Inilah “Simpul” Hubungan Aceh – Yogyakarta

44 Tahun Mengabdi untuk Masyarakat Aceh

Semoga Menumbuhkan “Simpul”  jalinan Kerjasama Aceh-Yogyakarta

Pengantar

Ini merupakan kisah sejati dua orang kaka-beradik yang menaburkan bakti tulusnya bagi mahasiswa Aceh yang mondok di Asrama Meurapi Dua Yogyakarta. Sang kakak sehari-hari dipanggil Yuk Harjo, Si adik dipanggil Yuk Mar.. Keduanya   telah puluhan tahun menyumbangkan karya baktinya buat generasi muda Aceh yang sedang menuntut ilmu di Kota Budaya Yogyakarta. Pergaulan antara mahasiswa Aceh dengan Yuk Harjo dan Yuk Mar; sangat akrab, bagaikan adik dengan kakak, atau  bagai anak dengan orangtua. Ini suatu pertanda  bahwa perlakuan orang Aceh terhadap “orang lain” di luar klannya cukup manusiawi. Melalui hubungan dan  perlakuan   seperti ini  diharapkan nantinya terjalin kerjasama Aceh – Yogyakarta.

Manisnya pergaulan Yuk Harjo dan Yuk Mar dengan mahasiswa Aceh, ditulis dalam bahasa yang apik oleh Drs. T.A. Sakti, SmHk, mantan penghuni Asrama Meurapi Dua Yogyakarta. Ia juga orang yang pernah menikmati bagaimana lezatnya nasi dan lauk yang dimasak oleh kedua kakak angkatnya itu.

Dewasa ini, ratusan orang Aceh (seterusnya disebut: mahasiswa Aceh) yang menyelesaikan studi di Yogyakarta telah memegang posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka sudah menjadi orang ternama, baik di Provinsi Daerah Istimewa Aceh, di daerah-daerah lain, di tingkat nasional; bahkan di luar negeri.

Banyak sumber menyebutkan, bahwa diantaranya yang bernasib baik, ada yang pernah menjadi gubernur, bupati anggota DPR tingkat pusat dan daerah, pedagang sukses, rektor universitas/institut, guru besar, dosen, serta berbagai profesi lainnya.

Sepantasnyalah diingat, bahwa berhasilnya studi manusia Aceh itu; tidak terlepas dari peranan dua orang perempuan asal desa Kaliurang, Yogyakarta. Keduanya, sudah 44 tahun mengabdikan diri untuk para mahasiswa Aceh yang studi di berbagai perguruan tinggi di sana. Kedua wanita itu berperan sebagai pembantu asrama pada salah satu asrama mahasiswa Aceh, yaitu Asrama Meurapi Dua (Jln. Sunaryo No. 2, Kotabaru, Yogyakarta).

Mengapa penulis menganggap mereka “mengabdikan diri? Padahal selaku pembantu asrama; keduanya dibayar gaji setiap bulan?”

Jawabannya akan terungkap sepanjang uraian tulisan ini!

Gambar: Manusiawi dan akrab

Yuk Harjo (kanan) dan Yuk Mar  mengapit penulis seusai Wisuda.

Foto ini diabadikan di depan Perpustakaan Asrama Aceh Meurapi Dua,

Nopember 1987.

Kesan Unik

Faktor apakah yang menyebabkan kedua orang itu betah bertahan sampai 44 tahun?. Padahal tugas-tugasnya cukup padat dan berat, sebagai pembantu yang mengurus makan-minum dan bermacam-ragam tugas-kerja lainnya?. Seandainya sebab gaji di asrama Aceh itu mungkin lebih tinggi, pasti bukan; karena gaji pembantu di tempat lain bahkan lebih besar. Mau dijadikan alasan bahwa  kebetahan itu lantaran terpaksa,  sebab sulit memperoleh kerja ditempat lain. Alasan demikian juga tidak tepat, karena pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga ataupun pembantu asrama; selalu terbuka, apalagi bagi orang-orang yang sudah sangat terampil dalam profesi sebagai pembantu, seperti pengalaman kerja yang dimiliki kedua orang itu, yakni berpengalaman kerja selama 44  (empat puluh empat) tahun.

