Dari Puing-Puing Pusaka Pujangga

Dari Puing-puing pusaka pujangga :

ISRA’ MI’RAJ NABI BESAR

MUHAMMAD SAW.

 

Oleh : T.A. Sakti Bucue

FHPM Unsyiah.

 

Bulan rajab merupakan bulanyang ke tujuh (7) menurut kalender (Almanak) Islam. Bulan-bulan yang lain ialah ; Muharram, Shafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab (7), Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaedah, dan Zulhijjah. Khusus bagi masyar akat Aceh, bulan Rajab ini disebut juga Buleuen Apam (bulan Apam). Apam adalah sejenis kue yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut Serabi. Orang Aceh menyebut bulan Rajab dengan bulan Apam, karena pada bulan ini sudah  jadi tradisi bahwa di setiap rumah, baik secara perorangan atau secara bersama, pasti mereka mengadakan upacara memasak Apam (toet Apam) Apam ini setelah selesai dimasak, disamping untuk dimakan bersama keluarga juga diundang para tetangga  untuk memakannya. Kalau kebetulan Apam (serabi) yang dimasak itu agak banyak, mereka akan mengantarnya ke Meunasah yang ada di kampong mereka. Sebab disana sering ada orang beristirahat setelah pulang dari kerja (bertani), sambil mereka menantikan waktu Shalat tiba. Kalau penulis ceritakan tentang asal usul upacara khanduri (kenduri) Apam ini, pasti akan menyimpang dari masalah yang sebenarnya akan penulis bahas dalam tulisan ini yaitu peristiwa Isra” dan Mi’raj nabi Muhammad Saw oleh karenanya saya padakan hingga disini masalah khanduri Apam tersebut. Kesimpulannya bahwa upacara kenduri Apam “Toet Apam” ini merupakan upacara yang mengandung nilai-nilai positif, karena dapat mempererat tali persaudaraan antara masyarakat disuatu kampung atau desa.

Bulan Rajab tiap tahun pasti tiba, oleh karenanya umat Islam diseluruh dunia juga pasti memperingatinya, dengan tujuan untuk mempertebal Iman serta ketaqwaan kepada Khaliqnya, dan juga dengan memperingati detik-detik bersejarah itu, akan membuat mereka lebih waspada terhadap usaha-usaha penghancuran Agama Islam, baik yang dilancarkan kaum Komunis  maupun musuh-musuh lainnya. Di Negara kita Republik Indonesia, upacara memperingati Peristiwa Isra’ dan Mikraj ini boleh dikatakan merupakan upacara yang bukan saja diperingati oleh rakyat biasa secara swasta, tapi juga diperingati secara nasional yang turut berbicara sampai-sampai kepada kepala Negara. Begitulah yang berlangsung dan diadakan setiap tahun di ibu kota Republik Indonesia Jakarta, baik semasa Presiden Sukarno maupun dimasakini. Presiden Soeharto sering dan pernah memberi kata-kata sambutan untuk upacara memperingati Malam Isra’ dan Mi’raj ini.

Sebagai bukti bahwa Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Republik   kita Indonesia ini merupakan upacara BESAR, jadi bukan SEPELE, marilah kita ikuti kata-kata sambutan Presiden Suharto pada Peringatan Isra’ dan Mi’raj 16 Agustus 1974, yang antara lain sebagai berikut : “Demi untuk berhasilnya pembangunan itu, maka harus diusahakan betul-betul agar supaya terpelihara suasana hidup rukun, tenggang rasa dan hormat-menghormati di antara sesama ummat beragama sesame penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama-sama membangun masyarakat.

Dengan tidak mengurangi universilnya ajaran agama masing-masing, marilah kita kembangkan sikap keagamaan yang luhur, sehingga penghayatan dan penyiaran agama di Indonesia ini dilakukan dengan cara yang tidak menyinggung perasaan, dengan memperhatikan lingkungan adat kebiasaan serta tata kesopanan.

