Mesjid Raya Baiturrahman Lambang Islamnya Rakyat Aceh.

Satu Abad Bentuk Permanen :

(1881 – 1981)

MESJID RAYA BAITURRAHMAN

LAMBANG PANCA SILA DI ACEH.

 

Oleh : T. A. Sakti,

 

BAGI  para pembaca setia Harian Waspada dihari-hari terakhir ini, mungkin telah membaca sejumlah berita tentang Mesjid Raya Baiturrahman yang sedang bersolek diri untuk menyambut para tetamu yang menghadiri MTQ Nasional ke XII, di Banda Aceh. Di samping berita, juga foto mesjid yang megah itu telah dimuat di harian ini. Buat kali ini penulis akan coba menelusuri sejarah ringkas dari Mesjid Raya Baiturrahman tersebut sejak tahun pertama dibangun hingga saat-saat menjelang MTQ Nasional XII tanggal 7 Juni 1981. Selamat mengikuti!.

Mesjid Raya Baiturrahman telah dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah tahun 665H (1292 M). Phisik bangunan pada masa itu juga telah mengenal semen ala kuno. Semen dibikin dari campuran tanah liat warna merah dengan telur ayam. Daya tahannya juga dapat menjangkau ratusan tahun. Semen jenis ini masih kita jumpai pada mesjid-mesjid tua yang ada di Aceh. Begitulah dengan Mesjid Raya Baiturrahman, ia juga dibangun dari bahan semen jenis tersebut. Semen itu hanya untuk lantainya saja, sedangkan tiang-tiang dan dindingnya terdiri dari kayu pilihan. Pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1637), mesjid ini diperluas lagi hingga merupakan mesjid terindah di Asia Tenggara saat itu. Dimasa itu disamping Mesjid Raya Baiturrahman sebagai mesjid kerajaan, masih ada sebuah mesjid lagi di dalam pagar istana Daruddunnya. Mesjid istana ini bernama Mesjid Baiturrahim. Nama dari Mesjid Raya Baiturrahim ini sekarang telah dijadikan nama dari Mesjid Raya Baiturrahim di Istana Merdeka,  Jakarta. Pemberian nama mesjid istana negara dengan nama Mesjid Raya Baiturrahim di Banda Aceh adalah sebagai tempat mengenang kembali salah satu dari kerajaan-kerajaan besar di negara ini yang telah sanggup mengatasi pergolakan-pergolakan internasional di masa itu. Usul ini diajukan oleh Bapak A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh kepada presiden pertama republik Indonesia Bung KARNO. Usul tersebut diterima oleh Presiden Soekarno, maka kekallah mesjid Baiturrahim sebagai Mesjid Istana Negara hingga dewasa ini, demikian antara lain isi ceramah magrib dari seorang ulama Aceh; Sayed Sulaiman di Mesjid Raya Banda Aceh hari Jum’at tanggal 22 Mei 1981.

Mesjid Raya Baiturrahman adalah mesjid jami’, dimana pada saat-saat tertentu Sultan Aceh bersembahyang ke sana. Dalam sebuah naskah tua yang kini disimpan dalam Manuscript India office Labrary pada verhandelingan vanhet koninkklyk dan telah diperbanyak oleh Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh 1976 ada menjelaskan tentang adat istiadat ketika Sultan Iskandar Muda menunaikan shalat Idul Adha dan shalat Jum’at. Naskah yang transkripsinya dibuat oleh Teungku Anzib Lamnyong (Sejarawan Aceh), selanjutnya menjelaskan: ‘ALQISSAH maka tersebutlah perkataan adat majelis hadlarat Syah ‘Alam Berangkat Sembahyang Hari Raya Haji ke Mesjid Baiturrahman. Maka adalah tatkala pada 10 hari bulan Zulhijah pada waktu shubuh datanglah penghulu payung Amat Diraja. Maka didirikanlah orang  payung yang keemasan kiri-kanan jalan, pada pintu cermin Jum’at sampai ke balai Pedang payung yang keemasan dan berkemuncak emas.Kemudian dari Balai Raksa sampai ke Balai Geundrang payung yang berkemucak Suasa dan dari Balai Geundrang sampai kehadapan beberapa payung pelangi berkemucak perak, daripada penghadapan Biram itu sampai ke Mesjid Baiturrahman payung putih berkemucak air emas. Maka adalah kiri-kanan pintu cermin Jum’at payung ubur-ubur 7 lapis dan kiri-kanan pintu Balai Pedang payung 5 lapis dan kiri-kanan Balai Geundrang payung 3 lapis dan kiri-kanan pintu Balai Bentara Blang payung 2 lapis dan kiri-kanan pintu Mesjid Baiturrahman payung 7 tingkat. Maka adalah kiri-kanan Astana payung ubur-ubur 7 lapis.

