Ikrar Baiturrahman- Pernyataan Sikap Rakyat Aceh untuk…

Setahun Ikrar Baiturahman

Kalau Ikrar Lamteh pada tanggal 7 Maret 1957, merupakan peletakan batu pertama keamanan Aceh, setelah sekian tahun diamuk kekacauan, maka “IKRAR BAITURRAHMAN”, adalah suatu pernyataan tegas dan lantang dari seluruh rakyat Propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk mempertahankan gelar “Serambi Mekkah” bagi daerahnya.  Pernyataan yang spontan dan penuh tekad  itu adalah sebuah jawaban kongkrit terhadap permintaan Bapak Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, yang meminta supaya rakyat Aceh sudi kiranya melepaskan julukan  yang mulia itu. Jika mereka setuju, oleh sekretariat MUI tersebut, akan dipakai untuk julukan Ibu Negara Republik Indonesia, sehingga akan menjadilah sebutannya : Jakarta Kota Serambi Mekkah”.

Peristiwa penting dan bersejarah tersebut, telah berlaku lebih dari setahun lalu. Kejadian itu berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Penulis katakan “penting dan bersejarah”, karena permintaan itu merupakan kejutan bagi rakyat Aceh dan memang belum pernah terjadi sejak  sebutan Aceh  Serambi Mekkah muncul didunia. Dan hal ini merupakan tantangan yang dilontarkan oleh Majelis Ulama Indonesia Pusat. Dalam kunjungan kerja ke  Majelis Ulama Indonesia Propinsi Daerah Istimewa Aceh, telah mengadakan beberapa kali ceramah dalam kota Madya Banda Aceh dan sekitarnya. Dalam ceramah tanggal 25 Rabiul Awal 1400 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 12 Maret 1980 Miladiyah yang berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman itu, telah turut memberikan ceramah Prof. Dr. Hamka selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia dan Bapak K.H. Amiruddin Seregar sebagai sekretaris majelis tersebut.  Acara hari itu dimulai jam, 9.00 hingga lewat pukul 12.00 wib, Prof. A.Hasjmy yang juga Rektor IAIN Jamiah Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, dalam kata pengantarnya A.Hasjmy menjelaskan beberapa hal tentang Aceh, terutama nasib sedih yang dialami oleh Badan Kemakmuran Mesjid yang telah pernah berjasa. Tapi sayang sekali, dalam tahun- tahun terakhir ini kegiatan dari badan tersebut telah lumpuh sama sekali. Penyebab utama hilangnya aktifitas Badan Kemakmuran Mesjid itu, karena timbulnya issue-issue yang mengambarkan, bahwa badan ini akan dipakai sebagai alat propaganda oleh golongan tertentu dalam menghadapi Pemilihan Umum tahun 1971. Badan Kemakmuran Mesjid yang di istirahatkan itu bukanlah hendak dibekukan untuk selama-lamanya, tetapi hanya buat sementara waktu, sambil keadaan normal kembali. Dan sempena memasuki abad ke XV H, mulai tanggal 25 Rabiul Awal 1400/12 Maret 1980 (sewaktu membuka acara ceramah tersebut) oleh Prof. A. Hasjmy menyatakan bahwa Badan Kemakmuran Mesjid di Aceh mulai diaktifkan kembali. Pernyataan beliau ini juga berlangsung di Mesjid Raya Baiturrahman. Dengan pengumuman tersebut seolah-olah A.Hasjmy melakukan tepung tawar ulangan (peusijuek geulayi;  puwoe roh) bagi Badan Kemakmuran Mesjid, yang telah sekian lama tidak aktif lagi.

Dapat penulis tambahkan, bahwa salah seorang tokoh Badan Kemakmuran Mesjid yang sangat aktif dan punya dedikasi paling besar adalah Bapak Drs. H. Soehadi. Dimasa itu beliau selaku Pangdak I Aceh, dapat kita saksikan hingga hari ini, bahwa, dihampir setiap resort kepolisian di Aceh sekarang terdapat mushalla (Meunasah) dan hal ini merupakan hasil aktifitas Pangdak I Aceh tersebut.

MESJID TAK PERNAH TIDUR

Sebagai pembicara pertama dalam ceramah hari tersebut adalah Bapak K.H. Amiruddin Siregar. Dalam kesempatan itu antara lain menyatakan bahwa fungsi mesjid bukan hanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan ibadat saja. Tapi juga bagi semua kegiatan ummat, asal saja tidak masuk larangan agama. Kalau semua itu dapat dilaksanakan,  maka jika demikian barulah mesjid berfungsi dengan sebenarnya. Mesjid tak pernah tidur (Mosque never sleep) selama dua puluh empat jam;  itulah yang mesti kita bina  kembali.

K.H. Amiruddin Siregar memberi contoh kegiatan mesjid yang dilaksanakan oleh Mesjid Agung Al Azhar Jakarta. Kegiatan2 itu seperti pengajian-pengajian, training center, latihan kesenian, membuat panitia membantu fakir miskin, mengadakan kegiatan olah raga. Latihan-latihan pramuka juga tidak ketinggalan diadakan dihalaman mesjid. Dimasa penumpasan P.K.I Markas Besar Angkatan 66 juga bermarkas disana. Akibat banyak bidang kegiatan dilaksanakan oleh Mesjid, maka semua aktifitas masyarakat dapat disalurkan. Mulai dari golongan elite, pegawai sipil dan ABRI, buruh, tukang beca dan gelandangan2 jadi betah tinggal di mesjid. Dimasa sekarang banyak sekali kader-kader hasil tempaan Mesjid Agung Al Azhar Jakarta telah tersebar diseluruh Indonesia dan luar negeri. Dimana mereka berada, disana juga mereka tanamkan benih-benih yang baik dan unggul bagi masyarakat sekitarnya. Itulah keuntungan yang diperoleh, jika fungsi mesjid dapat diletakkan sesuai dengan fungsinya yang asli. K.H. Amiruddin selanjutnya menerangkan, bahwa peranan  orang tua sangat menentukan dalam sebuah keluarga. Seorang anak sudah pasti tidak mau mengerjakan shalat, bila dirumah ia tak pernah melihat kedua orang tuanya mengerjakan sembahyang. Ketika Komunis masih jayanya  di Indonesia; demikian KH Amiruddin, mereka berusaha supaya kaum gelandangan semakin besar jumlahnya. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah menjalankan jarumnya untuk menanamkan ideology Marxis.

Kita telah sama maklum, masyarakat yang miskin merupakan tanah yang subur bagi tunas-tunas kaum atheis. Isi pidato Sekretaris Majelis Ulama Indonesia itu sangat mengesankan bagi pendengarnya. Demikian pendapat beberapa orang yang turut hadir memberitahukan penulis. Tapi dari kesemuanya itu, sebuah gugatan  yang dimajukan oleh K.H. Amiruddin dalam kesempatan yang sama, telah membuat semua pendengar terperanjat. Semua mereka tersentak kaku, bagai orang yang hampir ketabrak mobil. Para pendengar saling memandang sesama mereka. Begitulah keadaan yang terjadi. Adapun keadaan demikian,  karena permintaan KH Amiruddin minta sebuah tanda mata (oleh2/ bungong jarou), yang akan beliau bawa pulang ke Jakarta. Dan yang beliau mintapun, merupakan sebutan yang paling bernilai bagi daerah Aceh. Hanya itulah yang dikehendaki. “Serambi Mekkah///” . Apakah tuan-tuan setuju???, demikian kira-kira bunyi pertanyaan dari sekretaris MUI. Dengan serentak dan tegas peserta rapat menjawabnya. “Tidaaaakkk, kami tidak setujuuuuu///”. Karena ceramah hari itu turut disiar langsung oleh radio “Suara Baiturrahman”, maka dapat dipastikan pula, semua pendengar dirumah juga memberi jawaban yang sama, yakni tidak setuju. Rupanya Bapak Prof. A. Hasjmy tergugah juga perasaan beliau dengan permintaan itu. Hal ini terbukti ketika hendak meneruskan acara selanjutnya sebelum mempersilahkan Hamka,  Prof. A. Hasjmy menanyakan lagi. Apakah kita setuju dengan permintaan, yang hendak mencopot julukan “Serambi Mekkah” dari Bumi Iskandar Muda. Dengan lebih bersemangat lagi dari jawaban tadi, para hadirin memberi  jawaban “tidak setuju”. “Baiklah, kalau sepakat tidak setuju, mulai shubuh besok saya akan melihat buktinya/”. “Apakah jamaah shubuh Mesjid Baiturrahman ada bertambah banyak/ “Dan juga mulai besok, saya akan memperhatikan, apakah masih terdapat dikota ini ummat Islam yang minum esmenen//”, begitu sorotan A.Hasjmy untuk pertama kali, terhadap gugatan yang ganjil tersebut.

Sebagai penceramah kedua adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Dr. Hamka. Kita kagum dengan beliau karena cukup menguasai sejarah Aceh. Kemahirannya tentang sejarah kita dapat mengalahkan ahli-ahli sejarah putra daerah  Aceh sendiri. Mungkin hanya seorang- dua yang dapat mengimbangi dia. Entah mengapa sebabnya suku Aceh tidak menyukai sejarahnya sendiri. Tak heranlah, kalau kita selalu terpaksa mengutip sumber-sumber asing kalau berbicara/menulis sejarah kita sendiri. Mungkinkah kita terpengaruh dengan Hadih Maja ; yang berbunyi ; “Nyangka mate bekle tateu-oh.

Nyangka gadoh bekle tamita”.

(yang mati, disebut jangan, yang sudah hilang tak usah di cari lagi). Kalau benar demikian, berarti kita salah tafsiran, karena kita mengambil yang negative saja. Pada hal arti dari Hadih Maja itu bertujuan positif. Banyak sekali sejarah kita yang belum dibukukan. Contoh yang paling dekat ialah gerakan angkatan 66 di Aceh hingga kini belum pernah kita catat. Akan butalah generasi mendatang bila generasi kita masih enggan menulis sejarah dari gerakan itu/.

Kita kembali pada pokok persoalan. Pada ceramah shubuh di pagi itu juga ; Hamka menceritakan sejarah Mesjid Raya Baiturrahman.”Mesjid Raya hancur. Belanda membangun mesjid baru. Mesjid yang dibangun Belanda cantik, tapi miskin. Sedang semua biaya pembangunannya tidak sampai separuh dari harta Mesjid Raya yang dirampas/dicuri Belanda ketika merampas mesjid itu dari tentara Aceh (th 1874). Menurut Hamka ; selama peperangan melawan Belanda di Aceh, putra-putri daerah ini dengan gigih mempertahankan kedaulatan negerinya. Kehidupan mereka dimasa itu di jiwai sikap perang. Hal ini beliau buktikan dengan gerak gerik orang Aceh setiap kali mereka shalat. Sampai hari ini, demikian Hamka ; kalau orang Aceh sembahyang, kebanyakan mereka matanya se-so (jelalatan). Hal ini merupakan kebiasaan dizaman dulu, masih terbawa-bawa hingga sekarang. Kebiasaan dimasa perang, mereka mengintai musuh (luem musoh). Dulu diseluruh dunia, hanya orang perempuan di Aceh saja yang ada memakai celana panjang (luweu tham asei-pen). Ini akibat perang juga, karena di Aceh orang perempuan juga turut berperang melawan Belanda. Cerita diatas adalah hasil wawancara Prof. Dr. Hamka dengan Cut Idi, isteri alm Teuku Daud Syah, yang meninggal di Jakarta. Sekali peristiwa kape (Belanda) patroli ke sebuah kampung. Mereka menjumpai seorang wanita yang tengah menumbuk padi (top pade0. Tentera Belanda bertanya,  adakah orang laki-laki dirumah ?. Dengan tegas sang ibu, yang tua itu menjawab ; tidak ada/. Apa boleh periksa/. Silakan ///. Belanda naik kerumah, menjumpai seorang pemuda bersembunyi dibawah ranjang. Ditarik lehernya, dirobek bajunya dan dibawa turun Kafe membentak wanita tadi. “Kau bohong, kamu akan dihukum mati/”. “Saya tidak bohong. “, jawab wanita tadi. “Ini memang bukan orang laki-laki////’. Mana mungkin/, bau asap rokok dan kumis yang tebal ini, bukankah tanda seorang laki-laki ?

“Oh, bukan/, jawab wanita itu lagi. “ Apa alasanmu ?”. Inilah buktinya/, si wanita memberi penjelasan. “Kalau dia sungguh-sungguh seorang pria, tentu dia tidak bersembunyi dirumah. Sebab setiap orang laki-laki di Aceh, pasti pergi melawan Kompeni dan bukan bersembunyi dirumah/”. Demikian cerita Hamka.

KOMENTAR DAN HARAPAN

Hari-hari terus berlalu. Ia meninggalkan kenangan yang berbagai rupa. Pada bekas-bekas jejaknya, timbulah cerita-cerita yang kadang tidak masuk akal (dogeng) dan juga kisah sejarah yang penuh fakta. Begitulah jalan kehidupan manusia dimanya pada ini. Demikian pula dengan daerah kita Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Ia juga bergelimang dalam percaturan waktu. Perjalanan sejarahnya sungguh mempesona. Hingga kini Propinsi Daerah Istimewa Aceh dikenal dengan bermacam nama. Nama-nama tersebut yakni, Bumi Iskandar Muda, Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal dan Negeri Darah Pahlawan. Kesemua gelar yang indah itu bukanlah timbul dari dongeng pelipur lara. Tapi fakta sejarah mengakui kebenarannya. Dan ini diakui dimana-mana, oleh ahli sejarah dan tokoh-tokoh dunia. Sejarah juga meninggalkan pesan, bahwa julukan-julukan tersebut, bukanlah diperoleh dengan cuma-cuma. Tapi dengan tetesan darah dan air mata. Gelar “Daerah Modal”, misalnya;  ijazah itu (Daerah Modal) diperoleh dengan mengorbankan harta benda, darah dan nyawa. Kisahnya sebagai berikut :

Ketika Jepang terpaksa mengaku kekerdilannya, melawan Sekutu, dwi tunggal Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tapi pihak Belanda dan antek-anteknya tidak mau mengakui kemerdekaan kita. Mereka mulai menjerat Republik Indonesia yang baru lahir. Belanda melakukan dua kali agressi. Sehingga pejuang-pejuang republik harus bergerilya dihutan rimba. Hampir seluruh tanah air Indonesia ketika itu telah diduduki Belanda kembali, kecuali daerah Aceh yang masih sanggup menjaga daerahnya dari disentuh dan diinjak kaki Belanda. Putra-putri Tanah Rencong menumpahkan darah di Medan Area. Banyak jiwa yang gugur dan harta benda hancur, hanya untuk mempertahankan sebuah semboyan, yaitu SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA///. Karena pengorbanannya yang sangat besar itulah, Belanda tak pernah menjejakkan kakinya lagi, sejak mereka angkat kaki dari Tanah Aceh dalam tahun 1942. Dalam kunjungan pertama presiden Sukarno ke Aceh,beliau memberikan gelar daerah Aceh, dengan julukan Daerah Modal. Begitulah dengan gelar-gelar lain dari daerah ini, kesemuanya juga dicapai dengan penuh pengobanan. Karena itu tidak heranlah kita, kalau semua pendengar yang mengikuti ceramah.H. Amiruddin Siregar seperti tersebut diatas, merasa diri mereka dalam mimpi, ketika mendengar permintaan beliau untuk mencopot “Serambi Mekkah” yang mulia, agar tidak melekat lagi mengiringi sebutan Aceh. Masing-masing bertanya, apa gerangan kiranya sehingga seorang tokoh ulama Indonesia, yang pula memegang jabatan resmi sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, berani mengajukan permintaan demikian. Apa kesilapan-kesilapan yang aku lakukan, hingga daerah ini tidak layak lagi disebut Serambi Mekkah dan sekarang mau dibawa pula ke Jakarta ; demikian kira-kira gejolak hati masing2 hadirin.

Untunglah mereka yang hadir hari itu berdarah pahlawan. Semangat patriot masih bersarang di tubuh masing-masing. Dengan serentak dan kompak mereka menyatakan tidak setuju dengan permintaan tersebut. Begitu pula jawaban yang sama mereka berikan kepada Bapak Prof.A.Hasjmy, yang juga  menindan (menegaskan) lagi pertanyaan yang sama. Sumpah setiap rakyat Aceh untuk mempertahankan gelar “Serambi Mekkah”, yang dinyatakan dengan penuh tekad itu, bukanlah pernyataan main-main. Karena ikrar tersebut mereka ucapkan di Mesjid Raya Baiturrahman, maka penulis menyebutnya “IKRAR BAITURRAHMAN”. Tanggal 12 Maret 1981 (tahun ini), ikrar itu telah genap berusia satu tahun. Berarti ia berulang tahun yang pertama. Terserahlah kepada kita rakyat Propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk menepati janji-janji yang telah diikrarkan bersama. Kita sama-sama telah maklum dan percaya akan sebuah hadist Rasullah Muhammad SAW yang artinya:” Barang siapa tidak menepati janjinya, maka ia bukanlah ummatku”.

Jalan satu-satunya untuk merealisir “ikrar” yang diucapkan itu, hanyalah dengan membina daerah ini sesuai dengan peradaban Islam. Berlakunya “unsur-unsur Syariat Islam bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh”. Sebagaimana pernah digembar-gemborkan dalam tahun-tahun enam puluhan dulu, perlu dihidupkan kembali. Dan sudah pasti untuk mengsukseskan cita-cita yang luhur tersebut sangat diperlukan kesamaan  pendapat antara pemerintah daerah, dengan Dewan perwakilan rakyat tingkat I, segenap masyarakat Aceh. Demikian pula restu dari pemerintah pusat sangat menentukan berhasil tidaknya gagasan itu. Apalagi baru-baru ini Majelis Ulama Propinsi Daerah Aceh dengan kerjasama penuh pemerintah daerah, telah mengadakan sebuah seminar tentang masuk dan berkembanganya Islam di Aceh dan Nusantara. Seminar yang berlangsung tanggal 25 sampai dengan 30 September 1980, dapat kita katakan pula sebagai Serambi Mekkah merujuk/mencari dan memperjelas lagi. Ditambah lagi dengan Musabaqqah Tilawati Qur’an Tingkat Nasional ke XII.

Pada kesempatan yang sama HAMKA pernah berhumor, tapi serius. Kelakar beliau demikian : Orang Aceh sangat gandrung apabila mendengar syair-syair Arab. Tapi karena berhubung mereka tidak mengerti maknanya, syair yang berbau purnopun di sambut dengan ALLAHU AKBAR, Allah//, Allah,///, seperti ketika orang sedang mendengar bacaan Qur’an. Bapak Hamka memberi  contoh sebuah lagu Arab.

Wa Yaa Laila habiby

Wajhika jamilul Kamilah

Ana uhibbu ilaika

Wa arjuu  an nikahtaka///

“Allah/, Allah/,Allahaaaah////, “, jawab para peminat syair Arab dari bumi Serambi Mekkah.

