Melihat Propinsi Daerah Istimewa Aceh dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Susulan Pasca PKA – 3

Aceh Dipandang dari Luar

Tanggal 18 Agustus 1988, di halaman pertama Harian “Kedaulatan Rakyat”. Yogyakarta dimuat sebuah tulisan yang berjudul “Aceh Baru”. Sang penulisnya menamakan diri ‘LOPER” dan dia merupakan penulis tetap ruangan “Pangkur Jenggeleng” yang disajikan koran “Kedaulatan Rakyat” (KR) Yogyakarta setiap hari Kamis. Sebagian inti karangan si “LOPER” menarik disimak, mengingat munculnya tulisan itu lima hari menjelang berlangsungnya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-3 (24 Agustus s/d September 1988 yang lalu) di Banda Aceh Darussalam.

Rupanya, ilham pandangan si LOPER mengenai daerah Aceh berasal dari ‘dialog’ kebudayaan Aceh yang diadakan di Bale Gadeng, Komplek Asrama Putri Cut Nyak Dhien, Jln. Kartini, Sagan, Yogyakarta; yang diadakan tanggal 22 Juni 1988 yang lalu.  Tentang hal ini, diungkapkan sendiri dalam tulisannya yang berjudul “Aceh Baru” itu. Pada hari itu, masyarakat Aceh yang tergabung dalam perkumpulan HIMA (Himpunan Masyarakat Aceh) dan TPA (Taman Pelajar Aceh) yang tinggal di Yogyakarta, serta sejumlah perutusan dari Solo, Semarang; mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PKA-3 yang juga Wakil Gubernur Propinsi Daerah istimewa Aceh, T. Djohan. Tujuan pertemuan adalah guna saling ‘mendiskusikan” tentang kebudayaan Aceh, sebagai bahan masukan bagi pelaksanaan PKA-3 tersebut.

Untuk mengetahui pokok-pokok pikiran si LOPER terhadap Aceh yang seterusnya akan ditanggapi; baiklah disini dibuat cuplikan bagian-bagian terpenting dari uraiannya seperti berikut : “Kecuali banyak diusulkan upaya-upaya penggalian, pembinaan dan peningkatan serta pelestarian kesenian-kesenian tradisional Aceh, agar tidak larut dalam arus modernisasi. Pertemuan di Bale Gadeng, Sagan Lor itu juga menerima sinyalemen, berupa kecenderungan’.

2

Mengapa pesantren di Aceh kurang cepat maju. Dan hal-hal lain yang rupanya menjadi kelihatan jelas dalam pandangan putra-putri Aceh yang berada di luar Aceh. Dan kecenderungan hanya juga kira-kira, makin jauh jarak itu, makin jelas gambaran kekurangan tersebut.

Karena diminta juga ikut urun rembug. Saya ceritakan pengalaman saya ngobrol dengan remaja-remaja di Kotaraja yang sekarang Banda Aceh, beberapa bulan yang lalu. Mereka prihatin, karena Serambi Mekkah itu sudah semakin tua. Sarjana-sarjana Aceh lulusan Jawa yang kembali ke kampung halaman dan menjadi pemimpin, pun ‘larut’  ikut menjadi tua. Dari catatan itu saya mengusulkan perlunya memberi arti baru dalam kaitan pembangunan dan pembaharuan terhadap sebutan dan etos Serambi Mekkah. Saya justru mengharapkan utusan HIMA dari Yogyakarta harus dapat mencarikan rumusan itu. Tradisi kota perjuangan ini (kota Yogyakarta-penyalin) paling tidak dapat dijadikan sekedar bahan kajian daerah-daerah istimewa itu, tidak tetap istimewa karena  ketertinggalannya’. Tetapi tetap ikut berpacu maju, namun tetap istimewa karena sebagaimana Jepang yang semakin modern, tetapi tetap semakin nampak identitas Jepangnya.

Dalam suasana memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan ini rasanya selaras juga dengan peringatan Presiden Suharto dalam pidato kenegaraannya kemarin. Menghadapi Pembangunan 25 Tahun’, tahap kedua, dan menghadapi Tinggal Landas, Pancasila menerima  ujian. Indonesia sebagai Negara Industri Baru jangan sampai kehilangan nilainya yang baku. Dan bukankah ‘nilai’ itu merupakan gambaran harmoni dari konfigurasi nilai yang berhasil dihitung dan ditingkatkan kualitasnya oleh daerah-daerah seperti yang akan diupayakan oleh Generasi Aceh Baru. Semoga !, demikian “LOPER”.

Menyimak secara seksama ‘anggapan’ si LOPER terhadap daerah Aceh, menggugah kami menanggapinya. Apakah yang dikemukakan itu benar atau  meleset?. Bentuk tanggapan tidaklah diajukan dalam wujud artikel tandingan yang

3

menyanggah atau membenarkan, tetapi akan disajikan berupa hasil pengumpulan pendapat sebagian perantau Aceh di Yogyakarta, secara wawancara. Lagi, pula lingkup persoalan yang diwawancarai bukanlah sebatas guna menjawab “keusilan” si LOPER, namun mencakup “cakrawala Aceh” yang lebih luas yang dirasa aktual dewasa ini. Hal ini dianggap cocok, mengingat di Aceh baru saja selesai diadakan pesta Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ketiganya. “Laporan” ini tidak pula mengambil kesimpulan, karena memang sukar menarik kesimpulan dari berbagai pandangan berdasarkan hasil wawancara. Peribahasa mengatakan:

“Rambut sama hitam, namun pikiran berbeda-beda”. Jadi, perihal kesimpulan juga kita serahkan kepada para pembaca yang budiman masing-masing.

Miskin publikasi

Memang tidak semua perantau Aceh di Yogyakarta dihubungi guna melibatkan diri dalam pengumpulan pendapat ini. Berbuat begitu terlalu sukar, karena tempat tinggal mereka terpencar-pencar. Diambillah jalan pintas, yaitu mewawancarai seberapa/siapa saja diantara mereka yang dapat ditemui.

4

Pengumpul pendapat ini dapat terlaksana, berkat kerjasama Mohd. Nuor Hasballah, mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Wadyo  Mataram (UWM) Yogyakarta yang membuat kesemua wawancara. Sementara rangkumannya dibuat oleh  saya sendiri: T.A. Sakti.

Tidak terlepas, sempat dijadikan nara sumber juga seorang “musafir” dari Aceh yang baru dalam dua-tiga hari ini berada di Yogyakarta. Kedatangannya ke kota pendidikan dan kebudayaan  ini dalam rangka mengikuti Latihan Ketrampilan Pers se-Indonesia yang berlangsung di Kaliurang 29 Agustus -2 September 1988 dengan panitia pelaksanaan Universitas Gadjah Mada. Ketika ditemui, di hari terakhir “pendidikan pers”, staf dewan redaksi “WARTA UNSYIAH” yang juga mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh Darussalam, banyak menceritakan pengalamannya, sejak menjadi “musafir” di kota pariwisata Yogyakarta ini.

Katanya: “saya cukup merasa daerah Aceh sangat kurang mempublikasikan diri. Ini terlebih-lebih saya rasakan setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa peserta latihan itu’. Contoh yang diberikannya, ada sementara peserta yang tidak bisa membedakan antara propinsi Aceh dengan propinsi Sumatera Utara. Mereka menganggap Aceh termasuk ke dalam propinsi Sumatra Utara juga. Ada pula yang menyebut Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) dengan “UNSYAH’. Gara-gara itu, saya sampai-sampai diberikan gelar cucunya Syah Iran”, ungkap Rusydi MD sambil ketawa renyah. Mahasiswa yang juga menggeluti bidang jurnalistik ini menceritakan, ketika ia masuk sebuah kantin di arena latihan pers Kaliurang. Disitu, ia sempat terlibat  pembicaraan dengan kasir dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM). ‘Apa yang anda tahu tentang Aceh ?, tanya Rusydi di sela-sela pembicaraan itu. Saya lebih mengenal Aceh, hanya dari buku pelajaran sejarah di sekolah, ujarnya mengulangi jawaban yang diberikan kasir dan mahasiswi tadi, ketika hal popularitas Aceh ditanyakan kepada keduanya secara terpisah.

HALAMAN  5   s/d  10  belum ada!!!( sejak hari ini, 10 – 2 – 2011 sudah ada!)