Maka adalah daripada payung-payung yang tersebut ini berselang-selang payung unggul-unggul seperti jenis ini juga. Setelah segenap tempatnya berpercik emas dan unggul-unggul pun juga,, syahdan maka adalah tatkala hadlarat Syah Alam dari dalam kota Daruddunia masuk ke dalam Mesjid Baiturrahman, adalah sebagai raja Iskandar Zulkarnain pergi mendatangi segala negeri dari Masyrik ke Maghribi. Demikianlah disifatnya  dengan tentara berpasukan datang bersaf-saf dan segala penghulu yang ternama-nama dan dari pada segala anak hulubalang yang membawa alat pawai yang berlapis-lapis dari pada janjangan ‘alamat (bendara kerajaan-pen) dan dari pada alat kerajaan yang tiada terpermanai lagi dengan segala bunyi-bunyian dan terlalu ‘adlamah bunyinya, dari pada segala gajah dan kuda yang beperhiasan yang bertatahkan ratna mutu manikam dari pada nilam pualam dan puspa ragam dan intan baiduri yang terkenakan pada segala alat kerajaan dan alat pawai”, demikian sebagian kisah naskah tua itu tentang persiapan-persiapan ketika Sultan Iskandar Muda bershalat Idul Adha ke Mesjid Raya Baiturrahman.

Tentang suasana bila Sultan Iskandar Muda bershalat Jum’at ke Mesjid Raya Baiturrahman, naskah tua tersebut dengan gaya bahasa Melayu lama menjelaskan sbb: “Setelah sampailah hadlarat Syah ‘Alam ke dalam pintu mesjid, maka hulubalangpun menyimpang kekanan pintu mesjid, berdiri masing-masing pada tarafnya. Apabila terserlahlah Syah ‘Alam kedalam diwal pintu mesjid, maka tatkala itu gendrangpun dialihkan oranglah murainya kepada ragam siwajan.

Maka Kadli Malikul ‘Adil dan segala fakihpun bersegeralah masuk ke dalam mesjid berdiri di hadapan pintu kuri diwal yang tempat Syah ‘Alam sembahyang. Maka apabila sampailah hadlarat Syah ‘Alam ke Astaka, maka Bentara yang membawa Salih dan penghulu Bujang Dandani dan Meungat Meukuta penghulu pengumpulan bersegeralah ketiga naik ke atas Astaka, hadirlah menyambut Syah ‘Alam serta menatingkan hulu pedang Salih, Maka Syah ‘Alam pun berangkat dari Astaka lalu keraja paksi. Maka dilepaskan Syah ‘Alam hulu pedang Salih itu. Maka segala hulu balang beralih menghadap ke Astaka, maka genderangpun dialihkan oranglah murainya kepada ragam kuda berlari. Dan segala alat pawaipun menyanjungkan tangannya ke atas kepalanya. Maka masuk Syah ‘Alam ke dalam jerajak kekisi, maka segala hulubalang pun beralih kekiri masing-masing mengiringi Syah ‘Alam masuk ke dalam masjid, berdiri pada tarafnya,. Maka hadlarat Syah ‘Alam ke dalam mesjid kelambu, maka kelambu yang berwarna keemasan itupun ditutup oranglah, Maka hadlarat Syah ‘Alam pun sembahyang sunat tahiyyatul mesjid 2 rakaat satu salam. Maka Bilal pun Banglah (azan-pen). Setelah sudah Bilal azan, maka sembahyanglah sunnatul Jum’at satu salam. Setelah itu maka Penghulu Bilalpun menatingkan (memegang-pen) tongkat khotbah itu serta menyambut shalawat akan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam, memberi salam ke kanan, ia naik ke atas mimbar, maka Penghulu Bilal Chanpun mengatakan : “innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi  ya aiyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi washallimu taslima”. Setelah itu sampailah Khatib ke atas mimbar, maka ia memberi salam, demikian bunyinya : “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu”. Setelah itu maka ia duduk, maka Bilalpun banglah dua orang sekali, setelah itu maka Bilalpun mengatakan: ‘An Abi Hurairah Radhiallahu ‘anhu hingga akhirnya, setelah itu maka Khatibpun mengatakan “Alhamdulillah”. Maka membaca khotbahlah dua khotbah, setelah selesai ia dari pada membaca khotbah itu, maka Penghulu Bilalpun Qamatlah ia. Setelah sudah qamat, maka imam pun tampil akan sembahyang Jum’at dengan segala makmum 2 rakaat satu salam. Setelah itu maka membaca tasbih dan membaca do’a akan hadlaratun Nabi dan do’a chair akan Syah ‘Alam.