Catatan kemudian:  (1.)   Ketika menyimak ceramah di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh tersebut di atas, saya tidak langsung hadir ke mesjid itu, tetapi hanya duduk pada   ranjang tidur di kamar Asrama Mahasiswa IPM Sakt. Banda Aceh; i sambil  mendengar lewat siaran Radio Suara Baiturrahman, dan sekaligus membuat catatannya.  ( 2.  ) Tanda / ( garis miring) adalah pengganti tanda seru (! ), karena mesin tik saya saat itu tidak memiliki tanda demikian!. Bale Tambeh, 1 Februari 2011,- T.A. Sakti.

Hari Rabu, jam 7.35 wib tgl 6 Rabiul 1401/bertepatan tgl 11 Februari 1981, tempat di Kantor PWI Banda Aceh jalan telepon, saya berbicara dengan Prof. A. Hasjmy melalui telp kepunyaan PWI. Penolong saya hari itu Wartawan Mimbar Swadaya Bna  bernama Syarafuddin Saleh (Din Faropasa) saya menghubungi rumah  A. Hasjmy di Mata Ie  no.telp 2414. Saya mohon bimbingan beliau tentang pengetahuan sejarah , beliau bersedia dan meminta saya datang kerumahnya.

Catt :   – Obat gigi pepsodent

– uang pecahan Rp. 100 (logam!)

– hujan

– ter- bangai2

Pencatat :                                                                    Asrama  IPM. Sakti

TA Sakti                                                                      6 R. akhir 1400

11 Feb  1981

Catatan kemudian: Saat itu saya belum sempat bertamu ke rumah Prof. A.Hasjmy karena harus  segera berangkat ke UGM Yogyakarta untuk kuliah di sana dalam  Program Pencangkokan “Ilmu Sejarah”  atas beasiswa Kerjasama Indonesia – Belanda yang dikelola LIPI, Jakarta. Bale Tambeh, 2 Februari 2011, T.A. Sakti.

Iklan

Jasad-Jasad Pahlawan

Memperingati Hari Pahlawan :

10 Nopember 1980

Sangsaka Merah Putih ditegakkan di atas :

JASAD-JASAD PAHLAWAN.

Oleh : T.A.Sakti.

Mhs. FHPM Unsyiah.

“Rakyat kita tahu bahwa kalau mereka turuti ultimatum dari angkatan perang sekutu itu, mereka tidak akan digempur, akan selamat, akan hidup. Tapi mereka tahu pula bahwa selamat dan damai demikian itu adalah selamat dan damainya seorang hamba yang terantai dan terbelenggu. Maka sebagaimana pada permulaan Revolusi Nasional Amerika, Patrick Henry berseru : “if life so dear, or pease so sweet as tube purehased at the price of chains and slavery ? Forbit it Almighty. God, I know not what course others may take, but as for me, give me liberty of give me death” (Apakah hidup adalah demikian tinggi nilainya dan damai demikian manisnya, sehingga layak dibeli dengan rantai dan perhambaan sebagai harganya ?. Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, hidarkanlah itu/. Aku tak tahu apa yang akan diperbuat oleh orang-orang lain, tapi bagiku sendiri, berilah aku kemerdekaan, atau berilah aku maut”. Juga rakyat kita dengan dipelopori oleh angkatan muda memilih berjuang dan menghadapi maut, dari pada menyerah kepada ultimatum itu laksana hamba yang akan dirantai. Juga rakyat kita, sebagai Patrick Henry, menjawab ultimatum itu dengan : “Give me Liberty or give me death”, merdeka atau mati”, (Pidato Bung Karno ; Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, jilid II, hlm 1856-1857).

“Kami meninjau rumah sakit umum. Ketika kami pergi dari bangsal yang satu keruangan yang lain tempat para pemuda dan rakyat yang jadi korban tembakan dirawat, Prof. Dr. Syaaf ada disitu. Macam-macam logat bahasa terdengar. Mulai dari bahasa Jawa, Madura,  Sunda hingga bahasa Batak dan Minangkabau, logat Ambon dan Manado. Suatu bukti perjuangan Surabaya disertai oleh seluruh bangsa Indonesia”.

(KISAH-KISAH ZAMAN REVOLUSI, kenang-kenangan seorang wartawan oleh H.Rosihan Anwar hlm 15, diterbitkan oleh Pustaka Jaya-Jakarta).

MESKIPUN peristiwa-peristiwa di Surabaya tahun 1945 yang dijadikan patokan resmi, sehinga lahirlah tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan, hal ini bukanlah berarti di daerah-daerah lain tidak berlaku adu kekuatan dalam rangka menegakkan kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh dwi-tunggal Soekarno Hatta, tgl 17 Agustus 1945. Segenap rakyat disemua daerah dalam  Negara kesatuan Republik Indonesia telah siap siaga menghadapi setiap kemungkinan, asal saja negaranya takkan terjajah lagi. Sikap patriotisme  yang demikian itu menampilkan beribu-ribu pahlawan yang rela syahid dimedan juang. Banyak kesuma bangsa yang gugur diarena perang dan sebagian besar kubur mereka tidak kita ketahui dimana gerangan berada.  Keadaan begini menimbulkan istilah PAHLAWAN dikenal dan para PAHLAWAN tidak dikenal. Bagi pahlawan yang dikenal, sebagian mereka ada yang telah diakui pemerintah pusat sebagai Pahlawan Nasional dan sebagian lagi belum. Namun  begitu “bukan  gelar dan tidak sebutan” yang jadi tujuan  dari para pahlawan kita. Mereka betul-betul ikhlas berbakti demi agama bangsa dan Negara. Bagaimana dengan keadaan kita sekarang….???

Peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember, juga bukan haya memperingati pahlawan-pahlawan yang gugur dan jasa-jasa putra-putri tanah air yang berjuang dalam masa Revolusi Kemerdekaan 1945, tetapi dengan peringatan ini sekaligus mengingat dan mengenang darma bakti para pahlawan dizaman sebelumnya. Banyak jasa mereka telah dicurahkan di bumi bertuah ini, sejak masa sebelum Indonesia dijajah  kolonialis asing. Mereka ada yang patut disebut sebagai pahlawan-pahlawan ilmu pengetahuan, kebudayaan, keagamaan dll. Dimasa Negara dalam keadaan aman, mereka menaburkan jasa memakmurkan kehidupan rakyat, mencerdaskan penalaran,  mereka dapat kita sebutkan seperti tokoh-tokoh Wali Songo nan delapan, Syekh Yusuf dari Banten, Syekh Abdurrauf (Syiah Kuala), Nuruddin Ar-Raniry Hamzah Fansuri dari Aceh. Syekh Burhanuddin Ulakan dari Sumatera Barat dan lain-lain. Patih Gajah Mada telah pernah berusaha mempersatukan seluruh tanah air. Terkenal sumpah beliau hingga hari ini, yang disebut “Sumpah Palapa”. Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam pernah mengalahkan armada angkatan perang Portugis. Beliau bukan hanya mengusir Portugis dinegeri sendiri tetapi sampai-sampai ke negeri seberang, Tanah Malaka.  Pasukan Portugis terpaksa lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Hilang keinginan bangsa Portugis untuk menjajah Nusantara ini dimasa itu. Hanya Timor Timur saja yang dapat mereka jajah hingga penghujung tahun 1975. Syukur Alhamdulillah, Timor Timur pun  sekarang telah bebas dari dominasi asing dan telah bergabung kembali dengan bunda pertiwinya; Republik Indonesia.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa kolonialis memiliki hubungan emosionil yang erat. Hal ini terbukti selama pendudukan Belanda di Indonesia. Pusara Iskandar Muda Meukuta Alam dihilangkan jejaknya oleh Belanda, mungkin sebagai balas dendam mereka, karena tokoh ini telah pernah mengusir kolonialis Portugis dari tanah air  dimasa hidupnya. Belanda mau menghapuskan bekas-bekas kebesaran dari tokoh yang sanggup mengalahkan bangsa Barat, yang termasuk bangsa Belanda juga. Pada hal kalau Belanda mau mengenang jasa bangsa Indonesia bagi negerinya, tentu perbuatan terkutuk seperti tersebut diatas, tidak sampai hati mereka lakukan. Waktu Nederland baru merdeka baru merdeka dari Spanyol, semua bangsa-bangsa di Eropa tidak mau mengakui kemerdekaannya. Indonesia (Aceh) lah yang pertama sekali mengulurkan salam persahabatan dengan Belanda. Seorang diplomat Aceh diutuskan oleh Sultan buat membawa surat pengakuan bagi kemerdekaan Nederland. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1600. Utusan Indonesia (Aceh) bernama Abdul Hamid. Kubur beliau hingga sekarang masih ada di salah satu kota di negeri Belanda, karena sang utusan tak sempat kembali ketanah air, karena ajalnya tiba. Sebagaimana kita ketahui Negara-negara Eropa baru mengakui kemerdekaan Nederland pada tahun 1648 (Wsp 24-1-1980 : Hari ini dalam Sejarah), jadi negeri Belanda lebih dulu diakui oleh negeri yang bukan tetangganya. Sesungguhnya bangsa kolonialis tidak mau ingat jasa baik orang.

EMPAT PULUH PAHLAWAN

Mungkin tidak seorangpun yang dapat membantah bahwa kemerdekaan yang kita capai ini adalah hasil pengorbanan luar biasa dari nenek moyang kita dimasa lalu. Jiwa raga, harta benda telah mereka korbankan demi yang satu, yaitu “kemerdekaan”. Pihak tentera Belanda menonjolkan kekuatan senjatanya mereka melakukan kekejaman. Penyembelihan besar-besaran sering terjadi. Masih membayang di perasaan kita akan kekejaman para komandan pasukan patrol Belanda, misalnya Kap. II.Christoffel dan Kolonel Irot. Christoffel, terkenal dalam masyarakat Aceh di daerah Lhok Sukon dengan sebutan “Tuan Kulek”. Karena ia yang memancung leher rakyat yang dicurigainya, dengan perintahnya “KULEK/”, artinya ; merengkan lehermu/”. Dengan sekali saja ia hayunkan pedangnya, maka berpisahlah kepala dengan dari seseorang, mereka adalah pahlawan-pahlawan kita. Kolonel Irot punya cerita dengan versi lain. Kata “Irot” adalah nama panggilan rakyat umum daerah Kota Bakti, Pidie. Sang Kolonel yang satu ini keadaannya “irot”, yaitu pipinya mereng karena bibirnya sumbing (bahasa Aceh, “Iroot”); akibat sabetan pedang pejuang Aceh. Ketika ia masih tinggal diasrama Lammeulo (Kota Bakti sekarang) banyak kekejaman yang ia lakukan. Barang siapa yang lama-lama memandang kearahnya, ia anggap sebagai menghina, karena melihat wajahnya yang jelek. Orang yang bersangkutan pasti merasai tamparannya atau dipukulnya dengan cemeti bila se…………… ! INI PUTUS..

Catatan mutakhir: Artikel ini tidak lengkap, karena ada halaman yang hilang!. Bale Tambeh, 1- Februari 2011, T.A. Sakti.

Dari Puing-Puing Pusaka Pujangga

Dari Puing-puing pusaka pujangga :

ISRA’ MI’RAJ NABI BESAR

MUHAMMAD SAW.

 

Oleh : T.A. Sakti Bucue

FHPM Unsyiah.

 

Bulan rajab merupakan bulanyang ke tujuh (7) menurut kalender (Almanak) Islam. Bulan-bulan yang lain ialah ; Muharram, Shafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab (7), Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaedah, dan Zulhijjah. Khusus bagi masyar akat Aceh, bulan Rajab ini disebut juga Buleuen Apam (bulan Apam). Apam adalah sejenis kue yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut Serabi. Orang Aceh menyebut bulan Rajab dengan bulan Apam, karena pada bulan ini sudah  jadi tradisi bahwa di setiap rumah, baik secara perorangan atau secara bersama, pasti mereka mengadakan upacara memasak Apam (toet Apam) Apam ini setelah selesai dimasak, disamping untuk dimakan bersama keluarga juga diundang para tetangga  untuk memakannya. Kalau kebetulan Apam (serabi) yang dimasak itu agak banyak, mereka akan mengantarnya ke Meunasah yang ada di kampong mereka. Sebab disana sering ada orang beristirahat setelah pulang dari kerja (bertani), sambil mereka menantikan waktu Shalat tiba. Kalau penulis ceritakan tentang asal usul upacara khanduri (kenduri) Apam ini, pasti akan menyimpang dari masalah yang sebenarnya akan penulis bahas dalam tulisan ini yaitu peristiwa Isra” dan Mi’raj nabi Muhammad Saw oleh karenanya saya padakan hingga disini masalah khanduri Apam tersebut. Kesimpulannya bahwa upacara kenduri Apam “Toet Apam” ini merupakan upacara yang mengandung nilai-nilai positif, karena dapat mempererat tali persaudaraan antara masyarakat disuatu kampung atau desa.

Bulan Rajab tiap tahun pasti tiba, oleh karenanya umat Islam diseluruh dunia juga pasti memperingatinya, dengan tujuan untuk mempertebal Iman serta ketaqwaan kepada Khaliqnya, dan juga dengan memperingati detik-detik bersejarah itu, akan membuat mereka lebih waspada terhadap usaha-usaha penghancuran Agama Islam, baik yang dilancarkan kaum Komunis  maupun musuh-musuh lainnya. Di Negara kita Republik Indonesia, upacara memperingati Peristiwa Isra’ dan Mikraj ini boleh dikatakan merupakan upacara yang bukan saja diperingati oleh rakyat biasa secara swasta, tapi juga diperingati secara nasional yang turut berbicara sampai-sampai kepada kepala Negara. Begitulah yang berlangsung dan diadakan setiap tahun di ibu kota Republik Indonesia Jakarta, baik semasa Presiden Sukarno maupun dimasakini. Presiden Soeharto sering dan pernah memberi kata-kata sambutan untuk upacara memperingati Malam Isra’ dan Mi’raj ini.

Sebagai bukti bahwa Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Republik   kita Indonesia ini merupakan upacara BESAR, jadi bukan SEPELE, marilah kita ikuti kata-kata sambutan Presiden Suharto pada Peringatan Isra’ dan Mi’raj 16 Agustus 1974, yang antara lain sebagai berikut : “Demi untuk berhasilnya pembangunan itu, maka harus diusahakan betul-betul agar supaya terpelihara suasana hidup rukun, tenggang rasa dan hormat-menghormati di antara sesama ummat beragama sesame penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama-sama membangun masyarakat.

Dengan tidak mengurangi universilnya ajaran agama masing-masing, marilah kita kembangkan sikap keagamaan yang luhur, sehingga penghayatan dan penyiaran agama di Indonesia ini dilakukan dengan cara yang tidak menyinggung perasaan, dengan memperhatikan lingkungan adat kebiasaan serta tata kesopanan.

Marilah kita pupuk rasa hormat-menghormati dan percaya mempercayai dan marilah kita hindarkan perbuatan-perbuatan yang mungkin menyinggung perasaan orang lain. Untuk jangan sampai mengganggu perasaan golongan lain, maka dalam penyiaran agama itu harus kita usahakan agar jangan sampai ditujukan kepada orang yang sudah beragama. Marilah kita menghargai orang lain itu sebagai orang dengan segala agama dan kepercayaan……….”, demikian tersebut dalam buku “MUHAMMAD NATSIER 70 tahun hlm 298, Pustaka antara-Jakarta.

Di zaman bahari, juga peristiwa Isra’ Mi’raj ini tak lupa diperingati, ini dapat kita buktikan dengan document lama yang masih ada hingga hari ini. Kalau peristiwa Isra’ Mi’raj tidak diperingati dan dirayakan di zaman silam, tidaklah mungkin para Ulama dan Pujangga-pujangga dulu mau menyusun syair-syair tentang Isra’ dan Mi’raj ini, seperti kata pepatah ‘kalau tidak, ada berada masak tempua berserang rendah”. Tapi yang harus di ingat bahwa mungkin mereka dizaman dulu memperingati Isra’ Mi’raj ini berlainan dengan cara memperingati Isra’ Mi’raj seperti di zaman kita ini. Kini kita yang hidup dizaman terakhir, maka setiap Hari Besar akan diperingati dengan pidato-pidato dan kata-kata sambutan dari tokoh masyarakat, tetapi bagi masyarakat kita dizaman silam, pasti ada pula upacara “ciri khas” mereka di zaman itu.

Tadi ada penulis sebut tentang document lama, tentu anda pembaca akan bertanya : document apa itu ?. kalau demikian baiklah penulis sebutkan bahwa document itu adalah sebuah nukilan syair dari seorang Ulama-penyair tentang Peristiwa Nabi Muhammad SAW. Document itu masih kita dapati hingga sekarang disementara orang yang ada menyimpannya. Tapi kebanyakan ummat Islam khususnya di Aceh, telah sangat melupakan document ilmu dan historis ini. Dari document tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa banyak diantara ulama-ulama Islam dizaman lalu, mereka bukan mahir dan paham akan ilmu-ilmu agama, tetapi mereka bukan sekaligus berperanan sebagai pujangga yang menghayati dan mengerti apa yang di inginkan di dibutuhkan masyarakat di sekelilingnya. Karena itu mengakibatkan dakwah Islamiyah mereka dapat berhasil dengan gemilang. Banyak dari ulama-ulama-ulama dizaman silam, mereka yang ahli menyusun syair-syair untuk mencapai kebijaksanaan dan punya metode-metode yang relative baik. Banyak diantara mereka yang tengah dijalankannya. Maka tersebutlah diantara Ulama-ulama yang ahli syair, seperti ; Teungku Syekh Abdurrauf (Syiah Kuala), Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Teungku Syik Pante Kulu, Teungku Syik di Tiro, Teungku Syik di Matang, Teungku Syik Kuta Karang, Tungku Syik Tanoh Abeei dan banyak lagi yang lain.

