Ikrar Baiturrahman- Pernyataan Sikap Rakyat Aceh untuk…

Setahun Ikrar Baiturahman

Kalau Ikrar Lamteh pada tanggal 7 Maret 1957, merupakan peletakan batu pertama keamanan Aceh, setelah sekian tahun diamuk kekacauan, maka “IKRAR BAITURRAHMAN”, adalah suatu pernyataan tegas dan lantang dari seluruh rakyat Propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk mempertahankan gelar “Serambi Mekkah” bagi daerahnya.  Pernyataan yang spontan dan penuh tekad  itu adalah sebuah jawaban kongkrit terhadap permintaan Bapak Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, yang meminta supaya rakyat Aceh sudi kiranya melepaskan julukan  yang mulia itu. Jika mereka setuju, oleh sekretariat MUI tersebut, akan dipakai untuk julukan Ibu Negara Republik Indonesia, sehingga akan menjadilah sebutannya : Jakarta Kota Serambi Mekkah”.

Peristiwa penting dan bersejarah tersebut, telah berlaku lebih dari setahun lalu. Kejadian itu berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Penulis katakan “penting dan bersejarah”, karena permintaan itu merupakan kejutan bagi rakyat Aceh dan memang belum pernah terjadi sejak  sebutan Aceh  Serambi Mekkah muncul didunia. Dan hal ini merupakan tantangan yang dilontarkan oleh Majelis Ulama Indonesia Pusat. Dalam kunjungan kerja ke  Majelis Ulama Indonesia Propinsi Daerah Istimewa Aceh, telah mengadakan beberapa kali ceramah dalam kota Madya Banda Aceh dan sekitarnya. Dalam ceramah tanggal 25 Rabiul Awal 1400 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 12 Maret 1980 Miladiyah yang berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman itu, telah turut memberikan ceramah Prof. Dr. Hamka selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia dan Bapak K.H. Amiruddin Seregar sebagai sekretaris majelis tersebut.  Acara hari itu dimulai jam, 9.00 hingga lewat pukul 12.00 wib, Prof. A.Hasjmy yang juga Rektor IAIN Jamiah Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, dalam kata pengantarnya A.Hasjmy menjelaskan beberapa hal tentang Aceh, terutama nasib sedih yang dialami oleh Badan Kemakmuran Mesjid yang telah pernah berjasa. Tapi sayang sekali, dalam tahun- tahun terakhir ini kegiatan dari badan tersebut telah lumpuh sama sekali. Penyebab utama hilangnya aktifitas Badan Kemakmuran Mesjid itu, karena timbulnya issue-issue yang mengambarkan, bahwa badan ini akan dipakai sebagai alat propaganda oleh golongan tertentu dalam menghadapi Pemilihan Umum tahun 1971. Badan Kemakmuran Mesjid yang di istirahatkan itu bukanlah hendak dibekukan untuk selama-lamanya, tetapi hanya buat sementara waktu, sambil keadaan normal kembali. Dan sempena memasuki abad ke XV H, mulai tanggal 25 Rabiul Awal 1400/12 Maret 1980 (sewaktu membuka acara ceramah tersebut) oleh Prof. A. Hasjmy menyatakan bahwa Badan Kemakmuran Mesjid di Aceh mulai diaktifkan kembali. Pernyataan beliau ini juga berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman. Dengan pengumuman tersebut seolah-olah A.Hasjmy melakukan tepung tawar ulangan (peusijuek geulayi;  puwoe roh) bagi Badan Kemakmuran Mesjid, yang telah sekian lama tidak aktif lagi.

Dapat penulis tambahkan, bahwa salah seorang tokoh Badan Kemakmuran Mesjid yang sangat aktif dan punya dedikasi paling besar adalah Bapak Drs. H. Soehadi. Dimasa itu beliau selaku Pangdak I Aceh, dapat kita saksikan hingga hari ini, bahwa, dihampir setiap resort kepolisian di Aceh sekarang terdapat mushalla (Meunasah) dan hal ini merupakan hasil aktifitas Pangdak I Aceh tersebut.