Maka sembahyang sunat 4 rakaat dua salam, setelah itu maka disingkap oranglah tirai kelambu”. Demikianlah menurut manuskrip tua tersebut. Setelah Sultan Iskandar Muda mangkat, tinggallah Mesjid Raya Baiturrahman dalam pengurusan Sultan-sultan pengganti beliau. Di masa pemerintahan sultan Nurul ‘Alam tahun 1675, mesjid yang megah ini pernah terbakar dengan tidak tersengaja. Dan ia tidak terbakar seluruhnya.

BENTUK PERMANEN GENAP SEABAD

Tahun 1873 kerajaan Belanda melakukan intervensi terhadap Kerajaan Aceh Darussalam. Pertempuran sengit terjadi. Dengan penuh bersusah payah, akhirnya pihak angkatan Belanda dapat menerobos benteng pertahanan Aceh di pinggir pantai (tepi laut). Sebelum mengepung Kraton pihak Belanda harus lebih dahulu menghancurkan pertahanan terkuat pihak rakyat Aceh  di Mesjid Raya Baiturrahman. Benteng-benteng pertahanan Baiturrahman dipertahankan mati-matian oleh segenap patriot bangsa kita. Hal itu bisa terjadi, kerena Mesjid Raya Baiturrahman merupakan Jantung Hati dan Kebanggaan Rakyat Aceh. Tanggal 10 April 1873 ) kamis, 11 shafar 1290 H) Mesjid Raya Baiturrahman terbakar akibat serangan Belanda yang bertubi-tubi ke arah masjid. Seluruh harta benda – dana mesjid ikut terbakar. Walaupun mesjid telah musnah, pasukan mujahidin Aceh masih terus bertempur. Untuk melihat keadaan di medan pertempuran, panglima tertinggi pasukan Belanda Jenderal kohler mengadakan peninjauan sekitar mesjid. Sewaktu jenderal Kohler sedang asyik mengitari di dalam masjid, tiba-tiba sebutir peluru yang ditembakkan oleh seorang pejuang Aceh yang bersembunyi dekat situ, tepat mengenai dan bersarang di dada sang Jenderal. Ia terkulai dan jatuh tersungkur. Akibat kematian Jenderal Kohler sebagai Panglima Tertingginya, pasukan Belanda terpaksa lari tunggang langgang, naik kapal pulang ke Batavia (Jakarta).

Tragedi ini adalah peristiwa yang pertama sekali dalam sejarah Dunia, yaitu keangkuhan tentara Barat (Eropa) dapat dikalahkan oleh angkatan perang dunia Timur yang telah ditempa dengan semangat juang yang membaja disinari dengan jiwa tauhid kepada Allah. Sebelum tentara Jepang mengalahkan pasukan Rusia di tahun 1905, bangsa Indonesia (Aceh) telah lebih dahulu mengalahkan pihak Barat (Eropa) hanya dengan satu pelor bertempat di Mesjid Raya Baiturrahman.