Khusus sebagai contoh yang mengisahkan tentang Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, akan tetapi mari kita baca syair Ulama terkenal Teungku Syik di Matang tentang peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Dengan susunan bahasa dan alunan  nada yang begitu indah, Teungku Syik di Matang bermadah :

 

Goh Hijrah Isra’ Nabi neujak malam

Ngon Jibra-i   mulai di Masjidil Haram

Neupasang ngon Buraq pantas nibak kilat

Sampoe keu Baitul Mukaddis Isra’ meuhat

 

Nabi tamong lam Meseujidil Aqsha

Neu  seumbahyang sajan Nabi dum Ambiya

Lheueh Seumbahyang Nabi kheun grah yo’h masanyan

Lam syeureuga Jeibra-i  jak cok minuman

 

Peuet boh mangkong Jeibra-i  Peutron  lam Syureuga

Ie nyang harum rasa lazat hate suka

Saboh mangkoung air arak saboh tuak

Saboh mangkoung air madu minoem galak

 

Saboh mangkoung air laban hana ubah

Lheuehnyan  Nabi minoem rjang pujoe Allah

Sinan keueh phone Mi’raj Nabi  A’laihissalam

Ngoen jeibra-i   langet tujoeh sampe  jalan

 

Terjemahan bebas :

Sebelum Hijriyah Nabi pergi disuatu  malam

Bersama JIBRIL mulai dimasjidil Haram

Mengendarai Buraq cepat jalan bagai kilat

Sampai ke Baitul Muqakdis dengan siat (sebentar)

 

Nabi masuk kedalam Masjidil Aqsa

Nabi sembahyang bersama semua Ambiya

Selesai sembahyang Nabi katakan beliau haus

Jibril pergi ambil air di Syurga Firdaus

 

Empat gelas air Jibril bawa dari Syurga

Air yang harum rasa lazat hati suka

Satu gelas air tuak satu arak

Satu cangkir air madu minum galak (suka)

 

Satu cangkir air susu masih baru

Lantas  Nabi minum segera, puji Allah

Disitu mula Mi’raj Nabi  A’laihissalam

Bersama Jibril langit tujuh beliau tembuskan

 

Sungguh begitu indah irama syair yang digubah Teungku Syik di Matang tentang riwayat Isra’ Mi’raj ini. Antara lain beliau ceritakan bahwa Perjalanan Isra’ Mi’raj ini berlangsung sebelum Nabi Muhammad SAW berhijarh ke Madinah yaitu tepatnya pada tahun ke 11 setelah kerasulan beliau. Tentang penentuan masa berlakunya Isra Mi’raj ini “Al-QURAAN DAN TERJEMAHANNYA” terbitan Departemen Agama Republik Indonesia, juga berpendapat demikian yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj memang berlaku sebelum tahun Hijriayah. Selanjutnya kitab terjemahan Qur’an itu mengatakan : “Disaat-saat menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan sudah pada puncaknya ini, gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan pengikut-pengikut beliau semakain hebat, maka Nabi Muhammad SAW di perintahkan oleh Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj dari Mekkah ke Baitul Maqdis di Palestina, terus naik kelangit ke tujuh dan Sidratul Muntaha. Di situlah beliau menerima perintah dan langsung dari Allah tentang Shalat lima waktu. Hikmah Allah memerintahkan Israq dan Mi’raj kepada Nabi dalam perjalanan satu malam itu, adalah untuk lebih menambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai Rasul, yang di utus Allah ke tengah-tengah umat manusia, untuk membawa risalah-Nya. Dengan akan bertambahlah kekuatan batin sewaktu menerima cobaan dan musibah serta siksaan yang bagaimanapun juga besarnya, dalam memperjuangkan cita-cita luhur, mengajak seluruh umat manusia kepada agama Islam.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 11 sesudah beliau diangkat menjadi Rasul. Kejadian Isra’ dan Mi’raj ini, disamping memberikan kekuatan batin kepada Nabi Muhammad SAW dalam perjuangan menegakkan agama Allah, juga menjadi ujian bagi kaum Muslimin sendiri, apakah mereka beriman dan percaya kepada kejadian yang menakjubkan dan diluar akal manusia itu, yaitu perjalanan yang beratus-ratus mil serta menembus tujuh lapis langit dan hanya ditempuh dalam satu malam saja. Bagi kaum Quraisy peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, mereka jadikan senjata untuk menuduh Nabi sebagai seorang yang tidak beres otaknya, dan mereka jadikan bahan bermacam-macam hinaan dan olok-olokan yang sangat keji”.

Setelah menjelaskan tentang pertemuan Nabi Muhammad dengan nabi terdahulu dari beliau, disetiap lapis langit yang dilalui Rasulullah, seperti Nabi Adam, a.s, Isa a.s, Nabi Yahya a.s. Nabi Yusuf a.s. Idris a.s, Nabi Harun a.s, Musa a.s dan Nabi Ibrahim a.s dilangit ketujuh, maka Tengku Syik di Matang melanjutkan kisah Isra’ Mi’raj itu sbb :

 

Hingga di Nabi neulanda

Sidratul Muntaha neu jalan

Yoehnyan neu deungo Muhammad

Qalam meusurat Loh Tuhan

 

Hingga neu lalu lom sampoei

Trousy Babun Qausaini Adnan

Yoeh nyan teur jali  Nur Rabby

Keupada Nabi Janjungan

 

Neu kalon Tuhan deuh nyata

Ngon dua mata rupa tan

Teuma bak Nabi neuteuntei

Limong ploh watei seumbahyang

 

Ateuh droe deungon dum umat

Trousy  ‘an Qiamat ubah tan

Puasa teuma    tan kureung

Bak limong buleun yue Tuhan

 

Terjemahan bebas :

Hingga dinabi terus berjalan

Sidratul  Muntaha beliau datang

Ketika itu Muhammad dengarkan

Firman Tuhan Allah Ta’la

 

Kemudian Nabi terus berlalu

Sampai dipintu Babul  Adnan

Maka terjelma  Nur Rabby

Kepada Nabi Junjungan

 

Melihat Tuhan ternyata

Dengan dua mata tak berupa

Kepada  Nabi ditentukan

Tegakkan Sembahyang limapuluh waktu

 

Atasnya Nabi beserta umat

Sampai kiamat tak berbeda

Puasa wajib tidak kurang

Lima   bulan Tuhan perintahkan

 

Dalam bait-bait yang penulis petik diatas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, sampai perjalanan beliau kesuatu tempat yang dinamakan Sidratul Muntaha. Tempat ini merupakan tempat yang paling kudus dari semua tempat-tempat suci yang ada dimana saja di alam ini. Di tempat itulah Rasul Tuhan ini menerima perintah, bahwa kepada Muhammad serta umat-Nya diwajibkan sembahyang sejumlah  limapuluh waktu. Disamping sembahyang juga diwajibkan puasa selama nabi dan rasul, maka setelah beliau menerima segala amanat Tuhan maka beliaulah balik kembali menuju pulang. Dengan tak terduga-duga tiba-tiba saja perjalanan ini terhalang untuk beberapa lama. Aduh/, ada-ada saja yang mau menghalangi perjalanan Nabi ini. Tahukah anda apa dan siapakah yang mencegat Nabi kita itu ?. untuk menjelaskannya,  sekali lagi kita ikuti uraian Teungku Syik Di Matang lanjutan dari kisah Isra’ Mi’raj ini yaitu :

 

Yoeh nyan Muhammad neu gisa

Oh troek bak Musa neu kheun ban

Hei ya Muhammad tariwang

Ta tuntut kureung bek dumnan

 

Nabi neuriwang peu teuntei

Hingga limong watei jeut  bilangan

Pahla limong ploh neubri cit

Walaupoen cit diet bri Tuhan

 

Wahe dum umat nyang maujud

Nabi neu Mi’rej ta iman

Abubaka phon   peu beuna

Nyang ungki teuma Lahab nan

 

Terjemahan bebas :

Ketika Muhammad berbalik pulang

Lantas dihalang oleh Nabi Musa

Wahai Muhammad kembalilah Tuan

Mohon dikurangkan jumlah sembahyang

 

Nabi kembali tentukan

Waktu sembahyang tinggallah lima

Pahla limapuluh juga Tuhan berikan

Walaupun sidikit Allah wajibkan

 

Wahai semua ummat (manusia) yang hidup

Isra’ dan Mi’raj wajib anda imankan

Abubakar shiddiq orang yang pertama membenarkan (Isra’ Mi’raj)

Abu Lahab kemudian yang menentang

 

Setalah Sembilan kali Nabi Muhammad SAW hilir mudik dari Sidratul Muntaha ke tempat Nabi Musa, maka ketika-tiba lagi dikali kesembilan  Nabi Muhammad tak mau lagi minta dikurangkan jumlah waktu sembahyang yang lima itu, walaupun Nabi Musa mendesak beliau.

Pada malam itu juga Rasul Allah sampai kembali ke Mesjidil Haram, yaitu tempat beliau mulai berangkat ber Isra’ Mi’raj itu. Terasa ditempat Nabi tidur tadi masih hangat, walaupun beliau telah pergi dalam jarak yang beribu-ribu mil jauhnya. Sungguh singkat waktu yang diperlukan untuk suatu perjalanan yang ajaib itu. Hanya bagi orang beriman saja yang mau percaya  perjalanan Isra’ Mi’raj yang sangat misterius itu. Tapi di zaman angkasa luar kini, peristiwa Isra’ Miraj ini semakin diyakini umat manusia pada umumnya perintah Shalat yang diwajibkan Allah bagi umat Islam Lima waktu yang tujuh belas rakaat sehari semalam itu, akan dapat mencegah manusia (umat Islam) dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, tentunya kalau memang dikerjakan dengan sepenuh hati dan khusyu’ tawadhu’ pula, demikian firman Allah dalam Kitab Sucinya yakni Al-Qur’an nul Karim.

Kisah Isra’ Mi’raj dikisahkan pada dua tempat pada sebuah kitab oleh Teungku Syik Di Matang, yag satu dibuat bab khusus untuk peristiwa Isra’ Mi’raj sedangkan yang satu lagi Beliau tulis pada riwayat lengkap dari hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan pada kita bahwa perjalanan Nabi Isra’ Mi’raj ini sungguh penting, karena dari situlah Rasul kita langsung menerima perintah dari Allah tentang kewajiban Shalat atau sembahyang itu, sedangkan ibadat-ibadat yang lain seperti puasa, hajji, zakat dan lain-lain, hanya melalui Jibril yang membawa wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Demikian butir-butir madah yang terdapat dalam Kitab Akhbarul Karim  ini hasil renungan Teungku Syik Di Matang dan sementara pendapat yang lain mengatakan bahwa Kitab Akhbarul Karim  ini hasil rengungan Teungku Syik Kuta Karang, entah mana yang benar, bagi penulis sendiri masih mau bersembunyi dibelakang kedok layar “Wallahua’lam Bishawab”. Semoga kita bangsa Indonesia mau dan sudi memelihara  dan mengumpulkan kembali naskah-naskah lama yang hampir musnah semuanya, semoga tidaklah kita nanti menjadi bagai orang yang “lapar di gudang beras kita sendiri”. Kalau tidak kita lakukan sejak dari sekarang mungkin nanti semua naskah-naskah berharga itu akan hilang lenyap dimakan rayab, maka mengemislah kita nanti kepada bangsa-bangsa asing di Inggris dan negeri Belanda tentang sejarah agama dan kebudayaan di Indonesia, seperti yang kita telah alami dengan penulisan sejarah Indonesia dewasa ini. Mudah-mudahan kita lekas sadar dan waspada selalu, kalau terlambat akan mekarat (kikuk dan bingung) nanti.

Hanya sekian, wassalam ;

 

IPM-Sakti, 17 Rajab 1400

1 Juni 1980.

T.A.Sakti Bucue.

 

 

Catatan mutakhir: ( 1 ) Kitab Akhbarul Karim ditulis oleh Teungku Seumatang, yang dilahirkan di Gampong Cot, kecamatan Sakti, kabupaten Pidie, Aceh. Digelar Teungku Seumatang, karena pernah meudagang/belajar mengaji ke Seumatang.   ( 2 ) Kisah Israk Mikraj dalam Kitab Akhbarul Karim bukanlah satu-kesatuan dengan kitab itu, melainkan lampiran yang disisipkan orang kemudian. ( 3 ) Dalam naskah manuskrip Aceh gelaran Teungku Syik kepada seorang ulama amat jarang disebutkan, malah sampai kini belum saya jumpai. Gelaran yang lumrah adalah Teungku Di ‘pulan’. Bale  Tambeh, 1 Februari 2011, T.A. Sakti.

Selamat Tinggal SLTA

T.A. Sakti

SELAMAT TINGGAL SLTA

Kami menuju ke Perguruan Tinggi///.

Saat ini hampir semua siswa SLTA di seluruh Tanah Air telah selesai mengkuti Evaluasi Belajar  Tahap Akhir (EBTA). Sekarang hanya tinggal menunggu pembagian ijazah bagi yang lulus. Kata orang, masa menunggu adalah saat-saat yang penuh penderitaan. Apalagi kalau perkara yang di tunggu itu merupakan vonis terakhir yang menentukan nasib kita. Inipun jika dapat dianggap demikian. Saat-saat begini perasaan dag…dig dug… pasti tak dapat dihindarkan. Bagi siswa siswi yang merasa dirinya mampu menyelesaikan soal-soal dalam EBTA nya, memang bila dapat merasa lega sedikit. Lain halnya bagi mereka yang kemampuannya tanggung-tanggung, resah gelisah mencekam di jiwa. Disamping diri pribadi, tentu banyak pihak lagi yang mendombakan kemenangan. Ibu-bapa, sanak family juga mengarapkan kesuksesan itu. Sementara itu, harapan S1 DIA besarnya tidak kepalang tanggung.

HANYA TINGGAL KENANGAN

Masa yang penuh haru adalah saat perpisahan. Dalam hal ini termasuk perpisahan apa saja pada umumnya. Lebih-lebih lagi kalau sebelum pertemuan terakhir itu tleah dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang mengasyikkan. Seorang pujangga pernah bermadah : “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi setiap perpisahan belum tentu dimulai lagi dengan pertemuan”. Ibarat lirik dari sebuh lagu “Bertemu dan berpisah, dua kata satu masalah,”. Yaitu kesedihan. Begitu pula dengan kita yang baru selesai dari SLTA. Di hati sanubari, penuh kenangan yang beraneka ragam. Pahit dan manis selama bergaul sesame teman. Sang otak pasti mendapat tugas tambahan untuk berperan sebagai reporter terhadap kenangan lama. Jalur pengalaman juga banyak jenisnya. Ada yang karena tangan-tangan gatal dari sang guru yang sering kali turun kepipi. Dan yang paling menyakitkan, pipi yang lebam itu bukan karena kesalahan yang berarti. Tapi karena salah paham dari sang guru sendiri. Mungkin ketika dari rumah tadi, baru saja bertengkar dengan sang istri. Waduhuuuuhh, kasihan simurid, pipinya malang gara-gara orang. Di soh bak geudeu-geudeu, di jak pleu ureung meukat payeh (gara-gara ditinju orang- tapi orang lain jadi sasaran kemarahannya). Peristiwa yang begini sungguh jadi kemenangan pahit yang sukar di lupakan. Kenangan lainnya selama di SLTA ialah saat-saat berpisah dengan sang kekasih, sibuah hati. Hati siapa yang tak akan merasa pedih, mata siapa yang takkan tergenang, mengingat masa-masa lalu yang penuh kemesraan. Ketika itu paling terasa, bahwa sang waktu sungguh cepat berlalu. Tiga tahun tanpa disadari tielah ditelan masa, api asmara besar membahana. Tapi apa hendak dikata, mungkin berpisah buat selamanya. Yang cowok mungkin melanjutkan studinya keluar daerah, maka tinggalah sicewek mengurut dada. Ataupun sebaliknya yang terjadi.

MENUJU DUNIA BARU

Setelah lulus EBTA, satu perangkat lagi ujian harus dilalui, bila yaitu saringan masuk di Perguruan Tinggi. Bila nasib mujur, gelaran ‘mahasiswa baru terpampang didada. Perguruan Tinggi (PT) merupakan dunia tersendiri. Ciri khasnya sungguh berbeda dari tingkatan pendidikan dibawahnya. Bagi kita yang berasal dari daerah yang langka informasi, membutuhkan banyak kesungguhan baru untuk mengikuti perkekembangan baru. Bagi siswa dari desa banyak hal yang belum di mengerti masalah PT. Ini pengalaman penulis sendiri.

Banyak sikap selama di SLTA, harus ditinggalkan bila telah berada di PT. terutama bila dulu disana banyak memiliki sifat negatif. Selama di SLTA tanggung jawab menguasai pelajaran lebih banyak dipaksakan oleh guru, agar masuk ke otak si pelajar. Bila suatu materi pelajaran belum di mengerti si murid, sang guru belum/tidak mengadakan melanjutkan pada pelajaran yang baru. Tapi lain pula di PP. Disana tugas guru (dosen) hanya membimbing saja. Beliau itu tidak berkewajiban lagi untuk menyuapkan makan bagi si mahasiswanya. Mahasiswa telah dianggap dewasa, bukan anak-anak lagi yang perlu disuap makanan segala. Bagi orang dewasa, yaaaak/ jika leper masaklah makanan dan makanlah sendiri.

Diruang kuliah seorang dosen hanya menjelaskan materi kuliah hanya sambil lalu saja. Selebihnya terserahlah sama mahasiswa untuk mendalaminya. Kalau si mahasiswa itu pemalas, dosen tidak ambil pusing. Lulus atau gagal di waktu ujian, si pemalas itu sendiri yang kena resikonya. Itulah akibat yang diterima bagi si mahasiswa malas. Tanpa ampun.

Dalam mendekte bahan kuliah, dosen hanya pakai sistim expres saja. Serba cepat. Dapat atau tidak di ikuti si mahasiswa, bukan persoalan. “Saudara-saudara untuk hari ini kita cukupkan kuliah kita, berhubung ada tugas di luar”, demikian kebiasaan seorang dosen mengakhiri kuliahnya. Dosen terus keluar, tinggallah si mahasiswa menghadapi sejumlah kesibukkan. Si mahasiswa masih saja perlu bergelut dengan materi kuliah yang tercecer tadi. Dia terpaksa putar kiri putar kanan pinjam bahan kuliah pada kawan. Jika malas menyalin, akan jadi beban yang berat bila mau ikut testamen nanti di ujung semester.

Satu hal yang juga tidak kurang pentingnya harus di miliki seorang mahasiswa ialah kesabaran. Mahasiswa harus sabar dalam segalanya. Paling kurang, jika tahun pertama tidak naik tingkat, ia mesti sabar untuk menanti tahun berikutnya. Dan banyak hal lagi yang perlu pakai sifat sabaaaarrrr.

Namun kesemua itu, sebelum kita mengikuti testing masuk di PT ada satu perkara yang mesti di pikir masak-masak seorang calon mahasiswa. Perkara itu ialah tentang hal memilih jurusan di PT. Di sebuah Universitas tentunya memiliki sejumlah jurusan, yang harus di pilih calon mahasiswa sesuai dengan bakatnya. Awaaasss, jangan sampai salah pilih jurusan. Jika pilihan tidak tepat, alamat diri jadi mahasiswa setengah abad. Kesalahan memilih jurusan sering di alami si mahasiswa yang berasal dari desa. Pada mulanya mereka ( si anak desa) hanya ikut-ikutan mengambil sebuah jurusan di PT. keadaan ini terjadi, karena kurangnya informasi bagi mereka semasa di SLTA. Semoga tidak berulang lagi ditahun ajaran 1981 ini. SELAMAT datang ke Perguruan Tinggi///.


Melihat Propinsi Daerah Istimewa Aceh dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Susulan Pasca PKA – 3

Aceh Dipandang dari Luar

Tanggal 18 Agustus 1988, di halaman pertama Harian “Kedaulatan Rakyat”. Yogyakarta dimuat sebuah tulisan yang berjudul “Aceh Baru”. Sang penulisnya menamakan diri ‘LOPER” dan dia merupakan penulis tetap ruangan “Pangkur Jenggeleng” yang disajikan koran “Kedaulatan Rakyat” (KR) Yogyakarta setiap hari Kamis. Sebagian inti karangan si “LOPER” menarik disimak, mengingat munculnya tulisan itu lima hari menjelang berlangsungnya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-3 (24 Agustus s/d September 1988 yang lalu) di Banda Aceh Darussalam.