Sungguh tidak bersangkut-paut dengan gaji!.  Bukan, sekali lagi, bukan karena masalah gaji besar atau sulit mendapatkan pekerjaan ditempat lain, yang mempengaruhi kedua wanita lebih setengah baya itu tetap betah (istiqamah) bertahun-tahun bekerja mengurus manusia Aceh yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta, yang sangat populer sebagai kota pendidikan.

Setelah mengamati secara diam-diam, perilaku/segala tindak-tanduk para anggota penghuni asrama , maka penulis telah menemukan kesan-kesan unik yang sukar atau jarang kita jumpai di temapt-tempat lain. Ke-unikannya adalah tersimpul dalam segala urusan; berkaitan hubungan timbal-balik antara majikan (yang membayar gaji) dengan para pemabantu/pesuruhnya (orang yang digaji).

Pergaulan kakak-adik

Sungguh menakjubkan! Ternyata dalam pandangan para mahasiswa Aceh; kedua perempuan kakak-adik itu tidaklah dianggap sebagai “ pembantu resmi “ seperti pandangan umum yang sudah lazim mentradisi. Dalam pergaulan setiap hari, para mahasiswa/i Aceh bersikap terhadap pembantu mereka bagaikan pergaulan diantara anggota keluarga sendiri layaknya.

Sebutan atau panggilan pun tidak digunakan istilah  bik ( bibik, bila diserukan  menjadi : Biiikkk –yang umum dipakai terhadap para pembantu di tempat lain).  Panggilan Biiikkk!, langsung memberi kesan makna sebagai pembantu atau babu. Sebaliknya, panggilan yang berdengung, menyejukkan jantung!. Para penghuni asrama selalu memanggilnya dengan gelaran: “Yuk’ (Yuuuukkkk!) yang berasal dari kata mbak Yu; yang berarti kakak.

Dalam pergaulan sehari-hari, pada kedua pembantu juga tidak nampak kesan atau sikap seorang bawahan terhadap atasan. Tingkah demikian tercermin dalam tingkah-laku sang pembantu ditempat-tempat lain; seperti mesti membungkuk-bungkuk, cemas, salah tingkah dan khawatir setiap hari. Kedua “pembantu” bebas bergerak, sebagaimana pergaulan antara seorang kakak dengan adik-adiknya dalam sebuah keluarga yang tenteram-damai.

Jadi, panggilan Yuuukk!  (mbak Yu = kakak) bukanlah  sekedar basa-basi, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam kegiatan hidup sehari-hari.

Suara bernada membentak, mengancam, bermuka sinis atau masam; sama sekali tidak pernah diarahkan kepada kedua  mBakyu oleh adik-adik asuhannya., Kedua belah pihak berbaur akrab dan saling menghargai seperti dalam sebuah keluarga bahagia. Kedua mBakyu yang mengabdikan diri bagi manusia Aceh itu, sebenarnya bukanlah orang sembarangan. Dalam arti tanpa sanak saudara serta keluarga. Sama sekali bukan, mereka juga memiliki sanak-famili yang banyak. Bahkan salah seorang dari adik laki-lakinya jadi anggota DPRD di Provinsi Timor-Timur.

Gambar: Akrab dengan mahasiswi

Yuk Mar (ujung meja) dibantu mahasiwi Aceh dari Asrama Putri Tjut Njak Dhien; sedang mempersiapkan bekal khanduri Ultah ke 39 Asrama Meurapi Dua, 4  April 1988.

Perlakuan manusiawi

Menurut analisa psikologis, terjalinnya hubungan akrab antara manusia yang berbeda ‘status’ bisa disebabkan beberapa faktor. Diantara sebab-sebab utama adalah faktor perlakuan yang manusiawi  dan saling menghargai. Itulah yang merupakan sebab dominan terjalinnya ikatan batin antara kedua belah pihak.