Menurut tulisan Tgk. M. Hasballah Aneuk Galong (majalah santunan no. 55 tahun ke VI halaman 13), bahwa di kampung Pelanggahan dan kampung Jawa, kira-kira 1 km dari Mesjid Raya Baiturrahman, terdapat sebuah tugu bikinan Belanda yang masih utuh. Pada tugu tersebut ada tertulis: “Hier ruatan 10 strijders den heldendood gestorvan den 6 Januari 1874 bij het nemen van de versterking voor de missigit” (disini bersemadi 10 orang serdadu Belanda yang tewas sebagai pahlawan pada tanggal 6 Januari 1874 ketika merebut dan memperkuat pertahanan di muka mesjid”. Keterangan pada tugu itu, terjadi ketika agresi Belanda kali kedua dengan Panglima Tertingginya dipimpin oleh Jenderal Van Swieten. Ia adalah pensiunan, tapi karena sebagai seorang ahli taktik perang, Van Swieten terpaksa dipanggil kembali untuk berjuang di Serambi Mekkah. Setelah kota Bandar Aceh dikuasai Belanda , Jenderal Van Swieten menjanjikan akan membangun kembali mesjid yang terbakar itu. Janji itu tidak segera terwujud, berhubung keamanan pasukan Belanda tidak terjamin didalam kota. Mereka setiap saat di tunggui pelor maut dari pasukan kita.

Salah satu jalan yang dipikirkan pihak Belanda untuk dapat meredakan perjuangan pihak kita adalah dengan membangun kembali mesjid, makanya “Sebelum kembali ke Jawa (sekali lagi-pen) Jenderal Van Swieten memaklumkan, bahwa pemerintah Hindia menghormati sepenuhnya kemerdekaan orang-orang Aceh dan hendak membangun mesjid yang telah hancur sebagai akibat serangan Belanda itu. Rencana dibuat oleh architect Bruint dari Departemen Pekerjaan Umum (Departement Van Burgerliyke Openbaare Werken) di Betawi dengan kerja sama Op Zichter L.P. Luks dan insinyur-insinyur lain serta di bantu pula oleh Penghulu Besar Garut agar polanya tidak bertentangan dengan aturan-aturan Islam”. “Tidak mudah membuat mesjid sesuai dengan yang direncanakan Belanda , kecuali kalau mereka mau membuatnya dari kayu nangka dan atap nipah. Yang menarik dalam rangka merangkul rakyat, Belanda begitu bersusah payah berusaha untuk mendirikan sebuah mesjid, yang menurut mereka akan meninggalkan kesan yang baik. Tapi timbul tiga kesukaran: soal tenaga kerja, urusan pemborong dan masalah bahan bangunan. Dalam soal tenaga kerja ini,  orang-orang Belanda mengharapkan agar orang-orang Aceh dapat bekerja dalam proyek ini. Tetapi karena gagal dan selalu mengecewakan, maka terpaksalah akhirnya dipakai tenaga bangsa Cina. Kemudian karena tidak kenal akan medan bangunan (bouwter rein) dan takut akan kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan, maka pemborong-pemborong yang  jumlahnya memang tidak banyak di Jawa itu, tidak ikut dalam penawaran, Hanya seorang yang memasukkan, yaitu Lie A Sie, seorang letnan Cina di Aceh. Ia memperoleh borongan itu dengan biaya f 203000 (rupiah Belanda -pen). Bahan-bahan bangunan berasal dari luar negeri, kapur dari Pulau Pinang, batu-batu dari negeri Belanda , batu pualam untuk tangga dan lantai dari Tiongkok, besi untuk jendela di import dari Belgia, kayu dari Moulmein (Birma), kerangka besi yang berat dari Surabaya. Mesjid, yang upacara peletakan batu pertamanya berlangsung di depan mata Jenderal Van der Heyden, diserah terimakan pada tanggal 27 Desember 1881 dengan diiringi tembakan meriam tiga belas kali serta kenduri. Kunci diserahkan kepada Kadli Malikul ‘Adil oleh gubernur A. Pruys Van der Hoeven. Pengurusan diserahkan kepada Teungku Syech Marhaban, seorang ulama besar yang terkenal, berasal dari Pidie”. Demikian terdapat dalam tulisan T. Ibrahim Alfian-dari Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh 1976.