5

“Kecuali tentang sejarah Aceh, kedua orang yang sempat ngomong-ngomong dengan saya itu, sangat kurang mengenal Aceh kecuali kasus-kasus ganja di Aceh”, jelas Rusydi kepada Waspada. “Ini pasti disebabkan kurangnya publikasi Aceh di luar daerah” ungkapnya dengan nada kesal. “Padahal banyak hal-hal positif dari Aceh yang semestinya dipulikasikan ke luar, bukan hanya yang negative saja”. Tetapi diakuinya, penulis-penulis muda sangat jarang muncul di Aceh. “Itu kekurangan di daerah kita. Saya kira, generasi muda Aceh banyak yang berbakat jadi ‘pengarang’, hanya saja bakat itu terus terpendam”. “Usaha menggali bibit-bibit unggul berbakat, memang kurang aktif di Aceh. Seandainya bakat-bakat terpendam ini dapat terangkat ke permukaan, di Aceh nanti pasti banyak melahirkan pengarang- pengarang favorit, baik di tingkat daerah atau nasional, bahkan internasional”, tandasnya dengan nada yakin.

Anggota dewan redaksi “Warta Unsyiah” Banda Aceh yang baru seminggu terakhir ini berada di Yogyakarta, yang mengikuti latihan ketrampilan pers mahasiswa se-Indonesia di Kliurang; tak ketinggalan menceritakan berbagai kemajuan yang sudah serta tengah berlangsung di Aceh. Diakuinya, di bidang pendidikan sudah banyak kemajuan di Aceh. “SMA telah ada di hampir tiap kecamatan, apalagi SD dan SMP”, jelasnya. “Hanya saja, mungkin mutu pelajaran di tingkat SMTA ke bawah masih rendah”, kilahnya ketika ditanya ‘Waspada’; mengapa terlalu sedikit lulusan sekolah asal Aceh yang lulus test ‘Sipenmaru’ di perguruan tinggi negeri favorit seperti ITB, IPB, UI, UGM; setiap tahun.

Mahasiswa Unsyiah yang sudah mengunjungi beberapa obyek wisata di Yogyakarta, nampaknya senang pula mengamati siaran TVRI. “Siaran tivi sangat berpotensi untuk mempopulerkan sesuatu” katanya. Ia yang dilahirkan di Bambi, kecamatan Pekanbaru, Pidie (Aceh) menuturkan pengalamannya ketika berbincang dengan seorang peserta “pendidikan pers” yang berasal dari kota Menado. Mahasiswa asal Menado ini banyak tahu mengenai tarian Seudati Aceh, katanya

6

“saya menyenangi tari seudati” disamping gayanya yang heroik juga menggambarkan keperkasaaan orang Aceh. Ketika Rusydi menanyakan, dimana ia pernah menonton seudati, jawabnya sungguh bersahaja, rekan dari Menado itu mengatakan ia tidak pernah melewatkan tayangan Aneka Budaya Nusantara melalui TVRI. Dari siaran TVRI inilah ia selalu menikmati tarian khas Aceh, baik Seudati maupun tarian lain. Dalam hal penyebaran informasi, Rusydi mengakui perlunya penyebaran informasi secara lebih luas. Peranan TVRI dan media massa lainnya sangat diharapkan keikutsertaannya.

Menurut Rusydi yang juga getol berorganisasi dan pernah terlibat dalam dunia seni, seperti Seudati, Rapa’i dan aneka tari tradisional lainnya mengatakan, Aceh cukup potensial dalam bidang kebudayaan. Banyak pakar-pakar budaya Aceh yang berkualitas, kurang dipromosikan. Seorang rekan peserta penataran Pers dari ASKI Bandung menanyakan kepada Rusydi, dimana penyair To’ed sekarang, katanya ia begitu kagum terhadap syair-syair yang dibacakan penyair yang berperawakan kecil itu.

Rusydi mengharapkan, sudah saatnya Aceh bangkit kembali untuk memperkenalkan kreasi seni budaya agar lebih dikenal oleh dunia luar, Aceh jangan hanya puas dengan kejayaan seni budaya masa lalu, akan tetapi usaha untuk menciptakan kreasi baru yang bercorak Aceh perlu dipikirkan.

Disamping itu, menurut Rusydi; wajar kalau Harian Kompas mengutip pendapat penceramah pada seminar budaya PKA-3 tentang kekuatirannya, jika suatu saat bahasa Aceh akan punah di bumi Iskandar Muda. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat Aceh yang menetap di kota, dalam pergaulan sehari-hari enggan sekali mempergunakan bahasa Aceh. Apa lagi generasi mudanya menganggap jika berbahasa Aceh “kampungan”. Berbeda sekali dengan di Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakatnya kalau tidak bisa berbahasa daerah merasa “minder” dalam pergaulan. Suatu kesan yang dapat ditangkap, bahwa orang Yogya benar-

7

benar mencintai bahasa daerahnya. Setiap tamu yang datang pasti disapa dengan bahasa daerahnya, keadaan semacam ini terjadi dimana saja, di stasiun, di supermarket maupun ditempat lain”.

Bagaimana dengan  keadaan di Aceh sekarang?” tanya “Waspada”.  “Wah, jauh sekali berbeda dengan keadaan di kota Gudeg, yang tidak sih, deh dong,!”,jawabnya sambil berkelakar dalam dialek Acehnya yang kentara.

Perubahan Sikap

Informasi mengenai seluk beluk Aceh yang dijelaskan Rusydi MD; sang “musafir” asal Aceh yang tertera di atas, memang cukup menarik disimak. Tetapi, tidak kalah menarik pula pengamatan terhadap daerah Aceh; yang dikemukakan para perantau Aceh yang sudah sekian tahun tinggal di Yogyakarta.

Teungku M. Saby (bukan nama aslinya, tapi nama khas Aceh yang jadi tradisi di asrama Aceh “Meurapi Dua” Yogyakarta), dia menjelaskan “masyarakat Aceh sudah waktunya untuk merubah sikap mental yang selama ini kurang menguntungkan, biar seirama dengan daerah-daerah lain. Jadi perlu sikap instrospeksi diri. Sikap mereka kadang lebih terbuka. Ini terlihat dalam struktur organisasi-organisasi kemasyarakatan baik formal maupun informal, dibandingkan Aceh. Lebih jelas Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta, yang juga sehari-harinya berkecimpung di Senat Mahasiswa, “saya sangat prihatin mendengar ucapan-ucapan ‘tajak ikeui dicoet gateeh, tajak ilikot ditoh geuntoet’ (“kalau kita jadi pimpinan selalu diomongin yang bukan-bukan”). Nah, sikap-sikap seperti inilah dari sekarang perlu untuk ditinggalkan, sudah waktuya untuk menuju pola pikir yang lain” ungkapnya dengan gaya seorang filsuf.

Ketika “Waspada” menanyakan bagaimana mengenai Arsitektur di Aceh?, dengan cepat ia menjawab, sudah saatnya pula kita semua, terutama pada perencanaan arsitektur, pemerintah atau agen-agen yang lainnya untuk berhenti

8

sejenak, menoleh ke belakang, mengamati warisan kultural yang ada, dalam arti arsitektur Aceh perlu ‘diexpose’ lebih banyak, ataupun dilestarikan. Soalnya sekarang bangunan-bangunan rumah khususnya di daerah pedesaan sudah mulai mengarah ke arsitek ‘Eropah’, padahal kalau dikembangkan arsitektur Aceh tidak kalah dengan arsitektur Spanyolan”, ungkapnya dengan nada sangat ceria. Lebih jauh Teungku M. Saby yang lahir di Nyong, Luengputu-Sigli ini menceritakan bahwa, “Aceh sekarang sudah ditetapkan daerah tujuan wisata, nah dalam menggerakkan pariwisata, tentunya tidak lepas dari nilai pariwisata itu sendiri. Misalkan dalam membangun tempat-tempat peristirahatan turis, ini sebaiknya dibangun rumah-rumah mungil khas Aceh’. Demikian kata Tgk. M. Saby yang juga Pengurus Harian Yayasan Tjut Nyak Dhien, Yogyakarta.

