia (Aceh) lah yang pertama sekali mengulurkan salam persahabatan dengan Belanda. Seorang diplomat Aceh diutuskan oleh Sultan buat membawa surat pengakuan bagi kemerdekaan Nederland. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1600. Utusan Indonesia (Aceh) bernama Abdul Hamid. Kubur beliau hingga sekarang masih ada di salah satu kota di negeri Belanda, karena sang utusan tak sempat kembali ketanah air, karena ajalnya tiba. Sebagaimana kita ketahui Negara-negara Eropa baru mengakui kemerdekaan Nederland pada tahun 1648 (Wsp 24-1-1980 : Hari ini dalam Sejarah), jadi negeri Belanda lebih dulu diakui oleh negeri yang bukan tetangganya. Sesungguhnya bangsa kolonialis tidak mau ingat jasa baik orang.

EMPAT PULUH PAHLAWAN

Mungkin tidak seorangpun yang dapat membantah bahwa kemerdekaan yang kita capai ini adalah hasil pengorbanan luar biasa dari nenek moyang kita dimasa lalu. Jiwa raga, harta benda telah mereka korbankan demi yang satu, yaitu “kemerdekaan”. Pihak tentera Belanda menonjolkan kekuatan senjatanya mereka melakukan kekejaman. Penyembelihan besar-besaran sering terjadi. Masih membayang di perasaan kita akan kekejaman para komandan pasukan patrol Belanda, misalnya Kap. II.Christoffel dan Kolonel Irot. Christoffel, terkenal dalam masyarakat Aceh di daerah Lhok Sukon dengan sebutan “Tuan Kulek”. Karena ia yang memancung leher rakyat yang dicurigainya, dengan perintahnya “KULEK/”, artinya ; merengkan lehermu/”. Dengan sekali saja ia hayunkan pedangnya, maka berpisahlah kepala dengan dari seseorang, mereka adalah pahlawan-pahlawan kita. Kolonel Irot punya cerita dengan versi lain. Kata “Irot” adalah nama panggilan rakyat umum daerah Kota Bakti, Pidie. Sang Kolonel yang satu ini keadaannya “irot”, yaitu pipinya mereng karena bibirnya sumbing (bahasa Aceh, “Iroot”); akibat sabetan pedang pejuang Aceh. Ketika ia masih tinggal diasrama Lammeulo (Kota Bakti sekarang) banyak kekejaman yang ia lakukan. Barang siapa yang lama-lama memandang kearahnya, ia anggap sebagai menghina, karena melihat wajahnya yang jelek. Orang yang bersangkutan pasti merasai tamparannya atau dipukulnya dengan cemeti bila se…………… ! INI PUTUS..

Catatan mutakhir: Artikel ini tidak lengkap, karena ada halaman yang hilang!. Bale Tambeh, 1- Februari 2011, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s