Mesjid yang dibangun itu hanya berkubah satu buah.

Perjalanan waktu dari mesjid Baiturrahman sejak ia berbentuk permanen th 1881 hingga sekarang tahun 1981 telah genap satu abad. Ulang tahun ke seratus inilah yang kita peringati dalam artikel singkat ini.

Kemudian pada tahun 1935 mesjid diperluas lagi dengan biaya F. 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah gulden Belanda ). Pekerjaan ini ditangani oleh B.O.W. (Departemen Pekerjaan Umum) dengan pimpinannya Ir. M. Tahir. Sebagai akibat dari perkembangan itu adalah penambahan luas ruangan dalam kearah kiri dan kanan dan penambahan dua buah kubah lagi, sehingga jumlahnya menjadi tiga buah kubah.

ZAMAN MERDEKA DAN IKRAR BAITURRAHMAN

Setelah SOEKARNO-HATTA memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, maka usaha untuk memperluas dan menyesuaikan identitas mesjid raya Baiturrahman agar sesuai dengan zaman merdeka terus dilanjutkan. Hal ini ternyata dibuktikan dengan pembentukan sebuah panitia yang namanya “Panitia Usaha Memperluas Mesjid Raya Koetaradja” tahun 1948. Panitia yang disingkat “PUMMER” itu turut menjadi pengurusnya adalah  Ayahanda Tgk. Muhammad Daud Beureu-Eh, Tgk. Abdul Aziz dan sejumlah anggota yang lain. Mungkin akibat agresi Belanda yang tidak pernah bosan untuk kembali kei Indonesia, maka panitia ini tidak dapat berjalan, karena hampir segala-galanya yang ada diwaktu itu hanya untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Barulah semasa Gubernur Aceh A. Hasjmy (Rektor IAIN Ar-raniry sekarang) perluasan mesjid ini dilanjutkan. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri Agama Republik Indonesia masa itu Kiyai Haji Muhammad Ilyas pada tanggal 16 Agustus 1958. pembangunan itu baru siap tahun 1963. Setelah selesai, mesjid itu semakin anggun dan indah sekali, kubahnya menjadi lima buah sebagai pelambang Pancasila di Tanah Rencong (Aceh).

Pada bulan Maret 1980, Mesjid Raya Baiturrahman mendapat kehormatan dengan kunjungan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI): Prof. Dr. Hamka bersama Sekretaris Jenderal Majelis tersebut H. Amiruddin Seregar. Dalam pidatonya Abuya Hamka juga menyinggung tentang sejarah mesjid ini. Kata beliau; mesjid yang dibangun Belanda itu memang cantik, tapi ketahuilah, bahwa harta benda (emas simpanan dan barang lainnya) yang dirampas mereka sangat banyak jumlahnya. Biaya yang digunakan Belanda untuk membangun kembali mesjid yang telah terbakar itu hanya sebagian kecil dari hak milik mesjid yang telah dirampasnya. Ceramah yang berlangsung tanggal 12 Maret 1980 bertepatan tanggal 25 Rabiul Awal 1400 H didahului oleh ceramah dari Bapak H. Amiruddin Seregar. Sebagai protokol adalah bapak Ali Hasjmy yang  juga Bapak Pendidikan Aceh itu. Semua ceramah hari itu turut disiarkan secara langsung oleh Radio Suara Baiturrahman.