MESJID TAK PERNAH TIDUR

Sebagai pembicara pertama dalam ceramah hari tersebut adalah Bapak K.H. Amiruddin Siregar. Dalam kesempatan itu antara lain menyatakan bahwa fungsi mesjid bukan hanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan ibadat saja. Tapi juga bagi semua kegiatan ummat, asal saja tidak masuk larangan agama. Kalau semua itu dapat dilaksanakan,  maka jika demikian barulah mesjid berfungsi dengan sebenarnya. Mesjid tak pernah tidur (Mosque never sleep) selama dua puluh empat jam;  itulah yang mesti kita bina  kembali.

K.H. Amiruddin Siregar memberi contoh kegiatan mesjid yang dilaksanakan oleh Mesjid Agung Al Azhar Jakarta. Kegiatan2 itu seperti pengajian-pengajian, training center, latihan kesenian, membuat panitia membantu fakir miskin, mengadakan kegiatan olah raga. Latihan-latihan pramuka juga tidak ketinggalan diadakan dihalaman mesjid. Dimasa penumpasan P.K.I Markas Besar Angkatan 66 juga bermarkas disana. Akibat banyak bidang kegiatan dilaksanakan oleh Mesjid, maka semua aktifitas masyarakat dapat disalurkan. Mulai dari golongan elite, pegawai sipil dan ABRI, buruh, tukang beca dan gelandangan2 jadi betah tinggal di mesjid. Dimasa sekarang banyak sekali kader-kader hasil tempaan Mesjid Agung Al Azhar Jakarta telah tersebar diseluruh Indonesia dan luar negeri. Dimana mereka berada, disana juga mereka tanamkan benih-benih yang baik dan unggul bagi masyarakat sekitarnya. Itulah keuntungan yang diperoleh, jika fungsi mesjid dapat diletakkan sesuai dengan fungsinya yang asli. K.H. Amiruddin selanjutnya menerangkan, bahwa peranan  orang tua sangat menentukan dalam sebuah keluarga. Seorang anak sudah pasti tidak mau mengerjakan shalat, bila dirumah ia tak pernah melihat kedua orang tuanya mengerjakan sembahyang. Ketika Komunis masih jayanya  di Indonesia; demikian KH Amiruddin, mereka berusaha supaya kaum gelandangan semakin besar jumlahnya. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah menjalankan jarumnya untuk menanamkan ideology Marxis.

Kita telah sama maklum, masyarakat yang miskin merupakan tanah yang subur bagi tunas-tunas kaum atheis. Isi pidato Sekretaris Majelis Ulama Indonesia itu sangat mengesankan bagi pendengarnya. Demikian pendapat beberapa orang yang turut hadir memberitahukan penulis. Tapi dari kesemuanya itu, sebuah gugatan  yang dimajukan oleh K.H. Amiruddin dalam kesempatan yang sama, telah membuat semua pendengar terperanjat. Semua mereka tersentak kaku, bagai orang yang hampir ketabrak mobil. Para pendengar saling memandang sesama mereka. Begitulah keadaan yang terjadi. Adapun keadaan demikian,  karena permintaan KH Amiruddin minta sebuah tanda mata (oleh2/ bungong jarou), yang akan beliau bawa pulang ke Jakarta. Dan yang beliau mintapun, merupakan sebutan yang paling bernilai bagi daerah Aceh. Hanya itulah yang dikehendaki. “Serambi Mekkah///” . Apakah tuan-tuan setuju???, demikian kira-kira bunyi pertanyaan dari sekretaris MUI. Dengan serentak dan tegas peserta rapat menjawabnya. “Tidaaaakkk, kami tidak setujuuuuu///”. Karena ceramah hari itu turut disiar langsung oleh radio “Suara Baiturrahman”, maka dapat dipastikan pula, semua pendengar dirumah juga memberi jawaban yang sama, yakni tidak setuju. Rupanya Bapak Prof. A. Hasjmy tergugah juga perasaan beliau dengan permintaan itu. Hal ini terbukti ketika hendak meneruskan acara selanjutnya sebelum mempersilahkan Hamka,  Prof. A. Hasjmy menanyakan lagi. Apakah kita setuju dengan permintaan, yang hendak mencopot julukan “Serambi Mekkah” dari Bumi Iskandar Muda. Dengan lebih bersemangat lagi dari jawaban tadi, para hadirin memberi  jawaban “tidak setuju”. “Baiklah, kalau sepakat tidak setuju, mulai shubuh besok saya akan melihat buktinya/”. “Apakah jamaah shubuh Mesjid Baiturrahman ada bertambah banyak/ “Dan juga mulai besok, saya akan memperhatikan, apakah masih terdapat dikota ini ummat Islam yang minum esmenen//”, begitu sorotan A.Hasjmy untuk pertama kali, terhadap gugatan yang ganjil tersebut.