Amsar, mahasiswa Jurusan Nuklir Fakultas Tekhnik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, menganggap mutu pendidikan di Aceh masih rendah. Khususnya di SMTP dan SMTA. Tolok ukur yang dipakainya, terlalu sedikit siswa-siswi lulusan SMTA dari Aceh yang mampu memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang “top hits” di Indonesia. Menurut alumni SMAN Sigli tahun 1985 ini, ada tiga faktor yang perlu dibenahi guna mengatasi ‘kemunduran’ itu. “Yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan minat belajar di kalangan siswa-siswi itu sendiri. Selain itu, terus terang saja mengenai literatur disekolah-sekolah disana masih sangat minim. Disamping itu, mutu pengetahuan para guru untuk bidang mata pelajaran yang diajarinya masih perlu ditingkatkan”, ujarnya. Diakhir percakapannya dengan “Waspada” mahasiswa UGM yang selalu memakai kacamata minus ini menitipkan pesan lewat “Waspada” kepada generasi Aceh. “Harapan saya bagi generasi muda kita; raihlah prestasi setinggi mungkin. Hidup itu memerlukan waktu, sedangkan waktu itu sendiri tidak bisa ditunda. Bak kata orang-orang bijak : “menyia-nyiakan waktu adalah suatu kebodohan yang sangat serius dalam kehidupan, karena hidup tidak bisa ditunda”, ucap Amsar dengan gaya seorang

9

sastrawan. Amsar, adalah putra Aceh pertama yang memasuki jurusan nuklir, sejak jurusan itu didirikan di Fakultas Teknik UGM Yogyakarta.

Meleset

Menjawab pertanyaan, bagaimana anggapannya terhadap daerah Aceh; sebelum dan sesudah kuliah di Yogyakarta, Anwar Muhammad Jaman mengakui perkiraannya jauh meleset. Kepada “Waspada” ia menjelaskan : “dulu saya merasa Aceh paling terkenal, cukup hebat. Dan dikenal ke seluruh Indonesia. Apalagi kalau dilihat dari sejarah perjuangan Aceh dahulu. Aceh tidak kalah perannya dari daerah-daerah lain”.

Tetapi setelah tinggal di rantau, katanya : “ternyata banyak orang Yogyakarta yang belum tahu bagaimana Aceh itu. Banyak teman saya yang menanyakan, “apakah di Aceh masih banyak harimau dan binatang buas lainnya?” Atas pertanyaan begini saya agak terkejut. Dan bergumam dalam hati, “apakah hanya ini yang mereka ketahui tentang Aceh? Apakah tidak ada hal-hal lain yang lebih menonjol di daerah kelahiran saya? Pasti ini akibat berita-berita di koran yang hanya senang mengekspose berita harimau mengamuk di Aceh”. Setiap kali menjumpai pertanyaan demikian, menurut Anwar Muhammad Jaman, ia selalu menjelaskan panjang lebar bagaimana keadaan Aceh sebenarnya.

Ketika ditanya, apa peranan masyarakat Aceh di luar daerah yang bisa mereka laksanakan untuk mempopulerkan Aceh? ; Anwar Muhammad Jaman yang mahasiswa Jurusan Tekstil Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini menerangkan, bahwa “mereka bisa ikut menampilkan kebudayaan Aceh di luar daerah, terutama kesenian Aceh. Tapi, hambatannya tentu saja karena kurang dana. Kalau ada dana dari pemerintah daerah Aceh, tentu hal tersebut dapat dilaksanakan sepenuhnya. Contoh yang dapat saya kemukakan, di Yogyakarta saat ini terdapat dua lembaga yang bergerak ikut memajukan sekaligus memperkenalkan

10

kebudayaan Aceh. Sanggar “Putroe Bungong” pimpinan Ny. Muin Umar dan LAKA (Lembaga Adat dan  Kebudayaan  Aceh) Yogyakarta misalnya, kalau cukup dana tentu dapat berbuat banyak. LAKA Yogya baru berdiri 14 Agustus 1988 yang lalu, ‘kan langsung dapat beraksi dengan menampilkan adat Aceh “Peusijuek Pengantin” di TVRI stasiun Yogya tanggal 1 September lewat( 1988-Red.). Begitu pula sanggar “Putroe Bungong” yang berdiri sejak 6 tahun lalu, ia sudah cukup terkenal sampai ke luar negeri. Kemajuan ini, bisa saja terjadi, mengingat  kota Yogyakarta termasuk pintu gerbang ketiga Indonesia bagi dunia luar setelah Bali dan Jakarta” ungkap Anwar.

Mahasiswa tahun terakhir di UII ini, sangat tidak setuju dengan anggapan bahwa orang Aceh memang kurang berbakat dalam berbagai bidang, khususnya bidang olahraga. Alasannya, “Aceh pernah meraih juara nasional dalam olahraga (sipak bola) di tahun 1980. Dalam olahraga anggar, Aceh juga masih bertahan dan disegani lawan”. Namun demikian, katanya: “masih perlu diupayakan pembinaan yang cukup terhadap olahragawan/ atlet-atlet daerah Aceh. Dan perlu mencari bibit unggul baru yang dapat dibina bakatnya untuk dapat tampil di tingkat nasional”.

Menaggapi berita Harian Kompas yang menyangkut kekhawatiran penceramah asal Australia pada acara “Temu Budaya Nusantara” PKA-3 yang memperkirakan, bahasa Aceh akan punah kalau tak ditangani dengan serius sejak sekarang – juga berita harian Hr. Kompas, 14 Mei 1988 tentang hambatan mengajarkan bahasa Aceh dan huruf Arab Melayu /Jawi di sekolah-sekolah di Aceh – Anwar Muhammad Jaman yang tamatan SMAN Beureunuen, Pidie (Aceh) tahun 1980 berpendapat : “perkara itu sebaiknya segera dibenahi sebelum terlambat”.

Ditambahkannya “masalah kurangnya tenaga  guru, dapat diatasi dengan cara mendidik guru-guru, calon guru untuk mengambil suatu jurusan bahasa daerah, yaitu bahasa Aceh. Itu, kalau jurusan bahasa Aceh sudah terdapat di Universitas atau institute yang ada di Aceh. Kalau hal itu belum tersedia, maka para guru/calon guru bahasa Aceh perlu diberi penataran atau kursus bahasa Aceh,

11

agar guru yang sudah ada dapat menguasai bahasa Aceh; baik lisan maupun secara tulisan dengan baik dan benar. Untuk para penatar/pendidik bagi guru-guru itu, diambil dari kalangan apa saja; orang tua/para pensiunan misalnya, asal cukup mengetahui seluk-beluk bahasa Aceh. Saya kira, masih ada orang yang menguasainya; Syekh Rih Krueng Raya contohnya”, tegasnya. Terhadap kurangnya persediaan buku bahasa/sastra Aceh, dia mengatakan masih ingat bahwa buku-buku seperti itu dulu sudah banyak diterbitkan. “Seandainya, memang ada niat menggairahkan kembali bahasa/sastra Aceh di sekolah-sekolah, arsip-arsip dari buku-buku yang dulu dapat dicetak kembali serta dikembangkan lagi”, katanya.

Tapi, menjelang berpisah dengan ‘Waspada”; Anwar Muhammad Jaman sempat ‘membisikkan” suatu sikap mental orang Aceh yang biasanya jadi biang keladi gagalnya suatu kegiatan. “Kita orang Aceh umumnya memiliki sikap serius tapi santai. Alias seu uem seu uem ek manok (panas-panas tahi ayam). Lain halnya dengan warga asli Yogyakarta. Mereka punya pandangan hidup sebaliknya, yaitu santai tapi serius alias “alon-alon asal kelakon” ( biar lambat asal selesai). Maksudnya, penduduk asli Yogya, tekun dalam kerjanya dan tidak cepat bosan”, tandas Anwar mengakhiri wawancaranya.

Apresiasi Seni

“Dalam bidang pendidikan seni, kita jauh ketinggalan. Sepertinya masyarakat Aceh tidak akrab dengan seni”. Hal ini diungkapkan Rusli, mahasiswa program studi seni lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ditambahkannya, “contohnya, seni tradisional Seudati saat sekarang boleh dikatakan hampir tak ada lagi, terkecuali muncul buat sebentar dalam kegiatan PKA-3 yang lalu”, ujar Rusli yang menamatkan STM Negeri di Langsa, Aceh Timur.

Mengenai potensi seni yang terpendam pada jiwa masyarakat Aceh, dia menyebutkan sebenarnya, orang Aceh bakat seninya tinggi. Tapi jangkauan seni itu sendiri hanya yang mereka tak tahu.

12

Seni kita di Aceh terbunuh semangatnya, karena secara umum seni dianggap hanyalah kerajinan tangan. Padahal tidaklah demikian’. Bila masyarakat Aceh bermaksud membenahi kembali kemunduran di bidang ‘seni-menyeni”, ia menganggap perlu adanya sekolah-sekolah atau institut seni, terutama bidang seni rupa dan desain, katanya.

