Memperingati 26 Tahun Konferensi Asia – Afrika

ASIA – AFRIKA

Oleh : T. A. Sakti

 

 

“Marilah kita sadari kekuatan Asia – Afrika dimasa lampau, kita memang tidak ingin melamun dan mengagumi masa lampau itu. Kita perlu menyadari kekuatan masa lampau, karena kita ingin membangun masa depan dengan kuatan itu”

 

Kutipan dari kata-kata sambutan Presiden Soeharto, pada peringatan        seperempat abad KAA, 24 April 1980.

 

 

KEKUATAN TERPENDAM

HATI SIAPA,  yang tidak bangga dan kagum, bila mengenang kembali peringatan keseperempat abad Konferensi Asia – Afrika tahun 1980 lalu.  Kita juga terkenang pada tokoh-tokoh yang berinisiatif untuk mengadakan pertemuan besar tersebut. Peristiwa itu berlangsung tahun lalu dan hanya tinggal kenangan. Kini, tanggal 24 April tiba kembali. Berarti sejarah Konferensi Asia- Afrika  telah 26 tahun berlalu. Walaupun upacara memperingatinya tidak semeriah peringatan 24 April 1980, namun kita tergugah juga untuk mengenang kembali. Walaupun tanpa upacara besar.

Kita patut berbangga dengan negara kita, karena disinilah (Indonesia), 26 tahun yang lalu Konferensi Asia – Afrika berlangsung. Tanah ini telah pernah menerima tamu “putra-putra pilihan” dari sejumla negara Asia – Afrika. Kota Bandung yang sementara dulu sering disebut-sebut dengan “Hallo-hallo Bandung….. ibukota Periangan” mulai saat Konferensi Asia – Afrika 1955, kota Bandung bukan hanya sebagai “ibukota Periangan”, tapi telah berobah secara revolusi. Hingga jadilah Bandung Ibukota Asia – Afrika”,  ucap  Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru, yang menghadiri . konferensi tersebut.  Dengan konferensi Asia – Afrika di Bandung, nama Indonesia menjadi harum dan semakin dikenal di arena internasional. Di Bandung waktu itu, betemulah para wartawan dari panca benua. Mereka bermaksud mengkofer pidato-pidato dari  Panca Perdana Menteri dan peserta konferensi lainnya. Oleh para wartawan, semu kegiatan konferensi disiarkan keseluruh dunia. Sebelum konferensi Bandung tahun 1955, orang luar Indonesia, terutama mereka yang negaranya sangat jauh dari Indonesia masih sukar membedakan antara perkataan Indonesia dengan perkataan Indocina. Mereka menganggap, Indonesia sama dengan  Indocina. Dan begitu pula sebaliknya, Indocina sama dengan Indonesia. Kekeliruan itu bisa terjadi, karena kedua perkataan tersebut mengnadung kata “indo” dalam pengucapannya. Mungkin dari sinilah asal panca kekeliruan mereka.

KECURIGAAN PIHAK BARAT

Kita masih ingat, bahwa jauh sebelum konferensi Bandung diadakan,  pihak Barat mengikuti serius segala gerak-gerik negara-negara bekas jajahannya.  Setiap gerakan politik dari negara-negara Asia-Pasifik, senantiasa diikuti oleh bangsa kulit putih dengan rasa benci dan curiga. Jantung mereka bergetar dag…dig…dug… Segala sepak terjang negara-negara  Asia – Afrika yang baru saja merdeka  dari penjajahan diamati terus.  Mereka mencari jalan bagaimana cara suapaya Negara-negara yang  baru lahir tidak bersatu. Bermacam issyu diciptakan oleh pihak kolonialisme, demi memecah belah persatuan antara negara-negara Asia – Afrika. Timbul pertanyaan, mengapa bangsa-bangsa Barat sangat bersungguh-sungguh berusaha menghalangi kemajuan rakyat Timur? Sebagai jawaban tepat, ialah dengan sifat keterbelakangan bangsa-bangsa Timur, mereka mengharapkan supaya bangsa Timur selalu terpaksa menggantungkan diri pada tehnologi Barat, yang otomatis politik dan eknomi mereka akan selamanya baerkiblat ke Barat. Dugaan lain yang menyebabkan pihak Barat intensif sekali mengintai setiap gerakan politik bangsa-bangsa ini, ada kemungkinan mereka takut berulang kembali sejarah lama. Pengalaman menulis: “Sebenarnya mulai saat runtuhnya kerajaan Roma seribu tahun sebelumnya, penghidupan di Eropa intensif dan ressesif. Usaha Eropa satu-satunya untuk mengadakan ekspansi di abad pertengahan (Perang Salib) gagal sama sekali. Malah sebaliknya, Eropa putih terus menerus diserang oleh orang-orang berkulit coklat dan kuning dari Asia. Mulai dari suku Hun diakhir kerajaan Roma, kemudian diikuti oleh bangsa Arab dan akhirnya oleh orang-orang Mongol dan Turki Othman. Eropa selama seribu tahun mengalami agressi Asia; dan sungguhpun Eropa masih dapat mempertahankan kemerdekaannya, banyak daerah-daerah perbatasan diduduki oleh orang-orang Asia. Misalnya pada tahun 1480 bangsa Turki meluaskan daerahnya melalui Eropa Tenggara, Rusia masih di bawah pengaruh suku Tartar, sedang bangsa Arab berkuasa di Spanyol Selatan,” demikian mulai abad ke XVI, perjalanan sejarah dunia mulai terbalik seratus persen, dengan apa yang telah ditulis pengarang ini. Hampir seluruh Asia menjadi daerah jajahan bangsa-bangsa Eropa. Dan baru setelah Perang Dunia ke II, secara berangsur-angsur Eropa melepaskan daerah koloninya. Pada permulaan abad ke XX, suara-suara yang lantang mulai didengungkan oleh pemimpin-pemimpin Asia – Afrika. Suara mereka menggema ke seluruh dunia.

