SELAMAT BERBAKTI PAK /// – Terkenang Drs. Nurdin AR Bupati Pidie

SELAMAT BERBAKTI   PAK ///

 

KABUPATEN PIDIE, yang merupakan salah satu dari kabupaten2  dalam Daerah Istimewa Aceh, dimasa-masa akhir-akhir ini mendapat perhatian yang besar dari kalangan wartawan. Hal ini sehubungan dengan pelantikan Bapak Drs. Nurdin AR selaku Bupati baru di Kabupaten tersebut dan tingkah polah Pak Nurdin sebagai pejabat baru didaerah itu. Kini segenap perhatian masyarakat Kabupaten Pidie khususnya dan seluruh rakyat Aceh  (Indonesia) umumnya tertuju pada pribadi yang satu, yakni seorang Sarjana Ekonomi, yang kini mau berbakti untuk daerah kelahirannya, yaitu Kabupaten Pidie.

Membaca dua buah berita dari Harian WASPADA, masing2  tanggal 19 September 1980 dan 29 September 1980, jiwa saya tersentak mata terbeliak, nafas sesak, karena membaca rencana2  pembangunan yang m a h a     h e b a t   yang mau dilaksanakan olehnya   di Kabupaten Pidie.

Harian WASPADA tgl. 19 September 1980 menjelaskan bahwa, instruksi pertama dari Pak Nurdin AR ialah: supaya fungsi MEUNASAH dalam Kabupaten Pidie dapat hendaknya dikembalikan seperti masa-masa silam, jelasnya supaya di tiap2 “meunasah” dalam Kabupaten Pidie dijadikan kembali sebagai tempat pengajian al-Quran dan hukum2  agama bagi anak2  dan masyarakat dari kampung2  yang bersangkutan. Pada umumnya setiap kita mengetahui, bahwa di tiap kampung di daerah Aceh terdapat sebuah meunasah. Gagasan baru yang beliau anjurkan itu, memang tepat saatnya, karena dimasa-masa akhir2  ini fungsi meunasah tidak seberapa lagi dalam masyarakat Aceh, bahkan di sementara tempat sudah ada yang diselewengkan, seperti dipakai sebagai tempat main domino dan kartu (meu en bateei dan meu en pikak). Di masa-masa lalu di setiap Meunasah pasti terdapat anak2  yang belajar membaca Al-Quran dan belajar hukum agama setiap hari. Pengajian tersebut diusahakan oleh masyarakat dalam satu kampung secara gotong royong. Segala biaya kehidupan bagi seorang Teungku (Ustaz) dan keluarga beliau ditanggung oleh para wali murid. Bagi anak2  yang bersekolah sore, ia akan belajar mengaji di waktu pagi ataupun malam, demikian juga sebaliknya. kebiasaan baik itu yang telah berlangsung ber-abad2, dimasa kini kenyataannya hampir dan bahkan sudah lenyap sama sekali. Anak2  di zaman sekarang sudah jarang yang dapat membaca al-quran, karena fungsi MEUNASAH sudah berantakan sekarang. Tempat2  pengajian secara “khas” Aceh tidak kita dapati lagi, hal ini juga dirasakan oleh Bapak Nurdin AR. Banyak orang tua yang punya anak sudah sangat gelisah, demikian pula sebagian besar dari tokoh-tokoh masyarakat Aceh.

Kegelisahan masyarakat memang sudah sampai pada puncaknya, karena mengingat generasi2  kita dimasa mendatang akan buta agama. Banyak keluhan2  tokoh masyarakat tentang masalah itu, yang disampaikan pada pidato2  dan ceramah agama dimasa ini. Dalam  majalah  “PEUNAWA” terbitan bulan Juni 1980 juga menyorot problema tersebut. Majalah PEUNAWA yang merupakan majalah Fakultas Ekonomi Unsyiah, dimana selama ini Pak Nurdin AR sebagai dosen di sana. Didalam majalah itu terdapat madah (syair) dari Teungku Syik Di Matang yang berbunyi: Akhe donya kureung tuah tuah, soh meunasah jeueb2  nanggroe

Aneuk miet beut hana sapat, Timu Barat rata sagoe

artinya: di akhir zaman tuah sudah kurang, Meunasah banyak yang kosong, karena anak-anak tak ada lagi yang datang mengaji.

Anjuran dari Bapak Bupati, supaya pengajian di Meunasah kembali digalakkan merupakan obat penawar yang mujarab bagi penyakit “Buta Agama” bagi putra-putri yang mulai merajalela di Aceh pada umumnya.

Program lainnya yang membuat kita kagum dan jadi tanda tanya pula bagi saya, yaitu rencana usaha diversifikasi tanaman di kabupaten Pidie (Wsp 29-9-‘80). Program ini dimaksudkan supaya di Pidie para petani tidak hanya menanam padi saja sebagai mata pencahariannya, tetapi harus diusahakan penanaman multi kultur, seperti cengkeh, kelapa, jagung dan lain-lain tanaman, sehingga kalau petani terserang penyakit, kemelaratan petani tidak berapa kentara. Dalam hal tanaman cengkeh menurut saya kalau bagi kabupaten Pidie sudah hampir tiap keluarga punya areal yang akan di tanam tanaman tersebut. Semangat menanam cengkeh sedang mendidih di Kabupaten Pidie. Semua orang telah pernah ke gunung (Jak U Gle) hendak jadi petani cengkeh. Sebagian besar dari mereka terpaksa menjual areal kebun yang mulai ditanam, karena tekanan ekonomi. Hanya pegawai negeri dan orang2  kaya saja yang sanggup bertahan menunggu cengkehnya memberi hasil, pak tani terpaksa pulang ke desa. Khusus bagi tanaman kelapa memang sudah sangat langka di Aceh (Pidie). Yang masih ada hanya pohon-pohon kelapa yang sudah tua, sedang kelapa pengganti jarang sekali ditanam dimasa ini. Kalau rencana diversifikasi itu nantinya terwujud dalam kenyataan, ada harapan daerah kabupaten Pidie akan menjadi suatu daerah yang surplus kelapa sehingga dapat di eksport ke luar negeri, demikian pula dengan  hasil tanaman- tanaman lain.

Tempat pemondokan adalah problema besar bagi pelajar/dan mahasiswa/i yang berasal dari kabupaten Pidie, di Banda Aceh. Di kampong Laksana Banda Aceh ada sebuah asrama (Asrama Pidie), milik Pemda Tk II, Pidie. Asrama itu sudah bertahun-tahun terbengkalai penyelesaiannya. Mudah2  nanti akan datang tangan2  bertuah yang mau menjamahnya/.

( T.A. Sakti )

( Catatan kemudian: Mesin Tik saya merek “Onderwood” made in Spain tidak mengandung  tanda  seru ( ! ).Beberapa tahun awal kegiatan tulis-menulis saya, hal ini tidak jadi kendala. Setiap saya hendak menggunakan tanda seru,, maka segera saya ketik garis miring ( / ). Agar agak mirip tanda seru, pada kertas ketikan selalu saya beri titik dengan pulpen di bawah tanda garis miring itu. Pihak redaktur koran/majalah pun sudah paham hal demikian. Namun, akhirnya buat tanda seru tersebut langsung saya tulis dengan pena saja. Kini Mesin Tik yang saya beli Rp. 63.000 tanggal 7 Juli 1979 itu telah jadi besi-tua setelah direndam lumpur tsunami, Aleuhad, 26 Desember 2004 lalu. Bale Tambeh, Ahad, 29  Zulhijjah 1431 H/5   Desember   2010 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s