Saat ditanya, apakah mudah mendapatkan buku-buku tentang daerah Aceh di toko-toko  buku kota Yogyakarta?. Jawabannya “sukar sekali’. Seterusnya, Rusli yang dilahirkan di kampong Ujong Rimba, kecamatan Mutiara, Pidie (Aceh) memberi alasannya: “Ini mungkin karena kurang munculnya pengarang-pengarang yang sudi menulis mengenai seluk-beluk daerah Aceh”. Dia juga menghimbau agar buku-buku mengenai Aceh jangan hanya dikarang dalam bentuk sejarah. Tetapi juga dalam jenis sastra seperti cerpen, novel, cerita bersambung dalam media cetak, dan lain-lain. Terutama yang mudah dibaca oleh anak-anak sekolah tingkat SD, SMTP, SMTA. Dan diusahakan agar buku-buku tersebut dapat disebarkan ke luar daerah Aceh yang edisi bahasa Indonesia. Ini sangat penting, sebagai salah satu jalan untuk lebih memperkenalkan daerah Aceh kepada masyarakat di daerah-daerah lain, termasuk bagi masyarakat luar negeri’ kilahnya.

Menurut Pengalaman

Gambaran mutu pendidikan di Aceh dapat ditelusuri pada “tradisi” yang berlangsung sudah cukup lama. Bahwa mayoritas mahasiswa asal Aceh di Yogyakarta kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Jumlahnya sekitar 80%. Ini bukan berarti PTS kurang berbobot. Sebab, sebagian kecil PTS di Yogyakarta juga cukup terkenal mutu para lulusannya. Tapi, logika perlu dipakai. Kalau sewaktu mengikuti test “Sipenmaru” PTN bisa lulus, besar kemungkinan jarang ada orang yang sedia masuk PTS yang “serba” mahal itu, masuk PTS; mungkin hanya pelarian (?).

Soal, mengapa sekitar 80% mahasiswa Aceh terpaksa kuliah di berbagai PTS Yogya, ditanyakan “Waspada” kepada Ir. Marzuki Yahya.

13

Ia langsung menceritakan kasus dirinya di mana Pendidikan Menengah Atas ditamatkannya pada sebuah SMAN di Aceh tahun 1978, jurusan Pasti Alam. Tahun 1979 berangkat ke Yogyakarta, bukan hendak masuk universitas ; tapi mau ikut “Bimbingan Test” di sana. Harapannya, biar bisa diterima di UGM Fakultas Kehutanan. Menurutnya, kebanyakan lulusan SMAN dari Aceh yang dapat diterima masuk UGM adalah mereka yang telah mengikuti Bimbingan Test di Yogyakarta.

Pada masa-masa permulaan ikut Bimbingan Test, ia hanya jadi peserta yang linglung dan bingung, karena tidak mampu menyerap pelajaran yang diberikan “tutor’. Padahal kesemua mata pelajaran itu telah selesai diajarkan waktu SMAN di Aceh, mencakup seluruh paket mata  pelajaran tersebut.

Berdasarkan pengalaman itu, alumni Fakultas Kehutanan UGM tahun 1988 ini berkesimpulan, bahwa ‘kebingungan” yang sempat dialami itu, karena sewaktu SMAN dulu;  praktikum-praktikum untuk mata pelajaran tertentu, masih terlalu minim  di Aceh. “Akibatnya, sementara bagi peserta lulusan SMTA asal Yogyakarta hanya tinggal sekedar memantapkan, sedangkan saya sendiri kadangkala belum pernah mendengar istilah-istilah dalam praktikum itu”, cetusnya dengan nada prihatin.

Satu hal lagi katanya, “kesadaran belajar pada waktu SMTA di Aceh masih kurang dibandingkan dengan siswa SMTA di Yogyakarta”. Dia yang pernah kost beberapa tahun di perkampungan dekat kampus, sempat memantau situasi belajar para siswa di sekitarnya. Menurut pengamatannya, ‘cukup tekun siswa-siswa disini. Keseriusannya pun sudah seperti mahasiswa di Yogyakarta’, tandas  alumni UGM ini yang pernah jadi pemain inti sepak bola kesebelasan “Gadjah Mada”.

14 ( belum ada)

14 ( sudah ada, Januari 2011 )

Potensi Pertambangan

fakta sejarah Aceh menunjukkan bahwa mereka yang tampil membela kemerdekaan bangsa, bukan hanya kaum lelaki saja. namun, para wanita pun tak mau ketinggalan. begitu pula dalam hal pendapat ini, dara-dara Aceh yang sedang study di Yogyakarta ikut pula menyumbangkan pikiran-pikiran mereka.

muetia menjelaskan “Aceh seharusnya sudah dari dulu perlu ahli-ahli ; Perminyakan, Tanah, Pertambangan dan Giologi. Karena setelah membaca buku ‘ARENA PROMOSI ACEH PEKANRAYA JAKARTA’ di Sumatra, khususnya Aceh banyak sekali potensi bahan galian/mineral yang cukup baik, dan prospeknya pun cukup bagus”.  Lebih lanjut Mahasiswa Fakultas Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta ini mengusulkan : “untuk menciptakan tenaga-tenaga ahli dibidang perminyakan, pertambangan ataupun geologi, perlu dibuka fakutlas teknik jurusan minyak, geologi dan pertambangan di perguruan tinggi (PT) yang terdapat di Aceh, baik di PTN ataupun PTS. Dengan adanya para pakar itu, pengolahan sector pertambangan di Aceh pada masa akan datang, tidak sangat tergantung lagi kepada tenaga ahli dari luar negeri”.

diakuinya, bahwa mendirikan lembaga perguruan tingi bidang pertambangan bukanlah urusan gampang. karena peralatan praktikum sukar diperoleh dan mahal harganya. Lagi pula praktikum-praktikum itu dilakukan setiap semester, sejak semester pertama hingga terakhir. “Lebih-lebih tenaga dosen sulit di cari. UPN saja yang sudah lama berdiri masih kurang staf pengajarnya”, kata mahasiswa UPN yang aktif di ‘remaja Mesjid”, tempat tinggalnya. “Biarpun demikian, melihat potensi bahan tambang yang cukup melimpah di Aceh ; maka pembukaan pendidikan tinggi bidang tersebut sudah saatnya dipikirkan. Yaa, sebelum terlambat”, usul Muetin yang juga alumnus SMA Neg 1 Banda Aceh.

Mahasiswi lain yang lahir dibesarkan di Sragen, Jawa Tenggah belum pernah ke Aceh, tetapi kedua orang tuanya berasal dari sana, menyoroti sikap orang Aceh yang selalu merasa diri ‘superior”.

15 belum ada

15 ( sudah ada, 10 – 2 – 2011 pkl 18.35 wib. )

Semenjak kuliah di Fakultas Kedokteran Umum UGM, terbuka kesempatan baginya untuk bergaul akrab dengan mahasiswa-mhasisiwi asal daerah Aceh. “Kesan saya, sebagian mereka terlalu ‘bombastis’ tutur-katanya. Putra-putri Serambi Mekkah-lah dan berbagai ‘super slogan’ yang bila sering diomongkan terasa menjemukan. Bagi saya, segudang slogan itu bukannya untuk selalu diungkit-ungkit di setiap kesempatan. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana menghayati intisari dari ‘pernyataan-pernyataan’ kehebatan diri itu. Jadi, janganlah slogan hanya sekedar pemupuk keangkuhan saja”, kisahnya.

Dalam soal ini, mhasiswi yang bapaknya asal  desa Bluek Arab, kecamatan Indrajaya-Sigli dan ibu dari desa Beutong Pocut, kecamatan Sakti-Sigli; menghimbau semua generasi muda Aceh dimana saja berada, agar jangan terlalu banyak omong tentang kehebatan masa lalu. “Boleh-boleh saja ngomong ini-itu ‘kelebihan’ kita, asal mampu dipraktekkan dalam realitas keseharian. Bila tidak, jangan-jangan kita hanya jadi bahan cibiran orang”, ucap mahasiswi yang gemar berpakaian jilbab itu.

Syarifah Rose Pandanwangi yang bercita-cita, disuatu saat nanti ingin menjenguk langsung kampong leluhurnya di Aceh, seterusnya menerangkan. Bahwa “ada sedikit ketidak seimbangan antara unsur ‘materi dan rohani’ dalam kehidupan generasi muda Aceh. Hal ini menampilkan citra yang timpang bagi orang-orang yang berasal dari negeri Serambi Mekkah. Selain itu orang Aceh kurang menghargai waktu. Ini menurut saya lho…!”, sambil hi…hii…hii nya yang manis.