Mereka mengajak, mengimbau segenap bangsa terjajah bersatu tenaga untuk menghalau penjajah. Tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan menanamkan pada pengikutnya sikap percaya pada kekuatan sendiri dalam memebebaskan tanah air. Di Hindia Belanda masa itu, pengaruh Soekarno besar sekali. Pidato-pidato beliau membuat penjajah geger dan lemas sendi tubuh mereka. Tentang persatuan antara negara-negara Asia – Afrika Bung Karno berkata: “Bila Sphinx dari Mesir, Lembu Nahdi dari India, Ular Hydra dari Birma, Gajah Putih dari dari Thailand, Leong Barongsai dari Tiongkok dan Banteng dari Indonesia bersatu-padu, tidak ada satu kekuatanpun di dunia yang dapat mengatasinya.”

 

DASA SILA BANDUNG

Konferensi Asia – Afrika tahun 1955 di Bandung itu, merupakan pelaksanaan dari politik bebas-aktif dari UUD 1945. Pada pembukaan UUD 1945 berbunyi: “Bahwa sesungghnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Konferensi Asia – Afrika di Bandung,  yang dihadiri oleh  29 negara Asia – Afirika, merupakan pertemuan puncak pertama terbesar dari pemimpin negara-negara yang baru merdeka. Sehingga tidak heranlah, sewaktu konferensi ini hendak diadakan, hampir semua pers Barat (Eropa) meremehkannya. Mereka mengatakan, bahwa konferensi tersebut tidak punya arti sama sekali, hanya gembar-gembor Sukarno saja.

Lima orang Perdana Menteri turut hadir di Bandung. Mereka, ialah PM Unu dari Burma, PM Jawaharlal Nehru dari India, PM Ali Sastroamidjojo dari Indonesia, PM Chou En-Lai dari Tiongkok, PM Sir John Kotelawala dari Sri Langka dan PM Mohammad Ali Bogra dari Pakistan.

Menurut Mr. Ali Sastromidjojo yang bertindak sebagai ketua sidang, Konferensi Asia – Afrika itu diadakan dengan tujuan: 1. Memecahkan masalah menentang penjajahan asing di Asia – Afrika, 2. Memajukan kerja-sama antara bangsa-bangsa Asia – Afrika untuk

Afrika di dunia dan menyumbangkan usahanya guna perdamaian dan kerja sama. Semua rumusan hasil konferensi Bandung, disimpulkan menjadi sepuluh prinsip, yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Piagam Bandung (Bandung Declaration). Di “Bandung” selama seminggu yang abadi itulah, ibukota Afro – Asia menjelma. Dan Abad Asia yang baru dan penuh kejayaan telah lahir.

Sesuai dengan bahasa Tuan Nehru yang asli: “Asia kini tidak lagi pasif; dahulu memang pasif. Kini tidak lagi Asia yang tunduk; Asia telah terlampau lama menyerah. Asia dewasa ini dinamis dan penuh kehidupan.” Pada acara pembukaan Konferensi Asia – Afrika tahun 1955, Presiden Indonesia Bung Karno antara lain berucapa:

“Mari kita ingatkan, bahwa cita-cita manusia yang paling tinggi ialah kebebasan manusia dari belenggu-belenggu ketakutan dan kemelaratan ialah pembebasan manusia dari belenggu jasmani, rohani dan intellek yang telah lama sekali  menghambat perkembangan mayoritet ummat manusia. Dan marilah kita sadar, saudara-saudara dan saudari-saudari, bahwa guna kepentingan seluruhnya itu,kita rakyat-rakyat Asia – Afrika harus bersatu padu (aslinya bahasa Inggeris).

Dua puluh enam tahun, telah berlalu sejak Konferensi Bandung diadakan. Berbagai pengalaman baru , telah dialami oleh Negara-negara Asia  Afrika. Banyak Negara baru  yang lahir dan merdeka. Bebas dari dominasi asing. Tegak berdiri sendiri, hidup bersama tetangga Negara Asia – Afrika.

Sungguh besar jasa  para pemimpin yang telah mendorong tercetusnya idea mengadakan Konferensi Asia – Afrika. Untuk saat sekarang, semua penganjur utama konferensi, telah meninggal dunia. Maka sudah pada tempatnyalah, kalau pada peringatan seperempat abad Konferensi Asia – Afrika, Presiden Soeharto  memberikan  penghormatan pada arwah tokoh-tokoh dunia itu. Presiden berkata: “Namun terima kasih kita kepada mereka tetap tidak terhingga. Jasa-jasa mereka akan dikenang sepanjang masa. Dan pikiran-pikiran besar mereka akan dilanjutkan oleh generasi demi generasi”. Demikian Presiden Soeharto,.

Hiduplah semangat Bandung bagi kemajuan Asia – Afrika!!! Sekian!.

 

 

( Sumber: Harian “WASPADA” Medan, Kamis, 23 April 1981 halaman III ).

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s