Sale dan Madeueng dalam Tradisi Pengobatan di Aceh

dsc00076

Afif Widhi Ananto sedang mempresentasikan karya tulisnya di depan tim penguji

un, Dec 5th 2010, 09:30

Apresiasi

Sale dan Madeung dalam tradisi pengobatan di Aceh

TIGA siswa SMPN 1 Banda Aceh, Afif Widhi Ananto, Ghina Luqiyana Rusman, dan Nadila Anindita, melakukan penelitian suatu tradisi pengobatan Aceh yang sudah lama tertimbun “sampah Budaya Aceh”,yakni Sale dan Madeung. Mereka meraih Medali Perunggu pada “Lomba Penelitian Ilmiah Remaja ( LPIR ) SMP Tingkat Nasional yang  diselenggarakan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional ( 27 September — 2 Oktober 2010). Sayang mereka tak bisa berangkat semua ke Yogyakarta, karena tak cukup biaya.Salè sinonim dari bersalai atau berdiang-dengan cara dipanaskan, dikeringkan, didekatkan ke api atau diasapi. Cara itu bukan asing lagi dalam masyarakat Aceh. Maka ada panganan cukup terkenal seperti pisang salè dan ikan salè. Cara pengobatan dengan sale, diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti sakit lutut, tulang, betis, dan itu tersebut dalam naskah lama Aceh  yang  telah berusia sekitar 177 tahun. Biasanya kayu yang digunakan (dibakar) untuk bersale, adalah bak Reudeup (kayu dadap).

Jadi, salè  sebuah teknik pengobatan sederhana. Cukup menggunakan tempat tidur atau dipan dan bagian bawah tertutup, hanya  memiliki pintu untuk memasukkan angglo atau tungku sebagai alat pembakar bahan yang lainya adalah  arang, dan kayu dadap. Teknik ini sudah dilakukan  secara turun temurun.

dsc00078

Sementara Madeung adalah teknik pengobatan yang lazimnya dilakukan wanita Aceh yang baru selesai melahirkan. Hanya saja kayu bakar dicampur dengan daun dan rempah-rempah tertentu yang mengandung aroma harum serta berkhasiat untuk kesehatan, rempah-rempah yang digunakan ini termasuk dalam daftar jamu empat puluh empat,atau “aweueh peuet ploh peuet” — biasa juga disebut dengan rempah ratus. Ureung madeung ini, biasanya menyebutnya “ureung didapu”(orang yang membaringkan dirinya di ruangan dapur.

Ketika seorang wanita habis melahirkan melakukan Madeueng. Caranya: menyediakan tunggul-tunggul kayu untuk dibakar.  selama empat puluh empat hari. Ini disebut “Tungoe”,  setelah itu dipersiapkan juga balai-balai atau dipan yang dibuat dari batang bambu yang cukup tua atau batang pinang atau batang kelapa atau batang nibung yang telah dibelah memanjang selebar kurang lebih tiga jari, dewasa ini karena bahan-bahan tersebut sudah agak sulit ditemukan, maka dipersiapkanlah balai atau dipan untuk orang yang masih melakukan ritual madeung dengan menggunakan papan atau kayu yang dibelah memanjang dengan lebar sekitar lima sentimeter, disusun memanjang dengan jarak antara satu bilah papan dengan papan yang lain berjarak 2 cm (agar asap dan panas bisa masuk melalui celah-celah tersebut) dan dipan yang digunakan biasanya berukuran panjang disesuaikan dengan tinggi tubuh seseorang, agar orang tersebut dapat tidur dengan nyaman dan leluasa, lebarnya minimal 75 cm atau tergantung selera dan kebutuhan serta tingginya lebih kurang 1 meter, dibawah dipan itu ada yang menggunakan pembakaran model tungku, bahannya ada yang terbuat dari semen dan pasir ada juga gerabah dari tanah liat seperti anglo yang  diisi dengan “teungo” atau kayu,dengan melalui proses pembakaran dari api berubah menjadi bara merah, barulah diatasnya diletakkan kayu-kayu kecil yang mengandung obat, seperti: kayu dadap, kayu rambutan, kayu cendana dll. Selain itu juga disediakan juga batu kali sebesar tempurung kelapa sebanyak tiga buah yang berbentuk agak gepeng (pipih) dan bisa juga berbentuk bulat, sehinggga mudah untuk disandarkan pada perut perempuan yang tidurnya miring (menyisi).

