SEPUCUK SURAT KEPADA BUDAYAWAN MALAYSIA

Banda Aceh, 11 Agustus 2000

Kepada Yang Terhormat

Dr. Muhammad Yusoff  Hashim

Jabatan Sejarah Universiti

Malaya, Kuala Lumpur,

Malaysia

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan hormat…dan salam sejahtera!.

Salam jumpa perdana lewat warkah ini. Sudah cukup lama saya bermaksud menyurati Bapak di sini, yaitu sejak  kali pertama  saya membaca karangan Bapak pada awal Januari 1988; sekitar 12 tahun lalu. Tulisan Bapak yang berjudul: “Manuskrip Melayu: Warisan Keilmuan Yang Bernilai” yang dimuat dalam buku “WARISAN DUNIA MELAYU – Teras Peradaban Malaysia”  telah mempengaruhi gerak  hidup saya sekitar 8 tahun belakangan ini, yakni mulai tahun 1992. Namun, akibat berbagai perkembangan suasana kehidupan, telah menyebabkan saya tertunda-tunda bisa menyampaikan “salam perkenalan” kepada Bapak yang sudah lama saya niatkan itu. Alhamdulillah, baru kali ini rencana itu terlaksana. Tetapi, saya tetap masih ragu, apakah surat saya ini bisa sampai dengan selamat ke tangan Bapak (?); mengingat waktu yang sudah berlalu yang hampir seperdelapan (1/8) abad itu. Lebih-lebih saat cetakan pertama buku itu pada tahun 1985. Buku itu saya baca di rumah Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian, MA yang adalah dosen saya di Fakultas Sastra/Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sisi yang menggugah saya dari tulisan Bapak itu adalah pernyataan yang menyebutkan, bahwa sastra Aceh atau sastra daerah lainnya di seluruh nusantara adalah juga termasuk sastra Melayu, yaitu Sastra Melayu Raya. Jadi, dalam pemahaman saya, biarpun sastra Aceh misalnya sedang tak dihiraukan masyarakat Aceh sendiri saat ini; pasti masih ada para kerabat Sastra Melayu Raya yang akan mempedulikannya. Insya Allah!.

Berbekal perkiraan demikian, sejak 1992 saya telah bergiat mengalihkan kitab-kitab lama sastra Aceh, baik berupa Hikayat, Tambeh dan Nadham Aceh. Sekarang, ada sekitar dua puluh lima (25) judul naskah lama yang sudah saya ubah hurufnya (transliterasi) dari Arab Melayu/Jawi ke huruf Latin. Kesulitan yang saya hadapi sekarang adalah tak adanya dana untuk membiayai pencetakan/mencetak naskah-naskah yang sudah berhuruf Latin itu.

Dalam perjalanan waktu yang sudah delapan tahun yang berlalu, berbagai pihak telah saya hubungi, melalui surat atau langsung saya datang menjumpai pihak yang bersangkutan. Ternyata nyaris/hampir tak saya peroleh dukungan. Surat-surat yang saya kirim hampir semuanya tak mendapat balasan, padahal surat itu sudah saya layangkan mulai dari Banda Aceh, kota Lhokseumawe, Medan, Pekanbaru, Jakarta, dan Nagoya-Jepang.

Memang ada dua lembaga yang sudah mempedulikan kegiatan sastra Aceh klasik yang saya lakukan, yaitu Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Aceh, Banda Aceh dan The World Bank Perwakilan Jakarta. Balai kajian ini, telah memberi dana ala kadarnya untuk saya lakukan pengkajian isi naskah lama (3 buah) sebagai proyek tahunan lembaga itu selama 3 tahun belakangan ini, yakni setahun hanya satu buah naskah, sedang tahun 2000 ini kosong akibat pergantian kepala, sehingga obyek kegiatan berganti. Sementara The World Bank, telah meminta saya “mentransliterasikan dan menterjemahkan ke bahasa Indonesia” 4 buah naskah lama sastra Aceh tahun 1999.

Sebenarnya, saya memang belum bermaksud sampai tahap menterjemahkan atau pengkajian terhadap naskah-naskah sastra Aceh yang sudah saya Latinkan pada tahap pertama ini. Namun, karena orang yang memberi dana hanya menginginkan demikian, terpaksalah saya memenuhi apa yang mereka harapkan. Pada tahap awal ini, saya mengharapkan biarlah karangan-karangan sastra Aceh lama itu bisa dibaca kembali oleh masyarakat Aceh sendiri secara meluas. Sebab, selama ini, akibat terhalang buta huruf Jawi/Arab Melayu, maka sebagian besar generasi muda-tua di Aceh tidak bisa lagi membaca hikayat/nadham Aceh. Namun, maksud saya yang utama itulah yang belum sama sekali tercapai. Memang, ada 5 naskah tipis yang di cetak dengan uang saya sendiri, ternyata masih dibeli/dibaca orang Aceh, memang harganya sengaja dimurahkan, sekedar bisa kembali modal saya.

Ada beberapa orang yang memberi saran kepada saya agar meminta bantuan ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Benarkah demikian?, dan kemana sajakah/alamat yang bisa saya kirimkan permohonan itu?. Terhadap pertanyaan itulah yang ingin saya peroleh jawaban dari Bapak DR. MUHAMMAD YUSOFF HASHIM – dengan segala hormat – sebagai tokoh yang menggugah saya mau mengurus: “Manuskrip Melayu” ini.

Sekian, terima kasih!.

Salam : T. A. Sakti

(Catatan mutakhir: Dalam acara “Pekan Peradaban Melayu Raya” di Banda Aceh, 25 s/d 30 Agustus 2008, saya sempat menjumpai Prof.Dr. Dato’ Yusoff Hashim di Hermes Palace Hotel. Beliau menjelaskan, bahwa surat kiriman saya ini tidak beliau terima. Jika tak salah ingat, tiga judul hikayat – berupa berjilid-jilid buku saku – hasil transliterasi; telah saya hadiahkan kepada beliau saat itu!. Bale Tambeh Darussalam, 5 Desember 2010, T.A. Sakti).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s