Sebagai penceramah kedua adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Dr. Hamka. Kita kagum dengan beliau karena cukup menguasai sejarah Aceh. Kemahirannya tentang sejarah kita dapat mengalahkan ahli-ahli sejarah putra daerah  Aceh sendiri. Mungkin hanya seorang- dua yang dapat mengimbangi dia. Entah mengapa sebabnya suku Aceh tidak menyukai sejarahnya sendiri. Tak heranlah, kalau kita selalu terpaksa mengutip sumber-sumber asing kalau berbicara/menulis sejarah kita sendiri. Mungkinkah kita terpengaruh dengan Hadih Maja ; yang berbunyi ; “Nyangka mate bekle tateu-oh.

Nyangka gadoh bekle tamita”.

(yang mati, disebut jangan, yang sudah hilang tak usah di cari lagi). Kalau benar demikian, berarti kita salah tafsiran, karena kita mengambil yang negative saja. Pada hal arti dari Hadih Maja itu bertujuan positif. Banyak sekali sejarah kita yang belum dibukukan. Contoh yang paling dekat ialah gerakan angkatan 66 di Aceh hingga kini belum pernah kita catat. Akan butalah generasi mendatang bila generasi kita masih enggan menulis sejarah dari gerakan itu/.

Kita kembali pada pokok persoalan. Pada ceramah shubuh di pagi itu juga ; Hamka menceritakan sejarah Mesjid Raya Baiturrahman.”Mesjid Raya hancur. Belanda membangun mesjid baru. Mesjid yang dibangun Belanda cantik, tapi miskin. Sedang semua biaya pembangunannya tidak sampai separuh dari harta Mesjid Raya yang dirampas/dicuri Belanda ketika merampas mesjid itu dari tentara Aceh (th 1874). Menurut Hamka ; selama peperangan melawan Belanda di Aceh, putra-putri daerah ini dengan gigih mempertahankan kedaulatan negerinya. Kehidupan mereka dimasa itu di jiwai sikap perang. Hal ini beliau buktikan dengan gerak gerik orang Aceh setiap kali mereka shalat. Sampai hari ini, demikian Hamka ; kalau orang Aceh sembahyang, kebanyakan mereka matanya se-so (jelalatan). Hal ini merupakan kebiasaan dizaman dulu, masih terbawa-bawa hingga sekarang. Kebiasaan dimasa perang, mereka mengintai musuh (luem musoh). Dulu diseluruh dunia, hanya orang perempuan di Aceh saja yang ada memakai celana panjang (luweu tham asei-pen). Ini akibat perang juga, karena di Aceh orang perempuan juga turut berperang melawan Belanda. Cerita diatas adalah hasil wawancara Prof. Dr. Hamka dengan Cut Idi, isteri alm Teuku Daud Syah, yang meninggal di Jakarta. Sekali peristiwa kape (Belanda) patroli ke sebuah kampung. Mereka menjumpai seorang wanita yang tengah menumbuk padi (top pade0. Tentera Belanda bertanya,  adakah orang laki-laki dirumah ?. Dengan tegas sang ibu, yang tua itu menjawab ; tidak ada/. Apa boleh periksa/. Silakan ///. Belanda naik kerumah, menjumpai seorang pemuda bersembunyi dibawah ranjang. Ditarik lehernya, dirobek bajunya dan dibawa turun Kafe membentak wanita tadi. “Kau bohong, kamu akan dihukum mati/”. “Saya tidak bohong. “, jawab wanita tadi. “Ini memang bukan orang laki-laki////’. Mana mungkin/, bau asap rokok dan kumis yang tebal ini, bukankah tanda seorang laki-laki ?

“Oh, bukan/, jawab wanita itu lagi. “ Apa alasanmu ?”. Inilah buktinya/, si wanita memberi penjelasan. “Kalau dia sungguh-sungguh seorang pria, tentu dia tidak bersembunyi dirumah. Sebab setiap orang laki-laki di Aceh, pasti pergi melawan Kompeni dan bukan bersembunyi dirumah/”. Demikian cerita Hamka.