Ada kalanya dimulai pada hari ketiga setelah bersalin, biasanya sekitar jam sepuluh pagi setelah sang ibu selesai mandi. Prosesnya selama 7 hari berturut-turut,tetapi ada juga yang dilakukan oleh orang-orang tertentu selama empat puluh empat hari berturut-turut (selama masa nifas) yang biasanya selesai ritual madeung ini sang ibu akan melaksanakan “manoe peut ploh peut” atau mandi suci.

Selanjutnya dilakukan proses bakar batu Toet Batee (pemanasan batu),batu yang telah dipanaskan lalu diangkat dan dibungkus dedaunan tertentu,seperti “Oen Nawah” (daun jarak) lalu dibalut kain beberapa lapis hingga panasnya masih dapat dirasakan tetapi tidak menimbulkan bahaya.Gulungan batu tersebut lalu disandarkan pada perut perempuan yang sedang berbaring di balai-balai tersebut, jika batu pertama sudah dingin,maka akan digantikan oleh batu kedua yang dibuat serupa dengan batu pertama, dan begitu juga dengan batu yang ketiga yang dipakai setelah batu kedua dingin terus-menerus secara bergantian, batu dipanaskan di dapur di bawah balai tersebut yang terus menerus berapi, api dari tungku kayu itu tak boleh terlalu besar, maka dari itu apinya perlu dijaga..

Yang bertugas sebagai penjaga dilakukan secara bergantian yaitu: orang tua,mertua,dan tetangga atau kerabat.Ini juga adalah sebagai ajang kebersamaan dan mempererat silaturahmi.Sewaktu menjaga,mereka disuguhi makanan berat dan makanan ringan.Di sebuah daerah Aceh yang bernama Takengon, yang terletak di Dataran Tinggi Gayo termasuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah, yang bertugas menjaga orang madeung itu adalah suaminya dan orang laki-laki yang masih kerabatnya sendiri,kebiasaan tersebut bernama “melee-melee.” Mereka begadang semalam suntuk tidak tidur sambil minum-minum kopi dan berdiang di sekitar dipan atau balai tersebut..

Selama empat puluh empat hari menjalani prosesi madeung, makanan yang boleh dimakan hanyalah nasi putih dengan lauk pauk yang diolah secara khusus sehingga bebas lemak, seperti ikan yang direbus bisa juga dipanggang, atau dikukus dan digoreng setengah matang.Yang boleh mereka minum hanyalah air putih saja, makanan dan minuman yang lainnya tidak diperbolehkan sama sekali untuk dikonsumsi, karena menurut mitos orangtua zaman dahulu, meraka berpesan melalui nenek-nenek jika anak atau cucunya kelak bersalin, jangan sekali-kali  memakan telur ayam apalagi telur bebek, katanya, bisa berbahaya dan bila dimakan telur akan keluar telur (peranakan), demikian juga dilarang memakan pisang,karena makanan itu dianggap tajam.Tetapi hal tersebut sangat bertolak belakang jika ditinjau dari segi medis.

Setelah empat puluh empat hari lamanya, barulah diperbolehkan untuk acara turun mandi yang diistilahkan dengan  “manoe peut ploh peut” artinya mandi suci atau mandi hadas besar yang dilaksanakan setelah hari ke empat puluh empat, yang biasanya dipandu oleh orang tua atau dukun/bidan gampong atau biasa disebut Ma Blien.