Suatu kejutan besar bagi para pendengar ceramah; ketika bapak H. Amiruddin Seregar meminta kepada seluruh rakyat Aceh untuk menyerahkan gelar Serambi Mekkah sebagai suatu sebutan bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh; untuk dibawa pulang beliau ke Jakarta dan selanjutnya akan dipakai bagi sebutan kota Jakarta, hingga menjadi Jakarta Kota Serambi Mekkah. Permintaan itu memang tidak pernah terjadi sejak daerah Aceh muncul di dunia, sangat mengagetkan semua peserta ceramah dan para pendengar Radio Suara Baiturrahman. Atas permintaan itu dengan spontan mendapat jawaban dari pengikut ceramah dengan pernyataan tidak setuju. Untuk mendapatkan kejelasan dan ketegasan dari jawaban itu;  Prof. A. Hasjmy sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama pada semua hadirin dengan suara yang lebih tegas dan lantang, hadirin menyatakan tidak setuju. Pernyataan itulah yang penulis maksudkan Ikrar Baiturrahman. Ikrar Baiturrahman adalah pernyataan dari rakyat daerah Aceh untuk  tidak melepaskan gelar Serambi Mekkah bagi daerahnya, terjadi tanggal 12 Maret 1980/25 Rabiul Awal 1400 H.

Dalam dua tahun terakhir ini, Mesjid Raya Baiturrahman semarak keadaannya sehubungan dengan telah berkumandangnya Radio Suara Baiturrahman setiap hari. Semua upacara memperingati Hari-Hari Besar Islam   yang diadakan di mesjid itu; sudah pasti  disiarkan melalui radio itu. Ceramah subuh dan magrib juga turut disiarkan. Dengan demikian, jangkauan ceramah tersebut dapat diikuti oleh peminat yang banyak. Bagi mereka yang ketagihan sport pagi setelah shalat subuh, kebanyakan mereka mengantongi radio transistor mini di saku celana. Sambil lari-lari kecil, mereka juga mengikuti ceramah subuh yang dipancarkan Radio Suara Baiturrahman. Bagi penduduk Banda Aceh, rasanya sudah ketagihan dengan ceramah-ceramah Mesjid Raya Baiturrahman. Sampai-sampai ketika turun ke jalan di pagi subuh, Baiturrahman turut bersama, mana tahaaaann!!!. Perlu juga Anda ketahui, bahwa Radio Suara Baiturrahman sangat populer di kota Banda Aceh. Baik golongan tua maupun remaja sangat terpikat dengannya. Hal ini disebabkan kelihaian pihak pengasuh Suara  Baiturrahman dalam mengelolanya.

Pada masa akhir-akhir ini, Mesjid Raya Baiturrahman sedang giat-giatnya membenahi diri untuk persiapan menyambut Qari-Qariah MTQ Nasional ke XII tanggal 7 Juni nanti. Keindahan dan keanggunan semakin bertambah di waktu MTQ Nasional berlangsung. Anda pasti kagum bila anda menyaksikannya sendiri. Masuk ke mesjid ini merupakan satu rahmat bagi anda, karena akan mendapat ketenangan jiwa. Banyak kaum remaja yang sedang mengalami frustrasi yang telah terobat batinnya setelah sembahyang dan duduk istirahat di dalamnya.

Dengan berlansungnya MTQ Nasional ke XII di Banda Aceh, dimana Mesjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu dari tempat-tempat musabaqah tersebut, maka Lambang Pancasila di Aceh yang ditunjukkan oleh lima buah kubahnya akan semakin nyata lagi. Hal ini karena di saat-saat berlangsungnya MTQ Nasional itu, seluruh provinsi di Indonesia turut di wakili ke sana, yang berarti sila ketiga dari Pancasila yaitu persatuan Indonesia akan terjelma. Memang benarlah semboyan kita, bahwa Mesjid Raya Baiturrahman Lambang Panca Sila di Aceh!!!.

Bucue, 24  – 5  –  1981

Iklan

2 pemikiran pada “Mesjid Raya Baiturrahman Lambang Islamnya Rakyat Aceh.

  1. Subhanallah..lon sebagai ureung aceh that bangga jeut ke ureung aceh….udep ngon mate di tanong rencong aceh lon sayang, walo raga ngen tubohnyo na di tanoh jawa, tpi hate ngen pikeran sabe keingat ke nanggro aceh darussalam….kampong nek moyang lon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s