Marilah kita pupuk rasa hormat-menghormati dan percaya mempercayai dan marilah kita hindarkan perbuatan-perbuatan yang mungkin menyinggung perasaan orang lain. Untuk jangan sampai mengganggu perasaan golongan lain, maka dalam penyiaran agama itu harus kita usahakan agar jangan sampai ditujukan kepada orang yang sudah beragama. Marilah kita menghargai orang lain itu sebagai orang dengan segala agama dan kepercayaan……….”, demikian tersebut dalam buku “MUHAMMAD NATSIER 70 tahun hlm 298, Pustaka antara-Jakarta.

Di zaman bahari, juga peristiwa Isra’ Mi’raj ini tak lupa diperingati, ini dapat kita buktikan dengan document lama yang masih ada hingga hari ini. Kalau peristiwa Isra’ Mi’raj tidak diperingati dan dirayakan di zaman silam, tidaklah mungkin para Ulama dan Pujangga-pujangga dulu mau menyusun syair-syair tentang Isra’ dan Mi’raj ini, seperti kata pepatah ‘kalau tidak, ada berada masak tempua berserang rendah”. Tapi yang harus di ingat bahwa mungkin mereka dizaman dulu memperingati Isra’ Mi’raj ini berlainan dengan cara memperingati Isra’ Mi’raj seperti di zaman kita ini. Kini kita yang hidup dizaman terakhir, maka setiap Hari Besar akan diperingati dengan pidato-pidato dan kata-kata sambutan dari tokoh masyarakat, tetapi bagi masyarakat kita dizaman silam, pasti ada pula upacara “ciri khas” mereka di zaman itu.

Tadi ada penulis sebut tentang document lama, tentu anda pembaca akan bertanya : document apa itu ?. kalau demikian baiklah penulis sebutkan bahwa document itu adalah sebuah nukilan syair dari seorang Ulama-penyair tentang Peristiwa Nabi Muhammad SAW. Document itu masih kita dapati hingga sekarang disementara orang yang ada menyimpannya. Tapi kebanyakan ummat Islam khususnya di Aceh, telah sangat melupakan document ilmu dan historis ini. Dari document tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa banyak diantara ulama-ulama Islam dizaman lalu, mereka bukan mahir dan paham akan ilmu-ilmu agama, tetapi mereka bukan sekaligus berperanan sebagai pujangga yang menghayati dan mengerti apa yang di inginkan di dibutuhkan masyarakat di sekelilingnya. Karena itu mengakibatkan dakwah Islamiyah mereka dapat berhasil dengan gemilang. Banyak dari ulama-ulama-ulama dizaman silam, mereka yang ahli menyusun syair-syair untuk mencapai kebijaksanaan dan punya metode-metode yang relative baik. Banyak diantara mereka yang tengah dijalankannya. Maka tersebutlah diantara Ulama-ulama yang ahli syair, seperti ; Teungku Syekh Abdurrauf (Syiah Kuala), Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Teungku Syik Pante Kulu, Teungku Syik di Tiro, Teungku Syik di Matang, Teungku Syik Kuta Karang, Tungku Syik Tanoh Abeei dan banyak lagi yang lain.

Khusus sebagai contoh yang mengisahkan tentang Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, akan tetapi mari kita baca syair Ulama terkenal Teungku Syik di Matang tentang peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Dengan susunan bahasa dan alunan  nada yang begitu indah, Teungku Syik di Matang bermadah :

 

Goh Hijrah Isra’ Nabi neujak malam

Ngon Jibra-i   mulai di Masjidil Haram

Neupasang ngon Buraq pantas nibak kilat

Sampoe keu Baitul Mukaddis Isra’ meuhat

 

Nabi tamong lam Meseujidil Aqsha

Neu  seumbahyang sajan Nabi dum Ambiya

Lheueh Seumbahyang Nabi kheun grah yo’h masanyan

Lam syeureuga Jeibra-i  jak cok minuman

 

Peuet boh mangkong Jeibra-i  Peutron  lam Syureuga

Ie nyang harum rasa lazat hate suka

Saboh mangkoung air arak saboh tuak

Saboh mangkoung air madu minoem galak

 