Aneh tapi nyata

Syarifah Kausarina, alumni Akademi Kesejahteraan Keluarga Yogyakarta, hanya berkomentar singkat tentang “Aceh” kepada “Waspada”, “Saya baru agak banyak tahu mengenai seluk-beluk Aceh, setelah kuliah di Yogya. Dulu, saya kurang peduli masalah itu. Tapi karena masyarakat di sini sering menanyai hal-ihwal Aceh, maka terdoronglah saya mempelajarinya dengan tekun. Begitu pula kawan-kawan saya, kebanyakan dari mereka baru mempelajarinya agama Islam secara sungguh-sungguh setelah merantau ke Yogya, sebab orang-orang disini ‘menuntut’ orang Aceh memahami agama Islam”, ujar sarjana muda berjilbab, putri Aceh kelahiran Lameue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh itu.

16

Kreasi Baru

Muhammad Fadli Zaini asal Aceh, mahasiswa Akademi Pariwisata Indonesia (API) Yogyakarta tahun terakhir. Kegemarannya antara lain menonton paket siaran kebudayaan nusantara di TVRI. Tentang tayangan “kesenian” Aceh ia berkomentar. Bahwa ; “syair-syair yang dibawakan para pemainnya sangat menoton. Itu-itu saja. Kurang kreasi baru. Yaa, hanya “Cempala Kuneng’, Bak Babah Pinto dan sejenisnya, teeeeeeeerrrrrrrruuuusssss hampir belum berganti sejak dulu”  keluhnya.

“Namun demikian, saya sendiri sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang ikut mendukung terselenggarannya acara itu. Paling kurang, ini berarti kesenian Aceh belumlah mati. Hanya disayangkan, dalam kepasifan begini kesenian Aceh kurang mampu menampilkan diri kepermukaan. Misalnya, belum/jarang menyertai acara “Lagu Pop Daerah” di TVRI, sesalnya.

Ditambahkannya; “seakan-akan lagu dan syair Aceh tidak mampu berkembang. Atau memang belum ada orang yang sanggup melaksanakan saat sekarang?”, dia bertanya entah kepada siapa!. Diakuinya, dewasa ini memang pernah ditampilkan beberapa kreasi baru. Tapi masih sangat minim. “setahu saya, di Aceh ada beberapa ahli yang cukup trampil dalam menciptakan syair-syair Aceh. Syekh Rih Krueng Raya, termasuk pakar paling ‘canggih” dalam bidang itu diantaranya. Bukankah beliau-beliau bisa diajak kerjasama?”. Ketika ‘Waspada” mempertanyakan dari mana sumber dana?, mahasiswa yang berasal dari kampong lhang, Tijue-Sigli ini pun nampak terpana!. Sebagai mahasiswa bidang pariwisata yang sering tugas praktek pada hotel-hotel berbintang di Yogyakarta, ia punya usul. “Saya lihat, hotel-hotel di Yogya sangat dominan menampilkan aneka-rupa budaya daerahnya, untuk memikat perhatian turis-turis luar negeri. Bagaimana, jika hal yang sama juga diterapkan pada hotel-hotel ‘pariwisata’ yang terdapat di Aceh. Tindakan ini, jelas mampu memajukan pariwisata di Aceh yang sedang digalakkan sekarang’, ucapnya meyakinkan.

17

Kisah Seorang Pelajar

Salah satu dari sekian gelar kota Yogyakarta adalah kota pendidikan. Boleh pula diberi nama kota ‘laboratorium” pendidikan. Karena itu tidaklah mengherankan, bila banyak orang tua mencita-citakan sempat ‘menyekolahkan’ putra-putrinya di kota ini. Selain, atas dorongan orang tua, diantaranya ada pula atas kehendak pelajar itu sendiri. Ataupun memang atas dasar kesepakatan bersama antara orangtua dengan putra-putrinya.

Salah seorang pelajar asal Aceh yang berkesempatan meneruskan sekolah di kota pendidikan  ini adalah Mulyadi M.Ali Djufri. Asalnya, kampong Keude Aceh, Lhokseumawe, Aceh Utara. Semula, ia bersekolah di salah satu SMTA di kota Banda Aceh; sampai kelas dua. Pada awal naik kelas tiga, ia pindah sekolah ke SMA Muhammadiyah III Yogyakarta. Kini, sudah dua bulan dia menjadi siswa di SMA Swasta tersebut.

Ditanya ada/tidaknya perbedaan antara tempatnya dulu sekolah dengan yang sekarang, dijawabnya bahwa memang terdapat perbedaan dalam beberapa hal. Perkara yang paling mengagetkannya, karena rasa bersaing dalam bidang pelajaran sangat tinggi diantara para pelajar di Yogya, khususnya di SMA Muhammadiyah III. Rata-rata bercita-cita ingin rebut rangking di kelas masing-masing. Akibatnya mereka jadi sangat pelit dalam hal yang menyangkut pelajaran. Mau pinjam buku, catatan pelajaran sulit dikasih, biar pun kita sudah berteman akrab. Teman ya teman. Begitu pula sewaktu ujian bulanan. Kalau kita tanya, bisa dijawab atau tidak. Semuanya mengeleng tak bisa. Padahal, sebentar kemudian dia sudah mengumpulkan jawaban ujiannya kepada Pak guru”, jelas Mulyadi dengan rasa jengkel, terheran-heran. Kalau sewaktu di Banda Aceh, sesama teman mau saling kompromi menjawab soal-soal ujian.’ Di sini tidak, teman hanya di luar ujian, dalam ujian jadi ‘musuh bersaing’ tambah siswa yang pintar masak serba makanan  ala Aceh ini.

18

Perbedaan lain yang dirasakannya, yaitu menganai cara para guru mengajarkan pelajaran. “Hampir semua siswa kena giliran maju ke papan tulis memecahkan soal. Kalau belum betul-betul mengerti, guru masih terus memantapkan pelajaran itu. Tidak dilanjutkan ke pelajaran baru. Lain yang di Banda Aceh, jeut hanjeut langsong laju geupeureunoe laen’ (bisa atau tidak, langsung diteruskan masalah lain). Di Aceh, kita  ditanya guru, apakah sudah mengerti. Jika kita bilang sudah, langsung beres. Di Yogya tak segampang itu. Kebolehan kita, semuanya dibuktikan di papan tulis”, tandas Mulyadi sambil cengengesan mengenang ringannya beban seorang pelajar di sekolahnya dulu di Aceh.

Ketika ditanya “Waspada” dengan banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu ‘unit’ pelajaran ; apakah tidak mengganggu rencana waktu penyelesaian suatu paket pelajaran?. “Kalau di Yogya tidak. Sebab, kebanyakan pelajar punya Kelompok Belajar untuk belajar bersama di luar sekolah. Banyak pula yang mengikuti “les privat’ yang banyak terdapat di sini. Ohlheuh nibak nyan, guru disinoe leubeh carong ngon di Aceh (Selain itu, guru di Yogya lebih kuat menguasai pelajaran yang diajarkannya). Jadi, biar banyak menghabiskan waktu guna memantapkan setiap pelajaran, tetapi proses mengajar target pelajaran tetap berjalan lancar. Karena didukung kedua faktor itu tadi’, katanya.

Mulyadi yang duduk di kelas III jurusan Biologi selanjutnya menerangkan, bahwa ia tidak mengalami kesulitan mengkuti pelajaran yang menyangkut pelajaran-pelajaran Ilmu Pasti Alam (IPA). Karena bidang itu memang diminatinya sejak di Aceh. “Hanya bahasa Inggris yang merupakan momok bagi saya di sini. Kemampuan berbahasa Inggris para siswa di sini cukup hebat. Rata-rata, mereka tidak menganggap sulit bahasa Inggris”.

Menjawab pertanyaan, apa cita-cita setelah menamatkan SMA, katanya ia bermaksud melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Gigi. Tapi Bapak, menghendaki saya masuk Fakultas Perikanan. Terserahlah mana yang lulus test nanti. Kalau pun gagal keduanya, saya akan pulang ke Lhokseumawe untuk membantu orangtua menternakan udang tambak”, jawab pemuda Aceh yang berjiwa optimis ini.

19

Diakhir perbincangannya, Mulyadi M. Ali Djufri menitipkan salamnya lewat “Waspada” yang ditujukan kepada Bapak Kepala Sekolah, Dewan guru serta siswa-siswi SMA tempatnya dulu belajar di Banda Aceh, disertai permohonan maaf atas segala salah-silapnya. “Apa yang saya ungkapkan ini bukanlah bertujuan memojokkan sekolah saya dulu. Tapi, demi perbaikan mutu pendidikan sekolah di Aceh secara keseluruhan di masa-masa mendatang. Kon keucangklak  atawa keu ria (bukan kelancangan atau sekedar sok tahu). Mohon ini dicatat”, pintanya kepada “Waspada” sebelum beranjak pergi.