Rupanya, ilham pandangan si LOPER mengenai daerah Aceh berasal dari ‘dialog’ kebudayaan Aceh yang diadakan di Bale Gadeng, Komplek Asrama Putri Cut Nyak Dhien, Jln. Kartini, Sagan, Yogyakarta; yang diadakan tanggal 22 Juni 1988 yang lalu.  Tentang hal ini, diungkapkan sendiri dalam tulisannya yang berjudul “Aceh Baru” itu. Pada hari itu, masyarakat Aceh yang tergabung dalam perkumpulan HIMA (Himpunan Masyarakat Aceh) dan TPA (Taman Pelajar Aceh) yang tinggal di Yogyakarta, serta sejumlah perutusan dari Solo, Semarang; mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PKA-3 yang juga Wakil Gubernur Propinsi Daerah istimewa Aceh, T. Djohan. Tujuan pertemuan adalah guna saling ‘mendiskusikan” tentang kebudayaan Aceh, sebagai bahan masukan bagi pelaksanaan PKA-3 tersebut.

Untuk mengetahui pokok-pokok pikiran si LOPER terhadap Aceh yang seterusnya akan ditanggapi; baiklah disini dibuat cuplikan bagian-bagian terpenting dari uraiannya seperti berikut : “Kecuali banyak diusulkan upaya-upaya penggalian, pembinaan dan peningkatan serta pelestarian kesenian-kesenian tradisional Aceh, agar tidak larut dalam arus modernisasi. Pertemuan di Bale Gadeng, Sagan Lor itu juga menerima sinyalemen, berupa kecenderungan’.

2

Mengapa pesantren di Aceh kurang cepat maju. Dan hal-hal lain yang rupanya menjadi kelihatan jelas dalam pandangan putra-putri Aceh yang berada di luar Aceh. Dan kecenderungan hanya juga kira-kira, makin jauh jarak itu, makin jelas gambaran kekurangan tersebut.

Karena diminta juga ikut urun rembug. Saya ceritakan pengalaman saya ngobrol dengan remaja-remaja di Kotaraja yang sekarang Banda Aceh, beberapa bulan yang lalu. Mereka prihatin, karena Serambi Mekkah itu sudah semakin tua. Sarjana-sarjana Aceh lulusan Jawa yang kembali ke kampung halaman dan menjadi pemimpin, pun ‘larut’  ikut menjadi tua. Dari catatan itu saya mengusulkan perlunya memberi arti baru dalam kaitan pembangunan dan pembaharuan terhadap sebutan dan etos Serambi Mekkah. Saya justru mengharapkan utusan HIMA dari Yogyakarta harus dapat mencarikan rumusan itu. Tradisi kota perjuangan ini (kota Yogyakarta-penyalin) paling tidak dapat dijadikan sekedar bahan kajian daerah-daerah istimewa itu, tidak tetap istimewa karena  ketertinggalannya’. Tetapi tetap ikut berpacu maju, namun tetap istimewa karena sebagaimana Jepang yang semakin modern, tetapi tetap semakin nampak identitas Jepangnya.

Dalam suasana memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan ini rasanya selaras juga dengan peringatan Presiden Suharto dalam pidato kenegaraannya kemarin. Menghadapi Pembangunan 25 Tahun’, tahap kedua, dan menghadapi Tinggal Landas, Pancasila menerima  ujian. Indonesia sebagai Negara Industri Baru jangan sampai kehilangan nilainya yang baku. Dan bukankah ‘nilai’ itu merupakan gambaran harmoni dari konfigurasi nilai yang berhasil dihitung dan ditingkatkan kualitasnya oleh daerah-daerah seperti yang akan diupayakan oleh Generasi Aceh Baru. Semoga !, demikian “LOPER”.

Menyimak secara seksama ‘anggapan’ si LOPER terhadap daerah Aceh, menggugah kami menanggapinya. Apakah yang dikemukakan itu benar atau  meleset?. Bentuk tanggapan tidaklah diajukan dalam wujud artikel tandingan yang

3

menyanggah atau membenarkan, tetapi akan disajikan berupa hasil pengumpulan pendapat sebagian perantau Aceh di Yogyakarta, secara wawancara. Lagi, pula lingkup persoalan yang diwawancarai bukanlah sebatas guna menjawab “keusilan” si LOPER, namun mencakup “cakrawala Aceh” yang lebih luas yang dirasa aktual dewasa ini. Hal ini dianggap cocok, mengingat di Aceh baru saja selesai diadakan pesta Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ketiganya. “Laporan” ini tidak pula mengambil kesimpulan, karena memang sukar menarik kesimpulan dari berbagai pandangan berdasarkan hasil wawancara. Peribahasa mengatakan:

“Rambut sama hitam, namun pikiran berbeda-beda”. Jadi, perihal kesimpulan juga kita serahkan kepada para pembaca yang budiman masing-masing.

Miskin publikasi

Memang tidak semua perantau Aceh di Yogyakarta dihubungi guna melibatkan diri dalam pengumpulan pendapat ini. Berbuat begitu terlalu sukar, karena tempat tinggal mereka terpencar-pencar. Diambillah jalan pintas, yaitu mewawancarai seberapa/siapa saja diantara mereka yang dapat ditemui.

4

Pengumpul pendapat ini dapat terlaksana, berkat kerjasama Mohd. Nuor Hasballah, mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Wadyo  Mataram (UWM) Yogyakarta yang membuat kesemua wawancara. Sementara rangkumannya dibuat oleh  saya sendiri: T.A. Sakti.

Tidak terlepas, sempat dijadikan nara sumber juga seorang “musafir” dari Aceh yang baru dalam dua-tiga hari ini berada di Yogyakarta. Kedatangannya ke kota pendidikan dan kebudayaan  ini dalam rangka mengikuti Latihan Ketrampilan Pers se-Indonesia yang berlangsung di Kaliurang 29 Agustus -2 September 1988 dengan panitia pelaksanaan Universitas Gadjah Mada. Ketika ditemui, di hari terakhir “pendidikan pers”, staf dewan redaksi “WARTA UNSYIAH” yang juga mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh Darussalam, banyak menceritakan pengalamannya, sejak menjadi “musafir” di kota pariwisata Yogyakarta ini.

Katanya: “saya cukup merasa daerah Aceh sangat kurang mempublikasikan diri. Ini terlebih-lebih saya rasakan setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa peserta latihan itu’. Contoh yang diberikannya, ada sementara peserta yang tidak bisa membedakan antara propinsi Aceh dengan propinsi Sumatera Utara. Mereka menganggap Aceh termasuk ke dalam propinsi Sumatra Utara juga. Ada pula yang menyebut Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) dengan “UNSYAH’. Gara-gara itu, saya sampai-sampai diberikan gelar cucunya Syah Iran”, ungkap Rusydi MD sambil ketawa renyah. Mahasiswa yang juga menggeluti bidang jurnalistik ini menceritakan, ketika ia masuk sebuah kantin di arena latihan pers Kaliurang. Disitu, ia sempat terlibat  pembicaraan dengan kasir dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM). ‘Apa yang anda tahu tentang Aceh ?, tanya Rusydi di sela-sela pembicaraan itu. Saya lebih mengenal Aceh, hanya dari buku pelajaran sejarah di sekolah, ujarnya mengulangi jawaban yang diberikan kasir dan mahasiswi tadi, ketika hal popularitas Aceh ditanyakan kepada keduanya secara terpisah.

HALAMAN  5   s/d  10  belum ada!!!( sejak hari ini, 10 – 2 – 2011 sudah ada!)

5

“Kecuali tentang sejarah Aceh, kedua orang yang sempat ngomong-ngomong dengan saya itu, sangat kurang mengenal Aceh kecuali kasus-kasus ganja di Aceh”, jelas Rusydi kepada Waspada. “Ini pasti disebabkan kurangnya publikasi Aceh di luar daerah” ungkapnya dengan nada kesal. “Padahal banyak hal-hal positif dari Aceh yang semestinya dipulikasikan ke luar, bukan hanya yang negative saja”. Tetapi diakuinya, penulis-penulis muda sangat jarang muncul di Aceh. “Itu kekurangan di daerah kita. Saya kira, generasi muda Aceh banyak yang berbakat jadi ‘pengarang’, hanya saja bakat itu terus terpendam”. “Usaha menggali bibit-bibit unggul berbakat, memang kurang aktif di Aceh. Seandainya bakat-bakat terpendam ini dapat terangkat ke permukaan, di Aceh nanti pasti banyak melahirkan pengarang- pengarang favorit, baik di tingkat daerah atau nasional, bahkan internasional”, tandasnya dengan nada yakin.

Anggota dewan redaksi “Warta Unsyiah” Banda Aceh yang baru seminggu terakhir ini berada di Yogyakarta, yang mengikuti latihan ketrampilan pers mahasiswa se-Indonesia di Kliurang; tak ketinggalan menceritakan berbagai kemajuan yang sudah serta tengah berlangsung di Aceh. Diakuinya, di bidang pendidikan sudah banyak kemajuan di Aceh. “SMA telah ada di hampir tiap kecamatan, apalagi SD dan SMP”, jelasnya. “Hanya saja, mungkin mutu pelajaran di tingkat SMTA ke bawah masih rendah”, kilahnya ketika ditanya ‘Waspada’; mengapa terlalu sedikit lulusan sekolah asal Aceh yang lulus test ‘Sipenmaru’ di perguruan tinggi negeri favorit seperti ITB, IPB, UI, UGM; setiap tahun.

Mahasiswa Unsyiah yang sudah mengunjungi beberapa obyek wisata di Yogyakarta, nampaknya senang pula mengamati siaran TVRI. “Siaran tivi sangat berpotensi untuk mempopulerkan sesuatu” katanya. Ia yang dilahirkan di Bambi, kecamatan Pekanbaru, Pidie (Aceh) menuturkan pengalamannya ketika berbincang dengan seorang peserta “pendidikan pers” yang berasal dari kota Menado. Mahasiswa asal Menado ini banyak tahu mengenai tarian Seudati Aceh, katanya

6

“saya menyenangi tari seudati” disamping gayanya yang heroik juga menggambarkan keperkasaaan orang Aceh. Ketika Rusydi menanyakan, dimana ia pernah menonton seudati, jawabnya sungguh bersahaja, rekan dari Menado itu mengatakan ia tidak pernah melewatkan tayangan Aneka Budaya Nusantara melalui TVRI. Dari siaran TVRI inilah ia selalu menikmati tarian khas Aceh, baik Seudati maupun tarian lain. Dalam hal penyebaran informasi, Rusydi mengakui perlunya penyebaran informasi secara lebih luas. Peranan TVRI dan media massa lainnya sangat diharapkan keikutsertaannya.

Menurut Rusydi yang juga getol berorganisasi dan pernah terlibat dalam dunia seni, seperti Seudati, Rapa’i dan aneka tari tradisional lainnya mengatakan, Aceh cukup potensial dalam bidang kebudayaan. Banyak pakar-pakar budaya Aceh yang berkualitas, kurang dipromosikan. Seorang rekan peserta penataran Pers dari ASKI Bandung menanyakan kepada Rusydi, dimana penyair To’ed sekarang, katanya ia begitu kagum terhadap syair-syair yang dibacakan penyair yang berperawakan kecil itu.

Rusydi mengharapkan, sudah saatnya Aceh bangkit kembali untuk memperkenalkan kreasi seni budaya agar lebih dikenal oleh dunia luar, Aceh jangan hanya puas dengan kejayaan seni budaya masa lalu, akan tetapi usaha untuk menciptakan kreasi baru yang bercorak Aceh perlu dipikirkan.

Disamping itu, menurut Rusydi; wajar kalau Harian Kompas mengutip pendapat penceramah pada seminar budaya PKA-3 tentang kekuatirannya, jika suatu saat bahasa Aceh akan punah di bumi Iskandar Muda. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat Aceh yang menetap di kota, dalam pergaulan sehari-hari enggan sekali mempergunakan bahasa Aceh. Apa lagi generasi mudanya menganggap jika berbahasa Aceh “kampungan”. Berbeda sekali dengan di Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakatnya kalau tidak bisa berbahasa daerah merasa “minder” dalam pergaulan. Suatu kesan yang dapat ditangkap, bahwa orang Yogya benar-

7

benar mencintai bahasa daerahnya. Setiap tamu yang datang pasti disapa dengan bahasa daerahnya, keadaan semacam ini terjadi dimana saja, di stasiun, di supermarket maupun ditempat lain”.

Bagaimana dengan  keadaan di Aceh sekarang?” tanya “Waspada”.  “Wah, jauh sekali berbeda dengan keadaan di kota Gudeg, yang tidak sih, deh dong,!”,jawabnya sambil berkelakar dalam dialek Acehnya yang kentara.

Perubahan Sikap

Informasi mengenai seluk beluk Aceh yang dijelaskan Rusydi MD; sang “musafir” asal Aceh yang tertera di atas, memang cukup menarik disimak. Tetapi, tidak kalah menarik pula pengamatan terhadap daerah Aceh; yang dikemukakan para perantau Aceh yang sudah sekian tahun tinggal di Yogyakarta.

Teungku M. Saby (bukan nama aslinya, tapi nama khas Aceh yang jadi tradisi di asrama Aceh “Meurapi Dua” Yogyakarta), dia menjelaskan “masyarakat Aceh sudah waktunya untuk merubah sikap mental yang selama ini kurang menguntungkan, biar seirama dengan daerah-daerah lain. Jadi perlu sikap instrospeksi diri. Sikap mereka kadang lebih terbuka. Ini terlihat dalam struktur organisasi-organisasi kemasyarakatan baik formal maupun informal, dibandingkan Aceh. Lebih jelas Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta, yang juga sehari-harinya berkecimpung di Senat Mahasiswa, “saya sangat prihatin mendengar ucapan-ucapan ‘tajak ikeui dicoet gateeh, tajak ilikot ditoh geuntoet’ (“kalau kita jadi pimpinan selalu diomongin yang bukan-bukan”). Nah, sikap-sikap seperti inilah dari sekarang perlu untuk ditinggalkan, sudah waktuya untuk menuju pola pikir yang lain” ungkapnya dengan gaya seorang filsuf.

Ketika “Waspada” menanyakan bagaimana mengenai Arsitektur di Aceh?, dengan cepat ia menjawab, sudah saatnya pula kita semua, terutama pada perencanaan arsitektur, pemerintah atau agen-agen yang lainnya untuk berhenti

8

sejenak, menoleh ke belakang, mengamati warisan kultural yang ada, dalam arti arsitektur Aceh perlu ‘diexpose’ lebih banyak, ataupun dilestarikan. Soalnya sekarang bangunan-bangunan rumah khususnya di daerah pedesaan sudah mulai mengarah ke arsitek ‘Eropah’, padahal kalau dikembangkan arsitektur Aceh tidak kalah dengan arsitektur Spanyolan”, ungkapnya dengan nada sangat ceria. Lebih jauh Teungku M. Saby yang lahir di Nyong, Luengputu-Sigli ini menceritakan bahwa, “Aceh sekarang sudah ditetapkan daerah tujuan wisata, nah dalam menggerakkan pariwisata, tentunya tidak lepas dari nilai pariwisata itu sendiri. Misalkan dalam membangun tempat-tempat peristirahatan turis, ini sebaiknya dibangun rumah-rumah mungil khas Aceh’. Demikian kata Tgk. M. Saby yang juga Pengurus Harian Yayasan Tjut Nyak Dhien, Yogyakarta.

Amsar, mahasiswa Jurusan Nuklir Fakultas Tekhnik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, menganggap mutu pendidikan di Aceh masih rendah. Khususnya di SMTP dan SMTA. Tolok ukur yang dipakainya, terlalu sedikit siswa-siswi lulusan SMTA dari Aceh yang mampu memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang “top hits” di Indonesia. Menurut alumni SMAN Sigli tahun 1985 ini, ada tiga faktor yang perlu dibenahi guna mengatasi ‘kemunduran’ itu. “Yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan minat belajar di kalangan siswa-siswi itu sendiri. Selain itu, terus terang saja mengenai literatur disekolah-sekolah disana masih sangat minim. Disamping itu, mutu pengetahuan para guru untuk bidang mata pelajaran yang diajarinya masih perlu ditingkatkan”, ujarnya. Diakhir percakapannya dengan “Waspada” mahasiswa UGM yang selalu memakai kacamata minus ini menitipkan pesan lewat “Waspada” kepada generasi Aceh. “Harapan saya bagi generasi muda kita; raihlah prestasi setinggi mungkin. Hidup itu memerlukan waktu, sedangkan waktu itu sendiri tidak bisa ditunda. Bak kata orang-orang bijak : “menyia-nyiakan waktu adalah suatu kebodohan yang sangat serius dalam kehidupan, karena hidup tidak bisa ditunda”, ucap Amsar dengan gaya seorang

9

sastrawan. Amsar, adalah putra Aceh pertama yang memasuki jurusan nuklir, sejak jurusan itu didirikan di Fakultas Teknik UGM Yogyakarta.

Meleset

Menjawab pertanyaan, bagaimana anggapannya terhadap daerah Aceh; sebelum dan sesudah kuliah di Yogyakarta, Anwar Muhammad Jaman mengakui perkiraannya jauh meleset. Kepada “Waspada” ia menjelaskan : “dulu saya merasa Aceh paling terkenal, cukup hebat. Dan dikenal ke seluruh Indonesia. Apalagi kalau dilihat dari sejarah perjuangan Aceh dahulu. Aceh tidak kalah perannya dari daerah-daerah lain”.

Tetapi setelah tinggal di rantau, katanya : “ternyata banyak orang Yogyakarta yang belum tahu bagaimana Aceh itu. Banyak teman saya yang menanyakan, “apakah di Aceh masih banyak harimau dan binatang buas lainnya?” Atas pertanyaan begini saya agak terkejut. Dan bergumam dalam hati, “apakah hanya ini yang mereka ketahui tentang Aceh? Apakah tidak ada hal-hal lain yang lebih menonjol di daerah kelahiran saya? Pasti ini akibat berita-berita di koran yang hanya senang mengekspose berita harimau mengamuk di Aceh”. Setiap kali menjumpai pertanyaan demikian, menurut Anwar Muhammad Jaman, ia selalu menjelaskan panjang lebar bagaimana keadaan Aceh sebenarnya.