Usai acara mandi Wiladah dan mandi nifas setelah suci dari melahirkan atau mandi adat setelah 44 hari, barulah sang ibu diperbolehkan untuk menjejakkan kakinya diatas tanah, karena dianggap telah suci. Pengalaman yang diungkapkan oleh Narasumber tentang Madeung.

Proses Madeung ( salè, toet bate atau bakar batu, dan ramuan tradisional ) ini bisa disebut juga alat KB Tradisional, karena dengan melakukan serangkaian proses Madeung bisa mengatur jarak kelahiran karena pada jaman dahulu belum ada program keluarga berencana (KB) yang modern seperti sekarang ini.

Madeung dan Salè mempunyai beberapa fungsi, yaitu: dapat mengeringkan peranakan, tubuh menjadi singset, dapat mengecilkan perut, dapat mengatur jarak kelahiran, dan mendatangkan aroma harum pada tubuh.

Serangkaian prosesi tersebut saya lakukan 14 tahun yang lalu, ketika kelahiran anak tunggal saya, tetapi manfaatnya masih saya rasakan sampai sekarang. Antara lain, sebagai  berikut : badan selalu fit dan tidak mudah lelah, Badan tidak melar/tidak gemuk dan singset, Tidak mudah terserang penyakit, Selalu kelihatan awet muda ( jauh berbeda dengan yang tidak melakukan proses madeung, seperti adik kandung saya yang tidak melakukan proses itu, sekarang dia terlihat menjadi gemuk dan badannya melar, serta mudah lelah dalam mengerjakan suatu pekerjaan)

Mdeueng lebih hebat dari mandi uap, dalam tradisi Aceh disebut Ukoep. Sebelum prosesi Ukoep, terlebih dahulu harus disiapkan bahan-bahan berupa ramuan daun-daunan dan rempah-rempah, misalnya: “Oen Kuyun” (daun jeruk nipis) dan “Oen Mee” ( daun asam Jawa ), bisa juga dengan “Oen Limeeng Engkoet” ( daun belimbing wuluh ), “Oen Ranuep” ( daun sirih ), “Bak Rheu”( batang serai ), “Kuleet Bak Geurundoeng” ( kulit batang kuda-kuda ), “Kuleet Maneh” ( kayu manis ), “Bungoeng Lawang” ( bunga cengkeh ), “Boh Pala” ( biji pala ), “Boh Langkueuh”( umbi lengkuas ), “Oen Sekee Puloet” ( daun pandan ).

Jika Ukop ini dilakukan secara berkala dan teratur, Insya Allah berat tubuh seseorang akan selalu ideal, bukankah ini yang menjadi dambaan bagi semua orang khususnya kaum perempuan. Orang yang berat badannya ideal biasanya sehat. Antara lain dapat mengobati penyakit inflensa dan demam ( meriang)

* T.A. Sakti,   pemerhati obat tradisional.

(Catatan: 1. Sumber, Harian Serambi Indonesia Banda Aceh, Minggu, 5 Desember 2010, halaman Budaya.
2. Saya,  sesungguhnya hanya sebagai pelapor dari hasil penelitian yang dilakukan tiga siswa  SMPN 1 Banda Aceh   yang melibatkan saya sebagai salah seorang narasumbernya.Bale Tambeh, Jum’at, 24 Desember 2010. T.A. Sakti )
3. Ketiga photo dalam artikel ini baru diposting oleh Oga UD, Jum’at, 23 Desember 2016 lk jam 11.00 bertempat di Kantin belakang Gedung ACC Dayan Dawood, Kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.
dsc00196
Iklan

2 pemikiran pada “Sale dan Madeueng dalam Tradisi Pengobatan di Aceh

  1. Saya kebetulan sedang menulis disertasi pascasarjana tentang “Ibu nifas berdapur” yang dalam bahasa aceh disebut “Madeung” itu. Mungkin hasil penelitian mereka juga dapat saya gunakan sebagai referensi, mohon bantuan. Ini e-mail saya : fachruddin01@gmail.com. Teurimong geunaseh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s