Berdasarkan pengalaman penulis yang bertahun-tahun tinggal di komplek kamar kost-sewaan-sebelum tinggal di Asrama Aceh Meurapi Dua tersebut,  bahwa mencari pembantu yang bisa tetap bertahan bekerja selama  setahun penuh saja, sangatlah sukar mendapatkannya. Penulis bersama teman-teman, secara patungan menggaji pembantu. Biasanya, dalam tempo setahun saja terpaksa dua sampai tiga kali harus  mencari pembantu baru sebagai pengganti “pembantu lama”  yang sudah minta berhenti, atau telah minggat/pergi tanpa permisi alias melarikan diri.

Bila pengalaman penulis tersebut di atas dibandingkan dengan kemampuan para mahasiswa Aceh yang “sanggup mengikat atau membetahkan” dua orang pembantu asrama sampai 44 tahun-tanpa pernah terputus-bukanlah hal itu suatu prestasi besar??. Adakah para mahasiswa Aceh menggunakan  ‘jampi-jampi pengasih’, sehingga cukup berhasil dalam  “pergaulan antar insan itu???” Tidak, sama sekali tidak. Hanya perlakuan manusiawilah yang dominan sebagai modal utama keberhasilan pergaulan itu. Para penghuni asrama Aceh Meurapi Dua yang sekarang, tentu telah mewarisi sikap toleransi terhadap pembantu asrama, seperti telah dipraktekkan para mahasiswa pendahulu mereka. Pewarisan nilai manusiawilah masih melengket kental dan terpantul sampai saat penulis berpisah dengan mereka dipenghujung tahun 1988. Menurut informasi dari teman-teman yang tengah melanjutkan studi Pascasarjana di Yogyakarta: sikap toleran terhadap pembantu di Asrama Meurapi Dua masih tetap bertahan hingga sekarang.

Gambar: Tamu dari Aceh

Prof. Ali Hasjmy dan T.A. Talsya (membelakangi lensa)  berbincang-bincang dengan Prof.Drs. H.Husein Yusuf dosen IAIN Sunan Kalijaga dan Nyonya. Mereka menikmati teh yang dihidangkan Yuk Harjo dan Yuk Mar.

Bercerminkan  kasus perilaku para mahasiswa asal daerah Aceh di Yogyakarta, terbantahlah ” anggapan jahil “ yang kadangkala muncul kepermukaan,  yaitu anggapan keliru yang memvonis manusia Aceh sebagai pribadi-pribadi beringas, kurang manusiawi dan sejumlah perilaku negatif lainnya.  “Tuduhan”  demikian, sebenarnya bersumber  kejahilan pihak pelempar tuduhan yang  belum mengenal Aceh secara memadai. Kepincangan ini, terutama disebabkan sukarnya mendapatkan informasi mengenai daerah Aceh di luar daerah Aceh sendiri, baik yang berupa buku-buku, dalam majalah-majalah, surat-surat kabar, bahkan juga sulit diperoleh informasi melalui RRI dan TVRI Pusat Jakarta!.

Kembali ke pokok pembahasan!. Sungguh, perlakuan oleh mahasiswa Aceh memang luar biasa, kesan ini bukan sekedar pujian murahan, tapi benar-benar suatu kenyataan.

Boleh Anda bandingkan dengan perlakuan terhadap pembantu rumah tangga di London (Inggeris). Dalam siaran radio BBC London seksi Bahasa Indonesia pukul 18.20 Wib tanggal 24 Oktober 1990 dalam acara  “Dibelakang Layar”, radio BBC London banyak menceritakan kehidupan pembantu rumah tangga di London saat ini.  Ternyata kehidupan mereka sangat menderita, karena diperlakukan oleh majikan mereka secara kejam, kasar, sinis tanpa perikemanusiaan. Secara singkat, yang perlu saya kutip dari  siaran  radio itu adalah ungkapan pertama: “Pembantu rumah tangga di London  diperlakukan seperti budak belian”. Sorotan mengenai kehidupan pembantu dalam acara “Di belakang Layar”  itu juga disertai pula wawancara dengan tiga orang pembantu. Kesimpulan dari wawancara itu membuktikan, bahwa perlakuan akan pembantu rumah tangga di London sangat jelek, tidak manusiawi; padahal negara itu cukup terkenal sebagai pelopor demokrasi Hak Asasi Manusia (HAM) dan sekaligus negara industri modern. Sungguh, mereka sangat keterlaluan.