Ketika ditanya, apa peranan masyarakat Aceh di luar daerah yang bisa mereka laksanakan untuk mempopulerkan Aceh? ; Anwar Muhammad Jaman yang mahasiswa Jurusan Tekstil Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini menerangkan, bahwa “mereka bisa ikut menampilkan kebudayaan Aceh di luar daerah, terutama kesenian Aceh. Tapi, hambatannya tentu saja karena kurang dana. Kalau ada dana dari pemerintah daerah Aceh, tentu hal tersebut dapat dilaksanakan sepenuhnya. Contoh yang dapat saya kemukakan, di Yogyakarta saat ini terdapat dua lembaga yang bergerak ikut memajukan sekaligus memperkenalkan

10

kebudayaan Aceh. Sanggar “Putroe Bungong” pimpinan Ny. Muin Umar dan LAKA (Lembaga Adat dan  Kebudayaan  Aceh) Yogyakarta misalnya, kalau cukup dana tentu dapat berbuat banyak. LAKA Yogya baru berdiri 14 Agustus 1988 yang lalu, ‘kan langsung dapat beraksi dengan menampilkan adat Aceh “Peusijuek Pengantin” di TVRI stasiun Yogya tanggal 1 September lewat( 1988-Red.). Begitu pula sanggar “Putroe Bungong” yang berdiri sejak 6 tahun lalu, ia sudah cukup terkenal sampai ke luar negeri. Kemajuan ini, bisa saja terjadi, mengingat  kota Yogyakarta termasuk pintu gerbang ketiga Indonesia bagi dunia luar setelah Bali dan Jakarta” ungkap Anwar.

Mahasiswa tahun terakhir di UII ini, sangat tidak setuju dengan anggapan bahwa orang Aceh memang kurang berbakat dalam berbagai bidang, khususnya bidang olahraga. Alasannya, “Aceh pernah meraih juara nasional dalam olahraga (sipak bola) di tahun 1980. Dalam olahraga anggar, Aceh juga masih bertahan dan disegani lawan”. Namun demikian, katanya: “masih perlu diupayakan pembinaan yang cukup terhadap olahragawan/ atlet-atlet daerah Aceh. Dan perlu mencari bibit unggul baru yang dapat dibina bakatnya untuk dapat tampil di tingkat nasional”.

Menaggapi berita Harian Kompas yang menyangkut kekhawatiran penceramah asal Australia pada acara “Temu Budaya Nusantara” PKA-3 yang memperkirakan, bahasa Aceh akan punah kalau tak ditangani dengan serius sejak sekarang – juga berita harian Hr. Kompas, 14 Mei 1988 tentang hambatan mengajarkan bahasa Aceh dan huruf Arab Melayu /Jawi di sekolah-sekolah di Aceh – Anwar Muhammad Jaman yang tamatan SMAN Beureunuen, Pidie (Aceh) tahun 1980 berpendapat : “perkara itu sebaiknya segera dibenahi sebelum terlambat”.

Ditambahkannya “masalah kurangnya tenaga  guru, dapat diatasi dengan cara mendidik guru-guru, calon guru untuk mengambil suatu jurusan bahasa daerah, yaitu bahasa Aceh. Itu, kalau jurusan bahasa Aceh sudah terdapat di Universitas atau institute yang ada di Aceh. Kalau hal itu belum tersedia, maka para guru/calon guru bahasa Aceh perlu diberi penataran atau kursus bahasa Aceh,

11

agar guru yang sudah ada dapat menguasai bahasa Aceh; baik lisan maupun secara tulisan dengan baik dan benar. Untuk para penatar/pendidik bagi guru-guru itu, diambil dari kalangan apa saja; orang tua/para pensiunan misalnya, asal cukup mengetahui seluk-beluk bahasa Aceh. Saya kira, masih ada orang yang menguasainya; Syekh Rih Krueng Raya contohnya”, tegasnya. Terhadap kurangnya persediaan buku bahasa/sastra Aceh, dia mengatakan masih ingat bahwa buku-buku seperti itu dulu sudah banyak diterbitkan. “Seandainya, memang ada niat menggairahkan kembali bahasa/sastra Aceh di sekolah-sekolah, arsip-arsip dari buku-buku yang dulu dapat dicetak kembali serta dikembangkan lagi”, katanya.

Tapi, menjelang berpisah dengan ‘Waspada”; Anwar Muhammad Jaman sempat ‘membisikkan” suatu sikap mental orang Aceh yang biasanya jadi biang keladi gagalnya suatu kegiatan. “Kita orang Aceh umumnya memiliki sikap serius tapi santai. Alias seu uem seu uem ek manok (panas-panas tahi ayam). Lain halnya dengan warga asli Yogyakarta. Mereka punya pandangan hidup sebaliknya, yaitu santai tapi serius alias “alon-alon asal kelakon” ( biar lambat asal selesai). Maksudnya, penduduk asli Yogya, tekun dalam kerjanya dan tidak cepat bosan”, tandas Anwar mengakhiri wawancaranya.

Apresiasi Seni

“Dalam bidang pendidikan seni, kita jauh ketinggalan. Sepertinya masyarakat Aceh tidak akrab dengan seni”. Hal ini diungkapkan Rusli, mahasiswa program studi seni lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ditambahkannya, “contohnya, seni tradisional Seudati saat sekarang boleh dikatakan hampir tak ada lagi, terkecuali muncul buat sebentar dalam kegiatan PKA-3 yang lalu”, ujar Rusli yang menamatkan STM Negeri di Langsa, Aceh Timur.

Mengenai potensi seni yang terpendam pada jiwa masyarakat Aceh, dia menyebutkan sebenarnya, orang Aceh bakat seninya tinggi. Tapi jangkauan seni itu sendiri hanya yang mereka tak tahu.

12

Seni kita di Aceh terbunuh semangatnya, karena secara umum seni dianggap hanyalah kerajinan tangan. Padahal tidaklah demikian’. Bila masyarakat Aceh bermaksud membenahi kembali kemunduran di bidang ‘seni-menyeni”, ia menganggap perlu adanya sekolah-sekolah atau institut seni, terutama bidang seni rupa dan desain, katanya.

Saat ditanya, apakah mudah mendapatkan buku-buku tentang daerah Aceh di toko-toko  buku kota Yogyakarta?. Jawabannya “sukar sekali’. Seterusnya, Rusli yang dilahirkan di kampong Ujong Rimba, kecamatan Mutiara, Pidie (Aceh) memberi alasannya: “Ini mungkin karena kurang munculnya pengarang-pengarang yang sudi menulis mengenai seluk-beluk daerah Aceh”. Dia juga menghimbau agar buku-buku mengenai Aceh jangan hanya dikarang dalam bentuk sejarah. Tetapi juga dalam jenis sastra seperti cerpen, novel, cerita bersambung dalam media cetak, dan lain-lain. Terutama yang mudah dibaca oleh anak-anak sekolah tingkat SD, SMTP, SMTA. Dan diusahakan agar buku-buku tersebut dapat disebarkan ke luar daerah Aceh yang edisi bahasa Indonesia. Ini sangat penting, sebagai salah satu jalan untuk lebih memperkenalkan daerah Aceh kepada masyarakat di daerah-daerah lain, termasuk bagi masyarakat luar negeri’ kilahnya.

Menurut Pengalaman

Gambaran mutu pendidikan di Aceh dapat ditelusuri pada “tradisi” yang berlangsung sudah cukup lama. Bahwa mayoritas mahasiswa asal Aceh di Yogyakarta kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Jumlahnya sekitar 80%. Ini bukan berarti PTS kurang berbobot. Sebab, sebagian kecil PTS di Yogyakarta juga cukup terkenal mutu para lulusannya. Tapi, logika perlu dipakai. Kalau sewaktu mengikuti test “Sipenmaru” PTN bisa lulus, besar kemungkinan jarang ada orang yang sedia masuk PTS yang “serba” mahal itu, masuk PTS; mungkin hanya pelarian (?).

Soal, mengapa sekitar 80% mahasiswa Aceh terpaksa kuliah di berbagai PTS Yogya, ditanyakan “Waspada” kepada Ir. Marzuki Yahya.

13

Ia langsung menceritakan kasus dirinya di mana Pendidikan Menengah Atas ditamatkannya pada sebuah SMAN di Aceh tahun 1978, jurusan Pasti Alam. Tahun 1979 berangkat ke Yogyakarta, bukan hendak masuk universitas ; tapi mau ikut “Bimbingan Test” di sana. Harapannya, biar bisa diterima di UGM Fakultas Kehutanan. Menurutnya, kebanyakan lulusan SMAN dari Aceh yang dapat diterima masuk UGM adalah mereka yang telah mengikuti Bimbingan Test di Yogyakarta.

Pada masa-masa permulaan ikut Bimbingan Test, ia hanya jadi peserta yang linglung dan bingung, karena tidak mampu menyerap pelajaran yang diberikan “tutor’. Padahal kesemua mata pelajaran itu telah selesai diajarkan waktu SMAN di Aceh, mencakup seluruh paket mata  pelajaran tersebut.

Berdasarkan pengalaman itu, alumni Fakultas Kehutanan UGM tahun 1988 ini berkesimpulan, bahwa ‘kebingungan” yang sempat dialami itu, karena sewaktu SMAN dulu;  praktikum-praktikum untuk mata pelajaran tertentu, masih terlalu minim  di Aceh. “Akibatnya, sementara bagi peserta lulusan SMTA asal Yogyakarta hanya tinggal sekedar memantapkan, sedangkan saya sendiri kadangkala belum pernah mendengar istilah-istilah dalam praktikum itu”, cetusnya dengan nada prihatin.

Satu hal lagi katanya, “kesadaran belajar pada waktu SMTA di Aceh masih kurang dibandingkan dengan siswa SMTA di Yogyakarta”. Dia yang pernah kost beberapa tahun di perkampungan dekat kampus, sempat memantau situasi belajar para siswa di sekitarnya. Menurut pengamatannya, ‘cukup tekun siswa-siswa disini. Keseriusannya pun sudah seperti mahasiswa di Yogyakarta’, tandas  alumni UGM ini yang pernah jadi pemain inti sepak bola kesebelasan “Gadjah Mada”.

14 ( belum ada)

14 ( sudah ada, Januari 2011 )

Potensi Pertambangan

fakta sejarah Aceh menunjukkan bahwa mereka yang tampil membela kemerdekaan bangsa, bukan hanya kaum lelaki saja. namun, para wanita pun tak mau ketinggalan. begitu pula dalam hal pendapat ini, dara-dara Aceh yang sedang study di Yogyakarta ikut pula menyumbangkan pikiran-pikiran mereka.

muetia menjelaskan “Aceh seharusnya sudah dari dulu perlu ahli-ahli ; Perminyakan, Tanah, Pertambangan dan Giologi. Karena setelah membaca buku ‘ARENA PROMOSI ACEH PEKANRAYA JAKARTA’ di Sumatra, khususnya Aceh banyak sekali potensi bahan galian/mineral yang cukup baik, dan prospeknya pun cukup bagus”.  Lebih lanjut Mahasiswa Fakultas Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta ini mengusulkan : “untuk menciptakan tenaga-tenaga ahli dibidang perminyakan, pertambangan ataupun geologi, perlu dibuka fakutlas teknik jurusan minyak, geologi dan pertambangan di perguruan tinggi (PT) yang terdapat di Aceh, baik di PTN ataupun PTS. Dengan adanya para pakar itu, pengolahan sector pertambangan di Aceh pada masa akan datang, tidak sangat tergantung lagi kepada tenaga ahli dari luar negeri”.

diakuinya, bahwa mendirikan lembaga perguruan tingi bidang pertambangan bukanlah urusan gampang. karena peralatan praktikum sukar diperoleh dan mahal harganya. Lagi pula praktikum-praktikum itu dilakukan setiap semester, sejak semester pertama hingga terakhir. “Lebih-lebih tenaga dosen sulit di cari. UPN saja yang sudah lama berdiri masih kurang staf pengajarnya”, kata mahasiswa UPN yang aktif di ‘remaja Mesjid”, tempat tinggalnya. “Biarpun demikian, melihat potensi bahan tambang yang cukup melimpah di Aceh ; maka pembukaan pendidikan tinggi bidang tersebut sudah saatnya dipikirkan. Yaa, sebelum terlambat”, usul Muetin yang juga alumnus SMA Neg 1 Banda Aceh.

Mahasiswi lain yang lahir dibesarkan di Sragen, Jawa Tenggah belum pernah ke Aceh, tetapi kedua orang tuanya berasal dari sana, menyoroti sikap orang Aceh yang selalu merasa diri ‘superior”.

15 belum ada

15 ( sudah ada, 10 – 2 – 2011 pkl 18.35 wib. )

Semenjak kuliah di Fakultas Kedokteran Umum UGM, terbuka kesempatan baginya untuk bergaul akrab dengan mahasiswa-mhasisiwi asal daerah Aceh. “Kesan saya, sebagian mereka terlalu ‘bombastis’ tutur-katanya. Putra-putri Serambi Mekkah-lah dan berbagai ‘super slogan’ yang bila sering diomongkan terasa menjemukan. Bagi saya, segudang slogan itu bukannya untuk selalu diungkit-ungkit di setiap kesempatan. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana menghayati intisari dari ‘pernyataan-pernyataan’ kehebatan diri itu. Jadi, janganlah slogan hanya sekedar pemupuk keangkuhan saja”, kisahnya.

Dalam soal ini, mhasiswi yang bapaknya asal  desa Bluek Arab, kecamatan Indrajaya-Sigli dan ibu dari desa Beutong Pocut, kecamatan Sakti-Sigli; menghimbau semua generasi muda Aceh dimana saja berada, agar jangan terlalu banyak omong tentang kehebatan masa lalu. “Boleh-boleh saja ngomong ini-itu ‘kelebihan’ kita, asal mampu dipraktekkan dalam realitas keseharian. Bila tidak, jangan-jangan kita hanya jadi bahan cibiran orang”, ucap mahasiswi yang gemar berpakaian jilbab itu.

Syarifah Rose Pandanwangi yang bercita-cita, disuatu saat nanti ingin menjenguk langsung kampong leluhurnya di Aceh, seterusnya menerangkan. Bahwa “ada sedikit ketidak seimbangan antara unsur ‘materi dan rohani’ dalam kehidupan generasi muda Aceh. Hal ini menampilkan citra yang timpang bagi orang-orang yang berasal dari negeri Serambi Mekkah. Selain itu orang Aceh kurang menghargai waktu. Ini menurut saya lho…!”, sambil hi…hii…hii nya yang manis.

Aneh tapi nyata

Syarifah Kausarina, alumni Akademi Kesejahteraan Keluarga Yogyakarta, hanya berkomentar singkat tentang “Aceh” kepada “Waspada”, “Saya baru agak banyak tahu mengenai seluk-beluk Aceh, setelah kuliah di Yogya. Dulu, saya kurang peduli masalah itu. Tapi karena masyarakat di sini sering menanyai hal-ihwal Aceh, maka terdoronglah saya mempelajarinya dengan tekun. Begitu pula kawan-kawan saya, kebanyakan dari mereka baru mempelajarinya agama Islam secara sungguh-sungguh setelah merantau ke Yogya, sebab orang-orang disini ‘menuntut’ orang Aceh memahami agama Islam”, ujar sarjana muda berjilbab, putri Aceh kelahiran Lameue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh itu.

16

Kreasi Baru

Muhammad Fadli Zaini asal Aceh, mahasiswa Akademi Pariwisata Indonesia (API) Yogyakarta tahun terakhir. Kegemarannya antara lain menonton paket siaran kebudayaan nusantara di TVRI. Tentang tayangan “kesenian” Aceh ia berkomentar. Bahwa ; “syair-syair yang dibawakan para pemainnya sangat menoton. Itu-itu saja. Kurang kreasi baru. Yaa, hanya “Cempala Kuneng’, Bak Babah Pinto dan sejenisnya, teeeeeeeerrrrrrrruuuusssss hampir belum berganti sejak dulu”  keluhnya.

“Namun demikian, saya sendiri sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang ikut mendukung terselenggarannya acara itu. Paling kurang, ini berarti kesenian Aceh belumlah mati. Hanya disayangkan, dalam kepasifan begini kesenian Aceh kurang mampu menampilkan diri kepermukaan. Misalnya, belum/jarang menyertai acara “Lagu Pop Daerah” di TVRI, sesalnya.

Ditambahkannya; “seakan-akan lagu dan syair Aceh tidak mampu berkembang. Atau memang belum ada orang yang sanggup melaksanakan saat sekarang?”, dia bertanya entah kepada siapa!. Diakuinya, dewasa ini memang pernah ditampilkan beberapa kreasi baru. Tapi masih sangat minim. “setahu saya, di Aceh ada beberapa ahli yang cukup trampil dalam menciptakan syair-syair Aceh. Syekh Rih Krueng Raya, termasuk pakar paling ‘canggih” dalam bidang itu diantaranya. Bukankah beliau-beliau bisa diajak kerjasama?”. Ketika ‘Waspada” mempertanyakan dari mana sumber dana?, mahasiswa yang berasal dari kampong lhang, Tijue-Sigli ini pun nampak terpana!. Sebagai mahasiswa bidang pariwisata yang sering tugas praktek pada hotel-hotel berbintang di Yogyakarta, ia punya usul. “Saya lihat, hotel-hotel di Yogya sangat dominan menampilkan aneka-rupa budaya daerahnya, untuk memikat perhatian turis-turis luar negeri. Bagaimana, jika hal yang sama juga diterapkan pada hotel-hotel ‘pariwisata’ yang terdapat di Aceh. Tindakan ini, jelas mampu memajukan pariwisata di Aceh yang sedang digalakkan sekarang’, ucapnya meyakinkan.

17

Kisah Seorang Pelajar

Salah satu dari sekian gelar kota Yogyakarta adalah kota pendidikan. Boleh pula diberi nama kota ‘laboratorium” pendidikan. Karena itu tidaklah mengherankan, bila banyak orang tua mencita-citakan sempat ‘menyekolahkan’ putra-putrinya di kota ini. Selain, atas dorongan orang tua, diantaranya ada pula atas kehendak pelajar itu sendiri. Ataupun memang atas dasar kesepakatan bersama antara orangtua dengan putra-putrinya.

Salah seorang pelajar asal Aceh yang berkesempatan meneruskan sekolah di kota pendidikan  ini adalah Mulyadi M.Ali Djufri. Asalnya, kampong Keude Aceh, Lhokseumawe, Aceh Utara. Semula, ia bersekolah di salah satu SMTA di kota Banda Aceh; sampai kelas dua. Pada awal naik kelas tiga, ia pindah sekolah ke SMA Muhammadiyah III Yogyakarta. Kini, sudah dua bulan dia menjadi siswa di SMA Swasta tersebut.

Ditanya ada/tidaknya perbedaan antara tempatnya dulu sekolah dengan yang sekarang, dijawabnya bahwa memang terdapat perbedaan dalam beberapa hal. Perkara yang paling mengagetkannya, karena rasa bersaing dalam bidang pelajaran sangat tinggi diantara para pelajar di Yogya, khususnya di SMA Muhammadiyah III. Rata-rata bercita-cita ingin rebut rangking di kelas masing-masing. Akibatnya mereka jadi sangat pelit dalam hal yang menyangkut pelajaran. Mau pinjam buku, catatan pelajaran sulit dikasih, biar pun kita sudah berteman akrab. Teman ya teman. Begitu pula sewaktu ujian bulanan. Kalau kita tanya, bisa dijawab atau tidak. Semuanya mengeleng tak bisa. Padahal, sebentar kemudian dia sudah mengumpulkan jawaban ujiannya kepada Pak guru”, jelas Mulyadi dengan rasa jengkel, terheran-heran. Kalau sewaktu di Banda Aceh, sesama teman mau saling kompromi menjawab soal-soal ujian.’ Di sini tidak, teman hanya di luar ujian, dalam ujian jadi ‘musuh bersaing’ tambah siswa yang pintar masak serba makanan  ala Aceh ini.