KOMENTAR DAN HARAPAN

Hari-hari terus berlalu. Ia meninggalkan kenangan yang berbagai rupa. Pada bekas-bekas jejaknya, timbulah cerita-cerita yang kadang tidak masuk akal (dogeng) dan juga kisah sejarah yang penuh fakta. Begitulah jalan kehidupan manusia dimanya pada ini. Demikian pula dengan daerah kita Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Ia juga bergelimang dalam percaturan waktu. Perjalanan sejarahnya sungguh mempesona. Hingga kini Propinsi Daerah Istimewa Aceh dikenal dengan bermacam nama. Nama-nama tersebut yakni, Bumi Iskandar Muda, Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal dan Negeri Darah Pahlawan. Kesemua gelar yang indah itu bukanlah timbul dari dongeng pelipur lara. Tapi fakta sejarah mengakui kebenarannya. Dan ini diakui dimana-mana, oleh ahli sejarah dan tokoh-tokoh dunia. Sejarah juga meninggalkan pesan, bahwa julukan-julukan tersebut, bukanlah diperoleh dengan cuma-cuma. Tapi dengan tetesan darah dan air mata. Gelar “Daerah Modal”, misalnya;  ijazah itu (Daerah Modal) diperoleh dengan mengorbankan harta benda, darah dan nyawa. Kisahnya sebagai berikut :

Ketika Jepang terpaksa mengaku kekerdilannya, melawan Sekutu, dwi tunggal Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tapi pihak Belanda dan antek-anteknya tidak mau mengakui kemerdekaan kita. Mereka mulai menjerat Republik Indonesia yang baru lahir. Belanda melakukan dua kali agressi. Sehingga pejuang-pejuang republik harus bergerilya dihutan rimba. Hampir seluruh tanah air Indonesia ketika itu telah diduduki Belanda kembali, kecuali daerah Aceh yang masih sanggup menjaga daerahnya dari disentuh dan diinjak kaki Belanda. Putra-putri Tanah Rencong menumpahkan darah di Medan Area. Banyak jiwa yang gugur dan harta benda hancur, hanya untuk mempertahankan sebuah semboyan, yaitu SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA///. Karena pengorbanannya yang sangat besar itulah, Belanda tak pernah menjejakkan kakinya lagi, sejak mereka angkat kaki dari Tanah Aceh dalam tahun 1942. Dalam kunjungan pertama presiden Sukarno ke Aceh,beliau memberikan gelar daerah Aceh, dengan julukan Daerah Modal. Begitulah dengan gelar-gelar lain dari daerah ini, kesemuanya juga dicapai dengan penuh pengobanan. Karena itu tidak heranlah kita, kalau semua pendengar yang mengikuti ceramah.H. Amiruddin Siregar seperti tersebut diatas, merasa diri mereka dalam mimpi, ketika mendengar permintaan beliau untuk mencopot “Serambi Mekkah” yang mulia, agar tidak melekat lagi mengiringi sebutan Aceh. Masing-masing bertanya, apa gerangan kiranya sehingga seorang tokoh ulama Indonesia, yang pula memegang jabatan resmi sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, berani mengajukan permintaan demikian. Apa kesilapan-kesilapan yang aku lakukan, hingga daerah ini tidak layak lagi disebut Serambi Mekkah dan sekarang mau dibawa pula ke Jakarta ; demikian kira-kira gejolak hati masing2 hadirin.

Untunglah mereka yang hadir hari itu berdarah pahlawan. Semangat patriot masih bersarang di tubuh masing-masing. Dengan serentak dan kompak mereka menyatakan tidak setuju dengan permintaan tersebut. Begitu pula jawaban yang sama mereka berikan kepada Bapak Prof.A.Hasjmy, yang juga  menindan (menegaskan) lagi pertanyaan yang sama. Sumpah setiap rakyat Aceh untuk mempertahankan gelar “Serambi Mekkah”, yang dinyatakan dengan penuh tekad itu, bukanlah pernyataan main-main. Karena ikrar tersebut mereka ucapkan di Mesjid Raya Baiturrahman, maka penulis menyebutnya “IKRAR BAITURRAHMAN”. Tanggal 12 Maret 1981 (tahun ini), ikrar itu telah genap berusia satu tahun. Berarti ia berulang tahun yang pertama. Terserahlah kepada kita rakyat Propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk menepati janji-janji yang telah diikrarkan bersama. Kita sama-sama telah maklum dan percaya akan sebuah hadist Rasullah Muhammad SAW yang artinya:” Barang siapa tidak menepati janjinya, maka ia bukanlah ummatku”.