Bukankah apa yang dialami pembantu rumah tangga di London sangat bertolak belakang dengan “ perhatian”  para mahasiswa Aceh terhadap kedua pembantu asramanya. Mahasiswa Aceh  “menservis”  pembantu dengan perlakuan yang manusiawi dan saling menghargai!. Di samping itu, yang tidak kurang penting pula adalah  ‘pendekatan’  lain  yang juga  dipraktekkan penghuni asrama mahasiswa AcehMeurapi Dua Yogyakarta, yang boleh menjadi menyebabkan kedua pembantu asrama betah-bertahan sampai 44 tahun. Di antara cara pendekatan yang sudah jadi tradisi di asrama Meurapi Dua itu, seperti  memberi hadiah kepada pembantu asrama ketika kenduri hari ulang tahun asrama, yang biasanya diserahkan oleh salah seorang mantan penghuni asrama yang dianggap  “paling beken”  diantara para hadirin pada saat itu. Selain itu, kadang-kadang pula diberi hadiah Lebaran dan foto bersama” pembantu asrama”  dengan setiap penghuni yang baru saja diwisuda sarjana. Sungguh manusiawi!!!.

Missi muhibbah (?)

Penulis hanya mampu berdesah dalam hati, alangkah sayangnya kedua syeedara seubut ( saudara angkat) yang sudah berbakti atau mengabdi  lebih separuh hidupnya untuk mengasuh calon-calon orang pintar dari manusia Aceh. Tugas yang dipikul cukup berat dan ketat; mengurus makan -minum bagi mahasiswa yang sehat, menyuapi makan buat yang sedang sakit dan melaksanakan bermacam tugas lain bagi kepentingan manusia Aceh. Kesudian menyuapi nasi makan bagi yang sakit, penulis saksikan sendiri pada awal Januari 1988. Kebetulan yang sakit demam panas/cacar saat itu adalah seorang mahasiswa Aceh asal Jakarta; kedua orang tuanya menetap di Jakarta.

Namun sangat disayangi, keduanya hingga kini belum pernah menyaksikan atau menginjakkan kaki mereka di bumi Tanah Aceh; tempat lahir sebagian besar manusia Aceh yang pernah turut diasuhnya. Manusia Aceh itu telah makan-minum hasil  olahan tangannya saat kedua mBak Yu memasak makanan di dapur.

Pernahkah keduanya berangan-angan, bahwa sebelum urusan dunia berakhir segalanya, mudah-mudahan terbukalah kesempatan melihat langsung daerah Aceh???. Mengenal Provinsi Aceh sudah pasti lebih sempurna, jika tidak sekedar mendengar celoteh para mahasiswa Aceh yang sedang dilanda rindu kampung halaman, seperti yang sering didengar keduanya selama ini!!!. Secara terus-terang, niat begitu tak akan pernah diungkapkan. Tapi siapa tahu keinginan itu sudah bersarang puluhan tahun dalam hatinya… (???)

Sementara itu, para tokoh masyarakat Aceh yang sewaktu dulu pernah diasuhnya; mungkin pula belum pernah terlintas dibenak mereka untuk melancarkan Missi Muhibbah ke Aceh bersama-sama mantan pembantu mereka dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berkunjung ke Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Walaupun benar demikian, sekarangpun belumlah terlambat.!!!\

Dua Daerah Istimewa

Hadih Maja (pepatah) Aceh punya suatu sindiran tajam kepada orang-orang yang tak tahu membalas budi atau sengaja melupakan jasa baik orang lain kepada seorang (dirinya). Kenyataan itu diumpamakan seperti orang menaiki rakit batang pisang. “ Lagee Raket bak pisang, oh lheuh tajeumeurang tatulak raket lam Bangka! “(bagaikan rakit batang pisang, sesudah dipakai menyeberang dibuang rakit ke rumpun bakau!). atau “Lagee Raket bak pisang, galah bak rangkileh,. Oh lheueh ta jeumeurang hanho taba raket paleh!” (bagaikan rakit batang pisang, galah bak rangkileh. Sesudah dipakai menyeberang, biarlah mampus rakit celaka!, persetanlah  kamu‼).