18

Perbedaan lain yang dirasakannya, yaitu menganai cara para guru mengajarkan pelajaran. “Hampir semua siswa kena giliran maju ke papan tulis memecahkan soal. Kalau belum betul-betul mengerti, guru masih terus memantapkan pelajaran itu. Tidak dilanjutkan ke pelajaran baru. Lain yang di Banda Aceh, jeut hanjeut langsong laju geupeureunoe laen’ (bisa atau tidak, langsung diteruskan masalah lain). Di Aceh, kita  ditanya guru, apakah sudah mengerti. Jika kita bilang sudah, langsung beres. Di Yogya tak segampang itu. Kebolehan kita, semuanya dibuktikan di papan tulis”, tandas Mulyadi sambil cengengesan mengenang ringannya beban seorang pelajar di sekolahnya dulu di Aceh.

Ketika ditanya “Waspada” dengan banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu ‘unit’ pelajaran ; apakah tidak mengganggu rencana waktu penyelesaian suatu paket pelajaran?. “Kalau di Yogya tidak. Sebab, kebanyakan pelajar punya Kelompok Belajar untuk belajar bersama di luar sekolah. Banyak pula yang mengikuti “les privat’ yang banyak terdapat di sini. Ohlheuh nibak nyan, guru disinoe leubeh carong ngon di Aceh (Selain itu, guru di Yogya lebih kuat menguasai pelajaran yang diajarkannya). Jadi, biar banyak menghabiskan waktu guna memantapkan setiap pelajaran, tetapi proses mengajar target pelajaran tetap berjalan lancar. Karena didukung kedua faktor itu tadi’, katanya.

Mulyadi yang duduk di kelas III jurusan Biologi selanjutnya menerangkan, bahwa ia tidak mengalami kesulitan mengkuti pelajaran yang menyangkut pelajaran-pelajaran Ilmu Pasti Alam (IPA). Karena bidang itu memang diminatinya sejak di Aceh. “Hanya bahasa Inggris yang merupakan momok bagi saya di sini. Kemampuan berbahasa Inggris para siswa di sini cukup hebat. Rata-rata, mereka tidak menganggap sulit bahasa Inggris”.

Menjawab pertanyaan, apa cita-cita setelah menamatkan SMA, katanya ia bermaksud melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Gigi. Tapi Bapak, menghendaki saya masuk Fakultas Perikanan. Terserahlah mana yang lulus test nanti. Kalau pun gagal keduanya, saya akan pulang ke Lhokseumawe untuk membantu orangtua menternakan udang tambak”, jawab pemuda Aceh yang berjiwa optimis ini.

19

Diakhir perbincangannya, Mulyadi M. Ali Djufri menitipkan salamnya lewat “Waspada” yang ditujukan kepada Bapak Kepala Sekolah, Dewan guru serta siswa-siswi SMA tempatnya dulu belajar di Banda Aceh, disertai permohonan maaf atas segala salah-silapnya. “Apa yang saya ungkapkan ini bukanlah bertujuan memojokkan sekolah saya dulu. Tapi, demi perbaikan mutu pendidikan sekolah di Aceh secara keseluruhan di masa-masa mendatang. Kon keucangklak  atawa keu ria (bukan kelancangan atau sekedar sok tahu). Mohon ini dicatat”, pintanya kepada “Waspada” sebelum beranjak pergi.

“Kebanyakan para orangtua murid di Aceh tak pernah peduli terhadap maju-mundurnya pendidikan anak-anak mereka secara kontinyu. Paling-paling, mereka hanya memarahi putra-putrinya sewaktu melihat banyak nilai Raport yang ‘merah”. Memberikan ‘perhatian”, hanya sesaat saja. Alias perhatian ‘kaget’ Raport. Tentang sikap orangtua murid ini, dikemukakan Abdullah Haji Syah, menjawab pertanyaan mengapa mutu pendidikan di Aceh berkesan kurang maju’?.

Seterusnya, mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, yang lahir di Matang Geulumpang Dua, Aceh Utara menyampaikan hasil ‘pengamatannya’ selama ini. ‘banyak perkara yang sangat mendukung terciptanya prestasi yang tinggi bagi para pelajar di sini. Faktor lingkungan misalnya, Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar-mahasiswa. Jadi, di mana suasana ‘orang belajar’ sangat menonjol memasyarakat, buku-buku yang diperlukan mudah didapat dan tidak semahal di Aceh harganya. Karena suasana lingkungan cukup mendukung, maka para pelajar juga mahasiswa, banyak yang membentuk group Kelompok Belajar di sini. Disamping itu, fasilitas-fasilitas sebagai sarana penyaluran bakat-bakat individu yang cukup tersedia. Keberadaan ‘media’ tersebut bisa memacu semangat belajar, karena adanya saling mengejar prestasi. Lomba lukis, sayembara mengarang dan berbagai lomba lainnya, sangatlah berguna bagi generasi muda. Apalagi, majalah sekolah berupa Majalah Dinding dan Bulletin cukup menjamur di Yogya”, ungkap alumni STM Negeri Bireuen itu.

20 belum ada

20 (sudah ada, dari awal, cuma salah lihat/silap/salah hitung)

Tentang tingginya mutu pendidikan di Yogyakarta dan sekitarnya, dapat disimak dari pembicaraan “ Waspada” dengan Sayid Mumhammad Syarief, siswa SMPN V Sragen, Jawa tengah. Ia yang adik kandung Syarifah Rose Pandawangi menerangkan, bahwa untuk dapat diterima disekolah sekarang bukanlah gampang. Sebab, SMPN V Sragen adalah sekolah paling favorit tingakt SMTP di Kabupaten Sragen. Masyarakat menganggap mutu pendidikan di sekolah itu sangat baik. Selain para guru yang trampil dalam bidang yang diajarinya masing-masing, perlengkapan atau fasilitas sekolah lainnya tersedia sangat memadai. Akibatnya dalam lomba Perpustakaan yang diselenggarakan baru-baru ini; Perpustakaan SMPN No. V Sragen terpilih sebagai juara pertama dari perpustakaan sekolah-sekolah tingkat SMTP se- Jawa tenga

Lebih jauh, Sayid Muhammad Syarief yang punya kegemaran membaca sejak kelas III SD itu, mengatakan bahwa nilai Ebtanas rata-rata delapan tidak dapat diterima masuk SMPN V Sragen. Sedikit saya beruntung, nilai saya rata-rata 8,7 jelasnya menerangkan mengapa ia diterima masuk SMPN V Sragen tahun ini.

FATAMORGANA

Sejak kecil saya sudah mulai sangat membanggakan Aceh, karena bapak saya asal Aceh. Sedikit-banyak berarti saya juga keturunan orang Aceh. Rasa bangga terhadap daerah Aceh yang bersemai di jiwa saya sangat wajar, karena selalu dipupuk oleh lingkungan tempat saya tinggal, yaitu kota Madiun, Jawa Timur. Tentang kepahlawanan, ketaatan beragama; yang dijadikan contoh pasti orang Aceh. Hanya Aceh satu-satunya calon prima. Keadaan demikian berlangsung di mana saja, baik di sekolah-sekolah, mesjid-mesjid ,khutbah Jum’at, ceramah), tempat-tempat pengajian agama, diskusi dan sebagainya. Demikian ungkapan kenangan Teungku Mohd. Iqbal Ali Amin, mahasiswa tahun akhir Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)  Yogyakarta.

21

Teungku Mohd. Iqbal yang bapaknya asal Luengputu-Sigli, sedangkan ibu asli Madiun, Jatim ; seterusnya menerangkan bahwa sewaktu masih sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA di Madiun merupakan saat-saat yang penuh kenangan dan membahagiakan baginya. Itu, hanya gara-gara ia berdarah Aceh dari pihak bapaknya.

“Waktu itu dada saya sampai ‘mekar’ karena bangga. Guru-guru sekolah, baik guru pelajaran sejarah Indonesia, guru agama, guru PMP/Civics senantiasa menunjukkan orang Aceh sebagai acuan contoh-contoh dari uraian mereka. Untuk menyakinkan para murid akan contoh yang diberikan itu, guru-guru tersebut selalu mengatakan : “kalau kalian tak percaya, tanyakan sendiri kepada Iqbal yang bapaknya dari Aceh”. Saya selalu meng-iyakan disertai anggukan kepala saat guru-guru bilang begitu ; dengan rasa bangga pula. Padahal saya sendiri belum tahu apa-apa tentang Aceh saat itu. Bila para guru sedang menceritakan orang Aceh sebagai contoh prima/utama, selalulah saya dijadikan tempat memperkuat argumentasi mereka. Peristiwa para guru menyinggung perihal Aceh memang saya harap-harapkan, karena dapat memperkuat wibawa saya dalam pandangan seluruh teman saya di sekolah”, jelas Teungku Mohd. Iqbal yang belum pernah datang ke Aceh itu.

Rupanya, rasa bangga-hati yang berbunga-bunga karena membanggakan kehebatan Aceh, terutama disebabkan dalam dirinya juga mengalir darah Aceh, ternyata tidak selamanya mau bersepi dalam jiwa Iqbal. Hanya sebatas sekolah SMA, perasaan ‘Uber alles Aceh’ meledak-ledak dalam dirinya. Sesudah itu mulai menurun. Sejak kuliah di Yogyakarta, ia tinggal bersama-sama mahasiswa asal Aceh di Asrama Aceh Merapi Dua, yang kebetulan saat sekarang diketuainya sendiri. Motif utama yang mendorongnya tinggal di Asrama Aceh adalah karena ia ingin bergaul secara lebih dekat dengan orang-orang asal Tanah Aceh yang dibanggakannya sejak kecil. Tepatnya, ia hendak mengupas kulit agar nampak ‘isi sejati’ dari sang orang Aceh yang disanjung-puja-pujinya selama ia tinggal bersekolah di Madiun, Jatim.

22

Mengenai kesan-kesannya setelah tinggal di Asrama Aceh tersebut, Mohd. Iqbal yang bercita-cita menjadi advokat/pengacara seperti bapaknya mengungkapkan, “sesudah berjalan waktu dari tahun ke tahun, ternyata kesemua yang saya bangga-banggakan dulu belum pernah saya jumpai. Terbuktilah sekarang, ada juga anak Aceh yang tidak bisa ngaji Al Qur’an, malas Shalat. Padahal, kejanggalan itu tak pernah terbayangkan bisa pula kita temui pada putra-putri Aceh”, ujarnya keheranan, karena anggapannya yang dulu-dulu terhadap Aceh ternyata keliru.

Salah satu sikap/sifat dari teman-teman asal Aceh yang tidak disukainya adalah sikap ‘otoriter’ atau uber alles, yaitu pemberian nilai yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, kebudayaan sendiri, daerah sendiri dan seterusnya. “Biar sudah merantau, tapi pergaulan sebagian mereka masih semacam berada di daerah. Terutama, dalam pergaulan kurang mau berbaur, masih pilih-pilih”, tambah Iqbal menjelaskan hasil pengamatannya terhadap para penghuni di asrama-asrama Aceh di Yogyakarta.

‘Seandainya, sikap ‘keras’ itu tidak terbawa-bawa ke luar, berarti akan lebih menguntungkan putra-putri Aceh. Sebab, sebutan orang Aceh yang prima/hebat dan baik sudah cukup terkenal ke segenap penjuru. Tapi, jika kesan kasar yang lebih sering ditonjolkan ke permukaan, jangan-jangan orang luar akan beralih calon primanya kepada pihak lain. Untuk mencegahnya, maka sikap ‘otoriter’ mau menang sendiri dari orang-orang Aceh perlu ditipiskan. Seterusnya, keakraban antar sesama manusia (human relation) mesti lebih diharmoniskan’ tanpa memandang asal keturunan. Soal lain yang sepantasnya dibuang jauh-jauh, yaitu rasa kabupatenisme yang terkesan masih melekat dalam tingkah-laku teman-teman saya yang berasal dari Aceh”, himbau Mohd. Iqbal dengan nada serius.

23

“Biarpun juga tak menemukan apa yang saya bangga-banggakan sejak kecil, tapi punya kesan tersendiri selama saya bergaul langsung dengan teman-teman asal Aceh. Kesan saya, orang-orang Aceh sangat mematuhi janji. Dalam perkara janji selalu ditepatinya. Kesetiaan pada janji cukup kuat; seolah-olah sudah menjadi prinsip hidup. Selain itu, orang-orang Aceh menjiwai kesetiakawanan yang kuat, kental. Suatu contoh tentang kuatnya rasa setia-kawan orang Aceh seperti berikut : waktu serombongan mahasiswa  pergi tour ke Parang-Tritis, Yogyakarta beberapa tahun lalu. Saat itu, salah seorang anggota rombongan mengalami kecelakaan lalu lintas. Ternyata, kesemua peserta tour jadi sibuk ikut membantu. Mereka mau menjenguk si ‘penderita’ ke rumah sakit, sehingga yang mengalami musibah itu jadi sembuh.

Contohnya lain, yang lebih meyakinkan saya bahwa orang-orang Aceh memiliki rasa-setiakawan yang kuat lagi jujur adalah riwayat dua orang pembantu asrama kita (asrama Aceh Merapi Dua-Red) yang tahan bekerja sudah 39 tahun. Menurut kesan saya, sifat pergaulan antara para penghuni asrama (sebagai Tuan) dengan pembantu (sebagai Pelayan) sangatlah akrab. Tidak terkesan sebagai hubungan-pergaulan antara majikan dengan pelayannya, seperti yang lazim kita saksikan di tempat-tempat lain di Yogya atau Madiun kota asal saya. Para alumni asrama pun, yang kini banyak jadi orang penting juga masih tetap ingat kepada kedua pembantu mereka dulu itu. Selain, titipan salam dalam surat-surat, banyak pula para alumni asrama yang menghadiahkan sesuatu yang “berharga” bagi kedua pembantu tersebut. Hubungan seharmonis ini antara majikan dengan pembantu, belum pernah saya temui di mana pun, terkecuali dalam kehidupan orang-orang Aceh’, tegas Iqbal dengan perasaan kagum.

24

Menjelang berpisah dengan ‘Waspada”, Teungku Mohd. Iqbal Ali Amin menghimbau masyarakat Aceh untuk lebih menyesuaikan kepribadian mereka selaras dengan suara zaman’. Sebenarnya, dengan tak usah mengembar-gemborkan kehebatan pun sudah cukup. Sebab, orang luar sejak dulu sudah menganggap Aceh hebat. Sehubungan dengan itu, sebaiknya jangan terlalu ‘sinis’ kepada kebudayaan luar. Sebab, jika demikian bisa-bisa orang luar akan membalas pula, yakni memilih primadona mereka yang lain”, ucap Iqbal yang punya cita-cita setelah meraih gelar Sarjana Hukum (SH) nanti, ingin menjenguk tanah leluhurnya di Luengputu, Sigli-Aceh.

Punya Harapan

Ketua TPA (Taman Pelajar Aceh) periode sekarang ; Dasrul Diwasahputra pertama-tama mengomentari artikel Dr. Umar Kayam dalam koran lokal Yogya (tentang Aceh) yang disodorkan “Waspada” kepadanya. “Menurut saya, sikap ‘uber alles’ orang Aceh pasti mencair, bila syarat-syarat untuk itu sudah tersedia. Hampir semua sikap kita manusia diciptakan oleh berbagai pengalaman. Begitu pula bagi masyarakat Aceh, pandangan hidup mereka tercipta akibat perkembangan sejarah Aceh di masa-masa lalu. Merobah sikap memang tak bisa berlangsung dalam waktu singkat, karena masa pembentukan sikap-sikap itu juga terjadi dalam peredaran waktu yang cukup lama, akibat berbagai peristiwa. Namun saya tetap yakin, kepribadian ‘uber alles’ itu bisa hapus dengan sendirinya, nanti, asal tetap diupayakan menghilangkannya dengan berbagai tindakan positif”, tandas Ketua TPA Yogya kelahiran Susoh, Blang Pidie, Aceh Selatan itu.

Menurut Dasrul Diwasahputra, “Modal utama mencairkan sikap-sikap yang kurang berfaedah hanyalah dengan memperluas wawasan pikiran masyarakat pendukung sikap tersebut. Dalam hal ini, sarana komunikasi yang lancar antar penduduk, dengan luar daerah sangatlah penting diusahakan. Sarana jalan, jembatan yang cukup syarat; paling menentukan dalam penyebaran informasi pembangunan dalam arti luas”, katanya.

25

Seterusnya, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil UII Yogyakarta tahun terakhir yang getol dalam organisasi kemahasiswaan itu berujar:” Berbagai terobosan demi pembangunan Aceh yang dilaksanakan Pemda Aceh sekarang, sangatlah tepat. Upaya pendekatan guna merangkul rakyat untuk mengajak mereka membangun daerah Aceh, telah ditempuh jalur yang sealur dengan jiwa orang Aceh. Yaitu pendekatan manusiawi; saling menghargai sesama insan makhluk Tuhan.

Jalan yang ditempuh sudah benar, sesuai dengan bunyi Hadih Maja (pribahasa Aceh): Uleue beumate ranteng bek patah, buet beuase rahasia bek beukah (‘dalam mengerjakan sesuatu, jangan sampai efek negatifnya yang lebih merugikan”). Maka, usaha pembangunan seperti ini wajib kita dukung dengan usaha-usaha yang nyata ; oleh masyarakat Aceh sendiri’, harap pimpinan Taman Pelajar Aceh yang membawahi enam buah Asrama Mahasiswa Aceh tersebut.

‘Konsep Manusia Unggul’ yang tengah dilaksanakan Gubernur Aceh Prof Dr. Ibrahim Hasan MBA (lihat no. 103 Maret 1988 Bulletin KAMABA-Bandung-Red) serta Yayasan Malem Putra, merupakan bukti-bukti yang nyata, bahwa daerah Aceh serta masyarakatnya tengah menempuh jalan ‘lempang’ yang penuh harapan di masa depan. Untuk suksesnya program-program pembangunan itu, dukungan sepenuhnya dari seluruh masyarakat Aceh paling menentukan”, kata Dasrul Diwasahputra yang tinggal di Jln.Sunaryo No.2 Kota Baru, Yogyakarta, yakni sekretariat Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta.

Terheran-heran

Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan UGM Yogyakarta adalah Dr. Umar Kayam. Ia termasuk salah seorang budayawan yang cukup terkenal dalam sekup nasional, bahkan ditingkat internasional. Sebagai budayawan yang giat mengamati perkembangan kebudayaan nasional, maka ia ikut hadir menyaksikan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) III di Banda Aceh beberapa waktu yang lalu. Berikut   kesan-kesannya mengenai kebudayaan Aceh & masyarakatnya dalam tulisannya yang berjudul “Uber Alles”. Pengamatannya itu telah dimuat  pada  “Harian Kedaulatan Rakyat”, 6 September 1988, halaman 1 dan 12. Tulisan  Dr. Umar Kayam  ini merupakan rangkaian tulisan rutin dalam “rubrik khusus” seminggu sekali. Dalam rubrik tersebut Umar Kayam selalu ‘berceloteh dengan pembantunya Mr. Rigen”. Cuplikan tulisannya adalah sbb :

26

“Pak?”