Saboh mangkoung air laban hana ubah

Lheuehnyan  Nabi minoem rjang pujoe Allah

Sinan keueh phone Mi’raj Nabi  A’laihissalam

Ngoen jeibra-i   langet tujoeh sampe  jalan

 

Terjemahan bebas :

Sebelum Hijriyah Nabi pergi disuatu  malam

Bersama JIBRIL mulai dimasjidil Haram

Mengendarai Buraq cepat jalan bagai kilat

Sampai ke Baitul Muqakdis dengan siat (sebentar)

 

Nabi masuk kedalam Masjidil Aqsa

Nabi sembahyang bersama semua Ambiya

Selesai sembahyang Nabi katakan beliau haus

Jibril pergi ambil air di Syurga Firdaus

 

Empat gelas air Jibril bawa dari Syurga

Air yang harum rasa lazat hati suka

Satu gelas air tuak satu arak

Satu cangkir air madu minum galak (suka)

 

Satu cangkir air susu masih baru

Lantas  Nabi minum segera, puji Allah

Disitu mula Mi’raj Nabi  A’laihissalam

Bersama Jibril langit tujuh beliau tembuskan

 

Sungguh begitu indah irama syair yang digubah Teungku Syik di Matang tentang riwayat Isra’ Mi’raj ini. Antara lain beliau ceritakan bahwa Perjalanan Isra’ Mi’raj ini berlangsung sebelum Nabi Muhammad SAW berhijarh ke Madinah yaitu tepatnya pada tahun ke 11 setelah kerasulan beliau. Tentang penentuan masa berlakunya Isra Mi’raj ini “Al-QURAAN DAN TERJEMAHANNYA” terbitan Departemen Agama Republik Indonesia, juga berpendapat demikian yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj memang berlaku sebelum tahun Hijriayah. Selanjutnya kitab terjemahan Qur’an itu mengatakan : “Disaat-saat menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan sudah pada puncaknya ini, gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan pengikut-pengikut beliau semakain hebat, maka Nabi Muhammad SAW di perintahkan oleh Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj dari Mekkah ke Baitul Maqdis di Palestina, terus naik kelangit ke tujuh dan Sidratul Muntaha. Di situlah beliau menerima perintah dan langsung dari Allah tentang Shalat lima waktu. Hikmah Allah memerintahkan Israq dan Mi’raj kepada Nabi dalam perjalanan satu malam itu, adalah untuk lebih menambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai Rasul, yang di utus Allah ke tengah-tengah umat manusia, untuk membawa risalah-Nya. Dengan akan bertambahlah kekuatan batin sewaktu menerima cobaan dan musibah serta siksaan yang bagaimanapun juga besarnya, dalam memperjuangkan cita-cita luhur, mengajak seluruh umat manusia kepada agama Islam.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 11 sesudah beliau diangkat menjadi Rasul. Kejadian Isra’ dan Mi’raj ini, disamping memberikan kekuatan batin kepada Nabi Muhammad SAW dalam perjuangan menegakkan agama Allah, juga menjadi ujian bagi kaum Muslimin sendiri, apakah mereka beriman dan percaya kepada kejadian yang menakjubkan dan diluar akal manusia itu, yaitu perjalanan yang beratus-ratus mil serta menembus tujuh lapis langit dan hanya ditempuh dalam satu malam saja. Bagi kaum Quraisy peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, mereka jadikan senjata untuk menuduh Nabi sebagai seorang yang tidak beres otaknya, dan mereka jadikan bahan bermacam-macam hinaan dan olok-olokan yang sangat keji”.