Hadih  Maja ini menegaskan bahwa sikap atau perilaku sebagaimana orang-orang yang menggunakan rakit barang pisang, bukanlah kelakuan insan yang beradab!. Adakah diantara manusia Aceh yang berakhlak demikian???. Pasti banyak!. Kalau tak ada; mana mungkin sampai-sampai endatu (nenek moyang) kita mewariskan sebutir etika pergaulan; agar cucu-cicitnya tahu diri  bila telah ‘makan budi’ orang lain.

Kembali kepada kisah dua mBakyu pembantu. Akankah mengalami nasib yang sama seperti “musibah” rakit batang pisang; yang segera di buang selesai menyeberang??? Padahal banyak dari orang-orang yang pernah diasuhnya; sekarang sudah menjadi orang-orang terpandang, baik di Aceh dan yang berada diluar daerah Aceh saat dewasa ini!!!

Tidakkah terlintas di hati Bapak-bapak yang ‘berpangkat tinggi” atau yang sudah  menjadi tokoh masyarakat itu untuk menghaiahkan “kado kenang-kenangan” yang sangat berkesan bagi kedua mantan saudara angkat (Syeedara seubut) mereka??? Ataukah syeedara seubut tersebut hanya mereka anggap sudah dibuang; bagaikan nasib raket bak pisang???.

Kado kenang-kenangan paling berkesan bagi penulis maksudkan, yaitu mengundang kedua mBak Yu itu untuk menjadi turis domestik ke Provinsi Daerah Istimewa Aceh, moga-moga saja kunjungan kedua insan kalangan bawah ini, dapat berfungsi sebagai utusan missi muhibbah dari penduduk daerah istimewa Yogyakarta; yang bisa mampu merintis jalan bagi  membina hubungan kerjasama dan persahabatan lebih kental antara kedua provinsi, yang hingga kini masih berpredikat Daerah Istimewa di Republik Indonesia ini…‼!

Terjalinlah ikatan kerjasama yang kuat antara Provinsi Daerah Istimewa Aceh dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang hanya memiliki satu keistimewaan saja!,  yaitu setiap gubernurnya mestilah dari keturunan Sultan Yogyakarta serta wakil gubernurnya selalu dari keturunan kerajaan Pakualaman, namun kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, daerah ini mampu mewujudkan pula sejumlah bidang seperti: bidang pendidikan, adat istiadat (kebudayaan), pariwisata, dan tidak ketinggalan pula di bidang perkembangan agama (Islam).

Beberapa tokoh pemikir Islam yang sedang dan terus berkiprah di republik Indonesia dewasa ini, seperti Dr. Kuntowidjojo, Dr. Amin Rais, Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Emha Ainun Najib; sampai hari ini keempat mereka masih bertempat tinggal di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (tempatnya; di kota Yogyakarta). Bila sempat adanya ikatan kerjasama antara “Dua Daerah Istimewa di Indonesia” akan lebih mudahlah diwujudkannya upaya saling bertukar pengalaman bahkan saling membantu dalam berbagai bidang kegiatan pembangunan. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya sikap saling bercermin diri.., sungguuuuhhhh‼!. Semoga!.

T. A. Sakti alias Drs. Teuku Abdullah Sulaiman, SmHk adalah Alumnus Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan mantan penghuni asrama mahasiswa Aceh “Meurapi Dua”, Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta

Mondok selama  14 bulan

Sumber: Majalah  PANCA,  Mei – Juni 1994 halaman  29  s/d  32.

PANCA, terbitan Kanwil Transmigrasi/Mobilitas Penduduk, ACEH.

( Catatan Kemudian: Gubernur Aceh sekarang, Ir. Irwandi Yusuf, M.Sc adalah salah seorang yang pernah 8 bulan  (  1987 – 1988 ) tinggal di Asrama Merapi Dua, Yogyakarta. Bale Tambeh, 1 Januari 2011, T.A. Sakti ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s