“Kebanyakan para orangtua murid di Aceh tak pernah peduli terhadap maju-mundurnya pendidikan anak-anak mereka secara kontinyu. Paling-paling, mereka hanya memarahi putra-putrinya sewaktu melihat banyak nilai Raport yang ‘merah”. Memberikan ‘perhatian”, hanya sesaat saja. Alias perhatian ‘kaget’ Raport. Tentang sikap orangtua murid ini, dikemukakan Abdullah Haji Syah, menjawab pertanyaan mengapa mutu pendidikan di Aceh berkesan kurang maju’?.

Seterusnya, mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, yang lahir di Matang Geulumpang Dua, Aceh Utara menyampaikan hasil ‘pengamatannya’ selama ini. ‘banyak perkara yang sangat mendukung terciptanya prestasi yang tinggi bagi para pelajar di sini. Faktor lingkungan misalnya, Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar-mahasiswa. Jadi, di mana suasana ‘orang belajar’ sangat menonjol memasyarakat, buku-buku yang diperlukan mudah didapat dan tidak semahal di Aceh harganya. Karena suasana lingkungan cukup mendukung, maka para pelajar juga mahasiswa, banyak yang membentuk group Kelompok Belajar di sini. Disamping itu, fasilitas-fasilitas sebagai sarana penyaluran bakat-bakat individu yang cukup tersedia. Keberadaan ‘media’ tersebut bisa memacu semangat belajar, karena adanya saling mengejar prestasi. Lomba lukis, sayembara mengarang dan berbagai lomba lainnya, sangatlah berguna bagi generasi muda. Apalagi, majalah sekolah berupa Majalah Dinding dan Bulletin cukup menjamur di Yogya”, ungkap alumni STM Negeri Bireuen itu.

20 belum ada

20 (sudah ada, dari awal, cuma salah lihat/silap/salah hitung)

Tentang tingginya mutu pendidikan di Yogyakarta dan sekitarnya, dapat disimak dari pembicaraan “ Waspada” dengan Sayid Mumhammad Syarief, siswa SMPN V Sragen, Jawa tengah. Ia yang adik kandung Syarifah Rose Pandawangi menerangkan, bahwa untuk dapat diterima disekolah sekarang bukanlah gampang. Sebab, SMPN V Sragen adalah sekolah paling favorit tingakt SMTP di Kabupaten Sragen. Masyarakat menganggap mutu pendidikan di sekolah itu sangat baik. Selain para guru yang trampil dalam bidang yang diajarinya masing-masing, perlengkapan atau fasilitas sekolah lainnya tersedia sangat memadai. Akibatnya dalam lomba Perpustakaan yang diselenggarakan baru-baru ini; Perpustakaan SMPN No. V Sragen terpilih sebagai juara pertama dari perpustakaan sekolah-sekolah tingkat SMTP se- Jawa tenga

Lebih jauh, Sayid Muhammad Syarief yang punya kegemaran membaca sejak kelas III SD itu, mengatakan bahwa nilai Ebtanas rata-rata delapan tidak dapat diterima masuk SMPN V Sragen. Sedikit saya beruntung, nilai saya rata-rata 8,7 jelasnya menerangkan mengapa ia diterima masuk SMPN V Sragen tahun ini.

FATAMORGANA

Sejak kecil saya sudah mulai sangat membanggakan Aceh, karena bapak saya asal Aceh. Sedikit-banyak berarti saya juga keturunan orang Aceh. Rasa bangga terhadap daerah Aceh yang bersemai di jiwa saya sangat wajar, karena selalu dipupuk oleh lingkungan tempat saya tinggal, yaitu kota Madiun, Jawa Timur. Tentang kepahlawanan, ketaatan beragama; yang dijadikan contoh pasti orang Aceh. Hanya Aceh satu-satunya calon prima. Keadaan demikian berlangsung di mana saja, baik di sekolah-sekolah, mesjid-mesjid ,khutbah Jum’at, ceramah), tempat-tempat pengajian agama, diskusi dan sebagainya. Demikian ungkapan kenangan Teungku Mohd. Iqbal Ali Amin, mahasiswa tahun akhir Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)  Yogyakarta.

21

Teungku Mohd. Iqbal yang bapaknya asal Luengputu-Sigli, sedangkan ibu asli Madiun, Jatim ; seterusnya menerangkan bahwa sewaktu masih sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA di Madiun merupakan saat-saat yang penuh kenangan dan membahagiakan baginya. Itu, hanya gara-gara ia berdarah Aceh dari pihak bapaknya.

“Waktu itu dada saya sampai ‘mekar’ karena bangga. Guru-guru sekolah, baik guru pelajaran sejarah Indonesia, guru agama, guru PMP/Civics senantiasa menunjukkan orang Aceh sebagai acuan contoh-contoh dari uraian mereka. Untuk menyakinkan para murid akan contoh yang diberikan itu, guru-guru tersebut selalu mengatakan : “kalau kalian tak percaya, tanyakan sendiri kepada Iqbal yang bapaknya dari Aceh”. Saya selalu meng-iyakan disertai anggukan kepala saat guru-guru bilang begitu ; dengan rasa bangga pula. Padahal saya sendiri belum tahu apa-apa tentang Aceh saat itu. Bila para guru sedang menceritakan orang Aceh sebagai contoh prima/utama, selalulah saya dijadikan tempat memperkuat argumentasi mereka. Peristiwa para guru menyinggung perihal Aceh memang saya harap-harapkan, karena dapat memperkuat wibawa saya dalam pandangan seluruh teman saya di sekolah”, jelas Teungku Mohd. Iqbal yang belum pernah datang ke Aceh itu.

Rupanya, rasa bangga-hati yang berbunga-bunga karena membanggakan kehebatan Aceh, terutama disebabkan dalam dirinya juga mengalir darah Aceh, ternyata tidak selamanya mau bersepi dalam jiwa Iqbal. Hanya sebatas sekolah SMA, perasaan ‘Uber alles Aceh’ meledak-ledak dalam dirinya. Sesudah itu mulai menurun. Sejak kuliah di Yogyakarta, ia tinggal bersama-sama mahasiswa asal Aceh di Asrama Aceh Merapi Dua, yang kebetulan saat sekarang diketuainya sendiri. Motif utama yang mendorongnya tinggal di Asrama Aceh adalah karena ia ingin bergaul secara lebih dekat dengan orang-orang asal Tanah Aceh yang dibanggakannya sejak kecil. Tepatnya, ia hendak mengupas kulit agar nampak ‘isi sejati’ dari sang orang Aceh yang disanjung-puja-pujinya selama ia tinggal bersekolah di Madiun, Jatim.

22

Mengenai kesan-kesannya setelah tinggal di Asrama Aceh tersebut, Mohd. Iqbal yang bercita-cita menjadi advokat/pengacara seperti bapaknya mengungkapkan, “sesudah berjalan waktu dari tahun ke tahun, ternyata kesemua yang saya bangga-banggakan dulu belum pernah saya jumpai. Terbuktilah sekarang, ada juga anak Aceh yang tidak bisa ngaji Al Qur’an, malas Shalat. Padahal, kejanggalan itu tak pernah terbayangkan bisa pula kita temui pada putra-putri Aceh”, ujarnya keheranan, karena anggapannya yang dulu-dulu terhadap Aceh ternyata keliru.

Salah satu sikap/sifat dari teman-teman asal Aceh yang tidak disukainya adalah sikap ‘otoriter’ atau uber alles, yaitu pemberian nilai yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, kebudayaan sendiri, daerah sendiri dan seterusnya. “Biar sudah merantau, tapi pergaulan sebagian mereka masih semacam berada di daerah. Terutama, dalam pergaulan kurang mau berbaur, masih pilih-pilih”, tambah Iqbal menjelaskan hasil pengamatannya terhadap para penghuni di asrama-asrama Aceh di Yogyakarta.