Setelah menjelaskan tentang pertemuan Nabi Muhammad dengan nabi terdahulu dari beliau, disetiap lapis langit yang dilalui Rasulullah, seperti Nabi Adam, a.s, Isa a.s, Nabi Yahya a.s. Nabi Yusuf a.s. Idris a.s, Nabi Harun a.s, Musa a.s dan Nabi Ibrahim a.s dilangit ketujuh, maka Tengku Syik di Matang melanjutkan kisah Isra’ Mi’raj itu sbb :

 

Hingga di Nabi neulanda

Sidratul Muntaha neu jalan

Yoehnyan neu deungo Muhammad

Qalam meusurat Loh Tuhan

 

Hingga neu lalu lom sampoei

Trousy Babun Qausaini Adnan

Yoeh nyan teur jali  Nur Rabby

Keupada Nabi Janjungan

 

Neu kalon Tuhan deuh nyata

Ngon dua mata rupa tan

Teuma bak Nabi neuteuntei

Limong ploh watei seumbahyang

 

Ateuh droe deungon dum umat

Trousy  ‘an Qiamat ubah tan

Puasa teuma    tan kureung

Bak limong buleun yue Tuhan

 

Terjemahan bebas :

Hingga dinabi terus berjalan

Sidratul  Muntaha beliau datang

Ketika itu Muhammad dengarkan

Firman Tuhan Allah Ta’la

 

Kemudian Nabi terus berlalu

Sampai dipintu Babul  Adnan

Maka terjelma  Nur Rabby

Kepada Nabi Junjungan

 

Melihat Tuhan ternyata

Dengan dua mata tak berupa

Kepada  Nabi ditentukan

Tegakkan Sembahyang limapuluh waktu

 

Atasnya Nabi beserta umat

Sampai kiamat tak berbeda

Puasa wajib tidak kurang

Lima   bulan Tuhan perintahkan

 

Dalam bait-bait yang penulis petik diatas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, sampai perjalanan beliau kesuatu tempat yang dinamakan Sidratul Muntaha. Tempat ini merupakan tempat yang paling kudus dari semua tempat-tempat suci yang ada dimana saja di alam ini. Di tempat itulah Rasul Tuhan ini menerima perintah, bahwa kepada Muhammad serta umat-Nya diwajibkan sembahyang sejumlah  limapuluh waktu. Disamping sembahyang juga diwajibkan puasa selama nabi dan rasul, maka setelah beliau menerima segala amanat Tuhan maka beliaulah balik kembali menuju pulang. Dengan tak terduga-duga tiba-tiba saja perjalanan ini terhalang untuk beberapa lama. Aduh/, ada-ada saja yang mau menghalangi perjalanan Nabi ini. Tahukah anda apa dan siapakah yang mencegat Nabi kita itu ?. untuk menjelaskannya,  sekali lagi kita ikuti uraian Teungku Syik Di Matang lanjutan dari kisah Isra’ Mi’raj ini yaitu :

 

Yoeh nyan Muhammad neu gisa

Oh troek bak Musa neu kheun ban

Hei ya Muhammad tariwang

Ta tuntut kureung bek dumnan

 

Nabi neuriwang peu teuntei

Hingga limong watei jeut  bilangan

Pahla limong ploh neubri cit

Walaupoen cit diet bri Tuhan

 

Wahe dum umat nyang maujud

Nabi neu Mi’rej ta iman

Abubaka phon   peu beuna

Nyang ungki teuma Lahab nan

 

Terjemahan bebas :

Ketika Muhammad berbalik pulang

Lantas dihalang oleh Nabi Musa

Wahai Muhammad kembalilah Tuan

Mohon dikurangkan jumlah sembahyang

 

Nabi kembali tentukan

Waktu sembahyang tinggallah lima

Pahla limapuluh juga Tuhan berikan

Walaupun sidikit Allah wajibkan

 

Wahai semua ummat (manusia) yang hidup

Isra’ dan Mi’raj wajib anda imankan

Abubakar shiddiq orang yang pertama membenarkan (Isra’ Mi’raj)

Abu Lahab kemudian yang menentang

 

Setalah Sembilan kali Nabi Muhammad SAW hilir mudik dari Sidratul Muntaha ke tempat Nabi Musa, maka ketika-tiba lagi dikali kesembilan  Nabi Muhammad tak mau lagi minta dikurangkan jumlah waktu sembahyang yang lima itu, walaupun Nabi Musa mendesak beliau.

