Bila sang Murid Bersamaan Minatnya dengan sang Guru

HIKAYAT SAKTI

Posted: Juli 14, 2010 by Boy in Feature
Tag:

Namanya tidak begitu dikenal layaknya Aly Hasjmy  dan Do Karim, namun karyanya telah banyak dilahap oleh pecinta seni budaya di Aceh, khususnya masalah Hikayat. Teuku Abdullah, begitulah nama laki-laki yang dilahirkan   tahun 1954.

“Nama saya Teuku Abdullah, Sakti itu nama Kecamatan asal saya. Tapi biar lebih gampang dihafal oleh kawan-kawan, saya sisipkan nama Sakti dibelakang nama saya,” jelasnya.

Ia telah memfokuskan diri di bidang sastra Aceh sejak tahun 1992. Awalnya rutinitas menuliskan sastra Aceh ini dijalankan hanya sebagai pelarian saja, disela-sela kesibukan akademisnya di Yogyakarta.

Akan tetapi, setelah kecelakaan menimpa dirinya di kota gudeg tersebut, T. Abdullah harus menderita kerugian, kondisi fisiknya membatasi kegiatannya sebagai mahasiswa dan wartawan freelance di beberapa media di kota tersebut

Oleh karenanya, T.A Sakti, mencoba menuliskan dan menstranslitkan beberapa hikayat Aceh yang merupakan kegemarannya saat kecil.

“Kalau dulu, di kampung saya ada beberapa orang kaya, apabila membuat suatu perayaan, mereka juga menggelar hikayat. Sebagai anak-anak, tentu saja saya tertarik,” ungkapnya.

Selain itu juga, ia  mengaku keluarganya mempunyai koleksi hikayat Aceh lama, sehingga iapun menjadi tertarik dengan sastra Aceh ini.

Meskipun sebagai pelarian, rutinitas tersebut ia kerjakan dengan sepenuh hati. Bahkan ia mengaku pada awalnya, semua cetakan hikayat miliknya adalah modal sendiri.

“Saya menyisihkan seratus ribu rupiah dari gaji saya untuk membayar percetakan,” terangnya.

Kegigihan yang ia lakukan sepenuh hati itu akhirnya mendapat penghargaan, baik dari pemerintah maupun lembaga terkait. Salah satunya adalah penghargaan berupa Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI atas jasanya mendorong, mengembangkan dan melestarikan naskah-naskah sastra lama Aceh yang hampir punah.

Bersamaan dengan itu juga turut diberikan penghargaan kepada 4 orang lainnya, yaitu Edi Sunarso, Sardhono W. Kusumo, Ki Djeno Harum Brodjo dan Christine Hakim serta A.T. Mahmud.

Akan tetapi, penghargaan tersebut tidaklah membawa perubahan apa-apa bagi Abdullah. Untuk ia coba memperbanyak tulisan hasil karyanya dengan mengandalkan proposal-proposal ke dinas-dinas dan Pemerintahan Daerah termasuk DPRD Aceh. Sekian banyak proposal tersebut, hanya lembaga utang luar negeri, yakni World Bank yang mampu memberikan pinjaman kepadanya.

Sebagai sastrawan Aceh, T.A Sakti telah banyak menghasilkan hikayat. Lebih kurang 28 buah hikayat telah ditranslitkan yang di dalamnya termasuk naskah hikayat kontemporer ciptaannya sendiri.

Karyanya yang terakhir untuk saat ini adalah Hikayat Muda Balia dan Aceh Ka Damei, telah dicetak menjadi sebuah buku. Ia juga mengaku, hasil karyanya ini telah disumbangkan ke berbagai instansi pendidikan dan perpustakaan termasuk Pustaka di University Sains-Malaysia.

Banyak hikayat koleksinya telah rusak akibat tsunami, meskipun begitu TA Sakti optimis dan tetap akan mengembangkan serta memperkenalkan kembali hikayat Aceh kepada generasi muda tanah rencong ini. []

( Sumber: Blog Boy Nasruddin Agus.  Ia mahasiswa saya ketika masih kuliah. Bale Tambeh, 24 Desember 2010, T.A. Sakti).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s