‘Seandainya, sikap ‘keras’ itu tidak terbawa-bawa ke luar, berarti akan lebih menguntungkan putra-putri Aceh. Sebab, sebutan orang Aceh yang prima/hebat dan baik sudah cukup terkenal ke segenap penjuru. Tapi, jika kesan kasar yang lebih sering ditonjolkan ke permukaan, jangan-jangan orang luar akan beralih calon primanya kepada pihak lain. Untuk mencegahnya, maka sikap ‘otoriter’ mau menang sendiri dari orang-orang Aceh perlu ditipiskan. Seterusnya, keakraban antar sesama manusia (human relation) mesti lebih diharmoniskan’ tanpa memandang asal keturunan. Soal lain yang sepantasnya dibuang jauh-jauh, yaitu rasa kabupatenisme yang terkesan masih melekat dalam tingkah-laku teman-teman saya yang berasal dari Aceh”, himbau Mohd. Iqbal dengan nada serius.

23

“Biarpun juga tak menemukan apa yang saya bangga-banggakan sejak kecil, tapi punya kesan tersendiri selama saya bergaul langsung dengan teman-teman asal Aceh. Kesan saya, orang-orang Aceh sangat mematuhi janji. Dalam perkara janji selalu ditepatinya. Kesetiaan pada janji cukup kuat; seolah-olah sudah menjadi prinsip hidup. Selain itu, orang-orang Aceh menjiwai kesetiakawanan yang kuat, kental. Suatu contoh tentang kuatnya rasa setia-kawan orang Aceh seperti berikut : waktu serombongan mahasiswa  pergi tour ke Parang-Tritis, Yogyakarta beberapa tahun lalu. Saat itu, salah seorang anggota rombongan mengalami kecelakaan lalu lintas. Ternyata, kesemua peserta tour jadi sibuk ikut membantu. Mereka mau menjenguk si ‘penderita’ ke rumah sakit, sehingga yang mengalami musibah itu jadi sembuh.

Contohnya lain, yang lebih meyakinkan saya bahwa orang-orang Aceh memiliki rasa-setiakawan yang kuat lagi jujur adalah riwayat dua orang pembantu asrama kita (asrama Aceh Merapi Dua-Red) yang tahan bekerja sudah 39 tahun. Menurut kesan saya, sifat pergaulan antara para penghuni asrama (sebagai Tuan) dengan pembantu (sebagai Pelayan) sangatlah akrab. Tidak terkesan sebagai hubungan-pergaulan antara majikan dengan pelayannya, seperti yang lazim kita saksikan di tempat-tempat lain di Yogya atau Madiun kota asal saya. Para alumni asrama pun, yang kini banyak jadi orang penting juga masih tetap ingat kepada kedua pembantu mereka dulu itu. Selain, titipan salam dalam surat-surat, banyak pula para alumni asrama yang menghadiahkan sesuatu yang “berharga” bagi kedua pembantu tersebut. Hubungan seharmonis ini antara majikan dengan pembantu, belum pernah saya temui di mana pun, terkecuali dalam kehidupan orang-orang Aceh’, tegas Iqbal dengan perasaan kagum.

24

Menjelang berpisah dengan ‘Waspada”, Teungku Mohd. Iqbal Ali Amin menghimbau masyarakat Aceh untuk lebih menyesuaikan kepribadian mereka selaras dengan suara zaman’. Sebenarnya, dengan tak usah mengembar-gemborkan kehebatan pun sudah cukup. Sebab, orang luar sejak dulu sudah menganggap Aceh hebat. Sehubungan dengan itu, sebaiknya jangan terlalu ‘sinis’ kepada kebudayaan luar. Sebab, jika demikian bisa-bisa orang luar akan membalas pula, yakni memilih primadona mereka yang lain”, ucap Iqbal yang punya cita-cita setelah meraih gelar Sarjana Hukum (SH) nanti, ingin menjenguk tanah leluhurnya di Luengputu, Sigli-Aceh.

Punya Harapan

Ketua TPA (Taman Pelajar Aceh) periode sekarang ; Dasrul Diwasahputra pertama-tama mengomentari artikel Dr. Umar Kayam dalam koran lokal Yogya (tentang Aceh) yang disodorkan “Waspada” kepadanya. “Menurut saya, sikap ‘uber alles’ orang Aceh pasti mencair, bila syarat-syarat untuk itu sudah tersedia. Hampir semua sikap kita manusia diciptakan oleh berbagai pengalaman. Begitu pula bagi masyarakat Aceh, pandangan hidup mereka tercipta akibat perkembangan sejarah Aceh di masa-masa lalu. Merobah sikap memang tak bisa berlangsung dalam waktu singkat, karena masa pembentukan sikap-sikap itu juga terjadi dalam peredaran waktu yang cukup lama, akibat berbagai peristiwa. Namun saya tetap yakin, kepribadian ‘uber alles’ itu bisa hapus dengan sendirinya, nanti, asal tetap diupayakan menghilangkannya dengan berbagai tindakan positif”, tandas Ketua TPA Yogya kelahiran Susoh, Blang Pidie, Aceh Selatan itu.

Menurut Dasrul Diwasahputra, “Modal utama mencairkan sikap-sikap yang kurang berfaedah hanyalah dengan memperluas wawasan pikiran masyarakat pendukung sikap tersebut. Dalam hal ini, sarana komunikasi yang lancar antar penduduk, dengan luar daerah sangatlah penting diusahakan. Sarana jalan, jembatan yang cukup syarat; paling menentukan dalam penyebaran informasi pembangunan dalam arti luas”, katanya.

25

Seterusnya, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil UII Yogyakarta tahun terakhir yang getol dalam organisasi kemahasiswaan itu berujar:” Berbagai terobosan demi pembangunan Aceh yang dilaksanakan Pemda Aceh sekarang, sangatlah tepat. Upaya pendekatan guna merangkul rakyat untuk mengajak mereka membangun daerah Aceh, telah ditempuh jalur yang sealur dengan jiwa orang Aceh. Yaitu pendekatan manusiawi; saling menghargai sesama insan makhluk Tuhan.

Jalan yang ditempuh sudah benar, sesuai dengan bunyi Hadih Maja (pribahasa Aceh): Uleue beumate ranteng bek patah, buet beuase rahasia bek beukah (‘dalam mengerjakan sesuatu, jangan sampai efek negatifnya yang lebih merugikan”). Maka, usaha pembangunan seperti ini wajib kita dukung dengan usaha-usaha yang nyata ; oleh masyarakat Aceh sendiri’, harap pimpinan Taman Pelajar Aceh yang membawahi enam buah Asrama Mahasiswa Aceh tersebut.

‘Konsep Manusia Unggul’ yang tengah dilaksanakan Gubernur Aceh Prof Dr. Ibrahim Hasan MBA (lihat no. 103 Maret 1988 Bulletin KAMABA-Bandung-Red) serta Yayasan Malem Putra, merupakan bukti-bukti yang nyata, bahwa daerah Aceh serta masyarakatnya tengah menempuh jalan ‘lempang’ yang penuh harapan di masa depan. Untuk suksesnya program-program pembangunan itu, dukungan sepenuhnya dari seluruh masyarakat Aceh paling menentukan”, kata Dasrul Diwasahputra yang tinggal di Jln.Sunaryo No.2 Kota Baru, Yogyakarta, yakni sekretariat Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta.

Terheran-heran

Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan UGM Yogyakarta adalah Dr. Umar Kayam. Ia termasuk salah seorang budayawan yang cukup terkenal dalam sekup nasional, bahkan ditingkat internasional. Sebagai budayawan yang giat mengamati perkembangan kebudayaan nasional, maka ia ikut hadir menyaksikan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) III di Banda Aceh beberapa waktu yang lalu. Berikut   kesan-kesannya mengenai kebudayaan Aceh & masyarakatnya dalam tulisannya yang berjudul “Uber Alles”. Pengamatannya itu telah dimuat  pada  “Harian Kedaulatan Rakyat”, 6 September 1988, halaman 1 dan 12. Tulisan  Dr. Umar Kayam  ini merupakan rangkaian tulisan rutin dalam “rubrik khusus” seminggu sekali. Dalam rubrik tersebut Umar Kayam selalu ‘berceloteh dengan pembantunya Mr. Rigen”. Cuplikan tulisannya adalah sbb :

26

“Pak?”

“Huh?”

“Aceh itu apa ya jauh betul to, pak?”

‘Lha, iya. Kenapa?”

“Badan dan seluruh tubuh Bapak kog pada terasa capek semua. Mestinya Aceh itu ya jauuuuh sanget, nggih Pak?’

“Ha, iya. Wong ada di ujung pulo Sumatra sana!. Kamu bisa membayangkan bagaimana jauh itu?”

“Ya, bisa pak. Wong dulu di SD juga dapat ilmu bumi, lho, pak.”

“Lha, ya, sudah. Berapa jauh Aceh itu dari sini kira-kira?”. Mr.Rigen berpikir keras. Wong pegangannya di kaki saya terasa mengendur.