Pada malam itu juga Rasul Allah sampai kembali ke Mesjidil Haram, yaitu tempat beliau mulai berangkat ber Isra’ Mi’raj itu. Terasa ditempat Nabi tidur tadi masih hangat, walaupun beliau telah pergi dalam jarak yang beribu-ribu mil jauhnya. Sungguh singkat waktu yang diperlukan untuk suatu perjalanan yang ajaib itu. Hanya bagi orang beriman saja yang mau percaya  perjalanan Isra’ Mi’raj yang sangat misterius itu. Tapi di zaman angkasa luar kini, peristiwa Isra’ Miraj ini semakin diyakini umat manusia pada umumnya perintah Shalat yang diwajibkan Allah bagi umat Islam Lima waktu yang tujuh belas rakaat sehari semalam itu, akan dapat mencegah manusia (umat Islam) dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, tentunya kalau memang dikerjakan dengan sepenuh hati dan khusyu’ tawadhu’ pula, demikian firman Allah dalam Kitab Sucinya yakni Al-Qur’an nul Karim.

Kisah Isra’ Mi’raj dikisahkan pada dua tempat pada sebuah kitab oleh Teungku Syik Di Matang, yag satu dibuat bab khusus untuk peristiwa Isra’ Mi’raj sedangkan yang satu lagi Beliau tulis pada riwayat lengkap dari hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan pada kita bahwa perjalanan Nabi Isra’ Mi’raj ini sungguh penting, karena dari situlah Rasul kita langsung menerima perintah dari Allah tentang kewajiban Shalat atau sembahyang itu, sedangkan ibadat-ibadat yang lain seperti puasa, hajji, zakat dan lain-lain, hanya melalui Jibril yang membawa wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Demikian butir-butir madah yang terdapat dalam Kitab Akhbarul Karim  ini hasil renungan Teungku Syik Di Matang dan sementara pendapat yang lain mengatakan bahwa Kitab Akhbarul Karim  ini hasil rengungan Teungku Syik Kuta Karang, entah mana yang benar, bagi penulis sendiri masih mau bersembunyi dibelakang kedok layar “Wallahua’lam Bishawab”. Semoga kita bangsa Indonesia mau dan sudi memelihara  dan mengumpulkan kembali naskah-naskah lama yang hampir musnah semuanya, semoga tidaklah kita nanti menjadi bagai orang yang “lapar di gudang beras kita sendiri”. Kalau tidak kita lakukan sejak dari sekarang mungkin nanti semua naskah-naskah berharga itu akan hilang lenyap dimakan rayab, maka mengemislah kita nanti kepada bangsa-bangsa asing di Inggris dan negeri Belanda tentang sejarah agama dan kebudayaan di Indonesia, seperti yang kita telah alami dengan penulisan sejarah Indonesia dewasa ini. Mudah-mudahan kita lekas sadar dan waspada selalu, kalau terlambat akan mekarat (kikuk dan bingung) nanti.

Hanya sekian, wassalam ;

 

IPM-Sakti, 17 Rajab 1400

1 Juni 1980.

T.A.Sakti Bucue.

 

 

Catatan mutakhir: ( 1 ) Kitab Akhbarul Karim ditulis oleh Teungku Seumatang, yang dilahirkan di Gampong Cot, kecamatan Sakti, kabupaten Pidie, Aceh. Digelar Teungku Seumatang, karena pernah meudagang/belajar mengaji ke Seumatang.   ( 2 ) Kisah Israk Mikraj dalam Kitab Akhbarul Karim bukanlah satu-kesatuan dengan kitab itu, melainkan lampiran yang disisipkan orang kemudian. ( 3 ) Dalam naskah manuskrip Aceh gelaran Teungku Syik kepada seorang ulama amat jarang disebutkan, malah sampai kini belum saya jumpai. Gelaran yang lumrah adalah Teungku Di ‘pulan’. Bale  Tambeh, 1 Februari 2011, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s