“Huh?”

“Aceh itu apa ya jauh betul to, pak?”

‘Lha, iya. Kenapa?”

“Badan dan seluruh tubuh Bapak kog pada terasa capek semua. Mestinya Aceh itu ya jauuuuh sanget, nggih Pak?’

“Ha, iya. Wong ada di ujung pulo Sumatra sana!. Kamu bisa membayangkan bagaimana jauh itu?”

“Ya, bisa pak. Wong dulu di SD juga dapat ilmu bumi, lho, pak.”

“Lha, ya, sudah. Berapa jauh Aceh itu dari sini kira-kira?”. Mr.Rigen berpikir keras. Wong pegangannya di kaki saya terasa mengendur.

“Ha, kira-kira ya bolak-balik Praci-Wonogiri 27 kali terus masih ditambah ngubengi, keliling Gunung Gandul 10 kali. Enggih apa boten?’

“Rupamu. Ya masih kurang jauh sekali, Gen. Wong naik pesawat jet dari Jakarta saja kira-kira tiga jam itu”.

‘Weh, edan tenan jauhnya. Lha, terus orang-orang Aceh yang di sana itu apa ya seperti mahasiswa Aceh yang di sini, pak?’.

“Lha, iya wong saksuku kok. Ning wong Aceh itu macam-macam tampangnya. Ada yang putih blengah-blengah, ada yang hitam cemani seperti Kresna, ada yang matanya biru seperti Londo,  ada yang hitam seperti orang India, pokoknya macam-macam”.

“Weh, kok begitu?”

“Lha, iya, Aceh itu sejak dulu-dulu duluuu jadi tempat perdagangan dan tempat mampir macam-macam bangsa. Lha, keruan saja mereka pada berbaur Gen. Aceh itu dulu kerajaan hebat, lho, Gen. Rajanya naik gajah, lho, Gen

.

“Weh, elok, Gajah itu jadi tumpakan ratu?’.

“Ha, kalau raja agung binatara ya mesti begitu, Gen. Lha raja sana itu dulu juga suka adu gajah.”

27 belum ada

 

27 ( sudah ada, minggu terakhir Januari 2011)

“Weh, elok. Gajah kok diadu, lho. Terus dapatnya gajah itu gek dari mana?’.

“ya dari hutan, Gen. Hutan sana banyak gajahnya.”

“Weh, kalau hutan sini kok cuma banyak munyuk dan kera saja, lho”.

‘Ha, iya. Yang masuk desa munyuknya malih jadi seperti kamu, to, Gen ?

“Yak, bapak ki terus menghina lho. Ning kalau sama kerajaan Mentaram hebat mana krajaan Aceh itu, pak. Rak hebat  Mentaram to. Pak?”

“Ya mungkin sama-sama hebat.”

“Ning apa raja Aceh punya Kyahi Plered, punya kreta kencono, punya istri ratu lelebut Nyai Roro Kidul, punya Sultan Agung yang pernah ngepung Betawi “. Wii, nggak punya to mereka, pak ?”.

Saya jadi terkesima. Sambil tengkurep, memenjamkan mata, menikmati jari-jari Mr. Rigen yang terus nyet-nyet-nyet menggerayangi belakang saya, saya jadi ingat yang pada hadir di seminar Pekan Kebudayaan Aceh itu. Mereka, tua dan muda, yang masih pada penuh kebanggaan berbicara tentang kedahsyatan Iskandar Muda yang Agung yang telah berhasil membangun suatu kerajaan nyang kuat lagi makmur ; tentang kehebatan generasi nenek dan buyut mereka melawan Belanda ; tentang keperkasaan mereka mempertahankan Aceh sebagai wilayah terakhir dari Republik Indonesia. Suatu kebanggaan dan kerinduaan yang wajar dan dapat dimengerti karena itu semua memang sudah dicatat dalam buku besar sejarah kita.

Tetapi waktu mereka diingatkan bahwa semua raja besar di Nusantara ini, termasuk Iskandar Muda dan Sultan Agung, adalah raja-raja yang absolute kekuasaannya dan karenanya, mestinya, juga sewenang-wenang, kok banyak dari mereka jadi naik ampernya.

Juga waktu diingatkan bahwa pengorbanan rakyat Aceh mengumpulkan dana lewat obligasi nasional”. “Sebaiknya.

28

Diikhlaskan saja sebagai salah satu dari sekian banyak rentetan tumbal kemerdekaan. Seperti tumbal rakyat Jawa Barat yang pada mati dibunuh D.I, rakyat Jawa Timur yang mati dibunuh P.K.I,  rakyat Sulawesi Selatan yang dibunuh Westarling. Kok mereka jadi terheran-heran mendengar argumentasi tumbal’ itu?’, tulis Dr. Umar Kayam.

Berakhirlah sajian ; “Aceh dipantau dari luar daerah”. Kecuali si “LOPER” dan Dr. Umar Kayam, kesemua pendapat dan pandangan yang terangkum dalam laporan ini diberikan putra-putri Aceh sendiri, baik yang dilahirkan, dibesarkan di Aceh maupun yang belum pernah menginjakkan kakinya di Tanah Aceh.

Kini, mereka sedang berada di rantau untuk menuntut ilmu. Hampir seluruhnya hidup mereka ditunjangi orang tua/keluarga masing-masing. Dan hanya satu-dua yang ‘makan beasiswa’. Mereka belum punya kemampuan atau potensi apa-apa. Entahlah nanti serampung studi. Mungkin pula, mereka juga akan larut dan tua sepulang ke Aceh seperti diungkapkan si “LOPER” di awal tulisan ini; Wallahu ‘aklam!.

Pikiran-pikiran mereka yang terangkai ini, hanyalah penyaluran ‘uneg-uneg’ yang sekian lama mencari saluran. Nampaknya, biar diri mereka penuh dengan keprihatian ekonomi serta beban studi, pengalaman di rantau juga terekam di benak tampa terasa. Sekarang, sebagian pengalaman itu telah disalurkan lewat tulisan  ini. Menghendaki pikiran yang matang dan tuntas, memang belum pantas dituntut dari mereka. Namanya saja mereka masih “belajar”, maka salah dan silap adalah wajar. Cuma saja mereka mengharap, janganlah dicap bagaikan akhlak Si Amat Rhang Manyang yang mendurhakai bundanya, akibat limpahan kekayaan selama di rantau. Kesemua putra-putri Aceh itu, bukanlah berwatak Malim  Kundang,  Si Kinantan atau Amat Rhang Manyang. Tetapi manusia-manusia biasa yang tak cepat lupa daratan!. Insya Allah. (Mohd. Nuor Hasballah & T.A. Sakti, Taman Pelajar Aceh Yogyakarta).

(T.A. Sakti).

9-9-1988.                                                                                      Mohd. Nuor  H

27 – 1 – 1409

Catatan Kemudian: ( 1 ) Karya laporan di atas tidak utuh lagi, karena beberapa halaman sudah hilang. Entah bisa dijumpai lagi dalam tumpukan kertas-kertas kusam atau pun sudah hancur terendam air/lumpur tsunami; wallahu’aklam!. ( 2 ) Mohd. Nuor Hasballah, selaku pewawancara laporan ini, di kalangan warga Aceh di Yogyakarta, ia lebih dikenal dengan nama Teungku Sabi. Nama-nama samaran khas Aceh ini memang nama ‘panggilan’ yang mentradisi di Asrama Aceh Meurapi Dua,Yogyakarta. Setelah belasan tahun kehilangan kontak, kemaren, 31 Januari 2011 saya mendapat no. HP dari Drs. A. Wahab Abdi,M.Si – Kepala Humas Unsyiah –

sehingga kami terhubung kembali. Langsung di ruang kantor HUMAS itu kami saling menyapa lagi. Rupanya Tgk. Sabi sudah 3 tahun tinggal di Aceh kembali, tepatnya di Lam Baro, Banda Aceh.  Bale Tambeh Darussalam, 1 Februari 2011, T.A. Sakti.

Catatan lebih kemudian: Alhamdullah, akhirnya ke 28 halaman lembaran kertas buram tempat saya tulis “laporan’  dari Yogya  terjumpai dalam tumpukan kertas kusam berbau anyir lumpur tsunami. Sore menjelang maghrib tadi saya postingkan. Kemaren sore pula, Rabu, 9 Feb. 2011 jam 18.05 wib. Tgk. Sabi selaku pewawancara laporan ini juga datang ke rumah saya. Berarti,  menjadi lengkapnya ‘tulisan ini, juga disertai  bertemunya kami berdua yang sudah berpisah bertahun-tahun!. Syukur alhamdulillah!!!.  Bale Tambeh, 11 Februari 2011, pukul 12.39  AM/malam).

Taga Pekan Kebudayaan Aceh Tiga

Taga Pekan Kebudayaan Aceh  3

Oleh : T.A. Sakti – Taman Pelajar Aceh Yogyakarta

 

Assalamu’alikum tanglong hekeumat

Meukru seumangat bandum syeidara

Samboot saleum lon ngon hate mangat

Gantoe duek sapat tapoh-poh cakra


Kisah di Aceh lon deungo mangat

Kareuna sahbat karab PKA

Hate that seunang jadeh trok rahmat

Lon karang surat di Yogyakarta


Surat lon kirem dengon  Pos Kilat

Supaya siat cit trok u Banda

Keu bandum rakan wareh ngon sahbat

Keu masyarakat Aceh sineuna


Geutanyoe Aceh katrok syeupeu’at

Allah bri rahmat meuganda-ganda

Jalan kabeh got ngat makmu rakyat

Seulawet geumat le Bapak I. H. ( = Ibrahim Hasan)


Allah teungku E syuko keu rahmat

Bek jeuet keu laknat bak laen masa

Meunyo tasyuko neutamah leugat

Meujan ka bangsat  Tuhan bri bala


Meumacam cara peumakmu rakyat

Tanyou meupakat keureuja sama

Peumimpin Aceh krab that ngon rakyat

Kayeem meusapat di desa-desa


Akan hai jinoe keu PKA lhei

Patot hai sampei keureuja sama

Tabri bantuan peue nyang peureulei

Ban laku nyang mei ube  na daya


Budaya Aceh neuk boh teureujei

Nyang layei-layei peuleuhu teuma

Ibarat layang geuboh teurajei

Dipo meutabei lam awan  miga


Ka limong blah thon meu’en lam abei

Yoh nyan keuh watee PKA 2 (1972)

Baro keuh jinou na PKA lhei

Rakyat that teuntei seunang lagoina


Budaya Aceh peutari lagei

Supaya ji thei dalam ngon luwa

Le that geutanyoe jinoe meulagei

Tuwo peureudei sisat lam kota


Baro ’et Langsa sithon meusilei

Meubalek  lagei reusam meuhaba

Ngui bahsa Aceh sang-sang ka malei

Takot  ‘oh gob thei kulot leupahna


Carong bahasa tujoh-dua lhei

Asai sep  ulei got that meuguna

Pakek bak meupat  ‘oh jan peureulei

Bek ngon-ngon  Himbei takheun ” khamsia!”


Meunyan keuh tanda budaya layei

Ka teuka malei ka gadoih bangga

Takot bayang droe sang-sang jen purei

Meusom lam  “abei” budaya luwa


Ureueng moderen kon ban nyan lagei

Manoe ngon abei budaya luwa

Bukit cit carong ngon rancak ulei

Tacok ileumei bak bangsa luwa


Lam GBHN meunan geubri thei

Geuyue pruih abei cok  Kulahkama

Meung ek lagei nyan that ceudah sampei

Indonesia teuntei bit maju teuma


PKA lhei nyou teupat that watei

Budaya layei peukong lom sigra

Teungoh mumang brat trooh ubat ulei

Ple bak peureudei pupok budaya


Di Lhokseumawe na PT. Aron

Ija Patek krong pabrek di Yogja

Nadham Aceh nyou laju meusambong

Meugantoe suson buhu meutuka


Taga PKA jinou sagai doon

Ujoong keu ujong ka tampok haba

Meuphon di Banda –Meulaboh-Beutong

Teumieng meusambong troh kuta Langsa


U Tapaktuan-Singkil-Teureumon

Laju meusambong Bireuen-Cot Jeumpa

U Lhokseumawe meuwe-we langsong

Keudeh meusinthong Aceh Tenggara


Sinabang Janthou tanggou trooh u Lhoong

U Kumbang Tanjong-Sigli-Keumala

Keudeh Lammeulo lagei geusinthong

Lueng Putu-Tanjong na sang geupula


Ban saboh Aceh saheh ka meuphom

Gampong ngon jurong kabeh troh haba

Di Banda Aceh jadeh bak nyou thon

PKA langsong bit-bit teuntei na


Uluwa Aceh meugah ka jitron

Kayeem disuson lam surat haba

Lam Indonesia jeuet kheun ka muphoom

Meunan cit kawoom di naggroe luwa


Brunei Darussalam Malaysia Semenanjong

Katrooh ditaom taga PKA

Yogya-Jakarta-Medan ngon Bandong

Cit keudroe geutroon keutua PKA


Masyarakat Aceh sideeh geu kunjong

Geulakei tuloong bri kira-mira

Meupikee-pikee rugoe ngon untong

Nyang beujeuet langsong sukses PKA


Peumimpin Aceh  patot tajunjong

Rakyat geuhitoong lambuet PKA

Uleh seubab nyan syeidara kaoom

Tanyou mamandum dukoong PKA


Wahee  E  Teungku duson ngon gampong

Bek salah muphom keu hai PKA

Tanna di sinan buet langga hukoom

Atawa meuisrong ngon yue agama


Seubab nyan Teungku patot neutulong

Tuloong bri muphom rakyat bandum na

Tiep-tiep  Meunasah watei meuhimpoon

Hai   Teungku  tangloong peugah PKA


Di Jabal Ghafur ateueh bukeet cot

Meugah sinan got sikula tinggi

PKA tiga nyang geumeung peugot

Aceh geuseutot punca aseuli


Peurangou nyang brook taboih lam urot

Pileeh nyang got-got keu akhlak budi

Barang gapeu buet pikee brook ngon got

Bek jeen peuwot-wot lam ku’eh deungki


Su meugr’oh-meudhot ban lumo bak rot

Bingkeng seumilot iblieh nyang taki

Bandum atra nyan peurengou tan got

Jeuet teumakoot gob intat raseuki


Pariwisata Aceh peutimang beugot

Turis beusijot dijak kalon kri

Meutatem satoh beujroh ta peugot

Aceh ek seutot wisata Bali


Aceh beumaju e panyot culot

Akai akai sot tatiek lam tuwi

Lalee meurawoh dawok meuwot wot

Geuleupak gob top bek preeh hai akhi


Peurangoe burek beureughek kulot

Gadoh meuwot wot lam warong kupi

Bandum sifeuet nyan hanmei  ta seutot

Perbuatan kulot bek le ta asi


Rumpuen Pase remmeune Nagan

Lagee meulisan mameh suara

Ureueng lam hate le gaseh sayang

Rijang na rakan ho ho geuteuka


Geuhala ugle meureumpok Makwang

Geutajo ublang meuturi Kuya

Geujak u laot sambot le Pawang

Tamong lam peukan sajan Syeedaga


Mameh deungon su peurangoe sopan

Raseuki Tuhan cit jilet gata

Asai phui tuleueng bek ban ateueng blang

Mantong meukubang  troh watee dhuha


Tinggai di pasi jumot meusampan

Pukat geureuntang neuheuen usaha

Tinggai di gampong rajin meugoe blang

Pula tanaman nyang got hareuga


Nyang toe deungon gle keubon peutimang

Nilam ngon lawang beugot peulahra

Maseng bak buet droe peubuet beureumbang

Karonya Tuhan raseuki pih na


Nibak peumimpin geutanyoe peusan

Barang pertanian yum jih bek goga

Yuem barang gampong yuem barang dagang

Beuna seuimbang pekriban cara


Supaya jumot ureueng meugoe blang

Nyang pula nilam hatee ngat suka

Nyang beu’o seuiet rajeen pih datang

Imbang yuem barang dusoon ngon kuta


Peugot PKA meunan tujuan

Lam jangka panyang meunan syeidara

Aceh beumakmu nibak saboh jan

Ngon sifeuet insan maju teubuka


Hudep lam lalou urou ngon malam

Lale peh rantam beungoh ngon sinja

Pajan keuh maju meunyo lagei nyan

Uleeh sebab nyan beudoh keureuja


Keu jangka panyang meunan tujuan

Geupeuna Peukan PKA tiga

Lam jangka paneuk bak buleun lapan

Thoon lapan-lapan teumpat di Banda


Di Banda Aceh nyang Darussalam

Neulangkah rakan tuha ngon muda

Keureucih tan geucok tamong Blang Padang

Meunan keutrangan Bulletin PKA


Likok di Manggeng puseeng Peulumat

Suara mangat di Samadua

Taga PKA ka loon peutamat

Han ekle karat malam ka jula


Meukeusud taga muphoom bak sahbat

Indonesia meuhat artinya gema

Hana loon pandang ngon mata jasad

Uloon seumurat sideeh di Yogya


Beurayeek meu’ah salah ngon silap

Maklum hai sahbat jeuooh ngon Banda

Asou kisah nyou supaya meupat

Uloon peusapat bak tiep beurita


Bak T.A.Sakti bah ohnou siat

Jarou loon angkat ateueh jeumala

Assalamu’alaikum kawom keurabat

Do’a seulamat sukses PKA!!!


Catatan:  – Telah dimuat dalam Majalah PUAN No. 17/1988 halaman  36 s/d 38 pada rubrik  ‘Ranub Sigapu’. Majalah PUAN terbitan BP – 7  Propinsi Aceh, Banda Aceh. Honor Rp. 25000,-

–          Sebagian tulisan ini telah saya edit, tapi sebagian lainnya tetap seperti   ejaan bahasa Aceh yang dipakai redaktur majalah PUAN. Arsip dari tulisan asli tidak saya jumpai lagi.

Bale Tambeh Darussalam, 11 Haji 1431

11 Zulhijjah 1431 H

18 November 2010

T.A Sakti


Hari Jadi Propinsi Daerah Istimewa Aceh

Tahukah Anda bahwa bulan Mei ini ultah ke 21 :

26 Mei 1959 – 26 Mei 1980

HARI JADI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH ???.

Oleh : T.A.SAKTI

Bulan  Mei  merupakan bulan yang istimewa bagi   bangsa Indonesia. Di bulan Mei ini kita berhadapan dengan dua peristiwa sejarah yang dirayakan secara nasional dan satu peristiwa sejarah, khususnya bagi daerah Istimewa Aceh. Hari bersejarah secara nasional yaitu Hari Pendidikan Nasional ( 2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Sementara Hari Besar bagi kita di Aceh ialah tgl 26 Mei yaitu HARI LAHIR DAERAH ISTIMEWA ACEH, inilah yang kita peringati melalui tulisan ini.