Jalan satu-satunya untuk merealisir “ikrar” yang diucapkan itu, hanyalah dengan membina daerah ini sesuai dengan peradaban Islam. Berlakunya “unsur-unsur Syariat Islam bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh”. Sebagaimana pernah digembar-gemborkan dalam tahun-tahun enam puluhan dulu, perlu dihidupkan kembali. Dan sudah pasti untuk mengsukseskan cita-cita yang luhur tersebut sangat diperlukan kesamaan  pendapat antara pemerintah daerah, dengan Dewan perwakilan rakyat tingkat I, segenap masyarakat Aceh. Demikian pula restu dari pemerintah pusat sangat menentukan berhasil tidaknya gagasan itu. Apalagi baru-baru ini Majelis Ulama Propinsi Daerah Aceh dengan kerjasama penuh pemerintah daerah, telah mengadakan sebuah seminar tentang masuk dan berkembanganya Islam di Aceh dan Nusantara. Seminar yang berlangsung tanggal 25 sampai dengan 30 September 1980, dapat kita katakan pula sebagai Serambi Mekkah merujuk/mencari dan memperjelas lagi. Ditambah lagi dengan Musabaqqah Tilawati Qur’an Tingkat Nasional ke XII.

Pada kesempatan yang sama HAMKA pernah berhumor, tapi serius. Kelakar beliau demikian : Orang Aceh sangat gandrung apabila mendengar syair-syair Arab. Tapi karena berhubung mereka tidak mengerti maknanya, syair yang berbau purnopun di sambut dengan ALLAHU AKBAR, Allah//, Allah,///, seperti ketika orang sedang mendengar bacaan Qur’an. Bapak Hamka memberi  contoh sebuah lagu Arab.

Wa Yaa Laila habiby

Wajhika jamilul Kamilah

Ana uhibbu ilaika

Wa arjuu  an nikahtaka///

“Allah/, Allah/,Allahaaaah////, “, jawab para peminat syair Arab dari bumi Serambi Mekkah.

Catatan kemudian:  (1.)   Ketika menyimak ceramah di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh tersebut di atas, saya tidak langsung hadir ke mesjid itu, tetapi hanya duduk pada   ranjang tidur di kamar Asrama Mahasiswa IPM Sakt. Banda Aceh; i sambil  mendengar lewat siaran Radio Suara Baiturrahman, dan sekaligus membuat catatannya.  ( 2.  ) Tanda / ( garis miring) adalah pengganti tanda seru (! ), karena mesin tik saya saat itu tidak memiliki tanda demikian!. Bale Tambeh, 1 Februari 2011,- T.A. Sakti.

Hari Rabu, jam 7.35 wib tgl 6 Rabiul 1401/bertepatan tgl 11 Februari 1981, tempat di Kantor PWI Banda Aceh jalan telepon, saya berbicara dengan Prof. A. Hasjmy melalui telp kepunyaan PWI. Penolong saya hari itu Wartawan Mimbar Swadaya Bna  bernama Syarafuddin Saleh (Din Faropasa) saya menghubungi rumah  A. Hasjmy di Mata Ie  no.telp 2414. Saya mohon bimbingan beliau tentang pengetahuan sejarah , beliau bersedia dan meminta saya datang kerumahnya.

Catt :   – Obat gigi pepsodent

– uang pecahan Rp. 100 (logam!)

– hujan

– ter- bangai2

Pencatat :                                                                    Asrama  IPM. Sakti

TA Sakti                                                                      6 R. akhir 1400

11 Feb  1981

Catatan kemudian: Saat itu saya belum sempat bertamu ke rumah Prof. A.Hasjmy karena harus  segera berangkat ke UGM Yogyakarta untuk kuliah di sana dalam  Program Pencangkokan “Ilmu Sejarah”  atas beasiswa Kerjasama Indonesia – Belanda yang dikelola LIPI, Jakarta. Bale Tambeh, 2 Februari 2011, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s