“Ha, kira-kira ya bolak-balik Praci-Wonogiri 27 kali terus masih ditambah ngubengi, keliling Gunung Gandul 10 kali. Enggih apa boten?’

“Rupamu. Ya masih kurang jauh sekali, Gen. Wong naik pesawat jet dari Jakarta saja kira-kira tiga jam itu”.

‘Weh, edan tenan jauhnya. Lha, terus orang-orang Aceh yang di sana itu apa ya seperti mahasiswa Aceh yang di sini, pak?’.

“Lha, iya wong saksuku kok. Ning wong Aceh itu macam-macam tampangnya. Ada yang putih blengah-blengah, ada yang hitam cemani seperti Kresna, ada yang matanya biru seperti Londo,  ada yang hitam seperti orang India, pokoknya macam-macam”.

“Weh, kok begitu?”

“Lha, iya, Aceh itu sejak dulu-dulu duluuu jadi tempat perdagangan dan tempat mampir macam-macam bangsa. Lha, keruan saja mereka pada berbaur Gen. Aceh itu dulu kerajaan hebat, lho, Gen. Rajanya naik gajah, lho, Gen

.

“Weh, elok, Gajah itu jadi tumpakan ratu?’.

“Ha, kalau raja agung binatara ya mesti begitu, Gen. Lha raja sana itu dulu juga suka adu gajah.”

27 belum ada

 

27 ( sudah ada, minggu terakhir Januari 2011)

“Weh, elok. Gajah kok diadu, lho. Terus dapatnya gajah itu gek dari mana?’.

“ya dari hutan, Gen. Hutan sana banyak gajahnya.”

“Weh, kalau hutan sini kok cuma banyak munyuk dan kera saja, lho”.

‘Ha, iya. Yang masuk desa munyuknya malih jadi seperti kamu, to, Gen ?

“Yak, bapak ki terus menghina lho. Ning kalau sama kerajaan Mentaram hebat mana krajaan Aceh itu, pak. Rak hebat  Mentaram to. Pak?”

“Ya mungkin sama-sama hebat.”

“Ning apa raja Aceh punya Kyahi Plered, punya kreta kencono, punya istri ratu lelebut Nyai Roro Kidul, punya Sultan Agung yang pernah ngepung Betawi “. Wii, nggak punya to mereka, pak ?”.

Saya jadi terkesima. Sambil tengkurep, memenjamkan mata, menikmati jari-jari Mr. Rigen yang terus nyet-nyet-nyet menggerayangi belakang saya, saya jadi ingat yang pada hadir di seminar Pekan Kebudayaan Aceh itu. Mereka, tua dan muda, yang masih pada penuh kebanggaan berbicara tentang kedahsyatan Iskandar Muda yang Agung yang telah berhasil membangun suatu kerajaan nyang kuat lagi makmur ; tentang kehebatan generasi nenek dan buyut mereka melawan Belanda ; tentang keperkasaan mereka mempertahankan Aceh sebagai wilayah terakhir dari Republik Indonesia. Suatu kebanggaan dan kerinduaan yang wajar dan dapat dimengerti karena itu semua memang sudah dicatat dalam buku besar sejarah kita.

Tetapi waktu mereka diingatkan bahwa semua raja besar di Nusantara ini, termasuk Iskandar Muda dan Sultan Agung, adalah raja-raja yang absolute kekuasaannya dan karenanya, mestinya, juga sewenang-wenang, kok banyak dari mereka jadi naik ampernya.

Juga waktu diingatkan bahwa pengorbanan rakyat Aceh mengumpulkan dana lewat obligasi nasional”. “Sebaiknya.

28

Diikhlaskan saja sebagai salah satu dari sekian banyak rentetan tumbal kemerdekaan. Seperti tumbal rakyat Jawa Barat yang pada mati dibunuh D.I, rakyat Jawa Timur yang mati dibunuh P.K.I,  rakyat Sulawesi Selatan yang dibunuh Westarling. Kok mereka jadi terheran-heran mendengar argumentasi tumbal’ itu?’, tulis Dr. Umar Kayam.

Berakhirlah sajian ; “Aceh dipantau dari luar daerah”. Kecuali si “LOPER” dan Dr. Umar Kayam, kesemua pendapat dan pandangan yang terangkum dalam laporan ini diberikan putra-putri Aceh sendiri, baik yang dilahirkan, dibesarkan di Aceh maupun yang belum pernah menginjakkan kakinya di Tanah Aceh.

Kini, mereka sedang berada di rantau untuk menuntut ilmu. Hampir seluruhnya hidup mereka ditunjangi orang tua/keluarga masing-masing. Dan hanya satu-dua yang ‘makan beasiswa’. Mereka belum punya kemampuan atau potensi apa-apa. Entahlah nanti serampung studi. Mungkin pula, mereka juga akan larut dan tua sepulang ke Aceh seperti diungkapkan si “LOPER” di awal tulisan ini; Wallahu ‘aklam!.

Pikiran-pikiran mereka yang terangkai ini, hanyalah penyaluran ‘uneg-uneg’ yang sekian lama mencari saluran. Nampaknya, biar diri mereka penuh dengan keprihatian ekonomi serta beban studi, pengalaman di rantau juga terekam di benak tampa terasa. Sekarang, sebagian pengalaman itu telah disalurkan lewat tulisan  ini. Menghendaki pikiran yang matang dan tuntas, memang belum pantas dituntut dari mereka. Namanya saja mereka masih “belajar”, maka salah dan silap adalah wajar. Cuma saja mereka mengharap, janganlah dicap bagaikan akhlak Si Amat Rhang Manyang yang mendurhakai bundanya, akibat limpahan kekayaan selama di rantau. Kesemua putra-putri Aceh itu, bukanlah berwatak Malim  Kundang,  Si Kinantan atau Amat Rhang Manyang. Tetapi manusia-manusia biasa yang tak cepat lupa daratan!. Insya Allah. (Mohd. Nuor Hasballah & T.A. Sakti, Taman Pelajar Aceh Yogyakarta).

(T.A. Sakti).

9-9-1988.                                                                                      Mohd. Nuor  H

27 – 1 – 1409

Catatan Kemudian: ( 1 ) Karya laporan di atas tidak utuh lagi, karena beberapa halaman sudah hilang. Entah bisa dijumpai lagi dalam tumpukan kertas-kertas kusam atau pun sudah hancur terendam air/lumpur tsunami; wallahu’aklam!. ( 2 ) Mohd. Nuor Hasballah, selaku pewawancara laporan ini, di kalangan warga Aceh di Yogyakarta, ia lebih dikenal dengan nama Teungku Sabi. Nama-nama samaran khas Aceh ini memang nama ‘panggilan’ yang mentradisi di Asrama Aceh Meurapi Dua,Yogyakarta. Setelah belasan tahun kehilangan kontak, kemaren, 31 Januari 2011 saya mendapat no. HP dari Drs. A. Wahab Abdi,M.Si – Kepala Humas Unsyiah –

sehingga kami terhubung kembali. Langsung di ruang kantor HUMAS itu kami saling menyapa lagi. Rupanya Tgk. Sabi sudah 3 tahun tinggal di Aceh kembali, tepatnya di Lam Baro, Banda Aceh.  Bale Tambeh Darussalam, 1 Februari 2011, T.A. Sakti.

Catatan lebih kemudian: Alhamdullah, akhirnya ke 28 halaman lembaran kertas buram tempat saya tulis “laporan’  dari Yogya  terjumpai dalam tumpukan kertas kusam berbau anyir lumpur tsunami. Sore menjelang maghrib tadi saya postingkan. Kemaren sore pula, Rabu, 9 Feb. 2011 jam 18.05 wib. Tgk. Sabi selaku pewawancara laporan ini juga datang ke rumah saya. Berarti,  menjadi lengkapnya ‘tulisan ini, juga disertai  bertemunya kami berdua yang sudah berpisah bertahun-tahun!. Syukur alhamdulillah!!!.  Bale Tambeh, 11 Februari 2011, pukul 12.39  AM/malam).

Iklan

Satu pemikiran pada “Melihat Propinsi Daerah Istimewa Aceh dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

  1. Selamat dan sukses, semoga selalu dimudahkan jalannya. dan yang pasti beranjangsana serta silaturahmi merupakan pembuka pintu rejeki.

    terima kasih banyak, support dan simpati buat blog ini, Jaya dan Maju … Sukses …

    dari albahaca production, 0815 7020 271
    http://pesankaosonline.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s