TANGGAL 26 Mei adalah hari yang sangat penting’ bagi kita rakyat Indonesia yang berada di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, karena pada hari inilah Pemerintah Pusat memberikan secara resmi gelaran atau julukan DAERAH ISTIMEWA bagi Aceh. Kita memperingati hari yang bersejarah ini, bukanlah bertujuan membanggakan bahwa kita super dari daerah lain, tapi hanya sekedar mengingatkan kita akan masa-masa sukar di waktu silam, dengan peringatan ini kita harapkan supaya partisipasi kita dalam pembangunan manusia Indonesia yang se-utuhnya itu akan lebih bergairah lagi.

Tulisan ini juga sekaligus memperingati ‘genap satu abad usia Hikayat Prang Sabi’ yang jatuh pada tahun 1980 ini. Hikayat Prang Sabi sangat berjasa bagi kita, karena dengannya telah menggelorakan semangat perjuangan rakyat Aceh, ketika menentang penjajahan Belanda dulu. Hikayat Prang Sabi ini dikarang oleh Teungku Syik Pante Kulu dan beberapa Ulama lainnya dalam tahun 1880. Maka sudah sewajarnyalah apabila Pemerintah Indonesia khususnya Pemerintah Daerah Istimewa Aceh, mengadakan upacara peringatan yang ‘sesuai” dengan jasa yang telah disumbangkan oleh Hikayat Prang Sabi ini dan juga mempertimbangkan pemberian “gelar kehormatan” kepada pengarang dari Hikayat Prang Sabi yaitu Teungku Syik Pante Kulu pada tahun 1980 ini. Semoga janganlah nanti ada dari anak-anak   cucu kita yang mencap kita sebagai bunyi pepatah ; “Kacang yang lupa kulitnya”.

Sejak tgl 26 Mei tahun pertama peresmian Hari Daerah Istimewa Aceh sampai sekarang, kita selalu mendengar dan membaca bahwa apabila orang menyebut daerah Aceh selalu diiringi dengan embel-embel   ‘Istimewa’ disampingnya, lebih-lebih   kalau dalam peristiwa2  resmi. Gubernur Aceh Prof HA Madjid Ibrahim menyatakan bahwa daerah Aceh mempunyai keistimewaan dalam tiga hal ; istimewa dalam bidang pendidikan, istimewa dalam bidang keagamaan dan bidang peradatan. Dalam bidang keagamaan, kita sebagai hamba Allah, marilah lebih meningkatkan penghayatan kepada dalil2  keagamaan dalam rangka meningkatkan peribadatan masing2 . Hal itu dinyatakan baru2  ini dalam sambutannya pada upacara penyambutan abad ke 15 Hijriyah, bertempat di SD Inpres Lamlhom, Lhok Nga Kabupaten Aceh Besar” (Waspada,  4 Des 1979).

Pemberian atau penganugerahan Daerah Istimewa bagi Aceh, bukanlah tanpa landasan, tapi ia punya landasan berpijak yang kuat sekali di negara kita yaitu Undang-undang Dasar 1945. Hal ini tercantum dalam pasal 18 UUD 1945 yang berbunyi ; “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistim Pemerintahan negara dan hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”.

Ketika memperingati Ulang Tahun ke sepuluh Hari Daerah Istimewa Aceh, Panglima KODAM I Iskandar Muda, Brigadir Jenderal TNI T.Hamzah (kini almarhum) pernah mengatakan ; “Hak asal-usul yang bersifat hidup dan bersifat istimewa di daerah Aceh, adalah pandangan hidup rakyatnya yang telah turun temurun dan tetap dijaga-dihormati, yaitu ; kebaktiannya kepada ALLAH, hidup beramal, mati beriman. Berarti adat peri hidup, peri laku, tutur kata dan perbuatan rakyat Aceh se-hari2  adalah bersendikan kepada agama, sebagaimana telah digambarkan oleh hadis majanya ; Adat bersendikan syara’-syara’ bersendikan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Dalam hal ini telah merupakan kesadaran hukum adat atau hukum rakyat. Tegas menunjukkan, bahwa adat dengan syara’ bagi rakyat Aceh adalah seperti zat dengan sifat yang tidak terpisahkan. Apa yang dikatakan syara’ atau ajaran agama itulah yang dikerjakan dan demikianlah pelaksanaannya, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi Adat peri laku hidup rakyat Aceh se-hari2  adalah sesuai dengan ajaran Islam. Sedang ajaran Islam ini bersumber dari kitabullah yaitu Qur ‘anulkarim dan Sunnah Rasul. Apa yang dimaksud dengan mengamalkan ajaran agama, adalah melaksanakan ajaran Tuhan, mengambil isinya, bukan merek dan kulit. Tegasnya mengamalkan ajaran Islam. Maka sesuai dengan kondisi dan aspirasi rakyat yang hidup dan telah berlangsung lama dalam kehidupan masyarakat sehari2  serta berdasarkan dan mengindahkan hak-hak   asal usul yang hidup dan bersifat istimewa di Daerah Aceh, maka oleh Pemerintah Pusat dengan Keputusan Perdana Menteri R.I tgl 26 Mei 1959 telah memberikan status ke-istimewaan bagi Propinsi Aceh dengan sebutan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, dengan keistimewaannya dibidang agama, peradatan dan pendidikan’. demikian kata. T.Hamzah yang menjadi Panglima KODAM I itu. Disamping julukan Daerah Istimewa yang sedang kita peringati ulang tahunnya yang ke 21 ini, Aceh juga memiliki beberapa gelar lainnya yang juga mempunyai sejarah masing2. Gelar2  tersebut ialah SERAMBI MEKKAH, DAERAH MODAL, TANAH RENCONG dan BUMI ISKANDAR MUDA.

Julukan Serambi Mekkah diberikan orang kepada Aceh, karena dimasa dulu Aceh merupakan daerah yang sangat kuat semangat ke Islamannya. Daerah Modal diberikan berdasarkan karena Propinsi Aceh merupakan satu-satunya daerah bagian dari wilayah Republik  Indonesia  yang tidak pernah diinjak kaki Belanda lagi, setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Tanah Rencong diberikan diberikan karena kepahlawanan dan keberanian rakyat Aceh melawan penjajah Belanda dan Jepang. Bumi Iskandar Muda diberikan karena daerah Aceh telah pernah menikmati masa kejayaan dan kebesaran dalam pergaulan dunia Internasional dimasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (Meukuta Alam).

Dalam rangka memperingati ulang tahun Daerah Istimewa Aceh ke 10 di tahun 1969, A.Hasjmy yang pada tgl 26 Mei 1959 masih sebagai Gubernur Aceh pernah berucap tentang detik2  sejarah menjelang tgl 1959 sebagai berikut ; “Pada waktu mengadakan Musyawarah Pleno tgl 26 Mei 1959 diumumkanlah bahwa titik2  pertemuan telah tercapai, Aceh harus diselamatkan dari kehancuran, dan kepada Aceh diberi status “DAERAH ISTIMEWA”, dengan pemberian hak2  otonom yang luas, terutama bidang Agama, pendidikan dan peradatan. Waktu itu segala kepala tunduk bersyukur, dan ber-pasang-pasang   mata menitikkan air hening. Menjelang magrib tanggal 26 Mei 1959, rapat Pleno terakhir dari Musyawarah yang penting itu ditutup dengan resmi, dan kami semua peserta musyawarah menangis haru sambil ber-salam2an. Pada waktu malamnya diadakan resepsi perpisahan dengan Missi Hardi (dari Pusat/Jakarta-Penulis), para hadirin kelihatan ber-seri2  mukanya ketika diumumkan bahwa musyawarah telah menelurkan hasil2  yang konstruktif….,”.

Tentang kesetiaan rakyat Aceh kepada negara kesatuan Republik Indonesia, memang siapapun tak dapat memungkirinya. Hal ini adalah terbukti sejak masa-masa   Republik Indonesia baru saja diproklamirkan, kesetiaan itu telah ditunjukkan. Sebagai buktinya ialah : Dalam pembukaan musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh, Kiyai Haji Fatah Jasin sebagai Menteri Penghubung Alim Ulama merangkap Menteri Agama Ad Interin mengatakan: “Terlebih dahulu kami sampaikan syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bahwa kita pada saat ini dapat menghadiri resepsi Iftitah atau pembukaan dari pada Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh ini. Aceh, sebagaimana yang kami kenal pertama dari buku2  sejarah Aceh, kami percaya sampai pada waktu ini, bahwa keistimewaan dari pada Aceh ini akan dipegang seterusnya.

Keistimewaan yang berupa TA’ASUBUDDINI mendarah dan mendaging dalam soal Agama Islam. Sehingga segala hal keistimewaan itu pada waktu revolusi nasional kita, ada hal yang merupakan istimewa pula dari daerah2  lain di seluruh nusantara kita, ialah ; daerah Aceh yang pertama menyumbangkan satu kapal terbang untuk Pemerintah Jokya pada waktu itu”. Demikian diungkapkan oleh K.H.Fatah Jasin dalam upacara pembukaan Musyawarah Alim Ulama Daerah Istimewa Aceh di tahun 1960.

Prof. Dr Slametmuljana ketika menjelaskan keberaniaan rakyat Aceh sewaktu melawan Belanda dulu pernah menulis : “Yang menjiwai patriotisme  pada pejuang Aceh ialah semangat mempertahankan Aceh Raya yang pembentukannya telah dimulai oleh Sultan Iskadar Muda. Patriotisme Aceh yang dilapisi dengan fanatisme agama terbukti tidak gampang dipatahkan oleh kekuatan Barat. Patriotisme yang demikian itu hingga sekarang masih mendarah dan mendaging pada para putra dan putri Aceh”.

Bidang pendidikan yang juga mendapat hak istimewa di daerah ini, sekarang menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Siswa dan pelajar yang lulus tiap akhir tahun, hampir2 tidak sanggup tertampung pada sekolah2  lanjutannya. Khusus bagi Perguruan Tinggi yang berlokasi di Darussalam, mulai tahun 1979 boleh kita katakana  sudah menanjak lebih dewasa. Pembukaan Fakultas Kedokteran di tahun 1979 merupakan bukti kedewasaan itu. Rasanya keistimewaan bidang pendidikan di Aceh tidak sempurna kalau sekiranya Fakultas Kedokteran tidak dibuka hingga hari ini. Sudah hampir dua puluh tahun sejak Darusslam dibuka, putra-putri Aceh terpaksa merantau keluar daerah jika bermaksud melanjutkan study dibidang kedokteran. Pergi keluar daerah merupakan problema yang sukar sekali, disamping akan memerlukan biaya yang sangat tinggi, juga ketabahan dari si mahasiswa harus sanggup bertahan. Karena itu tidak heranlah kalau sampai pada hari ini kita dapat menghitung dengan jari “jumlah dokter putra/putri   Aceh” yang telah berada diarena dunia perobatan sekarang. Rakyat Aceh sungguh berterimakasih pada pemerintah yang telah mewujudkan Fakultas Kedokteran ini, sungguhpun belum menjelma sebagaimana yang kita harapkan, jadi sekali lagi kita ucapkan syukur Alhamdulillah’.

Di bidang agama juga menunjukkan perkembangan yang boleh kita banggakan. Banyak mesjid2  baru yang telah dibangun ditambah lagi dengan sejumlah Mushalla dan Meunasah. Tapi yang sangat disayangkan perkembangan pendidikan agama yaitu pengajian2  secara ‘khas Aceh” nyatanya semakin menghilang dan lenyap. Hal ini memang telah sampai dengan apa yang diramalkan oleh Ulama Besar Teungku Syik Kuta Karang lebih dari seabad yang lalu.

Teungku Syik Kuta Karang (Teungku Syik Di Matang) dalam kitab beliau yang berjudul Akhbarul Karim yang disusun berbentuk syair Aceh pernah menulis dan meramalkan sebagai berikut :

Takoh lason pageui lawah

Tarhat jubah beuneung si naroe

Akhe donya kureung tuah

soh meunasah jeub-jeub nanggroe

Aneuk miet beuet hana sapat

Timu Barat Meunasah sagoe

Nyang na rame barang kapat

oh katrok hat troek bak gantoe

Buleun Sya’ban buleun Ramadhan

Rame sinan Salli aloi

Puasa pih lheueh Fitrah hase

Ma teuduek le Meunasah sagoe

Laen nibaknyan teumpat piasan

Rame sinan Shalli aloi

Meugrum geundrang meutuem bude

Di deugo le siri sagoe

Terjemahan bebas :

Potong Lason pagar lawah

Dibikin jubah dari benang semua

Di akhir masa kurang tuah

Kosong Meunasah tiap-tiap negeri

Anak mengaji jarang terdapat

Timur dan Barat rata negeri

Nyang agak ramai datang di tempat (Meunasah)

Hanya apabila tiba waktunya saja.

Bulan  Sya’ban dan bulan Ramadhan

Ramai disitu bukan kepalang

Puasa tamat fitrahmu selesai

Maka terbengkalailah  Meunasah itu

Selain itu yang ramai lagi di tempat hiburan

Ramai disana tiap ketika

Dam dum gendrang, dentum bedil

Mereka mendengarkan dari mana datang suara.

Demikian ramalan dari Teungku di Matang terhadap perkembangan dari pengajian2  yang telah ada di Aceh sejak dahulu. Sekarang sungguh telah terjelma apa yang dikemukakan dalam ramalan tersebut. Kita merasa prihatin akan perkembangan yang semakin merosot itu.

Kalau sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, di hampir tiap2  Meunasah di Aceh pasti ada pengajian2 yang diadakan kegotongroyongan dari masyarakat di sebuah desa. Pengajian itu ada kalanya diadakan dibiayai oleh rakyat desa secara “meuripe” yaitu dengan dipungut iuran dari tiap-tiap kepala keluarga. Dan bahkan ada pula yang diadakan dengan ke sukarelaan dari ustaz yang mengajar itu. Di zaman itu sungguh banyak Teungku2  di Aceh yang rela mengajar secara sukarela.

Kalau kita meneliti kembali sejarah perkembangan rakyat Aceh yang sangat mematuhi adatnya, maka ternyatalah bahwa semua yang baik itu telah berobah sejak Belanda menjejak kaki di Aceh. Hal ini akan  lebih jelas kalau kita ikuti penjelasan dari Bapak Moehammad Hoesin yang menulis sbb : “Bukan saja bersumpah, tetapi juga dimasa penjajahan Belanda orang Aceh telah berani pula meminum-minuman2  yang memabukkan, meskipun jumlahnya tidak seberapa. Minuman keras dapat dibelinya di-kedai2  yang terdapat dalam kota2. Rumah2  tempat melakukan yang melanggar Hukum Islam dan Adat Aceh, seperti berzina terdapat juga di kota2  dimasa itu. Dimasa pendudukan Jepang perbuatan yang melanggar Hukum dan Adat dimaksud diteruskan juga, sehingga tampaknya lebih buruk dari yang tersebut barusan. Kata2  “sakaj” artinya minuman keras dan “onna” artinya nona, dikenal dengan baik. Tidak malu2  mereka meminum minuman keras itu yang hampir2  tidak pernah terjadi dahulukala. Beruntunglah mulai zaman Republik Indonesia peminum2  itu banyak yang insaf kembali dan balik kembali pada ajaran2  Islam. Perasaan malupun sudah mereka miliki kembali’, demikian tulis Moehammad Hoesin dalam buku beliau  “Adat Aceh”.

MTQ NASIONAL KE XII DI BANDA ACEH.

Sebagaimana mungkin semua anda telah tahu, bahwa di Banda Aceh pada tahun 1981 akan dilangsungkan MTQ Nasional. Di kota Banda Aceh sendiri kita telah dapat merasa dan melihat usaha2  permulaan dari kegiatan2  untuk menyambut peristiwa yang bersejarah nanti. Sudah ber-tahun2 rakyat Aceh menanti-nantikan kapankah kiranya di Bumi Serambi Mekkah ini dapat dilangsungkan/. Mereka ingin dan rindu menatap muka dari wajah2  semua Qari-Qariah dari seluruh Propinsi yang ada di Indonesia. Mereka bersyukur pada Allah, karena nanti Isya Allah semua itu akan terlaksana. Mereka sewaktu tibanya masanya nanti akan mengucapkan selamat datang dan mengelu-elukan kedatangan para peserta MTQ Nasional itu, mereka akan mempersilakan semua tamu2nya untuk melihat dan mempersaksikan segala sesuatu yang ingin mereka lihat disini. Kalau selama ini mereka ada merasa bahwa pasti ada suatu yang unik di Serambi Mekkah, biarlah nanti mereka persaksikan sendiri apa adanya di daerah ini/. Kita dimasa akhir2  ini telah sering membaca berita2  yang bahwa di Aceh khususnya di kota Madya Banda Aceh, pihak yang berwajib sedang giat2nya mengusahakan agar kota Banda Aceh bebas dari semua kemaksiatan baik itu judi, pelacur maupun kemaksiatan lainnya. Kita sungguh mengharapkan agar jangkauan dari kegiatan menghancurkan maksiat ini tidak saja di kota Banda Aceh saja, tapi sedapatnya diperluas hingga mencakup seluruh Daerah Istimewa Aceh dan pula yang paling kita harapkan dari pemimpin2  kita itu agar pembersihan maksiat ini dapat dilaksanakan terus menerus yaitu tidak saja karena mau menyambut MTQ Nasional 1981, tapi sesudah MTQ tsb “feh peunoh” (sama sekali) tidak dijalankan lagi). Kita sebagai warga negara yang baik dari Republik Indonesia yang kita cintai, sudah patut dan sewajarnya memberi partisipasi yang serius bagi pembangunan negara ini dan khususnya bagi kesejahteraan keluarga dan masyarakat disekitar kita masing2.  Mudah2an  masyarakat adil dan makmur akan lekas tercapai. Selamat menyambut ‘Hari Jadi Daerah Istimewa Aceh, tgl 26 Mei 1980”.

Banda Aceh, 26 Mei 1980 / 11 Rajab 1400.

Salam dari Penulis :

T.A. SAKTI

Daftar bacaan/Kutipan :

  1. T.Ali Basjah Talsya : 10 Tahun Daerah Istimewa Aceh halaman 8 dan 9, 18.
  2. Buku hasil-hasil musyawarah Alim Ulama se-Daerah Istimewa Aceh 1960 hlm, 48.
  3. Prof.Dr. Slamet Muljana ; Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan

Catatan Mutakhir:

  1. Berdasarkan beberapa penelitian lanjutan, ternyata Hikayat Prang Sabi bukan hanya ditulis oleh Teungku Di Pante Kulu, tetapi juga ditulis oleh banyak penulis lain.
  2. Penulis Kitab Akhbarul Karim adalah Tengku Di Seumatang.
  3. Dalam naskah-naskah lama Aceh, jarang kita jumpai gelaran Teungku Syik  Di  “Pulan” ….bagi seseorang ulama Aceh, tapi hanya Teungku Di  “Pulan”….!!!.

Bale Tambeh, 25 Desember 2010, T.A. Sakti